Penulis Topik: 18. TA'ZIYAH [MENGHIBUR AHLI MAYIT]  (Dibaca 8462 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Abu Zahra

18. TA'ZIYAH [MENGHIBUR AHLI MAYIT]
« pada: April 13, 2013, 01:14:42 PM »
18. TA‘ZIYAH (MENGHIBUR)

Ta‘ziyah maknanya menghibur orang yang dapat musibah maut, karena salah satu atau sebagian anggota keluarganya meninggal. Ta‘ziyah bisa dilaksanakan sebelum penguburan jenazah maupun setelahnya, tetapi yang paling utama adalah setelahnya, dan Imam Ja'far Al-Shâdiq menyebutnya ta'ziyah yang wajib.

Ta'ziyah Dianjurkan Sebelum dan Sesudah Mayyit Ditanam

Melakukan ta'ziyah itu dianjurkan sebelum dan sesudah je-nazah dikubur, dan lebih ditekankan lagi setelah jenazah dikubur.

Dari Hisyâm bin Al-Hakam brkata, "Saya melihat Mûsâ bin Ja'far ber-ta'ziyah sebelum (mayyit) dikubur dan setelahnya."   
Muhammad bin 'Ali bin Al-Husain berkata: Al-Shâdiq as te- lah berkata, "Ta'ziyah yang wajib itu setelah penguburan (jenazah). Dan beliau berkata, "Telah cuku bagimu dari ta'ziyah bahwa kamu dilihat oleh ahli musibah."   

Dan cukup disebut ta‘ziyah jika orang yang melayat terlihat oleh orang yang mendapat musibah, dan tidak ada batasan untuk waktunya, namun jika ta'ziyah itu berdampak memperbarui kesedihan bagi si ahli mayyit, hendaknya ta'ziyah yang berlebihan itu ditinggalkan.
Boleh duduk-duduk di rumah ahli musibah dalam ta‘ziyah jika untuk membaca Al-Quran atau doa, dan menurut sebagian ulama dua atau tiga hari, tetapi menurut sebagian lagi bahwa lebih dari satu hari termasuk makrûh.

Tentang makan-makan di tempat ahli musibah tidak termasuk sunnah Nabi saw, dan sunnah beliau itu mengirimkan makanan kepada ahli musibah selama tiga hari.

Al-Shâdiq as berkata, "Makan-makan pada ahli musibah (untuk menambah susah) termasuk dari amal yang bukan sunnah, dan sunnahnya itu ialah mengirimkan makanan kepada mereka sebagaimana yang telah diperintahkan Nabi saw untuk keluarga Ja‘far bin Abî Thâlib as tatkata datang berita wafatnya."   

Imam Ja‘far Al-Shâdiq as berkata, "Tatkala Ja‘far bin Abî Thâlib as terbunuh, Rasûlullâh saw menyuruh Fâthimah as untuk mendatangi Asmâ binti ‘Umais dan perempuan-perempuannya dan supaya dia membuatkan makanan bagi mereka selama tiga hari, maka dengan hal itu berjalanlah sunnah." 

Ahli mayyit dihibur dirinya dengan mengingatkan kepada wafatnya Rasûlullâh saw, sebab wafatnya beliau merupakan musi-bah yang paling besar.

Ta‘ziyah, selain menghibur juga meringankan beban ahli mayyit yang sedang dirundung duka agar tidak terlalu sedih. Para tetangga atau sahabat tidak boleh membebaninya, dan bahkan para tetangga dianjurkan memberikan makanan kepada mereka sebagaimana yang di-sunnah-kan oleh Rasûlullâh saw

Pahala Melakukan Ta'ziyah
Mengenai pahala ta‘ziyah, maka orang yang melakukannya akan mendapatkan pahala semisal pahala orang yang mendapat mu-sibah.
 
Dari Jâbir bin 'Abdullâh ra berkata: Rasûlullâh saw telah berkata, "Siapa yang melakukan ta'ziyah kepada orang yang terkena musibah baginya akan mendapatkan seperti pahalanya dengan tidak Allah kurangi sedikit pun dari pahalanya (pahala orang yang mendapat musibah). Siapa yang mengkafani seorang muslim, niscaya Allah akan memberikan busana kepadanya dari sundus (sutera tipis), istabraq (sutera tebal berlungsin mas) dan harîr (sutera biasa). Siapa yang menggali sebuah kubur bagi seorang muslim, niscaya Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga. Dan siapa yang memberi waktu bagi orang yang kesulitan (membayar), niscaya Allah akan menaunginya dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya." 

Dari 'Abdullâh bin Abû Bakr bin Muhammad bin 'Umairah bin Hazm dari ayahnya dari kakeknya bahwa dia telah mendengar Rasûlullâh saw mengatakan, "Siapa yang menengok orang yang sakit, maka senantiasa dia di dalam rahmat hingga apabila dia duduk di sisinya dia berendam di dalam rahmat tersebut, kemudian apabi-la dia berdiri dari sisinya, maka senantiasa dia menyelam padanya sampai dia pulang. Dan siapa yang ber-ta‘ziyah kepada saudaranya yang beriman karena suatu musibah, niscaya Allah ‘azza wa jalla akan memakaikan busana kemuliaan kepadanya pada hari qiyâmah." 

Dari Amîrul Mu`minîn as berkata, "Siapa yang ber-ta‘ziyah kepada orang yang kematian anaknya niscaya Allah akan naungi dia dalam naungan singgasana-Nya pada hari yang tidak ada nau-ngan selain naungan-Nya." 

Dari Abû Ja'far as berkata, "Adalah di antara munâjat yang disampaikan Mûsâ as kepada Ruhannya: Wahai Tuhanku, apa pahala bagi orang yang melakukan ta'ziyah bagi orang yang ditinggal mati oleh anaknya? Dia berfirman, Akan Ku-naungi dia dalam naungan-Ku pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Ku."   

Dari Ishâq bin 'Ammâr dari Al-Shâdiq as telah berkata, "Wahai Ishâq, janganlah kamu anggap suatu musibah yang kamu telah diberi kesabaran atasnya itu tidak ada pahalanya, kamu mendapatkan pahala atasnya di sisi Allah ‘azza wa jalla, sesungguhnya musibah yang tidak berpahala bagi orang yang tertimpa olehnya itu adalah orang yang tidak sabar ketika turunnya."   

Kalimat-kalimat yang Diucapkan dalam Ta‘ziyah

Ãjarakumullâhu wa rahimakum.
Semoga Allah memberimu pahala dan merahmatimu.
 
Dari 'Ali as berkata, "Adalah Rasûlullâh saw apabila ber-ta‘ziyah, dia mengucapkan: Ãjarakumullâhu wa rahimakum. (Semoga Allah memberi pahala dan rahmat kepadamu), dan apabila mengucapkan selamat (tahni`ah), dia mengucapkan, 'Semoga Allah memberikan keberkahan bagimu dan memberkahi atasmu'" 

Jabarallâhu wahnakum, wa ahsana ‘azâkum, wa rahima mutawaffâkum.
Mudah-mudahan Allah menguatkan kelemahanmu, membaguskan kesabaranmu dan menyayangi orang yang diwafatkan dari-mu.

Inna fillâhi ‘azâ`an min kulli mushîbah, wa ‘iwadhan min kulli fâ`it, wa khalafan min kulli hâlik, wa ilallâhi fa`anîbû, wa ilaihi farghabû, wa nazhruhu ilaikum fanzhurû, fainnal mushâba man lam yajbur.
Sesungguhnya karena Allah-lah bersabar dari setiap musi-bah, penggantian dari setiap yang berlalu, dan yang ditinggalkan dari setiap yang meninggal, kepada Allah hendaklah kamu mende-katkan diri, dan kepada-Nya kamu mesti berharap, pemberian tempo-Nya hendaklah kalian perhatikan, sebab sesungguhnya manusia yang ditimpa musibah tidak akan bisa mengganti.
Ta'ziyah dengan kalimat istirjâ', yaitu kalimat:
 
Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘ûn.
Sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan sesungguhnya kami kepada-Nya kembali.

Dari Abû Ja'far as berkata, "Ta‘ziyah orang Islam bagi orang Islam yang dia ber-ta‘ziyah kepadanya adalah kalimat istirja‘ (mengucapkan: Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘un) di sisinya dan mengingatkan (ahli musibah) kepada kematian dan kepada perka-ra-perkara yang bakal terjadi setelahnya."   
Abû 'Abdillâh as mengucapkan kalimat ta'ziyah kepada seorang lelaki yang ditinggal mati oleh anaknya.

Allâhu khairun libnika minka wa tsawâbullâhi khairun laka minibnika.
Allah lebih baik bagi anakmu dari dirimu, dan pahala Allah lebih baik bagimu dari anakmu.

Amîrul Mu`minîn as ber-ta'ziyah kepada sabatnya yang bernama Asy'ats bin Qais yang kehilangan anaknya:

Wahai 'Asy'ats, jika kamu bersedih atas putramu, maka sesungguhnya rahim (keluarga) berhak pada yang demikian itu darimu, dan bila kamu bersabar, maka pada Allah dari setiap musibah ada pengganti. Wahai 'Asy'ats, jika kamu sabar, telah mengalir qadar atasmu dan engkau diberi pahala, tetapi apabila engkau berke-luh-kesah (tidak sabar), qadar telah mengalir atasmu sedang engkau berdosa.

Ta'ziyah Jabra`îl as bagi Keluarga Nabi saw
Dari Abû 'Abdillâh as mengatakan bahwa tatkala Rasûlullâh saw wafat, datanglah kepada mereka Jabra`îl as dan Nabi saw terbungkus kain kafan, dan di dalam rumah ada 'Ali, Fâthimah, Al-Hasan dan Al-Husain as, lalu Jabra`îl berkata:

Salam bagi kalian wahai ahlubaitir rahmah, setiap jiwa akan merasakan kematian, dan sesungguhnya akan disempurnakan pahala kalian pada hari qiyâmah, maka siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia telah beruntung, dan kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang meni-pu, sesungguhnya pada Allah 'azza wa jalla ada penghibur dari se-tiap musibah, pengganti bagi setiap yang mati dan penemuan apa yang telah luput, maka dengan Allah hendakmua kalian yakin, dan kepada-Nya hendaknya kalian mengharap, sebab orang yang ditimpa musibah ada yang tidak mendapat pahala, dan ini akhir langkahku dari dunia. Mereka berkata, "Kami mendengar suara tetapi tidak melihat bentuk tubuh.'"   

Berkumpul duduk di rumah ahli musibah dibolehkan sampai malam ketiga, untuk mendoakan orang yang baru meninggal, tetapi jangan keluar dari konteks ta‘ziyah.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 483
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:18. TA'ZIYAH [MENGHIBUR AHLI MAYIT]
« Jawab #1 pada: April 14, 2013, 12:49:17 AM »
dalam hal ini, seringkali saya melihat orang yang bermaksud untuk menghibur tapi malah justru memberatkan ahli mayit.

Pertama, terlalu banyak tanya
seringkali para pelayat itu terlalu banyak tanya, "kapan meninggalknya? apa sakitnya? bagaimana mula kejadiannya? apa yang dia katakan sebelumnya? tanda-tanda apa yang muncul sebelumnya? .... dst". hampir mirip wartawan. saya sendiri yang wartawan dan hobi bertanya, kalau melayat mayit, suka menahan diri untuk banyak tanya seperti itu. karena pertanyaan seperti itu sudah terlalu sering ditanyakan. tamu pertama, kedua, ketiga, keempat, ke seratus juga menanyakan hal-hal yang sama. kalau menurut saya itu mengganggu dan menyebalkan.

Pertanyaan : Bagaimana menurut hukum Islam, banyak tanya seperti itu dibolehkan atau tidak?

Kedua, melarang ahli mayit untuk menangis
Para pelayat ini, ketika melihat ahli mayit menangis lalu berusaha menghentikan tangisan itu, "sudahlah! jangan menangis! bersabarlah! ikhlaskan kepergiannya! kalau kamu menangis, nanti akan memberatkan almarhum di akhirat! " dll. dalam pandangan saya, orang seperti itu sangat menyebalkan, mengganggu dan bahkan saya bisa katakan "sadis!". bagaimana enggak sadis? orang tuanya meninggal, orang yang dincintai meninggal, kok dilarang menangis? Saat ibrahim ra, putra rasulullah itu wafat, Nabi juga menangis. trus, kenapa kita dilarang menangis? menurut saya,bila ada orang yang menangisi mayit, biarkanlah saja ia menumpahkan air matanya. sebab, dengan tumpahnya air mata, itu justru meringankan beban berat di hatinya. lagi pula tangisan adalah rahmat Allah dan merupakan tanda kelembutan hati.

Pertanyaan : apakah benar kita tidak boleh menangis atas meninggalnya orang yang dicintai?

Ketiga, tertawa dan bercanda ria
dalam beberapa kasus, saya menyaksikan orang yang bercanda ria dan tertawa terbahak-bahak dalam susana duka keluarga mayit. Bahkan mereka sengaja memutar "ceramah bodor" yang menggundang gelak tawa. dalilnya, "dari pada kita bersedih, lebih baik kita memutar komedi ini!" sangat mengherankan, orang menangis dilarang, orang tertawa dianjurkan di dalam suasana duka. padahal kalau mereka menjadikan peristiwa meninggalkanya seseorang itu sebagai dzikrul maut, apa mungkin bisa tertawa terbahak-bahak seperti itu? sangat tidak pantas!

pertanyaan : Bagimana hukum tertawa dan bercanda dalam suasana duka seperti itu?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Abu Zahra

Re:18. TA'ZIYAH [MENGHIBUR AHLI MAYIT]
« Jawab #2 pada: April 14, 2013, 03:31:51 PM »
Banyak bertanya untuk tujuan ilmu dibolehkan. Menangisi orang yang meninggal dibolehkan, yang dilarang itu meratap (menangis berlebihan) yang menunjukkan tidak menerima takdir Allah. Tertawa dan bercanda dalam suasana duka dilarang.
« Edit Terakhir: April 14, 2013, 03:34:11 PM oleh Abu Zahra »
 

Offline Monox D. I-Fly

Re:18. TA'ZIYAH [MENGHIBUR AHLI MAYIT]
« Jawab #3 pada: Desember 17, 2015, 11:23:38 AM »
Pertama, terlalu banyak tanya
seringkali para pelayat itu terlalu banyak tanya, "kapan meninggalknya? apa sakitnya? bagaimana mula kejadiannya? apa yang dia katakan sebelumnya? tanda-tanda apa yang muncul sebelumnya? .... dst". hampir mirip wartawan. saya sendiri yang wartawan dan hobi bertanya, kalau melayat mayit, suka menahan diri untuk banyak tanya seperti itu. karena pertanyaan seperti itu sudah terlalu sering ditanyakan. tamu pertama, kedua, ketiga, keempat, ke seratus juga menanyakan hal-hal yang sama. kalau menurut saya itu mengganggu dan menyebalkan.

Saya jadi ingat dulu waktu ayah dari teman sekelas saya meninggal. Ada salah satu teman sekelas saya yang lain yang menganggap teman saya yang barusan ditinggal ayahnya itu sebagai adiknya sendiri. Saya tanya ke dia "Adikmu nggak kamu temui?". Dia jawab tidak. Saya tanya "Kenapa? Takut salah ngomong?". Dia jawab iya.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
3 Jawaban
1486 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 28, 2015, 01:01:28 AM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
9457 Dilihat
Tulisan terakhir April 14, 2013, 07:03:17 PM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
967 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 02, 2014, 04:45:41 AM
oleh wa2nlinux
2 Jawaban
1615 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 01, 2015, 05:03:37 PM
oleh Kang Asep
16 Jawaban
5431 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 09, 2015, 11:30:10 PM
oleh Akang
1 Jawaban
843 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 07, 2015, 10:37:56 PM
oleh ratna
0 Jawaban
207 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 18, 2016, 05:41:19 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
186 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 27, 2016, 01:42:17 PM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
341 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 10, 2016, 12:57:20 PM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
217 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 11, 2017, 06:56:15 PM
oleh muhammad octavia

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan