Penulis Topik: Allah  (Dibaca 1739 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9259
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 353
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Allah
« pada: November 25, 2014, 10:48:36 AM »

"Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah"

apa kita jujur dengan kesaksian kita ? benarkah kita menyaksikan Allah ? Bagaimana caranya ?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sandy_dkk

Re:Allah
« Jawab #1 pada: November 25, 2014, 11:52:13 AM »
ketika saya mengaku telah menyaksikan hewan blopfish, maka bagaimana cara orang lain untuk menilai jujur atau bohongnya kesaksian saya?
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9259
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 353
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Allah
« Jawab #2 pada: November 25, 2014, 01:11:22 PM »
dengan logika

jika misalnya orang mengaku melihat hewas blofish dengan kasat mata, tetapi dia juga mengatakan bahwa hewat blofish tidaklah kasat mata, maka dia sedang berbohong.

jika orang mengaku melihat Tuhan, tapi dia meyakini bahwa Tuhan tidak dapat dilihat, berarti dia berbohong.

jika tidak ada pertentangan di dalam pernyataannya, maka disesuaikan dengan objek yang kita lihat.

jika orang mengatakan ada  hewan blofish di dalam sebuah tempat , pada waktu yang sama ketika saya melihat tempat  itu, maka orang itu sedang berdusta. jika dia dapat melihat, sedangkan saya tidak, maka harus ada penjelasan, mengapa demikian ?

tetapi, jika kita tidak dapat membuktikan kebohongan sebuah pernyataan, maka kita selalu tahu, apakah diri kita ini berbohong atau tidak. oleh karna itu, jika kita berkata, "Aku melihat Tuhan", maka kita tahu, apakah kita sedang berbohong atau tidak.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sandy_dkk

Re:Allah
« Jawab #3 pada: November 27, 2014, 05:11:10 AM »
jika menyaksikan adalah melihat dengan mata, maka tak ada kesaksian bagi si buta mata.
jika menyaksikan adalah mendengar dengan telinga, maka tak ada kesaksian bagi si tuli telinga.
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9259
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 353
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Allah
« Jawab #4 pada: November 27, 2014, 07:24:42 AM »
jadi, "menyaksikan" disitu dengan apa ?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sandy_dkk

Re:Allah
« Jawab #5 pada: November 27, 2014, 08:31:09 PM »
kecuali orang gila dan anak kecil, maka setiap manusia dituntut untuk bersaksi.
sementara yang membedakan orang gila dan anak kecil dengan semua orang adalah kesempurnaan akalnya. maka dengan akal itulah kita menyaksikan.

menurut saya, seseorang yang menyaksikan berarti seseorang yang menyadari suatu realitas tertentu. bisa jadi sadar karena melihat, bisa jadi karena mendengar, bisa jadi karena menyimpulkan.
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9259
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 353
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Allah
« Jawab #6 pada: November 28, 2014, 12:38:21 AM »
Berarti kesaksian adanya Tuhan itu dengan akal ? apakah itu sebuah konklusi ?

"Tuhan itu ada"

bisa diuraikan argumentasinya dalam bentuk formal sylogisme ?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sandy_dkk

Re:Allah
« Jawab #7 pada: November 28, 2014, 02:10:32 AM »
bagaimana jika dikatakan bahwa "Sang Maha itu pasti ada dan mustahil tiada" adalah sebuah aksioma?
bagaimana cara membuktikan kebenaran sebuah aksioma? apakah sebuah aksioma juga harus dan bisa dijelaskan melalui silogisme?

apa syarat suatu proposisi adalah sebuah aksioma atau bukan?
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9259
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 353
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Allah
« Jawab #8 pada: November 28, 2014, 02:40:11 AM »
kang sandy pernah membahas mengenai [t:aksioma], tapi saya tidak ingat bagaimana definisinya. bisakah kang sandy kemukakan di sini defininisi aksioma ? atau dibuatkan thread di board definisi tentang dengan judul "aksioma" ! karena saya lupa atau memang belum mengerti maksud dari aksioma yang disebutkan kang sandy.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sandy_dkk

Re:Allah
« Jawab #9 pada: November 28, 2014, 03:43:03 PM »
yang saya maksud dengan aksioma adalah suatu proposisi yang terbukti dengan sendirinya.

bagaimana jika dikatakan bahwa "Sang Maha itu pasti ada dan mustahil tiada" adalah terbukti dengan sendirinya?
sebenarnya bagaimana cara membuktikan bahwa sesuatu terbukti dengan sendirinya atau tidak? apakah terbukti dengan sendirinya juga harus dan bisa dijelaskan melalui silogisme?
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9259
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 353
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Allah
« Jawab #10 pada: November 28, 2014, 09:26:07 PM »
ya, "seperti setiap benda memiliki bentuk"

"Angka sepuluh terdiri dari angka 1 dan 0"

proposisi ini tidak harus dibuktikan lagi.

"Tuhan itu Ada"

bagaimana kita mengenali bahwa itu merupakan sebuah aksioma ?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sandy_dkk

Re:Allah
« Jawab #11 pada: Desember 04, 2014, 08:18:09 PM »
itu kan yang sudah saya tanyakan?

bagaimana logika mengetahui bahwa sebuah proposisi merupakan aksioma atau masih perlu dibuktikan lagi?

atau apakah akhirnya logika juga tunduk pada persoalan rasa?

apakah "setiap benda mempunyai bentuk", kebenarannya hanya dapat dirasakan, tapi tak dapat dipikirkan sehingga tidak perlu dan tidak mungkin bisa dibuktikan?
jika demikian, kenapa kita harus menuntut segalanya harus terbukti, padahal menuntut bukti bagi segala sesuatu hanyalah pekerjaan tanpa ujung karena puncak dari seluruh bukti (aksioma) hanyalah sebuah pernyataan tentang rasa?


"setiap benda memiliki bentuk"
apa yang menjadi acuan sehingga proposisi tsb terbukti benar dengan sendirinya? akal sehat kah? bukankah akal sehat selalu menuntut bukti?

jika "setiap benda memiliki bentuk" tidak perlu dibuktikan lagi, kenapa "Sang Maha itu pasti ada dan mustahil tiada" harus dicari bentuk silogismenya?


mungkin alasannya karena kebenaran "setiap benda memiliki bentuk" bisa disaksikan dengan mata, maka tidak perlu silogisme lagi.
benarkan kita telah menyaksikan "setiap benda"? bagaimana jika suatu saat kita menemukan benda tanpa bentuk?

alasan selanjutnya; jika sesuatu tidak memiliki bentuk maka pastilah bukan benda, karena esensi dari benda adalah "yang memiliki bentuk".
ah, argumen yang berputar, esensi diketahui dengan menyaksikan, sementara kesaksian menjadi absurd ketika menyalahi esensi.

atau ada alasan lain?

« Edit Terakhir: Desember 04, 2014, 08:36:50 PM oleh Sandy_dkk »
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9259
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 353
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Allah
« Jawab #12 pada: Desember 05, 2014, 04:52:26 AM »
setahu saya, logika tidak tunduk pada "aksioma". walaupun pernyataan "setiap benda mempunyai bentuk" merupakan aksioma, yang dalam logika disebut argumentum ad judiciam, yang artinya kebenaran yang sudah akal sudah tidak dapat membantahnya lagi, tapi "akal siapa" yang telah menemukan aksioma itu, menjadi suatu persoalan. seperti ketika saya menyentuh ibu saya dan mengetahui bahwa ibu saya menghadapi panggilan ilahi, bagi saya fakta-fakta yang saya lihat itu merupakan aksioma, yang akal saya tidak dapat membantahnya lagi. tapi, bila saya mengatakannya pada banyak orang, niscaya mereka akan mengatakan bahwa saya so tahu, kebenaran yang tidak pasti, atau "mendahului Tuhan". bahkan adik saya sendiri mengatakan "Hal itu tidak pasti".

ini mengenai soal bagaimana kita diskusi dengan menggunakan logika, bukan logika untuk diri kita sendiri. ketika kita berargumentasi, maka argumentasi itu haruslah "yang disekapati benar" oleh kedua belah pihak, tidak peduli apakah argumentasi itu "aksioma" atau sebenarnya hanya merupakan "argumentum ad vercundiam". bahkan argumentum ad hominem sekalipun sah digunakan sebagai argumentasi, bila kedua belah pihak sepakat dengan kebenarannya. tentu saja, idealnya argumentasi tersebut berupa aksioma, jika kedua belah bisa menyepakatinya.

"Tuhan itu Ada", mungkin bagi saya dan kang sandy, itu adalah aksioma yang kebenarannya sudah disepakati. tapi apakah itu aksioma yang kebenarannya disepakati oleh Atheis dan buddhis ? kita tidak bisa memaksakan "aksioma" kita menjadi aksioma setiap orang. walaupun kita berpikir "semua akal yang waras mestinya mengetahui bahwa hal itu merupakan aksioma". Tapi ini tidak berarti mereka yang tidak melihat aksioma sebagai aksioma sebagai orang yang tidak waras. Bisa jadi, ia seperti orang waras yang berada di tempat gelap. kebenaran itu tidak terlihat olehnya. yang dibutuhkan olehnya adalah penerangan. jika sudah terang, masih menyangkal, nah itu baru tidak waras.

secara filsafat, saya telah membuktikan kebenaran adanya tuhan melalui Kemustahilan Daor Wa Tasalsul, tapi itu bukan logika formal. sekarang, saya mencoba mencari sylogisme formal untuk mereka yang atheis.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
868 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 02, 2013, 09:17:04 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1495 Dilihat
Tulisan terakhir April 28, 2013, 01:15:56 PM
oleh Abu Zahra
3 Jawaban
2069 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 06, 2014, 02:00:46 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
669 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 04, 2014, 06:55:02 AM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
551 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 22, 2016, 01:40:13 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
271 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 06, 2016, 07:19:29 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
225 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 28, 2016, 03:27:35 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
108 Dilihat
Tulisan terakhir April 23, 2017, 09:50:08 PM
oleh Sultan
0 Jawaban
21 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 07, 2017, 05:48:51 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
3 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 10, 2017, 08:08:38 AM
oleh comicers

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan