Penulis Topik: Di Luar Jangkauan Pengalaman  (Dibaca 512 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 483
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Di Luar Jangkauan Pengalaman
« pada: Agustus 14, 2017, 08:01:51 AM »
Daftar Isi
====================
1. Ikhlas Berbuat
1.1. Tujuan Perbuatan
1.2. Di Luar Jangkauan Pengalaman <<<<<
====================



1.2. Di Luar Jangkauan Pengalaman
Edisi : 14 Agustus 2017, 07:50:25

Saya membagi kebenaran ke dalam tiga jenis, yaitu kebenaran ilmiah, kebenaran logika dan yang terakhir disebut kebenaran bathiniah. Yang terakhir ini disebut kebenaran sejati atau kebenaran yang paling luhur. Untuk mencapai kebenaran yang luhur tersebut, setiap orang harus berpijak pada kebenaran ilmiah dan logika. Jadi, ketiga jenis kebenaran tadi bagaikan tiga anak tangga, di mana untuk mencapai anak tangga ketiga, harus melewati anak tangga pertama dan kedua.

Anak tanggap pertama, yaitu anak tangga ilmiah berpijak pada kebenaran empirisme, bersumber pada tangkapan panca indera. Tetapi, problemnya apa yang disaksikan oleh panca indera selalu bersifat partial.  Kita selalu mendengar ayam jantan berkokok. Dan tidak mendengar sesuatu yang berkokok kecuali ayam jantan. Karena itu, kemudian kita mendefinisikan bahwa "ayam jantan adalah ayam yang berkokok". Padahal kita tidak pernah melihat seluruh ayam jantan yang ada di dunia ini saat ini saja, apalagi ayam jantan yang pernah hidup sejak zaman purba hingga sekarang dan ayam jantan yang akan hidup sejak hari ini hingga masa yang akan datang, tetapi kita berani untuk mengatakan "setiap ayam jantan berkokok".  Bagaimana kalau pernah hidup di dunia ini, seekor ayam jantan yang berkotek ? Atau sebaliknya, bagaimana kita tahu bahwa di seluruh penjuru dunia saat ini tak ada seekor ayam betina yang berkokok ? Kita berani menyatakan "semua", padahal kita menyaksikan hanya "sebagian".

Menetapkan sifat universal pada suatu term adalah suatu keharusan.  Karena apabila tidak demikian, maka segala sesuatu tak dapat didefinisikan dan tak ada yang namanya logika. Karena kebenaran logika bergantung pada definisi dan distribusi term-termnya. Karena itu, metoda ilmiah tidak lagi memadai utnuk memahami kebenaran, semua manusia dengan terpaksa atau sukarela pasti melangkah ke tangga berikutnya, yaitu tangga logika, di mana kita akan menetapkan hal-hal yang terlihat partial sebagai "universal".

Kebenaran suatu konklusi logis bergantung pada distribusi term-termnya. Ini berarti menetapkan peniapan pada objek yang kita ketahui, semisal "setiap kelinci berekor".

Sebagian anggora adalah kelinci
setiap kelinci berekor
jadi, sebagian anggora berkor.

Yang dimaksud dengan distribusi term itu ada pada premis mayor, "setiap kelinci". Secara empiris, saya tidak pernah melihat kelinci yang tak berekor. Karena itu, proposisi "setiap kelinci berekor" merupakan kebenaran yang objektif dengan parameter empiris tadi.

Tetapi, bagaimana apabila ada orang yang mengaku bahwa dirinya pernah melihat kelinci tanpa ekor ? Apakah pengakuannya benar atau bohong ? Apakah mustahil ada kelinci tanpa ekor ?

Jika kita yakin bahwa mustahil ada kelinci tanpa ekor, maka kita tentu yakin bahwa pengakuan orang yang telah melihat kelinci tanpa ekor merupakan kebohongan. Tapi bagaimana kalau hal itu tidak mustahil benar ? Bagaimana bila benar-benar ada kelinci tanpa ekor ? Jika pengakuan tersebut benar, niscaya kebenaran proposisi "setiap kelinci berekor" menjadi batal. Yang benar, "sebagian kelinci tak berekor".  Tetapi sejauh ini, keberadaan kelinci yang tak berkor merupakan hal yang di luar jangkauan penglaman kita. Karena itu, kita menolak kebenaran pengakuan orang yang yang melihat kelinci tanpa ekor. Dan kita yakin, bila ada sesuatu yang mirip kelinci, tetapi tanpa ekor, itu adalah marmut, bukan kelinci. Ini berarti kembali kepada konsep "wilayah kewenangan definisi". Kita telah terikat oleh definisi yang kita sepakati sebelumnya.

Itu hanyalah contoh sederhana, akan tetapi di dunia filsafat hal sederhana tersebut seringkali menjadi pembicaraan yang pelik, rumit dan kompleks. Seperti halnya diskusi tentang "perbuatan tanpa tujuan" yang telah saya tulis dengan judul "Ikhlas Berbuat". Dalam jangakauan pengalaman sehari-hari, kita tidak pernah menyaksikan adanya suatu perbuatan tanpa tujuan.  Karena itu, menjadi mustahil rasanya "ada perbuatan tanpa tujuan". Jika ada sesuatu yang mirip perbuatan, tetapi tidak memiliki tujuan, berarti tanpa kehendak, maka itu kita anggap bukan perbuatan, melainkan hanya gerakan, seperti gerakan robot atau mesin. Hal ini semata-mata karena adanya bentuk perbuatan manusia yang tanpa suatu tujuan berada di luar jangkauan pengalaman kita. Tetapi para ahli mistik, yang telah mendalami suatu daya bathin yang disebut dengan "iljan" tidak terlalu sulit untuk menerima kebenaran adanya suatu perbuatan tanpa tujuan tadi, karena hal itu telah hadir di dan disaksikan dalam kehidupan sehari-harinya.

Persoalan di atas, akan saya coba perbuat dengan contoh lainnya. Kita tahu bahwa apabila jarum suntik ditusukan ke kulit kita, tentu jarum tersebut akan menembus kulit kita. Dan biasanya kita merasakan sedikit sakit.  Bagaimana ada yang berkata bahwa dia tidak dapat disuntik oleh dokter, karena tak ada jarum yang dapat menembus kulitnya ? Apakah hal itu mustahil ? Ketika kita menganggapnya hal itu mustahil, maka walaupun kita melihatnya langsung kebenarannya, niscaya kita tidak akan dapat menerimanya. Misalnya, orang itu menunjukan video bahwa jarum-jarum suntik malah melengkung saat ditusukan ke kulitnya. Dan kita akan menilainya bahwa itu adalah rekayasa editing video. Bahkan bila kita langsung melihatnya, maka kita hanya akan menganggapnya sebagai trik sulap belaka. Kita tidak akan bergeming sedikitpun dari keyakinan sebelumnya. Karena kita yakin benar, kulit manusia bukan besi maupun baja, jadi secara rasional mestilah dapat ditembus oleh jarum suntik.

Seorang lelaki bernama Dusman, dia sakit typus selama tiga bulan lamanya. Nyawanya dalam bahaya,  harus segera diinfus dan diberi suntikan obat. Tetapi, saat dokter kebingungan, karena jarum-jarum suntik tak dapat menembus kulitnya. Seseorang telah menceritakan kisah ini kepada saya. Dan saya tidak mengetahui kebenarannya. Bisa saja itu hanya kebohongan. Tidak mustahil juga benar. Apalagi zaman sekarang ini, zaman era digital, jika memang cerita tersebut benar, niscaya sudah viral di dunia maya. Tetapi mereka yang pernah terlibat dunia ilmu kanuragan, tidak terlalu sulit menerima kebenaran adanya seseorang yang tak tembus jarum suntik, bahkan di dunia ilmu kanuragan, menyaksikan orang kebal senjata tajam dan senjata api adalah hal biasa. Saya pernah menyaksikan seekor ayam yang diikatkan sebuah azimat kepadanya, lalu ditembak dengan senjata api. Ayam tersebut hanya terkejut, karena kaget dengan suara letusan senjata api, tetapi peluru tak menembus kulitnya. Jika telah ayam tak tembus senjata api, dan percaya dengan kebenarannya, tentu tak terlalu heran mendengar kabar ada orang yang tak tembus jarum suntik, walaupun tak pernah viral di dunia maya.  Karena, walau viral sekalipun, kalau kita pada dasarnya tak percaya, viralitas tidak akan pernah dapat menjadi bukti yang dapat mengubah keyakinan kita.

Belakangan ini, telah terjadi kasus penyiraman air keras kepada salah satu penyidik KPK Novel Baswedan, sehingga Novel mengalami kerusakan pada wajah, khususnya bagian mata.  Anda berpikir, "semua orang, jika terkena siraman air keras, pastilah kulitnya akan melepuh". Jika Anda berpikir demikian, maka demikian pula saya.  Tapi bagi saya, kata "semua" hanyalah mencakup antara saya, Anda dan orang-orang normal lainnya. Sehingga kalau ada orang yang kulitnya tak melepuh dengan siraman air keras, tidak dapat membatalkan term "semua orang", karena yang dimaksud dengan term "semua orang" ini hanya mencakup "orang-orang normal" tadi. Sehingga menetapkan sifat "universal" pada objek-objek yang "partial" bukan sebua manipulasi atau kebohongan, tetapi kita masuk ke wilayah definisi, di mana dengan definisi tersebut, sesuatu yang abnormal atau anomali-anomali dikeluarkan dari himpunan peniapan.

Kembali ke contoh kasus soal "perbuatan tanpa tujuan", secara logika keyakinan bahwa "setiap perbuatan pasti bertujuan" tidak dapat disalahkan, terutama apabila hal itu memang didasarkan pada kenyataan yang selalu disaksikan dalam hidup sehari-hari. Akan tetapi, ada sesuatu yang abnormal, di mana seseorang berbuat sesuatu tanpa tujuan apapun. Jika kenyataan ini dipaksa masuk ke dalam himpunan peniapan perbuatan tadi, niscaya akan menjadi kontradiksi.

A) setiap perbuatan pasti bertujuan
O) sebagian perbuatan tidak bertujuan

sebagaimana kita ketahui, apabila dihadapkan kepada suatu kontradiksi, maka mau tak mau, kita harus memilih satu yang benar, dan harus menyalahkan yang lainnya. Tetapi, bila pengalaman Anda belum menjangkau suatu perbuatan tanpa tujuan, dan definisi perbuatan telah anda sepakati, maka mustahil Anda akan menerima bahwa proposisi di atas bernilai false. Anda pasti meyakini bahwa itu benar, dan proposisi O bernilai salah.  Penyelesaian permasalah ini sebenarnya mudah, saya hanya perlu menamahkan sedikit variabel baru pada term "perbuatan", sehingga tidak ada lagi kontradiksi, tidak ada lagi pertentangan.  Saya bisa bersepakat dengan Anda bahwa benar "setiap perbuatan itu pasti bertujuan", sehingga jika anda perbuatan yang tidak bertujuan, maka itu adalah perbuatan yang tak normal. Dengan demikian dua proposisi berikut tidak lagi kontradiksi.

A ) Setiap perbuatan pasti bertujuan
O) sebagian perbuatan yang abnormal tidak tujuan

dua proposisi tersebut tidak dapat dikatakan kontradiksi, karena tidak memenuhi syarat kontradiksi akibat terdapat perbedaan term. Dengan demikian, Anda ataupun saya secara logika dapat tetap meyakini kebenaran satu proposisi di atas tanpa harus menyalahkan proposisi lainnya.

Karena itu, Pengetahuan yang diperoleh melalui jalan mistik menjadi tangga terakhir dari tangga pengetahuan. Seperti pengetahuan ilmiah yang tak memadai, dan harus beranjak ke tangga logika. Apa yang disaksikan oleh panca indera dapat menipu. Yang dapat mengetahui kebenaran sesungguhnya dari apa yang terlihat adalah logika. Demikian pula, setelah kita bergelut dengan logika, kita akan mengerti batas-batasnya yang tak memadai untuk memahami kebenaran sesungguhnya dari apa yang terlihat oleh indera maupun logika. Bahwa, di dunia ini selalu ada pengecualian, ada hal-hal yang membatalkan peniapan. Dulu kita meyakini bahwa "setiap A adalah B", tetapi kemudian kebenaran batiniah yang dicapai melalui perjalanan spiritual, membuat kita tahu bahwa apa yang kita yakini "setiap" ternyata bukan setiap. Seluruh kebenaran ilmiah dan logika seakan dihancurkan. Sebenarnya bukan dihancurkan, tetapi dilengkapi. Yang dihancurkan itu adalah kesombongan diri akibat kepercayaan terahadap kebenaran ilmiah dan logika. Setelah kita menyelami dunia mistik, kita akan mengerti bahwa kebenaran ilmih dan logika itu sejatinya dapat menipu. Logika tanpa ilmiah atau ilmiah tanpa logika, itu pincang.  Ilmiah harus dilengkapi dengan logika. Logika harus dilengkapi dengan ilmiah. Sebenarnya, logika dan ilmiah harus dilengkapi dengan kebenaran batiniah. Jika sampai di sini, berarti kita sampai pada kebenaran haqul yaqin. Tetapi karena ketidaktahuan, seorang berkata, "saya tidak melihat, Allah dan RasulNya menyuruh kita mencari kebenaran dengan cara mistik." tidak perlu saya bantah pernyataan ini, karena sebagai mana dibahas di atas, itu adalah jangkauan pengalamannya dia.

« Edit Terakhir: Agustus 14, 2017, 07:55:26 PM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
1747 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 15, 2013, 11:19:32 AM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
1613 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 20, 2013, 08:13:16 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
3225 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 13, 2016, 11:50:42 PM
oleh Tom Mirant
2 Jawaban
2121 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 01, 2014, 06:23:57 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1000 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 19, 2014, 04:51:09 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
840 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 01, 2015, 09:47:46 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
646 Dilihat
Tulisan terakhir September 19, 2015, 04:17:25 PM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
1410 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 30, 2018, 07:36:01 PM
oleh Purnama
0 Jawaban
1479 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 29, 2015, 11:53:14 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
281 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 05, 2017, 11:26:24 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan