Penulis Topik: Gemar Berbuat  (Dibaca 113 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9264
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 353
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Gemar Berbuat
« pada: September 05, 2017, 06:18:59 PM »
Daftar Isi
====================
1. Ikhlas Berbuat
1.1. Tujuan Perbuatan
1.2. Tanpa Mengharapkan Hasil Perbuatan
2. Gemar Berbuat
====================



2. Gemar Berbuat
Edisi : 04 September 2017, 07:36:27

di dalam kitab Bhagavad Gita yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, ditemukan istilah "Gemar Berbuat". Sri Kresna menekankan kepada Arjuna agar berbuat dengan ikhlas. Salah satu ciri ikhlas berbuat itu adalah "tidak gemar berbuat" atau "tidak berbuat karena gemar".  Agar tidak gemar berbuat, orang harus teguh untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam hidupnya, apakah itu dirasa menyenangkan atau tidak menyenangkan.

Ada sepasang suami istri datang kepada saya serta mengeluhkan putra sulungnya yang pemalas. Walaupun dia sudah menjadi sarjana, tapi dia tidak mau bekerja. Nama Pemuda ini adalah Yunus. Tapi Yunus tidak merasa dirinya pemalas, dia berkata, "Ibuku menganggapku pemalas, padahal aku hanya malas untuk melakukan pekerjaan yang aku tidak suka saja. Saya senang ngevlog, dan saya selalu bersemangat untuk melakukan itu."

Saya berkata pada Yunus, "Itulah yang disebut dengan pemalas. Yang namanya pemalas bukan lah orang yang enggan melakukan apa-apa, melainkan mereka yang gemar melakukan sesuatu yang disenangi saja. Orang yang tidak malas, dia akan melakukan segala sesuatu yang harus dia lakukan, tak perduli apakah itu menyenangkan baginya atau tidak."

Dalam Bhagavad Gita dikisahkan tentang keengganan Arjuna maju ke medan perang, karena dia enggan membunuh musuh-musuh yang sebenarnya adalah karib kerabatnya sendiri. Pahadal membela kebenaran, berperang melawan kebatilan merupakan kewajibannya. Bagaimana nasihat-nasihat Sri Krisna pada Arjuna serta bagaimana penjelasannya tentang "Gemar Berbuat" ? Mari kita simak penuturannya ! Sri Krisna berkata :
----------------------
ika engkau mengingat kewajibanmu sendiri, pasti tak akan ragu-ragu, karna tak ada yang lebih enak sebagai prajurit selain menghadapi peperangan yang sudah tidak dapat dihindarkan lagi.

Hari Putra Prita, beruntunglah prajurit yang menghadapi perang yang sah, karena akan dibukakan pintu sorga. Jika engkau tidak mau membela keadilan, karena menolak menjalankan kewajiban, maka engkau akan dicela. Semua orang akan memperbincangkan keburukanmu sepanjang masa. Dan rasa malu yang akan kau dapatkan, itu lebih buruk dari kematian. Semua raja-raja yang ada di atas kereta, yang seharusnya memujimu, mereka akan menghina mu. Banyak kata yang tak pantas, akan diucapkan oleh pihak musuh untuk mencela kesatriaanmu. Adakah yang hal yang lebih buruk dari perasaan malu mu ? Padahal apabila kau mati, kau akan mendapat sorga,  dan kalau kau menang perang kau akan mendapat kebahagiaan di dunia, krena itu Arjuna bersiaplah untuk berperang ! Setelah engkau menganggap mujur dan celaka, memperoleh dan kehilangan, semua itu sama saja, majulah berperang ! Engkau tak akan mendapat noda.

Manusia tidak dapat meraup jika tidak melakukan suatu perbuatan yang mengasilkan serta tak dapat sempurna karena enggan berbuat. Sebab di dunia ini tak ada manusia yang tidak melakukan perbuatan, karena sudah terbawa oleh sifat prakriti.  Tetapi siapa yang adpt menaklukan pancaindera dan pikirannya, hai anak Kunti, itulah yang disebut menyatu karena perbuatan, karena tidak gemar akan perbuatan.

Sempurnakan tindakanmu untuk berbuat kebenaran, karena hal tu lebih baik dari pada tidak berbuat sesuatu,dan engkau dapat melindungi dirimu sendiri, jika melakukan suatu perbuatan. Dunia ini terikat oleh perbuatan. Karena itu sempurnakan keadaan perbuatan tadi hingga terbebas dari kegemaran. Setelah manusia membiasakan diri berkorban, maka dia dapat mendatangkan apa yang dituju, yaitu lembu harapan.

Barang siapa yang tidak berbuat kebajikan, itu dosa dalam hidupnya dan orang yang selalu menurut kemauannya sendiri, hidupnya tak berarti. Tetapi orang yang senang di rumah Dzat, dia sudah merdeka, tak ada sesuatupun yang harus dikerjakan. Karena semua yang dikerjakan atau tidak dikerjakan, sudah tidak berguna baginya. Karena itu sempurnakan semua perbuatan yang harus dilaksanakan, jangan sampai gemar. Sebab melaksanakan suatu perbuatan yang tak digemari itu merupakan sarana bagi manuia untuk mencapai kemuliaan yang paling tinggi.

Hai Prita Putra, di Tiga Dunia ini tak ada sesuatupun yang harus aku pegang, dan tak ada cita-cita yang belum aku capai. Namun dmikian aku melakukan sesuatu. Sebab, jika aku tidak memusatkan kehendakku untuk melakukan sesuatu, maka semua orang akan mengikuti jejak perbuatanku. Dengan demikian, dunia akan lenyap dan aku membuat bercampurnya bangsa-bangsa. Akibatnya semua orang akan celaka.

Hai keturunan Barata, bagaikan orang bodoh, jika gemar akan perbuatan yang dilakukan. Semoga orangorang bijak tidak melakukan perbuaan karena gemar. Semua yang diharapkandari perbuatan itu hanya demi kesejahteraan dunia.

Semoga tidak terjadi orang-orang bijak mengacaukan pekerti orang-orang bodoh yang melaukan suatu perbuatan karena terlalu gemar berbuat. Tetapi, semua perbuatan orang-orang bijak membuat orang-orang bodoh tertarik.

Dari perjalanan Prakriti, semua orang segera bertindak karena sifat badannya sendiri, karena itu lalu mengakui perbuatannya.

Hai yang dibawa sengsara, barang siapa mngerti perbedaan tabiat dan perbuatan, mengira dan mengakui, maka akan terhindar dari halangan.

Barangsiapa yang terbawa oleh tabiat Prakriti, akan keliru perbuatannya; suatu bukti bahwa gemar akan tabiatnya. Siapapun yang sudah sempurna, jangan membuat bingung orang bodoh yang belum mengerti tenang kesempurnaan.

Semua perbuatan serahkan padaku, daya ciptamu tanamkan di dalam dzat, dengan tanpa suatu pengharapan dan keinginan, serta setelah lenyap nafsu untuk memiliki, majulan untuk berperang.

Manusia yang mengikuti petunjukku ini dengan penuh kepercayaan tanpa rag-ragu berarti sudah terbebas dari perbuatan. Tetapi manusia yang selalu dirundung keraguan dan tak mau mengikuti petunjukku tadi, dan menyalahkan segala petunjuk, itu lah orang yang tidak berbudi. Senang dan bencinya terhadap keinginan itu terletak di panca inderanya. Jangan sampai ada manusia yang begitu, sebab keduanya adalah musuh. Kebih baik memenuhi kewajibanmu sendiri meski belum sempurna dari pada hanya menjalankan tugas orang lain. Lebih baik mati karena menjalankan tugas sendiri, dari pada tugas orang lain yang penuh resiko.
======================

Arjuna bertanya, "Apakah penyebabnya sehingga orang berbuat dosa sepertiitu duh keturunan Wresni ? Meskipun orang sudah berniat tidak mau, tetapi masih dipaksa juga.

Kresna menjawab :
------------------------
Itulah damba akan milik orang lain dan juga hawa nafsu. Timbulnya dari tabiat rajas, menyebabkan tingkah lakunya tak jelas. Ketahuilah bahwa itu musuh kita.

Bagai kobaran api tertutup selimut asap, ibarat biji terbungkus debu, seumpana benih terbungkus placenta, begitulah rajas mempengaruhi. Kehendak, cipta dan budhi itu tempatnya menumpangnya rajas. Dengan cara itulah ia menyesatkan jiwa dan menutupi kebijaksanaan. Setelah engkau dapat menaklukan kehendakmu, lalu singkirkan perusak kebijaksanaan dan pengetahuan. Kehendak itu di atas  badan, di atas kehendak adalah pikiran, tetapi di atas pikiran itulah Budhi. Sedangkan di atas Budhi adalah Dia.

« Edit Terakhir: September 05, 2017, 06:59:54 PM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sultan

  • Sang Pengembara Yang Mencari Kepingan - Kepingan Pecahan Cermin Kebenaran Yang Berserakan Di Segala Penjuru Alam Semesta
  • Sahabat
  • ***
  • Tulisan: 180
  • Thanked: 1 times
  • Total likes: 21
  • Jenis kelamin: Pria
  • Spiritualitas dan Kebatinan
    • Lihat Profil
Re:Gemar Berbuat
« Jawab #1 pada: September 11, 2017, 12:46:22 AM »
Kewajiban itu memang sesuatu yang harus dilaksanakan baik dengan perasaan suka atau pun tidak.

Dengan demikian, dalam melaksanakan kewajiban terdapat suatu pembelajaran di dalamnya ; yaitu pengorbanan. Kita harus mengutamakan terlaksananya kewajiban kita dengan menomorduakan perasaan kita mengenai kewajiban tersebut. Tegasnya, kita harus rela melaksanakan kewajiban kita dengan perasaan seburuk apa pun dan kewajiban kita harus terlaksana walaupun dengan hati yang tersiksa, teraniaya, dan terkoyak saat melakukannya.
Intinya perasaan nomor dua dan kewajiban tetaplah nomor satu.

Tetapi walaupun perasaan adalah hal sekunder bagi kewajiban kita, tidak dapat dipungkiri bahwa perasaan juga merupakan hal yang penting bagi kewajiban kita. Sebab, perasaan kita juga menentukan kualitas pekerjaan kita ; perasaan kita juga menentukan seberapa baik pekerjaan kita dalam melaksanakan kewajiban kita.
Kewajiban yang dilakukan dengan iklash, sepenuh hati, penuh minat, penuh cinta, kualitasnya pasti akan sangat jauh berbeda (jauh lebih baik)dengan kewajiban yang dilakukan dengan hati/perasaan yang buruk.
Bila dikatakan dengan bahasa persentase, kewajiban yang dilakukan dengan hati/perasaan yang buruk 90% akan berkualitas buruk (jauh lebih banyak berkualitas buruk daripada berkualitas baik). Banyak sekali contohnya dalam kehidupan nyata di masyarakat yang tidak mungkin saya tuliskan satu per satu dalam tulisan ini. Namun saya harap siapapun yang membaca tulisan ini, sudah mengerti contoh - contoh yang saya maksud dan mengetahuinya di dalam kehidupan nyata sehari - hari. Saya tidak berbicara dalam konteks pengalaman hidup individual seseorang, tetapi dalam lingkup orang per orang secara luas ; dengan hitungan per individu.

Lagi pula, kewajiban yang dilaksanakan dengan penuh perasaan positif, sedari awal dilaksanakan sebenarnya sudah bermanfaat dan bernilai positif bagi diri kita sendiri karena berbagai perasaan positif yang telah timbul di dalam hati kita dengan sendirinya dari pelaksanaan kewajiban kita tersebut.

Dalam analisa saya, juga terdapat suatu kesia - siaan jika kita melaksanakan kewajiban kita dengan hati/perasaan yang buruk.
Maksud saya begini :
Jika kita tetap bersikukuh melaksanakan kewajiban kita dengan hati/perasaan yang buruk karena kita telah bertekad untuk tetap melaksanakan kewajiban kita dengan kondisi hati/perasaan seburuk apa pun, maka kewajiban yang kita laksanakan akan berkualitas buruk → jika kualitas kewajiban yang kita laksanakan akan berkualitas buruk karena sebab tersebut, maka prinsip "kewajiban harus tetap dilaksanakan dengan kondisi hati/perasaan seburuk apa pun" menjadi tidak berguna dan berarti bagi kualitas kewajiban dan pengembangan diri kita.
Kita menjadi bodoh karena kita telah begitu banyak berkorban dan memakan hati/perasaan hanya untuk suatu hasil yang buruk.
Bukankah lebih baik berusaha dan berlatih untuk melaksanakan kewajiban dengan iklash, sepenuh hati, penuh minat, dan penuh cinta daripada terus - menerus hanya membiarkan diri kita melaksanakan kewajiban dalam kondisi hati/perasaan yang terpuruk ?
Untuk apa berkorban demi suatu hasil yang buruk ?
Apakah tidak ada prinsip yang lebih baik untuk memotivasi diri kita agar kita tetap tekun untuk melaksanakan kewajiban kita tanpa harus melukai dan "membunuh" hati/perasaan kita sendiri seperti itu ?
Esensi dari yang sebenarnya ingin saya katakan adalah "Laksanakan Kewajiban" adalah prinsip utamanya, dan "Dengan Hati Yang Baik" adalah prinsip sekundernya.



Seharusnya kita memang tidak boleh untuk melekat dengan perbuatan
Tetapi jika itu adalah perbuatan baik mengapa tidak ?

Hati/perasaan memang dikodratkan untuk menjadi pendamping bagi pikiran, perkataan, dan perbuatan kita
Mengapa terkadang kita malah ingin meniadakan dan mengabaikannya ?
Bukankah lebih baik kita merayunya saja agar ia setuju dengan pikiran, perkataan, dan perbuatan kita ?

Sekian dulu dari pemikiran saya. Bila terdapat suatu hal yang menyindir dan menyinggung Kang Asep serta kesalahan penulisan, saya mohon maaf sebesar - besarnya. Tidak ada niat dan maksud dari pribadi saya untuk menyinggung dan menyindir pribadi anda. Semuanya jujur dan apa adanya semata - mata hanya merupakan analisa, pemikiran, ide, ilham, dan semacamnya yang timbul setelah saya membaca tulisan anda. Saya anggap,tulisan ini hanyalah perluasan dari beberapa elemen dalam tulisan anda saja.
Kebenaran itu ibarat cermin yang pecah berkeping - keping. Masing - masing kepingnya adalah kebenaran. Namun kepingan - kepingan pecahan cermin tersebut berserakan di segala tempat. Tugas kitalah untuk memungut kepingannya satu per satu kemudian menyusunnya agar menjadi cermin yang utuh.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
2 Jawaban
1852 Dilihat
Tulisan terakhir September 11, 2015, 10:19:45 AM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
945 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 22, 2013, 02:34:02 PM
oleh Awal Dj
0 Jawaban
704 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 01, 2014, 01:04:34 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
407 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 16, 2016, 07:49:47 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
244 Dilihat
Tulisan terakhir September 21, 2016, 08:35:28 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
111 Dilihat
Tulisan terakhir September 26, 2016, 04:52:27 PM
oleh Sultan
0 Jawaban
102 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 12, 2017, 05:14:50 AM
oleh Kang Asep
3 Jawaban
150 Dilihat
Tulisan terakhir September 11, 2017, 01:48:03 AM
oleh Sultan
1 Jawaban
80 Dilihat
Tulisan terakhir September 18, 2017, 07:23:56 PM
oleh Sultan
0 Jawaban
16 Dilihat
Tulisan terakhir November 17, 2017, 11:14:24 AM
oleh Sultan

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan