Penulis Topik: Penyimpangan Konsep Wilayah Kewenangan Definisi  (Dibaca 183 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 483
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Penyimpangan Konsep Wilayah Kewenangan Definisi
« pada: Mei 20, 2018, 12:06:11 PM »
Saya mengajarkan konsep "Wilayah Kewenangan Definisi", tapi tidak mengajarkan kesewenang-wenangan dalam menggunakan definisi. Ini perlu saya sampaikan karena saya telah melihat adanya potensi orang dalam menyalahgunakan konsep dari yang saya ajarkan. Karena itu, siapapun yang sewenang-wenang dalam penggunaan definisi, dipastikan itu bukan hasil dari apa yang saya ajarkan. Bila dia mengatasnamakan konsep "Wilayah Kewenangan Definisi", maka itu namanya penyimpangan konsep. Secara sengaja atau tidak sengaja, dia merusak konsep dari "Wilayah Kewenangan Definisi", bid`ah dari Logika Filsafat.

Saat kita memasuki sebuah komunitas, lembaga, atau perusahaan tertentu, kita perlu belajar, bagaimana di komunitas tersebut segala sesuatunya didefinisikan. Bagaimana mereka mendefinisikan tentang kedisiplinan, loyalitas, kebenaran, keadilan, kepatutan, keberanian, kecerdasan dan sebagainya. Dan kemudian kita perlu beradaptasi dengan definisi-definisi yang telah mereka sepakati untuk digunakan. Sebagaimana konsep dari "Wilayah Kewenangan Definisi", maka tak ada definisi yang dapat kita salahkan, tetapi kita dapat menentang bentuk-bentuk inkonsistensi dari penggunaan definisi tersebut.

Dengan konsep yang benar, saat kita berbicara dengan seseorang atau sekelompok orang, kita tidak dapat secara angkuh mengatakan, "Ini kata-kata saya, dan saya yang berhak mendefinisikan, karena itu apabila tidak menggunakan definisi yang saya ciptakan, maka saya tidak mau berbicara dengan Anda." sedikitpun saya tidak mengajarkan cara angkuh seperti ini.

Pada dasarnya, masing-masing orang berhak menciptakan definisi masing-masing, dan bisa memilih dengan siapa dia hendak berbicara. Tetapi, yang namanya ilmu bukan hanya ilmu logika, ada banyak ilmu lainnya yang harus kita perhatikan dan perlu kita jadikan pedoman, misalnya, etika, estetika, dan retorika.

Sebagai contohnya, bila seseorang berkunjung ke rumah Anda, dia tidak boleh dengan seenaknya mendefinisikan mana yang disebut kamar mandi dan mana kamar tidur.  Apalagi bertindak bodoh lalu pergi ke kamar tidur dan kencing di sana, dengan berdalil, "terserah saya, mana yang hendak saya definisikan sebagai WC dan mana kamar tidur. Saya tidak berurusan dengan anda yang tidak setuju dengan definisi saya itu." Astagfirullah. Selain tidak tahu etika, itu sudah lebih dari bodoh, tapi gila namanya. Saya sama sekali tidak merasa mengajarkan kebodohan seperti itu.

Di grup Logika Filsafat, saya membuat aturan yang tegas tentang wajibnya semua member untuk menggunakan definisi tentang istilah-istilah ilmu logika. Hal itu, hanya demi terciptannya komunikasi yang baik, tidak menjadi kacau karena ambiguitas. Jelas untuk memperkenalkan istilah-istilah tersebut dan berikut definisinya juga merupakan tugas dari saya sebagai penyaji materi. Itu tidak ubahnya seperti Anda memberi label di rumah Anda sendiri, mana yang kamar mandi, mana ruang tamu, mana urang privasi yang tidak boleh disentuh tamu, mana kursi dan mana meja, bagaimana tata krama yang harus dilakukan, bagaimana prosedur yang harus dijalankan. Sebagai tuan rumah, anda berhak mengatur, bahkan harus mengatur demi ketertiban dan kenyamanan semua phiak, termasuk bagi tamu itu sendiri. Demikian pula, penegasan aturan "menyepakati definisi definisi logika" di grup Logika Filsafat, bukan wujud dari egoisme, dan bukannya tidak menghormati definisi-definisi yang telah anda sepakati sebelumnya, tetapi demi terwujudnya ketertiban bersama saja.

Apapun pengetahuan yang hendak disampaikan, itu perlu disampaikan dengan kesantunan dan kerendahan hati, serta dengan itikad menjaga perasaan orang lain. Karena manusia tidak hanya punya otak yang berisi data-data pengetahuan, tidak hanya memiliki pikiran yang berpikir, tetapi juga memiliki hati dan perasaan. Karena itu, kita harus waspada dan berusaha untuk tidak menyakiti perasaan-perasaan orang lain, dan bahkan harus memiliki itikad untuk dapat menyenangkan hati orang.  Iklan-iklan di berbagai media dibuat dengan kemasan yang menarik dan menyenangkan, untuk membujuk orang agar mau dengan senang hati membeli produk mereka. Lalu, bagaimana bisa kita ingin suatu kebenaran yang kita sampaikan dapat diterima orang lain, tapi kita selalu menyampaikannya dengan cara menyebalkan ?

Memanglah kita tidak dapat menyenangkan dan memuaskan semua orang. Akan tetapi, kita perlu menunjukan itikad baik, bahwa walaupun ada kebenaran-kebenaran yang terpaksa harus kita sampaikan walaupun pahit, tapi kita tidak bermaksud untuk menyakiti perasaan orang lain atau membuatnya merasa tak senang  hati. Dan kadang saya terpaksa harus bertindak tegas, pada seseorang yang tindakannya sudah mengacaukan atau melanggar tata tertib. Itu seperti misalnya Anda harus mengusir seseorang yang datang ke rumah Anda dan membuat kekacauan di rumah Anda. Itu tidak ada pilihan, selain Anda harus menempelengnya dan menendangnya keluar. Bukan semata-mata karena Anda seorang yang kasar, tapi karena menjaga ketertiban di rumah Anda adalah kewajiban Anda.

Demikian pula di sini, Anda dipersilahkan mengekplorasi pemikiran Anda sendiri, serta menciptakan definisi-definisi tertentu baik dalam bidang ilmu logika, filsafat maupun lainnya. Tetapi, saat diskusi sudah terjalin, di situ harus ada upaya untuk "saling mendengar", "saling mengerti" tentang apa yang dimaksud oleh orang lain tentang suatu term dan bagaimana masing-masing orang mendefinisikannya. Dengan harapan, mudah-mudahan kita memiliki kesefahaman dan kesepakatan definisi dengan lawan bicara kita. Tidak seharusnya kita bersikap seolah-olah kita menciptakan definisi tertentu dan langsung harus diterima dan digunakan di dalam diskusi yang dilakukan dengan kita. Tetapi di sini, kita harus bertindak untuk menjelaskan definisi-definisi kita, menawarkan konsep definisi kita, membujuk orang lain untuk mau dengan rela hati sepakat dengan definisi yang kita tawarkan, dan bersikap seperti memberi dan menerima. Bila orang lain tidak dapat sepakat dengan definisi yang kita tawarkan, kita dapat mencoba untuk sepakat dengan definisi orang lain. Apabila kita selalu berkeras untuk hanya menggunakan definisi-definisi kita sendiri, maka kita akan terlihat egois dan keras kepala. Sikap seperti ini tidak diharapkan terjadi di dalam diskusi-diskusi kita. Apabila terlanjur terjadi, maka harus ada suatu prosedur untuk mengatasinya, yaitu yang disebut dengan aturan, di mana definisi-definisi yang telah ditetapkan oleh Grup, itu harus menjadi acuan bersama. Ini berarti bahwa penerapkan aturan grup itu juga tidak secara saklek, melainkan melalui tahapan-tahapan, mulai dari usaha saling mengerti terlebih dahulu. Apabila semua tahapan-tahapan tersebut tidak dapat menyelesaikan permasalahan, maka barulah perlu dilanjutkan kepada penegakan peraturan "wajib menyepakati definisi yang telah ditetapkan oleh grup". Prosedur ini menjelaskan bahwa di Grup Logika Filsafat, semua orang diberi kebebasan untuk mengekspolarasi serta mempresentasikan pemikiran dan keyakinannya masing-masing, tapi grup tidak dibuat khusus untuk seseorang yang membawa visi nya sendiri. Karena sudah sejak dibuatnya, visi grup telah ditetapkan. Dengan demikian, apabila ada yang tidak bersetujuan dengan visi ini, berarti perlu saya ketahui apakah alasan yang dia miliki untuk bergabung dan menetap di dalam komunitas ini ?
« Edit Terakhir: Mei 20, 2018, 12:17:43 PM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
2342 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 22, 2012, 08:48:52 PM
oleh Kang Asep
10 Jawaban
4661 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 14, 2012, 05:26:48 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
2199 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 11, 2014, 08:27:28 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
2319 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 26, 2014, 02:07:19 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1390 Dilihat
Tulisan terakhir April 25, 2015, 04:07:09 PM
oleh Kang Asep
5 Jawaban
1366 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 10, 2015, 06:26:41 PM
oleh Monox D. I-Fly
1 Jawaban
949 Dilihat
Tulisan terakhir November 24, 2015, 11:29:01 AM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
606 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 21, 2016, 07:41:58 PM
oleh Sandy_dkk
5 Jawaban
353 Dilihat
Tulisan terakhir November 17, 2017, 06:31:35 AM
oleh Sultan
0 Jawaban
64 Dilihat
Tulisan terakhir April 28, 2018, 10:57:57 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan