Penulis Topik: Rijis  (Dibaca 691 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9340
  • Thanked: 57 times
  • Total likes: 381
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Rijis
« pada: Oktober 02, 2014, 09:23:33 PM »
Untuk menggali pengetahuan, dibutuhkan kekuatan berpikir. Tapi dalam berpikir, orang seringkali menghadapi hambatan. Salah satu hambatan berpikir itu adalah kesakitan yang muncul di dalam jasmani atau mental. Dengan demikian, saya katakan kesakitan ini merupakan hambatan bagi pengetahuan, dalam arti menghalangi pikiran dalam proses mengetahui.

Kesakitan timbul di dalam jasmani atau mental bukan tanpa sebab. Salah satu yang menjadi sebabnya adalah dosa. Perbuatan dosa menjelma menjadi hal-hal menyakitkan pada tubuh maupun mental. Dosa ini tidak akan terjadi, jika manusia tidak mengingkari akal sehatnya. Dalam al Quran, Allah mengatakan bahwa Rijis ditimpakan kepada orang yang tidak mempergunakan akalnya.

Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan Rijis kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. (Q.S Yunus:100)

Ada perbedaan penerjemah menejemahkan rijis tersebut. Ada yang menerjemahkan Rijis dengan “dosa” ada juga yang menerjemahkannya sebagai “keragu-raguan”. Tetapi, berdasarkan beberapa nash dan juga pengalaman meditatif, saya meyakini bahwa rijs itu “berbentuk materi” dan bersifat menghalangi pikiran dari pengetahuan. Jika dosa adalah “hasil perbuatan yang salah”, maka saya sepakat apabila rijis diterjemahkan dengan “dosa”. Tapi, apabila dosa adalah perbuatan salah itu sendiri, maka rijis adalah akibat dari dosa. Saya lebih meyakini bahwa Rijis adalah dosa itu sendiri. Dengan demikian, dalam keyakinan saya “dosa” menjelama menjadi suatu unsur materi dan penyakit di dalam tubuh manusia.

Tidak semua penyakit merupakan akibat dari dosa. Penyakit yang merupakan akibat dari dosa bersifat menghalangi pikiran dari pengetahuan. Tapi tidak semua pengetahuan terhalang oleh Rijis. Pengetahuan yang bisa diraih melalui tangkapan panca indra tidak terhalang dari pikiran. Oleh karena, manusia yang banyak dosa sekalipun bisa “pintar”. Dia bisa berpikir, mengolah pikiran, belajar dan mengembangkan pengetahuan. Tapi pikiran yang berpikir ini terhambat dari pengetahuan non indrawi, yaitu pengetahuan batin, yang sebagian orang menyebutnya ilmu laduni. Dia hampir tidak memiliki kekuatan berpikir untuk memikirkan objek-objek non indrawi. Oleh karena itu, akhirnya orang-orang berdosa ini pola pikirnya bersifat materialistis atau duniawiah.

Bandingkan dengan mereka yang disucikan dari Rijis! Mereka tidak terhalang dari pengetahuan dan menjadi orang yang tahu segala pengetahuan. Al Quran yang mulia, yang menjelaskan segala sesuatu, tidak dapat dijangkau oleh manusia, kecuali hamba yang disucikan.

tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan.(Q.S 56:79)

Mustahil manusia berdosa dapat menyentuh al Quran yang berada di lauhil mahfudz. Siapa hamba yang disucikan ini ? mereka adalah ahlul bayt nabi saw.

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan mensucikan kamu sesuci-sucinya. (Q.S 33:33)

Mereka itulah yang pikirannya tidak terhambat dari pengetahuan. Oleh karena itu, Allah menjadikan mereka tempat bertanya. Dan Allah memerintahkan manusia agar bertanya kepada mereka tentang segala sesuatu.

maka bertanyalah kepada ahli dzikir jika kamu tidak mengetahui, (Q.S 16:43)

Siapa itu Ahli Dzikir ? yaitu ahlul bayt nabi saw.

Imam Jakfar Shadiq berkata, “Allah telah menamakan RasulNya dengan Adz Dzikr dalam firmanya : Dzikran Rasuulaa”.

Sesungguhnya Allah telah menurunkan kepadamu Adz Dzikra() yaitu seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang menerangkan  supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shaleh dari kegelapan kepada cahaya. () (Q.S 65:10-11)

Rasulullah saw adalah Adz Dzikir. Jadi, keluarga Rasul Allah adalah Ahl Dzikr.
   
Rasulullah saw bersabda, “Aku adalah Adz Dzikra, dan Ahlul Baytku adalah Ahli Dzikr.”

Mustahil Allah memerintahkan manusia untuk bertanya kepada Ahli Dzikr, jika keluarga Rasul Allah ini tidak dapat menjawab apa yang ditanyakan oleh manusia. Mustahil Allah memerintahkan manusia bertanya kepada pihak yang tidak tahu jawaban dari apa yang kita tanyakan. Dan sudah sangat jelas, bahwa mereka dapat menjawab segala pertanyaan umat akibat Rijis telah diangkat dari mereka, sehingga mereka tidak terhalang dari pengetahuan. Sejarah membuktikan mereka selalu menjawab pertanyaan umat dengan cepat. Lihat salah satu contohnya dalah artikel Jawaban Cepat Imam Ali. Dan mereka berkata, “Kami diutus bukan untuk menjawab `tidak tahu`”.  Tidak ditemukan satu catatan sejarahpun di mana keluarga Rasul Allah yang telah disucikan dari rijis ini menjawab pertanyaan dengan perkataan, “saya tidak tahu”.

Kemampuan para Ulil Amri dari ahlul bayt nabi dalam menjawab segala pertanyaan umat menunjukan kondisi ideal dari manusia. Mereka dalah model, bagaimana sifat orang bila bersih dari rijis. Dan itu menguatkan keyakinan bahwa bila kita sebagai manusia yang banyak dosa, kemudian bertobat dan berupaya mensucikan diri, maka tirai penghalang yang menghalangi pikiran kita dari pengetahuan akan disingkapkan. Para ahli tasawuf menyebutnya sebagai kasyf, penyingkapan batin.

Muncul pertanyaan, apakah mungkin orang berdosa lebih pintar dari orang suci ? Silahkan Anda mencoba menjawabnya!
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan