Penulis Topik: Indikator Sebab  (Dibaca 173 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9585
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Indikator Sebab
« pada: Mei 24, 2018, 12:05:52 PM »
Jika A, maka B
Dalam bahasa logika, pernyataan ini mengandung arti Apabila A terjadi, maka B pasti terjadi. Apabila B tidak terjadi, maka A pasti tidak terjadi. Tetapi apabila A tidak terjadi, maka belum tentu B tidak terjadi. Hukum disebut dengan Hukum Kemestian Sepihak.

Pernyataan di atas disebut implikasi, yang berisi kalimat majemuk terdiri dari Pengantar dan Pengiring. Kalimat yang menempati variabel A disebut antecedent atau “Pengantar”. Sedangkan yang menempati variabel B adalah Consequent atau “Pengiring”.
Dalam ungkapannya sehari-hari ada dalam berbagai bentuk seperti :

Bilamana A, maka B
B, jika A
Kalau A, maka B
B karena A
Karena A, sehngga B
Alasan dari B adalah A
Sebab A, akibatnya B
Penyebab B adalah A

Dalam bahasa umum, Pengiring seringkali disebut sebagai sebab. Hal itu sah-sah saja. Tetapi dalam bahasa Ilmiah, ada definisi tersendiri tentang apa itu sebab, sehingga berdasarkan Pengiring dalam pernyataan implikasi tidak dapat dinyatakan sebagai sebab. Definisi sebab tersebut dinyatakan dalam “Hukum Kausliatas Ilmiah” yang berbunyi sebagai berikut :

“Apabila X ditemukan pada saat Y tidak terjadi, atau tidak ditemukan pada saat Y terjadi, maka X bukan sebab bagi akibat.”

Hukum di atas, seringkali membuat pernyataan tentang sebab-akibat menjadi gagal uji. Ketika dinyatakan bahwa X merupakan sebab dari Y, dan kemudian diuji dengan hukum di atas, lalu terbukti bahwa X bukanlah sebab dari Y, karena X ditemukan pada saat Y tidak terjadi atau tidak ditemukan pada saat Y terjadi. Lalu bagaimana rumusan untuk menembukan sebab bagi Y, ada yang disebut dengan metoda ilmiah yang disebut dengan Lima Metoda Induksi, meliputi :

1)   Metoda Persetujuan
2)   Metoda Persetujuan Ganda
3)   Metoda Perbedaan
4)   Metoda Sisa Sisihan
5)   Metoda Persamaan Vairasi

Itu semua dipelajari khusus dalam metodologi penelitian ilmiah secara lebih terperinci. Di sini saya hanya menyampaikan prinsip umumnya sebagai berikut
jika dan hanya jika X maka Y, dan X selalu terjadi sebelum Y, maka X adalah sebab bagi Y.

Contoh 1 :
Jika dan hanya jika bekerja, maka mendapatkan upah
Seseorang tidak mendapatkan upah, bila tidak bekerja. Tak ada orang bekerja yang tidak mendapatkan upah dan tidak ada orang yang mendapatkan upah, kecuali dia bekerja. Jika tidak ada kasus di mana orang bekerja tidak mendapatkan upah - misalnya karena selalu ada upah bagi orang bekerja, walaupun tidak selalu dalam bentuk materi,  atau Tuhan selalu memberi upah kepada orang yang bekerja – maka dapat dinyatakan secara sah, bahwa “bekerja” merupakan sebab “mendapatkan upah”.

Apabila terdapat kasus di mana ada orang bekerja, namun dia tidak mendapatkan upah, - misalnya, karena dalam hal ini pengertian upah terbatas rupa uang yang diberikan oleh pihak yang mempekerjakan -berarti gagal dari uji hukum kausalitas ilmiah.

Dalam skala dunia, dapat ditemukan kasus di mana orang bekerja, tetapi tidak mendapatkan upa, sehingga membuatnya tidak lolos uji kausalitas ilmiah. Tetapi, mari kita lihat dalam bentuk pernyataan berikut :

Jika bekerja, maka mestinya mendapatkan upah.
Jika tidak bekerja, maka mestinya tidak mendapatkan upah.
Atau
Jika bekerja, maka akan mendapatkan upah
Jika tidak bekerja, maka tidak akan mendapatkan upah
Dengan demikian “bekerja” menjadi sebab dari “mesti mendapatkan upah” atau sebab dari “akan mendapatkan upah”.

Contoh 2 :
Mira   : Apa sebab kamu mencintai saya ?
Ramlan   : Karena kamu cantik ?
Mira   : Yang lain juga banyak yang cantik, mengapa kamu pilih saya ?
Ramlan   : Karena kamu bukan hanya canti, tapi juga baik ?
Mira   : Berarti bila ada yang lebih baik dari saya, cintamu akan berpindah kepadanya, iya kan ?

Itu sepenggal dialog yang biasa terjadi, ketika seorang wanita yang penasaran dengan kebenaran cinta kekasihnya dan hampir tidak lulus uji. Memang dilihat dari hukum kausalitas ilmiah, maka “cantik” dan “baik” tidak dapat dinyatakan sebagai “sebab” dari “cinta”. Lalu, bagaimana menemukan sebab itu ? Bolehkah dikatakan bahwa “cantik” merupakan “sebagian sebab dari cinta”, “salah satu faktor dari sebab” atau “sebab yang belum sempurna” ? jawabannya ya boleh-boleh saja. Dan saya pun boleh menyebutnya dengan “Indikator Sebab”. Tapi yang namanya “sebagian sebab”, “faktor dari sebab”,”indikator sebab” atau “sebab belum sempurna” itu semua bukanlah sebab.  Rumusannya sebagai berikut :

Jika A, maka C
Jika B, maka C
Jika tidak A, belum tentu tidak C
Jika tidak B, belum tentu tidak C
Tapi - jika tidak A dan tidak B, maka pasti tidak C – maka ini berarti jika Q adalah sebuah himpunan indikator yang anggotanya berisi A dan B, maka Q adalah sebab bagi C.

A adalah indikator Q
B adalah indikator Q
Dan Q adalah sebab dengan sifat termnya yang menentu.

Biasanya pernyataan A anggota himpunan dari Q bisa dinyatakan sebagai A adalah Q, seperti pada kasus himpungan unggas yang terdiri dari “ayam, bebek, kalkun, dsb”. Dan unggas merupakan anggota himpunan dari “burung”, sehingga dapat dinyatakan :

Ayam adalah unggas
Setiap unggas adalah burung
Jadi, ayam adalah burung

Tapi perhatikan perbedaannya dengan berikut :

Ramlan adalah anggota himpunan dari manusia. Dan manusia itu adalah anggota himpunan makhluk yang menghuni bumi sejak zaman purbakala. Lalu dinyatakan :
Ramlan adalah manusia
Manusia adalah makhluk yang menghuni bumi sejak zaman purbakala
Jadi, Ramlan adalah makhluk yang menghuni bumi sejak zaman purbakala

Middle termpada premis kedua bersifat universal, sesuai aturan syllogisme yang ketiga. tapi mengapa konklusinya menjadi salah ? itu karena ada perbedaan sifat pada term “manusia”.  Bahwa pada premis kedua “manusia” di sana maksudnya adalah “spesies”, bukan “himpunan manusia yang terdiri dari individu-individu”. Ini berarti sebenarnya pelanggaran terhadap hukum identitas. Inilah problem yang banyak terjadi dalam persoalan filsafat. Hal ini telah saya bahas dalam materi berjudul “meliput, menentu dan mengelompok”.

Demikian pula halnya dengan masing-masing unsur yang merupakan indikator sebab dari sesuatu, tidak dapat dinyatakan sebagai sebab dari sesuatu itu. Contoh perbedaan sifat term manusia dalam contoh di atas, mesti dapat diterapkan ke dalam kasus “sebab-akibat”, karena apabila tidak demikian, maka hukum kauslitas ilmiah menjadi tidak dapat dikompromikan dengan filsafat. Menyatakan indikator sebab sebagai sebab merupakan pelanggaran terhadap hukum Logika yang pertama, yaitu hukum identitas.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
3 Jawaban
2645 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 16, 2013, 09:11:41 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
2927 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 28, 2012, 09:09:31 PM
oleh Kang Asep
22 Jawaban
4695 Dilihat
Tulisan terakhir November 01, 2014, 03:18:14 PM
oleh Sandy_dkk
4 Jawaban
1278 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 11, 2014, 09:08:31 AM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
1209 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 02, 2014, 09:58:53 PM
oleh Ridz Arefy
1 Jawaban
1106 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 12, 2015, 03:38:01 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
717 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 27, 2016, 06:38:26 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
406 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 04, 2017, 11:31:54 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
192 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 09, 2018, 07:50:20 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
154 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 04, 2018, 04:57:52 PM
oleh comicers

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan