Penulis Topik: Sama Bodohnya  (Dibaca 34 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 483
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Sama Bodohnya
« pada: April 07, 2018, 08:53:28 PM »
Kang Asep:
Sama Bodohnya
Edisi : 4 April 2018

Somad : Saya pengen kursi kayu. Kamu mau kan buatkan kursi buat saya, Pandi ?
Pandi : mau sih mau pak, tapi saya ini tukang lukisan, bukan tukang kursi. Jadi, saya gak bisa bikin kursi.
Somad : Tapi kan kamu punya tangan dan kaki. Tukang kursi juga bikin kursi pakai tangan dan kaki, masa kamu gak bisa.
Pandi : Iya sama-sama punya tangan dan kaki,  tapi beda keahliannya pak.
Somad : sudah, gak usah ngomong keahlian. Soal cara bisa kamu pelajari kan ? Ada buku, ada YouTube dan kamu juga bisa tanya-tanya ke ahlinya. Gak usah ngeyel. Yang penting kamu mau aku suruh. Aku kasih upah yang besar. Kamu mau kan ?
Pandi : he... Hehe... Kalau soal upah gede, saya mau pak.
Somad : Nah gitu dong. Kamu kerjakan mulai besok.

5 Hari kemudian ..

Pandi : Pak Somad, kursinya sudah jadi.
Somad : Lha .. kok kurusnya jelek Pan ? Mana reyot lagi. Gimana sih, kamu tuh bisa kerja apa enggak ?
Pandi : itu kursi terbaik yang bisa saya buat pak.
Somad : Terbaik kamu bilang ? Jelek begini dibilang terbaik. Aku rugi kalau harus bayar kursi jelek kayak begini.
Pandi : kan sudah saya katakan sebelumnya, saya bukan tukang bikin kursi.
Somad : walaupun kamu bukan tukang bikin kursi, tapi kalau kamu pintar, pasti kamu bisa bikin kursi.
Pandi : kalau bapak pintar, mengapa bapak nyuruh orang bodoh untuk melakukan sesuatu yang tak dapat dilakukannya ?

Apakah Anda percaya kejadian seperti pernah terjadi di dunia nyata ?

Yenes:
Percaya
Dan pak somad akan berkata : saya kan sudah kasih tau caranya, bisa lihat youtube. Dan saya yang punya uang

Kang Asep:
Kejadian seperti tidak bisa dikatakan "kejadian langka". Karena kasusnya banyak ditemukan.

Sultan:
Kalau tutorialnya sudah ada di youtube, pak Somad orang pintar, serta punya tangan dan kaki, mengapa pak Somad menyuruh orang bodoh untuk melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukannya ?

Kalau pak Somad itu orang pintar dan punya uang, mengapa ia tidak meminta tukang kursi itu sendiri untuk membuat kursi ?

Kasus - kasus semacam ini (dengan bentuk yang berbeda) banyak terjadi di tempat kerja saya dan begitu sering saya mengalaminya sehingga terkadang saya harus berdebat dengan orang - orang tertentu dengan tipe demikian oleh karenanya.

@

Bagaimana sebaiknya kita menghadapi orang - orang dengan tipe demikian dalam kehidupan sehari - hari kang Asep ?

Orang - orang dengan tipe demikian banyak yang menjadi senior di tempat kerja.

Kang Asep:
Ketika kita mengetahui mana benar dan mana salah, kita perlu memberitahukan apa yang kita ketahui tersebut. Tapi kita tidak perlu berdebat. Tetapi dalam sebuah lembaga, instansi atau organisasi, saya memiliki prinsip bahwa saya harus patuh pada pimpinan selama perintahnya itu tidak maksiat. Sesuatu yang salah, tidak berarti maksiat.

Saya kadang menerima instruksi-instruksi yang salah. Lalu saya mencoba menjelaskan bahwa perintah tersebut keliru dan akan dapat mengakibatkan suatu kerugian bagi perusahaan. Tapi saya gagal membuatnya mengerti dan pimpinan tetap mengeluarkan instruksi tersebut.

Jika pendapat kita sudah disampaikan, tetapi instruksi tetap dikeluarkan, maka ada dua pilihan, yaitu menolak atau melaksanakan. Jika kita masih ingin bekerja pada perusahaan tersebut, maka harus melaksanakan instruksi pimpinan. Jika tidak, maka kita akan dianggap wanprestasi atau melanggar perjanjian bekerja dengan tidak mematuhi aturan perusahaan/organisasi. Karena itu, kita harus menimbang resikonya. Jika resiko dari menjalankan instruksi tersebut menurut kita tidak terlalu besar bahayanya maka saya akan memilih melaksanakan. Tapi apabila terlalu besar resikonya, maka saya lebih memilih mengundurkan diri dari pada harus melaksanakan instruksi tersebut.

Sebagai ilustrasi, dalam sebuah perusahaan konstruksi bangunan terjadi pertentangan pendapat antara owner dan arsitek tentang bagaimana mestinya struktur bangunan yang benar dan bahan-bahan yang digunakan. Kedua belah pihak merasa benar dengan pendapatnya masingmasing.  Akhirnya owner berkata,"ini perusahaan saya, apapun resikonya saya akan tanggung. Kewajiban kamu adalah melaksanakan instruksi saya."

Akhirnya arsitek melaksanakan melaksanakan instruksi pimpinan. Bangunan dibuat tiga lantai dengan konsep mengikuti owner.

Tiga bulan kemudian, bangunan tersebut runtuh. Perusahaan menanggung kerugian 1 milyar. Dia menyalahkan arsitek. Tapi arsitek berargumen,"saya sudah sampaikan sebelumnya bahwa konsep struktur bangunan yang bapak punya itu salah dapat membuat bangunan runtuh, tapi bapak bersikukuh bahwa itu benar dan harus saya kerjakan."

Dalam hal ini ada dua kemungkinan. Sang pimpinan terima dengan kesalahannya, karena telah memberikan instruksi yang salah. Dan kemungkinan kedua, tetap tidak terima argumen arsitek dan bersikukuh menyalah arsitek dengan berkata,"konsep saya sudah benar. Kamu saja yang salah mengerjakannya."

Saya sudah pengalaman kerja di berbagai lembaga / instansi. Pada umumnya, apabila kerugian terjadi akibat instruksi yang salah, tetap saja akhirnya kita yang dipersalahkan. Persis seperti Pandi yang tetap saja ujungnya disalahkan Somad. Dan itu tidak dapat didebat. Karena kita tidak sedang berada di forum diskusi atau debat, di mana parameter benar salah mesti disepakati bersama. Dalam sebuah lembaga, instansi atau perusahaan, kewenangan penilaian sepenuh nya ada pada pimpinan dan parameter yang ditetapkan sepenuhnya hak prerogatif dari pimpinan. Karena itu, satu-satunya hal yang bisa saya lakukan adalah menimbang besar kecilnya resiko dari perintah yang salah tadi. Bila siap dipersalahkan nantinya, maka lakukan saja. Bila tak siap, maka tolak saja.

Dalam bidang kesehatan saya pun mengalami hal yang sama. Ketika saya sakit keras, saya tahu bahwa itu persoalan mistis,  bukan soal medis. Tapi orang-orang awam menganjurkan saya berobat secara medis. Ketika saya menolak, maka mereka mulai menganggap saya bahlul atau sombong bahkan keras kepala. "Sakit tapi kok gak mau ke dokter karena percaya takhayul. Dasar bahlul".

Akhirnya sayapun mengikuti saran orang-orang untuk berobat ke dokter. Siapa tahu memang pendapat mereka benar, dan tidak mustahil keyakinan saya salah.

Tetapi, setelah berobat ke dokter dan gak sembuh-sembuh, keyakinan mereka tak pernah berubah bahwa problem saya adalah penyakit medis. Sementara saya semakin yakin bahwa itu bukan soal medis.

Bila berobat ke satu dokter gak sembuh juga, maka saya akan dirujuk ke dokter lainnya, ke rumah sakit lainnya, begitu terus selama mereka yakin bahwa penyakit saya adalah masalah medis.

Lama semakin

lama, sakit saya makin parah, uang tabungan istri saya sudah ludes dipakai berobat, akhirnya saya menolak untuk berobat lagi. Tapi orang-orang tetap tidak akan terima dengan alasan yang berbau mistis. Karena itu, alasan terakhir yang saya gunakan untuk menolak berobat adalah begini,"sekarang saya sedang mencari dokter hati, yang dapat membuat saya ikhlas dengan semua yang saya alami ini."

Sekarang saya tidak khawatir lagi akan dianggap sombong atau bahlul. Yang penting, selama bertahun-tahun saya sudah membuktikan kepada diri sendiri, bahwa teori dan dugaan mereka salah. Bila saya meneruskan mengikuti suatu petunjuk yang sudah terbukti salah, maka saya dzalim terhadap diri sendiri. Kalau dulu, baru sama-sama dugaan, sama-sama teori. Tapi sekarang semua sudah terbukti.

Persis seperti kasus arsitek dan owner nya. Mulanya keduanya hanya bicara teori. Tapi setelah bangunan runtuh, maka semua sudah terbukti. Walaupun owner tidak mengakui bahwa itu akibat kesalahan instruksi nya, tetapi bagi si arsitek itu bukti yang jelas bahwa konsep owner keliru. Sehingga si arsitek dikemudian hari semestinya menolak konsep yang sudah terbukti keliru tadi.

Lagi pula, hidup ini tidak sesimpel soal benar salah saja. Kadang-kadang kita terpaksa melakukan apa yang salah Menurut pandangan kita dengan pertimbangan bahwa resikonya kecil, tidak merugikan orang lain, atau ada efek manfaatnya yang lebih besar. Semisal pak Somad nyuruh Pandi bikin kursi, walaupun instruksi tersebut salah , dan Pandi mengerjakan nya, tapi kalau pak Somad tetap membayar jerih payah Pandi, apapun hasilnya, maka artinya menjalankan instruksi tersebut kecil resikonya tapi besar manfaatnya bagi Pandi.

Mudah-mudahan penjelasan saya dapat dimengerti oleh mas Sultan.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
967 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 23, 2012, 08:20:42 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1347 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 12, 2012, 04:44:41 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1873 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 07, 2013, 09:26:34 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1016 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 14, 2014, 02:00:26 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1338 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 26, 2014, 06:49:02 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
688 Dilihat
Tulisan terakhir November 17, 2014, 09:04:39 PM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
1282 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 24, 2015, 04:56:08 PM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
804 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 19, 2015, 09:43:45 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
54 Dilihat
Tulisan terakhir April 01, 2018, 02:48:07 AM
oleh Kang Asep
3 Jawaban
93 Dilihat
Tulisan terakhir April 14, 2018, 11:34:56 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan