Penulis Topik: RUKUN, WAJIB....[1]  (Dibaca 1124 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Abu Zahra

RUKUN, WAJIB....[1]
« pada: Juni 13, 2013, 06:03:01 AM »
RUKUN, WÂJIB, SUNNAH, MAKRÛH, HARÂM DAN MUBÂH DALAM SHALAT

Kewajiban-kewajiban yang berkenaan dengan shalat, semuanya ada 11 (sebelas): 1. Niyyah, 2. Qiyâm, 3. Takbîratul Ihrâm, 4. Qirâ`ah, 5. Rukû‘, 6. Sujûd, 7. Dzikr, 8. Tasyahhud, 9. Salâm, 10. Tartîb, 11. Muwâlâh. Lima yang pertama adalah rukun dengan makna bahwa menambahnya atau menguranginya baik dengan sengaja maupun lupa akan menjadikan batal shalat, dan selebihnya hukumnya wajib bukan rukun, maka menambahnya atau menguranginya dengan sengaja membatalkan shalat, tetapi jika lupa tidak. Selanjutnya akan kita bahas satu persatu dalam shalat zhuhur berikut ini.

1. Niyyah (Niat)
Niat adalah sengaja melakukan suatu perbuatan, niat tidak diucapkan dengan perkataan, sebab tempatnya di dalam hati. Nabi saw dan Ahlulbaitnya tidak pernah mengucapkan atau melafazhkan niat shalat, baik shalat fardhu maupun shalat nâfilah. Niat mendirikan shalat karena Allah adalah sengaja melakukannya dengan maksud menjalankan perintah-Nya serta untuk mendekatkan diri atau taqarrub kepada-Nya. Niat mengerjakan ajaran Allah itu ada tiga tingkatan.
   Tingkatan yang paling tingginya adalah bermaksud melaksanakan perintah atau ajaran Allah, karena memang Dia yang maha tinggi ahlinya untuk diibadati dan dipatuhi karena syukur dan cinta atas karunia dan kenikmatan yang Dia curahkan. Inilah yang diisyaratkan oleh Imam ‘Ali bin Abî Thâlib as.

   قَالَ أَمِيْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ وَ سَيِّدُ الْمُوَحِّدِيْنَ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِ مَا عَبَدْتُكَ خَوْفًا مِنْ نَارِكَ وَ لاَ طَمَعًا فِي جَنَّتِكَ لَكِنْ وَجَدْتُكَ أَهْلاً لِلْعِبَادَةِ فَعَبَدْتُكَ. وَ مَنْ لَمْ يَعْرِفْ مِنَ اللهِ سِوَى كَوْنِهِ إِلَهًا صَانِعًا لِلْعَالَمِ قَادِرًا قَاهِرًا عَالِمًا وَ أَنَّ لَهُ جَنَّةٌ يُنْعِمُ بِهَا الْمُطِيْعِيْنَ وَ نَارًا يُعَذِّبُ بِهَا الْعَاصِيْنَ فَعَبَدَهُ لِيَفُوزَ بِجَنَّتِهِ أَوْ يَكُونُ لَهُ النَّجَاةُ مِنْ نَارِهِ أَدْخَلَهُ اللهُ تَعَالَى بِعِبَادَتِهِ وَ طَاعَتِهِ الْجَنَّةَ وَ أَنْجَاهُ مِنَ النَّارِ لاَ مَحَالَةَ
   Amîrul Mu`minîn wa Sayyidul Muwahhidîn shalawâtullâhi 'alaih berkata, "Aku tidak mengabdi kepada-Mu karena semata-mata takut dari api neraka-Mu, dan tidak pula karena semata-mata sangat ingin pada surga-Mu, tetapi aku mendapatkan-Mu memang ahli untuk diibadati lalu aku mengabdi kepada-Mu.
   Dan siapa yang tidak mengenal dari Allah selain keadaan-Nya sebagai Tuhan yang mencipta alam semesta maha kuasa maha menga-lahkan lagi maha tahu dan bahwa Dia mempunyai surga yang dengannya Dia memberikan kenikmatan kepada orang-orang yang taat (kepada-Nya), dan neraka yang dengannya Dia menyiksa orang-orang yang tidak taat, lalu dia mengabdi kepada-Nya untuk mendapatkan surga-Nya atau untuk memperoleh keselamatan dari api neraka-Nya, niscaya dengan kemestian Allah yang maha tinggi memasukkannya dengan pengabdiannya dan ketaatannya itu ke dalam surga dan menyelamatkannya dari api neraka.”   
   Dan tingkatan yang sedangnya atau yang rendahnya adalah dengan maksud mendapatkan pahala-Nya dan diangkat siksa-Nya, yaitu bahwa seseorang berniat dalam melaksanakan perintah-Nya itu semata-mata dengan harapan mendapatkan surga-Nya dan dijauhkan dari api neraka-Nya.

2. Qiyâm (Berdiri)
Berdiri itu menghadap ke arah kiblat. Dalam menghadap ke kiblat ini, jari-jari kaki juga dihadapkan ke kiblat, tidak dimiringkan ke luar ataupun ke dalam. Jarak di antara kedua telapak kaki yang minimalnya selebar tiga jari tangan yang direnggangkan, dan kalau kedua telapak kaki direnggangkan, maka jangan lebih dari sejengkal. Adapun bagi muslimah, maka kedua telapak kakinya dirapatkan.
Berdiri ada yang termasuk kepada rukun, yaitu berdiri pada saat mengucapkan takbîratul ihrâm dan berdiri yang bersambung dengan ruku‘, kalaulah seseorang melakukan takbîratul ihrâm sambil duduk atau pada saat bangkit, maka batal shalatnya walaupun dalam keadaan lupa, demikian pula kalau dia melakukan ruku‘ bukan berangkat dari berdiri, misalnya dia membaca sûrah sambil duduk kemudian ruku‘, atau duduk setelah membaca sûrah atau pada saat membaca sûrah dan dia ruku‘ dengan cara bangkit langsung melengkung ke posisi ruku‘, atau kalau dia duduk kemudian berdiri melengkung dengan tidak tegak, kemudian melakukan ruku‘ walaupun semuanya dan bukan rukun, yaitu (1) berdiri pada saat membaca sûrah dan (2) berdiri setelah bangkit dari ruku‘.
Berdiri yang dianjurkan, yaitu (1) berdiri pada saat membaca doa qunût pada raka‘at kedua, dan (2) pada saat takbîr untuk ruku‘.

Beberapa Perkara yang Dipandang Baik dalam Qiyâm
1.   Isdâlul mankibain (menurunkan kedua bahu, tidak ditariknya ke atas).
2.   Irsâlul yadain (melepaskan kedua tangan dari badan).
3.   Meletakkan kedua telapak tangan atas kedua paha berhadapan dengan kedua lutut, telapak tangan kanan di atas paha kanan dan telapak tangan kiri di atas paha kiri.
4.   Menggenggamkan semua jari kedua telapak tangan.
5.   Pandangan mata terfokus ke tempat sujud (tempat meletakkan dahi).
6.   Berdiri dengan tegak lurus (intishâb), yaitu tulang-tulang punggung dan lehernya.
7.   Kedua telapak kaki mesti dihadapkan ke kiblat dan ujungnya disejajarkan, dan direnggangkan di antara keduanya sejarak tiga jari tangan yang direnggangkan hingga sejengkal.
8.   Dengan merendah diri dan khusyu‘ seperti seorang budak yang hina-dina yang sedang berdiri dihadapan majikannya yang maha agung. 

3. Takbîratul Ihrâm
Takbîratul ihrâm ini disebut pula takbîratul iftitâh, ia adalah bagian pertama yang wajib untuk shalat, sehubungan dengan keadaan niat sebagai syarat, dan dengannya diharamkan bagi orang yang shalat melakukan hal-hal yang meniadakan kesempurnaan shalat, dan jika meninggalkannya baik dengan sengaja ataupun lupa, maka hal itu membatalkan shalat, demikian pula dengan menambahnya. Kalaulah seseorang ber-takbîr dengan tujuan iftitâh dengan cara yang benar, kemudian dia ber-takbîr de-ngan maksud ini untuk kedua kalinya, maka batal shalatnya, dan dia perlu takbîr yang ketiga. Dalam takbîratul ihrâm kalimatnya mesti Allâhu akbar (اَللهُ أَكْبَرُ) dengan tidak merubahnya atau menggantinya.
Dalam takbîratul ihrâm, dua telapak tangan diangkat, jari-jemarinya dirapatkan sambil membaca takbîr sampai ujung jarinya ke dekat ujung telinga yang paling bawah, kedua telapak tangan dihadapkan ke arah kiblat, dan membaca takbîr-nya dipanjangkan dari mulai tangan diangkat hingga kembali lagi ke posisi semula. Sebelum takbîratul ihrâm atau setelahnya dianjurkan membaca takbîr sebanyak enam kali, dan takbîr enam kali ini dinamakan takbîr tawajjuh.

4. Qirâ`ah (Membaca Fâtihah Al-Kitâb dan Sûrah)
Hukum membaca Al-Fâtihah dalam shalat adalah wajib, karena jika seseorang tidak membacanya dengan sengaja, maka tidak ada shalat baginya.

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ ع قَالَ سَأَلْتُهُ عَنِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فِي صَلاَتِهِ قَالَ لاَ صَلاَةَ لَهُ إِلاَّ أَنْ يَقْرَأَ بِهَا فِي جَهْرٍ أَوْ إِخْفَاتٍ
Dari Muhammad bin Muslim dari Abû Ja‘far as dia ber-kata: Saya telah bertanya kepada beliau tentang orang yang tidak membaca Fâtihah Al-Kitâb (nama lain bagi Al-Fâtihah) di dalam shalatnya. Beliau berkata, "Tidak ada shalat baginya kecuali dia membacanya dalam shalat jahr atau ikhfât."
Dan membaca sûrah setelah Al-Fâtihah dalam shalat mak-tûbah tidak boleh kurang dari satu sûrah dan tidak boleh lebih darinya.

عَنْ مَنْصُورِ بْنِ حَازِمٍ قَالَ قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ ع لاَ تَقْرَأْ فِي الْمَكْتُوبَةِ بِأَقَلَّ مِنْ سُورَةٍ وَ لاَ بِأَكْثَرَ
Dari Manshûr bin Hâzim berkata: Abû ‘Abdillâh as berkata, "Janganlah kamu baca di dalam (shalat) maktûbah (setelah membaca Al-Fâtihah) kurang dari satu sûrah dan jangan pula lebih." 
Pada shalat shubuh dan pada dua raka‘at pertama dari semua shalat fardhu, wajib membaca sûrah Al-Fâtihah dan sûrah yang lainnya satu sûrah penuh, kecuali dalam keadaan sakit, atau dalam kesempitan waktu, atau dalam ketakutan dan yang sepertinya, boleh mencukupkan dengan Al-Fâtihah saja dan tidak membaca sûrah yang lain.
Dalam pembacaan sûrah, tidak boleh didahulukan atas Al-Fâtihah, kalaulah seseorang mendahulukan pembacaan sûrah atas Al-Fâtihah dengan sengaja, maka batal shalatnya.
Membaca sûrah tidak termasuk kepada rukun shalat, jika seseorang meninggalkannya karena lupa, lalu teringat setelah masuk ruku‘, maka sah shalatnya, tetapi dia harus lakukan dua sujud sahwi dua kali: Satu kali untuk sûrah Al-Hamdu (Al-Fâtihah) dan satu kali lagi buat sûrah yang lain.
Kalau dia meninggalkan salah satunya karena lupa, kemudian teringat setelah masuk ruku‘, maka dia lakukan dua sujud sahwi. Kalau dia tinggalkan keduanya atau salah satunya karena lupa, kemudian teringat dalam qunût atau setelahnya sebelum sampai ke batasan ruku‘, maka dia kembali dan membacanya. Kalau dia tinggalkan Al-Hamdu (Al-Fâtihah) karena lupa, lalu teringat setelah masuk bacaan sûrah yang lain, maka dia kembali dan membacanya, kemudian membaca sûrah yang lain.

Qirâ`ah pada Dua Raka‘at Terakhir
   Pada dua raka‘at terakhir bagi imam membaca Al-Fâtihah dan bagi ma`mûm (orang yang shalat di belakang imam) membaca tasbîh. Dan bagi orang yang shalat sendirian (tidak berja-ma‘ah) adalah pilihan; membaca Al-Fâtihah atau membaca tasbîh.

Jahr dan Sirr
   Jahr itu maknanya mengeraskan bacaan, dan sirr atau ikhfât adalah kebalikannya.
Dari shalat yang lima yang dikeraskan bacaan sûrahnya, yaitu shalat maghrib, ‘isya, shubuh, shalat Jumat dan shalat zhuhur pada hari Jumat. Dan shalat yang di-sirr-kan dalam bacaan sûrahnya ialah shalat zhuhur selain hari Jumat dan shalat ‘ashar. Dan mengeraskan bacaan sûrah itu bagi laki-laki, tidak bagi pe-rempuan.
   Dan yang dimaksud dengan mengeraskan bacaan itu, yaitu tidak terlalu keras, tetapi juga tidak terlalu tersembunyi hingga tidak kedengaran. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

   وَلاَ تَجْهَرْ بِصَلاَتِكَ وَلاَ تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَالِكَ سَبِيْلاً
Dan janganlah kamu mengeraskan (bacaan) dengan shalatmu dan janganlah pula menyembunyikannya, tetapi carilah jalan tengah di antara keduanya. 
   
   عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سِنَانٍ قَالَ قُلْتُ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع عَلَى الْإِمَامِ أَنْ يُسْمِعَ مَنْ خَلْفَهُ وَ إِنْ كَثُرُوا فَقَالَ لِيَقْرَأْ قِرَاءَةً وَسَطاً يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَى وَ لا تَجْهَرْ بِصَلاتِكَ وَ لا تُخافِتْ بِها
Muhammad bin Sinân berkata: Saya telah bertanya kepada Abû ‘Abdillâh as, "Apakah wajib bagi imam memperdengarkan bacaan kepada orang-orang yang ada di belakangnya sekalipun mereka itu banyak?" Beliau berkata, "Hendaklah dia membaca dengan bacaan yang sedang. Allah yang maha berkah dan maha tinggi berfirman (yang artinya), Dan janganlah kamu mengeraskan dengan shalatmu dan jangan pula menyembunyikannya." 

Mustahabbât (Perkara-perkara yang Disukai/Dianjurkan)   
1.   Membaca kalimat isti‘âdzah: A‘ûdzu billâhi minasy syaithânir rajîm (Aku berlindung kepada Allah dari syaithân yang terkutuk), atau kalimat: A‘ûdzu billâhis samî‘il ‘alîmi minasy syaithânir rajîm (Aku berlindung kepada Allah yang maha mendengar lagi maha tahu dari syaithân yang terkutuk), dibaca dengan suara yang tidak dikeraskan. 
2.   Mengeraskan bacaan basmalah untuk Al-Hamdu dan sûrah yang lain dalam shalat zhuhur dan ‘ashar dan pada dua raka‘at terakhir jika membaca Al-Hamdu, bahkan seperti itu pula dalam membacanya di belakang imam hing-ga dalam shalat yang bacaannya dikeraskan. Tetapi dalam shalat yang dikeraskan, hukum mengeraskan basmalah itu wajib bagi imam dan munfarid. 
3.   Membaca sûrah dengan tartîl, yaitu dengan tenang dan menjelaskan bunyi hurufnya (makhraj-nya).
4.   Membaguskan bacaan dengan tidak menyanyikannya.
5.   Waqaf atau berhenti pada fasal-fasal ayat.
6.   Memperhatikan kandungan makna ayat yang dibaca dan mengambil pelajarannya.
7.   Memohon kepada Allah ketika membaca ayat karunia dan azab dengan permohonan yang layak.
8.   Setelah membaca sûrah Al-Ikhlâsh, dianjurkan mengucapkan: Kadzâlikallâhu rabbî (begitulah Allah Rabb-ku).
9.   Melakukan saktah (diam sebentar sekedar menarik nafas) pada tiga keadaan: Antara Al-Fâtihah dan sûrah yang lain, antara sûrah dan qunût dan antara sûrah dan ruku‘.
10.   Membaca: Alhamdu lillâhi rabbil ‘âlamîn dengan sirr untuk ma`mûm dan munfarid setelah Al-Fâtihah dan dilarang membaca: Ãmîn.
11.   Membaca sûrah Al-Naba`, Al-Insân, Al-Ghâsyiyah dan Al-Balad dan sûrah-sûrah yang semisalnya pada shalat shubuh.
12.   Membaca sûrah Al-A‘lâ, Al-Syams dan sûrah-sûrah yang semisalnya pada shalat zhuhur dan ‘isya.
13.   Membaca Al-Nashr dan Al-Takâtsur dalam shalat ‘ashar dan maghrib.
14.   Membaca sûrah Al-Jumu‘ah pada raka‘at pertama dan Al-Munâfiqûn pada raka‘at kedua dalam shalat zhuhur dan ‘ashar pada hari Jumat. Juga membaca dua sûrah tersebut pada shalat shubuh hari Jumat, atau di raka‘at per-tama membaca sûrah Al-Jumu‘ah dan pada raka‘at kedua membaca Al-Ikhlâsh.
15.   Membaca Al-Qadr pada raka‘at pertama dan membaca Al-Ikhlâsh di raka‘at kedua pada setiap shalat farîdhah. 
16.   Dalam shalat shubuh pada hari Senin dan Kamis membaca sûrah Al-Insân pada raka‘at pertama dan Al-Ghâsyiyah pada raka‘at kedua.
17.   Membaca sûrah Al-Ikhlâsh pada raka‘at pertama dan Al-Kâfirûn pada raka‘at kedua dalam tujuh shalat.
18.   Bila membaca ayat Qul yâ ayyuhal kâfirûn, maka ucap-kan: Yâ ayyuhal kâfirûn (Wahai orang-orang yang kâfir); bila membaca Lâ a‘budu mâ ta‘budûn, ucapkanlah: A‘budullâha wahdah (Aku hanya mengabdi kepada Allah); jika membaca Lakum dînukum wa liya dîn, ucapkanlah: Rabbiyallâhu wa dîniyal islâm (Tuhanku Allah dan ajaranku Islam). 

Beberapa Perkara yang Makrûh dalam Qirâ`ah
1.   Makrûh apabila tidak pernah membaca sûrah Al-Ikhlâsh pada seluruh shalat fardhu yang lima dalam sehari semalam.
2.   Makrûh membaca Al-Ikhlâsh dengan satu nafas.
3.   Makrûh membaca sûrah yang sama pada kedua raka‘at, kecuali sûrah  Al-Ikhlâsh.
4.   Membaca dua sûrah atau lebih dalam satu raka‘at, kecuali dalam shalat nâfilah. 

Ringkasan yang Berkenaan dengan Qirâ`ah
1.   Dalam shalat farîdhah, seseorang tidak boleh membaca salah satu sûrah ‘Azîmah, kalau dia membacanya dengan sengaja, dia mesti memulai lagi shalatnya sekalipun dia hanya membaca sebagian atau bahkan basmalahnya saja. 
2.   Jika dia membacanya karena lupa, lalu teringat sebelum sampai kepada ayat sajdah, maka wajib dia pindah ke sûrah yang lain. Akan tetapi apabila dia telah melewati setengahnya, atau dia teringat setelah membaca ayat sajdah atau setelah selesai membaca sûrah, jika dia belum ruku‘, maka demi kehati-hatiannya dia lakukan sujud tilâwah dengan isyarat sekalipun dalam shalat, dan membaca sûrah yang lainnya dengan niat qurbah setelah isyarat kepada sujud tilâwah atau dengan melakukannya, kemudian dia teruskan shalatnya secara langsung. Demikian pula kalau ingatnya telah masuk ruku‘ dan dia belum sujud tilâwah, dia isyarat kepadanya atau sujud tilâwah sedangkan dia dalam shalat, lalu dia sempurnakan dan dia teruskan shalatnya.
3.   Dalam shalat nawâfil, boleh dibaca sûrah-sûrah ‘azîmah, lalu seseorang sujud setelah membaca ayat sajdahnya sedangkan dia dalam shalat, kemudian dia sempurnakan shalatnya.
4.   Boleh beralih dari satu sûrah ke sûrah yang lain sebelum mencapai setengahnya, kecuali sûrah Al-Kâfirûn dan Al-Ikhlâsh, maka tidak boleh berpindah dari keduanya ke sûrah yang lain, bahkan dari salah satunya (Al-Ikhlâsh) ke sûrah yang lain jika telah memulai membacanya walaupun baru membaca basmalahnya saja. Namun boleh beralih dari keduanya ke sûrah Al-Jumu‘ah dan Al-Munâfiqûn khusus pada hari Jumat, sebab dianjurkan pada shalat zhuhur atau shalat Jumat pada raka‘at pertama membaca Al-Jumu‘ah dan pada raka‘at kedua Al-Munâfiqûn.
5.   Tidak ada keharusan untuk menentukan sûrah sebelum memulainya menurut riwayat yang paling kuat.
6.   Kalau seseorang menentukan basmalah untuk sebuah sûrah, kemudian dia lupa sûrah apa yang ditentukannya itu, maka dia wajib mengulangi basmalah buat sûrah yang dia kehendaki. Kalau dia tentukan basmalah untuk salah satu dari dua sûrah: Al-Ikhlâsh atau Al-Kâfirûn dan dia tidak tahu bahwa basmalah itu untuk sûrah yang mana, dia ulangi basmalah, dan dia baca salah satunya.
7.   Bacaan sûrah pada shalat zhuhur dan ‘ashar mesti di-sirr-kan (tidak dikeraskan), kecuali bacaan basmalahnya.
8.   Basmalah bagian dari setiap sûrah, karena itu wajib dibaca, kecuali sûrah Barâ`ah atau Al-Taubah.
9.   Bagi kaum lelaki wajib mengeraskan bacaan dalam shalat shubuh dan pada dua raka‘at yang pertama dalam shalat maghrib dan ‘isya, dan wajib menyembunyikan bacaan dalam shalat zhuhur dan ‘ashar. Apabila seseorang mengeraskan bacaan pada shalat yang seharusnya disembunyikan atau sebaliknya dengan sengaja, maka batal shalatnya. Adapun apabila lupa atau karena tidak tahu, maka secara hukum adalah sah.
10.   Pada raka‘at ketiga dan keempat boleh memilih antara membaca sûrah Al-Hamdu dan tasbîh yang empat yaitu: Subhânallâh, walhamdu lillâh, walâ ilâha illallâh, wallâhu akbar.     
11.   Jika seseorang pada raka‘at ketiga dan keempat lupa baca Al-Hamdu atau tasbîh dan dia teringat setelah sampai kepada batasan ruku‘, maka sah shalatnya, namun dia melakukan dua sujud sahwi atas kekurangannya, dan kalau ingat sebelum itu, dia kembali berdiri.
12.   Tidak boleh mengeraskan bacaan secara berlebihan seperti berteriak, dan yang jelas hal itu membatalkan.
13.   Ketika berdiri dalam shalat, kedua tangan tidak boleh disedekapkan (takattuf). 
14.   Banyak kaum muslim yang tidak mengambil ajarannya dari Ahlulbait Nabi, namun di dalam shalatnya mereka tidak bersedekap, seperti kaum muslim penganut madzhab mâliki, madzhab hâdawî dan yang lainnya. 
15.   Jika membaca sûrah Al-Dhuhâ dalam shalat, maka sûrah Al-Insyirâh mesti dibaca pula bersama basmalahnya, ka-rena kedua sûrah itu dianggap satu sûrah; dan juga apabila kita membaca sûrah Al-Fîl, maka sûrah Al-Quraisy harus dibaca juga bersama basmalahnya, sebab kedua sûrah itu dihitung satu sûrah.
« Edit Terakhir: Juni 13, 2013, 06:17:02 AM oleh Abu Zahra »
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
1188 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 13, 2013, 06:19:18 AM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
970 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 13, 2013, 06:26:15 AM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
939 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 13, 2013, 06:27:47 AM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
918 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 13, 2013, 06:29:30 AM
oleh Abu Zahra
7 Jawaban
1416 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 01, 2014, 03:29:44 PM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
1163 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 23, 2014, 09:22:32 PM
oleh Kang Asep
11 Jawaban
1721 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 04, 2015, 01:18:45 PM
oleh elfan
3 Jawaban
994 Dilihat
Tulisan terakhir September 05, 2015, 08:08:39 AM
oleh joharkantor05
0 Jawaban
333 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 16, 2016, 06:47:30 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
209 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 15, 2016, 01:27:39 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan