Penulis Topik: Problematika Ilmu Hadis  (Dibaca 296 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 483
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Problematika Ilmu Hadis
« pada: Desember 14, 2017, 05:48:47 AM »
Problematika Ilmu Hadis
====================
1. Sanad
1.1. Jaminan Kemurnian Ajaran Islam
1.2. Sanad Hadis
1.2.1. Perbedaan Pernilaian Terhadap Musnad
1.2.1.1. Perawi Rafidhah Dalam Musnad Ahmad Bin Hanbal
1.2.1.2. Pandangan Ahli Hadis Sunni Terhadap Syiahisme
1.3. Kebenaran Ajaran Yang Bersanad
1.4. Akhlak Mereka Yang Bersanad
1.5. Tiga Kelompok Yang Bersanad
====================

1.2.1.1. Perawi Rafidhah Dalam Musnad Ahmad Bin Hanbal
Edisi : 14 Desember 2017, 05:45:45

Salah satu hal yang menghilangkan minat saya di dalam mempelajari ilmu hadits adalah munculnya fenomena saling mendhaifkan hadis dari satu kelompok madzhab terhadap kelompok mazhab lainnya.

Salah seorang ustadz, yang mempunyai gelas "Master Agama" berkata, "Salah satu syarat shahehnya hadis, seluruh perawinya harus seorang jujur, shaleh dan adil. Apabila ada satu orang saja yang melaporkan bahwa dia berdusta, maka kesahehahan hadits nya batal."

Lalu ustadz ini menceritakan imam Bukhari yang batal belajar hadits dari seseorang karena melhiat orang itu membohongi anak ayam.

Kemudian saya berkata kepadanya, "jika demikiannya, tak akan ada hadis yang selamat."

"Maksudnya ?" tanya ustadz.

"Saya membaca banya riwayat, di mana para perawi hadis yang dinyatakan shaheh oleh satu orang atau sekelomok orang, tapi dituding sebagai hadits dhaif oleh kelompok lainnya, karena memuat perawi yang pendusta." demikian saya katakan.

Lalu saya menceritakan riwayat Umar bin Khatab yang menampar Abu Hurairah, mengatakanya bahwa Abu Hurairah berdusta serta melarangnya untuk meriwayatkan hadis.

"Baca riwayat di mana ? Itu pasti riwayat palsu." kata ustadz.

"Saya tidak mencatat sumbernya. Tapi saya tanya saja kepada ustadz yang ahlinya agama, benarkah ada riwayat seperti itu. Jika kata ustadz tidak ada, maka pastilah tak ada. Jika kata ustadz palsu, maka pastilah palsu. Demikian pula ustadz lainnya, ketika menyebutnya shaheh, maka shaheh. Problemnya, amatlah mudah satu pihak menilai sesuatu itu shaheh dan lainya lebih mudah menuduhnya dhaif." demikian saya katakan.

Kemudian saya menceritakan kisah mubaligh LDII yang mendhaifkan hadits di dalam Turmudzi, yang berbunyi, "Hadza Ali, imamukum, khalifakum, wawaliyukum mim ba`dii." (Inilah Ali, imam kalian, khalifah kalian dan wali kalian setelahku) Imam Turmudiz menjelaskan status tersebut, "Hadzaa haditsun hasan gharib." (Hadis ini baik, tetapi asing). Mubaligh tersebut mengatakan, "hadis ini dhaif. Kenapa ? Karena salah satu perawi nya adalah Jakfar Shadiq. Siapa itu Jakfar Shadiq ? Dia seorang syiah. Orang syiah itu pendusta. Maka hadis ini dhaif." Dia sama sekali tidak mengenali bahwa imam Jakfar Shadiq adalah putra dari Muhammad al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein Ali bin Abi Thalib. Imam Jakfar cicir rasulullah saw, ulama terkemuka, bapak ilmu pengetahuan. Tapi dengan mudah mubaligh ini menuduhnya pendusta. Tidak pernah saya temukan seorang yang mendustakan imam Jakfar Shadiq, kecuali di kelompok ini.

Di dalam kutub sittah itu, termasuk dalam shaheh Bukhari Muslim, hampir seluruhnya memuat para perawi yang dituduh disebut-sebut sebagai Syiah Rafidah.  Salah satu contohnya yang saya catat adalah sebagai berikut :

Kutip : [1]
---------------------------
Ibnu Taimiyah berkata, "Sesungguhnya metoda Ahmad dalam menyusun kitab Musnad, jika ia melihat hadis palsu atau mendekati kategori palsu, maka dia tidak akan meriwayatkannya."

Ibnu Taimiyah secara gamblang telah menjelaskan bahwa semua riwayat yang terdapat dalam kitab Musnad Ahmad bin Hanbal tidak ada satupun yang mudhu (riwayat palsu) atapun daif (riwaya lemah). Sekarang mari kita lihat salah satu perawi yang terdapat dalam kitab Musnad Ahmad tersebut, sebagaimana telah diakui keshahihannya oleh Ibnu Taimiyah.

Imam Ahmad bin Handal mencatat sejumlah tujuh puluh tiga (73) hadis dalam Musnad nya yang berasal dari `Athaiyyah bin Sa`ad al Aufi, yaitu pada hadis nomor 3008, 4998, 5227,5521,5634,... 19346.

`Athiyyah Al Aufi dikenal sebagai Syiah Rafidhah.
======================

Memanglah catatan itu diperoleh dari salah satu buku Syiah. Akan tetapi, prindip Logika tidaklah dapat menilai sesuatu itu benar atau salah, karena sesuatu itu disebut  berasal dari syiah atau bukan syiah.

Kutipan di atas dapat bernilai benar atau salah. Untuk mengetahuinya, mari menyelidikinya dan jangan gegabah untuk menilainya.
___________________
1) Tim Ahlul Bait, "Syiah Menurut Syiah", hal, 80

« Edit Terakhir: Desember 14, 2017, 05:50:30 AM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
1978 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 29, 2012, 10:38:09 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1330 Dilihat
Tulisan terakhir September 17, 2012, 01:57:06 PM
oleh Kang Asep
32 Jawaban
9833 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 28, 2017, 01:42:02 AM
oleh Kang Asep
4 Jawaban
2477 Dilihat
Tulisan terakhir April 27, 2013, 05:38:58 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1012 Dilihat
Tulisan terakhir November 23, 2013, 07:26:11 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
493 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 18, 2016, 09:22:46 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
253 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 06, 2016, 10:49:45 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
156 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 18, 2016, 08:51:21 AM
oleh Kang Asep
3 Jawaban
300 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 29, 2016, 08:48:17 AM
oleh Goen
0 Jawaban
209 Dilihat
Tulisan terakhir September 22, 2016, 04:48:22 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan