Penulis Topik: SHAUM BULAN RAMADHÂN [1]  (Dibaca 909 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Abu Zahra

SHAUM BULAN RAMADHÂN [1]
« pada: Juni 22, 2013, 07:13:00 AM »
SHIYAM BULAN RAMADHÂN

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ. أَيَّاماً مَعْدُوداتٍ فَمَنْ كانَ مِنْكُمْ مَرِيضاً أَوْ عَلى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَ عَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْراً فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَ أَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ. شَهْرُ رَمَضانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدىً لِلنَّاسِ وَ بَيِّناتٍ مِنَ الْهُدى وَ الْفُرْقانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَ مَنْ كانَ مَرِيضاً أَوْ عَلى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَ لا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَ لِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلى ما هَداكُمْ وَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atasmu shiyâm sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelummu supaya kamu menjadi orang-orang yang ber-taqwâ. Yaitu dalam beberapa hari yang tertentu, maka siapa yang sakit di antara kamu atau dalam safar, lalu dia berbuka, maka wajiblah baginya shaum sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib atas orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak shaum), membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin, maka siapa yang memberi lebih banyak, maka itu lebih baik baginya, dan bahwa kamu shaum (pada bulan itu) baik bagimu jika kamu mengetahui. Yaitu bulan Ramadhân yang telah diturunkan padanya Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan dari petunjuk dan pembeda (antara yang benar dan yang salah). Barang siapa yang melihat bulan itu darimu, maka hendaklah dia shaum padanya, dan siapa yang sakit atau dalam perjalanan, lalu dia berbuka maka wajiblah dia shaum sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain, Allah menginginkan kemudahan bagimu dan Dia tidak menginginkan kesulitan bagimu, dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangan dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya kepadamu dan supaya kamu bersyukur. 

Wajib shaum bulan Ramadhân dan niatnya
عَنْ هِشَامِ بْنِ الْحَكَمِ أَنَّهُ سَأَلَ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ع عَنْ عِلَّةِ الصِّيَامِ فَقَالَ إِنَّمَا فَرَضَ اللَّهُ الصِّيَامَ لِيَسْتَوِيَ بِهِ الْغَنِيُّ وَ الْفَقِيرُ وَ ذَلِكَ أَنَّ الْغَنِيَّ لَمْ يَكُنْ لِيَجِدَ مَسَّ الْجُوعِ فَيَرْحَمَ الْفَقِيرَ لِأَنَّ الْغَنِيَّ كُلَّمَا أَرَادَ شَيْئاً قَدَرَ عَلَيْهِ فَأَرَادَ اللَّهُ تَعَالَى أَنْ يُسَوِّيَ بَيْنَ خَلْقِهِ وَ أَنْ يُذِيقَ الْغَنِيَّ مَسَّ الْجُوعِ وَ الْأَلَمِ لِيَرِقَّ عَلَى الضَّعِيفِ وَ يَرْحَمَ الْجَائِعَ
Dari Hisyâm bin Al-Hakam bahwa dia bertanya kepada Abû 'Abdillâh as tentang alasan shiyâm, maka beliau menjawab, "Allah memfardhukan shiyâm agar dengannya menjadi sama orang yang kaya dan yang miskin, yaitu bahwa orang yang kaya dapat merasakan rasanya kelaparan sehingga dia mengasihani orang yang miskin, sebab orang yang kaya itu setiap kali menginginkan sesuatu, dia mampu atasnya, maka Allah yang maha tinggi menyamakan di antara hamba-hamba-Nya, dan Dia rasakan kelaparan dan rasa tidak enak kepada orang yang kaya agar orang yang kaya itu menyayangi orang yang miskin dan mengasihani orang yang kelaparan."   

عَنْ زُرَارَةَ عَنِ الصَّادِقِ ع قَالَ لِكُلِّ شَيْ‏ءٍ زَكَاةٌ وَ زَكَاةُ الأَجْسَادِ الصِّيَامُ
Dari Zurârah dari Al-Shâdiq as berkata, "Bagi setiap sesuatu ada zakatnya (pembersihnya), dan zakat jasad adalah shiyâm." 

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِنَانٍ عَنْ أَبِي الْحَسَنِ الرِّضَا ع فِيمَا كَتَبَ إِلَيْهِ مِنْ جَوَابِ مَسَائِلِهِ عِلَّةُ الصَّوْمِ لِعِرْفَانِ مَسِّ الْجُوعِ وَ الْعَطَشِ لِيَكُونَ الْعَبْدُ ذَلِيلًا مُسْتَكِيناً مَأْجُوراً مُحْتَسِباً صَابِراً وَ يَكُونَ ذَلِكَ دَلِيلًا لَهُ عَلَى شَدَائِدِ الْآخِرَةِ مَعَ مَا فِيهِ مِنَ الِانْكِسَارِ لَهُ عَنِ الشَّهَوَاتِ وَاعِظاً لَهُ فِي الْعَاجِلِ دَلِيلًا عَلَى الْآجِلِ لِيَعْلَمَ شِدَّةَ مَبْلَغِ ذَلِكَ مِنْ أَهْلِ الْفَقْرِ وَ الْمَسْكَنَةِ فِي الدُّنْيَا وَ الآخِرَةِ
Dari Muhammad bin Sinân dari Abû Al-Hasan Al-Ridhâ as apa yang beliau tulis kepadanya dalam jawaban pertanyaannya alasan shaum, "Untuk merasakan kelaparan dan kehausan agar hamba itu merendah, tidak sombong, diberi pahala, mengharap (rido Allah) lagi bersabar, dan yang demikian itu menjadi dalil baginya atas kerasnya akhirat yang memecahkan segala syahwat, dan (dengan shaum itu) menjadi pelajaran baginya di dunia sebagai petunjuk kepada akhirat, supaya dia tahu kerasnya lapar itu dari orang faqîr dan mis-kin di dunia dan akhirat." 
 
عَنْ حَمْزَةَ بْنِ مُحَمَّدٍ أَنَّهُ كَتَبَ إِلَى أَبِي مُحَمَّدٍ ع لِمَ فَرَضَ اللَّهُ الصَّوْمَ فَوَرَدَ فِي الْجَوَابِ لِيَجِدَ الْغَنِيُّ مَسَّ الْجُوعِ فَيَمُنَّ عَلَى الْفَقِيرِ
Dari Hamzah bin Muhammad bahwa dia telah menulis surat kepada Abû Muhammad as, "Mengapakah Allah memfardhukan shaum?" Maka jawabannya, "Agar orang kaya mendapatkan rasa lapar, lalu dia menyantuni orang miskin." 
 
عَنِ الْفَضْلِ بْنِ شَاذَانَ عَنِ الرِّضَا ع قَالَ إِنَّمَا أُمِرُوا بِالصَّوْمِ لِكَيْ يَعْرِفُوا أَلَمَ الْجُوعِ وَ الْعَطَشِ فَيَسْتَدِلُّوا عَلَى فَقْرِ الْآخِرَةِ وَ لِيَكُونَ الصَّائِمُ خَاشِعاً ذَلِيلًا مُسْتَكِيناً مَأْجُوراً مُحْتَسِباً عَارِفاً صَابِراً عَلَى مَا أَصَابَهُ مِنَ الْجُوعِ وَ الْعَطَشِ فَيَسْتَوْجِبَ الثَّوَابَ مَعَ مَا فِيهِ مِنَ الْإِمْسَاكِ عَنِ الشَّهَوَاتِ وَ لِيَكُونَ ذَلِكَ وَاعِظاً لَهُمْ فِي الْعَاجِلِ وَ رَائِضاً لَهُمْ عَلَى أَدَاءِ مَا كَلَّفَهُمْ وَ دَلِيلًا لَهُمْ فِي الْآجِلِ وَ لِيَعْرِفُوا شِدَّةَ مَبْلَغِ ذَلِكَ عَلَى أَهْلِ الْفَقْرِ وَ الْمَسْكَنَةِ فِي الدُّنْيَا فَيُؤَدُّوا إِلَيْهِمْ مَا افْتَرَضَ اللَّهُ لَهُمْ فِي أَمْوَالِهِمْ
Dari Al-Fadhl bin Syâdzân dari Al-Ridhâ as berkata, "Sesungguhnya mereka telah diperintah shaum supaya mereka merasakan pedihnya rasa lapar dan dahaga, lalu dengan itu dia mendapatkan petunjuk kepada kemiskinan akhirat, dan supaya orang yang shaum itu menjadi tunduk, merendah dan tidak angkuh, mendapat pahala, bijak dan bersabar atas kelaparan dan kehausan yang didapatkannya, maka mereka mendapatkan pahala bersama syahwat yang mereka tahan, dan supaya menjadi pelajaran bagi mereka di dunia dan menundukkan mereka dalam menunaikan apa yang telah diwajibkan kepada mereka, dan supaya menjadi petunjuk bagi mereka kepada akhirat, dan supaya mereka mengenal tidak enaknya rasa lapar dan dahaga bagi orang faqîr dan miskin di dunia, lalu mereka menyampaikan kepada kaum miskin apa yang telah diwajibkan Allah atas mereka dalam harta-harta mereka."   

Wajib berniat pada waktu malam dan orang yang meninggalkannya mesti memperbaruinya dalam shaum fardhu antara dia dan waktu zawâl selama dia belum berbuka
عَنِ الْحَلَبِيِّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع فِي حَدِيثٍ قَالَ قُلْتُ لَهُ إِنَّ رَجُلًا أَرَادَ أَنْ يَصُومَ ارْتِفَاعَ النَّهَارِ أَ يَصُومُ قَالَ نَعَمْ.
   Dari Al-Halabi dari Abû 'Abdillâh as dalam sebuah hadîts Al-Halabi berkata: Aku berkata kepadanya, "Ada orang yang hendak shaum pada saat siang telah meninggi, apakah dia mesti shaum?" Beliau berkata, "Ya." 
 
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحَجَّاجِ عَنْ أَبِي الْحَسَنِ ع فِي الرَّجُلِ يَبْدُو لَهُ بَعْدَ مَا يُصْبِحُ وَ يَرْتَفِعُ النَّهَارُ فِي صَوْمِ ذَلِكَ الْيَوْمِ لِيَقْضِيَهُ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ وَ لَمْ يَكُنْ نَوَى ذَلِكَ مِنَ اللَّيْلِ قَالَ نَعَمْ لِيَصُمْهُ وَ لْيَعْتَدَّ بِهِ إِذَا لَمْ يَكُنْ أَحْدَثَ شَيْئاً
   Dari 'Abdurrahmân bin Al-Hajjâj dari Abû Al-Hasan as tentang orang yang berniat shaum setelah pagi datang dan siang telah meninggi, apakah boleh dia shaum hari itu untuk membayar shaum bulan Ramadhân sedang dia tidak berniat dari sejak malam? Beliau berkata, "Ya, shaumlah dan hitunglah dengannya apabila dia belum melakukan sesuatu (yang membatalkan)." 
 
عَنِ ابْنِ سِنَانٍ يَعْنِي عَبْدَ اللَّهِ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ فِي حَدِيثٍ إِنْ بَدَا لَهُ أَنْ يَصُومَ بَعْدَ مَا ارْتَفَعَ النَّهَارُ فَلْيَصُمْ فَإِنَّهُ يُحْسَبُ لَهُ مِنَ السَّاعَةِ الَّتِي نَوَى فِيهَا
   Dari Ibnu Sinân yakni 'Abdillâh dari Abû 'Abdillâh as berkata dalam sebuah hadîts, "Jika tampak baginya untuk shaum setelah siang tinggi, maka shaumlah, sebab akan dihitung baginya dari saat yang padanya dia berniat." 
 
عَنْ صَالِحِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي إِبْرَاهِيمَ ع قَالَ قُلْتُ لَهُ رَجُلٌ جَعَلَ لِلَّهِ عَلَيْهِ الصِّيَامَ شَهْراً فَيُصْبِحُ وَ هُوَ يَنْوِي الصَّوْمَ ثُمَّ يَبْدُو لَهُ فَيُفْطِرُ وَ يُصْبِحُ وَ هُوَ لَا يَنْوِي الصَّوْمَ فَيَبْدُو لَهُ فَيَصُومُ فَقَالَ هَذَا كُلُّهُ جَائِزٌ
   Dari Shâlih bin 'Abdillâh dari Abû Ibrâhîm as: Saya bertanya kepadanya, "Ada orang telah menjadikan shaum atasnya sebulan karena Allah, lalu pada waktu pagi dia dalam keadaan berniat shaum, kemudian tampak baginya untuk berbuka, dan ada orang yang berpagi sedang dia tidak niat shaum. Lalu tampak baginya untuk shaum?" Maka beliau berkata, "Ini semuanya boleh." 
 
عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ ع قَالَ قَالَ عَلِيٌّ ع إِذَا لَمْ يَفْرِضِ الرَّجُلُ عَلَى نَفْسِهِ صِيَاماً ثُمَّ ذَكَرَ الصِّيَامَ قَبْلَ أَنْ يَطْعَمَ طَعَاماً أَوْ يَشْرَبَ شَرَاباً وَ لَمْ يُفْطِرْ فَهُوَ بِالْخِيَارِ إِنْ شَاءَ صَامَ وَ إِنْ شَاءَ أَفْطَرَ
   Dari Abû Ja'far as berkata: 'Ali as telah berkata, "Apabila seseorang belum menentukan atas dirinya shiyâm, kemudian dia teringat shiyâm sebelum makan dan atau minum dan belum buka, maka dia khiyâr (memilih); jika mau dia shaum dan jika mau dia buka." 
 
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحَجَّاجِ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا الْحَسَنِ مُوسَى ع عَنِ الرَّجُلِ يُصْبِحُ وَ لَمْ يَطْعَمْ وَ لَمْ يَشْرَبْ وَ لَمْ يَنْوِ صَوْماً وَ كَانَ عَلَيْهِ يَوْمٌ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ أَ لَهُ أَنْ يَصُومَ ذَلِكَ الْيَوْمَ وَ قَدْ ذَهَبَ عَامَّةُ النَّهَارِ فَقَالَ نَعَمْ لَهُ أَنْ يَصُومَهُ وَ يَعْتَدَّ بِهِ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ
   Dari 'Abdurrahmân bin Al-Hajjâj berkata, "Saya bertanya kepada Abû Al-Hasan Mûsâ as tentang orang dia berada pada waktu pagi sedang dia belum makan, belum minum dan belum niat shaum, dan adalah dia punya kewajiban membayar satu hari dari bulan Ramadhân, apakah boleh dia shaum pada hari itu sedang sebagian besar siang telah pergi?" Beliau berkata, "Ya, dia boleh shaum pada hari itu dan dengannya dia hitung dari bulan Ramadhân." 
 
عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي نَصْرٍ عَمَّنْ ذَكَرَهُ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ قُلْتُ لَهُ الرَّجُلُ يَكُونُ عَلَيْهِ الْقَضَاءُ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ وَ يُصْبِحُ فَلَا يَأْكُلُ إِلَى الْعَصْرِ أَ يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَجْعَلَهُ قَضَاءً مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ قَالَ نَعَمْ
Dari Ahmad bin Muhammad bin Abî Nashr dari orang yang menyebutkannya dari Abû 'Abdillâh as dia berkata: Saya bertanya kepadanya, "Ada orang mau membayar shaum dari bulan Ramadhân, dia bangun pagi, lalu tidak makan sampai waktu 'ashar, bolehkah dia menjadikannya sebagai qadhâ dari bulan Ramadhân?" Beliau berkata, "Ya." 
 
عَنْ عَمَّارٍ السَّابَاطِيِّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع عَنِ الرَّجُلِ يَكُونُ عَلَيْهِ أَيَّامٌ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ وَ يُرِيدُ أَنْ يَقْضِيَهَا مَتَى يُرِيدُ أَنْ يَنْوِيَ الصِّيَامَ قَالَ هُوَ بِالْخِيَارِ إِلَى أَنْ تَزُولَ الشَّمْسُ فَإِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ فَإِنْ كَانَ نَوَى الصَّوْمَ فَلْيَصُمْ وَ إِنْ كَانَ يَنْوِي الْإِفْطَارَ فَلْيُفْطِرْ سُئِلَ فَإِنْ كَانَ نَوَى الْإِفْطَارَ يَسْتَقِيمُ أَنْ يَنْوِيَ الصَّوْمَ بَعْدَ مَا زَالَتِ الشَّمْسُ قَالَ لَا الْحَدِيثَ
   Dari 'Ammâr Al-Sâbâthi dari Abû 'Abdillâh as tentang orang yang punya kewajiban membayar shaum dari bulan Ramadhân dan dia ingin membayarnya, kapan dia ingin berniat shaum? Beliau berkata, "Dia memilih sampai tergelincir matahari, maka jika matahari telah tergelincir, apabila dia berniat shaum, maka shaumlah, dan bila dia berniat berbuka, maka berbukalah." Beliau ditanya, "Jika dia telah niat buka, lalu dia niat shaum setelah tergelincir matahari?" Beliau berkata, "Tidak boleh." 
 
وَ عَنِ الرِّضَا ع أَنَّهُ قَالَ لَا قَوْلَ إِلَّا بِعَمَلٍ وَ لَا عَمَلَ إِلَّا بِنِيَّةٍ وَ لَا نِيَّةَ إِلَّا بِإِصَابَةِ السُّنَّةِ
Dan dari Al-Ridhâ as bahwa beliau berkata, "Tidak ada ucapan kecuali dengan amal, tidak ada amal kecuali dengan niat, dan tidak ada niat kecuali sesuai dengan sunnah." 

Boleh memperbarui niat shaum sunnah sampai men-dekati terbenam matahari
عَنْ أَبِي بَصِيرٍ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ع عَنِ الصَّائِمِ الْمُتَطَوِّعِ تَعْرِضُ لَهُ الْحَاجَةُ قَالَ هُوَ بِالْخِيَارِ مَا بَيْنَهُ وَ بَيْنَ الْعَصْرِ وَ إِنْ مَكَثَ حَتَّى الْعَصْرِ ثُمَّ بَدَا لَهُ أَنْ يَصُومَ وَ إِنْ لَمْ يَكُنْ نَوَى ذَلِكَ فَلَهُ أَنْ يَصُومَ ذَلِكَ الْيَوْمَ إِنْ شَاءَ
   Dari Abû Bashîr berkata: Saya bertanya kepada Abû 'Abdillâh as tentang orang yang shaum sunnah yang dihadapkan kepadanya kebutuhan. Beliau berkata, "Dia memilih antara dia dan waktu 'ashar, dan jika dia tetap sampai 'ashar, kemudian tampak baginya untuk shaum sekalipun sebelumnya tidak berniat, dia bisa shaum pada hari itu jika dia mau."   

« Edit Terakhir: Juni 22, 2013, 07:19:06 AM oleh Abu Zahra »
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
1001 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 22, 2013, 07:25:31 AM
oleh Abu Zahra
2 Jawaban
1186 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 17, 2013, 05:22:36 AM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
797 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 17, 2013, 05:06:01 AM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
831 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 17, 2013, 05:12:59 AM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
903 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 17, 2013, 05:30:03 AM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
954 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 17, 2013, 05:34:07 AM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
867 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 17, 2013, 07:17:06 PM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
810 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 17, 2013, 07:24:05 PM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
870 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 17, 2013, 07:28:25 PM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
994 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 17, 2013, 07:53:58 PM
oleh Abu Zahra

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan