Penulis Topik: Melihat Tiada Aku  (Dibaca 1412 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9342
  • Thanked: 57 times
  • Total likes: 388
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Melihat Tiada Aku
« pada: Agustus 18, 2014, 06:48:39 PM »
Kata “Aku” merupakan kata ganti orang pertama. “Aku” menunjuk kepada diri sendiri yang terdiri dari faktor tubuh dan mental. Setiap orang menyebut dirinya sendiri “Aku”.

Ketika “Aku” disebut oleh seseorang, berarti seharusnya orang itu sedang menunjuk kepada “sesuatu yang ada”. Dengan kata lain keberadaan “Aku” merupakan sesuatu yang real. Walaupun mungkin tidak semua orang dapat mendefinisikan “Aku” dengan kata-kata, tapi semua orang mengerti, apa itu “Aku”. Tetapi pemahaman tentang “Aku” menjadi tampak rumit, ketika munculnya filsafat “tanpa aku ” yang menyatakan bahwa sesungguhnya “Aku” adalah sesuatu yang tidak ada. Kemudian seolah terjadi pertentangan antara “Aku ada “ dengan “Aku tiada”. Tetapi sebenarnya tidak terjadi pertentangan, sebab “Aku yang ada” itu adalah “Aku yang merupakan kumpulan tubuh dan mental”, sedangkan “Aku yang tiada” itu adalah “Aku yang bersamayam di dalam tubuh dan mental” tersebut. “Aku” dalam makna yang kedua tersebut memang tidak real, tidak ada, tidak nyata, hanya ilusi. 

Setelah orang memahami dirinya sebagai “Aku”, lalu untuk apa orang harus mengerti tentang filsafat “Tiada Aku” ? banyak sekali manfaatnya. Yang pertama untuk meraih nilai kebenaran. Dengan memahami “yang ada” sebagai “ada” dan yang tidak nyata sebagai “tiada”, berarti nilai kebenaran telah diraih. Menganggap yang tidak ada sebagai ada tentu merupakan kekeliruan.

Manfaat lain dari memahami “tiada aku” adalah untuk melepaskan kemelekatan. Salah satu bentuk kemelekatan itu adalah dengan munculnya pikiran, pandangan atau keyakinan bahwa sesuatu itu “milikku”. “Harta benda ini milikku”, “wanita ini milikku”, “anak ini milikku”, “ini adalah jabatanku”, “ini adalah harga diriku”,  “ini adalah tubuhku” dan orang melekatkan segala sesuatu kepada “sang aku” yang tidak nyata. Akibatnya, “si aku” akan merasa kesakitan yang luar biasa ketika apa yang dianggap miliknya raib atau diambil orang.

Secara konseptual, tentu saja kita boleh dan bahkan harus menyebut diri sebagai “Aku” dan melekatkan sesuatu kepada “Aku” sebagai hak milik, jika “aku” yang dimaksud hanyalah kumpulan tubuh dan batin. Yang terpenting kita mengerti dengan sebenarnya-benarnya, “aku” yang mana yang Anda maksud. Dan mengerti pula, apa yang dimaksud dengan “hak milik”.

Jika Anda mempunyai rumah, maka Anda boleh mengatakan “ini adalah rumahku”. “Rumah” berwujud benda dan “aku” juga berwujud benda. Tapi “milik” tidak berwujud benda. “Milik” adalah kata abstrak, yang menjelaskan hubungan suatu diri dengan diri lainnya dengan norma-norma tertentu yang disepekati masyarakat, sehingga “milik” itu sendiri hanyalah konsep yang diciptakan oleh manusia, bukan sebuah wujud nyata.

Walaupun Anda bisa mengatakan “ini adalah rumahku, ini jabatanku, ini gelarku, ini keluargaku.” Tapi Anda perlu memperhatikan, apakah semua pikiran dan perkataan seperti itu telah menimbulkan suatu kerugian pada diri Anda atau tidak? Jika “tidak”, dan Anda baik-baik saja karenanya, maka pikiran dan perkataan Anda tentang “aku” dan “milikku” bukanlah suatu masalah. Tapi jika pikiran dan perkataan tersebut menimbulkan suatu kerugian, berarti itu merupakan sebuah petaka. Tapi, bagaimana mungkin pikiran dan perkataan sederhana seperti itu bisa menimbulkan petaka ?

Tentu bisa. Apakah Anda tidak pernah mendengar dan melihat sendiri tentang seseorang yang egois ? dan bukankah egois itu merupakans sifat yang tercela ? dan bukankah Anda tidak suka dengan orang yang egois ? bukankah Anda telah melihat bahwa banyak pertikaian di dunia ini, pertikaian antar individu, antar keluarga, kelompok masyarakat, bahkan antar negara dimana pertikaian-pertikaian itu terlahir dari egoisme ? Bukankah Anda telah mengetahui banyak kasus perceraian terjadi hanya karena sifat ego dari masing-masing pihak ? apakah belum terlihat jelas bencana yang diciptakan oleh egoisme itu ? apakah pernah ada orang yang menuduh Anda eogis, sedangkan sebaliknya Anda merasa dia itulah yang egois ? jangan-jangan kita memang egois tapi kita tidak menyadarinya ? apakah Anda tahu arti egois dengan sebenar-benarnya ? jika “tidak”, maka bagaimana Anda bisa menilai seseorang itu egois sedangkan Anda tidak egois ?

Apa itu Ego, Egois, dan Egoisme ? Ego artinya “aku”. Egois berarti sifat keakuan. Sedangkan egoisme adalah faham yang membangun sifat keakuan tersebut. Jika anda tidak setuju dengan egoisme ini, dan ingin memberantas penyakit egois ini baik pada diri Anda maupun pada diri orang lain, maka mari teruskan kajian tentang filsafat “aku” dan “milikku” ini.

Dalam kondisi tertentu Anda butuh suatu kesadaran di mana Anda melihat “tidak ada aku” dan tidak merasa “ada sesuatu yang merupakan milikku”. Salah satu kondisi yang dimaksud adalah kondisi di mana Anda tidak punya pilihan bahwa Anda harus kehilangan sesuatu yang sudah anda anggap sebagai “milikku”. Apakah Anda tidak memperhatikan, bagaimana kesalnya bila barang berharga yang anda sebut “milikku” hilang ? Apakah bila yang kehilangan itu adalah orang lain, Anda akan merasakan kekesalan yang sama ? tidakkah Anda perhatikan bahwa rasa kesal dan tidak kesal itu bergantung kepada konsep “aku” dan “milikku” ?

Kemudian, apakah Anda pernah merasa begitu sakit dan bersedih ketika orang yang Anda cintai pergi meninggalkan Anda untuk pergi jauh, memutuskan hubungan cinta atau persahabatan, atau bahkan pergi karena meninggal dunia ? bukankah kesakitan itu muncul karena sebelumnya Anda berpikir “Ini kekasihku”, atau “ini ibuku”, atau “dia adalah sahabat karibku” ? jika yang pergi itu dianggap bukan siapa-siapa Anda, tidak dihubungkan dengan diri Anda dengan konsep “milik” , apakah mungkin Anda akan merasakan kesakitan seperti itu ?

Berpikir “ini milikku” dan “itu milikku” menimbulkan suatu perasaan menyenangkan. Perasaan menyenangkan itu akhirnya menumbuhkan rasa cinta. Rasa cinta ini wujud dari keterikatan. Inilah yang dimaksud dengan cinta dunia, yang para ahli kebijaksanaan banyak mencelanya.

Suatu saat, malaikat maut akan menjemput Anda. Dan Anda harus berpisah dengan segala yang Anda cintai di dunia. Istri, anak, harta benda dan bahkan Anda harus meninggalkan tubuh Anda sendiri. Ketika Anda menyadari itu, mungkin Anda akan takut dan bersedih. Anda enggan berpisah dengan semua itu. Telah merasa senang dengan berpikir “ini semua adalah milikku”, maka Anda memberontak ketika malaikat Ijroil mencabut nyawa Anda dan Anda mengalami kesakitan luar biasa. Seperti ketika selama hidup Anda selalu marah, selalu kesakitan ketika Anda dipisahkan, dijauhkan dari “milikku”. Dan apalagi ketika milik diambil paksa oleh orang lain, Anda merasa sanga tidak rela hati. Lalu bagaimana, ketika tubuh yang selama hidup selalu disebut “tubuhku”, apakah Anda akan rela dia dikembalikan ke tanah untuk kemudian hancur menyatu dengan tanah ?


Bisa jadi kondisi Anda seperti orang yang tinggal di dalam suatu rumah mewah yang selalu Anda anggap “milikku”. Lalu, setelah hampir seumur hidup ditempati, rumah itu diambil paksa oleh pihak pengadilan dan Anda memberontak. Tapi, tidak demikian bila Anda tidak melihat sesuatupun di dunia ini yang bisa Anda anggap sebagai “milikku”, karena bagaimana Anda bisa melekatkan sesuatu itu pada “aku”, bahkan Anda tidak melihat adanya “aku”.

Bila Anda telah melihat “tiada aku”, maka pada saat maut menjemput, Anda hanya melihat adanya “Dia”, tanpa melihat adanya “Aku”. Anda terbebas dari penderitaan yang muncul dari kesadaran “aku yang berpisah dengan sesuatu”. Anda tidak bersedih karena Anda berpikir “malang nian.. aku harus pergi dari dunia ini, aku  harus berpisah dengan istriku yang cantik, dengan anak-anakku, harus meninggalkan harta benda yang telah kukumpulkan dengan susah payah, dan aku harus meninggalkan tubuhku.” Pikiran-pikiran seperti ini mustahil muncul di dalam pikiran orang yang telah melihat “tiada aku”. Dengan demikian, keikhalasannya murni. tiada sesuatupun yang mengikat hati dan perasaannya, dan sampai pada makna ayat “janganlah kamu mati, kecuali dalam keadaan berserah diri ”.

Manfaat memhami filsafat dan kemampuan melihat “tiada aku” tidak hanya dalam menghadapi persoalan maut. Walaupun itu merupakan persoalan yang paling pokok dan penting, tapi kemampuan melihat “tiada aku” juga bermanfaat besar dalam hidup sehari-hari. Mereka yang telah melihat “tiada aku” tidak berbuat sesuatu sekedar untuk menyenangkan dan menguntungkan “si aku”. Karena mustahil dia bisa melihat “aku” yang bisa disenangkan dan diuntungkan. Mereka tidak lagi berpikir “aku” dan “Anda”, tapi “kita”. Dia tidak bersifat egois. Bahkan dia tidak akan pernah bisa marah karena merasa ada “aku” yang tersakiti, dihina atau dicaci maki orang. Karena dia tidak melihat ada “aku” yang bisa dihina, tidak ada “aku” yang bisa marah di dalam dirinya. Mereka yang marah ketika mendengar hinaan orang lain, itu karena telah salah faham dengan menganggap “aku” yang tiada sebagai “aku” yang ada.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Ziels

Re:Melihat Tiada Aku
« Jawab #1 pada: Oktober 11, 2015, 06:46:36 PM »
Bagaimana caranya melihat tiada aku? dan apakah rasanya sama seperti (maaf) org yg tidak waras?
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
6 Jawaban
2531 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 06, 2013, 12:20:23 PM
oleh Abu Hanan
0 Jawaban
1070 Dilihat
Tulisan terakhir April 16, 2013, 03:13:21 PM
oleh Awal Dj
3 Jawaban
1164 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 17, 2013, 05:52:42 AM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
724 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 03, 2013, 06:47:36 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
3421 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 29, 2014, 04:48:30 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
711 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 12, 2014, 05:00:35 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
538 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 30, 2015, 01:55:07 PM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
242 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 04, 2016, 08:23:43 AM
oleh Goen
0 Jawaban
30 Dilihat
Tulisan terakhir November 10, 2017, 02:27:50 AM
oleh Kang Asep
Tiada Cinta

Dimulai oleh Kang Asep Puisi

0 Jawaban
15 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 09, 2018, 10:07:12 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan