Penulis Topik: Kemarahan  (Dibaca 1666 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9203
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Kemarahan
« pada: Agustus 01, 2014, 06:25:22 AM »

Kemarahan adalah faktor mental yang menolak objek disertai dengan kehendak untuk menyakitinya, bersifat destruktif terhadap tubuh maupun batin.

Berikut klasifikasi orang berdasarkan pemahaman tentang kemarahan :

a.   Orang yang memahami kemarahan sebagai hal buruk dan dia mengetahui bagaimana menghindarkan diri dari kemarahan. Hanya saja dia tidak cukup terampil mengatasi kemarahan.
b.   Orang yang memahami kemarahan sebagai hal buruk dan dia mengetahui bagaimana menghindarkan diri dari kemarahan. Dan dia cukup terampil mengatasi kemarahan.
c.   Orang memahami kemarahan sebagai hal buruk, menganggapnya sebagai hal serius yang perlu dihindari atau di atasi,  tapi dia tidak mengetahui cara mengatasi kemarahan.
d.   Orang memahami kemarahan sebagai hal buruk, tapi tidak menganggapnya serius, menganggapnya tidak terlalu buruk, biasa saja, manusiawi, hal wajar, sehingga menurutnya tidak perlu penanganan serius.
e.   Orang yang memahami bahwa kemarahan itu netral, bisa baik bisa buruk, bergantung kepada situasinya.
f.   Orang yang memahami bahwa kemarahan itu hal yang baik, bermanfaat dan penting sebagai faktor kekuatan mental yang dapat memberikan perlindungan pada diri.

Itulah berbagai pemahaman orang tentang kemarahan yang saya ketahui. Saya tidak atau belum menyalahkan pamahaman-pemahan tersebut. Mungkin pemahaman-pemahaman tersebut berlandaskan kepada definisi yang berbeda mengenai kemarahan. Bila berdasarkan definisi dari saya, maka orang yang menganggap kemarahan sebagai hal baik merupakan suatu kesalahan. Sebab, bagaimana sesuatu itu bisa dikatakan baik bila ia memuat sikap “tidak menerima takdir”, “niat jahat” dan “merusak” ?

Ketika Anda marah pada sesuatu, perhatikan bahwa sebenarnya Anda tidak terima dengan sesuatu itu. Misalnya, bila ada orang yang mencuri barang Anda, tentu Anda tidak terima dengan perbuatan orang tersebut. Anda tidak ingin barang Anda diambil orang lain tanpa izin dari Anda. Ini berarti penolakan terhadap objek “perbuatan merugikan”. Sampai tahap ini, muncul kebencian dalam diri Anda.

Kemudian, bila kebencian tadi disertai dengan kehendak untuk memukul, menghukum, atau mencaci maki dengan tujuan untuk menyakitinya, maka inilah yang dimaksud dengan kemarahan.

Ada yang mengatakan bahwa kemarahan diperlukan sebagai naluri untuk membela diri. Ini seolah-oleh orang yang tidak mempunyai kemarahan tidak akan mampu melindungi dirinya dari bahaya. Dengan kemarhan orang terdorong untuk melindungi dirinya. Seperti ketika tubuh orang disakiti, maka ia akan marah, membela diri dan bahkan balik menyerang. Tampaknya ini manfaat dari kemarahan. Tapi benarkah demikian ? saya meragukannya, cenderung lebih meyakini bahwa justru kemarahan itu sendirilah yang merupakan “ancaman bahaya”, lalu secara naluri orang mencari cara untuk mengatasi atau terhindari dari bahaya ini. Itulah mengapa orang harus belajar mengatasi atau menghindari munculnya kemarahan, adlah karena kemarahan itu berbahaya. Jika bermanfaat, seharusnya orang membiarkan dirinya marah dan tidak menghindar dari munculnya kemarahan.

Ketika kita mengamati diri kita sendiri dengan seksama saat marah, maka kita akan tahu bahwa penolakan yang termuat di dalam kemarahan itu menimbulkan kesakitan internal, merusakan kesehatan jasmani maupun mental. Setidaknya, dengan munculnya kemarahan seperti itu, ketenangan, cinta, kasih sayang dan rasa belas kasihan telah terkikis, bahkan bisa hilang sama sekali. Tubuhpun mengalami ketegangan yang esktrem sehingga bisa menimbulkan depresi dan mengundang berbagai macam penyakit pada tubuh. Maka, bagaimana mungkin kemarahan yang bersifat merusak seperti itu dikatakan “dibutuhkan untuk melindungi diri” ? Jika orang lain melukai kita, lalu kita marah kepadanya, maka itu seperti menambah luka pada diri sendiri disamping luka yang telah dibuat oleh orang lain.

Di sisi lain, orang yang tidak marah ketika dirinya disakiti orang lain terlihat sebagai abnormal. Dia seperti manusia tanpa rasa sakit, para penderita kusta yang tidak mempunyai alarm bahaya bagi tubuhnya. Seolah, manusia normal itu harus marah ketika dia dicaci maki orang lain. Benarkah demikian ? tidak benar. Ini seperti perkataan, “jika kesalahan dilakukan oleh semua orang, maka jadi kebenaran”. Memang benar, bahwa mayoritas orang akan marah ketika dia dihina atau dicaci maki. Tapi kebenaran bukanlah mayoritas. Normal bukan berarti seragam dengan mayoritas. Dan Abnormal bukan berarti beda dengan mayoritas.

Mungkin, ada dalam hidup Anda seseorang yang hanya membayangkan wajahnya saja Anda langsung merasakan kebencian, kemarahan dan Anda merasakan perasaan yang sangat tidak menyenangkan. Jika memang demikian, coba amati dengan seksama ketika Anda marah dan lalu renungkan, mana kondisi yang lebih baik bagi Anda, kondisi ketika kemarahan itu muncul atau ketika kemarahan itu tidak muncul ? tentu Anda akan tahu bahwa kondisi ketika kemarahan itu tidak muncul, itulah kondisi terbaik. Lalu bagaimana mungkin kemarahan seperti itu penting untuk Anda pelihara ?

Sebesar apapun kemarahan Anda kepada seseorang, bila Anda sedang lupa padanya, maka kemarahan Anda lenyap seketika. Ini bukti bahwa kemarahan itu tercipta dari pikiran. Oleh karena itu, sebagian orang berusaha melenyapkan kemarahan dengan cara melupakan, dengan cara menyibukan diri dengan pekerjaan atau mengembangkan konsentrasi. Masalahnya cara seperti itu hanya mengenyahkan kemarahan sementara, ketika lupa. Ketika teringat kembali kepada objek kemarahan, kemarahan itu muncul. Cara yang lebih baik adalah dengan “memahami segala sesuatu apa adanya”, sehingga akar kemarahan tercabut dan kemarahan tidak dapat muncul lagi dalam segala kondisi.

Sebagai contoh, dulu anak saya seringkali tampak sedih dan marah karena sering diejek teman-temannya dengan sebutan “si Hitam”. Kebetulan warna kulit anak saya itu agak hitam. Untuk mengatasi kemarahan dan kesedihannya, saya tidak mengajarkan si anak untuk mengabaikan ejekan itu, tapi dengan memahami makna yang sebenarnya. “Justru kamu seharusnya merasa bangga disebut hitam?”

“Lha, kenapa yah?” tanya dia.

“Kulit ayah hitam, kulit ibu hitam, kalo kulit kamu putih seperti orang barat, nanti kamu disangka bukan anak ayah dan ibu. Kulit kamu hitam, pertanda kamu asli, benar-benar anak ayah dan ibu.” Kata saya.

“O.. gitu ya yah?” anak.

“lagi pula, di Eropa, yang hitam-hitam itu katanya yang paling laku. Orang-orang lebih suka kulit hitam dari pada kulit putih. Dan ada lagi yang mengatakan, orang yang berkulit hitam itu tubuhnya lebih kuat dari yang kulit putih. Untunglah kulit kamu hitam, jadi kamu lebih kuat dari teman-temanmu. Walaupun kulit kita hitam, tapi kalau hati kita putih, maka kita akan disukai banyak orang.” Saya menjelaskan.

Anak bertanya, “memangnya, hatiku putih?”

“Hati putih itu maksudnya, kamu baik, sabar, rajin, pintar, suka menolong, dermawan, dan jujur. Pastilah teman-teman kamu lebih menyukai kamu dari pada orang yang kulitnya putih tapi galak, bodoh, pelit, dan pembohong.”

Sejak saat itu, anak saya tidak pernah marah lagi di sebut “si hitam”. Dia hanya tersenyum dan bangga dengan kulit hitamnya. “saya memang hitam he..he..” katanya. Inilah yang saya maksud lenyapnya kemarahan bukan karena lupa, tapi karena pemahaman. Lenyapnya kemarahan seperti ini bersifat permanen, bukan sementara.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1061
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 11
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re:Kemarahan
« Jawab #1 pada: Agustus 01, 2014, 04:18:22 PM »
Walau agak sulit untuk menyalurkan kemarahan dalam diri dengan porsi yang tepat,
namun ada manfaat yang didapat bila dapat melakukannya  Berikut,seperti 

• Jadi Kekuatan Pendorong
Terkadang ketika orang membicarakan sesuatu hal diikuti dengan emosi yang memuncak, tidak menutup kemungkinan akan membuatnya termotivasi untuk mengungkapkan semua yang menjadi beban di kepalanya. mungkin Inil yang menyebabkan kemarahan bisa menjadi energi positif untuk memecahkan masalah.

• Membuat Seseorang Lebih Optimis
kemarahan ternyata bisa membuat seseorang lebih optimis dan bahagia. dibandingkan dengan orang yang sering menahan emosi yang malahan akan membuat seseorang akan menderita . Orang yang menyuarakan kemarahannya biasanya  akan lebih optimis.

• Mengurangi Kekerasan
Kekerasan fisik ini biasanya sering terjadi karena rasa kesal yang tertumpuk lama dan akhirnya berpuncak pada kekerasan.  jika rasa kesal tersebut diungkapkan dengan kata-kata maka dapat mencegah bom waktu atau kekerasan dapat terjadi.

Meskipun banyak manfaat yang didapat dari kemarahan,
namun jangan sampai kemarahan Anda dapat  merugikan diri sendiri dan orang lain. Berhati-hatilah ketika mengungkapkan kemarahan karena marah menjadi bermanfaat hanya ketika Anda bisa mengontrolnya dengan baik dan tepat sasara

SEMNAGAT LOGICERS
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1061
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 11
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re:Kemarahan
« Jawab #2 pada: Agustus 01, 2014, 04:19:50 PM »
barusan di cek digoogle ada yang membahas kemarahan di http://baitipondokbambu.wordpress.com/2012/03/12/manfaat-marah-dan-menangis/

disana disebutkan begini

"
Sesuatu yang wajar jika setiap manusia memiliki rasa marah, bahkan marah bukan sesuatu hal yang buruk, karena dibalik rasa marah tersimpan manfaat yang sangat berguna yaitu :

Marah adalah suatu perilaku yang normal dan sehat yakni sebagai salah satu bentuk ekspresi emosi manusia.
Marah juga merupakan satu bentuk komunikasi. Karena adakalanya orang lain baru mengerti maksud yang ingin disampaikan ketika kita marah.
Marah adalah manusiawi
"

Ada yang lebih unix lagi secara pemikiran di https://www.facebook.com/ZONA.PESBUKERZ.MANIA/posts/319076388129091

1. Marah membuat anda dimengerti.
Ini sangat berguna bagi para atasan yang punya bawahan bebal. Sehingga anda perlu marah untuk membuat bawahan mengerti keinginan anda.
2. Marah dapat menunda pembayaran hutang.
Jika ada orang yang menagih hutang pada anda, marahi saja mereka tanpa sebab. Dijamin orang itu akan pergi karena mengira anda sudah gila.
3. Marah bisa menghilangkan pegal-pegal.
Jika badan anda pegal-pegal sementara anda tak punya uang untuk pergi ke tukang pijat, pergi saja ke terminal. Marahi preman-preman di sana. Bilang bahwa mereka adalah sampah masyarakat. Dijamin pegal-pegal anda hilang, berganti babak belur.
4. Marah jadi cara jitu untuk mengganti perabotan.
Banting saja perabotan ketika sedang ribut dengan pasangan. Pasti perabotan anda akan berganti dengan yang baru setelah pertengkaran usai.
5. Marah membuat anda mengalahkan musuh dengan mudah.
« Edit Terakhir: Agustus 01, 2014, 04:22:42 PM oleh kang radi »
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
2 Jawaban
2670 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 06, 2013, 09:02:49 PM
oleh Kang Asep
3 Jawaban
2122 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 26, 2013, 03:31:02 PM
oleh comicers
6 Jawaban
1225 Dilihat
Tulisan terakhir September 13, 2015, 10:49:35 PM
oleh Ziels
0 Jawaban
1094 Dilihat
Tulisan terakhir November 11, 2013, 12:44:51 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
85 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 03, 2017, 09:29:09 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan