Penulis Topik: Kerja Tanpa Berbuat  (Dibaca 81 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9275
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 355
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Kerja Tanpa Berbuat
« pada: September 18, 2017, 01:48:15 PM »
Daftar Isi
====================
1. Ikhlas Berbuat
1.1. Tujuan Perbuatan
1.2. Tanpa Mengharapkan Hasil Perbuatan
2. Gemar Berbuat
3. Menyempurnakan Perbuatan
4. Kerja Tanpa Berbuat
====================

4. Kerja Tanpa Berbuat
Edisi : 18 September 2017, 13:45:05

Baghavad Gita itu berisi filsafat yang pelik dan rumit, di dalamnya seringkali terdapat kalimat-kalimat paradoks dan membingungkan. Seperti perkataan Kresna, "Perbuatan itu harus diketahui perbedaannya, perbuatan yang bukan perbuatan juga harus difahami perbedaannya, apa yang dimaksud tidak melakukan perbuatan juga perlu dimengerti. Tidak mudah untuk mengerti hal ini."

Kresna sendiri menyadari bahwa ajaran filsafatnya sangatlah rumit, bahkan banyak orang yang disebut sarjana atau kaum cerdik pandai sekalipun kesulitan mengerti ajaran filsafatnya. Kresna berkata, "Mana yang disebut perbuatan dan mana yang bukan perbuatan, mesikpun orang cerdik pandai, semua bingung menerima hal itu."

Walaupun pelik dan rumit, tetapi Sri Kresna berusaha menjelaskannya pada Arjuna agar Arjuna terbebas dari dosa, terhindar dari berbuat jahat.

Setelah menjelakan tentang apa itu Iklas Beruat, Gemar Berbuat dan bagaimana Menyempurnakan Perbuatan, kemudian Sri Kresna menjelaskan tentang filsafat Kerja tanpa Berbuat. Di sini Sri Kresna menggambarkan bahwa Tuhan adalah Dzat yang tidak berubah keadaannya. Karena itu tak ada apapun yang diperbuat oleh Tuhan, namun demikian Tuhan bekerja mengatur alam semesta ini. Demikian pula hal nya orang suci, berguru kepada Tuhan, dia tak berbuat apapun, namun semuanya dikerjakan.

Sri Kresna berkata, "Barang siapa mengetahui arti `Berbuat tanpa Berbuat` dan `Berbuat tanpa Kerja`, itulah orang bijak, itu sudah menyatu, meski mereka melakukan perbuatan apapun."

"Tak berbuat apapun, tapi semua dikerjakan" ini terlihat sebagai paradoks yang membingungkan. Agar dapat dimengerti, saya mencoba menjelaskannya dengan berbagai pendekatan.

Guru saya, Kang Irman pernah mengatakan tentang jurus beladiri yang terbaik. Beliau berkata, "Juru terbaik adalah jurus tanpa jurus".  Bagaimana maksudnya ? Orang melatih gerak jurus beladiri seperti menangkis, menendang, memukul, dsb, itu dengan tujuan melindungi diri dari serangan lawan dan kemudian melumpuhkannya. Tetapi, ada orang sakti, di mana ketika dia diserang oleh lawan, dia tidak melakukan apapun. Walaupun demikian, lawannya akan jatuh.

Dalam seni beladiri ilmu tenaga dalam, untuk dapat membuat tenaga dalam berfungsi menjatuhkan lawan yang menyerang, dibutuhkan kepasrahan yang tinggi kepada Tuhan. Apabila hati bergetar, merasa takut terkena pukulan lawan, khawatir celaka, tidak terima dengan sikap lawan, niscaya energi tenaga dalam tadi tidaklah berfungsi. Bathin harus dalam kondisi ketenangan yang mendalam, tidak goyah, tidak bergetar sedikitpun oleh apapun yang dilakukan lawan. Karena itu, kemudian menganggap apakah dirinya akan terkena pukulan lawan ataukah tidak, sama saja. Sudah tidak ada sikap untuk menolak maupun menghendaki sesuatu, dan tak ada gerakan yang ingin dilakukan terkait apa yang dilakukan lawan. Pasrah sempurna. Jika kepasrahan ini penuh, sempurna dalam diam, maka akibatnya energi sakti secara otomatis akan bekerja untuk melindungi diri dari serangan musuh serta melumpuhkannya. Ini adalah sedikit gambaran "kerja tanpa berbuat".

Perumpamaan lainnya, seperti seorang anak yang baru belajar berjalan. Dia mencoba berjalan menuju suatu tempat. Ketika berjalan, si anak berkali-kali terjatuh, berdiri lagi dan mencoba kembali berjalan. Sementara sang ayah mengamatinya dengan penuh takjub, serta membiarkan si anak berusaha mencapai tempat tujuannya dengan kekuatannya sendiri. Si anak sedang bekerja untuk meraih apa yang diinginkannya. Dikatakan pula, si anak sedang berbuat sesuatu. Namun, tempat yang hendak dicapainya terlalu jauh. Si anak kelelahan, dia terjatuh dan lalu menangis. Si Ayah mengerti, anaknya tak mampu lagi. Maka si Ayah menggendong anaknya dan mengantarkan anak tersebut ke tempat yang diinginkannya. Si anak sudah tidak berbuat sesuatu, karena keterbatasan kemampuannya. Tetapi dengan cara dia menghentikan usaha setelah, dia membuat Ayahnya bekerja untuknya.

Demikian pula, orang yang suci, dia tidak harus melakukan perbuatan apapun, kecuali menghentikan semua perbuatan yang berbalut kejahatan. Ketika semua perbuatan itu berhenti, maka kekuatan alam akan bekerja untuk dirinya. Inilah maksud dari "Kerja tanpa Berbuat".

Sri Kresna berkata :
______________________
Aku tidak akan melakukan perbuatan, demikian pula aku tidak menginginkan hasil perbuatan itu. Barang siapa yang mengetahui sikapku itu, itulah yang sudah tidak terikat oleh semua jenis perbuatan.

Barang siapa yang memulai semua perbuatan anpa mendambakan hasilnya, barang siapa yang perbuatannya terdapat di dalam api kebijaksanaan, para sarjana menyebut hal itu sebagai orang bijak.

Sesudah tidak mendambakan hasil dari perbuatan dan selau menerima apa adanya, tidak berusaha mencari perlindungan lain, berarti mereka tidak berbuat meskipun melakukan perbuatan apapun.

Apabila dalam hati, sudah tidak mengharapkan hasil dari perbuatn, menahan nafsu keinginan, dan setelah merelakan semua yang berguna bagi dirinya,mesikupun ia melakukan perbuatan, itu berarti telah terbebas dari dosa.

Sikap menerima apa adanya, serta tidak punya pendamping yang berlawanan, tidak serakah dan sudah menganggap untung dan rugi sama saja, meski telah melakukan perbuatan, tetapi tidak terbelenggu.

Barang siapa yang lenyap kegemarannya, yaitu yang merdeka, barang siapa yang hatinya sudah teguh pada kebijaksanaan, itulah yang disebut memusatkan niatnya, ia sudah terbebas dari segala bentuk perbuatan.

Jika engkau memahami semua itu, akan akan mengetahui semua yang terjadi di dalam Dzat, dan dengan Dzat engkau akan dapat melihat keadaanku.  Meskipun dosa-dosamu melebihi semua orang berdosa, engkau akan dapat melewati lautan kejahatan. Bagaikan api membakar kayu sampai semua menjadi abu, hai Arjuna, api kebijaksanaan itu memberantas semua perbuatan. Karena dalam hal ini sudah tidak ada lagi yang lebih utama dari kebijaksanaan, setelah menjalani Panunggal sampai siap, di situ akan ketemu dengan sendirinya Petunjuk di dalam Dzat.

Orang-orang bodoh selalu ragu-ragu dan selalu tidak percaya. Ia akan celaka. Meskipun di akhirat, dia tidak akan menjumpai kebahagiaan. Barang siapa yang dapa membendakan semua jenis perbuatan dengan cara Panunggal, keragu-raguannya akan tersingkirkan oleh kebijaksanaan. Itula yang akan membentengi diri dari semua perbuatan yang dapat membelenggu. "

Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sultan

  • Sang Pengembara Yang Mencari Kepingan - Kepingan Pecahan Cermin Kebenaran Yang Berserakan Di Segala Penjuru Alam Semesta
  • Sahabat
  • ***
  • Tulisan: 180
  • Thanked: 1 times
  • Total likes: 21
  • Jenis kelamin: Pria
  • Spiritualitas dan Kebatinan
    • Lihat Profil
Re:Kerja Tanpa Berbuat
« Jawab #1 pada: September 18, 2017, 07:23:56 PM »
Konsep "Kerja Tanpa Berbuat" dari filsafat Sri Kreshna dalam kitab Bhagavad Gita ini memiliki kesamaan pengertian dengan filsafat Wu Wei dan konsep "Kebajikan Tanpa Perbuatan" dari kitab Tao Te Ching oleh Lao Tzu.

Dalam selayang pandang pengertiannya, Wu Wei memiliki pengertian yang sama dengan filsafat - filsafat Bhagavad Gita ; kerja tanpa berbuat, berbuat tanpa perbuatan, tak berbuat apa pun tetapi semua dikerjakan.
Dengan makna bahwa semua perbuatan harus bersifat alami ; tidak dibuat - buat dan tidak dicipta - ciptakan.

Seperti apakah perbuatan yang tidak dibuat - buat dan dicipta - ciptakan itu ?
Yaitu perbuatan yang sama seperti tumbuhnya pohon, berkembang biaknya hewan dan manusia, sifat alami dari air ; bergerak dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Semua aksi dan perbuatan ini bersifat alami, berdasarkan keharusan, dan menurut kodrat yang semestinya.

Filsafat Wu Wei menganjurkan manusia untuk juga berbuat dan bekerja secara alami, berdasarkan keharusan, menurut kodrat yang semestinya, tanpa kegemaran, tanpa melekat dengan hasil perbuatan/pekerjaan, dengan iklash dan sepenuh hati sama seperti tumbuhnya pohon dan berkembang biaknya makhluk hidup ; semua aksi dan perbuatannya dilakukan dengan nilai - nilai tersebut.
Pohon tumbuh secara alami berdasarkan hukum alamnya tanpa keinginan untuk tumbuh dan tanpa melekat dengan imbalan atas tumbuhnya dirinya sendiri. Berkembang biaknya semua makhluk hidup dilakukan secara terus menurus tanpa kegemaran, keinginan, dan kemelekatan terhadap hasil perkembang biakannya (hasil perbuatan/imbalan) ; berdasarkan keharusan dan menurut kodrat yang semestinya. Air pun juga sama halnya dengan kedua contoh sebelumnya.
Air turun dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah secara terus menerus tanpa kegemaran, tanpa keinginan, tanpa melekat terhadap hasil dari perbuatannya ; ia hanya melaksanakan tugas yang sudah dituliskan padanya dalam kodrat alaminya sesuai dengan hukum alaminya.
Dengan demikian, filsafat Wu Wei juga mengajarkan manusia untuk berbuat dan bekerja sebagaimana alam berbuat dan bekerja.

Filsafat Wu Wei juga mengajarkan manusia untuk tidak berupaya mengejar hal - hal eksternal semacam harta, jabatan, wanita dan juga untuk tidak mengutamakan usaha - usaha eksternal - langsung semacam bekerja di perusahaan tertentu, menguasai keahlian tertentu dengan target tertentu, dan sebagainya.
Tetapi mengajarkan manusia untuk memulai dari dimensi dirinya yang paling dalam ; yaitu dari paradigma dan karakternya serta menerapkan prinsip "biar alam yang memberi" ; usahakan bukan kita yang mengejar harta, jabatan, dan wanita, tetapi usahakan agar harta, jabatan, dan wanita yang mengejar kita.

Agar kondisi tersebut dapat terjadi, maka sesuai dengan prinsip Wu Wei kita harus memulainya dari diri sendiri ; menjadi rajin, bertalenta, pekerja keras, menjadi menarik dan sebagainya.

Konsep "Kebajikan Tanpa Perbuatan" dalam kitab Tao Te Ching memiliki pengertian bahwa kebajikan dapat tercipta tanpa perbuatan dengan meninggalkan kejahatan atau keburukan - keburukan dengan maksud seperti demikian :

Untuk menciptakan perdamaian, kita harus meninggalkan berbagai kebencian, permusuhan, dan kedengkian.
Untuk menciptakan keamanan dan ketentraman, kita harus meninggalkan berbagai pencurian.
Untuk menciptakan kesusilaan dan moralitas yang utuh, kita harus meninggalkan berbagai perzinahan.
Untuk menciptakan keselamatan bagi diri kita masing - masing, kita harus meninggalkan berbagai kecerobohan, keteledoran, dan keterluputan.
Dan lain sebagainya.

Jadi intinya menurut prinsip kebajikan tanpa perbuatan ini, kita menciptakan kebajikan - kebajikan bukan dengan melakukan suatu perbuatan, bukan.
Tetapi dengan meninggalkan perbuatan itu sendiri ; segala perbuatan buruk/jahat.
Kebenaran itu ibarat cermin yang pecah berkeping - keping. Masing - masing kepingnya adalah kebenaran. Namun kepingan - kepingan pecahan cermin tersebut berserakan di segala tempat. Tugas kitalah untuk memungut kepingannya satu per satu kemudian menyusunnya agar menjadi cermin yang utuh.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
Lowongan Kerja

Dimulai oleh ratna Iklan

0 Jawaban
673 Dilihat
Tulisan terakhir November 28, 2012, 04:36:03 PM
oleh ratna
0 Jawaban
945 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 22, 2013, 02:34:02 PM
oleh Awal Dj
0 Jawaban
1244 Dilihat
Tulisan terakhir April 16, 2013, 04:49:50 PM
oleh Awal Dj
5 Jawaban
2388 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 24, 2014, 09:39:51 PM
oleh Sandy_dkk
0 Jawaban
392 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 17, 2014, 01:22:04 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
111 Dilihat
Tulisan terakhir September 26, 2016, 04:52:27 PM
oleh Sultan
0 Jawaban
104 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 12, 2017, 05:14:50 AM
oleh Kang Asep
3 Jawaban
153 Dilihat
Tulisan terakhir September 11, 2017, 01:48:03 AM
oleh Sultan
1 Jawaban
113 Dilihat
Tulisan terakhir September 11, 2017, 12:46:22 AM
oleh Sultan
0 Jawaban
18 Dilihat
Tulisan terakhir November 17, 2017, 11:14:24 AM
oleh Sultan

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan