Penulis Topik: KEWAJIBAN BERPEGANG KEPADA AL-TSAQALAIN [BAGIAN PERTAMA]  (Dibaca 1265 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Abu Zahra

KEWAJIBAN BERPEGANG KEPADA AL-TSAQALAIN [BAGIAN PERTAMA]
« pada: Maret 21, 2013, 03:56:04 PM »
KEWAJIBAN BERPEGANG KEPADA Al-TSAQALAIN [BAGIAN PERTAMA]

Amîrul Mu`minîn as berkata, “Hendak kemanakah kalian pergi? Dan mengapakah kalian bisa tertipu sedangkan panji-panji kebenaran telah ditegakkan, bukti-bukti telah jelas dan mercusuar pun telah dipancarkan, maka bagaimanakah kalian da-pat dipalingkan? Bahkan mengapakah kalian bisa disesatkan sedangkan kerabat Nabi kalian berada di tengah-tengah kalian? Mereka itu tonggak kebenaran, panji-panji ajaran dan lidah-lidah yang selalu berkata benar. Tempatkanlah mereka itu sebaik kalian menempatkan Al-Quran! Datangilah mereka itu dengan penuh perhatian sebagaimana unta-unta yang ke-hausan mendatangi mata air pelepas dahaga!

Wahai manusia! Peganglah erat-erat apa yang telah dikatakan Nabi kalian sebagai penutup para nabi bahwa mereka yang meninggal di antara kami, sesungguhnya tidaklah meninggal, mereka yang hancurluluh tulang-belulangnya di antara kami, sebenarnya tidaklah hancur! Janganlah kalian katakan apa yang kalian tidak tahu, sebab kebenaran yang sesungguhnya justru yang kalian ingkari. Janganlah kalian salahkan orang yang kalian tidak memiliki alasan apa pun untuk menyalahkannya, yaitu aku. Bukankah aku ini telah berpegang kepada peninggalan (Rasûlullâh) yang paling berharga (yakni Al-Quran) dan peninggalan yang lainnya kepada kalian (yaitu Ahlulbait)! Sungguh telah kupusatkan kepada kalian panji-panji keimanan, telah kutempatkan kalian pada batasan halal dan haram, telah kubusanai kalian dengan busana keadilan, telah kuhamparkan kepada kalian kebaikan dari ucapan dan perbuatanku dan telah kuperlihatkan kepada kalian kemuliaan akhlak dariku! Maka janganlah kalian menggunakan rasio yang ujungnya tak dapat dijangkau oleh penglihatan dan tak dapat diselami oleh pikiran.” 

Kesucian Ahlulbait Nabi saw

Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan keragu-an darimu wahai Ahlulbait, dan mensucikanmu sesuci-sucinya. [Al-Ahzâb 33/33]
Ayat Al-Quran ini diturunkan berkenaan dengan ‘Ali, Fâthimah, Hasan dan Husain as sebagaimana dalam riwayat-riwayat berikut.
 
Dari Ummul Mu`minîn Ummu Salamah.

Diriwayatkan dari Ummu Salamah bahwa Rasûlullâh saw mengerudungkan sehelai kain ke atas Hasan, Husain, ‘Ali dan Fâthimah, kemudian beliau berkata, “Ya Allah, mereka ini adalah Ahlulbaitku dan orang-orang tertentuku, maka hilangkanlah dari mereka keraguan dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya.” Lalu Ummu Salamah berkata, “Saya bersama mereka wahai Rasûlullâh!” Beliau berkata, “Sesungguhnya engkau (menuju) kepada kebaikan.”   

Dari ‘Amr bin Abî Salamah.

Dari ‘Amr bin Abî Salamah anak tiri Nabi saw berkata: Ketika turun ayat ini: Innamâ yurîdullâhu liyudzhiba ‘ankumur rijsa ahlalbaiti wa yuthahhirakum tathhîrâ di dalam ru-mah Ummu Salamah. Kemudian beliau memanggil Fâthimah, Hasan dan Husain sementara ‘Ali as ada di belakang punggung beliau, kemudian beliau mengerudungi mereka dengan kain, kemudian beliau berkata, “Ya Allah, mereka ini adalah Ahlulbaitku, maka hilangkanlah dari mereka keraguan dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya.” Ummu Salamah berkata, “Dan saya bersama mereka wahai Nabi Allah!” Beliau berkata, “Engkau tetap di tempatmu, dan engkau berada di atas kebaikan.”   

Dari Ummul Mu`minîn ‘Âisyah

‘Âisyah berkata: Pada suatu pagi Rasûlullâh saw keluar (dari rumah) dengan membawa sehelai kain berbulu yang berwarna hitam, kemudian datanglah Hasan bin ‘Ali, lalu beliau memasukkannya (ke bawah kain), kemudian datanglah Husain, lalu dia masuk bersamanya, kemudian datanglah Fâthimah, lantas beliau memasukkannya (ke bawah kain), kemudian datang ‘Ali, lalu beliau memasukkannya, kemudian beliau berkata, “Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan keraguan darimu wahai Ahlulbait dan mensucikanmu sesuci-sucinya.” 

Dari Anas bin Mâlik

Dari Anas bin Malik: Rasûlullâh saw melewati pintu ru-mah Fâthimah as selama enam bulan, apabila beliau keluar hendak shalat shubuh, lalu beliau berkata, “Shalat wahai Ah-lulbait, Sungguh Allah hendak menghilangkan keraguan darimu dan mensucikanmu sesuci-sucinya.”   
Itulah antara lain penjelasan dari Rasûlullâh saw mengenai Ahlulbaitnya yang disucikan sebagai padanan Al-Quran, dan anggota Ahlulbait Nabi yang disucikan itu ada sembilan orang lagi dari keturunan Imam Husain as, yaitu ‘Ali bin Husain, Muhammad bin ‘Ali, Ja‘far bin Muhammad, Mûsâ bin Ja‘far, ‘Ali bin Mûsâ, Muhammad bin ‘Ali, ‘Ali bin Muha-mmad, Hasan bin ‘Ali dan Al-Mahdi bin Hasan—salâmullâhi ‘alaihim.

Sembilan Orang Lagi dari Keturunan Al-Husain

Dari Abbân bin Taghlib dari Salmân ra berkata: Saya masuk ke rumah Nabi saw, dan ternyata ada Husain sedang berada di atas pangkuannya, beliau menciuminya dan menge-cup mulutnya dan beliau berkata, “Kamu sayyid (orang yang mulia) putra sayyid, kamu imam putra imam, ayah bagi para imam, kamu hujjah putra hujjah, ayah bagi para hujjah, sembilan lagi dari sulbimu (keturunanmu), dan yang kesembilannya adalah qâ`im-nya (Al-Mahdi as).” 

Jadi Ahlulbait Rasûlullâh saw yang disucikan itu semu-anya ada tiga belas, yaitu Fâthimah Al-Zahrâ` as dan dua belas khalîfah-nya. Tentang dua belas khalîfah atau imam, telah sering disebutkan Rasûlullâh saw, dan kalau kita mati tanpa mengakui atau mengimani imam pilihan Allah ‘azza wa jalla, maka kematian kita seperti kematian jâhiliyyah, sebab masalah imâmah atau khilâfah dalam Islam termasuk masalah yang prinsip. Maka hati kita akan resah tanpa mengimani para imam yang dua belas walaupun hati kita ini ditenang-tenangkan, karena masalah itu termasuk pokok dalam hidup kita. Dan orang yang tidak mengenal imamnya yang Allah 'azza wa jalla pilih setelah Rasûl-Nya, jika dia mati, maka matinya dipandang se-perti mati kaum jâhiliyyah.

Jika Mati tidak Mengenal Imam

Rasûlullâh saw telah berkata, “Siapa yang mati sedang dia tidak mengenal imamnya (yang Allah pilih), dia mati seperti mati jâhiliyyah.” 

Rasûlullâh saw telah berkata, “Siapa yang mati tanpa (mengimani) imam (yang Allah pilih), dia mati seperti mati jâhiliyyah.”   

Al-Shâdiq as berkata, “Siapa yang bermalam pada suatu malam yang dia tidak tahu pada malam itu Imam Zamannya, dia mati seperti mati jâhiliyyah.” 

Mengenai para khalîfah Rasûlullâh saw yang dua belas, yang dijuluki dengan Al-Khulafâ` Al-Râsyidûn, bisa kita lihat dalil-dalilnya dalam kitab-kitab hadîts yang antara lain dalam kitab Shahîh Al-Bukhâri jilid 4 pada Kitâb Al-Ahkâm dan dalam Shahîh Muslim pada Kitâb Al-Imârah. Adapun tentang nama-nama mereka oleh Nabi saw telah disebutkan yang antara lain pada riwayat berikut.

Ibnu ‘Abbâs telah berkata: Ada seorang yahudi yang bernama Na‘tsal datang, kemudian dia bertanya, “Wahai Muhammad, saya akan bertanya kepadamu tentang beberapa persoalan yang bergolak di dalam dadaku dari sejak lama, maka apabila kamu dapat menjawabku mengenai persoalan-persoalan tersebut, saya akan masuk Islam di hadapanmu.”
Beliau berkata, “Tanyakanlah wahai Abû ‘Amârah.”
Dia bertanya, “Wahai Muhammad, sifatkan Tuhan kamu itu kepadaku!” Beliau saw menjawab, “Dia tidak bisa disifati selain dengan sifat yang Dia sifatkan dengannya, dan bagaimana mungkin pencipta itu bisa disifati oleh makhluk yang tidak berdaya seluruh akal untuk menjangkau-Nya, tidak seluruh pikiran untuk menggapai-Nya, tidak seluruh perasaan untuk membatasi-Nya, dan seluruh penglihatan untuk meliputi-Nya. Dia mulia dan tinggi dari segala yang disifatkan oleh para pemberi sifat, Dia jauh dalam kedekatan-Nya dan Dia dekat dalam kejauhan-Nya, Dia yang menentukan bagaimana dan Dia yang menentukan dimana, maka tidak dikatakan kepada-Nya: Di mana Dia? Dia terputus dari kebagaimanaan dan kedimanaan, maka Dia itu Al-Ahad Al-Shamad sebagaimana Dia telah mensifati diri-Nya, dan para pemberi sifat tidak akan sampai kepada sifat yang sesungguhnya, Dia tidak melahirkan dan tidak dilahirkan dan tidak ada yang setara satu pun bagi-Nya.”
Dia berkata, “Kamu benar wahai Muhammad, kemudian kabarkan kepadaku tentang ucapanmu bahwa Dia itu satu tidak ada yang serupa bagi-Nya, bukankah Allah satu dan manusia juga satu?”
Maka Rasûlullâh saw berkata, “Allah ‘azza wa jalla itu satu yang hakiki, makna yang bersifat satu yaitu tidak ada bagian dan tidak ada komposisi (terdiri dari beberapa unsur) bagi-Nya, sedangkan satunya manusia itu punya makna yang bersifat dua, yaitu terdiri dari rûh dan jasad.”
Dia berkata, “Kamu benar Muhammad, lalu beritakan kepadaku perihal washi kamu, siapakah dia itu, sebab tidak seorang nabi pun, melainkan dia punya washi. Nabi kami Mûsâ bin ‘Imrân telah berwasiat kepada Yûsya‘ bin Nûn.”
Maka beliau saw berkata, “Washiku adalah ‘Ali bin Abî Thâlib, dan setelahnya dua cucuku Hasan dan Husain yang diikuti setelahnya oleh sembilan imam dari sulbi Husain.”
Dia berkata, “Wahai Muhammad, sebutkan nama-nama mereka itu kepadaku!”
Beliau berkata, “Apabila Husain telah berlalu (wafat), maka (diganti oleh) putranya ‘Ali. Apabila ‘Ali telah berlalu, maka putranya Muhammad. Apabila Muhammad telah berla-lu, maka putranya Ja‘far. Apabila Ja‘far telah berlalu, maka putranya Mûsâ. Apabila Mûsâ telah berlalu, maka putranya ‘Ali. Apabila ‘Ali telah berlalu, maka putranya Muhammad. Apabila Muhammad telah berlalu, maka putranya ‘Ali. Apabi-la ‘Ali telah berlalu, maka putranya Hasan. Dan apabila Ha-san telah berlalu, maka putranya Al-Hujjah Muhammad Al-Mahdi. Jadi jumlah mereka itu dua belas.”
Dia bertanya, “Coba ceritakan kepadaku, bagaimanakah kematian ‘Ali, Hasan dan Husain.”
Beliau saw berkata, “‘Ali akan dibunuh dengan tebasan pedang di atas kepalanya, Hasan akan dibunuh dengan racun dan Husain dengan disembelih.”
Dia bertanya, “Lalu di manakah tempat mereka itu?”
Beliau saw berkata, “Di surga dalam derajatku.”
Dia berkata, “Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa engkau adalah utusan Allah, dan saya bersaksi bahwa mereka adalah para washi setelahmu, dan sesung-guhnya saya telah mengetahuinya dalam kitab-kitab para nabi terdahulu, dan hal itu telah dipesankan Mûsâ bin ‘Imrân as kepada kami bahwa di akhir zaman akan keluar seorang nabi yang bernama Ahmad dan Muhammad dan dia adalah penutup para nabi, tidak ada lagi nabi setelahnya, maka para washinya setelahnya dua belas orang, yang pertama putra pamannya dan menantunya, yang kedua dan yang ketiga bersaudara dari keturunannya. Washi yang pertama akan dibunuh oleh ummat Nabi itu dengan pedang, yang kedua dengan racun dan yang ketiga bersama sekelompok orang dari keluarganya dengan pedang dan rasa haus di tempat yang terasing, maka dia itu bagaikan seekor kambing yang disembelih, dia bersabar atas pembunuhan itu demi terangkat derajatnya dan derajat-derajat keluarganya dan keturunannya, dan demi mengeluarkan para pecintanya dan para pengikutnya dari neraka, dan sembilan washi lagi dari keturunan yang ketiga, maka jumlah mereka itu dua belas orang sejumlah Al-Asbâth.”
Beliau saw bertanya, “Apakah kamu tahu siapakah Al-Asbâth itu?”
Dia berkata, “Ya, mereka itu dua belas orang, yang per-tama Lâwî bin Barkhiyâ, dia yang ghaib dari Banî Isrâ`îl, kemudian dia kembali, kemudian Allah menampakkan syari‘ah-Nya dengannya setelah rusaknya, dan dia perang dengan Qarsithiyâ sang raja hingga dia membunuh raja tersebut.”
Beliau berkata, “Akan terjadi pula pada ummatku sebagaimana telah terjadi pada Banî Isrâ`îl dengan menirunya, dan yang kedua belas akan ghaib hingga dia tidak dapat dilihat, dan dia akan datang kepada ummatku pada zaman yang tidak ada Islam kecuali namanya dan tidak ada Al-Quran selain tulisannya, maka ketika itu Allah yang maha berkah dan maha tinggi mengizinkannya untuk keluar, kemudian Allah akan menampakkan Islam dengannya dan akan memperbaruinya. Beruntunglah orang yang mencintai mereka dan mengikutinya, celakalah bagi orang yang membenci mereka dan menyalahinya, dan beruntunglah orang-orang yang berpegang dengannya dan dengan petunjuknya.”   

KEWAJIBAN BERPEGANG KEPADA AL-QURAN DAN AHLULBAIT

Setiap orang Islam pasti sepakat bahwa Islam yang suci itu dituangkan dalam kitab suci Al-Quran dan Al-Sunnah. Dan yang dimaksud dengan Al-Sunnah adalah sunnah-sunnah Rasûlullâh saw. Tetapi pada kenyataannya kita sebagai ummat Islam telah menyimpang jauh dari kedua peninggalan Nabi saw yang sangat berharga itu. Penyebabnya adalah dikarenakan kita terlalu membiarkan terhadap penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di tengah-tengah kita sendiri sehingga ummat ini tidak lagi berpegang kepada ajaran Islam yang suci sebagaimana yang telah diwasiatkan oleh beliau saw. Dan penyimpangan kita yang paling besar serta mendasar adalah kita telah memisahkan Ahlulbait Nabi saw dari Al-Quran padahal orang yang memisahkan Ahlulbait Nabi yang suci dari Al-Quran itu sudah dipastikan tersesat dari jalan yang lurus. Coba kita perhatikan beberapa sabda Nabi saw berikut ini.

Rasûlullâh saw berkata, “Sesungguhnya telah kuting-galkan pada kalian yang apabila kalian berpegang dengannya kalian tidak akan tersesat setelahku, yaitu Kitâbullâh (ibarat) tali yang terentang dari langit ke bumi dan ‘itrah-ku yakni  Ahlulbaitku, dan sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah sehingga mereka datang kepadaku di telaga (Kautsar), maka perhatikanlah oleh kalian, bagaimanakah kalian akan perlakukan aku pada keduanya.” 

Dari Zaid bin Arqam dia berkata: Rasûlullâh saw ber-kata, “Sesungguhnya telah kutinggalkan pada kalian Al-Tsaqalain, yaitu Kitâbullâh (Al-Quran) dan Ahlulbaitku, dan sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah sehingga mereka datang kepadaku di telaga.” 

Dari Jâbir bin ‘Abdullâh dia berkata: Aku melihat Rasûlullâh saw dalam hajinya pada hari ‘Arafah dan beliau berada di atas untanya Al-Qashwâ menyampaikan khotbah, maka aku mendengar beliau berkata, “Wahai manusia! Telah kutinggalkan pada kalian yang jika kalian berpegang dengannya kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitâbullâh dan ‘itrah-ku Ahlulbaitku.” 

Dari Zaid bin Arqam berkata: Pada suatu hari Rasûlullâh saw berkhotbah di hadapan kami dekat mata air yang bernama Khumm yang terletak antara Makkah dan Al-Madînah, beliau memuji Allâh ‘azza wa jalla dan menyanjung-Nya, lalu beliau memberikan pesan dan mengingatkan, kemudian beliau berkata, “Adapun kemudian setelah itu, ketahuilah wahai manusia! Sesungguhnya aku seorang manusia (basyar) yang telah dekat waktunya utusan Tuhanku (Malakul Maut) akan datang kepadaku dan aku pun akan memenuhi panggilan-Nya, dan aku tinggalkan pada kalian Al-Tsaqalain, yang pertamanya Kitâbullâh yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, maka ambillah Kitâb Allâh dan berpeganglah dengannya." Dia perintahkan untuk berpegang kepada Kitâbullâh, lalu beliau berkata, “Dan Ahlulbaitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlulbaitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlulbaitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlulbaitku.” 

Dari Abû Sa‘îd Al-Khudri dari Nabi saw beliau berkata, “Tidak lama lagi aku akan dipanggil, lalu aku penuhi (panggi-lan-Nya), dan sesungguhnya aku meninggalkan pada kamu Al-Tsaqalain: Kitâbullâh ‘azza wa jalla dan ‘itrah-ku. Kitâbullâh itu (ibarat) tali yang terentang dari langit ke bumi dan ‘itrah-ku adalah Ahlulbaitku, dan sesungguhnya Tuhan yang maha halus telah memberitakan kepadaku bahwa keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya datang kepadaku di telaga, maka perhatikanlah aku bagaimana kamu akan memperlakukan aku pada keduanya.”   

« Edit Terakhir: Maret 21, 2013, 07:24:38 PM oleh Abu Zahra »
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
4432 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 27, 2013, 10:12:29 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1236 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 17, 2013, 08:22:07 AM
oleh Abu Zahra
4 Jawaban
2441 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 20, 2013, 01:36:49 PM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
1400 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 20, 2013, 01:51:17 PM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
1339 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 21, 2013, 05:39:17 AM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
1274 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 21, 2013, 07:20:14 PM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
2858 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 22, 2013, 10:00:20 AM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
818 Dilihat
Tulisan terakhir April 17, 2013, 02:44:17 PM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
1045 Dilihat
Tulisan terakhir April 17, 2013, 03:00:38 PM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
4333 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 03, 2013, 04:06:56 PM
oleh Abu Zahra

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan