Penulis Topik: Kebenaran Relatif  (Dibaca 1506 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 483
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Kebenaran Relatif
« pada: Desember 27, 2015, 09:26:59 AM »
Artikel Sebelumnya :




Konsep Kebenaran Relatif Yang Saya Sangkal

Nilai Proposisi adalah "benar" atau "salah", tidak bisa netral atau benar dan salah. dan nilai ini mesti bersifat pasti. Tetapi sebagian orang berpendapat bahwa setiap kebenaran pendapat itu relatif atau subjektif. buktinya, apa yang kita nilai benar, bisa jadi menurut orang lain bernilai salah. Dan mereka menerima dua keyakinan yang kontradiksi sebagai yang mungkin sama-sama benar dengan dalih kebenaran relatif. atau bahkan mereka berpendapat bahwa semua benar, tergantung sudut pandang. Dan mereka menolak adanya kebenaran yang mutlak. saya menyangkal keyakinan mereka. Tidaklah benar bahwa kebenaran segala pendapat itu relatif, karena ada pendapat yang mutlak benar. Saya menyakini bahwa "sebagian kebenaran itu mutlak, dan sebagiannya relatif", sesuai dengan realitasnya. Jika seseorang menerima bahwa "Setiap A adalah B" sebagai keyakinan yang benar, maka semestinya dia tidak menerima bahwa "Sebagian A bukan B" sebagai keyakinan yang benar pula, sebab jika diterima, maka itu sama saja dengan mengakui sesuatu sekaligus mengingkarinya. Ini satu kebodohan atau kegilaan. 

Dalam perdebatan, semua pihak merasa pendapatnya benar. lalu menunjukan argumen-argumen untuk membuktikan bahwa pendapatnya benar. Ini menunjukan bahwa mereka yakin kebenaran itu dapat dibuktikan. Jika setiap kebenaran itu subjektif atau relatif, maka apa gunanya dia membuktikan kebenaran pendaptnya ? karena subjektif berarti tidak bergantung pada bukti-bukti kebenaran, tapi bergantung pada kemauan dirinya sendiri. Sehinga mereka yang menyakini bahwa segala kebenaran itu relatif atau subjektif, tapi berusaha keras menunjukan bukti-bukti kebenaran pendapatnya atau kesalahan pendapat orang lain, maka mereka sedang menyangkal dirinya sendiri.


Mengidentifikasi Konsep Kebenaran Relatif Yang Keliru

Untuk membedakan konsep kebenaran relatif yang benar dan keliru, dapat dibedakan dari sikap orangnya terhadap kontradiksi, apakah dia menerima dua keyakinan yang kontradiksi sebagai yang mungkin sama-sama bernilai benar atau menganggapnya mustahil benar keduanya. Jika orang itu meyakini dua keyakinan yang kontradiksi sebagai hal yang mungkin benar dua-duanya, maka jelas dan sangat jelas, konsep kebenaran relatif yang dia yakini itu keliru.


Pertentangan Pendapat

Kebenaran berpijak pada realitas. dan reliatas tidak mungkin kontradiksi satu dengan yang lainnya serta tidak bergantung pada sudut pandang. jadi, kebenaran itu satu dan mustahil kontradiksi dan bergantung pada Sudut Pandang. Pertentangan tidak terjadi pada alam realitas, melainkan hanya terjadi pada alam pemikiran. manusia yang berpikir itulah yang berpotensi untuk saling bertentangan pendapat. Karena itu, jika dua orang bertentangan keyakinan, mustahil dua-duanya benar. jika yang satu benar, yang lainya mutlak salah. Kebenaran mutlak seperti inilah yang mesti difahami.

Jka keyakinan kita kontradiksi dengan keyakinan orang lain, maka mustahil kedua-duanya benar. pastilah satu salah dan lainnya benar. Bisa jadi kita yang salah atau bisa saja orang lain itu yang salah. yang jelas, jangan berpikir bahwa keduanya bisa sama-sama benar dengan alasan bahwa kebenaran itu relatif! Kebenaran boleh relatif, tapi dua hal yang kontradiksi mustahil sama-sama benar. Selanjutnya, mana yang sebenarnya benar dan mana yang salah haruslah diungkap melalui pembuktian, bukan "benar-salah terserah masing-masing".

Dua hal yang tampak kontradiksi bisa jadi bernilai benar keduanya, jika ternyata memiliki definisi yang berbeda pada term-termnya. Jika ini yang terjadi, maka sebenarnya dua keyakinan tadi tidak kontradiktif. dan tidak berarti benar bahwa benar-salah bergantung penilaian masing-masing. tetapi, dua hal yang tampak kontradiksi tadi sebenarnya tidak ada sangkut pautnya, lain ladang lain ilalang, lain persoalan yang dibicarakan. jika keduanya dianggap kontradiksi ini akibat kesalah-fahaman, mis komunikasi, keadaannya kurang atau tidak saling memahami satu sama lain.

Kebenaran Subjektif

Proposisi yang mesti pasti bernilai benar atau salah, bergantung padad definisinya term-termnya.  Definisi itu subjektif. sedangkan nilai kebenaran proposisi bergantung pada Definisi. jadi, ternyata nilai benar dan salah itu bergantung pada sesuatu yang subjektif. Hal ini dapat dijadikan alasan oleh mereka bahwa segala kebenaran itu subjektif. Ini juga merupakan kekeliruan. Sebab yang bergantung pada definisi subjektif itu bukanlah nilai benar atau salahnya, melainkan posisi proposisinya itu sendiri. karena itu, jika definisinya berubah, maka tidaklah mengubah nilai proposisi, melainkan mengganti satu proposisi dengan proposisi yang lain dalam sebuah struktur klasifikasi. Penentuan definisi dan Pergantian proposisi ini yang harus difahami sebagai "kebenaran relatif", dan bukan pada nilai proposisi atau keyakinannya. Ini seperti kewenangan seorang guru yang hendak mengklasifikasikan murid-murid baru, apakah hendak dimasukan ke kelas A, B atau C, tergantung dari kemauan guru tersebut saja, tidak ada kriteria pasti. yang seperti inilah kebenaran subjektif. Tapi jika kemudian saya katakan anak saya masuk di kelas 1B, maka pendapat saya tidak bisa dikatakan subjektif, karena sesuai dengan fakta begitu, berarti objektif. Seperti itu pula kebenaran sebuah proposisi, tidak bisa karena struktur kalsifikasinya bergantung pada definisi yang subjektif, lantas nilai kebenarannya disebut subjektif.


Merasa Benar

Dalam berbagai perdebatan yang terjadi di forum-forum diskusi online, keyakinan kebenaran relatif seringkali digunakan untuk menolak pandangan orang lain. "Benar itu kan menurutmu, menurut saya tidak". kadang-kadang ini adalah wujud dari keputus-asaan akibat gagal memahami melihat kebenaran yang dimaksud orang lain. sebenarnya tidak yang salah dengan komentarnya, tapi penggunaan komentar tersebut yang keliru. Jika komentar itu digunakan untuk mengklaim bahwa pendapatnya benar dengan alasan kebenaran relatif, berarti penggunaan komentarnya untuk tujuan yang salah. kadang ungkapan tentang kebenaran relatif ini sebagai ungkapan untuk menyatakan "ya sudahlah, kamu terserah kamu dan saya terserah saya". dan terkadang juga, karena orang bingung, "semua orang merasa pendapatnya benar, jika demikian maka kebenaran itu realtif." dia telah salah membuat kesimpulan.

Jika saya dan anda punya pendapat yang kontradiksi, maka boleh-boleh saya masing-masing dari kita sama-sama merasa benar. Tapi pedoman untuk membuktikan benar-salahnya suatu pendapat itu bukanlah perasaan. Harus ada metode yang jelas untuk menilai benar-salahnya sesuatu. Misalnya, untuk menilai kebenaran suatu Konklusi, maka menggunakan hukum-hukum Logika adalah metoda yang tepat. Metoda apapun yang dipilih, selama metodenya benar, hasilnya mustahil kontradiksi. Dengan demikian, kita akan sampai pada kebenaran objektif yang mustahil dibantah oleh siapapun yang berakal sehat.

Jika saya bermain sepak bola, maka saya mustahil mengkalim bahwa saya memenangkan permainan setelah lawan memasukan bola ke gawang saya sebanyak 5 kali, sedangkan tim saya tidak memasukan satupun ke gawang lawan. Kriteria menang -kalahnya permainan sepak boleh sudah jelas. hasilnya disepakati. dan keputusan pemenang harus diambil secara objektif, bukan subjektif. Demikian pula dalam debat agama dan filsafat, jika jelas kriterianya, seseorang akan berhenti mengklaim dirinya benar dengan sendirinya, dengan melihat bahwa pendapatnya tidak ssuai dengan kriteria kebenaran tadi.

Saling Menghormati

Sisi baik dari keyakinan terhadap kebenaran relatif -apakah itu yang benar maupun yang salah- adalah sikap toleransi. Dengan dalih kebenaran relatif, seseorang mengingatkan lawan debatnya untuk menghormati dan tidak memaksakan pendapatnya. Tetapi, perlu diketahui bahwa untuk dapat menghormati pendapat orang lain, tidak harus berkeyakinan bahwa "semua pendapat mungkin benar". karena faktanya banyak pendapat yang mustahil benar. Jika saya meyakini sesuatu itu benar, maka mestilah saya meyakini bahwa hal yang bertentangan dengannya sebagai hal yang salah. walaupun demikian saya tetap menghormati orang yang bertentangan keyakinan dengan saya. rasa hormat dan toleransi saya terhadap dia bukan atas dasar keyakinan bahwa kebnaran itu relatif, tapi atas dasar niat baik dan kesantunan dia dalam menyampaikan pendapat. Dengan demikian, walaupun menyangkal atau menentang pendapat saya, selama disampaikan dengan niat baik dan cara yang santun, maka tidak ada alasan bagi saya untuk tidak menghormatinya.
« Edit Terakhir: Desember 27, 2015, 09:31:49 AM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
1884 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 27, 2012, 09:02:43 PM
oleh Kang_Asep
0 Jawaban
1419 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 18, 2012, 10:57:06 PM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
1766 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 25, 2014, 05:50:39 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1226 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 22, 2015, 07:29:39 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
374 Dilihat
Tulisan terakhir April 07, 2015, 01:08:38 PM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
1414 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 06, 2016, 07:40:47 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
473 Dilihat
Tulisan terakhir April 28, 2015, 10:36:35 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
762 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 12, 2015, 03:03:45 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
505 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 10, 2015, 06:06:12 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
419 Dilihat
Tulisan terakhir April 28, 2016, 12:27:01 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan