Penulis Topik: Mitos Hindu-Buddha: Yesus Pernah ke India ?  (Dibaca 5756 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline comicers

Mitos Hindu-Buddha: Yesus Pernah ke India ?
« pada: Maret 07, 2013, 03:34:43 PM »
Kisah Perjalanan Yesus ke Timur

Ke manakah Yesus Kristus pada usia 12-30 tahun? Pertanyaan ini sudah lama menjadi misteri di kalangan kaum rohaniwan di Barat. Kisahnya diceritakan dalam berbagai versi di Perjanjian Baru dan tulisan apokrit (tulisan-tulisan yang tidak dimasukkan ke dalam kanonisasi Alkitab). Namun demikian, tak pernah disinggung tentang keberadaannya pada masa remaja hingga dewasa, tahu-tahu ia memulai misinya pada sekitar umur 30 tahun.

Para teolog sudah berusaha keras menggali dan menyelidiki Injil sebagai sumber utama dikoherensikan dengan historiografi dan naluri sejarah. Hanya sedikit perincian yang mengungkap kehidupan dan masa kecil yang diperoleh. Tercatat bahwa setelah Yesus berangkat dari Nasareth dengan orangtuanya saat usia 12 tahun, setelah itu tidak terdeteksi aktivitasnya sampai ia dibaptis oleh Johanes di sungai Yordan pada usia 30 tahun.

Tidak ada catatan yang tepat tentang keberadaan dan apa saja yang dilakukannya sebelum berusia 30 tahun. Satu sisi periode yang hilang dalam perjalanan hidup Sang Mesias. Beberapa teolog yakin bahwa Yesus masih berada di Nasareth dalam kurun waktu tahun yang hilang. Cuma memang tak ada tulisan dalam masa periode tersebut karena memang tidak ditemukan sesuatu yang layak dicatat dan didokumentasikan.

Buku ini untuk sementara barangkali mampu menjawab teka-teki tersebut. Sebuah buku yang untuk pertama kalinya memberikan bukti-bukti dan petunjuk baru mengenai satu sisi periode, tahun-tahun yang hilang dari perjalanan spiritual seorang Yesus. Beberapa informasi yang berbobot dari para jurnalis, profesor, petualang dirangkum dalam buku, yang memaparkan bukti naskah kuno di biara Himis yang menyatakan bahwa Yesus pernah berada di sana. Dilengkapi pula dokumentasi foto keberadaan Yesus.

Jawaban tersebut dikemukakan oleh Elizabeth Clare Prophet dengan mengungkapkan data-data yang cukup memberikan informasi baru yang langka tentang keberadaan Yesus. Buku yang berjudul asli The Lost Years of ini menyajikan bukti dokumenter yang terdiri dari empat kisah kesaksian dari orang yang menelusurinya. Kesaksian mereka tersimpan dalam tulisan yang sengaja dibuat untuk memberikan informasi mengenai teka-teki kehidupan Yesus yang hilang itu. Informasi terasa komplet dengan adanya background yang beragam dan saling menguatkan di antara mereka.

Disimpulkan bahwa Yesus dalam periode tahun-tahun yang hilang tersebut, sejak usia 13 tahun hingga 29 tahun, melakukan perjalanan ke dunia Timur, yakni India, Nepal, Ladakh dan Tibet. Perjalanan ini dilakukan baik sebagai murid maupun sebagai guru. Tapi ia dikenal sebagai (Nabi) Isa, bukan Yesus. “Isa diam-diam meninggalkan orang tuanya dan bersama dengan para pedagang Yerusalem menuju India untuk mempelajari hukum Buddha yang Agung,” demikian catatan awal dari sebuah dokumen yang berumur 1.500 tahun.

Bagian awal buku ini dimulai dari catatan Nicolas Notovitch. Ia adalah seorang jurnalis berkebangsaan Rusia, pada tahun 1894 menulis buku La Vie Inconnue de Christ (The Unknown Life of Christ), yang mengisahkan perjalanannya saat ia pergi ke Ladakh (Tibet Kecil) akhir tahun 1887. Notovitch menyatakan dengan tegas bahwa Yesus dalam tahun yang hilang pernah berada di India. Pernyataannya berdasarkan pada sebuah naskah kuno agama Budha berbahasa Pali yang ditemukannya di sebuah biara Himis, dekat Leh, ibukota Ladakh, juga berdasarkan keterangan para Lama, nama lain biksu di Tibet.

Karya Notovitch yang membuka kontroversi juga mendapat banyak kritikan dan anggapan pemalsuan narasi ini, dikuatkan kembali oleh seorang saksi mata pengunjung Himis, Swami Abhedananda. Ia mengatakan bahwa telah bekerja keras untuk melihat dan memeriksa kisah Notovich, dan menyatakan bahwa catatan tersebut memang benar adanya. Bahkan menurut Sister Shivani seorang murid Abhedananda pernah mengatakan bahwa “Swami pernah berbicara di panggung tentang akibat dari penginjilan Kristus yang sempat menghabiskan waktu di India bersama para filosuf Yoga di Tibet.”

Bukti lain dikemukakan oleh Nicholas Roerich, seorang anggota persatuan profesor di Imperial Archeological Institute. Ia mencatat sejarah kehidupan Isa di Timur saat ia memimpin ekspedisi melalui Asia Tengah. Ia melacak kisah Isa (nama timur untuk Yesus) melalui naskah-naskah kuno dan legenda-legenda dari berbagai bangsa dan agama yang ditemukannya. Dari beberapa naskah dan variasi legenda yang diperoleh akhirnya merujuk ke satu kesimpulan bahwa dalam kurun waktu yang hilang, Yesus berada di India dan Asia .

Tidak hanya itu beberapa tahun berselang tepatnya tahun 1939 seorang musisi dan profesor ilmu musik, Madame Caspari bersama suaminya, Charles melakukan perjalanan ke Gunung Kailas yang dipimpin oleh pemimpin agama, Clarence Gasque. Ia berhasil mengabadikan gambar yang anehnya sama dengan foto yang hilang yang pernah disaksikan dan diabadikan oleh Notovitch. Selain itu mereka mendapatkan perkamen dari daun yang diberikan oleh biksu dan pustakawan biara di Himis. Saat menyerahkan perkamen tersebut, biksu mengatakan bahwa Yesus pernah berada di Himis. Bahkan di daerah ini ditemukan catatan tentang kehidupan Yesus Kristus secara sistematis.

Banyak bukti lain yang ditemukan dalam tahun-tahun berikutnya yang semakin menguatkan keberadaan Yesus di Timur. Misalnya saja dari pengakuan Dr. Robert S. Ravics, seorang profesor antropologi yang mendengar kisah Yesus dari para warga terhormat di Himis. Juga dikuatkan kembali oleh petualang dunia Edward F. Noack yang singgah di Himis akhir tahun tujuh puluhan. Menurutnya seorang Lama di biara mengatakan bahwa ada sebuah naskah yang terkunci di ruang penyimpanan yang menggambarkan perjalanan Yesus ke Ladakh.

“Nama Isa sangat dihormati oleh Buddhisme. Tetapi hanya pemimpin Lama yang tahu banyak tentangnya, yang telah membaca naskah tentang Nabi Isa. Kami memiliki banyak Buddha seperti Isa, dan ada 84.000 naskah, tetapi hanya sedikit orang yang membaca lebih dari seribu naskah,” ujar seorang Lama Tibet. Di bagian lain dikutip catatan tentang Yesus, “Jika dibalik kehadiran Buddha terkadang sulit untuk mengakui wujud mulia dari Buddha sang Guru, maka cukup sulit untuk menemukan di pegunungan Tibet kisah tentang Kristus. Namun biara Buddhis menyimpan ajaran Kristus dan para Lama mengetahui tentang Kristus, yang dijaga dan diajarkan.”

Dalam karyanya Altai-Himalaya yang dikutip buku ini, Roerich mengatakan, “Demikianlah legenda Asia yang menceritakan gambaran tentang Yesus, begitu terkenal di hampir seluruh negeri. Dan Asia menyimpannya di pegunungan sebagai legenda. Dan tidak mengejutkan jika ajaran Yesus dan Buddha menuntun bangsa-bangsa menjadi satu keluarga. Memang indah, bahwa gagasan tentang kesatuan begitu jelas digambarkan. Dan siapa yang menentang gagasan ini? Siapa yang akan mengurangi keputusan hidup yang sederhana dan indah ini? Dan kesatuan duniawi begitu mudah bersatu dalam kesatuan besar dari seluruh dunia. Perintah Yesus dan Buddha terletak dalam satu rak. Dan tulisan kuno Sanskrit dan Pali mempersatukan semua aspirasi.”

Benarkah demikian? Memang masih banyak yang meragukan kebenaran dan keaslian berbagai bukti yang telah ditemukan oleh berbagai sumber tersebut. Sudah pasti para teolog Kristen di Barat pun menyangsikannya. Namun demikian sedikit banyak buku ini telah menyajikan, memberikan dan menyediakan satu petunjuk baru bagi penyelidikan selanjutnya. Paling tidak telah memberikan satu pemahaman baru yang cukup mengernyitkan dahi bagi tanda tanya kita mengenai perjalanan spiritual Yesus selama tahun-tahun yang hilang itu.

http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=5114.0
 

Offline comicers

Re:Mitos Hindu-Buddha: Yesus Pernah ke India ?
« Jawab #1 pada: Maret 07, 2013, 03:35:46 PM »
Missing Years of Jesus
administrator | February 16, 2009

Sumber: Stevent Knap
Karya : Suryanto, M.pd

Pernahkah Anda mendengar istilah “Missing Years” dalam teologi kekristenan? Mungkin belum! Bahkan, pengalaman saya, para bruder dan suster pun ada yang belum mengetahuinya. Apalagi umat awam, barangkali secara sengaja tidak diinformasikan mengenai hal itu.
Tapi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan “missing years” itu? Ya, itu memang terminologi dalam bahasa Inggris yang berarti “tahun-tahun yang hilang”. Tahun-tahun yang masih menyisakan teka-teki besar bagi sebagian umat Katholik dan Kristen yang kritis. Mengapa demikian?
Orang yang mempelajari Injil dengan seksama, pasti akan dapat mengetahui riwayat hidup Yesus Kristus. Mereka tahu : kapan, dimana, dan bagaimana kisah kelahiran Yesus. Para pembaca Injil juga tahu, bagaimana dan pada usia berapa Yesus meninggal di salib, lalu “bangkit” kembali. Namun kalau mereka jeli, mereka juga akan mendapatkan fakta berikut ini. Bahwa Injil menceritakan kelahiran dan kegiatan Yesus sampai dengan Yesus berusia 12 tahun. Bahwa Yesus terlahirkan oleh Bunda Maria, bahwa Yesus secara ajaib menyelamatkan orang-orang yang percaya pada-Nya.
Setelah itu, tiba-tiba Injil menceritakan kembali kehidupan Yesus pada waktu Beliau sudah berusia 30 tahun. Saat itu, Yesus menerima baptis dari Yohanes Pembaptis di sungai Jordan. Sejak itu Injil kembali menceritakan secara runtut kehidupan Yesus. Kegiatan Beliau mengajarkan, menyembuhkan orang-orang sakit, berkhotbah di atas bukit, sampai dengan Yesus di salib. Juga masih dilengkapi dengan kesaksian para murid yang bertemu kembali dengan Yesus, setelah Yesus meninggal disalib, tetapi secara ajaib “bangkit” kembali.
Dengan demikian, terdapat 18 tahun “missing years”. Tidak ada sepatah katapun dalam Injil yang bercerita apa yang terjadi pada diri Yesus sejak berusia 13 tahun hingga akhirnya tiba-tiba berada di Sungai Jordan. Inilah yang disebut sebagai “tahun-tahun” yang hilang. Tentu kita akan bertanya-tanya, mengapa hal itu terjadi? Apa yang sesungguhnya di alami oleh Yesus?
Saya pernah mencoba mempertanyakan hal ini kepada beberapa orang Katholik dan Kristen. Anehnya, banyak di antara mereka yang bahkan “baru dengar” istilah itu, justru setelah saya mempertanyakannya. Ada juga yang mengetahui hal itu, lalu mencoba menjelaskan sebagai berikut.
“Mas, Injil itu berisi pengkabaran tentang kasih Allah, bukan biografi hidup Yesus. Jadi, yang diuraikan di dalamnya adalah ajaran-ajaran keselamatan, bukan kronologi hidup Yesus. Hanya kejadian-kejadian ajaib yang dilakukan oleh Yesus saja yang dicatat dan dilukiskan dalam Injil. Itu yang lebih penting. Jangan menuntut bahwa seluruh kehidupan Yesus harus tercatat di dalam Injil. Bukan itu tujuan Injil.” jawab seorang pria, yang kebetulan adalah seorang bruder yang sedang mendapat tugas belajar. Ia tampak yakin dan percaya diri menyampaikan jawaban itu, sambil jujur mengatakan bahwa penjelasan itu dia peroleh dari salah seorang pastornya di gereja.
Sekilas, jawaban itu memang mengena. Tapi, saya sampaikan lagi pertanyaan kritis :
“Oke, Mas. Trimakasih jawabannya. Tapi, cobalah renungkan. Apakah benar, Yesus yang kelahirannya saja ajaib (terlahir dari seorang perawan), sampai usia 12 tahun juga masih melakukan keajaiban-keajaiban, eh…selama 18 tahun berikutnya sama sekali tidak lagi melakukannya? Masak sih…keajaiban itu terhenti selama 18 tahun? Kenapa, apa alasannya? Bukankah setelah itu, Yesus kembali melakukan hal-hal ajaib sampai puncaknya ‘bangkit’ kembali dari kematiannya di tiang salib??” Mahasiswa itu terdiam, merasakan adanya kebenaran dalam pertanyaan saya.
Coba bandingkan, lanjut saya, dengan Hadist dalam Islam, yang berisi uraian sangat detil tentang pemikiran, ucapan, dan perilaku Nabi Muhammad. Bagi seorang tokoh pilihan Tuhan (nabi) sekaliber Yesus, tidakkah 18 tahun merupakan selang waktu yang terlalu panjang untuk tidak berbuat sesuatu apapun yang pantas untuk dicatat dalam Injil?
Karena semuanya terdiam mendengar pertanyaan saya, akhirnya dengan berat hati saya bertanya lagi : “Pernahkah Anda dengar bahwa sebenarnya Yesus pergi ke India belajar bhakti yoga??”

YESUS KE INDIA??

Kontroversi tentang “missing years” Yesus bukanlah hal yang baru. Sejak tahun 1890-an hingga saat ini, telah banyak buku yang terbit membahas apa yang sesungguhnya dilakukan oleh Yesus selama 18 tahun yang tidak diceritakan dalam Injil tersebut. Ada sarjana yang mengkajinya dari sisi teologi, ada pula yang murni membahasnya berdasarkan temuan-temuan arkeologi. Misteri tentang kehidupan Yesus tersebut mulai mencuat ketika pada tahun 1870-an, seorang wartawan Rusia bernama Nicolas Notovitch melakukan perjalanan wisata ke negara-negara Asia Selatan. Akhirnya pada tahun 1887 Notovich tiba di India. Ketika mengunjungi sebuah wilayah bernama Leh, di dekat sungai Wakha, ia memutuskan untuk mengunjungi dua vihara Budha yang ada di daerah itu. Di vihara itu, Notovitch bertemu dengan seorang Lama yang berkata kepadanya bahwa : “We also respect the one whom you recognize as Son of the one God. The spirit of Buddha was indeed incarnate in the sacred person of Issa [Jesus], who without aid of fire or sword, spread knowledge of our great and true religion throughout the world. Issa is a great prophet, one of the first after twenty-two Buddhas. His name and acts are recorded in our writings.” Terjemahan:
“Kami juga menaruh hormat kepada Beliau yang Anda kenal sebagai Putra Tuhan. Jiwa Budha sugguh-sungguh menjelma dalam diri orang suci Issa (Yesus) yang tanpa bantuan api ataupun pedang, menyebarluaskan agama kami yang agung dan sejati ke seluruh dunia. Issa adalah seorang nabi besar, merupakan yang pertama setelah dua puluh dua Budha. Nama dan perilaku Beliau tercatat dalam tulisan-tulisan kami”.
Mendengar hal itu, Notovitch sangat terkejut. Bagaimana mungkin Lama ini menyebut tentang seorang suci bernama Issa, yang dikenal sebagai Yesus oleh orang-orang Kristen? Akhirnya, Notovitch diberitahu bahwa ada sebuah dokumen kuno berbahasa Pali yang menceritakan kisah Yesus selama di India yang tersimpan di salah satu vihara Hemis di Lhasa, Tibet. Ketika sedang mengendarai kuda menuju vihara tersebut, Notovitch mengalami kecelakaan dari atas punggung kudanya hingga patah kaki. Ia mendapat perawatan dari para Lama di vihara Hemis itu selama beberapa waktu. Akhirnya para Lama di sana bersedia menunjukkan dokumen yang dimaksud. Dengan bantuan seorang penterjemah, Notovitch berhasil mengcopy naskah itu, dan membawanya ke Rusia.
Notovich kemudian berusaha menunjukkan temuannya kepada beberapa cardinal, yang sudah barang tentu menolak untuk menerbitkan dan menyebarluaskan hal yang menghebohkan itu.
Notovich kemudian menerbitkan sendiri sebuah buku yang berjudul The Unknown Life of Jesus Christ”, yang berisi uraian lengkap tentang apa yang dilakukan oleh Yesus selama berada di India. Dalam naskah itu disebutkan bagaimana Yesus muda meninggalkan rumah orang tuanya secara diam-diam di Yerusalem, lalu menuju daerah Sindh. Di sana, ia belajar pengetahuan spiritual dari seorang guru lalu saat berumur 14 tahun, ia menyeberang ke India.
Bila kita cermati ajaran-ajaran Yesus, dan kita bandingkan dengan ajaran-ajaran Hindu, khususnya ajaran Waisnawa dengan penekanan pada aspek Bhakti Yoga, akan dapat kita temukan persamaan-persamaannya. Misalnya, dalam salah satu dari Sepuluh Perintah, Yesus mengajarkan agar seseorang mencintai Tuhan dengan segenap hati dan jiwanya, melebihi cinta terhadap segala sesuatu. Ajaran bhakti yoga juga menekankan cinta bhakti sebagai jalan mendekatkan diri kepada Tuhan. Persamaan ini dapat kita pahami, mengingat dalam perjalanannya ke India, Yesus pernah tinggal dan belajar dari para brahmana di wilayah Jagannath Puri, di Propinsi Orisa dan juga di kota Benares. Di Jagannath Puri, terdapat mandir/kuil Jagannath yang tersohor diseluruh India yang di dalamnya dilakukan pemujaan terhadap murti Sri Krisha, Balarama dan Subhadra secara besar-besaran.
Dalam dokumen berbahasa Pali yang tersimpan di vihara Hemis itu, diceritakan bahwa : “Para brahmana mengajari Isa untuk membaca dan mempelajari Weda, cara menyembuhkan penyakit melalui doa, cara mengajarkan dan menjelaskan kitab suci, cara mengusir roh jahat yang merasuki tubuh manusia, dll. Isa menghabiskan waktunya selama 6 tahun di Jagannath, Rajegriha, Benares, dan kota-kota suci lainnya. Semua menyayangi Isa, karena ia hidup berbaur dengan para vaisya dansudra dan mengajari mereka kitab suci. Namun golongan brahmana dan ksatria di kota itu yang telah merosot moralnya mengatakan bahwa Tuhan tidak mengijinkan para vaisya dan sudra untuk mendengarkan ajaran Weda. Karena itulah para brahmana itu meminta Isa untuk meninggalkan golongan yang dianggap rendah itu, dan mengajak Isa untuk memuja Tuhan para brahmana saja.
Namun Issa tidak mengindahkan para brahmana itu, ia tetap datang kepada para sudra, dan mengajak mereka menentang para brahmana dan ksatria yang menyimpang dari ajaran Weda itu. Yesus mengatakan bahwa : ‘Pada Hari Pengadilan nanti, para waisya dan sudra akan diampuni dosanya karena kebodohan mereka. Tetapi, Tuhan akan menghukum mereka yang terlalu sombong dengan hak-hak yang dimilikinya (brahmana).
“The Vaisyas and the Soudras were struck with admiration, and demanded of Issa how they should pray to secure their happiness. ‘Do not worship idols, for they do not hear you; do not listen to the Vedas, where the truth is perverted; do not believe yourself first in all things, and do not humiliate your neighbor. Help the poor, assist the weak, harm no one, do not covet what you have not and what you see in the possession of others.’”
Artinya : “Para vaisya dan sudra mengagumi ajaran-ajaran mulia itu dan bertanya kepada Isa bagaimana seharusnya mereka berdoa untuk memperoleh kebahagiaan. Isa menjawab “Jangan memuja berhala, karena berhala tidak bisa mendengar; jangan mendengarkan ajaran Weda, karena kebenarannya telah diputar balik; jangan mempercayai dirimu sendiri dalam segala hal; jangan menghina tetanggamu. Bantulah orang miskin, tolonglah orang yang lemah, jangan menyakiti orang lain, jangan iri terhadap milik orang lain yang tidak engkau miliki.”
Demikianlah, pada akhirnya Yesus dipaksa untuk meninggalkan kota Jagannat Puri oleh para brahmana yang marah karena Yesus (Isa) mengajarkan ajaran agama kepada kasta yang lebih rendah. Oposisi dari para brahmana kasta itu begitu kuatnya, hingga akhirnya Yesus harus kembali pulang ke tanah kelajirannya, saat ia berusia 29 tahun. Di sana, Ia kemudian memulai kegiatannya mengajarkan, dan sejak itulah Injil mulai kembali mencatat kehidupan dan kegiatan pengajaran Yesus.
Sejak penerbitan buku oleh Notovitch itu, banyak orang-orang penting yang datang langsung ke Vihara Hemis itu, dan berhasil melihat secara langsung dokumen yang menghebohkan itu. Mereka kemudian menerbitkan buku dengan tema serupa antara lain : Jesus died in Kashmir (Andreas Faber-Kaiser, London, 1977) Jesus in Rome (Robert Graves & Joshua Podro, London, 1957); The Myth of the Cross (AlHaj A.D Ajijola, Lahore, Pakistan, 1975) dan banyak buku lainnya. Buku-buku itu menyajikan bukti-bukti bahwa sesungguhnya Yesus tidak meninggal di tiang salib lalu ‘bangkit’ kembali. Yesus pergi ke India tersebut menjadi perdebatan yang tidak habis-habisnya. Sampai akhirnya pada tahun 1978, diselenggarakanlah “First International Conference on the Deliverance of Jesus Christ from the Cross” (Konferensi Dunia Pertama tentang Pembebasan Kristus dari Tiang Salib) yang diselenggarakan pada tanggal 2 s/d 4 Juni 1978 bertempat di Commonwealth Institute Kensington High Street, London, Inggeris. Berdasarkan bukti dalam Injil maupun penelitian arkeologi dan laboratorium – para pembicara menyatakan bahwa Yesus memang tidak meninggal ketika di salib. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa setelah peristiwa “kebangkitan Yesus” itu, sesungguhnya Yesus pergi ke Kashmir sampai akhirnya meninggal dunia di sana.
Selain naskah berbahasa Pali di atas, para sarjana semakin yakin dengan kebenaran bahwa Yesus pernah datang ke India setelah mereka membaca ramalan tentang Issa dalam kitab Bhavisya Purana. Bhavisya Purana, menurut para ahli disusun pada sekitar tahun 115 M oleh Rsi Suta. Dalam kitab Bhavisya Purana itu, dalam bagian Pratisarga Parva, Khanda 3, ayat 16-33 disebutkan tentang pertemuan antara Maharaja Shalivahana dengan Issa di Srinagar, India. Selengkapnya, uraian tersebut adalah sebagai berikut : “Shalivahan, cucu Vikrama Jit akhirnya mengambil alih pemerintahan. Beliau mengalahkan gerombolan penyerang dari Cina, Parthian, Scythians dan Bactrians. Raja Shalivahan membangun tembok pembatas antara para Arya dengan para mleccha (non-Hindu), dan memerintahkan orang-orang mleccha itu untuk berdiamdi pinggiran wilayah India.
Suatu hari, raja Shalivahana, pemimpin kaum Sakhya, pergi ke Himalaya. Di sana, di wilayah bernama Hun (= Ladakh, bagian dari kerajaan Kushan) raja yang perkasa itu bertemu seseorang yang duduk di atas sebuah bukit, yang tampak sangat saleh. Kulitnya cerah, dan mengenakan pakaian putih-putih. Raja Shalivahan bertanya kepada orang suci itu, dan yang ditanya menjawab : “Saya dikenal sebagai Anak Tuhan , lahir dari seorang perawan, aku adalah pemimpin orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan, berusaha keras mencari kebenaran sejati.”
Sang Raja bertanya lagi : “Apa agama Anda?” Orang itu menjawab : “Wahai Raja, saya berasal dari negeri asing, dimana tidak ada lagi kebenaran di sana dan kejahatan merajalela. Di tanah orang-orang yang tidak beriman, aku muncul sebagai Al-Masih. Namun raksasa Ishamasi menjelmakan dirinya dalam bentuk orang-orang biadab yang mengerikan; saya dibuang oleh orang-orang biadab itu…. Wahai Raja, dengarlah olehmu, agama yang aku bawa kepada orang-orang yang tidak percaya itu : setelah menyucikan hati dan pembersihan badan yang tidak suci, dan setelah mencari perlindungan dalam doa kepada Naigama, manusia akan berdoa kepada Dia Yang Kekal. Melalui jalan keadilan, kebenaran, meditasi, dan penyatuan jiwa, manusia akan menemukan jalan untuk mencapai Isa ditengah-tengah cahaya. Tuhan, seteguh matahari, pada akhirnya akan menyatukan seluruh jiwa yang mengembara dalam diri Beliau. Wahai Raja, dengan demikian, Ishamasi akan dihancurkan, dan wujud Isa yang penuh kebahagiaan, pemberi kebahagiaan, akan bersemayam selamanya di dalam hati; dan saya disebut Masehi (Imam Mahdi) …”
Perhatikan bahwa dalam percakapan itu, Yesus memperkenalkan diri dengan sebutan Issa. Sebutan itu pulalah yang digunakan dalam naskah berbahasa Pali yang tersimpan dalam vihara Buddha yang ditemukan oleh Nicolas Notovitch itu. Juga perlu dicatat, bahwa dalam Al-Quran, nama Yesus lebih dikenal dengan sebutan Nabi Issa.
Terlepas dari kontroversi itu, ada hal yang perlu kita catat sebagai penganut Weda. Bahwa Weda adalah sebuah buku pengetahuan spiritual tertua di dunia, yang paling komprehensif dan lengkap. Bukti adanya ramalan Yesus, Sang Buddha, dan Nabi Muhammad, serta ciri-ciri ajaran mereka dalam kitab Bhavisya Purana, Bhagavata Purana, dan lain-lain menunjukkan bahwa ajaran Weda bersifat universal. Ajaran Weda tidak dimaksudkan hanya untuk golongan tertentu, sebagaimana yang sering terjadi dalam kitab-kitab yang lebih muda usianya.
Ajaran-ajaran Weda adalah Sanatana Dharma yang kekal, yang selalu relevan sepanjang jaman. Dan setiap kali terjadi penyimpangan terhadap dharma tersebut, Tuhan akan mengirimkan utusan-Nya atau bahkan menjelma sendiri (ber-avatar) untuk memperbaiki penyimpangan-penyimpangan tersebut. Dalam terminologi Weda, kepribadian Yesus, Nabi Muhammad, dan Sang Buddha disebut sebagai Sakhtyavesya Avatara. Artinya, beliau-beliau adalah manusia yang diberi kekuasaan dan kemampuan khusus oleh Tuhan untuk melakukan misi-misi rohani tertentu di bumi ini. Dalam menyampaikan ajaran-ajarannya, utusan-utusan Tuhan itu akan menyampaikan amanat rohani Tuhan dengan mempertimbangkan latar belakang moral umat yang diajarinya. Seberapa mendalam ajaran yang disampaikan, akan sangat tergantung pada sejauhmana umat mau menerima dan mampu memahami ajaran-ajaran itu. Sebagai contoh, ketika mengajarkan kepada para vaisya dan sudra di Jagannath Puri, India, Yesus mengajarkan agar mereka tidak memuja berhala, tidak mendengar dan menerima ajaran Weda, karena kebenarannya telah diputarbalikkan. Latar belakang larangan itu adalah ulah para brahmana kasta pada masa itu yang menyimpangkan ajaran-ajaran Weda untuk kepentingan mereka sendiri.
Padahal pemujaan kepada Krishna di Kuil Jagannath Puri itu bukanlah pemujaan berhala. Ia adalah salah satu bentuk sembahyang kepada arca atau murti Tuhan yang dibenarkan menurut Weda. Salah satu tradisi pemujaan itu adalah adanya Ratha Yatra Festival, dimana setiap tahun pada sekitar bulan Juli arca-arca Jagannath, Baladev dan Subhadra diarak dijalan-jalan di kota Jagannath Puri dengan menggunakan kereta berukuran besar, dan orang-orang Hindu mengikuti festival itu dengan penuh semangat. Saat ini, perayaan Ratha Yatra seperti itu telah dirayakan secara besar-besaran di kota-kota besar di dunia, seperti New York, Sidney, Montreal, London, dll setelah diperkenal ke dunia Barat oleh A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada pada tahun 1960-an. Sejak tahun-tahun itu, jutaan orang Barat yang tadinya adalah pemuja Kristus, setelah mendalami ajaran Bhagavad-gita, beralih menjadi pemuja Sri Krishna, penyabda Bhagavad-gita. Mengapa demikian? Karena banyak pertanyaan mendasar mengenai Tuhan dan sifat-sifat-Nya, yang tidak mereka temukan jawabannya secara memuaskan dalam Injil dan kitab lainnya.
Satu hal yang perlu dicatat adalah fakta bahwa Yesus mengajarkan di Yerusalem selama tiga setengah tahun. Beliau mengajarkan dasar-dasar moralitas dalam bentuk Sepuluh Perintah, diantaranya : jangan memuja berhala, jangan membunuh, jangan berjinah, jangan mencuri, jangan menginginkan milik orang lain. Namun, baru sejauh itu Yesus menyampaikan ajaran Beliau, umat saat itu sudah menentangnya dengan keras. Bahkan Yesus akhirnya harus menerima fitnah, dan dihukum salib. Bisakah Anda membayangkan, bagaimana mentalitas dan moralitas orang orang yang harus dihadapi oleh Yesus pada waktu itu? Oleh karena itu, kita dapat memahami mengapa banyak konsep-konsep ajaran dalam Weda yang tidak terdapat dalam Injil. Atman, karma, reinkarnasi dan moksa, yang merupakan konsep-konsep yang sangat jelas diuraikan dalam Weda, tidak ditemukan secara explisit dalam kitab suci lainnya. Mengapa?? Dalam Injil, Yesus sendiri memberikan jawabannya :
“I have many things to say unto you, but your ears cannot bear them yet” Artinya “Sesungguhnya banyak hal yang hendak Aku sampaikan kepadamu, tetapi telingamu belum mampu mendengarnya “(Johannes 16.12). Berkaitan dengan itu, Yesus juga menyatakan : “If you do not believe when I tell you of material things, how you will believe when I tell you of spiritual things? (Kalau kalian bahkan tidak percaya ketika Aku mengatakan hal-hal duniawi, bagaimana mungkin kalian akan mempercayai hal-hal spiritual yang Aku sampaikan?”) (Johannes 3.12) . Bagaimana Yesus akan menyampaikan pengetahuan spiritual yang lebih tinggi, kalau baru mengajarkan dasar-dasar moralitas saja sudah dihukum salib? Sedangkan dalam Bhagavad-gita (7.2) Sri Krishna bersabda : “Sekarang Aku akan menyatakan pengetahuan ini kepadamu secara keseluruhan, baik yang dapat dilihat maupun yang tidak dapat dilihat. Dengan menguasai pengetahuan ini, tidak akan ada hal lain lagi yang belum engkau ketahui.”
Dan jutaan orang di dunia membuktikan hal itu. Dan dalam Bhagavad-gita (14.4) Sri Krishna menyatakan bahwa “Aku adalah ayah semua makhluk hidup”. Jadi ketika Yesus berdoa “Bapa kami yang di surga, … dimuliakanlah nama-Mu…“ siapa yang bisa menyangkal bahwa Kristus sedang berdoa kepada ayah-Nya, Sri Krishna?

http://vedasastra.com/?p=789
 

Offline comicers

Re:Mitos Hindu-Buddha: Yesus Pernah ke India ?
« Jawab #2 pada: Maret 07, 2013, 03:37:20 PM »
agar berimbang, saya kasih jawaban dari pihak Kristen.

Banyak diantara penganut New Age (aliran Zaman Baru) menyatakan bahwa sewaktu kanak-kanak Yesus pergi ke India untuk belajar dari para guru agama Hindu. Menurut mereka, Ia kemudian kembali ke Israel dan melakukan mukjizat-mukjizat yang Dia pelajari dari para guru ini, dan menyampaikan ajaran-ajaran yang diperoleh-Nya dari mereka.

Pemikiran seperti ini sungguh tidak masuk akal.

- Pertama-tama, ajaran Yesus mengenai Allah tidaklah bersifat panteistik (“semua adalah Allah”) sebagaimana yang dianut oleh para guru di India.

- Yesus tidak pernah mengambil kutipan dari kitab Wedha agama Hindu, tetapi selalu dari Kitab Perjanjian Lama Yahudi yang menganut Yudaisme yang mengenal hanya satu Allah (baca Markus 12:29).

- TIDAK ADA bukti sah yang menyatakan bahwa Yesus belajar di India.

- Meskipun kitab Injil tidak menggambarkan secara lengkap mengenai masa kecil Yesus, namun ada bukti tidak langsung yang meyakinkan bahwa Ia tetap tinggal di tanah Palestina. Lukas 2:52 meringkaskan kehidupan Yesus sejak berusia 12 tahun: "Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia."

- Yesus tentu saja adalah Allah dan juga manusia sekaligus. Sebagai Allah Dia adalah mahatahu (maha-mengetahui) dan maha-bijak; Dia tidak akan “bertambah hikmat-Nya” dari segi keilahian. Dari segi kemanusiaan-Nya, Ia mungkin bertambah hikmat sebagaimana juga dengan kanak-kanak Yahudi lainnya dengan belajar dari Kitab-kitab Perjanjian Lama (Mazmur 1:2) dan dengan belajar dari orang-orang yang lebih tua.

- Di lingkungan masyarakat Yesus dikenal sebagai seorang tukang kayu (Markus 6:3) dan anak seorang tukang kayu (Matius 13:55). Adalah merupakan suatu kebiasaan di kalangan masyarakat Yahudi bagi para ayah mengajarkan sesuatu keahlian kepada anak-anak mereka. Yusuf juga tentulah telah mengajarkan Yesus keahlian bertukang karena Ia tinggal tetap di daerah Palestina. Keahlian ini senyatanya mempunyai peranan penting dalam kehidupan-Nya karena beberapa perumpamaan dan ajaran-Nya didasarkan pada pengalaman bertukang itu. Misalnya, Ia mencontohkan mengenai membangun rumah diatas batu dibandingkan dengan diatas pasir (Matius 7:24-27).

- Lukas 4:16 adalah kata kunci untuk menolak pemikiran bahwa Yesus pergi ke India. Pada awal tiga tahun pelayanan-Nya, Yesus "datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab." Yesus dibesarkan di Nazaret, bukan India, dan kebiasaan-Nya mengunjungi rumah ibadat (sinagoga), bukan kuil Hindu.

- Dalam kisah tersebut selanjutnya, ketika Yesus selesai membaca, "Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: 'Bukankah Ia ini anak Yusuf?'" (Lukas 4:22). Mereka yang berada di rumah ibadat itu mengenal Yesus sebagai penduduk setempat.

- Perlu juga dicatat bahwa Yesus membaca dari Kitab Perjanjian Lama. Kitab Perjanjian Lama, yang dihargai oleh Yesus (baca Matius 5:18), yang mengingatkan orang agar menjauhkan diri dari allah-allah dan ajaran agama palsu (Keluaran 20:2-3; 34:14; Ulangan 6:14; 13:10; 2 Raja-Raja 17:35)—ini tentu mencakup Hinduisme. Perjanjian lama dengan tegas membedakan antara ciptaan dan Sang Pencipta, berbeda dengan ajaran panteisme Timur (Hindu), dan mengajarkan perlunya penebusan, bukan pencerahan.

http://www.christiananswers.net/indonesian/q-eden/rfsm-guru-in.html
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9275
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 354
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Mitos Hindu-Buddha: Yesus Pernah ke India ?
« Jawab #3 pada: Maret 07, 2013, 09:25:40 PM »
seru juga nih. :)
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9275
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 354
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Mitos Hindu-Buddha: Yesus Pernah ke India ?
« Jawab #4 pada: Maret 07, 2013, 09:27:32 PM »
apakah  yesus pernah ke India atau tidak, emanknya masalah buat kita? :D
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sandy_dkk

  • Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 2698
  • Thanked: 14 times
  • Total likes: 81
  • bung.sandy@outlook.com
    • Lihat Profil
Re:Mitos Hindu-Buddha: Yesus Pernah ke India ?
« Jawab #5 pada: Maret 07, 2013, 10:02:44 PM »
@Kang Asep

jika Imam Mahdi tersimpan dalam 'medan gaya' untuk disempurnakan dibekali dengan berbagai ilmu pengetahuan, maka mungkin India merupakan 'medan gaya'nya Isa as kang,, hehe
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
1 Jawaban
2729 Dilihat
Tulisan terakhir April 21, 2013, 01:07:42 PM
oleh comicers
12 Jawaban
30004 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 27, 2013, 10:14:57 AM
oleh patriana
1 Jawaban
947 Dilihat
Tulisan terakhir September 14, 2013, 07:20:11 AM
oleh ratna
4 Jawaban
3475 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 16, 2015, 10:22:03 PM
oleh Monox D. I-Fly
3 Jawaban
3184 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 12, 2013, 10:13:07 PM
oleh sky
3 Jawaban
1223 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 24, 2015, 11:07:56 PM
oleh !0A1onsiun
1 Jawaban
685 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 27, 2015, 12:55:07 AM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
423 Dilihat
Tulisan terakhir April 15, 2015, 02:01:34 PM
oleh comicers
0 Jawaban
219 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 27, 2016, 07:38:03 AM
oleh comicers
0 Jawaban
59 Dilihat
Tulisan terakhir September 09, 2017, 12:10:34 PM
oleh comicers

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan