Penulis Topik: Pancasila Wajib Syar'i  (Dibaca 36 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Taufik Mario

Pancasila Wajib Syar'i
« pada: Juni 04, 2018, 09:12:20 PM »
PANCASILA WAJIB SYAR’I
UMAT ISLAM HARUS JADI PELOPOR IDEOLOGI PANCASILA

Yahudi,  Nasrani, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu, menerima  Pancasila, dan lantaran menerima Pancasila tentu mereka siap mengamalkannya bukan..?
Tidak menanyakan cara pengamalannya, tidak. Menurut mereka sila: “Ketuhanan Yang  Maha Esa” itu cara mengamalkannya bagaimana.? silahkan dengan cara mereka.
Cuma yang ditanyakan bagaimana dia mengamalkan Pancasila itu,... dapat ganjaran tidak..? begitukan persoalannya..? Kalau Islam kan sudah sreg, sudah sedap yah,
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
 Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa. (112:1)
Lantas saya berkata begini: Orang Islam juga kalau mengamalkan Pancasila demi Pancasila, terlebih-lebih karena  diperintah oleh Yamin, Soepomo, Soekarno, Hatta dan oleh para founding fathers lainnya atau Soeharto maka  tidak dapat ganjaran.
Kita mengamalkan ajaran Quran ini, apa karena Quran atau apa karena Allah..? tentu karena Allah. Quran mah tidak bisa mengganjar wong ajaran, karena Allah-lah yang mengajar dan mengganjar.
Nah begitu pula Allah sudah mengajarkan kepada kita:
1.   Kamu harus mempunyai sikap hidup dan kehidupan itu atas dasar Tauhid; perintah Allah bukan..? tentu perintah Allah...!
2.   Dan kamu harus menjadi manusia yang adil dan beradab perintah bukan...? Perintah...!
3.   Harus kamu mempersatukan bangsa; perintah...!
4.   Harus kamu mengatur negara ini bermusyawarah; perintah...!
5.   Dan harus kamu meratakan keadilan sosial; perintah tidak..? Perintah juga..!
Kita jalankan perintah itu tidak ada niat apa-apa menjalankan perintah saja, atau terlebih-lebih karena diperintah oleh Presiden menjalankannya karena itu tok..., tidak ingat karena Allah dapat ganjaran..? tentu tidak saudara. Presiden walaupun berkuasa tidak punya syurga kan..?
Kalau kita niatnya itu karena thoat kepada pemerintah tapi lepas hati kita hubungan kepada Allah, maka tidak dapat ganjaran. Tetapi kalau kita niat thoat kepada pemerintah, karena Quran memerintah:
أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
“Thoati Allah, thoati Rosuul, thoati ulil-amri diantara kamu.” (QS. 4:59)
Ulil-amri itu orang/uwong/pemerintah. Kalau merintah kepada kita itu benar maka thoati, dan thoatnya kita kepada pemerintah itu bukan mengharap ganjaran kepada pemerintah, tapi karena diperintah Allah. Jadi sadar hati kitanya, bahwa ini diperintah Allah. Tampaknya kita thoat  karena negara yah...? padahal hati kita kesana kaitannya pada perintah Allah.
Jadi kalaulah kita mengamalkan Pancasila semata-mata karena Pancasila tanpa niat karena Allah, yakni ada perintah dari Allah maka tidak ada ganjaran.
Suatu amalan yang baik, sebaik dan se-sholih apapun amal itu, kalau tidak didasari oleh “Iman yang Benar”, maka amal itu sia-sia bagaikan debu yang berterbangan sebagaimana firman Allah:
وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS.25:23).
             Atau amal-amal yang bagaikan fatamorgana:
وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّىٰ إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ ۗ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ
“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS..24:39) 
            Yang demikian itu, amal-amal teu aya  wawadahnaaa..kata suku sunda maaah.., boten ono wadahhee...kata suku jawa. Dengan kata lain, kalau amal-amal yang baik, bagus, sholih ingin diberi ganjaran oleh Allah maka harus ada kantong/wadahnya yakni iman yang benar.
Mohammad Natsir (1908-1993) adalah dari tokoh Masyumi seorang intelektual, dan mantan Perdana Menteri. Menulis di majalah Hikmah 29 Mei 1954 berjudul:
“Apakah Pancasila Bertentangan dengan Ajaran Al-Qur’an?”
Bagi Natsir, perumusan Pancasila adalah hasil musyawarah para pemimpin pada saat taraf perjuangan kemerdekaan memuncak di tahun 1945. Natsir percaya di dalam keadaan yang demikian, para pemimpin yang berkumpul itu, yang sebagian besar beragama Islam, pastilah tidak akan membenarkan sesuatu perumusan yang menurut pandangan mereka, nyata bertentangan dengan asas dan ajaran Islam.
Dengan nada retorik, Natsir bertanya, bagaimana mungkin Al-Qur’an:
1.   .....yang memancarkan Tauhid, dapat apriori bertentangan dengan ide Ketuhanan Yang Maha Esa?
2.   .....yang ajaran-ajarannya penuh dengan kewajiban menegakkan adalah ijtima’iyah bisa apriori, bertentangan dengan Keadilan Sosial?
3.   .....yang justru memberantas sistem feodal dan pemerintahan istibdad (diktatur) sewenang-wenang, serta meletakkan dasar masyarakat dalam susunan pemerintahan, dapat apriori dengan apa yang dinamakan  Kedaulatan Rakyat?
4.   .....yang menegakkan istilah islahu bainan nas (damai diantara manusia) sebagai dasar-dasar yang pokok yang harus  ditegakkan oleh umat Islam, dapat apriori, bertentangan dengan apa  yang disebut Perikemanusiaan?
5.   .....yang mengakui adanya bangsà-bangsa dan meletakkan dasar-dasar yang sehat bagi kebangsaan, apriori dapat dikatakan bertentangan dengan Kebangsaan?   
Natsir sangat yakin dalam pangkuan Al-Quran, Pancasila akan hidup subur. Satu dengan yang lain tidak apriori. (M. Natsir, Capita Selecta 2, halàman 211).
Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah  atau lebih di kenal dengan julukan Hamka adalah seorang ulama, sastrawan, sejarawan, dan juga politikus. Buya Hamka, beliau  mengatakan: “Landasi Pancasila itu dengan Qur’an, sehingga apabila kita tidak mengamalkannya merasa berdosa”.
Dan saya punya guru/al Ustadz Maryani  (alm), melanjutkan apa yang diucapkan Buya Hamka itu, dengan mengatakan: “Apa artinya berdosa kalau bukan wajib”.
Kalau mau diuraikan agak panjang, kata beliau apakah mengamalkan Pancasila itu hukumnya: Wajibkah..?, Sunnahkah...? Makruhkah...?, Mubahkah,...? atau Haramkah...?
 Jadi tentu saja wajib. Akhirnya beliau berkesimpulan bahwa,
“Mengamalkan Pancasila itu Hukumnya Wajib Syar’i.” Artinya orang yang tidak mengamalkan Pancasila kena hukum berdosa.
Saya sebagai murid yang masih ingusan, atau bau kencur tentang agama/Islam saat itu, dan in sya Allah sekarang dan yang akan datang akan terus belajar dan belajar/thalabil ’ilmi, mencoba mendebat beliau, dengan mata agak melotot dan sedikit kurang sopan, maklum darah muda ha...ha...ha..., saya mengatakan begini kepada beliau:  “Och... kalau begitu Ustadz ini mau meng-Al-Qur’an-kan Pancasila, dan mem-Pancasila-kan Al-Qur’an ..!!?”
Lalu beliau pun menjawab tidak, tidak sama sekali, masa iya Pancasila di-agamakan dan agama di-Pancasilakan, ya ga nyambung. (Ya kalau bahasa/istilah sekarang gagal faham). Selanjutnya beliau mengingatkan saya: Itulah pentingnya suatu “definisi/ta’rif” tentang sesuatu. Apa  Pancasila itu, apa Agama itu, apa Qur’an itu, dan apa Islam itu..?. lalu kita mencari bagaimana hubungan/korelasi/nisbat antara Pancasila, Agama/Islam dan Quran itu.
Sebagai murid/santri, lalu saya merenungkan ucapan beliau dan ucapan beliau-beliau para tokoh Bangsa/Nasional diatas itu, agar tidak gegabah untuk cepat-cepat menarik kesimpulan membenarkan atau menyalahkan.
Akhirnya setelah saya fikirkan/renungkan secara tenang dan mendalam, sampailah kepada kesimpulan, bahwa ternyata hubungan Pancasila dan agama Islam itu sangat pas, sangat sreeg, dan sangat mesra sekali. Semesra api dan panasnya.
 Maka dari itu saya berkesimpulan pula: “Umat Islam adalah umat yang paling berhak menjadi pelopor/baris terdepan dalam Pengamalan Ideologi Pancasila”. 
Kita umat Islam bersyukur bahwa, “Ketuhan Yang Maha Esa/Tauhid/Asas Islam,  dijadikan Asas Negara. Kalaulah masih ada, mabuk-mabukan, narkoba, perzinahan, pencurian, korupsi dan lain-lain, ini  memerlukan waktu dan kesabaran. Para pakar memperkirakan memerlukan waktu 100 tahun.
Kita memang sangat jengkel/mangkel, dan kecewa atas perbuatan-perbuatan pidana tersebut di atas, malah dilakukan sudah sangat brutal dan abnormal, sepertinya perangkat-perangkat hukum yang ada sudah tidak bisa lagi membuat sipelaku jera atau justru pelaku baru berani melakukannya, bahkan sampai ada yang mengulanginya, belum lagi kejahatan teroris yang meggelobal.
  Hukum pidana kita ini memang sudah lapuk, perlu perbaikan, setidaknya harus sudah berkompilasi dengan hukum Islam, sebagaimana kompilasi hukum Islam tentang Perkawinan, Kewarisan dan Perwakapan. (Intruksi Presiden R.I. No. 1 Tahun 1991).
Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, S.H., LL. M. Seorang akademisi, diplomat, mantan menteri Kehakiman dan menteri Luar Negeri RI. Mengatakan: “Hukum sebagai sarana (instrument) untuk membangun masyarakat.”  Dan hukum juga harus menjadi sarana pembaharuan masyarakat, maka lahirlah “Teori Hukum Pembangunan” dari beliau. Hukum kalau hanya sebagai alat/tool (teori hukum dari Roscoe Pound) hanya melahirkan “legisme”. Tapi kalau hukum dijadikan juga sebagai sarana pembangunan maka akan dapat mengantisipasi perubahan-perubahan yang begitu cepat di dalam masyarakat.
Mudah-mudahan Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN), bersama badan-badan hukum lainnya, akademisi, praktisi, menata kembali Hukum Nasional kita. Sekali lagi kita perlu perjuangan, waktu dan kesabaran, sebagaimana Allah berfirman:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. (Q.3:142).
Prof. Dr. KH. Din Syamsudin, MA, Mantan ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah,  mengatakan: “Islam di  Indonesia itu merupakan harapan terakhir dunia akan wajah Islam yang toleran, dan mampu hidup berdampingan dengan umat beragama lainnya”. Lanjutnya harapan itu wajar lantaran negeri-negeri Islam di Timur Tengah yang dulunya menjadi representasi wajah Islam dunia kini tengah bergolak. Sehingga umat Islam di dunia pun mencari representasi Islam yang memancarkan kedamaian dan itu berada di Indonesia.
Karena itu Ia berharap umat Islam di Indonesia mampu menjaga wajah Islam yang toleran dan dikenal ramah. Meski demikian Din mengakui saat ini wajah Islam di Indonesia tengah diuji dengan kemunculan kelompok radikal yang kerap memprovokasi umat Islam terutama saat terjadi konplik dan mengeluarkan isu agama untuk memanaskan situasi.
“Karena itu kita semua harus menjaga wajah Islam di Indonesia yang toleran dan ramah ini, kalau Islam di Indonesia berubah jadi intoleran, habis sudah,” papar Din”. (Saat diwawancarai di Kantor Centre for Dialogue and Cooperation along Civilisations) di Jakarta 4/8/2016. Bukan hanya Din, banyak pula tokoh-tokoh dunia yang menyatakan harapan seperti itu.
Tulisan ini saya hadirkan  dalam rangka  mengenang kembali/napak tilas sejarah lahirnya Pancasila, yang sudah disepakati sebagai Ideologi bangsa Indonesia, dan sudah “Taken for granted.” Oleh karena itu, fungsi pokok Pancasila sebagai dasar negara didasarkan pada Ketetapan MPRS No.XX/MPRS/1966 (jo Ketetapan MPR No.V/MPR/1973, jo Ketetapan MPR No.IX/MPR/1978) yang menjelaskan bahwa Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum atau sumber tertib hukum Indonesia yang pada hakikatnya adalah merupakan suatu pandangan hidup, kesadaran dan cita-cita hukum serta cita-cita moral yang meliputi suasana kebatinan serta watak dari bangsa Indonesia.
Walaupun kelak Indonesia memberlakukan hukum Islam, namun dalam hal berbangsa dan bernegara tetap berideologikan Pancasila. Karena Pancasila dan Islam tidak bisa dipisahkan.
Apabila ada kesalahan dan kekhilafan mohon maaf. Kritik dan saran yang konstruktif  sangat diharapkan. Semoga manfaat.
“Tak ada gading yang tak retak. Walaupun retak dia berharga, maka jangan dibuang”.
 Wallahu’alam bishawaab.
 Selamat Hari Kelahiran Pancasila ke-73
1 Juni 2018
Taufik Mario Tholi
 

Tags: Kajian Islam 
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
2 Jawaban
1229 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 20, 2013, 12:56:30 PM
oleh Awal Dj
0 Jawaban
1206 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 13, 2013, 06:19:18 AM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
991 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 13, 2013, 06:26:15 AM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
955 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 13, 2013, 06:27:47 AM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
936 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 13, 2013, 06:29:30 AM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
664 Dilihat
Tulisan terakhir September 22, 2014, 10:50:24 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
349 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 16, 2016, 06:47:30 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
444 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 01, 2016, 09:04:23 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
232 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 15, 2016, 01:27:39 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
54 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 05, 2017, 08:31:32 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan