Penulis Topik: Argumen Buddhis: Tuhan lebih banyak membunuh ketimbang Setan ???  (Dibaca 2034 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline comicers

« Edit Terakhir: Pebruari 22, 2013, 03:32:19 PM oleh comicers »
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9526
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 481
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Argumen Buddhis: Tuhan lebih banyak membunuh ketimbang Setan ???
« Jawab #1 pada: Pebruari 22, 2013, 10:18:20 PM »
Tafsir dari grafik tersebut bagaimana ya? kok saya gak ngerti?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 22
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Argumen Buddhis: Tuhan lebih banyak membunuh ketimbang Setan ???
« Jawab #2 pada: Pebruari 23, 2013, 12:10:17 PM »
Kemungkinan informasi yang hendak disampaikan bahwa yang tercatat didalam biblle pembunuhan yang dilakukan oleh dan atas nama Tuhan adalah jauh lebih banyak daripada setan. Bisa berarti tuhan lebih kejam dari setan, atau setan lebih penyayang daripada tuhan? sebab dari statistik itu terlihat bahwa tuhan lebih rajin membunuh daripada setan!
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9526
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 481
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Argumen Buddhis: Tuhan lebih banyak membunuh ketimbang Setan ???
« Jawab #3 pada: Pebruari 23, 2013, 01:08:10 PM »
memangnya di bible tercatat kalau tuhan membunuh?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline comicers

Re:Argumen Buddhis: Tuhan lebih banyak membunuh ketimbang Setan ???
« Jawab #4 pada: Pebruari 23, 2013, 03:46:40 PM »
mungkin ini maksudnya.

Sikap Terhadap Perang

Injil (Alkitab) memberitahu kita bahwa ada waktu untuk membenci, ada waktu untuk perang (Keluaran 13:8). Pada jaman sekarangpun, telah terbukti bahwa kejahatan-kejahatan itu (perang dan kebencian) bergantung satu sama lain. Seperti yang telah kita buktikan, Tuhan bisa membenci dan janganlah terkejut bila ternyata Tuhan sering terlibat dalam perperangan.

“TUHAN itu pahlawan perang; TUHAN, itulah nama-Nya” (Keluaran 15:3)

“TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai” (Zefanya 3:17)

“TUHAN keluar berperang seperti pahlawan, seperti orang perang Ia membangkitakan semangat-Nya untuk bertempur; Ia bertempik sorak, ya, Ia memekik, terhadap musuh-musuh-Nya Ia membuktikan kepahlawanan-Nya.” (Yesaya 42:13)

“Apabila Aku mengasah pedang-Ku yang berkilat-kilat, dan tangan-Ku memegang penghukuman, maka Aku membalas dendam kepada lawan-Ku, dan mengadakan pembalasan kepada yang membenci Aku. Aku akan memabukkan anak panah-Ku dengan darah, dan pedang-Ku akan memakan daging: darah orang-orang yang mati tertikam dan orang-orang yang tertawan, dari kepala-kepala musuh yang berambut panjang.” (Ulangan 32:41-42)

Selama beberapa abad orang-orang Kristen telah terilhami oleh ayat-ayat Alkitab di atas, yang mendukung dan memuliakan perang, menggunakan kekerasan untuk menyebarkan agama mereka. Bahkan sampai hari inipun, banyak kita temui unsur-unsur militer di dalam agama Kristen. Organisasi Salvation Army (Laskar Keselamatan) memakai semboyan “Darah dan Api”; hymne yang mengumandangkan “Majulah laskar Kristen berjalan menuju perang”; ucapan seperti “Pujilah Tuhan dan serahkan amunisi (senjata)” dan lain-lain. Di dalam Alkitab juga berisi lusinan contoh di mana Tuhan membantu pengikutNya untuk menguasai kota-kota, membunuh penduduk dan mengalahkan laskar perang (misalnya Bilangan 21:1-3, Bilangan 31:1-2, Ulangan 3:3-7, Yosua 11:6-11, dll). (Catatan dari penterjemah: Kembali lagi kita diingatkan bahwa ayat-ayat di atas telah menggerakkan kekerasan. Bisa kita lihat sendiri dengan situasi kerusuhan di berbagai tempat di dunia, dan di negeri kita sendiri. Ambon adalah salah satu contoh paling nyata dan paling baru yang kita lihat sendiri.)

Mengenai tawanan perang, Tuhan berkata:  “Dan TUHAN, Allahmu, telah menyerahkan mereka kepadamu, sehingga engkau memukul mereka kalah, maka haruslah kamu menumpas mereka sama sekali. Janganlah engkau mengadakan perjanjian dengan mereka dan janganlah engkau mengasihani mereka.” (Ulangan 7:2)

“Engkau harus melenyapkan segala bangsa yang diserahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu; janganlah engkau merasa sayang kepada mereka dan janganlah beribadah kepada allah mereka, sebab hal itu akan menjadi jerat bagimu.” (Ulangan 7:16)

Bahkan orang Kristen sering terkejut ketika mereka membaca ayat-ayat tersebut. Orang-orang Buddha justru merasa bahwa ayat-ayat tersebut mengukuhkan penolakan mereka terhadap Tuhan Kristen, dan keyakinan mereka dalam ajaran Sang Buddha.

Apa sikap Sang Buddha terhadap perang? Tidak ada satu contohpun di mana Sang Buddha menyetujui peperangan, mendukung peperangan, atau bahkan ikut berperang. Justru sebaliknya, Sang Buddha mengajak semua untuk hidup dalam kedamaian dan kerukunan, seperti yang diutarakan di pernyataan berikut:

“Sang Buddha adalah seorang pemersatu bagi mereka yang bermusuhan dan pendukung mereka yang telah bersatu, turut bergembira dalam damai, mencintai perdamaian, menyukai perdamaian, beliau adalah seorang yang memuji perdamaian” (Digha Nikaya, Sutta No.1)

Sang Buddha Menjadi Contoh Perdamaian

“Meninggalkan pembunuhan, bhikkhu Gautama hidup menghindari diri dari membunuh, beliau tidak menggunakan tongkat ataupun pedang, beliau hidup dengan penuh perhatian, belas kasihan dan simpati kepada yang lain“ (Digha Nikaya, Sutta No.1)

“Sang Buddha tidak hanya puas (Catatan dari penterjemah: puas dalam arti: Buddha lebih suka) Buddha dengan omongan dan ucapan tentang perdamaian. Buddha juga tidak puas kalau hanya diriNya yang hidup dalam damai. Beliau secara aktif mendukung kedamaian dengan berusaha menghentikan peperangan. Ketika saudara-saudaraNya hendak pergi perang untuk merebut bagian air sungai Rohini, Sang Buddha tidak memihak siapapun. Sang Buddha tidak mendukung saudara-saudaraNya untuk ikut perang, tidak membantu dalam taktik peperangan, atau tidak menyuruh saudara-saudaraNya untuk tidak memberi ampun kepada musuh,- berbeda dengan apa yang akan dilakukan Tuhan. Akan tetapi, Sang Buddha berdiri di antara kedua pihak dan berkata,”Mana yang lebih berharga? Darah atau air?” Para tentara menjawab,”Darah lebih berharga, Tuan.” Lalu Sang Buddha berkata,”Lalu bukankah sangat tidak masuk akal untuk mengorbankan darah demi air?” Kedua belah pihak akhirnya meletakkan senjata dan tercapailah perdamaian.” (Dhammapada Atthakata Book 15,1)

Sang Buddha telah menyingkirkan kebencian dan mengisi pikiranNya dengan cinta dan belas kasihan. Menyetujui peperangan adalah hal yang mustahil bagi Sang Buddha.

Ide Tentang Keadilan

Keadilan adalah qualitas (catatan penterjemah: kemampuan) untuk menjadi adil, dan seorang yang adil bertindak secara adil dan sesuai dengan nilai-nilai kebaikan. Akan tetapi ide-ide tentang keadilan dan kebenaran berbeda dari jaman yang satu ke jaman yang lain, juga berbeda dari sudut perorangan. Orang Kristen menyatakan bahwa Tuhan itu Maha Adil, maka dengan meneliti tindakan-tindakan Tuhan, kita akan bisa tau konsep keadilan bagi Tuhan.

Tuhan memberi tahu kita bahwa semua orang yang tidak patuh kepadanya akan dihukum “tujuh kali lebih berat” (Imamat 26:18), yang berarti satu kali berbuat dosa dihukum tujuh kali. Tuhan tentunya menganggap hal ini sebagai sesuatu yang sangat adil dan sepadan. Dia juga memberitau kepada kita bahwa dia akan menghukum anak-anak tak berdosa, cucu-cucu, dan cicit-cicit dari mereka yang berdosa.

“Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku.” (Ulangan 5:9)

Ini juga dikenal sebagai menghukum sekaligus banyak; menghukum seluruh anggota keluarga atau kelompok atas kesalahan yang dilakukan oleh salah satu dari anggota keluarga atau kelompok tersebut. Menghukum sekaligus banyak justru dikecam di jaman sekarang karena menghukum sekaligus banyak itu tidak adil dan tidak sepadan. Akan tetapi Tuhan ternyata menganggap hukuman itu cukup adil.

Tuhan juga memberitahu kita bahwa bahkan kesalahan yang sangat kecil sekalipun haruslah dihukum mati. Contohnya, mereka yang bekerja pada hari Minggu harus dilempari batu sampai mati. Pernah sekali seorang ditemukan mengumpulkan kayu bakar pada hari Minggu, dan Tuhan berkata kepada Musa dan orang-orang yang menangkap orang itu:

“Ketika orang Israel ada di padang gurun, didapati merekalah seorang yang mengumpulkan kayu api pada hari Sabat. Lalu orang-orang yang mendapati dia sedang mengumpulkan kayu api itu, menghadapkan dia kepada Musa dan Harun dan segenap umat itu. Orang itu dimasukkan dalam tahanan, oleh karena belum ditentukan apa yang harus dilakukan kepadanya. Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Orang itu pastilah dihukum mati; segenap umat Israel harus melontari dia dengan batu di luar tempat perkemahan.” Lalu segenap umat menggiring dia ke luar tempat perkemahan, kemudian dia dilontari dengan batu, sehingga ia mati, seperti yang difirmankan TUHAN kepada Musa.” (Bilangan 15:32-36)

Hukuman yang adil seharusnya setimpal dengan kejahatan yang diperbuat. Ide Tuhan tentang keadilan tidaklah menjunjung tinggi ide di atas. Kita diberitahu bahwa semua yang tidak mencintai Tuhan akan menderita hukuman abadi di neraka. Banyak orang di dunia ini yang baik hati, jujur dan bermurah hati yang tidak percaya kepada Tuhan, dan menurut Tuhan mereka akan ke neraka. Apakah ini adil? Menurut Tuhan, iya ini adil.

Apakah Buddha adil? Sang Buddha telah mencapai kebebasan dan penerangan sempurna, dan dia mengajarkan kepada orang banyak untuk mencapai kebebasan itu. Tidak seperti Tuhan, Sang Buddha bukanlah pencipta hukum, bukanlah seorang hakim atau seorang pemberi hukuman. Beliau adalah seorang guru. Dalam berhubungan dengan banyak orang, beliau sangatlah adil, lembut dan penuh maaf dan menganjurkan pengikut-pengikutNya untuk mengikuti jejak tingkah laku beliau. Kalau seorang berbuat salah, dia berkata orang lain tidak perlu menghukum orang yang berbuat salah itu.

“Ketika kita hidup bersama di dalam kerukunan, seorang rekan Bhikkhu mungkin akan melakukan kesalahan, sebuah pelanggaran. Akan tetapi janganlah kamu secara berbondong-bondong mengutuk dia, kesalahan itu haruslah diteliti secara seksama terlebih dahulu.” (Majjhima Nikaya, Sutta No. 103)

Sebagai tambahan, ketika seorang sedang diusut, orang lain hendaknya tidak terpengaruh oleh prasangka atau berpihak pada pihak tertentu, dan perlu melihat kedua sisi dari kasus tersebut. “Bukan dengan memberi keputusan yang berburu-buru seseorang menjadi adil. Seorang yang bijaksana adalah seorang yang menyelidiki kedua belah pihak. Barangsiapa yang tidak membuat keputusan secara sewenang-wenang, tetapi menyampaikan keputusan secara tidak memihak dan sesuai dengan kenyataan yang ada, orang itulah yang menjadi pelindung hukum, dan bisa kau sebut adil.” (Dhammapada 256-257) (Catatan dari penterjemah: Bukanlah seorang adil, ia yang membuat keputusan tergesa-gesa (terpengaruh oleh keinginan, kebencian, ketakutan dan kebodohan)).

Sedangkan dalam hal hukuman, Sang Buddha tentunya akan berpendapat bahwa melempari batu seseorang sampai mati atau segala jenis hukuman mati sebagai sesuatu yang kejam. Beliau sendiri selalu bersedia memaafkan. Pernah sekali seorang yang bernama Nigrodha bertindak jahat kepada Sang Buddha, tetapi kemudian menyadari kesalahannya dan menyadari kesalahannya kepada Sang Buddha. Dengan penuh kasih dan maaf Sang Buddha berkata:

“Tentu saja, Nigrodha, pelanggaran telah kau perbuat, ketika melalui kebodohan, ketidaktahuan, dan kejahatan engkau berkata seperti itu kepadaku. Tapi engkau telah mengetahui pelanggaran yang kau lakukan dan menebus kesalahanmu dengan kebenaran, saya terima pengakuan salahmu”  (Digha Nikaya, Sutta No.25)

Sang Buddha memaafkan semua tanpa peduli apakah mereka menerima ajaranNya atau tidak, dan bahkan jika Nigrodha menolak untuk meminta maaf kepada Sang Buddha, Sang Buddha tidak akan mengancam untuk menghukum Nigrodha. Bagi Sang Buddha, tanggapan yang layak kepada kejahatan atau kesalahan adalah untuk tidak mengancam untuk menghukum. Menurut Sang Buddha, tanggapan yang layak kepada kejahatan atau kesalahan adalah pendidikan dan sifat memaafkan. Seperti yang Beliau utarakan:

“Oleh tiga macam hal seorang bijaksana bisa dikenal. Apakah tiga macam hal itu? Dia melihat kesalahanya sendiri apa adanya. Ketika dia melihat kesalahan itu apa adanya dia memperbaiki kesalahan tersebut dan ketika orang lain mengakui kesalahan, orang bijaksana selayaknya memaafkan kesalahan yang diakui itu.” (Anguttara Nikaya, Book of Threes, Sutta No.10)

Sikap Terhadap Penyakit

Penyakit, kesakitan dan wabah penyakit telah menjadi * manusi selama berabad-abad, menyebabkan penderitaan dan kesedihan yang tidak bisa dijelaskan. Alkitab menunjukkan kepada kita bahwa Tuhan selalu menganggap penyakit sebagai cara yang berguna untuk menyampaikan kemarahanNya dan menyampaikan balas dendamNya. Ketika raja-raja Firaun menolak untuk melepaskan kaum Yahudi (Catatan dari penterjemah: Raja-raja Firaun yang berkeras hati itu ternyata adalah atas kehendak Tuhan. Simaklah Keluaran 9:12), Tuhan menimbulkan nanah busuk ke seluruh orang Mesir (Keluaran 9:8-12). Tuhan menggunakan penderitaan semacam itu untuk menghukum pria, wanita, anak-anak dan bayi-bayi atas dosa yang dilakukan oleh satu orang. Selanjutnya Tuhan membuat semua anak laki-laki pertama di dalam keluarga untuk mati. Dia berkata:

“Maka tiap-tiap anak sulung di tanah Mesir akan mati, dari anak sulung Firaun yang duduk di takhtanya sampai kepada anak sulung budak perempuan yang menghadapi batu kilangan, juga segala anak sulung hewan. Dan seruan yang hebat akan terjadi di seluruh tanah Mesir, seperti yang belum pernah terjadi dan seperti yang tidak akan ada lagi.” (Keluaran 11:5-6) (Catatan dari penterjemah: Ini juga membuktikan hal lain yang mungkin tidak diulas oleh A L De Silva tentang ayat di atas. Di dalam ayat tersebut, Tuhan tampaknya begitu sayang kepada orang Yahudi, sehingga orang-orang Mesir harus menderita ketika orang Yahudi menjadi tawanan. Seperti yang kita ketahui orang-orang Mesir adalah ciptaan Tuhan juga, lalu mengapa Tuhan pilih kasih? Ini membuktikan bahwa Tuhan tidak sempurna, penuh kemarahan, penuh dendam, pilih kasih, tidak adil. Bagi semua yang membaca, setelah membaca ayat-ayat yang mengerikan itu, janganlah takut, karena jelas tidak mungkin hukuman yang mengerikan itu jatuh kepada Anda.)

Masih ada contoh jelas yang menjelaskan ide Tuhan tentang keadilan dan kasih sayang. Ribuan pria, anak laki-laki, dan bayi-bayi tak berdosa yang tak terhitung jumlahnya dibunuh oleh Tuhan hanya karena raja Firaun tidak mau mengikuti perintah Tuhan. Di beberapa tempat yang tertera di dalam Alkitab, Tuhan menjanjikan bahwa dia akan menimbulkan penyakit yang menyeramkan kepada semua yang tidak mengikuti hukum-hukum tauratNya.

“TUHAN akan mendatangkan penyakit sampar kepadamu, sampai dihabiskannya engkau dari tanah, ke mana engkau pergi untuk mendudukinya. Tuhan akan menghajar engkau dengan batuk kering, demam, demam kepialu, sakit radang, kekeringan, hama dan penyakit gandum; semuanya itu akan memburu engkau sampai engkau binasa.” (Ulangan 28:21-22)

“TUHAN akan menghajar engkau dengan barah Mesir, dengan borok, dengan kedal dan kudis, yang dari padanya engkau tidak dapat sembuh.” (Ulangan 28:27)

“maka TUHAN akan menimpakan pukulan-pukulan yang ajaib kepadamu, dan kepada keturunanmu, yakni pukulan-pukulan yang keras lagi lama dan penyakit-penyakit yang jahat lagi lama. Ia akan mendatangkan pula segala wabah Mesir yang kautakuti itu kepadamu, sehingga semuanya itu melekat kepadamu. Juga berbagai-bagai penyakit dan pukulan, yang tidak tertulis dalam kitab Taurat ini, akan ditimbulkan TUHAN menimpa engkau, sampai engkau punah.” (Ulangan 28:59-61)

Terkadang Tuhan bahkan menimbulkan wabah penyakit yang ganas kepada orang hanya untuk menguji iman orang tersebut. Untuk menguji Ayub, Tuhan membiarkan semua anak Ayub untuk mati (Ayub1:18-19) dan Ayub sendiri dikenai penyakit yang parah (Ayub 2:6-8). Begitu dalamnya penderitaan Ayub, Ayub sendiri bahkan berharap dia tidak pernah di lahirkan (Ayub 3:1-26)

Tuhan bahkan membuat orang menjadi buta dan membiarkan mereka hidup mengemis dan meraba-raba dalam kegelapan, supaya Tuhan bisa menyembuhkan mereka dan memamerkan keajaiban akan kekuatan Tuhan (Yohanes 9:1-4). Tentunya Tuhan melihat bahwa membuat orang sakit, menciptakan penyakit adalah cara yang berguna untuk menghukum orang dan menunjukkan kekuasaanNya.

Sekarang marilah kita lihat sikap Sang Buddha kepada penyakit. Sang Buddha melihat penyakit dan kesakitan sebagai bagian dari penderitaan, yang mana beliau ajarkan cara-cara untuk terbebas dari penderitaan itu. Beliau juga disebut sebagai “dokter yang penuh kasih sayang”. Tidak pernah ada contoh di mana Sang Buddha menyebabkan penderitaan untuk menghukum orang-orang atau karena Sang Buddha marah kepada mereka. Sang Buddha sangat mengerti bahwa selama kita mempunyai tubuh, kita akan bisa terkena penyakit. Beliau mengajak kita untuk mencapai Nibbana dan terbebas dari penderitaan selamanya. Di saat beliau mencoba untuk memecahkan masalah sampai ke akar-akarnya, beliau juga melakukan hal-hal yang nyata untuk menyembuhkan orang sakit supaya sembuh kembali. Tidak seperti Tuhan yang justru menimbulkan penyakit, Sang Buddha memberikan nasihat-nasihat yang berguna untuk membantu dan meringankan penderitaan si sakit. (Catatan dari penterjemah: Paragraf di atas justru menjadi inti pertama dan utama dari ajaran Sang Buddha yang sering di sebut Empat Kesunyataan Mulia atau dalam bahasa Inggrisnya The Four Noble Truths. Keempat itu adalah: Dukkha (penderitaan), Dukkha Samudaya (sumber penderitaan), Dukkha Nirodha (terhentinya Dukkha atau pencapaian Nibbana), dan Magga (jalan menuju terhentinya Dukkha))

“Dengan lima unsur seseorang bisa merawat si sakit. Lima Unsur apa? Pertama adalah menyiapkan pengobatan yang benar; seorang yang tahu apa yang baik untuk si pasien dan menyediakannya, apa yang tidak baik, tidak disediakan; seseorang merawat dengan penuh kasih dan tanpa ada keinginan dibalik perawatannya itu; seseorang yang tidak jijik terhadap pengeluaran yang keluar dari tubuh pasien, air kencing, muntahan dan air ludah; dan dari waktu ke waktu dapat mengarahkan, membangkitkan semangat, membuat ceria dan memuaskan si sakit dengan pembabaran Dhamma” (Anguttara Nikaya, Book of Fives, Sutta No.124)

Beliau tidak hanya mengajarkan hal di atas, tapi juga mempraktekkannya sesuai apa yang diajarkan oleh beliau sendiri. Ketika sekali waktu, beliau menemukan seorang bhikkhu yang sakit, terlantar dan berbaring di atas kotoran sendiri, Sang Buddha memandikannya, menenangkannya dan memanggil bhikkhu yang lain dan berkata kepada mereka, “Kalau kamu bersedia merawat saya, rawatlah juga mereka yang sakit.” (Vinaya, Mahavagga 8). Ketika Tuhan marah, dia akan menimbulkan penyakit-penyakit kepada orang dan melihat mereka menderita. Ketika Sang Buddha melihat orang yang sakit, dengan penuh kasih sayang, beliau melakukan semua yang bisa beliau lakukan untuk merawat mereka sampai sembuh.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9526
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 481
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Argumen Buddhis: Tuhan lebih banyak membunuh ketimbang Setan ???
« Jawab #5 pada: Pebruari 23, 2013, 04:07:27 PM »
tapi di dalam sutta manapun, sang Buddha tidak pernah berkata, "semua bentuk peperangan adalah tercela".

jika memang suatu hal bersifat universal, sang Buddha tidak ragu untuk mengatakan "Semua", seperti beliau sering mengatakan "semua bentukan adalah tidak kekal".
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 22
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Argumen Buddhis: Tuhan lebih banyak membunuh ketimbang Setan ???
« Jawab #6 pada: Pebruari 23, 2013, 04:38:29 PM »
^ Terus angka di dalam statistik itu diperoleh dari mana ya?
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
5 Jawaban
3417 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 13, 2013, 06:25:45 AM
oleh fafa
1 Jawaban
1243 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 17, 2013, 09:54:07 PM
oleh Kang Asep
3 Jawaban
1472 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 29, 2017, 12:21:56 AM
oleh Ziels
6 Jawaban
3671 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 29, 2013, 01:12:15 AM
oleh Sandy_dkk
1 Jawaban
1057 Dilihat
Tulisan terakhir November 22, 2015, 10:17:41 PM
oleh Monox D. I-Fly
1 Jawaban
578 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 09, 2015, 08:36:55 AM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
273 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 29, 2016, 05:02:43 PM
oleh comicers
3 Jawaban
585 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 11, 2016, 07:54:05 AM
oleh Goen
2 Jawaban
344 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 17, 2016, 11:00:27 PM
oleh Sandy_dkk
0 Jawaban
35 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 13, 2017, 04:57:48 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan