Penulis Topik: Gemar akan Perbuatan  (Dibaca 425 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 483
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Gemar akan Perbuatan
« pada: September 27, 2016, 10:20:13 PM »
sekitar setahun lalu saat saya lama tak aktif di forum, saya mengalami kecanduan matematika. saya selalu mencari soal2 matematika untuk bisa saya pikirkan dan kerjakan di grup2 matematika facebook, atau membuat soal matematika sendiri lalu saya jawab sendiri. saya juga mencari2 teori2 matematika yang belum saya ketahui untuk saya pelajari. sesaat saja tidak melihat persamaan aljabar rasanya ada yang kurang. apakah waktu itu saya tergolong orang yang terjebak dalam kesenangan intelektual?

tapi saya tidak pernah merasa risau jika postingan2 saya tentang matematika tak ada yang menanggapi, juga tak pernah berniat berbantah2an dalam diskusi matematika.

Untuk menjawab pertanyaan kang sandy, saya masih butuh banyak variabel untuk saya ketahui. karena itu, saat ini saya belum dapat memberikan jawabannya. tapi, Kebetulan malam ini saya bermaksud untuk menulis artikel tentang "Gemar akan Perbuatan". sebuah filsafat luhur yang saya temukan dalam Bhagavad Gita. dan rupanya, filsafat ini ada korelasinya dengan pertanyaan kang sandy. jadi, silahkan disimak, barangkali dalam filsafat ini adalah jawaban yang dicari kang sandy.

jika risau karena postingan kita tidak ditanggapi orang lain, maka itu itu pertanda seseorang melekati "kesenangan intelektual". tetapi, jika tidak risau, tidak menunjukan bahwa dia tidak melekati kesenangan intelektual.

Pada dasarnya, suatu perbuatan tidak boleh dilakukan hanya karena "rasa senang" atau "kemauan". karena rasa senang ini datangnya dari gejolak indera, yaitu hawa nafsu. Sri Khrisna berkata, "Siapapun harus dapat menguasai gejolak inderanya. tetapi manusia yang hanya mengikuti kehendaknya, itulah manusia yang sok suci. Senang dan bencinya terhadap keinginan terletak pada inderanya. Jangan seperti itu, sebab keduanya adalah musuh.  sempurnakan tindakanmu dalam berbuat kebenaran. Dunia ini terikat oleh perbuatan. Karena itu sempurnakan perbuatan tadi hingga terbebas dari gemar akan perbuatan. Barang siapa yang tidak melakukan kebajikan, maka dia berdosa dalam hidupnya. Dan orang yang selalu menuruti kemauannya sendiri, hidupnya tidak berarti. Karena itu sempurnakan semua perbuatan yang harus dilaksanakan, jangan sampai gemar ! sebab pelaksanaan perbuatan yang tidak digemari itu merupakan sarana bagi manusia untuk mencapai kemuliaan yang paling tinggi. Bagaikan orang bodoh,jika gemar akan perbuatan yang dilakukan. Semoga orang-orang bijak melakukan suatu perbuatan bukan karena gema, semua yang diharapkan dari perbutan itu hanya demi kesejahteraan dunia.(Bhagavad Gita)"

Perbuatan yang sempurna itu dari Panna (kebijaksanaan), di mana rasa suka dan kemauan tunduk pada kebijaksanaan ini. Adapun kebijaksanaan adalah pengetahuan mengenai apa yang  terbaik yang harus dilakukan saat ini di sini demi kesejahteraan dunia.
Bertahun-tahun lamanya, saya menikmati hidup dalam kesendirian, kesenangan intelektual dan kesenangan jhana-jhana. Tapi kemudian sang Guru datang dan menegur, "Tahukah kamu, apa sebenarnya yang kamu lakukan ? kamu sedang mencari kesenangan bagi dirimu sendiri." Beliau menjelaskan bahwa walapun saya mampu menemukan kesenangan, kebahagiaan, kegembiraan, kenyamanan dan ketenangan di dalam kesendian dan meditasi, tapi itu bukanlah cara hidup yang benar, bukan dri kebijaksanaan. dan perbuatan itu tidak ubahnya seperti onani, alias bercinta dengan diri sendiri, demi kesenangan diri sendiri. karena itu, jangan berbuat sesuatu sekedar untuk menyenangkan diri sendiri. maksudnya, jangan menjadikan "kesenangan" sebagai landasan dari perbuatan. Shri Khrisna berkata, “orang baik akan berkurban makanan, sehingga besihlah segala dosanya. Tetapi orang jahat akan menyediakan makanan bagi dirinya sendiri, ini yng disebut dengan makan kejahatan.” Saya katakana, “orang yang berbuat hanya untuk menyenangkan dirinya sendiri, itulah yang disebut makan kejahatan.”

Kaum muslim biasa membaca doa iftitah, “inna sholati, wa nusuki wa mah yaya, wamamati, lillahi rabbalil ‘alamin.” Yang artinya, “sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku adalah bagi Allah, Tuhan semesta alam.” Itu berarti Qurban perbuatan, yang memang harus dilakukan untuk mensucikan diri dari dosa-dosa. Tetapi ada orang yang berkata, “Shalat itu untuk ketenangan jiwa saya sendiri. Allah tidaklah membutuhkan apapun.” Sehingga dengan shalat itu, dia tidaklah menyembah Allah, tapi menyembah dirinya sendiri, karna mengorbankan shalatnya, mempersembahkan shalatnya untuk mencapai ketenangan jiwanya sendiri. Itu yang disebut oleh Shri Khrisna orang yang “makan kejahatan”. Niat yang benar, shalat itu mukhlis karena Allah, bagi Allah, Qurban perbuatan kita bagi Allah. Seperti kita Qurban sapi pada hari raya  idul adha, kita berkurban untuk Allah. Tetapi, Allah tidak menerima daging dan darahnya, melainkan ketaqwaan manusia. Itu yang namanya menyembah Allah. Qurban kita yang kita persembahkan, yakni ketaqwaan.

Saya sering berkata pada anak saya, “jangan kamu berbuat sesuatu karena kamu menyukai perbuatan itu. Barang siapa menjadikan kesenangan sebagai dasar perbuatannya, maka dia akan menghadapi kehidupan yang kacau, seperti perahu tersesat,kehilangan arah dan terombang-ambing dilautan lepas.  Karena itu, lakukanlah suatu perbuatan karena kamu tahu itu harus kamu lakukan, itu adalah tugas dan tanggung jawabmu, itu berguna, itu baik, dan itu dibutuhkan olehmu atau orang lain. Jika kamu berbuat sesuatu, karena pengetahuanmu yang benar, itu disebut berbuat berdasasrkan kebijaksanaan.”

Shri Khrisna berkata, “Barang siapa yang dapat menaklukan panca indera dan pikirannya, itulah yang disebut dapat menyatu karena perbuatan, karena tidak gemar akan perbuatan.”  Siapa yang selalu berbuat atas dasar rasa suka atau tidak suka, maka akan melihat akibat buruknya. Karena rasa suka yang tidak dikendalikan akan berubah menjadi nafsu. Nafsu akan membawa pikiran pada kesesatan. Dan mereka yang berbuat hanya karena rasa suka atau tidak suka, berarti tidak mengendalikan gejolak inderawinya.

Qurban, adalah salah satu ajaran Islam. Asal usul Qurban itu adalah Nabi Ibrahim yang diperintahkan untuk menyembelih anaknya, Ismail as. Inti sari dari ajaran Qurban adalah “melepas apa yang dicintai”. Tentu saja Ibrahim as tidak suka menyembelih anaknya, tapi dia harus melakukannya, tidak peduli suka atau tidak, karena itu merupakan tugas yang harus dilakukannya. Inilah contoh perbutan yang sempurna, yang bebas dari kegemaran, yaitu bukan berdasarkan suka atau tidak suka. Khrisna berkata, “Setelah manusia membiasakan dirinya berkurban, maka dengan cara itu dia akan mendapatkan lembu harapan.”

Sejatinya kurban bukan hanya menyembelih kambing atau sapi, tapi hakikat kurban itu adalah pengorbanan dengan perbuatan. Untuk menyempurnakan perbuatan, maka kita harus membiasakan diri berkurban. Ada banyak cara berkurban. Ada yang berkurban hewan, kurban uang, kurban makanan, meditator berkurban dengn cara menahan nafas, dan ada yang berkurban dengan perbuatan. Kurban dengan perbuatan berarti setia terhadap tugas dan tanggng-jawabnya, tidak berbuat sesuatu karena suka atau tidak suka, tetapi karena kebijaksanaan. Suka atau tidak suka, laksanakan kewajiban kita sebagai anak, sebagai muslim, sebagai warga Negara, sebagai kepala keluarga dan sebagainya. Cirri mereka yang bebas dari kegemaran akan perbuatan, bebas dari perbudakan hawa nafsu, disiplin dalam segala sesuatu, tidak larut dalam suatu kegemaran, selalu melaksanakan apa-apa yang sudah menjadi tugasnya. Shri Khrisna berkata, “Lebih baik mati saat menjalankan tugas diri sendiri, dari pada hidup menanggung beban tanggung-jawab orang lain.” Artinya, orang yang jahat adalah orang yang tidak melaksanakan tugas dan tanggung-jawabn yang seharusnya dia lakukan.

Gemar akan perbuatan munculnya dari moha (istilah Buddhis) atau Rajas (istilah Hindu) atau Rijis (istilah Islam). Alah berfirman, “wayaj’alul rijsa ‘alaladziina laa ya’qiluun.” (Dan Allah menimpakan Rijis pada orang yang tidak mempergunakan akalnya.). kebijaksanaan itu pada akal. Mereka yang gemar akan perbuatan, mereka itulah yang tidak mempergunakan akalnya, merka itulah yang berbuat mengikuti gejolak kesenangan indrawinya.

Shri Khrisna berkata, “Bagaikan kobaran api tertutup berselimut asap, dan ibart batu yang terbungkus debu, ibarat benih terbungkus placenta, begitulah rajas mempengaruhi. Kebijaksanaan itu berselimutkan musuh. Kehendak, cipta dan budi, itu tempat menumpangnya rajas. Dengan cara itu ia menyesatkan jiwa dan menutupi kebijaksanaan. Setelah engkau dapat menaklukan kehendakmu, lalu singkirkan perusak kebijaksanaan dan pengetahuan. Kehendak itu di atas badan, di atas kehendak adalah hati, tetapi di atas pikiran itulah budi (pekerti). Sedangkan di atas budi adalah Dia (Tuhan).”
« Edit Terakhir: September 27, 2016, 10:26:40 PM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
2 Jawaban
2111 Dilihat
Tulisan terakhir September 11, 2015, 10:19:45 AM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
952 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 01, 2014, 01:04:34 AM
oleh Kang Asep
7 Jawaban
3862 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 03, 2014, 02:41:42 PM
oleh ratna
0 Jawaban
940 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 02, 2014, 07:26:23 AM
oleh Kang Asep
Perbuatan Tuhan

Dimulai oleh Sandy_dkk « 1 2 3 » Filsafat

39 Jawaban
8150 Dilihat
Tulisan terakhir November 21, 2014, 06:07:34 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1252 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 19, 2014, 02:15:44 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
449 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 16, 2016, 07:49:47 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
203 Dilihat
Tulisan terakhir September 16, 2016, 01:41:04 PM
oleh Sultan
0 Jawaban
312 Dilihat
Tulisan terakhir September 21, 2016, 08:35:28 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
385 Dilihat
Tulisan terakhir September 11, 2017, 12:46:22 AM
oleh Sultan

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan