Penulis Topik: SHALAT NABI VERSI AHLULBAITNYA [8]  (Dibaca 960 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Abu Zahra

SHALAT NABI VERSI AHLULBAITNYA [8]
« pada: Juni 03, 2013, 05:55:43 AM »
MANDI (GHASL)

Yang dimaksudkan dengan mandi di sini bukan mandi dalam pengertian umum, tetapi mandi yang disyari'ahkan dalam Islam, yaitu dengan membasuh bagian-bagian tertentu secara tertib jika tidak menceburkan seluruh tubuh ke dalam air. Allah 'azza wa jalla berfirman:
وَ إِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا. سورة المائدة 5/6
Dan apabila kamu junub, maka bersucilah (mandilah). 

Telah diriwayatkan dari Hasan bin ‘Abdullâh dari ayah-ayahnya dari kakeknya Hasan bin ‘Ali bin Abî Thâlib beliau berkata: Telah datang serombongan yahudi kepada Rasûlullâh saw, kemudian yang paling alim dari mereka bertanya kepada beliau tentang beberapa persoalan, dan di antara yang dia tanyakan adalah dia berkata, "Alasan apakah Allah perintahkan mandi dari janâbah, tetapi Dia tidak perintahkan mandi dari buang air besar dan buang air kecil?"

فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ إِنَّ آدَمَ لَمَّا أَكَلَ مِنَ الشَّجَرَةِ دَبَّ ذَلِكَ فِي عُرُوقِهِ وَ شَعْرِهِ وَ بَشَرِهِ, فَإِذَا جَامَعَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ خَرَجَ الْمَاءُ مِنْ كُلِّ عِرْقٍ وَ شَعْرِهِ فِي جَسَدِهِ فَأَوْجَبَ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ عَلَى ذُرِّيَّتِهِ الإِغْتِسَالَ مِنَ الْجَنَابَةِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ, وَ الْبَوْلُ يَخْرُجُ مِنْ فَضْلَةِ الشَّرَابِ الَّذِي يَشْرَبُهُ الإِنْسَانُ, وَ الْغَائِطُ يَخْرُجُ مِنْ فَضْلَةِ الطَّعَامِ الَّذِي يَأْكُلُهُ الإِنْسَانُ فَأَوْجَبَ عَلَيْهِمْ فِي ذَلِكَ الْوُضُوءَ. قَالَ الْيَهُودِيُّ صَدَقْتَ يَا مُحَمَّدُ
Maka Rasûlullâh saw berkata, "Sesungguhnya Ãdam ketika makan (buah) dari pohon itu, sari buah tersebut mengalir dalam urat-uratnya, rambutnya dan kulitnya, maka apabila lelaki menggauli istrinya, keluarlah air dari semua urat dan rambut dalam jasadnya, maka Allah ‘azza wa jalla mewajibkan mandi dari janabah kepada keturu-nannya hingga hari kiamat, sedangkan buang air kecil keluar dari sisa minuman yang diminum manusia, dan buang air besar keluar dari sisa (ampas) makanan yang dimakan manusia, maka atas mereka dalam hal itu hanya diwajibkan wudhu." Orang yahudi itu berkata, "Kamu benar wahai Muhammad." 

Dan yang dimaksudkan dengan mandi di sini ialah membasuh seluruh tubuh secara tertib mulai dari kepala, lalu leher, lalu badan bagian kanan, lalu badan bagian kiri dengan air yang suci lagi mensucikan.

Macam-Macam Mandi Wajib
   Adapun mandi yang hukumnya wajib atau diperintahkan ada sebelas macam.
1.   Mandi pada hari Jumat.
2.   Mandi karena terjadi janâbah. Dan yang menyebabkan terjadinya janâbah ialah: 1. Keluar mani atau sperma pada saat mimpi basah (ihtilâm), atau karena dirangsang walaupun sangat sedikit. 2. Bersetubuh (mujâma‘ah), baik keluar sperma atau tidak keluar.
3.   Mandi setelah haid jika telah bersih.
4.   Mandi karena keluar darah istihâdhah yang kadarnya banyak.
5.   Mandi setelah nifâs.
6.   Memandikan anak yang dilahirkan (al-maulûd).
7.   Memandikan mayit.
8.   Menyentuh mayat manusia yang telah dingin sedangkan ia belum dimandikan.
9.   Mandi karena hendak ziarah.
10.   Mandi karena hendak masuk ke dalam Ka‘bah.
11.   Mandi karena hendak meminta hujan (istisqâ`). 

Darah Perempuan
Darah perempuan ada tiga macam; darah haid (darah bulanan), darah nifâs (darah karena melahirkan) dan darah istihâdhah (darah yang keluar bukan pada waktu haid dan bukan pula pada waktu nifâs).

1. Darah Haid
وَ يَسْئَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيْضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيْضِ وَ لاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللهُ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَ يُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
Dan mereka bertanya kepadamu tentang haid, katakanlah: Haid itu suatu kotoran, maka jauhilah istri-istri pada waktu haid (tidak menggaulinya), dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka gaulilah mereka itu menurut yang diperintahkan Allah kepadamu, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. 

Darah haid—tentu muslimah lebih faham—adalah darah bulanan yang berwarna merah kehitam-hitaman, atau merah segar yang mempunyai tekanan untuk keluar dan suhunya panas. Darah yang keluar sebelum usia sembilan tahun tidak termasuk darah haid; demikian pula darah yang keluar setelah masa menopause (sinnul ya`s), yaitu usia terhentinya haid, tidak termasuk darah haid.
Masa terhentinya haid (menopause) ada perbedaan antara muslimah dari Arab Quraisy dan non Quraisy, menopause muslimah Quraisy ialah pada usia enam puluh (60) tahun, sedangkan untuk muslimah yang bukan dari Quraisy lima puluh (50) tahun.

قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ الْمَرْأَةُ الَّتِي قَدْ يَئِسَتْ مِنَ الْمَحِيضِ حَدُّهَا خَمْسُونَ سَنَةً.
Abû ‘Abdillâh as berkata, "Perempuan yang telah berhenti dari haid batasannya lima puluh tahun."
Dan telah diriwatkan juga enam puluh tahun.
   
   عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَرْأَةُ خَمْسِينَ سَنَةً لَمْ تَرَ حُمْرَةً إِلَّا أَنْ تَكُونَ امْرَأَةً مِنْ قُرَيْشٍ
Dari Abû ‘Abdillâh as berkata, "Apabila perempuan telah sampai kepada usia lima puluh tahun, dia tidak melihat darah, kecuali perempuan dari Quraisy." 

Masa haid paling sedikitnya tiga hari berturut-turut, dan maksimalnya sepuluh hari.

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ عَمَّارٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ أَقَلُّ مَا يَكُونُ الْحَيْضُ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ وَ أَكْثَرُ مَا يَكُونُ عَشَرَةُ أَيَّامٍ
Dari Mu‘âwiyah bin ‘Ammâr, dari Abû ‘Abdillâh as berkata, "Minimalnya haid itu tiga (hari) dan maksimalnya sepuluh hari." 

Jika seorang muslimah ragu, apakah telah sampai usia dewasa atau belum? Apabila dia melihat darah yang memiliki sifat-sifat darah haid, maka darah tersebut dihukumkan sebagai darah haid, dan itu merupakan tanda dewasanya.

Darah yang diketahui sebagai darah haid, apabila terhenti setelah sepuluh hari, maka seluruhnya adalah darah haid walau-pun jumlah harinya bertambah dari jumlah hari yang biasa. Tetapi apabila melebihi dari sepuluh hari sedangkan muslimah tersebut adalah orang yang mempunyai kebiasaan haid yang teratur, maka haidnya adalah pada hari-hari teratur itu, dan selebihnya adalah darah istihâdhah, dan dia wajib membayar shalat yang ditinggalkannya.
Apabila perempuan itu bukan orang yang mempunyai kebiasaan haid yang teratur, maka dia harus mengamati darah tersebut. Seandainya darah itu mempunyai sifat-sifat darah haid, maka ia dianggap darah haid, dan apabila tidak, maka darah itu hanyalah darah istihâdhah, dan dia wajib membayar shalatnya yang dia tinggalkan.

Apabila pada seluruh hari itu sifat darahnya sama, maka dia mesti merujuk kepada kebiasaan keluarganya. Apabila dia tidak mempunyai keluarga atau keluarganya itu bukan perempuan yang punya kebiasaan haid yang teratur, dia memilih untuk menjadikan dari setiap bulan tiga hari, enam hari atau tujuh hari haid. Jika dia adalah muslimah yang mempunyai kebiasaan haid yang teratur, namun jika dia lupa terhadapnya, dia jangan kembali kepada kebiasaan keluarganya, tetapi dia harus merujuk kepada sifat-sifat darah, jika sifat-sifat darah itu sama pada semua hari, dia memilih untuk menetapkan haid antara tiga hari, enam hari, atau tujuh hari.

Terbuktinya kebiasaan itu adalah seorang perempuan melihat darah dua kali yang semisal dalam dua bulan berturut-turut. Yang dimaksud dengan semisal itu ialah baik dari sisi waktu maupun jumlah harinya sama; atau dari sisi waktunya saja, atau dari sisi jumlah bilangan harinya saja. Dalam hal ini kita bagi tiga:

1.   Waqtiyyah wa ‘adadiyyah (teratur secara waktu dan bilangan hari), yakni perempuan melihat darah dua kali yang semisal dari sisi waktu dan jumlah bilangan hari dalam dua bulan berturut-turut, yaitu misalnya dia me-lihat darah pada awal bulan terus menerus hingga hari kelima dari bulan tersebut, demikian pula pada bulan berikutnya.
2.   Waqtiyyah saja, yaitu muslimah yang melihat darah dua kali yang semisal dari sisi waktunya saja, tidak dari jumlah harinya, yaitu misalnya dia melihat darah pada awal bulan terus menerus lima hari, dan dia melihatnya lagi pada bulan berikutnya namun haidnya itu lebih atau kurang dari lima hari, misalnya tujuh atau tiga hari.
3.   ‘Adadiyyah saja, yaitu muslimah yang melihat darahnya dua kali yang semisal dari sisi jumlah harinya saja bukan dari sisi waktunya, misalnya dia melihatnya pada dua bulan berturut-turut, tujuh hari, hanya saja dia melihatnya pada bulan yang pertama di awal bulan sedangkan pada bulan berikutnya dia melihatnya pada hari yang kesepuluh.

Perempuan yang punya kebiasaan dalam haid, apabila dia melihat darah melebihi dari kebiasaannya, tetapi tidak sampai melewati sepuluh hari, maka semuanya adalah darah haid.
   Perempuan yang mempunyai kebiasaan dalam waktu, seandainya dia melihat darah dalam kebiasaannya itu setelah atau sebelumnya, jika semuanya itu tidak sampai melewati dari sepu-luh hari, maka semuanya adalah haid, dan apabila lebih dari sepuluh hari, maka selebihnya dianggap darah istihâdhah.

Hukum Haid
   Ada beberapa ketentuan yang mesti diperhatikan oleh perempuan yang sedang haid.
1.   Diharamkan baginya untuk menunaikan ibadah-ibadah yang persyaratannya adalah suci, seperti shalat, shaum, thawâf dan i‘tikâf.
2.   Diharamkan atasnya setiap yang diharamkan atas orang yang junub.
3.   Diharamkan melakukan hubungan suami-isteri pada hari-hari haid, namun untuk bersenang-senang asalkan selain itu diperbolehkan.
4.   Suami dilarang menceraikan isterinya yang sedang haid.
5.   Setelah haid berhenti, dia wajib mandi karena hendak melaksanakan amal-amal yang syaratnya mesti suci.
6.   Wajib membayar (meng-qadhâ) apa-apa yang luput pada hari-hari haid, seperti shaum pada bulan Ramadhân dan kewajiban yang lainnya, namun dia tidak wajib meng-qadhâ shalat fardhu yang ditinggalkannya pada saat haid.
7.   Muslimah yang sedang haid, pada setiap waktu shalat tiba diperintahkan berwudhu, kemudian dia menghadap ke kiblat dan berdzikir selama biasa dia shalat.
8.   Apabila perempuan telah suci dari darah haid pada akhir waktu shalat yang sekiranya waktu tersebut cukup untuk mandi dan wudhu dan melaksanakan yang lainnya dari mukadimah shalat serta untuk mendapatkan satu raka‘at atau lebih, maka wajib atasnya menunaikan shalat tersebut pada waktu itu juga. Dan seandainya dia tidak mengerjakannya, maka wajib atasnya untuk meng-qadhâ-nya pada waktu lain.
9.   Apabila seorang perempuan terjadi haid setelah masuk waktu shalat sedangkan waktu sebelum terjadi haid itu cukup untuk menunaikan shalat, tetapi dia tidak segera menunaikannya sehingga haid datang, maka dia wajib membayar shalat tersebut, bahkan ahwath wujûbiyy (kehati-hatian yang sifatnya mesti) untuk membayarnya sekali-pun waktu hanya cukup untuk bersuci dan mendirikan shalat tanpa bisa melaksanakan syarat-syarat yang lain.
10.   Boleh membaca Al-Quran, kecuali sûrah-sûrah ‘azîmah (sûrah yang di dalamnya ada ayat sajdah, dan kalau kita membacanya wajib sujud). Sûrah-sûrah ‘azîmah itu ada empat, yaitu sûrah Al-Najm, Al-Sajdah, Fushshilat dan Al-‘Alaq. Dan perempuan yang sedang haid boleh memuji Allah 'azza wa jalla.
11.   Boleh mengambil sesuatu dari masjid, tetapi tidak boleh meletakkan sesuatu.
12.   Perempuan yang telah suci dari darah haid boleh digauli suaminya walaupun dia belum melaksanakan mandi wajib, namun hal itu hukumnya makrûh.

Catatan
Perempuan yang sedang haid apabila berada di Al-Madinah dan dia ingin berhenti dari haidnya, dia bisa datang ke samping Masjid Nabi saw sebelah kiri, kemudian dia berdiri di tempat berdirinya Jabra`îl as (pintu Jabra`îl), kemudian dia menghadap ke arah kiblat dan di situ dia berdoa dengan doa berikut, insyâ`allâh darah haidnya akan berhenti.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ, أَوْ تَسَمَّيْتَ بِهِ ِلأَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ, أَوْ هُوَ مَأْثُوْرٌ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ. وَ أَسْأَلُكَ بِسْمِكَ اْلأَعْظَمِ اْلأَعْظَمِ اْلأَعْظَمِ, وَبِكُلِّ حَرْفٍ أَنْزَلْتَهُ عَلىَ مُوْسَى, وَبِكُلِّ حَرْفٍ أَنْزَلْتَهُ عَلىَ عِيْسَى, وَ بِكُلِّ حَرْفٍ أَنْزَلْتَهُ عَلىَ مُحَمَّدٍ صَلَوَاتُكَ عَلَيْهِ وَ آلِهِ, وَ عَلَى أَنْبِيَاءِ اللهِ إِلاَّ أَذْهَبْتَ عَنِّي هَذََا الدَّمَ
Allâhumma innî as`aluka bikullismin huwa lak, au tasammaita bihi li`ahadin min khalqik, au huwa ma`tsûrun fî ‘ilmil ghaibi ‘indak, wa as`aluka bismikal ‘azhîmil a‘zhamil a‘zham, wa bikulli harfin anzaltahu ‘alâ mûsâ, wa bikulli harfin anzaltahu ‘alâ ‘îsâ, wa bikulli harfin anzaltahu ‘alâ muhammadin shalawâtuka ‘alaihi wa ãlih, wa ‘alâ anbiyâ`illâhi illâ adzhabta ‘annî hâdzad dam.
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama-Mu, atau dengannya Engkau namai bagi salah satu dari makhluk-Mu, atau nama yang tersimpan di dalam ilmu ghaib di sisi-Mu. Dan aku memohon dengan nama-Mu yang paling agung yang paling agung yang paling agung, dan dengan setiap huruf yang Engkau turunkan kepada Mûsâ, dan dengan setiap huruf yang Engkau turunkan kepada ‘Îsâ dan dengan setiap huruf yang Engkau turunkan kepada Muhammad shalawât-Mu baginya dan keluarganya dan bagi para nabi Allah melainkan Engkau hilangkan darah (haid) ini dariku. 
« Edit Terakhir: Juni 03, 2013, 05:57:45 AM oleh Abu Zahra »
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
1405 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 24, 2013, 07:20:06 PM
oleh Abu Zahra
2 Jawaban
1557 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 01, 2013, 12:39:20 PM
oleh Abu Zahra
1 Jawaban
971 Dilihat
Tulisan terakhir November 29, 2015, 12:25:54 AM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
1179 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 01, 2013, 12:53:27 PM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
1056 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 01, 2013, 12:58:33 PM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
1187 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 01, 2013, 01:10:05 PM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
1090 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 01, 2013, 01:11:48 PM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
1348 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 03, 2013, 06:05:28 AM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
1187 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 03, 2013, 06:17:07 AM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
1163 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 03, 2013, 06:25:10 AM
oleh Abu Zahra

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan