Penulis Topik: Kasus Mortara  (Dibaca 417 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline comicers

Kasus Mortara
« pada: Mei 24, 2017, 03:26:47 PM »
https://id.wikipedia.org/wiki/Kasus_Mortara


Pada petang 23 Juni 1858, carabinieri (polisi militer) kepausan pimpinan Marsekal Pietro Lucidi dan Brigadir Giuseppe Agostini datang ke apartemen Mortara di Bologna. Setelah menanyai beberapa pertanyaan tentang keluarga tersebut, Lucidi menyatakan: "Signor Mortara, Aku minta maaf untuk memberitahukanmu bahwa kamu adalah korban pengkhianatan", dan menjelaskan bahwa mereka diperintah Romo Feletti untuk mengambil Edgardo karena ia telah dibaptiskan. Edgardo Levi Mortara, anak keenam dari delapan bersaudara yang lahir dari pasangan Salomone "Momolo" Mortara, seorang pedagang Yahudi, dan istrinya Marianna (née Padovani), lahir pada 27 Agustus 1851 di Bologna, salah satu Legasi Kepausan di utara jauh negara kepausan. Keluarganya pindah pada 1850 dari Kadipaten Modena, tepat di barat Bologna.

Ya, pada Oktober 1857, inkuisitor Bologna, seorang frater Dominikan bernama Romo Pier Gaetano Feletti, mengetahui rumor dari dampak bahwa sebuah pembaptisan rahasia telah dilakukan kepada salah satu anak Yahudi di kota tersebut oleh seorang pelayan Katolik. Jika benar, hal ini akan membuat anak tersebut menjadi Katolik di mata Gereja—sebuah fakta dengan ramifikasi sekuler serta spiritual semenjak Gereja menganggap bahwa anak-anak yang mereka anggap Kristen tidak dapat dibesarkan oleh non-Kristen, dan harus diambil dari orangtua mereka dalam keadaan semacam itu. Kasus-kasus semacam ini merupakan hal lazim di Italia pada abad ke-19, dan seringkali melibatkan pembaptisan seorang anak Yahudi oleh seorang pelayan Kristen. Gereja secara resmi menyatakan bahwa orang Katolik tidak dapat membaptis anak Yahudi tanpa memberitahukan kepada orangtuanya, kecuali jika anak tersebut dalam keadaan sekarat—dalam kasus semacam itu, Gereja dapat menghiraukan ketentuan orangtua dengan memberatkan bahwa dampaknya jiwa anak tersebut dapat selamat dan masuk surga, dan mengijinkan pembaptisan tanpa pengesahan orangtua. Beberapa keluarga Yahudi mengkhawatirkan pembaptisan diam-diam oleh para pelayan Kristen mereka; untuk menghindari ancaman tersebut, beberapa rumah tangga meminta orang-orang Kristen meninggalkan pekerjaan mereka dengan menandatangani pernyataan yang mengkonfirmasikan bahwa mereka tak pernah membaptis anak manapun.

Bagi Kantor Kudus, situasi semacam itu yang dilaporkan oleh Feletti menghadirkan kebingungan yang mendalam—di satu sisi, Gereja resmi menolak perpindahan agama paksa, namun di sisi lain menganggap bahwa sakramen pembaptisan bersifat keramat dan jika dilakukan, penerimanya setelah itu dianggap menjadi anggota komuni Kristen. Menurut hukum Negara-Negara Kepausan, mengambil anak dari orangtua non-Kristen untuk dibaptiskan merupakan hal ilegal, namun jika anak tersebut telah dibaptiskan lebih dulu, maka Gereja memegang tanggung jawab untuk menyediakan pendidikan Kristen. Para kardinal menyoroti catatan Morisi dan secara mutlak menerimanya sebagai "seluruh tanda kebenaran tanpa meninggalkan keraguan tentang kenyataan dan validitas pembaptisan yang ia lakukan". Feletti memerintahkan agar Edgardo diambil dan dibawa ke Dewan Katekumen di Roma, dimana pengarahan diberikan kepada orang-orang yang baru berpindah agama atau dalam proses berpindah ke agama Katolik.

Marianna berteriak histeris, berlari ke kasur Edgardo dan mengancam agar mereka membunuhnya dulu sebelum mengambilnya. Lucidi tetap bersikukuh bahwa ia hanya mengikuti perintah Feletti. Setelah itu, ia menyatakan bahwa ia "akan seribu kali lebih suka menyoroti bahaya yang lebih serius dalam menjalani tugas-tugasnya ketimbang menyaksikan suasana menyakitkan semacam ini."

Lucidi memerintahkan ayah Edgardo menemani mereka ke hadapan inkuisitor untuk membicarakan materi tersebut dengannya—Momolo menolak—kemudian membolehkan Momolo untuk mengirim putra sulungnya Riccardo untuk mengadukannya kepada para kerabat dan tetangga. Paman Marianna, Angelo Padovani, seorang anggota berpengaruh dari komunitas Yahudi Bologna, menyatakan bahwa satu-satunya harapan mereka adalah mengajukan banding kepada Feletti. Inkuisitor tersebut bertemu dengan Padovani dan saudara ipar Marianna, Angelo Moscato di San Domenico tak lama setelah pukul 23:00. Seperti haknya Lucidi, Feletti berkata bahwa ia hanya mengikuti perintah. Ia menjelaskan kenapa ia berpikir bahwa Edgardo telah dibaptiskan, berkata bahwa ini merupakan kerahasiaan. Saat ia memberikan keluarga tersebut setidaknya satu hari bersama dengan Edgardo Lucidi, inkuisitor tersebut menyatakan bahwa tak ada upaya yang membuat jiwa anak tersebut pergi. Ia memberikan sebuah catatan kepada Padovani untuk diberikan kepada marsekalnya. Lucidi pergi sesuai perintah, meninggalkan dua pria bertahan di kamar tidur keluarga Mortara dan mengamati Edgardo.

Keluarga Mortara menjalani pagi 24 Juni dengan berupaya untuk mengadukan tindakan Feletti kepada legatus kardinal di kota tersebut, Giuseppe Milesi Pironi Ferretti, atau Uskup Agung Bologna, Michele Viale-Prelà, namun mereka sedang tidak berada di kota tersebut. Pada siang harinya, keluarga Mortara memutuskan untuk membuat perpisahan seperti apapun menyakitkahnya. Para saudara Edgardo mengunjungi para kerabatnya sementara Marianna lebih menjalani sore harinya dengan istri Giuseppe Vitta, seorang teman keluarga Yahudi. Sekitar pukul 17:00, Momolo mendatangi San Domenico untuk meminta kesempatan terakhir kepada Feletti. Inkuisitor tersebut bersikukuh akan semua yang ia katakan kepada Padovani dan Moscato pada malam sebelumnya dan berkata kepada Momolo agar ia tak perlu khawatir karena Edgardo akan dirawat lebih baik, di bawah perlindungan Sri Paus sendiri. Ia memperingatkan bahwa tak ada manfaatnya untuk melakukan tindakan apapun saat carabinieri datang pada sore harinya.



Momolo pulang ke rumah dan mendapati bahwa apartemennya kosong, ditinggali oleh Vitta, saudara Marianna (juga disebut Angelo Padovani), dua polisi dan Edgardo sendiri. Pada sekitar pukul 20:00, carabinieri datang, dalam dua gerbong—yang satu untuk Lucidi dan pasukannya, dan yang lainnya dimana untuk Agostini yang akan membawa Edgardo. Lucidi masuk apartemen dan mengambil Edgardo dari gendongan ayahnya, dua polisi yang mengambilnya pun meneteskan air mata. Momolo mengikuti polisi tersebut di sepanjang perjalanan, kemudian pingsan. Edgardo diambil Agostini dan dibawa pergi.
 

Offline comicers

Banding awal; Penyatronan Morisi
« Jawab #1 pada: Mei 24, 2017, 03:27:26 PM »
Dengan tanpa mengetahui cara dimana bocah tersebut diambil, keluarga Mortara, didukung oleh komunitas Yahudi di Bologna, Roma dan tempat lainnya di Italia, awalnya berfokus pada pengajuan banding dan berusaha untuk menggaet dukungan dari Yahudi di luar negeri. Suara publik yang sangat lantang direbakkan oleh Yahudi di negara-negara Eropa barat menyusul pergerakan kebebasan pers, disertai dengan emansipasi politik Yahudi di Kerajaan Sardinia, Inggris, Perancis dan Amerika Serikat, menyebabkan pengambilan Mortara meraoh perhatian pers melebihi insiden semacam itu yang terjadi pada masa sebelumnya. Pemerintah kepausan awalnya menghiraukan ajuan banding Momolo, namun direkondisikan setelah surat-surat kabar mulai mengabarkan kasus tersebut;beberapa penentang negara kepausan menganggap peristiwa tersebut sebagai contoh tirani kepausan.


Giacomo Antonelli, kepala pemerintahan Sri Paus sebagai Kardinal Sekretaris Negara

Dalam rangka mempertahankan pendirian diplomatik Negara-Negara Kepausan, Sekretaris Kardinal Negara Giacomo Antonelli berkomplot dengan komunitas Yahudi di Roma untuk mengadakan sebuah pertemuan dengan Momolo Mortara, dan bertemu dengannya pada awal Agustus 1858. Antonelli menjanjikan bahwa masalah tersebut akan diajukan kepada Sri Paus dan menerima permintaan Momolo agar ia diperbolehkan untuk giat mengunjungi Edgardo di Dewan Katekumen.

Upaya keluarga Mortara dan para sekutu mereka untuk mengidentifikasi siapa yang membaptis Edgardo dengan cepat membuahkan hasil. Setelah pelayan mereka dihadirkan, Anna Facchini menyangkal keterlibatan apapun, mereka mengumpulkan para bekas pelayan mereka dan kemudian menyatakan Morisi sebagai kandidat yang memungkinkan.

Beberapa bulan setelah kelahiran Edgardo, keluarga Mortara mengambil seorang pelayan baru: Anna "Nina" Morisi, seorang Katolik berusia 18 tahun dari desa terdekat San Giovanni in Persiceto. Seperti seluruh keluarga dan teman-temannya, Morisi buta huruf. Ia datang ke kota tersebut, mengikuti tiga saudarinya, untuk bekerja dan menabung uang untuk dijadikan mas kawin agar ia dapat menikah. Pada awal 1855, Morisi mengandung, suatu hal yang lazim bagi pelayan lajang di Bologna pada waktu itu. Beberapa pekerja biasanya akan dipecat dalam keadaan semacam itu, namun keluarga Mortara tidak melakukannya; mereka membayar Morisi untuk menjalani empat bulan terakhir masa kandungannya di rumah bidan dan mengirim anak tersebut, kemudian ia kembali bekerja dengan mereka. Untuk melindungi Morisi dan diri mereka sendiri dari keresahan, mereka berkata kepada para tetangga bahwa pelayan mereka sakit dan pulang ke rumah. Morisi melahirkan bayinya di sebuah panti asuhan, sejalan dengan yang diminta Negara-negara Kepausan terhadap para ibu yang belum menikah, kemudian kembali bekerja dengan keluarga Mortara. Ia masih berada disana sampai ia diambil oleh keluarga Bologna lainnya pada 1857; tak lama setelah ia menikah dan kembali ke San Giovanni in Persiceto.

Pada akhir Juli 1858, rumah Mortara dikunjungi oleh Ginerva Scagliarini, seorang tekan dari Morisi yang sempat bekerja untuk saudara ipar Marianna, Cesare De Angelis. Saudara Marianna, Angelo Padovani mengetes Scagliarini dengan secara ngawur berkata bahwa ia telah mendengar bahwa Morisi yang telah membaptis Edgardo. Scagliarini berkata bahwa ia mekisahkan hal yang sama oleh saudari Morisi, Monica.

Angelo Padovani datang dengan De Angelis untuk menyatroni Morisi di San Giovanni in Persiceto. Padovani menanggapi pengakuannya dengan tangis. Setelah para pengunjung menyatakan bahwa mereka tak akan mengapa-apakannya, Morisi mengaku bahwa ia telah mengatakannya kepada Feletti. Ia berkata bahwa seorang pedagang bernama Cesare Lepori menyarankan pembaptisan saat ia berkata bahwa Edgardo sakit, dan ia menurutinya. Ia tidak menceritakannya kepada siapapun, sampai setelah saudara Edgardo, Aristide wafat pada usia satu tahun pada 1857—saat seorang pelayan tetangga bernama Regina membujuk agar Morisi harus membaptiskan Aristide, ia berkata bahwa ia melakukannya kepada Edgardo "terselip dari mulutku". Menurut Padovani, Morisi dikatakan menangis saat ia diinterogasi oleh inkuisitor, dan mengekspresikan penyesalannya terhadap pengambilan Edgardo: "menandakan bahwa itu semua salahku, aku sangat tak bahagia, dan masih akan terus seperti itu." Morisi menyepakati bila pernyataannya dicatat, namun melarikan diri saat Padovani dan De Angelis pulang setekah tiga jam dengan seorang notaris dan dua saksi mata. Setelah pencarian tersebut, mereka kembali ke Bologna dengan satu-satunya catatan yang mereka dengar dari ceritanya, yang Padovani tanggapi dengan berkata: "Kata-katanya, dan sikapnya, dan tangisnya sebelum ia mencurahkan kisahnya, membuatku menganggap bahwa apa yang ia ceritakan kepadaku adalah benar semua."

Dua penjelasan

Edgardo dikunjungi oleh ayahnya beberapa kali di bawah naungan rektor Katekumen, Enrico Sarra, dari pertengahan Agustus sampai pertengahan September 1858. Catatan yang sangat berbeda dari apa yang terjadi pada saat pertemuan tersebut berkembang menjadi dua penjelasan yang berseberangan dari keseluruhan kasus tersebut. Versi Momolo dari peristiwa tersebut, yang dipegang oleh komunitas Yahudi dan bekingan lainnya, adalah bahwa sebuah keluarga telah dihancurkan oleh fanatisisme keagamaan dari pemerintahan, Edgardo yang tak tertolong menjalani perjalanan ke Roma sambil menangisi orangtuanya, dan bahwa bocah tersebut tak menginginkan apapun selain kembali ke rumah. Penjelasan yang dipegang oleh Gereja dan para pendukungnya, dan dicantumkan dalam pers Katolik di seluruh Eropa, adalah salah satu penebusan jiwa yang diperintahkan ilahi, dan seorang anak dipulihkan dengan kekuatan spiritual pada tahun-tahun belakangan—Edgardo telah menghadapi kehidupan yang salah yang diikuti oleh kutukan besar namun sekarang berdiri untuk berbagi dalam keselamatan Kristen, dan menyayangkan orangtuanya yang tidak ikut berpindah agama dengannya.

Tema utama dalam hampir setiap pengisahan keluarga Mortara adalah tentang kesehatan Marianna Mortara. Dari Juli 1858 dan seterusnya, seluruh Eropa mengabarkan tentang akibat dari kesedihannya, ibu Edgardo benar-benar menjadi gila, dan bahkan hampir mau mati. Citra kuat dari seorang ibu yang sakit hatinya sangat ditekankan dalam banding keluarga tersebut baik kepada publik maupun kepada Edgardo sendiri. Momolo dan sekretaris komunitas Yahudi Roma, Sabatino Scazzocchio, berkata kepada Edgardo bahwa kehidupan ibunya menjadi beresiko jika ia tidak kembali. Saat Marianna menulis pesan kepada putranya pada bulan Agustus, Scazzocchio menolak untuk mengirim surat tersebut atas dasar bahwa, dengan nada berulang dan relatif tenang, hal tersebut dapat melawan penekanan mereka yang berupaya untuk memberitahukannya bahwa ibunya tak kuat ditinggal dan hanya ingin kepulangannya dengan selamat. Salah satu koresponden melaporkan pada Januari 1859: "Sang ayah menunjukkan kesepakatan besar, namun sang ibu menjalani waktu sulit dalam menghadapinya. ... Jika Bapa Suci memandang wanita ini seperti aku memandangnya, ia tak akan menahan putranya pada momen lainnya."

Terdapat beberapa versi berbeda dari cerita Katolik, namun semuanya mengikuti struktur dasar yang sama. Semuanya sama-sama menyatakan bahwa Edgardo dengan cepat dan tekun memahami agama Kristen dan berupaya untuk memahaminya sebisa mungkin. Kebanyakan mengisahkan adegan dramatis dari Edgardo yang menjadi takjub dengan lukisan Bunda Maria dalam kesedihan, baik di Roma atau saat perjalanan dari Bologna. Agostini, polisi yang membawanya ke Roma, mengabarkan bahwa bocah tersebut mula-mula enggan masuk gereja dengannya untuk misa, namun mengalami perubahan drastis saat ia mengikutinya. Sebuah pernyataan umum menyatakan bahwa Edgardo menjadi berbakat—menurut catatan seorang saksi mata yang diterbitkan dalam L'armonia della religione colla civiltà Katolik, ia telah mempelajari katekisme dengan sempurna dalam beberapa hari, "memberkati pelayan yang membaptisnya," dan mendeklarasikan bahwa ia ingin memasukkan semua Yahudi ke dalam agama Kristen. Artikel pro-Gereja yang sangat berpengaruh tentang Mortara adalah sebuah catatan yang diterbitkan dalam majalah periodikal Yesuit La Civiltà Cattolica pada November 1858, dan kemudian dicetak ulang atau dikutip dalam surat-surat kabar Katolik di seluruh Eropa. Kisahnya menyatakan bahwa anak tersebut meminta rektor Katekumen agar tidak mengirimnya pulang namun dibesarkan di sebuah rumah Kristen, dan menimbulkan apa yang menjadi titik utama dari penjelasan pro-Katolik—bahwa Edgardo memiliki sebuah keluarga baru, yakni Gereja Katolik itu sendiri. Arrikel tersebutbmenyatakan bahwa Edgardo berkata: "Aku dibaptis; Aku dibaptis dan bapakku adalah Sri Paus."

Liberal, Protestan dan Yahudi di seluruh benua tersebut mencemooh laporan pers Katolik. Sebuah buklet yang diterbitkan di Brussels pada 1859 menjelaskan dua penjelasan yang berseberangan, yang menyatakan bahwa: "Antara mukjizat seorang rasul berusia enam tahun yang ingin memindahkan agama orang-orang Yahudi dan tangisan seorang anak yang ingin tetap bersama dengan ibu dan adik-adik kecilnya, kami tak ragu-ragu untuk sebuah momen." Orangtua Mortara secara resah menuduh bahwa catatan-catatan Katolik tersebut bohong, namun beberapa pendukung mereka kurang tau tentang dimana Edgardo berada. Salah satunya adalah Scazzocchio, yang menghadiri beberapa pertemuan yang dipersengketakan di Katekumen.

Penyangkalan Lepori; Morisi disudutkan

Momolo kembali ke Bologna pada akhir September 1858 setelah dua saudara iparnya menyatakan kepadanya bahwa jika ia tetap di Roma, keluarganya akan berantakan. Ia meninggalkan Scazzocchio untuk mewakili keluarganya di Roma. Momolo mengalihkan prioritasnya untuk berupaya memastikan kredibilitas Morisi, dengan memastikan aspek-aspek ceritanya atau menunjukkan bahwa ia tidak benar. Ia juga menyoroti Cesare Lepori, seorang pedagang yang Morisi katakan menyarankannya pembaptisan dan menunjukannya bagaimana cara melakukannya. Berdasarkan pada cerita Morisi, Lepori telah diidentifikasi oleh beberapa pengamat bahwa ia bertanggung jawab terhadap masalah tersebut. Saatisomolo memergoki tokonya pada awal Oktober, Lepori menyangkal habis-habisan bahwa ia pernah berkata kepada Morisi tentang Edgardo atau pembaptisan apapun, dan berkata bahwa ia siap menerima dampak apapun dari otoritas hukum manapun. Ia mengklaim bahwa ia sendiri tak tau cara membaptis, sehingga akan sangat rancu terjadi seperti yang dikisahkan Morisi.

Carlo Maggi, seorang Katolik pendukung Momolo yang juga merupakan pensiunan hakim, mengirim sebuah laporan penyangkalan Lepori kepada Scazzocchio, yang meminta Antonelli untukmeneruskannya kepada Sri Paus. Sebuah surat yang ditujukan kepada pernyataan Maggi menyatakan bahwa cerita Morisi palsu. Scazzocchio juga mendatangkan dokter keluarga Mortara, Pasquale Saragoni, yang mengakui bahwa Edgardo jatuh sakit saat ia berusia satu tahun, namun menyatakan bahwa ia tak pernah dalam keadaan sekarat, dan bahwa dalam kasus apapun, niatan Morisi sendiri yang pada waktu itu membuatnya membaptis bocah tersebut. Laporan lebih lanjut dikirim dari Bologna pada Oktober 1858, membandingkan pernyataan delapan wanita dan satu pria, semuanya Katolik, yang mendukung klaim dokter tersebut tentang sakit Edgardo dan Morisi, dan menuduh bahwa bekas pelayan tersebut melakukan pencurian dan penyimpangan seksual. Empat wanita, termasuk pelayan Anna Facchini dan wanita yang mempekerjakan Morisi setelah ia meninggalkan keluarga Mortara, Elena Pignatti, mengklaim bahwa Morisi sering merayu para perwira Austria dan mengundang mereka ke rumah karyawannya untuk berhubungan badan.

Alatri, kemudian kembali ke Roma

Momolo berencana ke Roma lagi pada 11 Oktober 1858, kali ini membawa Marianna bersama dengannya dengan harapan bahwa kehadirannya membuat dorongan yang lebih kuat terhadap Gereja dan Edgardo. Khawatir terhadap kemungkinan reunifikasi dramatis antara ibu dan putra, rektor Enrico Sarra membawa Edgardo dari Roma ke Alatri, kampung halamannya senduru yang berjarak sekitar 100 kilometer (62 mi) jauhnya. Keluarga Mortara menyusul mereka ke sebuah gereja ei Alatri, dimana dari pintu, Momolo melihat seorang imam sedang memimpin misa—dan Edgardo di sampingnya sedang mendampinginya. Momolo menunggu di luar, dan setelah itu membujuk sang rektor untuk lekas menengok putranya. Sebelum peremuan tersebut dilakukan, keluarga Mortara ditangkap atas perintah Walikota Alatri, mengikuti permintaan dari uskup kota tersebut, dan disuruh kembali ke Roma. Antonelli tak tinggal diam, memandangnya sebagai tindakan tak pantas yang dapat dijadikan alat bagi para penentang Gereja, dan memerintahkan Sarra untuk mengirim Edgardo kembali ke ibukota untuk menemui orangtuanya.

Edgardo kembali ke Katekumen pada 22 Oktober, dan sering dikunjungi oleh orangtuanya sepanjang bulan berikutnya. Seperti haknya kunjungan pertama Momolo, terdapat dua versi berbeda dari apa yang terjadi. Menurut orangtua Edgardo, bocah tersebut diintimidasi oleh rohaniwan di sekitarnya dan melemparkan dirinya sendiri dalam pangkuan ibunya saat ia pertama kali melihatnya. Marianna kemudian berkata: "Ia kehilangan berat badan dan jadi pucat; matanya diisi dengan teror ... Aku berkata kepadanya bahwa ia lahir sebagai orang Yahudi seperti kami dan seperri halnya kami, ia harus selalu menjadi salah satunya, dan ia menjawab: 'Si, mia cara mamma, Aku tak akan pernah lupa untuk mengucapkan Shema setiap hari.'" Sebuah laporan dalam pers Yahudi menyatakan bahwa para imam berkata kepada orangtua Edgardo bahwa Allah telah memilih putranya untuk menjadi "rasul Kristen bagi keluargnya, dicurahkan untuk mempertobatkan orangtuanya dan saudara-saudaranya", dan bahwa mereka akan mendapatkannya lagi jika mereka juga menjadi Kristen. Para rohaniwan dan biarawati kemudian mendoakan rumah tangga Mortara, mengharapkan agar orangtua Edgardo meninggalkan prasangka buruk.

Sebaliknya, catatan pro-Gereja menyatakan bahwa bocah yang sangat senang untuk menetap tersebut dibujuk oleh ibunya agar kembali ke Yudaisme. Dalam penjelasan tersebut, alasan utama kedatangan keluarga Mortara tersebut bukan untuk mengambil putra mereka, melainkan karena ia sekarang makin bertumbuh dalam iman Kristen. Menurut La Civiltà Cattolica, Marianna menjadi meradang saat melihat sebuah medali tergantung dari leher Edgardo yang mencantumkan gambar Bunda Maria dan mengoyakannya; sebuah artikel lebih jauh mengklaim bahwa ibu Yahudi tersebut melakukannya dengan berkata: "Aku lebih suka melihatmu mati ketimbang menjadi Kristen!" Beberapa kritikus Gereja mendakwa bahwa dengan menahan Edgardo, hal tersebut melanggar perintah yang menyatakan bahwa seorang anak harus menghormati ibu bapanya—La Civiltà Cattolica menangkisnya dengan menyatakan bahwa Edgardo masih mengasihi keluarganya meskipun mereka berbeda keyakinan dan menulis surat pertamanya kepada ibunya, setelah diajarkan para imam untuk membaca dan menulis, bertanda tangan "putra kecilmu yang sangat dikasihi". Louis Veuillot, penyunting ultramontane dari surat kabar L'Univers dan salah satu pembela terkuat dari Sri Paus, dikabarkan setelah bertemu Edgardo di Roma, bocah tersebut berkata kepadanya "bahwa ia mengasihi ibu bapanya, dan bahwa ia akan tinggal dengan mereka saat sudah besar ... sehingga ia dapat berkata kepada mereka tentang Santo Petrus, Allah dan Maria paling Kudus."
 

Offline comicers

Skandal internasional; makinasi politik
« Jawab #2 pada: Mei 24, 2017, 03:28:54 PM »

Napoleon III dari Perancis adalah salah satu figur internasional yang mengecam tindakan Negara-Negara Kepausan terhadap Mortara.

Tak berhasil di Roma, Momolo dan Marianna Mortara pulang ke Bologna pada awal Desember 1858, dan setelah itu pindah ke Torino, Piedmont. Kasus tersebut sekarang menajdi kontroversi masif di Eropa dan Amerika Serikat, dengan suara-suara dari seluruh spektrum politik mendorong agar Sri Paus mengembalikan Edgardo ke orangtuanya. Mortara tak hanya menjadi cause célèbre bagi Yahudi namun juga bagi Kristen Protestan, terutama di Amerika Serikat, dimana sentimen anti-Katolik merebak—The New York Times menerbitkan lebih dari 20 artikel tentang kasus tersebut pada Desember 1858 sendiri. Di Inggris, The Spectator menyebut kasus Mortara sebagai bukti bahwa Negara-Negara Kepausan merupakan "pemerintahan terburuk di dunia—paling blangsak dan paling arogan, tak diragukan dan sangat dimengerti". Pers Katolik di Italia dan luar negeri membela tindakan Sri Paus. Artikel-artikel pro-Gereja seringkali memegang sikap anti-Semitik, menyatakan bahwa sorotan di Inggris, Perancis atau Jerman sebagai kritikan mengejutkan "semenjak surat-surat kabar di Eropa berada di tangan Yahudi". Scazzocchio berpendapat bahwa Gereja sebenarnya bersifat kontra-produktif terhadap sebab keluarga Mortara, karena hal tersebut memurkai Sri Paus dan sehingga ia memutuskan untuk tidak bergeming.


Paus Pius IX

Karena pemerintah-pemerintah luar negeri dan berbagai cabang dari keluarga Rothschild satu per satu mengecam tindakannya, Pius IX menyatakan bahwa ia berpendirian pada apa yang ia pandang sebagai materi prinsip. Salah satu tokoh yang mengecam meliputi Kaisar Napoleon III dari Perancis, yang mengetahui bahwa peristiwa tersebut mengancam keberadaan garisun Perancis-nya di Roma. Napoleon III telah mendukung pemerintahan temporal Sri Paus karena mendapatkan banyak dukungan dari umat Katolik Perancis; skandal atas Mortara menyadarkannya, dan menurut sejarawan Roger Aubert, membuat keputusan akhir untuk mengubah kebijakan Perancis. Pada Februari 1859, Napoleon III mengadakan pakta rahasia dengan Kerajaan Sardinia yang menyediakan dukungan militer Perancis untuk sebuah kampanye untuk mendompleng Austria dan menyatukan Italia—kebanyakan domain kepausan direbut bersama dengan Dua Sisilia dan negara-negara kecil lainnya.

Kemudian, Sri Paus menerima seorang delegasi dari komunitas Yahudi Roma tak lama setelah Tahun Baru. Pertemuan pada 2 Februari 1859 dengan cepat berujung pada sebuah argumen panas, dengan Paus Pius menyatakan kepada para pengunjung Yahudi untuk "menarik kabar di seluruh belahan Eropa tentang kasus Mortara tersebut". Saat delegasi menyangkal bahwa Yahudi dari Roma telah menimbulkan artikel-artikel anti-rohaniwan, Sri Paus menuduh Scazzocchio tidak berpengalaman dan bercanda, kemudian menyatakan: "Surat-surat kabar dapat menulis semua yang mereka inginkan. Aku tak peduli dengan apa yang dunia pikirkan!" Sri Paus kemudian meneruskannya dengan berkata: "Sekuat apa yang aku miliki bagimu, sehingga aku melindungimu, karena itu, aku harus melindungimu." Salah satu delegasi mengusulkan agar Gereja tidak memberikan pernyataan apapun terhadap Morisi, menganggapnya kelewatan moral—Sri Paus membalasnya bahwa sikapnya tak bermutu, sehingga ia memandang pelayan tersebut tak memiliki alasan untuk memberikan cerita semacam itu, dan dalam kasus manapun, Momolo Mortara seharusnya tidak mempekerjakan orang Katolik dari awal.

Keputusan Paus Pius IX untuk mempertahankan Edgardo berkembang menjadi perhatian kuat terhadap orangtuanya. Menurut memoir-memoir Edgardo, Sri Paus giat mengunjunginya dan bermain dengannya; Sri Paus bercanda bersama anak tersebut dengan menyembunyikannya di balik cassocknya dan mengatakan: "Dimana bocah itu?" Pada sebuah pertemuan, Paus Pius berkata kepada Edgardo: "Putraku, kau membuatku bahagia, dan aku sangat bersukacita karenamu." Ia kemudian berkata kepada orang-orang lain yang hadir: "Baik yang berkuasa maupun yang tak berkuasa berusaha untuk menjauhkan bocah ini dariku, dan menuduhku barbar dan memalukan. Mereka menangisi orangtuanya, namun gagal memahami bahwa aku juga ayahnya."

Petisi Montefiore; kejatuhan Bologna


Sir Moses Montefiore, presiden Badan Deputi Yahudi Britania, berupaya untuk menjadi perantara kekuarga Mortara.

Banding Yahudi Italia mendapatkan perhatian Sir Moses Montefiore, presiden Badan Deputi Yahudi Britania, yang berkeinginan untuk menolong orang-orang seimannya, seperti halnya yang ia lakukan dalam fitnah darah Damaskus tahun 1840. Dari Agustus sampai Desember 1858, ia mengepalai sebuah komite Inggris khusus terhadap Mortara yang melayangkan laporan dari Piedmont kepada surat-surat kabar Inggris dan rohaniwan Katolik, dan senang terhadap dukungan yang digelontorkan oleh umat Protestan Inggris, terutama Evangelical Alliance pimpinan Sir Culling Eardley. Setelah gagal berupaya untuk melobikan protes resmi kepada pemerintah Inggris terhadap Vatikan, Montefiore secara pribadi datang ke Roma untuk menghadirkan sebuah petisi kepada Sri Paus yang menyerukan agar Edgardo dikembalikan ke orangtuanya. Ia datang ke Roma pada 5 April 1859.

Montefiore gagal meraih tanggapan dari Sri Paus, dan baru diterima oleh Kardinal Antonelli pada 28 April. Montefiore memberikannya petisi Badan Deputi untuk diteruskan kepada Sri Paus, dan berkata bahwa ia akan menunggu selama seminggu di kota tersebut untuk tanggapan Sri Paus. Dua hari kemudian, Roma mendapatkan kabar bahwa pertikaian pecah antara pasukan Austria dan Piedmont di utara—Perang tahun 1859 pun terjadi. Meskipun kebanyakan tamu asing melarikan diri dari Roma secepatnya, Montefiore tetap menunggu jawaban Sri Paus; ia akhirnya pergi pada 10 Mei. Saat ia kembali ke Inggris, lebih dari 2,000 warga—termasuk 79 walikota dan provost, 27 anggota Parlemen, 22 uskup dan uskup agung Anglikan dan 36 anggota parlemen—menandatangani sebuah protes yang menyerukan bahwa tindakan Sri Paus "tidak menghormati Kekristenan", "mencederai kemanusiaan". Sementara itu, Gereja dengan cepat membuat Edgardo menjadi orang Katolik di sebuah kapel pribadi pada 13 Mei 1859. Pada waktu itu, Edgardo tidak lama berada di Katekumen namun di San Pietro in Vincoli, sebuah basilika di bagian lainnya dari Roma dimana Paus Pius secara pribadi mendidik bocah tersebut.

Pada perang pecah melawan pasukan Austria, garisun di Bologna hengkang pada pagi 12 Juni 1859. Pada hari yang sama, bendera-bendera kepausan yang dikibarkan di lapangan-lapangan diganti dengan bendera hijau, putih dan merah Italia, legasi kardinal meninggalkan kota tersebut, dan sebuah kelompok yang menyebut dirinya sendiri sebagai pemerintahan provinsional Bologna memproklamasikan keputusannya untuk bergabung dengan Kerajaan Sardinia. Bologna dimasukkan menjadi bagian dari provinsi Romagna. Uskup Agung Michele Viale-Prelà berupaya agar masyarakat tidak bersepakat dengan otoritas sipil yang baru, namun hanya meraih sedikit kesuksesan. Salah satu aturan resmi pertama dari pemerintahan baru adalah memperkenalkan kebebasan beragama dan membuat semua warga negara setara di hadapan hukum. Pada November 1859, gubernur Luigi Carlo Farini mengeluarkan sebuah proklamasi yang meniadakan inkuisisi.
 

Offline comicers

Retribusi
« Jawab #3 pada: Mei 24, 2017, 03:30:34 PM »
Feletti ditangkap


Luigi Carlo Farini, gubernur Romagna setelah otoritas kepausan di Bologna jatuh pada 1859, memerintahkan penyidikan terhadap "para pengarang penculikan".

Momolo Mortara menjalani akhir 1859 dan Januari 1860 di Paris dan London, berupaya untuk menggaet dukungan. Saat ia mendatangi ayahnya Simon, yang tempat tinggalnya berjarak sekitar 30 kilometer (19 mi) dari barat Bologna di Reggio Emilia, berhasil membujuk otoritas baru di Romagna untuk meluncurkan penyidikan terhadap kasus Mortara. Pada 31 Desember 1859, Farini memerintahkan menteri kedadilannya untuk memeriksa "para pengarang penculikan". Filippo Curletti, direktur-jenderal yang baru dari kepolisian untuk Romagna, memutuskan untuk melakukan penyelidikan. Setelah dua pihak berwajib mengidentifikasikan inkuisitor Feletti sebagai yang memberikan perintah untuk mengambil Edgardo, Curletti dan detasemen polisi datang ke San Domenico dan menangkapnya sekitar pukul 02:30 pada 2 Januari 1860.

Para inspektur polisi menanyai Feletti, namun setiap kali mereka bertanya tentang hal apapun tentang Mortara atau pengambilannya, biarawan tersebut berkata bahwa sebuah sumpah keramat menghindarkannya untuk mendiskusikan urusan-urusan Kantor Suci. Saat Curletti memerintahkannya untuk menyerahkan seluruh berkas yang berkaitan dengan kasus Mortara, Feletti berkata bahwa berkas-berkas tersebut telah dibakar—saat ditanyai kapan atau bagaimana, ia tetap menyatakan bahwamateri-materi Kantor Kudus yang ia katakan tidak ada. Setelah ditanyai lebih lanjut, Feletti berkata: "Sejauh kegiatan yang aku lakukan sebagai Inkuisitor Kantor Kudus Bologna, aku memutuskan untuk menjelaskan diriku sendiri hanya kepada satu forum, kepada Kongregasi Suci Tertinggi, yang Prefek-nya adalah Yang Mulia Paus Pius IX, dan tidak lebih." Setelah polisi mencari dokumen-dokumen yang berkaitan dengan kasus Mortara—mereka tak menemukan apapun—inkuisitor tersebut dimasukkan ke penjara. Kabar bahwa Feletti telah ditangkap menyebabkan gelombang pers terkait Mortara, yang telah dianggap mati, kembali menggegerkan seluruh belahan Eropa.

Penyelidikan

Pengadilan Romo Feletti menjadi kasus kriminal besar pertama di Bologna di bawah otoritas baru. Magistrat Francesco Carboni mengumumkan pada 18 Januari 1860 bahwa Feletti dan Letnan-Kolonel Luigi De Dominicis akan didakwa, namun tidak dengan Lucidi atau Agostini. Saat Carboni mewawancarai Feletti di penjara pada 23 Januari, frater tersebut berkata bahwa dalam merebut Edgardo dari keluarganya, ia hanya menjalankan perintah dari Kantor Suci, "yang tak pernah mengeluarkan dekrit apapun tanpa perhatian dari Kepausan Roma". Feletti kemudian menceritakan sebuah versi dari penjelasan Gereja terhadap kasus tersebut, dengan menyatakan bahwa Edgardo "selalu menyatakan keputusannya untuk tetap menjadi orang Kristen" dan sekarang sukses belajar di Roma. Ia memprediksi bahwa Edgardo suatu saat "mendukung dan membanggakan" keluarga Mortara.

Pada 6 Februari, Momolo Mortara memberikan sebuah catatan dari kasus tersebut yang berseberangan dengan hampir setiap pernyataan inkuisitor tersebut; di Roma, ia berkata, Edgardo telah "ditekan, dan diintimidasi oleh keberadaan rektor tersebut, [namun] ia secara terbuka mendeklarasikan keputusannya untuk kembali ke rumah dengan kami". Carboni kemudian datang ke San Giovanni in Persiceto untuk menginterogasi Morisi, yang memberikannya usia 23 tahun ketimbang usia sebenarnya, 26 tahun. Morisi berkata bahwa Edgardo jatuh sakit pada musim dingin tahun 1851–52, saat ia berusia empat bulan. Ia melihat keluarga Mortara sedang terduduk sedih dengan keadaan Edgardo dan "membaca sebuah buku Ibrani yang Yahudi baca saat salah satu dari mereka akan mati". Ia mempertahankan catatannya tentang memberikan pembaptisan darurat kepada Edgardo atas nasehat pedagang Lepori dan kemudin menceritakan kisah tersebut kepada seorang pelayan tetangga bernama Regina, dengan menambahkan bahwa ia juga mengatakan kelada para saudarinya tentang pembaptisan tersebut. Meskipun sebelumnya, Lepori menyangkal peran apapun dalam peristiwa tersebut, bahkan ia berkata tidak mengingat Morisi. "Regina" dalam cerita Morisi diidentifikasikan sebagai Regina Bussolari; meskipun Morisi menyebutnya pada seluruh cerita tersebut, Bussolari tidak tahu menahu terhadap kasus tersebut. Ia berkata bahwa ia hanya berbicara dengan Morisi "sekali atau dua kali, saat ia datang ke kamar penyimpanan untuk mengambil beberapa barang", dan tak pernah tahu menahu tentang anak-anak Mortara.

Elena Pignatti, yang mempekerjakan Morisi setelah ia meninggalkan keluarga Mortara pada 1857—kata-katanya tentang kesalahkaprahan Morisi telah membentuk bagian dari banding keluarga Mortara kepada Sri Paus—menyatakan bahwa "tujuh atau delapan tahun yang lalu ... seorang putra dari keluarga Mortara, yang tak kuketahui namanya, menjadi sakit, dan dikatakan bahwa ia akan mati. Pada masa itulah, suatu pagi ... Aku datang ke Morisi. Selain beberapa hal lainnya yang kita bicarakan, ia—tanpa menyebutkan sakit anak tersebut—bertanya kepadaku, 'Ku dengar jika kamu membaptiskan seorang anak Yahudi yang bakal mati, ia masuk Surga dan menerima indulgensi, apa itu benar?' Aku tidak ingat apa yang ku katakan kepadanya, namun saat bocah Mortara diculik atas perintah Romo Dominikan, Aku menyadari bahwa ia pasti orang yang sakit". Pignatti berkata bahwa ia sendiri menyaksikan Edgardo saat sakit, dan Marianna berada di sampingnya—"Sejak ibunya menangis, dan meratapi hidupnya, aku berpikir bahwa ia sekarat, selain karena penampilannya: matanya tertutup, dan ia sulit bergerak." Ia menambahkan bahwa pada tiga bulan saat Morisi bekerja untuknya pada akhir 1857, pelayan tersebut mendatangi San Domenico sebanyak empat atau lima kali, dan berkata bahwa inkuisitor tersebut menjanjikannya mas kawin.

Penyangkalan Bussolari bahwa ia mendiskusikan pembaptisan apapun dengan Morisi menimbulkan pertanyaan siapa yang melaporkan rumor tersebut kepada inkuisitor pertama kali. Pada 6 Maret, Carboni mewawancarai Morisi lagi dan mendapati ketidakkonsistenan antara ceritanya dan pernyataan dokter keluarha Mortara, keluarga Mortara sendiri, dan Lepori maupun Bussolari. Ia menjawab: "Itu kebenaran Injil". Carboni memberitahukan kepada Morisi bahwa seluruh cerita yang ia berikan berlawanan dengan keluarga Mortara dengan harapan bahwa Gereja akan mengimbalinya. Saat Carboni menanyakan Morisi jika ia berada di San Domenico selain saat interogasinya, ia menyatakan bahwa iatelah berada disana sebanyak tiga aatu dua kali untuk berupaya memastikan mas kawin dari Romo Feletti. Carboni berkesimpulan bahwa Morisi sendiri mengisi interogasi tersebut dengan mengadukan pembaptisan Edgardo pada salah satu kunjungan tersebut—Morisi mengaku bahwa interogasi tersebut terjadi pada pertemuan pertama dandua kunjungan lainnya pada masa berikutnya.

Setelah wawancara terakhir dengan Feletti—yang lagi-lagi hampir tak mengatakan apapun, atas dasar sumpah keramat—Carboni memberitahukannya bahwa sejauh yang ia lihat, tak ada bukti yang mendukung versi peristiwanya. Feletti menjawab: "Aku turut berduka dengan orangtua Mortara atas perpisahan menyakitkan mereka dari putra mereka, namun aku harap agar para pendoa jiwa kudus mensukseskannya dengan Allah menyatukan kembali mereka semua dalam agama Kristen ... Jika aku dihukum, tak hanya membuat aku menempatkan diriku di tangan Allah, namun aku akan menyatakan bahwa pemerintah manapun akan mengakui pengesahan tindakanku." Pada hari berikutnya, Feletti dan De Dominicis, yang lari ke sisa-sisa wilayah Negara-Negara Kepausan, resmi dikenai dakwaan "pemisahan paksa bocah Edgardo Mortara dari keluarga Yahudi-nya sendiri".

Pengadilan; keputusan

Feletti menghadapi pengadilan di bawah kitab hukum yang berlaku di Bologna pada masa pengambilan Edgardo. Carboni menyatakan bahwa di bawah hukum kepausan, perampasan adalah ilegal—ia melaporkan bahwa ia tak memiliki bukti mendukung klaim frater tersebut yang menyatakan bahwa ia bertindak mengikuti perintaj dari Roma, dan terdapat bukti substansial yang menyelaraskan keraguan pada catatan Morisi, namun sejauh yang ia lihat, Feletti tak memverifikasikan apa yang ia katakan sebelum memerintahkan pengambilan anak tersebut. Setelah Feletti menolak unruk memilih konsel pembela saat diminta, dengan alasan bahwa ia menyerahkan pembelaannya di tangan Allah dan Bunda Maria, pengacara Bologna berpengalaman Francesco Jussi dipilih oleh negara untuk membelanya.

Pendengaran sebelum panel enam hakim pada 16 April 1860 dihadiri oleh keluarga Mortara maupun Feletti—karena keluarga Mortara berada di Torino dan baru mengetahui tanggal pengadilan tersebut dua hari sebelumnya dan karena Feletti menolak untuk mengakui hak otoritas baru tersebut untuk memasukkannya ke pengadilan. Dengan bukti yang dikumpulkan oleh Curletti dan Carboni siap di tangan, terdakwa tak memiliki saksi mata untuk dipanggil. Terdakwa Radamisto Valentini, seorang pengacara yang mengikuti kasus besar pertamanya, menyatakan bahwa Feletti sendiri yang memerintahkan perampasan tersebut dan atas inisiatifnya sendiri, dan kemudian mengalihkan fokusnya kepada poin kedua Carboni tentang bagaimana otoritas di Roma mungkin menganggap bahwa cerita Morisi itu jenius. Valentini yang menginginkan penjelasan dari catatan Morisi, berpendapat bahwa bahkan jika hal-hal yang terjadi seperti yang ia katakan, pembaptisan tersebut tidak diadministrasikan dan sehingga tidak sah. Ia kemudian menyoroti ketidakkonsistenan antara pernyataannya dan catatan-catatan lainnya, menuduh Morisi sebagai gadis memalukan "yang dirusak oleh hawa nafsu dan sentuhan para prajurit asing ... [yang] bertindak tanpa rasa malu dengan mereka", dan akhirnya mendakwa bahwa Feletti sendiri yang telah memerintahkan perampasan tersebut atas dasar megalomania dan "kebencian Yudaisme pada sang inkuisitor".

Jussi menyadari dirinya sendiri dalam posisi tak lazim dalam upaya membela seorang klien yang menolak membela dirinya sendiri. Dengan tanpa bukti yang mendukung pernyataan Feletti, ia terpaksa menjawab hampir seluruh oratorinya sendiri. Jussi memajukan beberapa aspek sekuensi dari peristiwa tersebut yang menyatakan bahwa ia diperintah dari Roma—contohnya, bahwa Feletti telah mengirim Edgardo ke ibukota tanpa melihatnya—dan menyatakan bahwa Kantor Kudus dan Sri Paus jauh lebih baik untuk menentukan validitas pembaptisan ketimbang dewan sekuler. Ia mengutip catatan Angelo Padovani dari pertemuannya dengan Anna Morisi pada Juli 1858, kemudian menyatakan keraguan terhadapklaim pedagang Lepori bahwa ia bahkan tak mengetahui pembaptisan seorang anak—Jussi memberikan sebuah laporan polisi yang menyatakan bahwa Lepori adalah teman dekat seorang imam Yesuit. Jussi berpendapat bahwa Lepori dan Bussolari berusaha untuk melindungi diri mereka sendiri, dan bahwa penyimpangan seksual Morisi tidak menandakan bahwa ceritanya palsu. Ia menyatakan bahwa sejak Feletti menjadi inkuisitor pada masa itu, ia hanya melakukan apa yang diminta pusat untuk dikerjakan, dan tak ada niat jahat.

Panel hakim, yang dikepalai oleh Calcedonio Ferrari, memerintahkan agar Feletti harus dibebaskan karena ia hanya bertindak di bawah pengarahan dari pemerintah pada masa itu. Di tengah-tengah antara penangkapan imam tersebut dengan pengadilannya, terjadi proses menuju penyatuan Italia, yang membuat kasus Mortara kehilangan sorotannya, sehingga hanya sedikit protes terhadap keputusan tersebut. Pers Yahudi mengekspresikan ketidaksetujuan—sebuah editorial dalam surat kabar Yahudi Italia L'Educatore israelitico menyatakan bahwa penargetan Feletti tidak bijak ketimbang beberapa orang yang lebih senior. Di Perancis, Archives Israélites memberikan kalimat serupa, yang menyatakan: "apa bagusnya menyerang tangan saat kepala yang dalam kasus tersebut didakwa, diadili dan diberi sanksi atas serangan tersebut?"
 

Offline comicers

Kejadian setelahnya
« Jawab #4 pada: Mei 24, 2017, 03:33:50 PM »
Rencana merebut kembali Edgardo

Momolo berharap agar putranya menjadi topik diskusi besar di sebuah konfederasi internasional tentang masa depan Italia, namun batal karena tak ada KTT semacam itu yang diadakan. Pada 1860, peristiwa tersebut dan kunjungannya ke Paris sebagian memotivasi pembentukan Alliance Israélite Universelle, sebuah organisasi yang berbasis di Paris yang didedikasikan kepada kemajuan hak sipil Yahudi di seluruh dunia. Saat tentara nasionalis Italia bergerak ke sepanjang semenanjung tersebut, kejatuhan Roma makin terpampang. Pada September 1860, Alliance Israélite Universelle menulis pesan kepada Momolo yang menawarkannya dukungan keuangan dan logistik jika ia berharap untuk mengklaim lagi putranya dengan paksa, dengan alasan "merebut anakmu lagi merupakan sebab seluruh Israel". Sebuah rencana terpisah dirumuskan oleh Carl Blumenthal, seorang Yahudi Inggris yang bertugas dalam pasukan sukarelawan nasionalis Giuseppe Garibaldi: Blumenthal dan tiga orang lainnya akan menyamar menjadi rohaniwan, merebut Edgardo dan membawanya pergi. Garibaldi menyetujui rencana tersebut pada 1860, namun tidak jadi karena salah satu konspiratornya wafat.

Penyatuan Italia; Pelarian Edgardo


Kerajaan Italia (merah) dan Negara-Negara Kepausan (ungu) pada 1870

Sri Paus masih bersikukuh untuk tidak menyerahkan Edgardo, dengan menyatakan: "Apa yang aku lakukan terhadap bocah ini, Aku memiliki hak dan tugas untuk melakukannya. Jika ini terjadi lagi, Aku akan menyatakan hal yang sama." Saat delegasi dari komunitas Yahudi Roma mengadiri pertemuan tahunan di Vatikan pada Januari 1861, mereka terkejut saat menemukan Edgardo yang berusia sembilan tahun berada di samping Sri Paus. Kerajaan Italia yang baru diproklamasikan sebulan kemudian dengan Victor Emmanuel II sebagai raja. Berkurangnya wilayah kekuasaan Negara-Negara Kepausan, yang hanya meliputi Roma dan kawasan sekitarnya, mendorong pergerakan kerajaan baru tersebut karena Napoleon III mengurangi subyek-subyek Katolik-nya dengan menarik garisun Perancis-nya. Ia menarik pasukannya setelah pengambilan seorang anak Yahudi dari Ghetto Roma, Giuseppe Coen yang berumur sembilan tahun, ke Katekumen pada 1864. Penarikan garisun Perancis membuat Pertanyaan Roma dimajukan ke parlemen Italia. Negarawan Marco Minghetti mengajukan tuntutan agar Roma menjadi bagian dari kerajaan tersebut dengan Sri Paus masih memegang beberapa kekuasaan istimewa, dengan berkata: "kami tak dapat menjaga Mortara untuk Sri Paus". Garisun Perancis kembali pada 1867, setelah upaya gagal oleh Garibaldi untuk menaklukkan kota tersebut.

Pada awal 1865, di usia 13 tahun, Edgardo menjadi novice di Kanon Reguler Lateran, menambahkan nama Sri Paus pada namanya sendiri sehingga namanya menjadi Pio Edgardo Mortara. Ia masih menuliskan pesan-pesan kepada keluarganya, ia alasan, "sepakat dengan agama dan apa yang ku lakukan untuk mempertobatkan mereka dalam kebenaran iman Katolik," namun tidak dibalas sampai Mei 1867—orangtuanya, yang sekarang tinggal di Firenze, menyatakan bahwa mereka masih mengasihinya, namun tidak berkata kepada putranya dalam surat-surat tersebut bahwa mereka telah menerimanya. Pada Juli 1870, tepat sebelum Edgardo menginjak usia 19 tahun, garisun Perancis di Roma menarik diri untuk kebaikan setelah Perang Perancis-Prusia pecah. Pasukan Italia menaklukkan kota tersebut pada 20 September 1870.

Momolo Mortara mengikuti Angkatan Darat Italia ke Roma dengan harapan akhirnya mengklaim lagi putranya. Menurut beberapa catatan, ia ditemani oleh putranya Riccardo, kakak Edgardo, yang masuk penugasan kerajaan tersebut sebagai perwira infanteri. Riccardo Mortara berjalan menuju San Pietro in Vincoli dan menemukan ruang konven adiknya. Edgardo membuka matanya, mengarahkan tangannya di depannya dan berteriak: "Pergilah, Setan!" Saat Riccardo berkata bahwa ia kakaknya, Edgardo menjawab: "Sebelum kamu mendekatiku, lepaskan seragam pembunuh itu." Entah itu benar, apa yang terjadi menunjukkan bahwa Edgardo menjadi panik saat penaklukan Roma. Ia kemudian menulis: "Setelah pasukan Piedmont memasukki Roma ... mereka menggunakan pasukan pasukan mereka untuk menangkap Coen dari Collegio degli Scolopi, [kemudian] bergerak menuju San Pietro in Vincoli untuk berusaha untuk menculikku juga."[96] Kepala kepolisian Roma membujuk Edgardo agar kembali ke keluarganya demi keinginan opini publik, namun ia tolak. Ia kemudian bertemu komandan Italia, Jenderal Alfonso Ferrero La Marmora, yang berkata kepadanya bahwa karena ia telah berusia 19 tahun, ia dapat melakukan apa yang ia inginkan. Edgardo diseludupkan dari Roma bersama dengan seorang imam pada 22 Oktober 1870, pada larut malam dan mengenakan busana awam. Ia melakukan perjalanan menuju ke utara dan kabur ke Austria.

Menjadi Romo




Romo Pio Edgardo Mortara (kanan) dengan ibunya Marianna, s. 1878–90

Edgardo ditemukan di sebuah konven Kanon Reguler di Austria, dimana ia hidup memakai nama samaran. Pada 1872, ia pindah ke sebuah biara di Poitiers, Perancis, dimana Paus Pius giat berbincang dengan uskup tentang kaum muda. Setelah setahun, Pio Edgardo Mortara ditahbiskan menjadi imam—dengan dispensasi khusus karena ia baru berusia 21 tahun yang secara teknis dianggap terlalu muda. Ia menerima sebuah surat pribadi dari Sri Paus untuk menandai peristiwa tersebut, serta gaji seumur hidup sejumlah 7,000 lira untuk mendukungnya.

Romo Mortara menjalani sebagian besar masa hidupnya di luar Italia, mengunjungi seluruh Eropa dan berkotbah. Ia dikatakan memberikan kotbah dalam enam bahasa, termasuk bahasa Basque, dan dapat membaca dalam lebih dari tiga bahasa, termasuk bahasa Ibrani. "Sebagai pengkotbah, aku berada dalam tuntutan besar".

Momolo Mortara wafat pada 1871, tak lama setelah menjalani tujuh bulan penjara pada masa pengadilannya atas kematian seorang gadis pelayan yang jatuh dari jendela apartemennya. Ia didakwa membunuhnya oleh pengadilan banding Firenze, namun kemudian dinyatakan tak bersalah oleh pengadilan pidana. Paus Pius IX wafat pada 1878. Pada tahun yang sama, Marianna datang ke Perpignan di barat daya Perancis, dimana ia mendengar Edgardo berkotbah, dan menikmati reuni emosional dengan putranya, yang memandangnya, namun menghiraukannya saat ia menolak tawarannyanuntuk masuk ke agama Katolik. Edgardo kemudian berupaya untuk menjalin lagi hubungan dengan keluarganya, namun tak semua kerabatnya menerimanya seperti halnya ibunya.

Setelah Marianna wafat pada 1890, surat-surat kabar Perancis mengabarkan bahwa ia akhirnya menjadi Kristen di kasurnya dan dengan Edgardo di sampingnya. Edgardo menyangkalnya: "Aku selalu menganggap bahwa ibuku memeluk iman Katolik," ia menyatakan dalam sebuah surat kepada Le Temps, "dan aku berusaha beberapa kali agar ia melakukannya. Namun, hal itu tak pernah terjadi". Setahun kemudian, Romo Pio Edgardo Mortara kembali ke Italia untuk pertama kalinya dalam dua dekade untuk berkotbah di Modena. Seorang saudari dan beberapa saudaranya datang untuk mendengar kotbahnya, dan selama sisa hidupnya, Edgardo memanggil para kerabatnya saat ia berada di Italia. Pada 1919, ia mengunjungi Dewan Katekumen di Roma sebelum ia memasuki usia 61 tahun. Pada saat itu, ia singgah di biara Kanon Reguler Bouhay, Liège, Belgia. Bouhay memiliki sebuah tempat pemuliaan terhadap Bunda dari Lourdes, yang Romo Mortara rasa memiliki hubungan istimewa, penampakan Lourdes tahun 1858 terjadi pada tahun yang sama dengan masa perpindahan agamanya sendiri ke agama Kristen. Romo Pio Edgardo Mortara menetap di Bouhay sepanjang sisa hidupnya dan wafat disana pada 11 Maret 1940, pada usia 88 tahun.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
3 Jawaban
1540 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 17, 2013, 08:12:58 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1104 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 13, 2013, 09:40:37 PM
oleh comicers
0 Jawaban
972 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 18, 2013, 09:48:32 PM
oleh comicers
0 Jawaban
517 Dilihat
Tulisan terakhir April 25, 2014, 06:39:51 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
761 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 13, 2015, 08:25:16 PM
oleh Ziels
0 Jawaban
16717 Dilihat
Tulisan terakhir September 11, 2016, 02:43:48 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
399 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 23, 2017, 10:00:50 PM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
9 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 07, 2018, 04:30:02 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan