Penulis Topik: Haramnya Pacaran dan Musik  (Dibaca 117 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9100
  • Thanked: 53 times
  • Total likes: 298
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Haramnya Pacaran dan Musik
« pada: Juli 13, 2017, 05:22:39 AM »
Daftar Isi
====================
1. Hanya Soal Label
2. Haramnya Musik
2.1. Menunggu Bukti
2.2. Konsistensi Terhadap Hukum
====================

1. Hanya Soal Label
Edisi : 10 Juli 2017, 04:39:25

Seorang pemuda umur 17 tahun , sebut saja namanya Hilman.dia japri ke saya,"Saya mencintai seorang gadis bernama Hanah. tapi dia menolak menjadi pacar saya dengan alasan katanya pacaran itu haram. keluarganya agamis, religius dan taat beribadah. saya merasa stress dan putus asa. saya benar-benar mencintainya."

saya katakan padanya, "apakah daging kambing itu halal atau haram ?"

"tentu halal", jawab Hilman.

"sekarang kamu pergilah ke pasar, beli daging kambing, lalu kirimkan pada keluarga Hanah.  dan katakan padanya bahwa itu daging babi. kira-kira mereka akan mau atau tidak ?" tanya saya.

"tentu tidak akan mau." jawab Hilman lagi.

lalu saya menjelaskan, "nah itu, dzat sesuatu tidak akan berubah karena labelnya. daging kambing tidak akan berubah menjadi haram, hanya karena kamu melabelinya sebagai daging babi. demikian pula soal pacaran. sebenarnya "pacaran" itu hanyalah label. halal-haram tergantung isinya. kalo pacara itu berarti kamu bercumbu dan bermesra-mesraan dengan wanita itu, berarti itu yang haram. tapi bila pacaran itu hanyalah persahabatan yang erat dan ikatan janji setia, maka tidaklah haram. tapi mereka akan berpikir bahwa semua hal yang disebut pacaran itu pasti haram."

Hilman berkata, "saya setuju dengan kang Asep, tapi bagaimana caranya saya memberikan pengertian pada Hanah ?"

"begini saja, jangan minta dia menjadi pacarmu. tapi mintalah dia jadi sahabatmu. tanyalah `maukah kamu jadi sahabatku?` "

"sebentar, akan saya tanyakan padanya, " beberapa saat kemudian, Hilman mengirim pesan lagi, "dia mau jadi sahabat saya."

saya lanjutkan, "Nah, .. lalu tanya `bolehkah saya datang ke rumahmu sebagai sahabatmu` ?"

"boleh katanya," jawab Hilman.

saya lanjut, "tanya lagi, maukah kita makan malam bareng di kafe sebagai sahabat ?"

"mau juga dia." kata Hilman.

"Nah, ... apalagi kesulitan kamu. sekarng kamu boleh datang ke rumahnya. bisa berbincang sepuasnya dengan dia. dia juga mau maen ke rumahmu. dia mau diajak makan bareng dikafe. dia mau diajak terlibat dalam berbagia kegiatanmu, sebagai sahabat. tapi itu semua tidak beda dengan apa yang dilakukan bersama oleh sepasang kekasih. benar kan ?" tanya saya.

Hilman, "benar juga ya."

sebulan kemudian, Hilman japri lagi. "Hari ini Hanah datang ke rumah. dia membawa kado ulang tahun bagi saya. saya sangat bahagia. semakin hari, kami semakin akrab. kami belajar bersama dan melauan kegiatan-kegiatan bersama, sebagai sahabat. saya sering datang ke rumahnya, dan berbincag bersama ayah ibunya. besok, kami akan tamasya ke pantai, sekedar jalan-jalan."

demikianlah, pandangan dan sikap seseorang dapat berubah terhadap sesuatu hanya karena perubahan nama sesuau itu, hanya karena labelnya.

2. Haramnya Musik
Edisi : 10 Juli 2017, 10:56:41

Untuk kedua kalinya, Hilman berkeluh kesah tentang bagaimana dirinya harus menyikapi keyakinan beragama Hanah, seorang gadis yang dicintainya. Hilman berkata, "Saya menyukai musik, tapi Hanah tidak menyukai saya untuk bermain gitar, seruling atau alat musik lainnya, alasannya karena menurut dia bermusik adalah haram. Jika saya tidak mengikuti pendapat dan kemauannya untuk berhenti bermain musik, dia akan marah dan menjauhi saya. Bagaimanakah saya harus menyikapinya ? Benarkah musik itu haram ? Apakah dalil-dalil yang disampaikan Hanah tentang keharaman musik itu benar ? Apakah MUI benar telah mengeluarkan fatwa haramnya musik ? Perasaan saya menjadi bimbang karena hal ini."

"He..he... Jangan bingung dan jangan risau. Tenanglah ! Bersantailah ! Itulah cara menyikapinya. Sabar, jujur dengan cara itu kamu akan memiliki argumentasi yang kokoh untuk menghadapi segala persoalan terkait keyakinan. Jangan mengikuti apa-apa yang tidk ada ilmunya. Dan kamu hanya perlu mengatakan `tak tahu` , bila memang kamu tidak tahu. Sederhana saja." demikian tanggapan saya.

Lanjut, "Sudah saya berikan satu jawaban, tapi pertanyaanmu banyak. Saya tidak perlu menjawab pertanyaanmu yang lainnya satu persatu, tapi jika kamu ingin agar saya membantu mu menghadapi dan menyelesaikan masalah-masalahmu itu, maka simpanlah dulu pertanyaan-pertanyaanmu, iziankan saya mengangkat beberapa topik diskusi dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada kamu dan jawabalah seluruh pertanyaan saya dengan jujur. Bersediakah ?"

"Ya. Ok!" jawab Hilman.

2.1. Menunggu Bukti
Edisi : 10 Juli 2017, 14:59:45

"Mula-mulanya tak ada masalah saat kamu bermain gitar atau seruling, tetapi sekarang hati kamu menjadi bimbang, perasaan tak nyaman, kamu benar-benar risau bahwa apa yang dikatakan oleh Hanah tentang haramnya bermain musik adalah benar. Iya kan ?" tanya saya.

"betul banget."

"Sebenarnya kamu cenderung meyakini bahwa musik itu tidaklah haram. Tetapi kamu tidak memiliki argumen untuk membuktikannya. Betul ?" tanya saya.

"Betul." kata Hilman.

"Bagi seorang muslim, apa yang diwajibkan oleh Tuhan dalam kitab suci berarti harus dilaksanakan. Dan apa yang diharamkan harus dijauhi, tak perduli kita menyukainya atau tidak. Benar ?" tanya saja.

"benar", jawab Hilman.

"Jika tertulis dalam kitab suci bahwa musik itu haram, maka kita tidak boleh mengingkarinya keharamannya. Seperti diharamkannya daging babi. Benar ?" tanya saya.

"benar".

"Siapa yang mengingkari kebenaran, maka dia itu adalah kafir. Benar ?" tanya saya lagi.

"benar."

"Tapi kamu tidak melihat bukti-bukti yang jelas bahwa di dalam kitab suci tertulis tentang haramnya musik. Benar ?"

"Benar".

"Berarti kamu telah merisaukan suatu tuduhan yang bukti-buktinya belum jelas. Benar ?" tanya saya.

"benar." jawab Hilman.

"Walaupun tidak melihat bukti-bukti tentang keharaman musik, batinmu tetap bimbang, karena tidak terlihat bukan berarti tidak ada. Dan kamu menginginkan bukti-bukti yang kuat tentang ketidakharaman musik. Benar ?" tanya saya.

"Benar".

"Mengapa kamu harus terlebih dahulu membuktikan ketidakharaman musik ? Mengapa bukan kawanmu itu yang terlebih dahulu membuktikan soal haramnya musik, sehingga jelas bagimu kebenarnanya ?" tanya saya.

"Kawan saya itu, merasa sudah membuktikannya dengan dalil-dalil yang dia sampaikan." ujar Hilman.

"Tetapi kamu meragukan kebenaran dalilnya. Benar ?"

"benar."

"kalau begitu, tunggulah saja, hingga dia dapat memberikan dalil-dalil yang tidak dapat kau ragukan lagi !" saran saya.

Hilman berkata, "Tetapi Hanah tidak dapat menunggu lebih lama. Dia sudah mantap dengan keyakinannya, dan memintaku untuk berhenti bermain musik."

saya memberi saran lagi,"jika demikian, maka pilihlah salah satu, penuhi keinginan dia untuk berhenti bermain musik atau lanjutkan saja kegemaranmu bermusik dengan tidak memperdulikan permintaan dia." 

"Tetapi yang saya inginkan adalah saya bisa melanjutkan bermain musik dan dia menyetujuinya." harap Hilman.

Saya berkata, "tidak ada yang dapat mengubah keyakinan seseorang, kecuali keputusannya sendiri. Karena itu, jika Hanah memutuskan untuk meyakini keharaman musik, maka tidak akan ada suatu dalil yang mengubah keyakinannya, kecuali keputusannya sendiri. yang terpenting adalah kamu menyampaikan semua alasanmu, dan diharapkan dapat mengubah keputusan dia. Janganlah keinginanmu melampaui dari batas kemampuanmu! Dia juga harus menghormatimu tentang apa yang kamu putuskan untuk kamu yakini."

2.2. Konsistensi Terhadap Hukum
Edisi : 10 Juli 2017, 15:46:01

saya melanjutkan pembahasan, "Terkait keharaman musik, langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah memeriksa dengan seksama, apakah benar tertulis dalam kitab suci bahwa Tuhan telah mengharamkan musik. Sekarang, mari kita berandai-andai dulu. Seandainya benar tertulis dalam kitab suci tentang haramnya musik, maka tentu kamu tidak dapat mengingkarinya. Tetapi masalahmu sebenarnya bukan soal tahu halal haram saja, melainkan menyangkut hubunganmu dengan Hanah, tentang apa yang dia lakukan terhadapmu dan bagaimana kamu menyikapinya. Jadi, dalam kasus ini tidak saja kamu perlu tahu kebenaran tentang halal haram nya musik, tetapi perlu mengetahui motivasi , sebab dan tujuan kawanmu itu menuntutmu dengan segera berhenti bermain musik, kamu perlu memahami konsistensinya terhadap hukum, seperti mislanya Seseorang melarangamu makan daging ular, dengan alasan ular itu haram. Tetapi dia sendiri makan daging babi yang juga haram. Maka, apakah orang tersebut dapat dikatakan konsisten terhadap hukum ?"

"tidak". Jawab Hilman

"Demikian pula, kawanmu yang memintamu berhenti bermusik dengan alasan haram, cobalah untuk melihatnya, apakah dia konsisten terhadap hukum atau tidak ? Ataukah dia di sisi lain melakukan hal-hal yang justru haram ?" kata saya.

"Apa tujuannya melihat konsistensi kawan saya ?" tanya Hilman.

"Untuk melihat motivasi dia. Kamu perlu tahu, apakah permintaannya terhadap mu untuk berhenti bermain musik itu adalah semata-mata karena Allah, ingin agar kamu menjadi seorang pemuda shaleh, terhindar dari dosa, ataukah dia sekedar ingin mengekangmu atau menunjukan bahwa dia lebih mengerti soal agama dari pada kamu, atau menunjukan dia lebih saleh darimu." demikian saya katakan.

"Pentingkah saya untuk mengetahui semua itu ?" tanya Hilman.

"Tentu penting. Seperti bila ada kawanmu yang memberimu sesuatu, belum tentu itu atas dasar kasih sayang kepdamu. Bisa jadi dia hanya ingin menipumu, setelah kau menyukai pemberian-pemberiannya, lalu menjeratmu dalam tipu muslihatnya. Celakalah kamu, jika tidak memahaminya. Jika kamu tahu, bahwa seseorang hendak menipu mu dengan pemberian-pemberiannya, niscaya kamu menolak. Sedangkan bila adik kecil mu memberimu sebiji permen, tentu kamu akan menerimanya, walaupun kamu merasa tidak ingin permen, karena yang kau terima dari adikmu itu bukan sekedar permen, melainkan kasih sayang adik terhdap kakaknya. " terang saya.

Saya masih ingin memberi contoh lainnya, "Contoh lain, sebagaimana dalam kisah nabi Isa as, di mana Isa as melindungi seorang pelacur wanita yang hendak dianiaya oleh sekelompok orang yang membencinya karena dianggap berdosa, Isa as mengatakan bahwa hanya orang yang tak pernah berbuat dosa saja yang boleh memukulnya. Hal itu membuat orang-orang sadar bahwa dirinya masing-masing berlumur dosa. Karenanya, kebencian mereka terhdap wanita pelacur itu, dan keinginan untuk memukulinya bukanlah semata untuk menegakan hukum Tuhan, tetapi merupakan wujud kemunafikan dan sikap so suci."

Agar lebih jelas, saya sampaikan lagi,"Lagi pula, jangan begitu saja mengagumi dan menilai kesalehan seseorang dari kemampuan berbicara dan berdalil, sehingga kamu mengikuti kemauannya. Seorang pria cabul dapat mengajarkan anak-anak kecil mengaji, membaca dan menulis al Quran. Tapi dia melakukan tindakan cabul terhadap anak-anak itu. Tidak ada yang salah dalam apa yang dia ajarkan. Tapi kesalahan terletak dari apa yang dia lakukan. Karena itu, jangan tertipu hanya dari melihat apa yang dikatakan orang lain, tetapi lihat apa dan bagaimana yang dia lakukan. Ini pula alasan mengapa kita perlu melihat konsistensi seseorang terhadap hukum-hukum Tuhan yang dia yakini.

"O.. Baiklah bila begitu. Tapi bagaimana cara saya mengetahui, bagaimana konsistensi seseorang terhadap hukum ?"

saya menjelaskan,"Dengan metoda dialektika logika. Haramnya gitar, seruling dan alat musik lainnya, itu terdapat di dalam beberapa hadis. Sekarang saya katakan bahwa di alam kitab hadis tersebut juga dikatakan tentang haramnya hidup, kecuali dengan berbaeat pada amir. Maka coba ditanyakan padanya, apakah dia sudah berbaeat pada amir atau belum. Jika belum, maka apa gunanya dia mengharamkan dan menjauhi musik, sementara hidupnya sendiri tetap haram ?"

« Edit Terakhir: Juli 13, 2017, 02:47:55 PM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Dian mardiansyah

Re:Haramnya Pacaran dan Musik
« Jawab #1 pada: Juli 13, 2017, 06:04:48 AM »
Persoalan yang dihadapi hilman mewakili problem saya. Bedanya sy blum smpat japri. Syukurlah kang Asep memposting diforum.  :c017:
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
2 Jawaban
1071 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 14, 2012, 10:59:52 PM
oleh Kang Asep
43 Jawaban
10113 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 22, 2015, 12:21:46 AM
oleh Monox D. I-Fly
4 Jawaban
2181 Dilihat
Tulisan terakhir April 27, 2013, 05:38:58 AM
oleh Kang Asep
10 Jawaban
3810 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 02, 2013, 06:46:38 AM
oleh Kang Asep
18 Jawaban
2512 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 20, 2015, 10:58:26 PM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
645 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 19, 2014, 05:39:26 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
376 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 02, 2015, 11:47:02 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
702 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 13, 2015, 12:51:37 AM
oleh Monox D. I-Fly
1 Jawaban
579 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 17, 2016, 12:08:18 AM
oleh Sandy_dkk
0 Jawaban
135 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 18, 2016, 04:22:55 PM
oleh Kang Asep