Penulis Topik: Sunnah Sahabat  (Dibaca 3087 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9203
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Sunnah Sahabat
« pada: Maret 12, 2014, 06:04:20 AM »
Kutip dari: iyang al faroeq

Syirik

Berikut adalah contoh AMALAN SYIRIK yang mengatasnamakan TAWASUL dengan mempersandingkan antara berdoa kepada Allah dengan berdoa kepada selain Allah secara bersama-sama.

Belum lagi di tambah dengan berbagai macam AMALAN BID'AH dan mengada-ada, yang tidak di ajarkan oleh Allah dan Rosulullah.

Sehingga cocok dan komplit sebagai syarat untuk memancing setan dari golongan jin agar mau untuk membantunya, yang kemudian di samarkan dengan nama agar mendapatkan KESAKTIAN DAN KAROMAH.

Dan sang kambing putih pun (orang yang sebenarnya menginginkan kebaikan namun tertipu karena kebodohannya), terperdaya dan manut manut saja karena yang mengajarkan hal itu adalah seseorang yang mengaku dan di aku-aku sebagai Kyai.

"Berdoalah kepada Allah saja dan jangan engkau syirikan Allah dalam doamu, lakukanlah amalan yang sesuai sunnah dan janganlah engkau melakukan kebid'ahan".



kecuali para sahabat nabi. mereka dibolehkan mengamalkan suatu amalan yang tidak dicontohkan oleh nabi saw. benar enggak ?

Kutip dari: iyang al faroeq
 
Mas +asep rochman contohnya... (?)

Kutip dari: mardee w
+asep rochman shalat tarawih berjamaah, shalat dhuha setahuku dicontohkan sejak jaman nabi.

+mardee w ,  coba tunjukan riwayatnya! ada dalam kitab hadits atau sejarah ? kapan nabi melaksanakan shalat dhuha, dan siapa saksi-saksinya ?

Kutip dari: iyang alfaroeq
 
Mas +asep rochman seperti mas +mardee wtulis sholat terawih ada pada zamam rosulullah, silahkan baca buku hadist anda, hadist sahih muslim no 763, juga hadist sahih al bukhari no 2012.
Juga singkatnya istilah sholat terawih hakekatnya qiyamul lail atau berarti sholat malam seperti halnya sholat tahajjud namun waktu pelaksanaan nya di kerjakan di bulan ramadhan.

Sholat dhuha
Dari zaid bin arqam berkata "nabi shallallahu alaihi wasalam keluar ke penduduk Quba dan mereka sedang sholat dhuha, ia bersabda: sholat dhuha berakhir hingga panas menyengat (tengah hari).
(HR, ahmad muslim dan tirmidzi).

Membunuh yang mengaku nabi, syarat memeluk islam adalah percaya nabi muhammad shallallahu alaihi wasalam adalah nabi terakhir, pikirkan dengan logika anda mas +asep rochman apa yang pantas di lakukan sahabat pada manusia yang mengaku nabi setelah wafatnya Sang nabi muhammad shallahu alaihi wasalam.. (?)

Satu lagi setan/iblis berilmu pengetahuan tingkat tinggi dan pandai berlogika mas, tapi coba pikirkan apa yang tidak di miliki setan tapi di miliki manusia.. (?)

+Iyang alfaroeq , Pertama, saya tahu shalat tarawih  ada sejak zaman Rasulullah tapi yang sedang dibicarakan itu adalah "shalat tarawih berjamaah". apakah nabi saw melaksanakan shalat tarawih atau qiyamul lain secara berjamaah ? kedua, para sahabat melaksanakan shalat dhuha. saya tahu itu. maka saya katakan, para sahabat melakukan hal yang tidak dilakukan oleh nabi saw . yang saya tanyakan adalah, "kapan nabi melaksanakan shalat dhuha ? di mana ? siapa saksi-saksinya ? mohon perhatikan pertanyaan saya dengan seksama!
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9203
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Sunnah Sahabat
« Jawab #1 pada: Maret 12, 2014, 06:17:54 AM »
Quote (selected)
+asep rochman tarawih berjamaah ya? Ini, barusan nemu di google..
Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu,
"Kami shalat tarawih bulan Ramadhan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam ke-23 hingga sepertiga malam pertama, kemudian kami shalat lagi pada malam ke-25, hingga pertengahan malam, kemudian beliau mengimami kami pada malam ke-27 hingga akhir malam, sampai kami khawatir tidak bisa ngejar sahur."

[HR. Ibn Abi Syaibah dalam Al-Mushanaf, An-Nasai, Imam Ahmad dalam musnadnya, Al-Firyabi dan dishahihkan oleh Al-Hakim].

+mardee w , baiklah! jika memang Rasulullah pernah shalat tarawih berjamaah dengan para sahabat, berarti shalat tarawih tersebut merupakan amalan yang sah, dicontohkan oleh rasulullah saw. sekarang saya masih menunggu penjelasan riwayat shalat dhuha nabi saw.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline wa2nlinux

Re:Sunnah Sahabat
« Jawab #2 pada: Maret 12, 2014, 10:35:59 AM »
Telah menceritakan kepada kami Adam berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dza'bi dari Az Zuhriy dari 'Urwah dari 'Aisyah radliallahu 'anha berkata: "Aku belum pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat sunnat Dhuha. Adapun aku mengerjakannya".
( HR BUKHARI)
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9203
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Sunnah Sahabat
« Jawab #3 pada: Maret 12, 2014, 02:24:31 PM »
Kutip dari: iyang al faroeq
Mas +asep rochman ada setidaknya 4 hadist sahih yg mayoritas ulama pakai sebagai dalil sejak dulu tentang sholat sunnah dhuha tp saya ambil satu saja, mewakili keinginan anda siapa sahabat yg melakukannya.
"Dari abu hurairah ra, berkata: kekasihku telah mewasiatkan aku tiga hal agar aku jangan tinggalkan sampai mati, (1). Puasa 3 hari setiap bulan, (2). Sholat dhuha (3). Sholat witir sebelum tidur".
(H.R bukhari no 1124, 1880, muslim no 721, abu daud no 1432, ad darimi no 1454, 1747).

Sekarang saya percaya, bahwa kaum muslimin dalam melaksanakan shalat dhuha itu ada dalil nash nya yang shaheh, karena riwayatnya dari bukhari. Sebenarnya saya mengharapkan suatu riwayat yang menjelaskan bahwa rasulullah melaksanakan sendiri shalat dhuha. Atau apakah Rasulullah menganjurkan Abu Hurairah untuk melaksanakan shalat dhuha sementara beliau sendiri tidak melaksanakannya, mengingat riwayat berikut :

Telah menceritakan kepada kami Adam berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dza'bi dari Az Zuhriy dari 'Urwah dari 'Aisyah radliallahu 'anha berkata: "Aku belum pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat sunnat Dhuha. Adapun aku mengerjakannya". ( HR BUKHARI)

Aisyah bersaksi bahwa ia tidak pernah melihat Rasulullah saw melakukan shalat dhuha. Bila Rasulullah sering melaksanakan shalat dhuha, apakah mungkin tidak seorangpun dari sekian ribu sahabat yang pernah melihat beliau saw shalat dhuha ?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9203
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Sunnah Sahabat
« Jawab #4 pada: Maret 12, 2014, 02:34:28 PM »
ada artikel yang cukup panjang lebar mengupas soal shalat dhuha

Quote (selected)
Meraup Segudang Keutamaan dari Sholat Dhuha

oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah

[Pengasuh Ponpes Al-Ihsan Gowa, Sulsel]

gambar Keutamaan DhuhaSebuah sunnah yang banyak ditinggalkan oleh kebanyakan orang di zaman ini. Itulah Sholat Dhuha, sholat yang dikerjakan di awal siang, di saat matahari sudah terbit seukuran satu tombak. Anak onta kala itu mulai kepanasan oleh teriknya matahari.

Sholat Dhuha memang tidak semasyhur dengan sholat-sholat sunnah lainnya, karena banyak orang yang jarang mendengarkan penjelasan tentang kedudukan, hukum, dan dalil seputar Sholat Sunnah Dhuha.

Saking kurangnya penjelasan tentang sholat yang satu ini, sampai sebagian kaum muslimin ragu mengerjakannya, bahkan ia meninggalkannya selama hayat masih dikandung badan. Jadi, selama hidupnya, ia tak mengenal yang disebut dengan “Sholat Dhuha”. Yang ia kenal hanya “Sholat Lail” yang lebih dikenal dengan “Sholat Tahajjud”.

Pasalnya kenapa? Akibat kurangnya pengajaran dan keterangan dari para dai dan muballigh tentang hukum dan dalil yang mendasari Sholat Dhuha. Nah, sebagai sumbangsih dalam melestarikan Sholat Dhuha, maka kami menurunkan tulisan ini, setelah memohon kepada pertolongan dan taufiq-Nya.

Para pembaca yang budiman, Sholat Dhuha merupakan sholat yang amat diperhatikan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Tak heran bila beliau di suatu hari mengajari dan mewasiatkan sebagian sahabatnya agar memperhatikan sholat ini dalam kehidupan mereka.

Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata,
أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلَاثٍ لَا أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَصَلَاةِ الضُّحَى وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ
“Kekasihku (yakni, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam) telah mewasiatiku tentang tiga perkara yang tak kutinggalkan sampai aku mati: Puasa tiga hari dalam setiap bulannya, Sholat Dhuha, dan tidur dalam keadaan (usai) berwitir”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (1178) dan Muslim dalam Shohih-nya (721)]
Wasiat dalam tiga perkara ini, bukan hanya didapatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Bahkan disana ada sahabat lain yang juga menerima wasiat mulia ini dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.

Dari Abu Ad-Darda’ radhiyallahu anhu

أَوْصَانِى حَبِيبِى صلى الله عليه وسلم بِثَلاَثٍ لَنْ أَدَعَهُنَّ مَا عِشْتُ بِصِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَصَلاَةِ الضُّحَى وَبِأَنْ لاَ أَنَامَ حَتَّى أُوتِرَ
“Kekasihku Shallallahu alaihi wa sallam telah mewasiatiku dengan tiga perkara yang tak akan kutinggalkan selama aku masih hidup : Puas tiga hari dalam setiap bulan, Sholat Dhuha dan agar aku tak tidur sampai aku berwitir”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 722), dan Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 1433)]

Sholat Dhuha merupakan ibadah yang sudah masyhur di zaman kenabian. Para sahabat telah banyak mendengarkan perihal Sholat Dhuha dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Hal ini tergambar dari peristiwa yang dikisahkan oleh sebagian sahabat.

Dari Al-Qosim Asy-Syaibaniy, ia berkata

أَنَّ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ رَأَى قَوْمًا يُصَلُّونَ مِنَ الضُّحَى فَقَالَ أَمَا لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّ الصَّلاَةَ فِى غَيْرِ هَذِهِ السَّاعَةِ أَفْضَلُ. إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ « صَلاَةُ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ ».
“Zaid bin Arqom pernah melihat suatu kaum sedang melaksanakan sholat di waktu Dhuha seraya beliau berkata, “Tidakkah mereka telah mengetahui bahwa sholat (yakni, Sholat Dhuha) pada selain waktu ini adalah lebih utama. Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda, “Sholatnya orang-orang awwabin (orang yang kembali kepada Allah) ketika memanasnya anak unta”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 748)]

Dinamai dengan “Sholat Awwabin”, karena tak ada yang mampu menjaga dan melaziminya, kecuali orang-orang awwabin.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يُحَافِظُ عَلَى صَلاَةِ الضُّحَى إِلاَّ أَوَّابٌ قَالَ : وَهِيَ صَلاَةُ الأَوَّابِينَ
“Tak ada yang menjaga Sholat Dhuha, kecuali seorang awwabin, dan ia (Sholat Dhuha) adalah Sholat Awwabin“. [HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shohih-nya (1224) dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (no. 1182). dan Ath-Thobroniy dalam Al-Awsath (no. 3865)]
Al-Imam Al-Munawiy rahimahullah berkata,

فيه رد على من كرهها وقال ان ادامتها تورث العمى
“Di dalamnya terdapat sanggahan atas orang yang membenci Sholat Dhuha seraya berkata, “Sesungguhnya melazimi Sholat Dhuha akan mewariskan kebutaan”. [Lihat At-Taisir (2/973)]

Kata “awwabin”, maksudnya orang-orang yang kembali kepada Allah dari dosa-dosanya. Seorang hamba yang berbuat dosa akan jauh dari Allah sesuai dengan tingkat dosa yang ia kerjakan. Jika ia sadar dan meninggalkan maksiat dan dosa-dosanya, lalu menggantinya amal-amal sholih, maka ia dianggap telah kembali kepada Allah dan mendekat kepada-Nya dengan amal ketaatan yang ia kerjakan. Nah, di dalam hadits ini terdapat isyarat bahwa yang menjaga sholat ini adalah orang-orang yang taat dan selalu dekat dengan Allah Azza wa Jalla. Wallahu A’lam bish showab. [Lihat Hasyiyah As-Sindiy ala Al-Musnad]

Diantara orang-orang awwabin adalah Nabiyyullah Dawud –alahis salam-. Sholat inilah yang dahulu dilazimi oleh beliau. Ketika Nabi Shallallahu alaihi wa sallam datang kepada para sahabat, maka beliau tetap melestarikan Sholat Dhuha ini, karena mencontoh Dawud –alaihis salam-.

Allah Azza wa Jalla berfirman dalam menghibur Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam,
اصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَاذْكُرْ عَبْدَنَا دَاوُودَ ذَا الْأَيْدِ إِنَّهُ أَوَّابٌ (17) إِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهُ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِشْرَاقِ (18) وَالطَّيْرَ مَحْشُورَةً كُلٌّ لَهُ أَوَّابٌ (19) [ص : 17 - 19]
“Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan; dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan. Sesungguhnya dia amat suka kembali (kepada Tuhan). Sesungguhnya kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi.  Dan (Kami tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul. masing-masingnya amat kembali kepada Allah”. (QS. Shood : 17-19)
Al-Imam Ibnul Arabiy Al-Malikiy rahimahullah berkata,

وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ الْإِشَارَةُ إلَى الِاقْتِدَاءِ بِدَاوُد فِي قَوْلِهِ { إنَّهُ أَوَّابٌ إنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهُ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِشْرَاقِ } فَنَبَّهَ عَلَى أَنَّ صَلَاتَهُ كَانَتْ إذَا أَشْرَقَتْ الشَّمْسُ فَأَثَّرَ حَرُّهَا فِي الْأَرْضِ حَتَّى تَجِدَهَا الْفِصَالُ حَارَّةً لَا تَبْرُكُ عَلَيْهَا بِخِلَافِ مَا تَصْنَعُ الْغَفْلَةُ الْيَوْمَ فَإِنَّهُمْ يُصَلُّونَهَا عِنْدَ طُلُوعِ الشَّمْسِ بَلْ يَزِيدُ الْجَاهِلُونَ فَيُصَلُّونَهَا وَهِيَ لَمْ تَطْلُعْ قَيْدَ رُمْحٍ وَلَا رُمْحَيْنِ يَعْتَمِدُونَ بِجَهْلِهِمْ وَقْتَ النَّهْيِ بِالْإِجْمَاعِ
“Di dalam hadits ini terdapat isyarat tentang keteladan kepada Dawud dalam Firman Allah, “… Sesungguhnya dia amat suka kembali (kepada Tuhan). Sesungguhnya kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi…”. Jadi, Allah mengingatkan bahwa sholatnya Dawud ketika matahari bersinar. Panas matahari telah memberikan pengaruh pada tanah, sehingga anak unta merasakan panasnya tanah. Anak unta tak akan menderum padanya. Hal ini berbeda dengan sesuatu yang dilakukan oleh orang-orang lalai pada hari ini. Sesungguhnya mereka melaksanakan Sholat Dhuha saat terbitnya matahari. Bahkan orang-orang jahil lebih parah lagi. Mereka melakukan Sholat Dhuha, sementara matahari belum terbit seukuran satu-dua tombak. Mereka menyengaja (memilih) waktu terlarang menurut ijma’, karena kejahilan mereka”. [Lihat Thorh At-Tatsrib (3/352)]

Sholat Dhuha ini amat dianjurkan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, sebab ternyata nikmat jasad yang berikan kepada kita diberi beban untuk bersedekah pada setiap harinya untuk setiap persendian dan tulang-belulang yang menopang jasad kita.

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ، فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى
“Bagi setiap persendian dari seorang diantara kalian terdapat sedekah. Jadi, setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan Laa ilaaha illah) adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan yang ma’ruf adalah sedekah, dan melarang kemungkaran adalah sedekah. Mencukupi hal itu, dua rakaat yang dilakukan pada waktu Dhuha”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (720) dan Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 1285, 1286 dan 5243)]
Al-Allamah Syamsul Haqq Al-Azhim Abadiy rahimahullah berkata,

وفيه دليل على عظم فضل الضحى وكبير موقعها وأنها تصح ركعتين والحث على المحافظة عليها
“Di dalam hadits ini terdapat dalil tentang agungnya keutamaan Sholat Dhuha dan besarnya kedudukan sholat ini serta sahnya Sholat Dhuha sebanyak dua rakaat dan terdapat anjuran untuk menjaga Sholat Dhuha”. [Lihat Aunul Ma'bud (4/116) oleh Al-Azhim Abadiy, cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah, 1415 H]

Persendian yang dimiliki oleh seorang manusia berjumlah 360. Setiap persendian itu membutuhkan sedekah berupa amal-amal sholih. Namun siapakah yang mampu mengumpulkan sejumlah amal sholih dalam setiap hari dengan jumlah tersebut. Disinilah akan tampak bagi anda fadhilah besar bagi Sholat Dhuha. Ternyata ia mampu mencukupi dan menutupi sedekah bagi 360 persendian manusia.

Dari Buraidah radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku pernah mendengarkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
فِي الإِِنْسَانِ سِتُّونَ وَثَلاَثُ مِئَةِ مَفْصِلٍ ، فَعَلَيْهِ أَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلِّ مَفْصِلٍ مِنْهَا صَدَقَةً . قَالُوا : فَمَنِ الَّذِي يُطِيقُ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ : النُّخَاعَةُ فِي الْمَسْجِدِ تَدْفِنُهَا ، أَوِ الشَّيْءُ تُنَحِّيهِ عَنِ الطَّرِيقِ ، فَإِنْ لَمْ تَقْدِرْ فَرَكْعَتَا الضُّحَى تُجْزِئُ عَنْكَ
“Pada diri manusia terdapat 360 persendian. Harus baginya bersedekah untuk setiap dari persendian itu”
Mereka berkata, “Siapakah yang mampu melakukan hal itu wahai Rasulullah?”
Beliau bersabda, “Dahak yang ada di masjid kau tanam, atau sesuatu (berupa gangguan) di jalan engkau singkirkan. Jika kau tak mampu juga, maka dua rakaat Sholat Dhuha telah mencukupi bagimu”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (5/356), Abu Dawud dalam Sunan-nya (5242), Ibnu Khuzaimah dalam Shohih-nya (1226), Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (1642), dan Ath-Thohawiy dalam Syarh Musykil Al-Atsar (no. 99)]
Al-Imam Al-Iroqiy rahimahullah berkata,

فِيهِ فَضْلٌ عَظِيمٌ لِصَلَاةِ الضُّحَى لِمَا دَلَّ عَلَيْهِ مِنْ أَنَّهَا تَقُومُ مَقَامَ ثَلَاثِمِائَةٍ وَسِتِّينَ حَسَنَةً
“Di dalamnya terdapat keutamaan besar bagi Sholat Dhuha, karena hadits ini menunjukkan bahwa Sholat Dhuha berkedudukan sama dengan 360 kebaikan”. [Lihat Thorh At-Tatsrib (3/349)]

Ibnu Abdil Barr berkata, “Ini merupakan sesuatu yang paling dalam (kuat) tentang keutamaan Sholat Dhuha”. [Lihat Al-Istidzkar (2/266) oleh Ibnu Abdil Barr, cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, 1421 H]

Kebaikan yang ada pada Sholat Dhuha menyamai pahala umroh. Sebuah keutamaan yang amat besar dan berharga. Adakah diantara kita yang mampu melakukan umroh dalam setiap harinya?! Jelas tak ada!! Namun keutamaan itu ternyata dapat dikejar dengan melazimi Sholat Dhuha.

وَمَنْ خَرَجَ إِلَى تَسْبِيحِ الضُّحَى لاَ يُنْصِبُهُ إِلاَّ إِيَّاهُ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْمُعْتَمِرِ
“Barangsiapa yang keluar menuju Sholat Dhuha, sedang tak ada yang membuatnya capek kecuali sholat itu, maka pahalanya laksana pahala orang yang ber-umroh”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 558). Dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami' (no. 6228)]
Keutamaannya bukan cuma sampai disini, bahkan Allah memberikan penjagaan dan pemeliharaan dari segala keburukan dengan sebab Sholat Dhuha sebanyak empat rakaat.

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ” ابْنَ آدَمَ صَلِّ لِي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَكْفِكَ آخِرَهُ
“Allah Azza wa Jalla berfirman, “Wahai anak cucu Adam, sholatlah kepadaku empat rakaat pada awal siang, niscaya aku akan menjagamu pada akhir siang”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (5/287), Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (no. 2533-2534), Ad-Darimiy dalam Sunan-nya (1442), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (3/47). Di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (no. 674)]

Para pembaca yang budiman, dengan segudang pahala di dalamnya, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkannya, mengajarkannya dan menjelaskan keutamaannya. Semua ini menunjukkan adanya  dan pentingnya Sholat Dhuha.

Diantara perkara yang menunjukkan adanya Sholat Dhuha, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sendiri melaksanakan Sholat Dhuha pada hari penaklukan Kota Makkah sebanyak delapan (8) rakaat di rumah saudari Ali bin Abi Tholib, Ummu Hani’ radhiyallahu anhuma.

Dari Abu Murroh (bekas budak Aqil) berkata,

أَنَّ أُمَّ هَانِئٍ بِنْتَ أَبِى طَالِبٍ حَدَّثَتْهُ أَنَّهُ لَمَّا كَانَ عَامُ الْفَتْحِ أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ بِأَعْلَى مَكَّةَ. قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِلَى غُسْلِهِ فَسَتَرَتْ عَلَيْهِ فَاطِمَةُ ثُمَّ أَخَذَ ثَوْبَهُ فَالْتَحَفَ بِهِ ثُمَّ صَلَّى ثَمَانِ رَكَعَاتٍ سُبْحَةَ الضُّحَى
“Bahwa Ummu Hani telah meceritakan kepadanya bahwa tatkala tahun penaklukan Kota Makkah, Ummu Hani’ mendatangi Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, sedang beliau berada bagi atas Kota Makkah. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bangkit menuju air mandinya. Fathimah menutupi beliau. Kemudian beliau mengambil pakaiannya, lalu berselimut dengannya. Kemudian beliau melakukan Sholat Dhuha sebanyak delapan rakaat”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (336)]

Dalam riwayat Muslim (336) lainnya,

فَلَمْ أَرَهُ سَبَّحَهَا قَبْلُ وَلاَ بَعْدُ
“Ummu Hani’ berkata, “Aku tidaklah pernah melihat beliau Sholat Dhuha sebelum dan sesudahnya”.

Dari riwayat ini, sebagian orang menyangka Sholat Dhuha bukanlah sholat sunnah yang boleh dilazimi, dengan dalih bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sendiri tidak melaziminya!!

Sangkaan ini batil, sebab Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidak melaziminya karena beliau takut jika beliau melaziminya, maka akan turun perintah dan kewajibannya dari langit.

Sholat Dhuha ini  serupa dengan Sholat Tarwih. Beliau tidak melaziminya, padahal beliau dalam banyak hadits menjelaskan keutamaannya, karena beliau takut jika dilazimi, maka akan turun kewajiban sholat itu dari Allah.

bersambung ...

Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9203
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Sunnah Sahabat
« Jawab #5 pada: Maret 12, 2014, 02:34:56 PM »
Quote (selected)
Dari A’isyah radhiyallahu anha, ia berkata

إِنْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَدَعُ الْعَمَلَ وَهُوَ يُحِبُّ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ خَشْيَةَ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ النَّاسُ فَيُفْرَضَ عَلَيْهِمْ وَمَا سَبَّحَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُبْحَةَ الضُّحَى قَطُّ وَإِنِّي لَأُسَبِّحُهَا.
“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam meninggalkan suatu amalan, sementara itu beliau menyukai untuk mengamalkannya, karena takut jika hal itu diamalkan oleh manusia, sehingga hal itu pun diwajibkan atas mereka. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidaklah pernah melakukan sholat Dhuha sama sekali. Tapi sungguh aku melaksanakan Sholat Dhuha ini”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (1128) dan Muslim dalam Shohih-nya (718)]

Di dalam riwayat lain, Abdullah bin Syaqiq berkata kepada A’isyah radhiyallahu anha,

أَكَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّى الضُّحَى قَالَتْ لاَ إِلاَّ أَنْ يَجِىءَ مِنْ مَغِيبِهِ
“Apakah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melakukan Sholat Dhuha?” Ia (A’isyah) berkata, “Tidak, kecuali jika beliau datang dari safarnya”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (716) dan Abu Dawud dalam Sunan-nya (1292)]

Jadi, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam meninggalkannya, karena khawatir jika beliau lazimi, maka Sholat Dhuha akan berubah hukumnya menjadi wajib.

Adapun persaksian A’isyah radhiyallahu anhu bahwa ia tak pernah melihat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melaksanakan Sholat Dhuha, maka persaksian itu berdasarkan apa yang beliau ketahui. Namun sahabat lain adalah hujjah yang menyatakan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah melakukannya sebagaimana dalam hadits Ummu Hani’ di atas, dan berdasarkan hadits di bawah ini:

Anas radhiyallahu anhu berkata,

قَالَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ إِنِّي لَا أَسْتَطِيعُ الصَّلَاةَ مَعَكَ وَكَانَ رَجُلًا ضَخْمًا فَصَنَعَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا فَدَعَاهُ إِلَى مَنْزِلِهِ فَبَسَطَ لَهُ حَصِيرًا وَنَضَحَ طَرَفَ الْحَصِيرِ فَصَلَّى عَلَيْهِ رَكْعَتَيْنِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ آلِ الْجَارُودِ لِأَنَسٍ أَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الضُّحَى قَالَ مَا رَأَيْتُهُ صَلَّاهَا إِلَّا يَوْمَئِذٍ
“Seorang pria Anshor berkata, “Sesungguhnya aku tak mampu sholat bersamamu (yakni, bersama Nabi Shallallahu alaihi wa sallam”). Pria itu seorang yang besar (gemuk)

Kemudian ia pun membuat makanan untuk Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, lalu ia mengundang beliau ke rumahnya. Dia hamparkan tikar untuk beliau dan memerciki pinggir tikar itu.

Kemudian Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sholat di atasnya sebanyak dua rakaat.

Lalu berkatalah seorang lelaki dari kalangan Alu Jarud kepada Anas, “Apakah dahulu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah melaksanakan Sholat Dhuha?”

Anas menjawab, “Aku tak pernah melihat Sholat Dhuha, selain hari itu”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no, 670)]

Persaksian A’isyah tersebut bisa juga dipahami bahwa ia tak pernah melihat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melazimi sholat tersebut[1], atau mungkin itu adalah pernyataan beliau pertama kali, walaupun setelah itu beliau berubah dan rujuk dari pernyataan itu.

Ini dikuatkan oleh hadits yang berasal dari A’isyah radhiyallahu anha sendiri. Sekarang ada baiknya kami nukilkan lafazhnya agar kita semakin yakin bahwa A’isyah tidak meniadakan perkara Sholat Dhuha yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.

A’isyah radhiyallahu anha berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّى الضُّحَى أَرْبَعًا وَيَزِيدُ مَا شَاءَ اللَّهُ
“Dahulu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melakukan Sholat Dhuha sebanyak empat rakaat atau lebih sebagaimana yang Allah kehendaki”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 719)]
Sebagai kesimpulan dari pembahasan ini, kami akan nukilkan ucapan seorang ulama dari India yang bernama Muhammad Syamsul Haqq Al-Azhim Abadiy rahimahullah, saat beliau berkata,

“Hadits-hadits yang teriwayatkan dalam Shohih Muslim dan selainnya ini, semuanya cocok (ketemu). Tak ada perselisihan di antara keduanya di sisi para muhaqqiqin. Walhasil bahwa Sholat Dhuha adalah sunnah mu’akkadah. Paling minimalnya adalah dua rakaat dan paling sempurnanya adalah delapan rakaat. Diantara kedua hal ini, empat atau enam rakaat. Keduanya lebih sempurna dibandingkan dua rakaat dan di bawah delapan rakaat. Adapun pengkompromian antara dua hadits A’isyah dalam meniadakan Sholat Dhuha-nya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan penetapannya, yaitu bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam biasa melakukannya pada sebagian waktu, karena keutamaan Sholat Dhuha, dan meningalkannya, karena khawatir jika Sholat Dhuha diwajibkan sebagaimana yang disebutkan oleh A’isyah. Ucapan A’isyah, “Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidak melaksanakan Sholat Dhuha, kecuali jika beliau datang dari safarnya”, ditafsirkan bahwa maknanya, “Aku tak pernah melihatnya…”, sebagaimana yang beliau katakan dalam riwayat kedua, “Aku tak pernah melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melaksanakan Sholat Dhuha”. Sebabnya (A’isyah berkata demikian), karena Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tak ada di sisi A’isyah pada waktu Dhuha, kecuali dalam waktu yang jarang. Karena, terkadang Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pada saat itu sedang safar atau terkadang ada, tapi beliau ada di masjid atau di tempat lain. Jika Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berada di sisi istri-istrinya, maka A’isyah hanya memiliki satu hari dari sembilan hari. Jadi, sudah tepat ucapan, “Aku tak pernah melihat beliau…”.”.[Lihat Awnul Ma'bud (4/116-117)]

Jadi, Sholat Dhuha walaupun jarang dikerjakan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, tapi bukan berarti bahwa tak boleh melaziminya. Beliau meninggalkannya dalam kebanyakan waktunya, karena alasan takut jika diwajibkan!!

Terakhir kami wasiatkan kepada para pencinta sunnah agar melazimi Sholat Dhuha ini. Di balik amalan ini terdapat pahala yang besar.

Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu anhuma, ia berkata,

بَعَثَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَرِيَّةً ، فَغَنِمُوا ، وَأَسْرَعُوا الرَّجْعَةَ ، فَتَحَدَّثَ النَّاسُ بِقُرْبِ مَغْزَاهُمْ ، وَكَثْرَةِ غَنِيمَتِهِمْ ، وَسُرْعَةِ رَجْعَتِهِمْ ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَقْرَبَ مِنْهُ مَغْزًى ، وَأَكْثَرَ غَنِيمَةً ، وَأَوْشَكَ رَجْعَةً ؟ مَنْ تَوَضَّأَ ، ثُمَّ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لِسُبْحَةِ الضُّحَى ، فَهُوَ أَقْرَبُ مَغْزًى ، وَأَكْثَرُ غَنِيمَةً ، وَأَوْشَكُ رَجْعَةً.
“Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah mengirim pasukan. Mereka memperoleh ghanimah dan bersegera pulang. Lalu manusia pun memperbincangkan tentang sebentarnya peperangan mereka, banyaknya ghanimah mereka dan cepatnya kepulangan mereka.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu lebih sebentar peperangannya, lebih banyak ghanimahnya dan lebih cepat kepulangannya dibandingkan mereka? Barangsiapa yang berwudhu’, lalu ia pergi ke masjid untuk Sholat Dhuha, maka ia lebih sebentar peperangannya, lebih banyak ghanimahnya dan lebih cepat kepulangannya”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/175) dan Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (no. 100). Hadits ini dinyatakan hasan-shohih oleh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (no. 668)]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata,

بعث رسول الله صلى الله عليه و سلم بعثا فأعظموا الغنيمة وأسرعوا الكرة فقال رجل : يا رسول الله ما رأينا بعث قوم أسرع كرة ولا أعظم غنيمة من هذا البعث فقال صلى الله عليه و سلم : ألا أخبركم بأسرع كرة وأعظم غنيمة من هذا البعث ؟ رجل توضأ في بيته فأحسن وضوءه ثم تحمل إلى المسجد فصلى فيه الغداة ثم عقب بصلاة الضحى فقد أسرع الكرة وأعظم الغنيمة 
“Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah mengirim pasukan. Mereka menganggap ghanimah itu besar dan mereka bersegera pulang. Berkatalah seseorang, “Wahai Rasulullah, kami belum pernah melihat suatu pasukan suatu kaum yang lebih cepat kepulangannya dan tidak pula lebih besar ghanimahnya dibandingkan pasukan ini”.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Maukah kalian aku kabari tentang orang yang lebih cepat kepulangannya dan lebih besar ghanimahnya dibandingkan pasukan ini? yaitu seorang berwudhu’ di rumahnya, lalu ia perbaiki wudhu’-nya, lalu ia berangkat ke masjid. Dia sholat shubuh di dalamnya. Kemudian ia iringi dengan Sholat Dhuha, maka sungguh ia lebih cepat kepulangannya dan lebih besar ghanimahnya”. [HR. Abu Ya'laa dalam Al-Musnad (no. 6559) dan Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (no. 2535). Syaikh Al-Albaniy menilai hadits ini shohih dalam Ash-Shohihah (2531)]

Inilah keutamaan yang amat besar bagi mereka yang menghiasi pagi harinya dengan Sholat Dhuha dengan meraih serangkaian kebaikan, keutamaan dan pahala di balik Sholat Dhuha ini.

Semoga dengan risalah ringkas ini, para pembaca sudah mengerti kedudukan Sholat Dhuha ini. Aku berharap semoga Allah menghidupkan sunnah dan ajaran yang indah ini dengan tulisan ringkas ini. Amin…


[1] Apa yang kami nyatakan ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Baihaqiy rahimahullah. Beliau berkata, “Hadits yang diriwayatkan darinya (yakni, dari A’isyah) bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dulu tidak melaksanakan Sholat Dhuha, kecuali jika beliau datang dari safar. A’isyah hanyalah memaksudkan bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidaklah melaziminya”. [Lihat Ma'rifah As-Sunan wal Atsar (2/334)]

sumber : https://plus.google.com/104327891139041328959/posts/jCTTkXdE8Mu

kesimpulannya, ternyata shalat dhuha dianjurkan oleh nabi dalam banyak riwayat, walaupun tidak ada riwayat dimana para sahaba melihat nabi saw melaksanakan sendiri shalat dhuha.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9203
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Sunnah Sahabat
« Jawab #6 pada: Maret 12, 2014, 03:04:09 PM »
Kutip dari: mardee w
hadits Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu : “Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengerjakan shalat Dhuha enam rakaat” Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi di dalam kitab Asy-Syamaa-il (hadits no. 273)

ada lagi..
Dari Sayyidah Aisyah Radhiyallahu ‘anha saat ditanya oleh Mu’adzah :”Berapa rakaat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat Dhua?” Dia menjawab : “Empat rakaat dan bisa juga lebih, sesuai kehendak Allah” [Hadits hasan. Diriwayatkan oleh Muslim hadits no. 719]

Jadi, ... bagaimana dengan riwayat berikut ini :

Telah menceritakan kepada kami Adam berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dza'bi dari Az Zuhriy dari 'Urwah dari 'Aisyah radliallahu 'anha berkata: "Aku belum pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat sunnat Dhuha. Adapun aku mengerjakannya".( HR BUKHARI)

Apakah ini palsu atau bagaimana ?

Jika benar Rasulullah pernah melaksanakan shalat dhuha, berarti hadits yang saya kutip tersebut bohong, palsu, salah terjemah atau salah tafsir.

Tapi sampai di sini bisa saya terima, bahwa shalat dhuha ada nash yang sah.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9203
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Sunnah Sahabat
« Jawab #7 pada: Maret 12, 2014, 03:13:53 PM »
Kutip dari: iyang alfaroeq
Mas +asep rochman maap tapi tidak semua hadist sahih jadi sebagai manusia berakal kita mencari dalil hadist yg sahih yg tidak di perselisihkan oleh mayoritas ulama sejak dahulu, dan saya kira mas marde sudah menambahi bahwa Rosulullah mengerjakan dan menganjurkan sholat sunnah dhuha, semoga mas asep lebih tdk ragu.

+Iyang alfaroeq dan +mardee w ,  sekarang saya sudah tahu dan mengerti, bahwa shalat dhuha itu ada tuntunan dari Rasulullah. saya kira dali-dalil dari Anda semua sudah cukup. terima kasih banyak. jazakumullahu khairan katsiran. 
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9203
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Sunnah Sahabat
« Jawab #8 pada: Maret 12, 2014, 03:18:13 PM »
Kutip dari: mardee w

tambahan lagi..

dari 'Aisyah, katanya; "Sama sekali belum pernah aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melakukan shalat sunnah dhuha, namun aku melakukan shalat sunnah dhuha. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meninggalkan amalan yang sebenarnya beliau suka melakukannya, karena beliau khawatir jangan-jangan para sahabat menirunya sehingga amalan itu diwajibkan." [Shahih Muslim no 1174]

Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9203
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Sunnah Sahabat
« Jawab #9 pada: Maret 13, 2014, 12:12:29 AM »
walaupun shalat dhuha itu ternyata bernash, masih ada beberapa pertanyaan yang mengelitik hati saya. Aisyah tidak pernah melihat nabi saw melaksanakan shalat dhuha[1], tapi di lain waktu, ia mengatakan "kecuali sepulang dari perjalanan"[2]. dan di kesempatan lain ia mengatakan "Rasulullah shalat dhuha 4 rakaat atau lebih, sesuai kehendak Allah"[3]. tidaklah ini kita rasakan sebagai sesuatu yang ganjil ?

keganjilan tersebut dilebur dengan tafsir bahwa maksud aisyah "Rasulullah tidak pernah pernah melakukan shalat dhuha sama sekali" bermakna "Aisyah tidak pernah melihat rasulullah melazimi shalat dhuha". tafsiran ini dapat melebur pertentangan yang terjadi. tapi kemudian muncul pertanyaan, bila Rasulullah tidak melazimi shalat dhuha, bukankan berarti termasuk sunnah bila kitapun tidak melaziminya ? atau apakah tidak termasuk bid`ah bila kita melazimi shalat dhuha, karena tidak sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah ?
 1. Telah menceritakan kepada kami Adam berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dza'bi dari Az Zuhriy dari 'Urwah dari 'Aisyah radliallahu 'anha berkata: "Aku belum pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat sunnat Dhuha. Adapun aku mengerjakannya".( HR BUKHARI); Dari A’isyah radhiyallahu anha, ia berkata

إِنْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَدَعُ الْعَمَلَ وَهُوَ يُحِبُّ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ خَشْيَةَ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ النَّاسُ فَيُفْرَضَ عَلَيْهِمْ وَمَا سَبَّحَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُبْحَةَ الضُّحَى قَطُّ وَإِنِّي لَأُسَبِّحُهَا.
“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam meninggalkan suatu amalan, sementara itu beliau menyukai untuk mengamalkannya, karena takut jika hal itu diamalkan oleh manusia, sehingga hal itu pun diwajibkan atas mereka. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidaklah pernah melakukan sholat Dhuha sama sekali. Tapi sungguh aku melaksanakan Sholat Dhuha ini”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (1128) dan Muslim dalam Shohih-nya (718)]
 2. “Apakah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melakukan Sholat Dhuha?” Ia (A’isyah) berkata, “Tidak, kecuali jika beliau datang dari safarnya”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (716) dan Abu Dawud dalam Sunan-nya (1292)]
 3. ada lagi..
Dari Sayyidah Aisyah Radhiyallahu ‘anha saat ditanya oleh Mu’adzah :”Berapa rakaat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat Dhua?” Dia menjawab : “Empat rakaat dan bisa juga lebih, sesuai kehendak Allah” [Hadits hasan. Diriwayatkan oleh Muslim hadits no. 719]
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 15
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Sunnah Sahabat
« Jawab #10 pada: Maret 13, 2014, 11:49:20 AM »
keganjilan tersebut dilebur dengan tafsir bahwa maksud aisyah "Rasulullah tidak pernah pernah melakukan shalat dhuha sama sekali" bermakna "Aisyah tidak pernah melihat rasulullah melazimi shalat dhuha". tafsiran ini dapat melebur pertentangan yang terjadi. tapi kemudian muncul pertanyaan, bila Rasulullah tidak melazimi shalat dhuha, bukankan berarti termasuk sunnah bila kitapun tidak melaziminya ? atau apakah tidak termasuk bid`ah bila kita melazimi shalat dhuha, karena tidak sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah ?

Lazim itu maksudnya bagaimana Kang?
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9203
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Sunnah Sahabat
« Jawab #11 pada: Maret 14, 2014, 12:21:14 AM »
Aisyah r.a mengatakan bahwa :

Rasulullah tidak pernah melaksanakan shalat dhuha ( ¬ A)

Jika pertanyaan aisyah tersebut benar, maka pernyataan berikut adalah salah :

Rasulullah pernah melaksanakan shalat dhuha ( A )

Jika Aisyah mengatakan bahwa “Rasulullah tidak pernah melaksanakan shalat dhuha kecuali sepulang dari safar”, maka sama artinya dengan menyatakan bahwa “Rasulullah pernah melaksanakan shalat dhuha” ( A ). Tampaknya ini merupakan sesuatu yang salah ketika kita menerima bahwa ¬ A berniali true. tetapi tidak salah bila makna predikat itu mempunyai perbedaan makna kondisi, yaitu “sepulang dari safar”. Sehingga sebenarnya dua pernyataan aisyah adalah :

Rasulullah tidak pernah melaksanakan shalat dhuha ( ¬ A)
Rasulullah pernah melaksanakan shalat dhuha ( B )

Secara logika tiada pertentangan.

Dengan demikian tidak terdapat pertentangan antara pernyataan Aisyah tentang shalat dhuha Rasulullah dalam satu riwayat dengan riwayat lainnya. Dan jika benar dengan apa yang dikatakan Aisyah tentang shalat dhuha Rasulullah, maka benar bahwa shalat dhuha merupakan sunnah Rasulullah saw.

Hanya ada pertanyaan saya, jika benar bahwa Rasulullah tidak pernah shalat dhuha kecuali sepulang dari safar, bukankah berarti yang termasuk sunnah itu adalah “shalat dhuha sepulang dari safar” ? apakah shalat dhuha selain dalam kondisi itu tidak termasuk bid`ah ?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9203
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Sunnah Sahabat
« Jawab #12 pada: Maret 14, 2014, 12:22:23 AM »
Lazim itu maksudnya bagaimana Kang?

membiasakan. jika kang Ratna membiasakan shalat dhuha setiap pagi, atau setiap hari jumat pagi misalnya, berarti kang ratna melazimkan shalat dhuha tersebut.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 15
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Sunnah Sahabat
« Jawab #13 pada: Maret 14, 2014, 10:12:00 AM »
Jika saya membiasakan sholat dhuha setiap pagi, kemudian sekali-sekali meninggalkannya apakah masih masuk kategori lazim?
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9203
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Sunnah Sahabat
« Jawab #14 pada: Maret 17, 2014, 01:32:56 AM »
^ ya, termasuk lazim.

sebenarnya, bila Aisyah tidak pernah melihat Rasulullah saw shalat dhuha, kecuali sepulang safar, tidak berarti Rasulullah hanya melaksanakan shalat dhuha hanya sepulang safar, apalagi jika ada sahabat lain menyaksikan bahwa beliau melaksanakan shalat dhuha di luar kondisi itu.

Dari Abu Murroh (bekas budak Aqil) berkata,

أَنَّ أُمَّ هَانِئٍ بِنْتَ أَبِى طَالِبٍ حَدَّثَتْهُ أَنَّهُ لَمَّا كَانَ عَامُ الْفَتْحِ أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ بِأَعْلَى مَكَّةَ. قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِلَى غُسْلِهِ فَسَتَرَتْ عَلَيْهِ فَاطِمَةُ ثُمَّ أَخَذَ ثَوْبَهُ فَالْتَحَفَ بِهِ ثُمَّ صَلَّى ثَمَانِ رَكَعَاتٍ سُبْحَةَ الضُّحَى
“Bahwa Ummu Hani telah meceritakan kepadanya bahwa tatkala tahun penaklukan Kota Makkah, Ummu Hani’ mendatangi Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, sedang beliau berada bagi atas Kota Makkah. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bangkit menuju air mandinya. Fathimah menutupi beliau. Kemudian beliau mengambil pakaiannya, lalu berselimut dengannya. Kemudian beliau melakukan Sholat Dhuha sebanyak delapan rakaat”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (336)]

maka bagi yang ingin melazimkan shalat dhuha, tampaknya dalil-dalilnya cukup.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
599 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 18, 2013, 09:33:10 PM
oleh Awal Dj
5 Jawaban
1386 Dilihat
Tulisan terakhir November 25, 2015, 11:41:48 PM
oleh Monox D. I-Fly
19 Jawaban
2818 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 27, 2014, 05:47:01 AM
oleh wa2nlinux
1 Jawaban
897 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 16, 2014, 12:58:36 PM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
1821 Dilihat
Tulisan terakhir November 29, 2015, 09:55:14 PM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
514 Dilihat
Tulisan terakhir April 27, 2015, 08:57:26 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1125 Dilihat
Tulisan terakhir April 29, 2015, 10:27:24 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
389 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 01, 2016, 09:13:20 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
508 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 05, 2016, 08:15:51 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
186 Dilihat
Tulisan terakhir September 05, 2016, 01:14:00 PM
oleh Kang Erik

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan