Penulis Topik: KETAATAN  (Dibaca 3818 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Abu Zahra

KETAATAN
« pada: Maret 03, 2013, 12:14:47 PM »
KETAATAN

Ketaatan atau kepatuhan dilihat dari sisi keharusannya ada dua macam; ada yang mutlak dan ada yang tidak mutlak. Ketaatan yang mutlak adalah ketaatan tanpa pengecualian yang harus dilakukan kapan saja, di mana saja dan perintah apa saja, sebab semuanya benar. Ketaatan yang mutlak itu ditujukan kepada tiga pihak: Allah, Rasûl-Nya dan Ulil Amri sebagaimana dalam firman Allah ‘azza wa jalla berikut ini.

   Yâ ayyuhal ladzîna amanû athî'ullâha wa athî'ur rasûla wa ûlil amri minkum. Fa`in tanâza'tum fî syai`in, farudduhu ilallâhi war rasûli in kuntum tu`minûna billâhi wal yaumil akhir, dzâlika khairun wa ahsanu ta`wîlâ.
   Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kepada Rasûl dan Ulil Amr darimu, jika kamu berselisih dalam suatu persoalan, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasûl jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir, yang demikian itu baik dan lebih baik akibatnya.

   Itulah ketaatan yang difardhukan (al-thâ'atul mafrûdhah) atas diri kita yang jika kita melanggarnya, kita disebut al-'áshî (orang yang melakukan maksiat). Taat kepada kepada Ulil Amri sama dengan taat kepada Rasûlullâh saw, dan bila kita taat kepada Rasûlullâh berarti kita taat kepada Allah ‘azza wa jalla. Demikian pula kalau kita durhaka kepada Ulil Amri, maka sama dengan durhaka kepada Rasûlullâh saw dan bila kita durhaka kepada Rasûlullâh saw maka kita durhaka kepada Allah.

   Jika di antara kita ada perbedaan pendapat atau ada permasalahan yang diperselisihkan, maka harus dikembalikan kepada Allah, Rasûl dan Ulil Amri sebagaimana disebutkan pada ayat tersebut dan juga ayat berikut.

    Wa idzâ jâ`ahum amrun minal amni awil khaufi adzâ'û bih, wa lau raddûhu ilar rasûli wa ila Ulil Amri inhum la'alimahul ladzîna yastanbithûnahu minhum walau lâ fadhlullâhi 'alaikum wa rahmatuhu lattaba'tumusy syaithâna illâ qalîlâ.

   Dan apabila datang kepada mereka berita tentang keamanan atau ketakutan, mereka lalu menyiarkannya, dan kalaulah mereka menyerahkannya kepada Rasûl dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya mengetahuinya darui mereka, kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikuti syaithân, kecuali sebagian kecil saja. 

KETAATAN YANG TIDAK MUTLAK (RELATIF)

   Ketaatan selain ke tiga pihak di atas sifatnya relative (nisbi) atau tidak mutlak, selama tidak bertentangan dengan Allah, Rasûl dan Ulil Amri, maka kita mentaatinya dan termasuk dalam konteks taat kepada Allah. Ketaatan yang relatif itu antara lain kepada kedua orang tua (ayah dan ibu)

   Manusia yang paling besar haknya atas kita adalah ibu dan ayah kita hingga diwajibkan atas kita berbuat baik (ihsân) kepada mereka. Allah ‘azza wa jalla berfirman yang artinya sebagai berikut.

   Dan Tuhanmu telah mewajibkan bahwa kamu tidak boleh mengabdi selain kepada-Nya dan berbuat baik kepada kedua orang tua.

   Di antara ihsân kepada kedua orang tua adalah mentaatinya dalam perkara yang baik yang tidak bertentangan dengan Allah, Rasûl dan Ulil Amri, tetapi apabila bertentangan dengan mereka, maka kita tidak boleh mantaatinya. Dan kalau kita mentaatinya dalam perkara yang tidak benar, maka kita telahn menyekutukan Allah dengan kedua orang tua kita. Allah ‘azza wa jalla berfirman yang artinya.

   Dan apabila keduanya memaksamu supaya kamu menyekutukan (sesuatu) dengan-Ku, maka janganlah kamu mentaatinya.

Dan ketaatan relatif lainnya adalah ketaatan kepada Ulama, Guru, KH (Kiai Haji), ustadz, tokoh masyarakat, pejabat negeri dan manusia yang lainnya.

DAN SIAPAKAH ULIL AMRI ITU?

Ûlil Amri atau Ûlul Amr adalah orang-orang yang telah diwajibkan Allah atas kita mentaati mereka (alladzîna faradhallâhu 'alainâ thâ'atahum), mereka orang-orang yang diberi wewenang untuk memerintah atau mengelola ummat manusia di dunia ini, dan taat kepada mereka itu mutlak adanya, dan apabila ada persoalan yang diperselisihkan sekecil apapun, maka wajib dikembalikan atau diserahkan kepada mereka.

Ûlil Amri adalah 12 khalîfah Nabi saw. Mereka itu adalah: 1. ‘Ali bin Abî Thâlib, 2. Al-Hasan bin ‘Ali, 3. Al-Husain bin ‘Ali, 4. ‘Ali bin Al-Husain, 5. Muhammad bin ‘Ali, 6. Ja‘far bin Muhammad, 7. Mûsâ bin Ja‘far, 8. ‘Ali bin Mûsâ, 9. Muhammad bin ‘Ali, 10. ‘Ali bin Muhammad, 11. Al-Hasan bin ‘Ali dan 12. Al-Hujjah bin Al-Hasan.

Dari Jâbir bin Yazîd Al-Ju‘fi berkata: Saya telah mendengar Jâbir bin ‘Abdullâh mengatakan: Tatkala turun ayat, Yâ ayyuhal ladzîna ãmanû athî‘ullâha wa athî‘ur rasûla wa ûlil amri minkum. Saya bertanya, "Wahai Rasûlullâh, kami telah mengenal Allah dan Rasûl-Nya, maka siapakah ûlil amri yang Allah sertakan mentaati mereka dengan mentaatimu?” Maka beliau saw berkata, “Mereka itu para khalîfah-ku wahai Jâbir dan para imam kaum muslimîn setelahku; yang pertamanya ‘Ali bin Abî Thâlib, kemudian Al-Hasan, kemudian Al-Husain, kemudian ‘Ali bin Al-Husain, kemudian Muhammad bin ‘Ali yang dikenal dalam Al-Taurâh dengan Al-Bâqir, dan kamu akan berjumpa dengannya wahai Jâbir, jika kamu bertemu de-ngannya, sampaikanlah salâm dariku, kemudian Al-Shâdiq Ja‘far bin Muhammad, kemudian Mûsâ bin Ja‘far, kemudian ‘Ali bin Mûsâ, kemudian Muhammad bin ‘Ali, kemudian ‘Ali bin Muhammad, kemudian Al-Hasan bin ‘Ali, kemudian yang sama namanya dan nama kunyahnya denganku, Hujjah (bukti) Allah di bumi-Nya dan sisa-Nya (baqiyyatuh) pada hamba-hamba-Nya putra Al-Hasan bin ‘Ali, dia itu yang akan mengalami keghaiban dari para pengikutnya dan para pembelanya yang (banyak orang) tidak teguh pada masa keghaibannya dengan imâmahnya kecuali orang-orang yang Allah telah menguji hatinya untuk keimanan.” Jâbir berkata, “Wahai Rasûlullâh, apakah akan ada manfaatnya bagi para pengikutnya pada masa keghaibannya itu?” Beliau saw berkata, “Ya, demi Tuhan yang telah mengutusku dengan kenabian, sungguh mereka akan mendapatkan sinar dengan cahayanya, dan mendapat-kan manfaat dengan wilâyah-nya pada masa keghaibannya seperti halnya orang-orang yang mendapat manfaat dengan matahari walaupun ia tertutup awan. Wahai Jâbir, ini rahasia Allah yang tertutup dan ilmu Allah yang tersembunyi, maka sembunyikanlah kecuali kepada ahlinya (orang yang akalnya berfungsi dan hatinya terbuka untuk kebenaran).” [Ta`wîl Al-Ayât Al-Zhâhirah]

Dari Ibnu ‘Abbâs berkata: Rasûlullâh saw telah berkata, “Siapa yang ingin sehidup semati denganku dan menempati surga ‘Aden yang telah diciptakan Allah, maka hendaklah dia menjadikan ‘Ali pemimpinnya setelahku, mendukung penggan-tinya dan mengikuti para imam setelahku, karena mereka itu adalah ‘itrah-ku (orang-orang yang punya hubungan darah yang dekat), mereka diciptakan dari darah dagingku, dan mereka diberi pemahamanku dan ilmuku, maka celakalah bagi ummatku yang mendustakan keutamaan mereka dan memutuskan hubunganku dengan mereka. Allah tidak akan memberikan syafa‘atku kepada mereka.” [HR Al-Thabrâni] 
« Edit Terakhir: Maret 04, 2013, 06:02:02 AM oleh Kang Asep »
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9264
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 353
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:KETAATAN
« Jawab #1 pada: Maret 03, 2013, 01:42:44 PM »
menyimak dulu ^
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9264
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 353
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:KETAATAN
« Jawab #2 pada: Maret 04, 2013, 05:59:08 AM »
sekarang Imam Mahdi sedang mengalami kegaiban. jadi, siapa yang memerintah kita? dan bagaimana ketaatan kita kepada beliau?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Abu Zahra

Re:KETAATAN
« Jawab #3 pada: Maret 04, 2013, 11:56:37 AM »
Seperti kita melaksanakan perintah Allah ta'âlâ yang tidak pernah kita melihat-Nya, dan juga seperti melaksanakan perintah Rasulullah saw yang tidak pernah kira berjumpa dengannya.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9264
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 353
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:KETAATAN
« Jawab #4 pada: Maret 06, 2013, 07:56:34 AM »
Bertanyalah kalian kepada ahla Dzikr, apabila kalian tidak mengetahui (Quran)

bukankah imam Mahdi adalah ahla dizkr? lalu bagaimana kita bisa bertanya kepada beliau, apabila kita tidak bisa menjumpainya?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Abu Zahra

Re:KETAATAN
« Jawab #5 pada: Maret 06, 2013, 01:07:59 PM »
Ajaran Islam sudah lengkap, tinggal diamalkan saja. Pada hari Kamis 18 Dzul Hijjah tahun 10 hijrah setelah zhuhur ada turun ayat dari Yang Maha Pencipta, "Alyauma akmaltu lakum dînakum wa atmamtu 'alaikum ni'matî wa radhîtu lakumul islâma dînâ." (Pada hari ini telah Ku-sempurnakan ajaranmu untukmu dan telah Ku-curahkan atasmu nikmat-Ku dan Aku rido Islam sebagai pedoman hidupmu. [Al-Mâ`idah 5/3]
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9264
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 353
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:KETAATAN
« Jawab #6 pada: Maret 06, 2013, 01:17:32 PM »
kalau ajaran Islam sudah lengkap, apakah masyarakat masih membutuhkan sosok seorang manusia suci sebagai penafsir Qur`an?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Abu Zahra

Re:KETAATAN
« Jawab #7 pada: Maret 09, 2013, 02:51:53 PM »
Tidak perlu, seperti sekarang keadaan sekarang ini. Rasulullah saja sebagai manusia terbaik selalu diperangi dan dibantah.
« Edit Terakhir: Maret 10, 2013, 02:48:41 PM oleh Abu Zahra »
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9264
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 353
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:KETAATAN
« Jawab #8 pada: Maret 09, 2013, 07:48:09 PM »
jadi, karena Rasulullah sebagai manusia terbaik selalu diperangi dan dibantah, maka adanya penafsir yang maksum selain Rasulullah itu tidak diperlukan?

bukankah adzab Allah kepada umat Islam turun karena akibat umat Islam menafsirkan al quran menurut diri atau kelompoknya masing-masing serta tidak berpegang kepada penafsir yang maksum tersebut?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sandy_dkk

Re:KETAATAN
« Jawab #9 pada: Maret 09, 2013, 10:20:38 PM »
bagaimana kedudukan Wali Fagih? apakah ketaatan yang sama layak kita sandarkan kepadanya? mengingat Imam Maksum sebagai ulil amri masih ghaib...
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline Abu Zahra

Re:KETAATAN
« Jawab #10 pada: Maret 10, 2013, 02:47:51 PM »
Telah disebutkan Ulil Amri adalah Ahlulbait Nabi saw yang wajib atas kita mentaatinya.
Lihat lagi ayat 59 sûrah Al-Nisâ`.

Penafsir Al-Quran yang baik adalah yang meriwayatkan penjelasan Al-Quran dari Rasulullah saw.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9264
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 353
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:KETAATAN
« Jawab #11 pada: Maret 10, 2013, 03:21:21 PM »
ulil amri tersebut kan sebagimana yang disebutkan dalam hadits, adalah 12 orang, mulai dari imam Ali hingga Imam Mahdi. dapat disimpulkan bahwa tidak ada kewajiban kepada Marja atau Wali Faqih untuk taat secara mutlak. tapi kita di sini perlu penegasan dari ustadz, apakah benar kepada wali faqih dan marja tidak ada kewajiban untuk taat?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Abu Zahra

Re:KETAATAN
« Jawab #12 pada: Maret 11, 2013, 05:58:21 PM »
Coba Kang Asep cari dalil wajib taat secara mutlak kepada selain Allah, Rasul-Nya dan Ulil Amri!
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9264
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 353
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:KETAATAN
« Jawab #13 pada: Maret 11, 2013, 09:55:11 PM »
^ tidak saya temukan.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Abu Zahra

Re:KETAATAN
« Jawab #14 pada: Maret 12, 2013, 06:33:40 AM »
Kalau tidak diketemukan, maka tidak wajib taat kepada siapa pun selain kepada Allah Rasul dan para imam pengganti Rasul.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
1 Jawaban
633 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 26, 2015, 05:18:09 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan