Penulis Topik: IMAM MAHDI AS [BAGIAN TERAKHIR]  (Dibaca 2375 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Abu Zahra

IMAM MAHDI AS [BAGIAN TERAKHIR]
« pada: Maret 22, 2013, 01:22:26 PM »
IMAM MAHDI AS [BAGIAN TERAKHIR]

Fase Keghaiban
   Di dalam keghaibannya, kita wajib mengimaninya dan menanti kehadirannya sebagaimana yang Allah firmankan.

   ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ, الَّذِيْنَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ.
   Itulah Al-Kitâb tidak ada keraguan padanya petunjuk bagi orang-orang yang ber-taqwâ. (Yaitu) orang-orang yang beriman kepada keghaiban.

Mulai Imâmahnya
Kepemimpinan (imâmah) Al-Mahdi telah dimulai dari sejak ayahnya wafat pada tahun 260 hijrah, ketika itu usia beliau baru 4,5 tahun. Setelah itu sampai waktu yang dikehendaki Allah terjadilah ghaibah atas dirinya. Ghaibah atau keghaiban beliau itu ada dua fase keghaiban: ghaibah shughrâ (ghaib kecil) dan ghaibah kubrâ (ghaib besar)

Duta-dutanya yang Empat pada Masa Ghaibah Kecil
Selama beliau dalam ghaibah shughrâ, beliau berhubungan dengan para pengikutnya, namun dengan perantaraan duta-dutanya yang empat secara bergantian. Duta, safîr atau wakil yang pertama adalah (1) ‘Utsmân bin Sa‘îd Al-‘Umari. Setelah dia wafat digantikan oleh putranya (2) Muhammad bin ‘Utsmân Al-‘Umari. Setelah safîr yang kedua wafat, diganti oleh duta yang ketiga, yaitu (3) Al-Husain bin Rûh Al-Naubakhti, dan setelah wafat beliau diganti oleh duta yang keempat yang bernama (4) ‘Ali bin Muhammad Al-Samri. Duta yang keempat ini wafat pada 329 H dan ketika itu usia Imam Al-Mahdi 74 tahun. Jadi selama 69,5 tahun disebut ghaib kecil. Adapun keghaiban besarnya (ghaibah kubrâ) dimulai dari sejak wafatnya wakil beliau yang keempat sampai waktu yang ditentukan Allah ‘azza wa jalla.
Tentang dua fase keghaiban itu telah disebutkan dalam hadîts yang diriwayatkan dari Abû Ja‘far dan Abû ‘Abdillâh ‘alaihimas salâm.

Abû Ja‘far as berkata, “Sesungguhnya bagi Al-Qâ`im ada dua keghaiban, dikatakan orang pada salah satunya, 'Dia telah meninggal.' Dan dia tidak diketahui pada lembah yang mana dia menempuh.” 

Abû ‘Abdillâh as berkata, “Sesungguhnya untuk orang yang punya urusan ini ada dua keghaiban; yang salah satunya sangat panjang hingga sebagian orang berkata, 'Dia telah meninggal.' Dan sebagiannya lagi mengatakan, 'Dia telah terbunuh.' Dan sebagiannya lagi mengatakan, 'Dia telah pergi.' Hingga tidak tersisa atas ajarannya dari sahabat-sahabatnya melainkan sekelompok kecil.”   
   
Hikmah Keghaiban
Para perawi telah menyebutkan tentang keghaiban Al-Imâm Mahdi as dan sebab-sebabnya. Mereka telah meriwayatkan dari Ja‘far Al-Shâdiq as dan Mûsâ Al-Kâzhim as bahwa Allah ‘azza wa jalla telah menyembunyikan kelahiran dan keghaibannya dari manusia supaya di pundaknya tidak ada bai‘ah (sumpah setia) kepada seseorang.
   
Dari ‘Abdullâh bin Al-Fadhl Al-Hâsyimi berkata: Saya mendengar Ja‘far bin Muhammad as mengatakan, “Sesungguhnya bagi yang punya perkara ini (Al-Mahdi as) ada keghaiban yang mesti dijalani, setiap orang yang salah akan ragu kepadanya.” Maka saya bertanya kepadanya, “Mengapa? Kujadikan diriku tebusanmu.” Beliau berkata, “Karena suatu perkara yang tidak diizinkan bagi kami dalam membukanya kepada kalian.” Aku berkata, “Apa wajah hikmah dalam keghaibannya?” Beliau berkata, “Wajah hikmah dalam keghai-bannya itu adalah wajah hikmah dalam keghaiban-keghaiban orang yang terdahulunya dari hujjah-hujjah Allah yang maha tinggi sebutan-Nya bahwa wajah hikmahnya itu tidak akan tersingkap dengan jelas, kecuali setelah munculnya sebagaimana tidak terbuka wajah hikmah pada apa-apa yang Allah berikan kepada Nabi Al-Khadir as melainkan setelah dia berpisah dari Mûsâ as. Wahai Ibnu Al-Fadhl, sesungguhnya perkara ini adalah perkara Allah, rahasia ini adalah dari Allah dan keghaiban ini dari keghaiban-Nya, dan bila kita yakin bahwa Dia ‘azza wa jalla adalah maha bijaksana, pasti kita akan membenarkan bahwa perbuatan-Nya seluruhnya mengandung hikmah di dalamnya sekalipun wajah hikmah tersebut tidak terbuka buat kita.” 

Maka keghaiban Al-Mahdi as itu kita kembalikan saja kepada Allah ‘azza wa jalla sebagaimana disebutkan dalam riwayat ‘Abdullâh bin Al-Fadhl dari Imam Ja‘far Al-Shâdiq as bahwa tidak lain kewajiban kita melainkan menerima dan menetapi (taslîm dan iltizâm) kepada apa yang telah ditentukan oleh kehendak-Nya.
   
Dari Jâbir Al-Anshâri bahwa dia telah bertanya kepada Nabi saw, “Apakah para pengikut (Ahlulbait as) akan mendapatkan manfaat dengan Al-Qâ`im (Al-Mahdi as) pada masa keghaibannya?” Beliau berkata, “Ya, demi Tuhan yang telah membangkitkanku dengan kenabian, sesungguhnya mereka akan mendapatkan manfaat dengannya dan akan mendapatkan cahaya dengan cahaya wilâyah-nya pada masa keghaibannya, seperti orang-orang mendapatkan manfaat dengan matahari sekalipun terhalang oleh awan.” 
   
Dari Al-A‘masy dari Al-Shâdiq as berkata, “Dari sejak Allah menciptakan Ãdam, bumi tidak pernah kosong dari hujjah Allah walaupun Allah tidak diibadati.” Sulaimân berkata: Saya bertanya kepada Al-Shâdiq as, “Bagaimana manusia-manusia mendapatkan manfaat dengan Al-Hujjah yang ghâ`ib lagi tertutup?” Beliau berkata, “Sebagaimana manusia-manusia mendapatkan manfaat dengan matahari bila awan menutupinya.” 
 
Al-Mahdi as berkata, “Dan adapun dari sisi mendapatkan manfaat denganku pada masa ghaibku nanti adalah seperti mandapatkan manfaat dengan matahari dikala ia tidak terlihat karena terhalang awan, dan sesungguhnya aku pengaman bagi penghuni bumi sebagaimana bintang-bintang menjadi pengaman bagi penduduk langit.”   

Beriman kepada Qudrah dan Irâdah Allah
Mungkin ada orang yang merasa keberatan menerima kepemimpinan Imam Al-Mahdi as, dikarenakan dia ghaib dan usianya yang begitu panjang (lebih dari seribu tahun) meskipun telah banyak orang-orang yang dipanjangkan usianya sebelum beliau as seperti halnya Nabi ‘Îsâ as, dan Al-Quran telah menyangkal dan mendustakan kaum yahudi yang meng-klaim telah membunuhnya. Nabi Nûh as telah dipanjangkan usianya oleh Allah sampai 2500 tahun, dan seandainya usia Al-Masîh masih samar buat kita, maka umur Nabi Nûh as cukup panjang dibandingkan dengan Imam Al-Mahdi as, beliau telah hidup selama 850 tahun sebelum bi‘tsah (diangkat nabi), 950 tahun bersama kaumnya mengajak mereka kepada Allah hingga terjadi air bah, dan 700 tahun setelah banjir besar, dan ini merupakan bukti bahwa ada manusia yang hidup di dunia dalam zaman yang panjang. Al-Hârits (Iblîs) dari kalangan jin, dia telah mengabdikan dirinya kepada Allah selama 6000 tahun (tidak diketahui apakah 6000 tahun dunia ataukah akhirat), lalu setelah itu dia durhaka kepada Allah, karena dia tidak mau sujud kepada Ãdam as ketika Allah menyuruhnya, dan dia sampai sekarang masih hidup yang umurnya sudah ribuan tahun.

Di dalam sunnah disebutkan ada beberapa orang yang dipanjangkan usianya, dan ini dapat menguatkan hakikat ini. Antara lain Luqmân bin Ka‘b yang dikenal dengan Al-Mus-taughir, dia hidup 400 tahun, dia meninggal sebelum Islam yang disampaikan Rasûlullâh saw, ‘Abdullâh bin Balqah Al-Ghasani, dia hidup lebih dari 350 tahun, Al-Khadir as, dia masih hidup sampai saat ini, beliau adalah cucu dari Nûh as, nama beliau adalah Balyâ bin Mulkân bin Arfakhsad bin Sâm bin Nûh yang usianya telah mencapai ribuan tahun. Dan para penghuni gua hidup ratusan tahun, mereka ditidurkan Allah di dalam gua selama 309 tahun dengan kondisi badan yang tidak berubah. Maka janganlah ragu terhadap kekuasaan Allah ‘azza wa jalla. Dan ada ulama yang menghina Al-Mahdi as, karena dalam usia 5 tahun sudah menjadi imam yang Allah pilih, padahal Al-Masîh as sudah bicara pada saat masih bayi. Maka mereka yang menghina Al-Mahdi as itu adalah kaum yang ragu kepada kekuasaan Allah.

Ringkasan
Al-Imâm Al-Mahdi as adalah khalîfah Rasûlullâh saw yang kedua belas yang dilupakan oleh sebagian ummat Islam. Nama mulia beliau sama dengan nama Nabi yang terakhir, tetapi dipesankan bahwa untuk beliau sebut saja gelarnya, yaitu Al-Mahdi atau Al-Hujjah. Beliau putra Hasan bin ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali bin Musâ bin Ja‘far bin Muhammad bin ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abi Thâlib as.
   
Beliau dilahirkan pada malam nishfu Sya‘bân malam Jumat pada tahun 255 hijrah. Setelah ayahnya wafat (260 H), imâmah (khilâfah) pindah kepadanya, dari sejak itu sampai usia beliau mencapai 74 tahun, beliau kerap kali berada di rumah ayahnya, beliau berhubungan dengan para pengikutnya, namun tidak secara langsung, melainkan melalui empat orang yang beliau pilih sebagai wakilnya, dan pada masa ini disebut ghaibah shughrâ (keghaiban kecil). Dan ketika pengawasan penguasa zalim atas beliau diperketat dan rumahnya dikepung penguasa Banî ‘Abbâs, beliau keluar dengan inâyah Allah ‘azza wa jalla sebagaimana telah terjadi atasnya lebih dari satu kali, dan dari sejak dia meninggalkan rumahnya sampai Allah mengizinkannya untuk tampil dinamakan ghaibah kubrâ (keghaiban yang besar).

Imam Al-Mahdi as adalah khalîfah Nabi saw dari Ah-lulbaitnya as. Beliau dzurriyyah (keturunan) Rasûlullâh saw dan menurut nubuwwah-nya, beliau akan tampil berkuasa pada akhir zaman sekali, dan beliau akan menegakkan kebenaran dan keadilan di seluruh bumi ini sebagaimana sebelumnya bumi ini telah diliputi oleh kezaliman dan keburukan. Allah ‘azza wa jalla akan menampakkan Islam ini dengannya sekalipun orang-orang kâfir, kaum munâfiq dan bangsa yang musyrik tidak suka.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 483
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:IMAM MAHDI AS [BAGIAN TERAKHIR]
« Jawab #1 pada: April 06, 2013, 06:16:16 AM »
apa saja fatwa, perintah atau pesan yang pernah disampaikan oleh Imam Mahdi untuk umat melalui para wakilnya?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 483
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:IMAM MAHDI AS [BAGIAN TERAKHIR]
« Jawab #2 pada: April 06, 2013, 06:38:07 AM »
Quote (selected)
Para perawi telah menyebutkan tentang keghaiban Al-Imâm Mahdi as dan sebab-sebabnya. Mereka telah meriwayatkan dari Ja‘far Al-Shâdiq as dan Mûsâ Al-Kâzhim as bahwa Allah ‘azza wa jalla telah menyembunyikan kelahiran dan keghaibannya dari manusia supaya di pundaknya tidak ada bai‘ah (sumpah setia) kepada seseorang.

kalau tidak ada kewajiban baiat, bagaimana ada kewajiban thaat?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Abu Zahra

Re:IMAM MAHDI AS [BAGIAN TERAKHIR]
« Jawab #3 pada: April 06, 2013, 07:39:31 AM »
Semua manusia telah melakukan baiat, maka kalau kita tidak taat, dosanya berlipat; dosa melanggar baiat dan dosa tidak taat. baiat itu kepada Allah, Rasilillah dan Ahlulbait, bukan kepada manusia seperti kita yang berlumuran dosa.
 

Offline Abu Zahra

Re:IMAM MAHDI AS [BAGIAN TERAKHIR]
« Jawab #4 pada: April 06, 2013, 07:43:30 AM »
Pesan Imam Al-Mahdi as kepada wakilnya yang keempat: Jangan mengangkat wakil atas nama beliau dan tidak boleh menentukan kehadiran beliau. Siapa pun yang mengklaim sebagai wakilnya dan menentukan kemunculannya adalah pembohong.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
2 Jawaban
6160 Dilihat
Tulisan terakhir April 13, 2013, 09:32:31 AM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
1734 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 20, 2013, 02:04:12 PM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
1911 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 22, 2013, 01:03:31 PM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
1407 Dilihat
Tulisan terakhir September 11, 2013, 08:21:18 PM
oleh Abu Zahra
4 Jawaban
1870 Dilihat
Tulisan terakhir September 16, 2013, 07:18:40 AM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
1411 Dilihat
Tulisan terakhir September 11, 2013, 08:41:21 PM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
1043 Dilihat
Tulisan terakhir April 24, 2015, 07:42:10 AM
oleh Agate
1 Jawaban
1691 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 15, 2015, 11:58:32 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
838 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 18, 2015, 03:00:56 PM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
1526 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 17, 2016, 08:58:46 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan