Penulis Topik: Konsep Kebahagiaan  (Dibaca 55 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 428
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Konsep Kebahagiaan
« pada: Pebruari 13, 2018, 01:45:39 PM »
Konsep Kebahagiaan
Edisi : 13 February 2018, 13:36:57

Kutip dari : Reza A.A Wattimena
---------------------------
Racun pertama adalah kesalahan berpikir mendasar soal waktu. Kita percaya, bahwa masa lalu itu ada. Akhirnya, banyak orang terjebak pada masa lalunya. Ia hidup di dalam penderitaan, akibat kenangan atas masa lalu yang gelap, yang sebenarnya sudah tidak ada.

Banyak orang juga yakin, bahwa masa depan itu ada. Akhirnya, mereka sibuk bekerja, guna menata masa depan. Orang yang pikirannya terus berayun di antara masa lalu dan masa depan akan terus hidup dalam penyesalan masa lalu, dan ketakutan akan masa depan. Pikirannya dipenuhi ketegangan dan penderitaan.

Orang yang pikirannya penuh dengan ketakutan dan penyesalan tidak akan pernah menemukan kedamaian. Ia hidup di dalam penderitaan, dan akhirnya membuat orang lain menderita. Ia akan mencari segala cara untuk menemukan kedamaian, jika perlu dengan menghancurkan orang lain dan alam, guna memuaskan kebutuhan pribadinya. Ketakutan akan masa depan juga membuat orang menumpuk harta secara buta, kalau perlu dengan korupsi, menipu dan merugikan orang lain.

Racun kedua adalah pikiran curiga dan prasangka. Pikiran curiga berarti pikiran yang selalu melihat dunia dari sisinya yang paling jelek. Pikiran curiga lalu menghasilkan prasangka. Orang pun tidak lagi dapat melihat dunia apa adanya, tetapi selalu dengan kaca mata curiga dan prasangka. Pendek kata, ia selalu melihat dunia dan orang lain sebagai musuh yang mengancam dirinya.
=============

Ini adalah hal yang selama ini berusaha saya kemukakan, bahwa saya sama sekali tidak memusuhi harta kekayaan, tidak membenci kehidupan dunia, dan tidak anti orang kaya. Dengan demikian, tidak mungkin saya pun mengajak orang lain memusuhi kekayaan. Akan tetapi, saya berkata kepada adik saya, "jika tujuan saya hanya untuk mendapatkan uang, maka saya tidak akan pergi bekerja." Tetapi kebanyataannya saya bekerja, itu artinya tujuan saya tidak semata untuk mendapatkan uang.

Saya ditemui oleh seseorang pebisnis MLM. Untuk dapat merekrut saya, pertama-tama dia menunjukan kesuksesan dirinya, iming-iming kekayaan yang menggiurkan. Tujuannya, agar saya tergiur oleh kekayaan itu. Setelah itu mengiming-imingi masa depan yang sukses, menjadi kaya raya. Tidak cukup sampai di sana, dia lalu mencoba menunjukan kondisi hidup saya saat ini yang menurut dia memprihatinkan. Dia mencoba membuat saya gelisah dan tidak menerima kondisi hidup saat ini. Dengan tegas-tegas saya menolak konsep hidup semacam itu. Karena alih-alih membawa kita pada kehidupan yang bahagia, konsep seperti itu malah akan membuat hidup kita menderita.

Sering saya katakan bahwa ciri penderitaan adalah tertindas oleh angan-angan masa depan dan kenangan masa lalu. Karena itu, kita harus dapat menikmati hidup saat ini di sini, serta menerima sepenuhnya segala takdir. Inilah konsep saya untuk hidup bahagia. Dan konsep ini sama sekali tidak membuat hidup kita menjadi malas bekerja, serta tidak membuat kita memusuhi kekayaan maupun kemiskinan. Sebaliknya, membuat kita bersahabat dengan seluruh kehidupan, apakah itu kemiskinan ataupun kekayaan.

Hari-hari yang bahagia, bukanlah hari-hari di mana kita memiliki uang yang banyak atau harta benda yang melimpah, melainkan hari-hari di mana kita dapat berpikir benar, berkata benar dan berbuat benar. Dan seseorang tidak dapat dikatakan berbuat benar, apabila hidup bermalas-malasan. Karena itu, siapa yang tidak menunaikan apa yang menjadi kewajiban hidupnya, maka ia tidak akan pernah sampai pada kebahagiaan itu.

Jika kebahagiaan hanya terletak pada orang-orang kaya, maka sungguh kasihan orang miskin, karena butuh waktu yang cukup lama untuk dapat hidup bahagia. Jika kebahagiaan terletak pada kemiskinan, maka kasihan orang-orang kaya, karena segala usahanya semakin menjauhkan dia dari kebahagiaan. Tapi untungnya, kebahagiaan tidak terletak pada kekayaan maupun kemiskinan, melainkan terletak pada jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang diberi nikmat, yakni jalannya para nabi, para wali, para syuhada dan orang-orang shaleh. Karena itu, siapa yang ingin mencapai kebahagiaan, tidak membutuhkan waktu lama. Ketika dia meluruskan pikiranya, membenahi kata-katanya, serta memenangkan hidup dengan perbuatannya yang bajik, maka seketika itu juga dia memperoleh kebahagiaan.

Tetapi, apakah sebenarnya yang menyimpangkan pikiran ke jalan yang sesat ? Tidak lain apa yang disebut dengan hub ad dunnya wa karahatul maut, yaitu cinta dunia dan benci pada kematian. Cirinya adalah pikiran yang selalu melompat ke masa lalu dan masa depan. Akibatnya, dia jadi menderita karena tertindas oleh perbuatannya sendiri. Tuhan berfirman, "Dan tidaklah kami dzalim terhadap kalian, akan tetapi kalian sendirilah yang dzalim terhadap diri kalian sendiri."

Carilah kekayaan di dunia ini sebanyak-banyaknya setelah melepaskan nafsu untuk memiliki, sehingga sampai atau tidak sampai pada kekayaan itu kita anggap sama saja.

Seorang pedang kaki lima mengeluhkan hidupnya, "kawan-kawanku sudah mencapai hidup sukses, punya usaha yang besar, rumah dan mobil mewah. Entahlah kapan saya akan seperti mereka. Sampai saat ini, saya masih begini-begini saja."

Saya berkata kepadanya, "Saya tidak pernah berpikir seperti mu. Saat saya melihat kawan-kawan saya sukses, mendapat untung besar dari usahanya, maka saya turut senang, turut gembira, sebagaimana saya akan senang bila melihat kakak atau adikku sendiri memperoleh keuntungan. Kesuksesan mereka, seolah dirasakan sebagai kesuksesan saya sendiri. Tetapi saya tidak pernah membuat perbandingan-perbandingan antara saya dengan mereka, dengan berpikir mereka lebih baik dariku, aku lebih baik dari mereka, atau aku sama dengan mereka. Apalagi menyesali keadaan hidupku saat ini, seolah-olah tidak menerima apa yang telah Tuhan berikan kepada kita saat ini. Lihat ini, saya memiliki 10 jari yang lengkap. Dan saya selalu merasa takjub. Tuhan telah memberikan 10 jari  yang sempurna ini, membuat saya merasa lebih dari kaya. Seandainya ada orang yang hendak menukar satu jari saya dengan harta 1 triliun, maka saya tidak akan memberikannya. Betapa berharganya jari jemari saya ini. Bagaimana mungkin saya tidak merasa kaya dengan semua ini ? Ini baru menghitung nikmatnya memiliki jari jemari yang sempurna, belum lagi nikmat Tuhan yang diberikan kepada saya dengan dapat mendengar, dapat melihat, dapat berbicara, dapat duduk, berdiri dan berjalan. Dan bila saya menghitung-hitung nikmat yang telah diberikan Tuhan kepada saya, niscaya saya tidak akan dapat menghitungnya. Jika demikian, maka bagaimana saya akan merasa miskin ? Akan tetapi, setelah saya merasa kaya raya, saya tidak mungkin berhenti bekerja. Karena di dunia ini, tidak seorang manusia pun yang tidak bekerja. Setiap manusia yang terlahir ke dunia ini diikuti oleh tugas dan tanggung jawabnya. Dan kita harus bekerja untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab kita sebagai makhluk yang berbudi pekerti, bekerja tanpa nafsu memiliki, tanpa takut miskin, tanpa khawatir akan masa depan, tanpa menyesali nasib diri, tanpa terikat oleh kenangan masa lalu."

Temanku itu menjawab, "O.. Iya" katanya. Namun saya tidak mengetahui, apakah dia mengerti apa yang saya katakan atau tidak. Saya hanya mencoba mengatakannya. Jika dia belum mengerti, semoga dia menemukan jalan untuk memahaminya.

« Edit Terakhir: Pebruari 13, 2018, 01:51:28 PM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 428
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Konsep Kebahagiaan
« Jawab #1 pada: Pebruari 14, 2018, 08:33:56 AM »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
994 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 01, 2013, 11:12:47 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1868 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 11, 2014, 08:27:28 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1317 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 12, 2014, 10:06:59 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
554 Dilihat
Tulisan terakhir April 07, 2015, 10:32:08 AM
oleh Kang Asep
5 Jawaban
1140 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 10, 2015, 06:26:41 PM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
512 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 01, 2015, 07:51:13 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
377 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 11, 2015, 09:11:24 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
516 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 04, 2016, 05:16:31 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
39 Dilihat
Tulisan terakhir November 13, 2017, 08:28:50 PM
oleh Kang Asep
5 Jawaban
123 Dilihat
Tulisan terakhir November 17, 2017, 06:31:35 AM
oleh Sultan

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan