Penulis Topik: Dapat Berpegang pada Kepastian Allah atau Rendah Hati di Hadapan Allah ?  (Dibaca 92 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline comicers

Pada 1517, Luther menjadi sangat prihatin saat jemaat parokinya, sekembalinya mereka dari membeli indulgensi Tetzel, mengklaim bahwa mereka tidak lagi perlu bertobat dan mengubah hidup mereka agar dapat diampuni dosanya. Setelah mendengar apa yang dikatakan Tetzel mengenai indulgensi dalam khotbah-khotbahnya, Luther mulai mempelajari isu tersebut dengan lebih seksama, dan menghubungi para ahli terkait subjek tersebut. Ia berkhotbah tentang indulgensi beberapa kali pada 1517, menjelaskan bahwa pertobatan yang sebenarnya lebih baik ketimbang membeli suatu indulgensi. Ia mengajarkan kalau menerima suatu indulgensi mensyaratkan bahwa peniten telah mengakukan dosa-dosanya dan bertobat, karena jika tidak demikian maka indulgensi tidak berguna. Menurutnya, pendosa yang benar-benar bertobat juga tidak akan mencari suatu indulgensi, karena mereka mencintai kebenaran dari Allah dan menginginkan hukuman batin atas dosa-dosa mereka. Khotbah-khotbahnya tampaknya dihentikan sejak April sampai Oktober 1517, diperkirakan saat itu Luther sedang menulis 95 Tesis. Ia menyusun sebuah Risalah tentang Indulgensi, sepertinya pada awal musim gugur 1517. Dikatakan bahwa tulisannya itu merupakan suatu penelitian menyeluruh dan cermat terkait subjek tersebut. Ia menghubungi para pemimpin gereja untuk membahas subjek tersebut melalui surat, termasuk superiornya Hieronymus Schulz, Uskup Brandenburg, sekitar atau sebelum 31 Oktober, saat ia mengirim tesis-tesisnya kepada Uskup Agung Albertus dari Brandenburg.

Albertus tampaknya telah menerima surat Luther yang dilampiri 95 Tesis sekitar akhir November. Ia meminta pendapat para teolog di Universitas Mainz dan berdiskusi dengan para penasihatnya. Para penasihatnya merekomendasikan agar ia melarang Luther berkhotbah menentang indulgensi sesuai dengan bulla indulgensi. Albertus mengajukan permohonan agar tindakan tersebut dilakukan Kuria Roma. Di Roma, Luther segera dipandang sebagai suatu ancaman.[48] Pada Februari 1518, Paus Leo meminta pimpinan Eremit Agustinian, ordo keagamaan Luther, untuk meyakinkannya agar berhenti menyebarkan gagasan-gagasannya tentang indulgensi. Sylvester Mazzolini juga ditunjuk untuk menuliskan suatu opini yang akan digunakan dalam pengadilan melawannya. Mazzolini menulis Sebuah Dialog melawan Tesis-Tesis Lancang Martin Luther mengenai Kuasa Sri Paus, yang lebih berfokus pada pertanyaan Luther seputar otoritas paus daripada komplain-komplainya mengenai khotbah indulgensi. Luther menerima surat panggilan ke Roma pada Agustus 1518. Ia menanggapinya dengan Penjelasan dari Perdebatan Mengenai Nilai Indulgensi, yang di dalamnya ia berupaya untuk membersihkan dirinya dari tuduhan bahwa ia menyerang Sri Paus. Ketika ia menuliskan pandangan-pandangannya secara lebih ekstensif, Luther tampaknya mengakui bahwa implikasi dari keyakinan-keyakinannya menjauhkan dia dari ajaran resmi dibandingkan dengan yang awalnya ia ketahui. Ia kemudian berkata bahwa ia mungkin tidak memulai kontroversi tersebut seandainya ia tahu akan berakibat demikian. Penjelasan tersebut sampai sekarang disebut sebagai karya Reformasi Luther yang pertama.

Johann Tetzel menanggapi 95 Tesis dengan menyerukan agar Luther dibakar karena bidah, dan teolog Konrad Wimpina menuliskan 106 tesis untuk melawan karya Luther. Tetzel mempertahankan tesis tersebut dalam suatu perdebatan di Universitas Frankfurt di Oder pada Januari 1518. 800 salinan perdebatan yang dicetak dikirim untuk dijual di Wittenberg, namun para mahasiswa universitas tersebut menyitanya dari penjual buku dan membakarnya. Luther menjadi semakin khawatir kalau-kalau situasi menjadi tidak terkendali dan ia akan berada dalam bahaya. Untuk menenangkan para penentangnya, ia menerbitkan sebuah Khotbah tentang Indulgensi dan Rahmat, tanpa menantang otoritas paus. Pamflet yang ditulis dalam bahasa Jerman tersebut sangat pendek dan mudah dipahami oleh kaum awam. Karya sukses pertama Luther tersebut dicetak ulang sebanyak dua puluh kali. Tetzel menanggapinya dengan suatu sanggahan poin per poin, banyak mengutip pernyataan dari Alkitab dan para teolog penting. Pamfletnya tidak sepopuler buatan Luther. Di sisi lain, jawaban Luther atas pamflet Tetzel merupakan kesuksesan publikasi lainnya bagi Luther.

Tokoh ternama lainnya yang menentang 95 Tesis adalah Johann Eck, teman Luther dan seorang teolog di Universitas Ingolstadt. Eck menuliskan sebuah sanggahan, diperuntukkan bagi Uskup Eichstätt, dengan judul Obelisk. Judul itu mengacu pada tanda obelus yang digunakan untuk menandai bagian-bagian yang dipandang sesat dalam teks-teks pada Abad Pertengahan. Karya tersebut merupakan suatu serangan pribadi yang tajam dan tak terduga, menuduh Luther sesat dan bodoh. Luther menanggapinya secara pribadi dengan Asterisk, judul yang mengacu pada tanda bintang yang saat itu digunakan untuk menandai teks-teks penting. Tanggapan Luther berisi kemarahan dan ia mengungkapkan pendapatnya bahwa Eck tidak memahami materi yang ia tuliskan. Perseteruan antara Luther dan Eck kelak diketahui publik dalam Debat Leipzig tahun 1519.

Luther dipanggil oleh otoritas kepausan untuk mempertahankan dirinya terhadap tuduhan bidah di hadapan Thomas Cajetan (Gaetanus/Kayetanus) di Augsburg pada Oktober 1518. Cajetan tidak memperbolehkan Luther untuk berdebat dengannya dalam hal bidah yang dituduhkan kepadanya, kendati ia sendiri tidak bermaksud menuduhkan bidah kepada Luther, dan ia mengidentifikasikan dua poin kontroversi. Poin pertama menentang tesis ke-58, yang menyatakan bahwa indulgensi tidak termasuk dalam jasa-jasa Kristus dan tidak dapat digunakan oleh paus untuk melepaskan hukuman sementara atau temporal akibat dosa. Hal ini bertentangan dengan bulla kepausan Unigenitus yang dikeluarkan oleh Paus Klemens VI pada 1343. Poin kedua adalah apakah seseorang dapat yakin bahwa ia telah diampuni ketika menerima absolusi dari imam atas dosa-dosanya. Penjelasan Luther tentang tesis ke-7 menyatakan bahwa seseorang dapat berpegang pada kepastian iman bahwa dosa-dosanya benar-benar diampuni dalam pengakuan sakramental, sedangkan Cajetan berpendapat bahwa penganut Kristen yang rendah hati seharusnya tidak pernah merasa yakin akan kedudukannya di hadapan Allah. Luther menolak untuk menarik kembali pernyataan-pernyataannya itu dan meminta agar kasus tersebut ditinjau oleh para teolog universitas. Permintaannya ditolak, sehingga Luther mengajukan banding ke paus sebelum pergi meninggalkan Augsburg. Luther akhirnya diekskomunikasi pada 1521 setelah ia membakar bulla kepausan Exsurge Domine yang mengancam dia untuk menarik kembali pernyataan-pernyataannya atau menghadapi sanksi ekskomunikasi.

https://id.wikipedia.org/wiki/95_dalil_Luther
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
7 Jawaban
9661 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 09, 2013, 03:00:07 PM
oleh Abu Zahra
11 Jawaban
2415 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 24, 2013, 10:32:17 AM
oleh Awal Dj
0 Jawaban
2474 Dilihat
Tulisan terakhir April 28, 2013, 01:15:56 PM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
809 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 03, 2013, 01:48:36 PM
oleh Awal Dj
0 Jawaban
625 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 03, 2013, 02:08:15 PM
oleh Awal Dj
0 Jawaban
765 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 12, 2013, 02:21:36 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
617 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 27, 2015, 05:24:25 PM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
687 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 19, 2016, 12:57:31 AM
oleh Kang Erik
0 Jawaban
250 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 29, 2016, 10:11:35 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
285 Dilihat
Tulisan terakhir November 18, 2016, 08:21:34 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan