Penulis Topik: Mengapa Orang Iran Boleh Ke Mekah?  (Dibaca 47 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline comicers

Mengapa Orang Iran Boleh Ke Mekah?
« pada: November 01, 2017, 03:03:32 PM »
Foto-foto Ahmadinejad di Mekah dengan mudah kita temukan di internet. Orang-orang Iran bermazhab Syiah dan Sunni, setiap tahun dengan aman sentosa berhaji ke Mekah dan mendapatkan pelayanan sangat baik dari pemerintah Iran: penginapan yang dekat Masjidil Haram, makanan berlimpah, tim kesehatan yang siap siaga di berbagai penjuru, dll.

Keberadaan orang Iran (yang mayoritasnya Syiah) di Mekah, menjadi argumen bantahan atas tuduhan kaum takfiri bahwa Syiah bukan Islam, atau bahwa Syiah kafir. Beberapa ulama di Indonesia pun (antara lain Prof. Umar Shihab dan Quraish Shihab) berargumen demikian: “Kalau memang Syiah dianggap sesat dan bukan bagian dari Islam, mengapa Pemerintah Saudi masih memperbolehkan kaum Syiah menunaikan Haji ke Tanah Suci?”

Namun, situs Islampos memuat artikel karya AM Waskito yang mencoba “mengajari” pembaca bagaimana cara menjawab argumen seperti ini. Sayangnya, dia melandaskan argumennya dengan prasangka, yang sebenarnya juga sudah dibantah para ulama Ahlussunnah yang adil. Misalnya, tuduhanbahwa syiah imamiyah adalah syiah yang ekstrim yang rata-rata para ulama tidak mengakui keislaman mereka, menyembah kubur, dll. Waskito meraba-raba (mengira-ngira) apa sebenarnya alasan pemerintah Saudi mengizinkan kaum Syiah berhaji.

Padahal, sebenarnya, argumen “Kalau syiah kafir, mengapa dibolehkan Naik Haji ke Mekah dan Madinah?” adalah menjawab tuduhan bahwa Syiah kafir. Logikanya: Jika syiah kafir, maka tidak boleh masuk tanah haram/Tetapi ternyata syiah boleh masuk ke tanah haram/Berarti syiah tidak kafir. Jadi argumen ini bukan untuk mencari tahu apa sebenarnya alasan pemerintah Saudi.

Selain itu, logikanya, kalau Pemerintah Saudi berpendapat bahwa syiah itu kafir tetapi tetap membolehkan bahkan mengundang orang syiah (misalnya Presiden Iran) untuk naik Haji dan ziarah ke Mekah serta Madinah, maka seharusnya para Ustadz itu juga mengkafirkan Pemerintah Saudi. Sebab, alasan apapun dari Pemerintah Saudi tidak bisa diterima untuk membolehkan orang kafir memasuki tanah Haram.

Sesederhana itu sebenarnya logikanya. Namun, mari kita telaah satu persatu argumen Waskito:

    Pada alasan pertama, Saudara Waskito menyatakan bahwa hanya Tuhanlah yang Tahu, wallahu a’lam, kenapa orang syiah dibolehkan pemerintah Saudi untuk haji ke Mekah dan Madinah.

Alasan pertama ini, tentu tidak bisa ditanggapi, jika berhubungan dengan pengetahuan Tuhan. Tetapi, kita bisa menanggapinya, jika dihubungkan dengan kebijakan Saudi, bahwa Pemerintah saudi membolehkan kaum syiah memasuki Tanah Haram yang secara geografis berada di bawah kekuasaannya, dikarenakan Pemerintah Saudi tidak mengkafirkan syiah. Tidak seperti halnya Ahmadiyah yang dilarang secara tegas karena dinilai kafir. Ini hal yang jelas, hanya saja Saudara Waskito masih sulit menerimanya.

    Pada alasan kedua, Saudara Waskito menyebutkan bahwa syiah itu ada yang kafir dan ada yang tidak, dan kita sulit membedakan syiah yang kafir dan yang tidak.

Seperti disebutkan di atas, bahwa Saudara Waskito tidak bisa membedakan subjek pembahasan. Subjek yang dibahas semestinya kekafiran syiah, dan boleh apa tidak orang syiah masuk ke Tanah Haram? Dan ternyata memang dibolehkan oleh para ulama di dunia dan juga Pemerintah Saudi. Di sini tidak ada urusan dengan susah atau mudahnya mendeteksi kesyiahan seseorang. Sebab, kesulitan itu tidak mengganggu hukum larangan memasuki Tanah Haram bagi orang kafir. Misalnya, kita mengatakan bahwa orang Yahudi dilarang memasuki Tanah Haram, meskipun sulit mendeteksi orang Yahudi secara fisik.

Kemudian, kalaupun sulit mendeteksi orang syiah secara umum, tetapi semestinya mas Waskito sadar, betapa sangat mudahnya untuk tahu bahwa Iran adalah negara dengan mayoritas penduduknya bermazhab syiah imamiyah, dan sangat mudah mengetahui bahwa Presiden Iran—sepeti Ahmadinejad—adalah penganut syiah imamiyah. Lantas kenapa masih dibolehkan bahkan diundang datang? Jawabnya, karena memang syiah itu muslim dan tidak ada larangan bagi mereka untuk mendatangi Tanah Haram.

    Pada alasan ketiga ini bersifat historis yang mana saudara Waskito mengatakan bahwa Mazhab syiah adalah mazhab yang usianya setua Islam itu sendiri, sehingga orang syiah itu sudah lebih dulu berada di Mekah dan Madinah sebelum Dinasti Saud ada.

Menurut sejarahnya memang syiah itu telah ada sejak zaman Rasul dan sahabatnya yang terdiri dari orang-orang yang meyakini ketetapan Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin pasca Rasul saw. Jadi Mekah dan Madinah adalah tanah nenek moyang kaum syiah dan juga sunni. Infromasi yang kita terima umumnya bahwa beberapa sahabat radiyallahu anhum seperti Salman,Miqdad, Zaid bin Arqam, Abu Dzar, Jabir bin Abdillah, Ammar, Ubai bin Ka’ab, Hudzaifah, Al-Abbas bin Abdul Muththalib dan putranya, Bani Hasyim dan Bani Al-Muththalib mereka semua adalah pendukung Ali ra dan lebih mengutamakannya daripada Abu Bakar ra dan Umar ra. Begitu pula banyak tabiin dan tabiit tabiin, perawi hadis, mufassir, ahli fikih, filosof, dan lainnya yang tidak terhitung jumlahnya adalah orang-orang syiah. Dan sejak dulu mereka bebas berada dan memasuki al-haramain.

Jadi, jika sejak dulu orang syiah telah ada dan tidak terlarang memasuki Mekah dan Madinah, lantas kenapa hari ini Saudara Waskito ingin melarangnya? Apakah Saudara Waskito mau menfatwakan bahwa para sahabat, tabiin, thabiit thabiin dan para ulama tersebut, sebagai menyimpang, sesat, kafir dan tidak layak memasuki Mekah-Madinah karena mereka syiah?

    Pada alasan keempat, saudara Waskito mengatakan sulit mengidentifikasi orang syiah karena di dalam identitas mereka tertulis “agama Islam” saja. Bahkan Iran saja mengklaim sebagai Jumhuriyyah Al-Islamiyyah (Republik Islam). Revolusi mereka disebut Revolusi Islam (Al-Tsaurah Al-Islamiyyah). Data seperti ini tentu sangat menyulitkan untuk memastikan jenis sekte mereka. Lha wong, semuanya disebut “Islam” atau “Muslim”.

Argumentasi ini sungguh lucu. Memangnya orang wahabi pakai KTP agama wahabi, orang sunni pakai KTP agama sunni. Memangnya Saudara Waskito di KTP nya tertulis agama apa? Agama Wahabi-Salafi atau Agama Takfiri, atau Agama Sunni, sehingga penganut syiah disuruh memakai KTP agama syiah?

Adapun Iran yang dikenal sebagai negara syiah tetapi menyebut revolusinya sebagai revolusi Islam, bukan revolusi syiah; dan menyebut negaranya sebagai Republik Islam, bukan Republik Syiah adalah hal yang lumrah. Sebab, hal itu juga dilakukan oleh negara-negara Islam lainnya, tidak ada yang menyebut negaranya sebagai Negara Sunni (seperti Mesir) atau Negara Wahabi (seperti Saudi), semuanya menyebut negaranya sebagai Negara Islam. Dan mestinya kita bangga, karena hal itu menunjukkan bahwa Iran mengakui bahwa revolusi dan pembangunan negaranya bukanlah hanya jasa orang-orang syiah saja tetapi juga orang-orang sunni bahkan orang-orang non-Islam. Seperti halnya Indonesia tidak dijadikan sebagai Negara Islam, karena menyadari bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hasil kerjasama antar berbagai agama, meskipun mayoritas yang hidup di Indonesia adalah umat Islam.

    Sedangkan pada alasan kelima, saudara Waskito mengatakan, bahwa yang dibolehkan itu ke Mekah dan Madinah itu adalah syiah awam yang hanya ikut-ikutan menjadi syiah bukan tokoh syiah yang jelas murtad dari Islam, hanya saja sulit membedakan antara syiah awam dengan tokoh syiah. Perlakuan terhadap kaum Syiah awam tentu harus berbeda dengan perlakuan kepada kalangan ekstrim mereka.

Ini alasan yang dipaksakan, karena faktanya Pemerintah Saudi tidak pernah membedakan antara syiah awam dan tidak untuk datang berziarah ke al-haramain. Bukankah para pembimbing haji kaum syiah adalah ulama-ulama syiah. Bukankah Presiden Iran misalnya pernah datang bahkan diundang untuk berziarah ke Mekah-Madinah. Apakah para pembimbing haji, ulama, intelektual dan Presiden Iran itu adalah orang-orang awam menurut Saudara Waskito?

Foto-foto Ahmadinejad di Mekah dengan mudah kita temukan di internet. Orang-orang Iran bermazhab Syiah dan Sunni, setiap tahun dengan aman sentosa berhaji ke Mekah dan mendapatkan pelayanan sangat baik dari pemerintah Iran: penginapan yang dekat Masjidil Haram, makanan berlimpah, tim kesehatan yang siap siaga di berbagai penjuru, dll.

Keberadaan orang Iran (yang mayoritasnya Syiah) di Mekah, menjadi argumen bantahan atas tuduhan kaum takfiri bahwa Syiah bukan Islam, atau bahwa Syiah kafir. Beberapa ulama di Indonesia pun (antara lain Prof. Umar Shihab dan Quraish Shihab) berargumen demikian: “Kalau memang Syiah dianggap sesat dan bukan bagian dari Islam, mengapa Pemerintah Saudi masih memperbolehkan kaum Syiah menunaikan Haji ke Tanah Suci?”

Namun, situs Islampos memuat artikel karya AM Waskito yang mencoba “mengajari” pembaca bagaimana cara menjawab argumen seperti ini.

Berikut ini bantahan atas artikel tersebut bagian kedua (baca bagian pertama di sini)

 6.Pada alasan keenam dia mengatakan bahwa orang syiah dibolehkan memasuki Tanah Haram adalah untuk menunjukkan kepada orang syiah ajaran yang benar sehingga orang syiah akan mengambil banyak-banyak pelajaran dari kehidupan kaum Muslimin di Makkah-Madinah. Bila mereka tertarik, terkesan, atau bahkan terpikat; mudah-mudahan mau bertaubat dari agamanya, dan kembali ke jalan lurus, agama Islam Ahlus Sunnah.

Buku-buku karya-karya ulama syiah banyak mengutip hadis-hadis dan ajaran-ajaran ahlussunnah. Bahkan mereka juga menulis berbagai buku perbandingan baik dari sisi akidah, Fikih, dengan tujuan ukhuwah dan persatuan muslim. Di Iran pun terdapat banyak penganut sunni dan mereka saling berinteraksi secara baik. Jadi, tidaklah mesti untuk mengetahui ajaran sunni yang benar harus pergi ke Mekah dan Madinah. Apakah ajaran ahlussunnah selain di Mekah dan Madinah tidaklah benar? Apakah sunni Mesir, sunni Yaman, bahkan sunni Irak dan Iran tidak benar ajarannya, sehingga harus belajar pada sunni Mekah dan Madinah?

Bahkan sebaliknya, setiap orang yang pernah ke Mekah-Madinah menyadari sulitnya bagi mereka mengekspresikan diri di tanah suci tersebut. Jangankan syiah, orang-orang sunni sendiri kurang terkesan terhadap perilaku “penjaga” dua tanah haram. Bayangkan saja, apakah orang sunni apalagi syiah akan terkesan dengan perilaku para asykar yang melarang mereka untuk berdoa di makam Rasulullah saaw? Bahkan kaum sunni-syiah sama-sama terluka oleh sikap pemerintah Saudi yang menghilangkan jejak-jejak peninggalan Rasul saw.

7. Adapun pada alasan ketujuh, Saudara Waskito menyatakan bahwa membiarkan orang syiah memasuki Tanah Haram adalah sebagai bukti bahwa ajaran sunni lebih sesuai dengan fitrah manusia, sehingga orang syiah pun ingin mendatangi kota Mekah dan Madinah bukan Karbala, Najaf, dan Qum.

Haji adalah kewajiban bagi umat Islam yang mampu, apapun mazhabnya. Dalam mazhab Syiah, haji juga kewajiban. Pemerintah Iran pun menyediakan berbagai kemudahan untuk pelaksanaan haji warganya. Haji sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan ziarah-ziarah sunnah ke makam-makam para wali dan imam yang dimuliakan oleh kaum Syiah. Bukankah kaum ahlussunnah pun meyakini keutamaan berziarah ke makam wali? Di Indonesia kita menemukan betapa ramainya umat sunni yang berziarah ke makam Sunan Gunung Jati di Cirebon, misalnya.

Mekah, Madinah, Najaf, Karbala, Qum, Masyhad, dimuliakan dan disucikan karena di dalamnya ada peninggalan sejarah dari orang-orang yang mulia. Bedanya, Mekah harus diziarahi sebagai bentuk kewajiban syar’i, sekaligus sebagai wujud rindu dan cinta pada jejak Rasulullah.

Berziarah ke makam-makam imam dan auliya adalah bentuk kecintaan dan cinta adalah selaras dengan fitrah. Kecintaan ini justru tak ditemukan pada kaum wahabi-salafi-takfiri yang melarang manusia untuk menghormati makam suci Nabi saw dan sahabatnya, bahkan menghancurkan makam mereka. Mereka yang pernah haji akan menyaksikan betapa askar-askar di Arab Saudi galak-galak pada jamaah (baik Sunni maupun Syiah, atau mazhab lainnya) yang berziarah ke makam Rasulullah dan Baqi. Jadi, siapa yang tak sesuai fitrah sebenarnya?

8. Pada alasan kedelapan, Saudara Waskito menyatakan bahwa orang syiah dibolehkan memasuki Tanah Haram, agar orang syiah belajar ajaran yang benar tentang ziarah kubur sehingga tidak memuja dan menyembah kuburan, tawaf di kuburan, dan meminta tolong kepada ahli kubur seperti yang mereka lakukan di negara-negara mereka.

Pertama-tama, soal memuja, menyembah, dan tawaf pada kuburan adalah fitnah murahan yang saudara Waskito tidak akan pernah mampu membuktikannya. Fitnah ini bukan saja menimpa syiah tetapi juga mazhab sunni. Sebab, tidak ada orang syiah atau sunni yang berziarah ke kuburan bertujuan untuk menyembah kuburan. Yang ada adalah bahwa syiah dan sunni sama-sama menganjurkan ziarah kubur dan menghormati kuburan Nabi serta ahlul baitnya. Syiah dan sunni juga sama-sama mengakui tabarruk (mengambil berkah) dan tawassul (meminta tolong) kepada Nabi dan orang-orang suci yang sudah wafat. Yang saya heran, saudara Waskito yang ngaku sunni kok tidak percaya dengan tabarrruk dan tawassul tersebut. Ini menunjukkan saudara Waskito, “diragukan ke-sunni-annya”

Kedua, Kalau memang syiah itu kafir, ya tidak boleh masuk haramain. Itu hukum yang jelas. Kalau memasukkan orang kafir ke Mekah dan Madinah dibolehkan dengan harapan agar mereka meninggalkan ajarannya, maka sebaiknya Saudara Waskito membolehkan Ahmadiyah atau juga mungkin orang Kristen, Yahudi, Budha, Hindu, atau ateis untuk datang ke Mekah dan Madinah agar mereka nanti sadar jika kembali ke negaranya masing-masing.

9. Sedangkan pada alasan kesembilan, dia mengatakan hanyalah orang syiah yang tahu kenapa mereka datang naik haji ke Mekah dan Madinah padahal itu bertentangan dengan ajarannya karena sudah punya kota suci sendiri.

Ini sebenarnya sudah terjawab pada poin 7 di atas.  Khalifah ke-4 kaum Muslimin, Imam Ali bin Abi Thalib ra yang sangat ditaati dan dihormati kaum Syiah (dan tentu saja, kaum Sunni) berkata :

“Allah telah mewajibkan kalian berhaji ke Baitul Haram yang dijadikan-Nya sebagai kiblat bagi manusia…Allah yang Maha Suci menjadikan Baitullah sebagai simbol ketundukan manusia di hadapan keagungan dan kemuliaan-Nya…Allah Yang Maha Suci menjadikan Baitul Haram itu bagi Islam sebagai objek penghormatan bagi orang-orang yang menghadapnya. Dia mewajibkan berhaji ke sana dan menetapkan hak-hak-Nya yang harus kalian laksanakan, sesuai firman Allah swt, “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; barangsiapa mengingkari (kewajiban haji) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (Q.S. Ali Imran : 96) (Nahjul Balaghah, Khutbah 1)

Begitu pula Haji bukan saja mengunjungi Ka’bah, tetapi juga mengunjungi Rasulullah saaw, keluarga dan sahabat-sahabatnya. Ali bin Abi Thalib ra berkata, “Sempurnakanlah haji kalian dengan (menziarahi) Rasulullah saaw..Sebab, meninggalkannya (ziarah rasul) merupakan kekasaran tabiat (jafa’), dan kalian telah diperintahkan melakukannya. Dan sempurnakanlah pula dengan menziarahi kuburan (Baqi), yang Allah Azza wa Jalla perintahkan kepada kalian untuk memenuhi haknya dan berziarah kepadanya, serta mohonlah rezeki (kepada Allah) di pekuburan itu.

Demikianlah tanggapan untuk Saudara A.M Waskito. Semoga kita dijauhkan dari sikap takfirisme dan memecah belah umat Muslim.(hd/LiputanIslam.com)

http://liputanislam.com/kajian-islam/mengapa-orang-iran-boleh-ke-mekah-1/
http://liputanislam.com/kajian-islam/mengapa-orang-iran-boleh-ke-mekah-2/
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
612 Dilihat
Tulisan terakhir September 01, 2012, 07:17:51 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
2122 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 06, 2012, 07:18:31 AM
oleh Kang Asep
4 Jawaban
2124 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 10, 2013, 01:32:08 PM
oleh dw4ryf
5 Jawaban
1784 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 07, 2013, 10:46:20 AM
oleh dw4ryf
0 Jawaban
470 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 18, 2013, 11:20:31 AM
oleh Awal Dj
12 Jawaban
3971 Dilihat
Tulisan terakhir April 24, 2013, 12:18:10 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
1138 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 27, 2015, 12:32:25 AM
oleh Monox D. I-Fly
1 Jawaban
1580 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 22, 2014, 10:24:14 AM
oleh ratna
7 Jawaban
1478 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 11, 2015, 12:15:59 AM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
869 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 23, 2015, 11:26:00 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan