Penulis Topik: kekeramatan dan kemaksuman para sahabat nabi saw  (Dibaca 1739 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9259
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 353
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
kekeramatan dan kemaksuman para sahabat nabi saw
« pada: Oktober 29, 2013, 05:12:54 PM »
Sejauh ini, kaum syiah sering dituduh sebagai pencaci maki sahabat nabi saw. Apakah tuduhan ini berdasar atau tidak berdasar ? apakah benar kaum syiah suka mencaci maki sahabat ? jika ada seorang syiah yang mencaci maki sahabat, apakah itu karena pribadinya sendiri atau karena ajaran syiah nya ?

Saya tidak pernah mendapati ulama, habib atau ustadz dari kalangan syiah yang menyuruh atau menganjurkan umat untuk mencaci maki sahabat nabi saw. Tapi tidak dipungkiri, ada oknum syiah yang mencaci maki sahabat nabi saw. Dan hal ini, tidak hanya dicela oleh kaum sunni, melainkan juga dicela oleh kaum syiah itu sendiri. karena bagi kaum syiah sendiri, caci maki bukanlah hal yang dibenarkankan. Oleh karena itu, tuduhan bahwa syiah adalah pencaci maki sahabat merupakan tuduhan yang tidak benar, kecuali dengan pernyataan yang lebih tepat seperti “sebagian orang syiah suka mencaci maki sahabat.” Dan faktanya, yang dimaksud dengan “sebagian orang syiah” tersebut, hanyalah sedikit sekali. Bahkan, selama delapan tahun bergaul dengan kaum syiah, saya tidak pernah mendengar seorangpun yang mencaci maki sahabat nabi saw.

Tetapi, kaum syiah mencoba menggali dan menampilkan sejarah sebagaimana adanya. Sedangkan sebagian kaum sunni mengkeramatkan, mengkultuskan atau memaksumkan para sahabat dengan meyakini bahwa mereka mustahil berbuat salah. Tapi di sisi lain, mereka tidak percaya dengan kemaksuman Ali bin Abi Thalib. Tampaknya terjadi pertentangan dalam pemikiran mereka. Fakta sejarah membuktikan, para sahabat nabi saw itu tidak sekedar saling mencela, tapi juga saling membunuh. Jadi, bagaimana bisa mereka meyakini bahwa “semua sahabat adil”. Mengkritik para sahabat nabi menjadi sesuatu yang tabu, atau bahkan haram. Mereka akan murka kepada orang yang mencoba membicarakan beberapa dosa dan kesalahan yang dilakukan oleh para sahabat nabi saw. Lebih dari sekedar murka, bahkan menuduhnya sesat. Tapi mereka tidak murka kepada sahabat nabi yang membunuh sahabat lainnya. Tampaknya tidak konsisten dengan kaidah, “siapa yang mencaci maki sahabat nabi saw itu berarti sesat”. Mencaci makinya saja sudah sesat, lalu bagaimana dengan orang yang membunuhnya ? mengapa mereka tidak berani mengatakan “sesat” kepada para pembunuh sahabat nabi saw.

Takkala perang Jamal sedang terjadi, seorang prajurit terheran-heran dengan apa yang terjadi dalam perang tersebut. apa-apa yang disaksikannya seakan-akan mustahil, tapi itu benar-benar nyata terjadi di depan matanya. Ia melihat, para sahabat nabi saw yang dulu sama-sama berjuang membela Islam, kini saling berhadapan di medan perang untuk saling membunuh. Kemudian, iapun datang kepada Ali bin Abi Thalib dan bertanya, “Apakah mungkin Thalhah, Zubair, dan Aisyah berkumpul bersama-sama untuk memperjuangkan kepalsuan? Apakah hal ini mungkin terjadi?”

Ali bin Abi Thalib menjawab, “Anda tertipu. Kebenaran dan kepalsuan tidak akan diketahui dari ukuran kekuatan dari pribadi pribadi orang. Tidaklah benar Anda menepatkan kebenaran berdasarkan tindakan pribadi tersebut. ini benar, karena sesuai dengan tindakannya. Itu salah karena tidak sesuai dengan tindakannya. Tidak, manusia tidak boleh menjadi ukuran kebenaran dan kepalsuan. Kebenaranlah yang harus menjadi tolak ukur bagi orang dan pribadi.”[1]

Artikel Terkait :

perang dzatu salasil
tuduhan mughirah pada aisyah r.a
tujuan Aisyah ke kota Bashrah
baiat Ali bin Abi Thalib kepada Abu Bakar
sempurnanya kecerdasan Ali bin Abi Thalib
beriman kepada wilayah ali bin Abi Thalib
 1. Lihat dalam buku : Saqifah karya O. Hashem, Hal. 138
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sultan Roma

Re: kekeramatan dan kemaksuman para sahabat nabi saw
« Jawab #1 pada: November 03, 2013, 06:32:00 AM »
- Ahlussunah wal Jama'ah tentu saja tdk memahami bahwa sahabat Rosulullah itu maksum, hatta sahabat Ali ra., krn yg memiliki sifat maksum itu hanyalah para Nabi dan Rosul. Jadi klu ada yg berpemahaman bahwa sahabat Ali ra. adalah seorang yang maksum, tentu saja ini pemahaman yg yg tdk berasal dari ahlussunah wal jamaah.
- Ya para sahabat tidaklah maksum, dengan segala konsekuensinya, mksudnya? kesalahan n khilaf itu sdikit banyaknya melekat pd mereka rodhiallahu'anh.. shg,mrk pun sangat mungkin utk terseret dlm hal fitan/fitnah, shg menghadirkan perihal2 yg spt TS sebutkan d atas, peperangan d antara para sahabar dsb.
- Lah trus klu sahabat tdk maksum, kuq mrk spt anti kritik ato 'untouchable man' mas bro? ketahuilah kawan, ini d lakukan tdk lain sbg bntuk ketaatan kami kpd Rosulullah Saw., ya dari lisan Rosul Saw. yg mulia kami dapati khobar bahwa Allah Swt. telah RIDHO terhadap para sahabat ra.. So, hey come on, klu Allah Swt. aja telah RIDHO terhadap smua sahabat Rosul, masa kite2 ini mau nyalah2in trus ga ridho gtu, wah tentu saja ini perbuatan yg berlawanan dgn Allah Swt. kawan.


 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9259
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 353
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re: kekeramatan dan kemaksuman para sahabat nabi saw
« Jawab #2 pada: November 03, 2013, 06:45:40 AM »
karena orang mengatakan bahwa hal itu dikatakan oleh Rasulullah, maka daya nalar orang menjadi timpang. tampaknya asal dikatakan "ini dari Rasul", lalu semuanya ditelan begitu saja. para Logicer tidak bersikap seperti itu. tidak harus menganggap sesuatu itu benar karena dikatakan orang "ini sabda Rasulullah". dan tidak harus menganggap benar, karena dikatakan orang "ini terdapat dalam kitab suci". bahkan tidak merasa harus menganggap benar karena orang berkata, "ini adalah Firman Tuhan". para logicer, harus membuktikan segala sesuatunya berdasarkan bukti-bukti logis.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
3 Jawaban
2382 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 16, 2013, 09:11:41 PM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
2269 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 27, 2012, 05:59:20 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
866 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 19, 2014, 06:42:33 PM
oleh Abu Zahra
19 Jawaban
2853 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 27, 2014, 05:47:01 AM
oleh wa2nlinux
1 Jawaban
1874 Dilihat
Tulisan terakhir November 29, 2015, 09:55:14 PM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
1609 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 28, 2015, 09:24:11 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
387 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 24, 2015, 04:39:32 AM
oleh Kang Asep
5 Jawaban
1738 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 13, 2015, 08:46:41 PM
oleh Ziels
3 Jawaban
1062 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 04, 2015, 05:46:29 PM
oleh Agate
0 Jawaban
180 Dilihat
Tulisan terakhir September 13, 2016, 11:43:53 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan