Latest Kontent

Konten Komentar Terbaru
Kutip : [1]
--------------
Kata "Sarkasme" berasal dari bahasa Yunani sarkasmos yang diturunkan dari kata kerja "sakasein" yang berarti "merobek-robek daging seperti anjing", "menggigit bibir karena marah" atau "bicara dengan kepahitan".

Bila dibandingkan dengan ironi dan sinisme, maka sarkasme in lebih kasar. Sarkasme adalah sejenis gaya bahasa yang mengandung olok-olok atau sindiran pedas dan menyakiti hati. Ciri utama gaya bahasa Sarkasme ialah selalu mengandung kepahitan dan celaan yang getir, menyakiti hati dan kurang enak di dengar.
=========

Contoh 1:
setiap menjelang pemilu, janji-janjimu selalu manis. Bicaramua tentang kebenaran, keadilan, dan kesejahteraan bagi rakyat. Sudah sepuluh tahun lamanya,  tapi aku masih saja dengan celana compang-camping, mengais botol-botol plastik bekas di tempat sampah.

Contoh 2:
Bila bicara, mulutmu hingga berusa-busa, tapi hampa dari makna.

Contoh 3 :
Dasar lelaki gombal, mudah sekali mengubar rayuan, tebar-tebar pesona, kejar-kejar gadis sampai dapat. Lalu habis manis, sepah dibuang.

Contoh 4 :
Hati-hati ! Bukan hanya rokok yang menyebabkan Anda terkenaserangan jantung, panggilan KPK juga dapat membuat Anda dilarikan ke rumah sakit.

Silahkan Anda membuat contoh sarkasme lainnya !


________
1) Prof. Dr. H. Guntur Tarigan, "Pengajaran Gaya Bahasa", Hal. 92
lihat petunjuknya di sini => Pengaturan Gambar
Saya membicarakan hal ini juga atas dasar pengalaman pribadi mengenai persoalan ini.
Di dalam kehidupan sehari - hari, saya lebih memilih untuk menutup mulut rapat - rapat dari membicarakan hal - hal yang bersifat tinggi bagi kebanyakan orang di sekitar lingkungan saya. Demi menjaga hubungan baik.
Beberapa orang teman ada yang mengetahui aktifitas - aktifitas saya di grup ini, di forum medialogika.org, dan tentang Kang Asep.
Ketika ada pertanyaan - pertanyaan dari mereka mengenai hal tersebut, biasanya saya hanya menjawab "rahasia" atau "suka - suka". Begitu pula ketika ada pertanyaan - pertanyaan yang serupa dari nenek saya.
Tetapi di antara semua teman - teman saya ada salah satu teman yang mengerti dan paham dengan baik mengenai aktifitas - aktifitas saya di grup dan di forum.
Dan ketika ia mengkonfirmasi pada saya mengenai siapa Kang Asep itu maka barulah saya berterus terang padanya bahwa Kang Asep adalah guru saya walaupun hanya sedikit.

Ada juga orang - orang tertentu yang merasa mengerti dan menguasai suatu persoalan filosofis - idealis namun memberikan penjelasan - penjelasan yang keliru.
Terhadap mereka saya hanya mengambil sikap diam, menganalisis penjelasan - penjelasan mereka, kemudian tersenyum simpul.
Salah satu orang yang saya maksud adalah paman saya sendiri.
Ketika paman sedang berkunjung ke Pracimantoro dalam rangka mudik untuk lebaran tahun 2016 lalu, pada suatu kali ia pernah berbicara pada saya selepas saya berkata padanya bahwa saya memiliki minat terhadap filsafat dan hobi berfilsafat :

"Filsafat itu bisa bikin gila, Karena sifatnya tinggi dan ilmunya dalem" ujarnya.

Kemudian saya pun membatin :

"Sebelum paman menjelaskannya saya sudah tahu kalau filsafat itu bersifat tinggi dan materi - materinya terlalu dalam bagi kebanyakan orang.
Namun saya tidak setuju kalau filsafat itu bisa membuat orang menjadi gila.
Tetapi saya tidak mau jadi berdebat sama paman jika saya mengatakan bantahannya".

Lalu saya pun tersenyum simpul, kemudian pergi dari hadapannya.
Begitulah Kang Asep apabila kita berbicara tentang hal - hal yang bersifat tinggi bagi kalangan umum pada orang - orang yang tingkat keilmuannya tidak selevel dengan kita. Apalagi di dalam kehidupan sehari - hari.
Orang - orang yang kita ajak bicara akan cenderung sok mengerti, sok paham, sok pragmatis, terlebih lagi apabila mereka membantah perkataan - perkataan mereka dengan pernyataan - pernyataan sok pragmatis seperti pada obrolan antara Kang Asep dengan Indri.
Terkadang tindakan kita ini menimbulkan rasa bersalah dan penyesalan yang sering muncul dikemudian;
"Harusnya tadi itu aku tidak membicarakan persoalan ini ke dia. Soalnya dia bukan orang yang cocok untuk membicarakan persoalan ini",
" Lebih baik mengalah saja lah... daripada nantinya obrolan ini malah mengganggu hubungan baik kita berdua. Ternyata dia bukan orang tepat buat masalah ini",
"Biar aku simpan sendiri saja pengetahuan berharga ini. Percuma bila dibicarakan pada orang - orang ini; tidak ada yang bisa mengerti".

Kebanyakan orang itu hanya memfokuskan pikiran, dan hidup mereka secara lebih meluas lagi, pada hal - hal yang bersifat pragmatis semacam uang, pekerjaan, pasangan, dan persoalan - persoalan kehidupan sehari - hari lainnya.
Dengan begitu secara sendirinya mereka telah mengkondisikan diri untuk cenderung berpikir pragmatis dan berpandangan pragmatis pula terhadap sesuatu; menjadikannya sebagai bagian dari diri mereka; karakter mereka.
Kebiasaan untuk cenderung berpikir dan berpandangan pragmatis tersebut sedemikian menyatu dengan diri mereka hingga mereka sulit untuk memahami berbagai hal idealis - filosofis yang kita sampaikan padanya.


Hal - hal yang bersifat filosofis - idealis adalah sesuatu yang "tak biasa" bagi kaum pragmatis.
Berbicara mengenai persoalan - persoalan filosofis - idealis pada mereka lebih banyak berakhir dengan cara - cara yang buruk; ketidaknyambungan, pertengkaran, perdebatan, penyesalan, rasa bersalah, dan lain sebagainya.
gambanya kecil. sebenarnya dapat ditampilkan lebih besar, seperti berikut :





Untuk memperbesar gambar seperti di atas bagaimana caranya Kang Asep ?
gambanya kecil. sebenarnya dapat ditampilkan lebih besar, seperti berikut :



Seorang pria, kira-kira berumu 50 tahunan, dia berkata, "Kang Asep, dapatkah kang Asep melihat dengan mata batin, apa dosa dan kesalahan saya kiranya, sehingga hidup saya selalu dalam kesulitan dan banyak mendapat musibah ?"

"Saya tidak dapat melihatnya," jawab saya."Tetapi kesulitan merupakan tanda dari seorang pejuang. Setiap orang yang berjuang, maka dia menghadapi kesulitan. Jika Anda berhenti memperjuangkan sesuatu, maka Anda tidak menghadapi kesulitan apapun. Saya, sama seperti halnya Anda juga menghadapi banyak kesuiltan dan tidak jarang mendapat musibah. Jika itu hukuman atas dosa-dosa saya di masa lalu, maka saya menerimanya. Karena tidak ada gunanya untuk sekedar menangis dan menyesalinya. Yang harus dilakukan sekarang adalah melakukan apa yang terbaik dari apa yang dapat kita lakukan."

Dia berkata, "Bagaimana saya akan dapat menerima keadaan ini ? Kenyataannya saya selalu sedih dengan kondisi yang saya alami ini ?"

"Setiap waktu yang kita lalui, harus selalu diisi dengan kebajikan, dengan bersemangat terus melakukan kebajikan demi kebajikan, jangan lalai ! Sibukanlah diri Anda dengan melakukan kebaikan, sehingga tertutup kesempatan untuk berbuat maksiat.  Karena maksiat itulah yang menyebabkan kesedihan di dalam hati kita. Karena dosa dan kesalahan kita sendiri, maka kesadaran kita menyentuh hal-hal yang menyakitkan. Lalu kita diingatkan kepada bayangan-bayangan yang menyedihkan dalam hidup. Tetapi, apabila kita melakukan banyak perbuatan yang bajik, maka kesadaran kita akan disentuh oleh hal-hal yang menyenangkan, sehingga hidup kita bergembira. Maa muiibatkum fabimaa kasabat aidiikum. Musibah yang menimpa adalah karena perbuatan kita sendiri. Kita adalah pewaris dari perbuatan kita, menanggung apa yang sudah kita lakukan, dan kita harus menuai apa yang kita tabur. Tidak ada hal yang dapat dilakukan untuk apa yang sudah kita lakukan di masa lalu, karena waktu tidak mungkin diputar kembali. Tapi ada yang dapat kita lakukan saat ini, yaitu untuk tidak menambah dosa dan kesalahan, memulai kembali pertobatan dan melanjutkan usaha untuk berbuat baik. Itu saja."

"Dengan apa yang disampaikan tersebut, saya cukup termotivasi, "kata dia, "Tapi terus terang, saya masih belum bisa mengatasi perasaan sedih saya. Bagaimana caranya agar saya dapat mengatasi rasa sedih ini dan menjadi gembira dalam hidup ?"

saya menjawab, "tidak seorangpun dapat menuangkan air kebahagiaan ke dalam diri anda. Rasa kebahagiaan juga tidak bisa ditransfer seperti uang di ATM. Kesedihan Anda berkurang, karena Anda gembira memahami kebenaran yang baru, pencerahan baru dari suatu diskusi. Tetapi, bila itu tidak cukup menggembirakan Anda, maka Anda harus mulai bangkit dari duduk dan mulai mengerjakan sesuatu yang berguna."

Pria itu terdiam sejenak, lalu berkata, "Itulah masalahnya, saya seorang pria pengangguran. Di usia saya seperti ini, saya memiliki banyak tanggungan. Dan sekarang saya tidak tahu apa yang harus saya kerjakan. Sudah saya coba untuk mencari pekerjaan, tapi untuk pria seusia saya, itu tidak mudah."

"Sesuatu yang berguna, tidak selalu berarti pekerjaan dengan nilai rupiah. Anda shalat, dzikir atau sekdar membantu-bantu istri mengerjakan sesuatu di rumah, itu juga merupakan kebaikan yang berguna." demikian saya menjelaskan.

Pria itu termenung dan berkata, "Saya dapat melakukan kebaikan-kebaikan seperti itu, seperti misalnya menyapu jalan, membersihkannya dari sampah. Itu juga kebaikan. Tapi apa gunanya melakukan kebaikan-kebaikan seperti itu, apbila tidak menghasilkan rupiah ?"

saya jawab,"Bila hal itu dapat membantu Anda bebas dari kesedihan, maka itu berguna. Ketenangan itu memang tidak berguna, bila tidak menghasilkan apapun. Tapi bila ketenangan itu dapat mencegah anda dari melakukan perbuatan jahat dan memberi Anda suatu kekuatan untuk bekerja, maka itu berguna."

"Mana yang harus saya lakukan, menenangkan diri dulu lalu mencari bekerja. Atau mencari kerja dulu lalu menenangkan diri ?" tanya dia lagi.

Saya katakan, "Mencari kerja dulu ! Jika Anda dapat mencari kerja dulu, maka carilah kerja dulu. Ketenangan dapat diperoleh karena Anda berbuat sesuatu. Tapi jika kekuatan semangat untuk mencari kerja itu menjadi lemah, sehingga Anda terhambat untuk melakukannya, maka tenangkan dulu diri Anda. Setelah memilki kekuatan untuk berbuat kebajikan, maka berbuatlah !"

"Bagaimana caranya menenangkan diri agar saya dapat berbuat kebajikan ?" tampaknya pria sangat mengharapkan pencerahan.

Saya masih sabar menjawab pertanyaan-pertanyaannya, "tariklah nafas pelan-pelan ! Tahan nafas beberapa detik, lalu hembuskan pelan-pelan ! Lalu silahkan rasakan perubahan yang terjadi pada perasaan Anda, apakah menjadi lebih buruk ataukah menjadi lebih baik !"

"Baik saya coba praktekan dulu.." hening beberapa detik. Saya memberi kesempatan padanya untuk praktik.

"Luar biasa ... perasaan saya merasa lebih baik. "pria itu tersenyum, "Kok bisa ya, hanya dengan cara seperti itu, membuat perasaan saya menjadi lebih baik ?"

saya jelaskan, "tidak terjadi pada semua orang. Anda lebih cepat memperoleh ketenangan dari yang lain dengan cara memusatkan perhatianhanya pada satu tarikan dan hembusan nafas, itu bukan hanya karena tarikan dan hembusan nafasnya saja, tapi karena kebaikan yang telah Anda lakukan sebelumnya."

"Sebenarnya, apa kebaikan saya itu ?" tanya pria itu penasaran.

"Saya tidak mengetahuinya. Tapi pasti Anda memiliki kebaikan, sehingga kekuatan kebaikan itu mendorong Anda mencari pencerahan. Lalu Anda berjumpa dengan saya dan bertanya. Seandainya Anda tidak memiliki cukup kebaikan, maka walaupun puluhan tahun anda bergaul dengan saya, Anda tidak akan pernah tertarik untuk bertanya, dan tiada jalan bagi saya untuk membantu Anda. Ilmu adalah hak nya orang yang bertanya. Walaupun saya ingin menuangkan air pencerahan kepada karib kerabat saya sendiri, tapi bila mereka tidak bertanya, tidak menginginkannya, maka saya seperti menuangkan air ke gelas yang terbalik. Air nya hanya akan tumpah sia-sia." Demikianlah akhir pembicaraan kami.
Di salah satu forum ahteis, saya pernah diskusi soal manfaat meditasi untuk ketenangan. Salah seorang member di sana berkata, "Ketenangan yang diperoleh dalam meditasi itu semisal sulap batin."Dia bermaksud mengatakan bahwa ketenagan tersebut bersifat menipu. Bahwa menurutnya hidup ini tidak butuh bentuk ketenangan-ketenangan seperti itu. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan oleh Indri, salah seorang teman saya, ketika kami makan malam di sebuah restoran bersama suaminya. Usai makan-makan, kami berbincang-bincang. Gunawan, suami Indri senang sekali berdiskusi tentang teori-teori meditasi. Di tengah diskusi itu, Indri berkomentar, "Saya itu heran dengan perkataan-perkataan kang Asep, membicarakan persoalan ketenangan, kegelisahan, semangat, sebegitu ribetnya. Kalau hidup saya itu gak ribet begitu. Sewaktu sekolah saya belajar dengan baik, selalu dapat rangking satu. Lulus kuliah dengan nilai  yang cukup tinggi. Lalu bekerja, menghasilkan uang, beli tanah, beli rumah, hidup happy."

saya tersenyum dan berkata, "saya turut bergembira, bila hidupmu happy. Saya hanya ingin bertanya, kamu happy karena kamu sehat dan punya cukup uang. Benar ?"

"Benar." Jawab Indri.

"Dan saya adalah orang yang happy hanya karena dapat bernafas". Kata saya.

"Maksudnya ... ?" Indri mengerutkan dahi.

"Kamu butuh uang untuk membuat hidupmu happy. Dan saya hanya butuh bernafas." kata saya.

"Memangnya kalau kamu gak punya uang, kamu bisa tetap happy ?" tanya Indri.

Saya jawab, "tentu bisa, itulah hasil dari praktik meditasi."

Indri berkata lagi,"Untuk apa happy, kalau gak punya uang. Kayak orang gila, tertawa-tawa sendiri, walaupun dia gak punya uang. Orang punya uang, lalu dia happy, itu logis. Gak punya uang, tapi happy, kan kayak orang gila. Hidup itu tidak cukup hanya sekedar tenang."

"Betul... Sebagaimana hidup juga tidak cukup sekedar bergumul dengan kesedihan dan kegelisahan." balas saya.

"karena itu, supaya tidak sedih, kamu harus punya uang." kata Indri.

"Tapi saya tidak ingin kebahagiaan saya lenyap ketika saya punya uang atau ketika tak punya uang, ketika hidup maupun setelah mati, ketika sehat maupun sakit." demikian saya katakan.

Indri berkata lagi, "saya sungguh tidak mengerti jalan pikirannya kang Asep, untuk happy, kita itu harus kerja dan punya cukup uang. Lihat kami, bukan ahli meditasi seperti kang Asep, tapi kami lebih sukses dari kang Asep. Saya khawatir, jangan-jangan ketenangan-ketenangan meditasi yang kang Asep rasakan itu membuai hidup kang Asep, sehingga perekonomiannya tidak berkembang."

"Jika demikian, mengapa banyak teman dan saudara saya -dia tidk pernah terbuai dalam ketenangan-ketenangan meditasi, mereka bukan ahli meditasi seperti kamu-, tapi mereka tidak kaya seperti mu ?" tanya saya.

"Entahlah." indri mengangkat kedua bahinya sambil mencolek es krim dengan sendok.

"Itu merupakan bukti bahwa tidaklah benar Anda menjadi kaya karena tidak pernah melakukan praktik meditasi dan tidak benar saya miskin karena saya tukang meditasi." kata saya.

Setelah menyantap beberapa sendok es krim, Indri berkata,"saya hanya tidak mengerti, mengapa kita ini perlu meditasi gitu lho. Hidup kami aman, nyaman, sukses tanpa harus meditasi."

"Karena meditasi bukan suatu cara untuk menjadi aman, nyaman dan bahagia karena harta benda, bukan cara untuk menjadi gembira karena memperoleh sesuatu, tapi merupakan cara bergembira karena melepaskan sesuatu." demikian saya katakan.

"kata-kata yang menarik, tapi saya tidak dapat membayangkan bagaimana artinya. Menurut saya, apa yang sudah kami jalani selama ini sudah benar. Dan harusnya kang Asep mengikuti jejak kami. Tidak kah kang Asep ingin sukses seperti kami, kasihan sama anak dan istri, masa sampai sekarang hidup kalian masih begitu-begitu aja. Mungkin kang Asep terlalu banyak mendalami meditasi, sehingga tidak fokus untuk memikirkan hal-hal lain seperti bisnis." kata Indri.

"Jika demikian, lalu mengapa banyak ahli meditasi yang kaya raya ? Mengapa mereka tidak miskin seperti saya ?" tanya saya.

"Entahlah," jawab Indri pendek.

"itu menunjukan bahwa praktik meditasi, bukan sebab seseorang jatuh miskin." demikian kata saya.

"Lalu, mengapa kang Asep keadaannya masih begini-begini juga, setelah 10 tahun kita tidak berjumpa, padahal kami telah mengalami banyak perubhan ?" tanya Indri.

"Sebenarnya sayapun telah mengalami banyak perubahan. Tak seorangpun yang tidak mengalami perubahan. Saya merasa cukup dengan apa yang telah saya daptkan. Miskin dan kaya itu soal konsep manusia, soal sudut pandang. Saya sudah merasa kaya, lihat ini sepuluh jari saya, satu jari pun tidak akan saya jual dengan harga 1 triliun. Itu brarti, jari jemari saya lebih berharga dari harta triliunan rupiah," sejenak saya menarik nafas panjang dan menghembuskannya ke udara, "dan perhatikan, bagaimana saya bernafas dengan bebas. Semua ini sungguh menyenangkan. Udara di bumi ini adalah kekayaan yang tiada taranya. Mari kita renungi mereka yang terbaring di ruang ICU, di mana oksigen di udara ini tidak lagi memenuhi kebutuhannya, harus dibantu dengan oksigen tabung. Satu tarikan nafas, harus dibayar mahal di rumah sakit. Maka, dengan anugerah yang telah tuhan berikan kepada saya, bagaimana saya tidak merasa gembira ?"

Indri berkata, "Kalau kang Asep bisa sih seperti itu, bisa nyaman, bisa happy, hanya dengan cara berpikir seperti itu. Nah.. Trus.. Bagaimana dengan anak istrinya ? Ini mislanya aja ni, kalau kang Asep lapar, kang Asep bisa tetap bersabar dan bersyukur, tapi apa anak istrinya bisa menahan lapar ?"

segera saya menjawab, "lalu, bagaimana saya akan dapat menasihati anak dan istri saya untuk bersabar dan bersyukur, apabila diri saya sendiri tidak memiliki cukup kesabaran dan rasa syukur ? Bagaiman saya akan dapat mengajarkan anak istri saya untuk dapat menikmati nafas yang masuk dan berhembus, bila saya sendiri tidak dapat menikmatinya ? Saya hendak berjalan di jalan yang lurus dan dapat mengajak anak dan istri saya untuk mengikuti langkah kaki saya. Tetapi, bila mereka sendiri memutuskan untuk berbelok dari jalan yang saya tempuh, maka saya tidak memiliki kekuatan untuk mengendalikan tubuh dan jiwa orang lain. Setiap orang adalah pewaris dari perbuatannya sendiri, setiap orang bertanggung-jawab atas perilakunya, dan setiap orang akan memetik hasil dari perbuatanya."

Indri tersenyum berujar, "saya membayangkan, kalau saya jadi istrinya kang Asep, saya akan merasa kesal karena kang Asep hdupnya terlalu tenang. Gak punya apa-apa juga tenang. Kalau saya, gak bisa begitu kang. Coba aja tanya sama mas Gun, saya itu orangnya sangat rewel. Gak bisa lihat suami tenang-tenang di rumah, karena hidup itu harus kejar target. Waktu kami belum punya tanah, target saya tuh bisa beli tanah. Itu suami saya, gak mikir-mikir. Saya yang sering bawel, pikir dong... Gimana caranya biar kebeli tanah. Jangan santai-santai saja. Udah kebeli tanah, kami target beli rumah, mengembangkan bisnis dan terus begitu. Itu yang namanya hidup."

Saya tersenyum, "saya kenal kamu sejak kecil, sebagai seorang wanita yang cerdas. Kamu juga menyelesaikan kuliahmu dengan cepat. Jarang wanita cerdas seprti mu. Dan saya tidak secerdas kamu. Tidak semua orang dapat mengikuti jejakmu, seperti halnya tidak semua orang dapat mengikuti jejak saya. Kita telah menempuh jalan yang berbeda dalam hidup ini. Semoga kamu bahagia dengan jalan yang kamu tempuh, dan bila jalan yang saya tempuh adalah jalan yang salah, semoga saya mendapat kekuatan untuk melihat kesalahan itu dan memperbaikinya."

Meditasi bukanlah cara untuk menjadi kaya, bukan pula jalan untuk menjadi miskin. Meditasi memang merupakan salah satu cara untuk menangkan diri, tetapi bukan hanya mengejar ketenangan. Ketenangan hanyalah alat untuk mencapai kebijaksanaan. Dan kebijaksanaan adalah hal yang penting untuk selalu dimiliki, dalam hidup sehat atau sakit, miskin ataupun kaya.

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan