Penulis Topik: Keterbatasan Di Dalam Ketidakterbatasan (3)  (Dibaca 10 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Sultan

  • Sang Pengembara Yang Mencari Kepingan - Kepingan Pecahan Cermin Kebenaran Yang Berserakan Di Segala Penjuru Alam Semesta
  • Sahabat
  • ***
  • Tulisan: 179
  • Thanked: 1 times
  • Total likes: 21
  • Jenis kelamin: Pria
  • Spiritualitas dan Kebatinan
    • Lihat Profil
Keterbatasan Di Dalam Ketidakterbatasan (3)
« pada: November 12, 2017, 02:15:47 PM »
Lanjutan dari → http://medialogika.org/filsafat/keterbatasan-di-dalam-ketakterbatasan-(2)

Perubahan kondisi dari fase ke fase dalam proses - proses tertentu pada dinamika kehidupan manusia dalam contoh di atas sedikit menggambarkan bagaimana sebuah keberadaan tidak bisa menjadi ketiadaan sama sekali (ketiadaan mutlak) dan hanya bisa bertransformasi ; berubah dan berproses dari satu keberadaan menjadi keberadaan lain secara kesinambungan.
Berubahnya satu kondisi menjadi kondisi lain pada dinamika kehidupan manusia dalam contoh di atas, tidak berarti meniadakan kondisi - kondisi yang telah terjadi sebelumnya secara mutlak.
Sebab, kondisi - kondisi yang telah terjadi sebelum terjadinya kondisi - kondisi selanjutnya dalam dinamika kehidupan manusia di atas, sejatinya hakikat, essensi, dan substansi dari eksistensi kondisi - kondisi yang telah terjadi sebelumnya "mewujud" di dalam kondisi - kondisi yang terjadi selanjutnya. Bukannya benar - benar tidak ada karena telah berganti dengan kondisi - kondisi yang terjadi selanjutnya. Dan kondisi - kondisi yang terjadi selanjutnya tidaklah meniadakan kondisi - kondisi yang telah terjadi sebelumnya secara mutlak. Tetapi kondisi - kondisi yang terjadi selanjutnya adalah manifestasi dari keberadaan kondisi - kondisi yang telah terjadi sebelumnya.
Dari sel sperma menjadi janin dan dari janin menjadi seorang bayi. Sel sperma yang telah berproses menjadi janin, dan janin yang telah berproses menjadi seorang bayi, tidaklah meniadakan eksistensi dari sel sperma dan janin di dalam keberadaan seorang bayi tersebut. Sebab hakikat, essensi, dan substansi dari keberadaan sel sperma dan janin itu sendiri, mewujud di dalam eksistensi seorang bayi tersebut. Dan seorang bayi tersebut adalah manifestasi dari keberadaan sel sperma dan janin itu sendiri. Atau dapat juga dikatakan dengan bahasa yang amat sederhana "Di dalam seorang bayi, terdapat sel sperma dan janin". Secara Logika, konsepsinya adalah :

A = Sel Sperma
B = Janin
C = Seorang Bayi

(Jika)A, kemudian(maka) B
B, kemudian C.

Setiap A adalah B = Sebagian B adalah A (putar pokok proposisi)

Setiap B adalah C = Sebagian C adalah B

Setiap A dan B adalah C = Sebagian C adalah A dan B.


Sekarang kita kembali lagi ke pembahasan mengenai percobaan pikiran tentang apel yang telah diterangkan dalam paragraf sebelumnya.
Apel dan setiap potongan - potongan kecilnya tanpa terkecuali yang dipotong - potong secara terus - menerus tanpa henti hingga menjadi potongan - potongan kecil apel yang tak berhingga jumlahnya tersebut, akan terus - menerus pula menjadi bagian - bagian kecil secara berkelanjutan, dan selamanya tidak bisa menjadi tidak ada sama sekali (ketiadaan mutlak) karena dipotong - potong secara terus - menerus dengan alasan berlakunya Hukum Ketetapan Eksistensi dan Non-Eksistensi yang uraiannya telah dipaparkan dalam penjelasan sebelumnya. Dan sepertinya keterangan ini bertentangan dengan pernyataan yang saya ketahui dalam bidang ilmu fisika yang mengatakan bahwa ada bagian terkecil dalam struktur materi yang tidak dapat dibagi - bagi lagi menjadi bagian yang lebih kecil.
Tetapi jika titik permasalahan ini ditelisik secara lebih dalam lagi, maka sesungguhnya antara keterangan ini dengan pernyataan fisika tersebut, persoalan yang melibatkan keduanya adalah adanya suatu faktor perbedaan teknis dalam kedua keterangan tersebut.

 
Pertama, saya ingin mengupas masalah faktor teknis dalam pernyataan bidang ilmu fisika bahwa ada bagian terkecil dalam struktur materi yang tidak dapat dibagi - bagi lagi menjadi bagian yang lebih kecil.
Sebenarnya titik permasalahan dari pernyataan ini bukan terletak pada ada bagian terkecil dalam struktur materi yang tidak dapat dibagi - bagi lagi menjadi bagian yang lebih kecil atau tidaknya, namun terletak pada keterbatasan metodis yang digunakan oleh para ilmuwan fisika yang bersangkutan untuk membelah "bagian terkecil" tersebut.
Tegasnya, bagian terkecil tersebut tidak dapat dibelah lagi menjadi bagian - bagian yang lebih kecil bukan karena kualitas dan sifat - sifat dari bagian terkecil itu sendiri, melainkan karena keterbatasan metode yang digunakan oleh para ilmuwan yang bersangkutan untuk membelah bagian terkecil dari struktur materi tersebut.
Kedua, persoalan teknis dari percobaan pikiran tentang apel tersebut yang membuat apel yang dibayangkan dapat dipotong - potong secara terus - menerus tanpa henti hingga menjadi bagian - bagian kecil apel yang tak terhingga banyaknya, terletak pada prinsip teknis pemotongan yang memfungsionalkan jalan pemotongannya pada percobaan pikiran tersebut.
Prinsip pemotongan dalam percobaan pikiran tersebut adalah "Ketipisan objek pemotong disesuaikan dengan garis belah setiap potongan apel berdasarkan ukurannya masing - masing, dan objek pemotong tersebut selalu fungsional untuk memotong setiap potongan apel tersebut tanpa terkecuali".
Untuk mempermudah pemahaman mengenai prinsip pemotongan ini, bayangkan sebuah pisau yang ukurannya akan semakin menipis sesuai dengan ukuran setiap potongan apel yang dipotongnya, dan pisau tersebut selalu dapat memotong - motong bagian per bagian apel tersebut dengan baik sehingga bagian per bagian dari apel tersebut selalu dapat terpotong - potong dengan baik pula.

Dengan berdasarkan alasan tersebut, maka saya ulangi kembali bahwa sesungguhnya antara percobaan pikiran tentang apel ini dengan pernyataan dalam bidang ilmu fisika bahwa "Ada bagian terkecil dalam struktur materi yang tidak dapat dibagi - bagi lagi menjadi bagian yang lebih kecil", persoalan yang melibatkan keduanya adalah adanya suatu faktor perbedaan teknis dalam kedua keterangan tersebut.


Sekarang kita kembali ke titik fokus utama dari seluruh materi tulisan ini, yaitu soal pernyataan Kang Asep bahwa "Bumi ini dapat menjadi luas atau pun sempit bagi manusia" beserta perpanjangan - perpanjangan uraiannya yang sama - sama terangkum dalam satu postingannya tersebut yaitu soal :

- Lubang jangkrik berdiameter sejari telunjuk yang dapat ditempati oleh ribuan jin

- Gadis perawan yang disembunyikan oleh jin di bawah daun mangga

- Bumi ini sangat luas dari pada apa yang dapat diukur oleh para ilmuwan. seandainya semua binatang, jin dan manusia yang telah mati dihidupkan kembali sejak zaman nabi adam hingga sekarang, maka bumi ini tidak akan penuh. Bahkan sorga dan neraka, terletak persis di bumi ini.


Sejatinya, seluruh materi - materi (makhluk) yang ada di dalam struktur besar kehidupan, di dalam struktur dirinya masing - masing memuat atau "mengandung" bagian - bagian kecil yang jumlahnya tidak berhingga. Seperti masing - masing bilangan yang struktur dirinya tersusun dari deretan bilangan - bilangan kecil yang tak berhingga jumlahnya sebagai unsur dan elemen - elemen pembentuknya, dan di dalam struktur masing - masing deretan bilangan - bilangan kecil yang membentuk bilangan sebelumnya, termuat pula deretan bilangan - bilangan yang lebih kecil yang membentuk deretan bilangan - bilangan kecil sebelumnya dan begitulah seterusnya secara kontinu-regresif pada setiap deretan bilangan - bilangan turunannya ; tidak berhingga. Atau seperti segenggam apel dalam percobaan pikiran yang telah dipaparkan dalam uraian - uraian sebelumnya yang di dalam struktur dirinya termuat bagian - bagian kecil apel secara kontinu-regresif yang jumlahnya tak berhingga pula.
Teori filsafat ini saya sebut sebagai "Konsep Ekstra-Komponen" yang inti konsepnya berbunyi :

"Setiap materi - materi (makhluk) yang ada di dalam struktur besar kehidupan, adalah sebuah himpunan yang terdiri dari bagian - bagian kecil yang jumlahnya tidak berhingga".

Konsep ini berdiri di atas dasar Prinsip Ke-tak-berhinggaan Regresif yang telah dijelaskan sebelum uraian mengenai percobaan pikiran tentang apel dalam paragraf sebelumnya beserta semua penjelasan - penjelasan tambahannya yang berbunyi :

"Jika segala sesuatu di dunia nyata ini dibongkar setiap bagiannya mutlak tanpa terkecuali secara satu per satu dengan terus - menerus tanpa henti, maka akan dapat diketahui bahwa segala sesuatu di dunia nyata ini tersusun - susun dari bagian - bagian kecil yang jumlahnya tak berhingga".

Bersambung →
« Edit Terakhir: November 12, 2017, 02:21:40 PM oleh Sultan »
Kebenaran itu ibarat cermin yang pecah berkeping - keping. Masing - masing kepingnya adalah kebenaran. Namun kepingan - kepingan pecahan cermin tersebut berserakan di segala tempat. Tugas kitalah untuk memungut kepingannya satu per satu kemudian menyusunnya agar menjadi cermin yang utuh.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
1591 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 09, 2013, 07:09:02 PM
oleh Abu Zahra
1 Jawaban
1783 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 27, 2015, 11:45:40 PM
oleh Akungratis
3 Jawaban
1495 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 13, 2013, 07:26:46 PM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
1131 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 19, 2013, 04:03:23 PM
oleh Abu Zahra
4 Jawaban
2866 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 24, 2016, 10:14:38 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
1134 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 30, 2015, 10:16:44 AM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
9 Dilihat
Tulisan terakhir November 11, 2017, 11:08:54 AM
oleh Sultan
0 Jawaban
15 Dilihat
Tulisan terakhir November 11, 2017, 11:25:19 AM
oleh Sultan
0 Jawaban
8 Dilihat
Tulisan terakhir November 12, 2017, 02:43:07 PM
oleh Sultan
0 Jawaban
11 Dilihat
Tulisan terakhir November 12, 2017, 02:48:46 PM
oleh Sultan

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan