Penulis Topik: Perceraian [3]  (Dibaca 930 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Abu Zahra

Perceraian [3]
« pada: September 11, 2013, 05:49:01 AM »
   
عَنْ خَطَّابِ بْنِ سَلَمَةَ قَالَ دَخَلْتُ عَلَيْهِ يَعْنِي أَبَا الْحَسَنِ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَ أَنَا أُرِيدُ أَنْ أَشْكُوَ إِلَيْهِ مَا أَلْقَى مِنِ امْرَأَتِي مِنْ سُوءِ خُلُقِهَا فَابْتَدَأَنِي فَقَالَ إِنَّ أَبِي كَانَ زَوَّجَنِي مَرَّةً امْرَأَةً سَيِّئَةَ الْخُلُقِ فَشَكَوْتُ ذَلِكَ إِلَيْهِ فَقَالَ لِي مَا يَمْنَعُكَ مِنْ فِرَاقِهَا قَدْ جَعَلَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلَيْكَ فَقُلْتُ فِيمَا بَيْنِي وَ بَيْنَ نَفْسِي قَدْ فَرَّجْتَ عَنِّي.
Dari Khaththâb bin Salamah berkata: Saya ma-suk kepada beliau yakni Abû Al-Hasan Mûsâ as, dan saya hendak mengadukan kepadanya masalah yang saya jumpai dari istriku dari keburukan akhlaknya, lalu beliau memulai kepadaku, beliau berkata, "Ayahku menikahkanku sekali dengan seorang perempuan yang bu-ruk akhlaknya, lalu saya adukan kepadanya, maka beliau berkata kepadaku, 'Apa yang menghalangimu untuk menceraikannya, sungguh Allah telah menjadikan hal itu (kekua-saan menceraikan) kepadamu."' Maka saya berkata, "Ter-hadap masalah yang ada antaraku dan diriku, sung-guh engkau telah melapangkan dariku." 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سِنَانٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ إِنَّ عَلِيّاً قَالَ وَ هُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ لَا تُزَوِّجُوا الْحَسَنَ فَإِنَّهُ رَجُلٌ مِطْلَاقٌ فَقَامَ رَجُلٌ مِنْ هَمْدَانَ فَقَالَ بَلَى وَ اللَّهِ لَنُزَوِّجَنَّهُ وَ هُوَ ابْنُ رَسُولِ اللَّهِ ص وَ ابْنُ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ ع فَإِنْ شَاءَ أَمْسَكَ وَ إِنْ شَاءَ طَلَّقَ.
Dari 'Abdullâh bin Sinân dari Abû 'Abdillâh as berkata, "Sesungguhnya 'Ali telah berkata di atas minbar, 'Janganlah kalian menikahkan Al-Hasan karena dia itu lela-ki yang suka memnceraikan istri (mithlâq).' Maka berdiri seorang lelaki dari Hamdân, lantas dia berkata, 'Tidak demi Allah, sungguh kami akan menikahkannya, dia itu putra Ra-sûlullâh saw dan putra Amîrul Mu`minîn as, maka jika dia mau dia tahan dan bila dia mau dia menceraikan.'" 
 
عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي الْعَلَاءِ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ إِنَّ الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ ع طَلَّقَ خَمْسِينَ امْرَأَةً فَقَامَ عَلِيٌّ ع بِالْكُوفَةِ فَقَالَ يَا مَعَاشِرَ أَهْلِ الْكُوفَةِ لَا تُنْكِحُوا الْحَسَنَ فَإِنَّهُ رَجُلٌ مِطْلَاقٌ فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ فَقَالَ بَلَى وَ اللَّهِ لَنُنْكِحَنَّهُ فَإِنَّهُ ابْنُ رَسُولِ اللَّهِ ص وَ ابْنُ فَاطِمَةَ ع فَإِنْ أَعْجَبَتْهُ أَمْسَكَ وَ إِنْ كَرِهَ طَلَّقَ.
Dari Yahyâ bin Abî Al-'Alâ dari Abû 'Abdillâh as berkata, "Sesungguhnya Al-Hasan bin 'Ali as telah men-thalâq lima puluh perempuan, lalu 'Ali as berdiri di Al-Kû-fah, lalu beliau berkata, 'Wahai penduduk Al-Kûfah, jangan-lah kalian menikahkan Al-Hasan, karena dia itu lelaki yang suka menceraikan istri, maka berdirilah seorang lelaki, lan-tas dia berkata, 'Tidak demi Allah, sungguh kami akan meni-kahkannya karena dia itu putra Rasûlullâh saw dan putra Fâthimah as, maka jika perempuan itu manarik hatinya dia mempertahankannya dan jika dia tidak suka dia mencerai-kannya." 

عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ صَبِيحٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ ثَلَاثَةٌ تُرَدُّ عَلَيْهِمْ دَعْوَتُهُمْ أَحَدُهُمْ رَجُلٌ يَدْعُو عَلَى امْرَأَتِهِ وَ هُوَ لَهَا ظَالِمٌ فَيُقَالُ لَهُ أَ لَمْ نَجْعَلْ أَمْرَهَا بِيَدِكَ.
Dari Al-Walîd bin Shabîh dari Abû 'Abdillâh as dia berkata: Saya telah mendengar beliau mengatakan, "Ada tiga yang ditolak doanya; salah satunya lelaki yang berdoa atas istrinya (mendoakan jelek atas istrinya) dan dia menjadi zalim kepadanya (dengan doa yang berlebihan), maka dikatakan kepadanya, Bukankah telah Kami jadikan urusannya di tanganmu?"   
Men-thalâq istri yang tidak baik tidaklah dibenci, bahkan jika dipertahankan hanya akan menambah do-sa dan dosa baik baginya atau bagi suaminya, maka thalâq merupakan solusi yang baik seandainya rumah tangga hanya menambah dosa.
   Imam Hasan as termasuk orang sering mence-raikan istri dan tentu tidak berdosa sedikit pun, karena menikah dengan perempuan-perempuan itu adalah keinginan si perempuan itu sendiri atau yang jelas ayah-ayah mereka sangat mendambakan putri-putri-nya itu dinikahi oleh Imam Hasan as, sebab beliau itu selain tampan juga orang yang sangat saleh, dan beli-au salah satu anggota Ahlulbait yang disucikan sesuci-sucinya, beliau adalah khalîfah Rasûlullâh saw setelah ayahandanya 'Ali bin Abî Thâlib as.
   Beliau sering menceraikan istri-istrinya, karena sangat banyak perempuan yang ingin menjadi istri-nya, hal ini barangkali dikarenakan beristri tidak boleh lebih dari empat orang istri, maka jika ada istri yang ditawarkan oleh orang tuanya, tentu beliau harus menceraikan dulu salah satunya supaya istrinya tetap empat orang. Maka thalâq beliau sama sekali tidaklah tercela atau dibenci. Adapun perkataan Imam 'Ali as kepada khalayak hanyalah mengkhawatirkan adanya keberatan dari pada para orang tua, namun ternyata ti-dak ada. Dan bahkan para orang tua merasa senang ji-ka anak perempuannya dinikahi oleh beliau as walau-pun nantinya mesti diceraikan.

3. Cerai Khulû'
   Jika lelaki punya kekuasaan thalâq atas istrinya, maka perempuan juga punya kekuasaan menceraikan suami yang disebut dengan khulû'. Secara bahasa baik thalâq maupun khulû' artinya melepaskan ikatan perni-kahan.
Bila si istri tidak suka kepada perilaku suaminya yang zalim dan dia tidak mau bersabar atasnya, se-mentara suaminya tidak mau menceraikannya, maka si istri bisa menceraikan suaminya dengan khulû', yai-tu di hadapan saksi dia mengembalikan mahar (atau nilainya) yang pernah diberikan oleh suaminya.

4. Cerai Maut
Perkara yang sering kali memisahkan antara su-ami dan istri adalah maut (kematian); jika salah satu-nya meninggal, maka dengan sendirinya ikatan perni-kahan di antara mereka berdua telah terputus.
Apabila suami yang meninggal dunia, maka istri wajib menunggu waktu (ber-'iddah), yaitu tidak segera menikah selama empat bulan sepuluh hari, dan setelah habis masa 'iddah-nya, dia bisa menikah lagi dengan laki-laki lain yang disukainya. Allah 'azza wa jalla berfirman.

وَ الَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَ يَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَ عَشْرًا فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ.
 Dan orang-orang yang meninggal dunia di anta-ramu dengan meninggalkan istri-istri, (hendaklah istri-istri itu) menangguhkan dirinya (ber-'iddah) empat bulan sepuluh hari, kemudian apabila telah habis masa 'iddah-nya, maka tidak ada dosa bagimu (para wali) tentang apa yang mereka perbuat pada diri-diri mereka menurut yang patut. Dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerja-kan. 

Hak Pengasuhan Anak
Selama anak dalam masa menyusu, hak ibunya dan hak ayahnya sama, tetapi jika telah diputus me-nyusunya, maka ayahnya lebih berhak kepadanya da-ripada ibunya.
   Jika ayahnya meninggal dunia, maka ibunya le-bih berhak kepadanya dari keluarga ayahnya.
Bila ayahnya mendapatkan perempuan yang mau menyusuinya dengan biaya yang lebih murah da-ri ibunya, dia berhak mengambilnya, tetapi bila ibunya lebih sayang kepada anaknya, maka dia harus membi-arkannya bersama ibunya.
   Ibunya lebih berkak kepada anaknya selama dia belum menikah lagi.
Bila lelaki menceraikan istrinya yang sedang ha-mil, maka dia wajib memberi nafkah kepadanya sela-ma kehamilannya, dan jika dia telah melahirkan, maka mantan suaminya wajib memberikan upah kepadanya.

عَنْ دَاوُدَ بْنِ الْحُصَيْنِ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ وَ الْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ قَالَ مَا دَامَ الْوَلَدُ فِي الرَّضَاعِ فَهُوَ بَيْنَ الْأَبَوَيْنِ بِالسَّوِيَّةِ وَ إِذَا فُطِمَ فَالأَبُ أَحَقُّ بِهِ مِنَ الأُمِّ فَإِذَا مَاتَ الأَبُ فَالْأُمُّ أَحَقُّ بِهِ مِنَ الْعَصَبَةِ فَإِنْ أَوْجَدَ الْأَبُ مَنْ يُرْضِعُهُ بِأَرْبَعَةِ دَرَاهِمَ وَ قَالَتِ الأُمُّ لَا أُرْضِعُهُ إِلاَّ بِخَمْسَةِ دَرَاهِمَ فَإِنَّ لَهُ أَنْ يَنْزِعَهُ مِنْهَا إِلاَّ أَنْ يَكُونَ ذَلِكَ خَيْراً لَهُ وَ أَرْفَقَ بِهِ أَنْ يَتْرُكَهُ مَعَ أُمِّهِ.
Dari Dâwud bin Al-Hushain dari Abû 'Abdillâh as berkata (tentang firman Allah), "Dan para ibu me-nyusui anak-anaknya." Beliau berkata, "Selama anak da-lam masa menyusui, maka dia antara kedua orang tuanya sama, tetapi jika telah diputus (menyusuinya), maka bapak lebih berhak kepadanya dari ibu, jika bapak meninggal, ma-ka ibu lebih berhak kepadanya dari 'ashabah (keluarga ba-pak), maka bila ayahnya mendapatkan perempuan yang me-nyusuinya dengan upah empat dirham (lebih murah dari ibunya), dan ibu berkata aku tidak mau menyusui kecuali dibayar lima dirham, maka bagi bapaknya mencabutnya darinya kecuali ibunya itu lebih baik baginya dan lebih sa-yang kepadanya dan ayahnya membiarkannya bersama ibu-nya." 

عَنِ الْمِنْقَرِيِّ عَمَّنْ ذَكَرَهُ قَالَ سُئِلَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ ع عَنِ الرَّجُلِ يُطَلِّقُ امْرَأَتَهُ وَ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ أَيُّهُمَا أَحَقُّ بِالْوَلَدِ قَالَ الْمَرْأَةُ أَحَقُّ بِالْوَلَدِ مَا لَمْ تَتَزَوَّجْ.
   Dari Al-Minqari dari orang yang menyebutkan-nya berkata, "Abû 'Abdillâh as telah ditanya tentang lelaki yang menceraikan istrinya dan di antara mereka berdua ada seorang anak, siapakah di antara mereka berdua yang paling berhak dengan anak itu?" Beliau berkata, "Perempuan (ibunya) lebih berhak kepada anak itu selama dia (ibunya) belum menikah lagi." 

عَنْ فَضْلٍ أَبِي الْعَبَّاسِ قَالَ قُلْتُ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع الرَّجُلُ أَحَقُّ بِوَلَدِهِ أَمِ الْمَرْأَةُ فَقَالَ لاَ بَلِ الرَّجُلُ فَإِذَا قَالَتِ الْمَرْأَةُ لِزَوْجِهَا الَّذِي طَلَّقَهَا أَنَا أُرْضِعُ ابْنِي بِمِثْلِ مَا تَجِدُ مَنْ يُرْضِعُهُ فَهِيَ أَحَقُّ بِهِ.
Dari Fadhl Abul 'Abbâs berkta berkata, "Saya bertanya kepada Abû 'Abdillâh as, apakah lelaki lebih berhak dengan anaknya ataukah perempuan?" Beliau berkata, "Tidak, tetapi lelaki (ayahnya lebih berhak apabila ada perempuan yang menyusui anaknya dengan nafkah yang lebih murah), maka bila perempuan itu berkata kepada suaminya yang telah menceraikannya, 'Saya akan menyusui anak saya semisal wanita yang kamu dapati yang bisa me-nyusuinya.' Maka ibunya lebih berhak kepadanya." 
 
عَنْ أَبِي الصَّبَّاحِ الْكِنَانِيِّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ إِذَا طَلَّقَ الرَّجُلُ الْمَرْأَةَ وَ هِيَ حُبْلَى أَنْفَقَ عَلَيْهَا حَتَّى تَضَعَ حَمْلَهَا وَ إِذَا أَرْضَعَتْهُ أَعْطَاهَا أَجْرَهَا وَ لاَ يُضَارُّهَا إِلاَّ أَنْ يَجِدَ مَنْ هُوَ أَرْخَصُ أَجْرًا مِنْهَا فَإِنْ هِيَ رَضِيَتْ بِذَلِكَ الأَجْرِ فَهِيَ أَحَقُّ بِابْنِهَا حَتَّى تَفْطِمَهُ.
   Dari Abû Al-Shabâh Al-Kinâni dari Abû 'Abdi-llâh as berkata, "Apabila lelaki menceraikan istri pada waktu hamil, dia wajib memberikan nafkah kepadanya sam-pai dia melahirkan kandungannya, dan apabila dia menyu-suinya, dia (suami yang menceraikannya) wajib memberikan upah kepadanya, dia tidak boleh menyusahkannya kecuali apabila dia mendapati orang yang lebih murah upahnya da-rinya. Maka jika dia rela dengan upah itu, dia lebih berhak kepada anaknya sampai dia memutuskan susuannya." 
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
848 Dilihat
Tulisan terakhir September 11, 2013, 05:44:54 AM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
766 Dilihat
Tulisan terakhir September 11, 2013, 05:46:27 AM
oleh Abu Zahra

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan