Penulis Topik: Dasar Keyakinan Pluralisme  (Dibaca 752 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 483
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Dasar Keyakinan Pluralisme
« pada: Agustus 26, 2016, 05:44:47 PM »
Pluralisme

Sebelumnya saya mohon maaf, karena mungkin saya akan menyampaikan pendapat yang bertentangan dengan keyakinan Anda atau bahkan mengusik keyakinan Anda. saya meyakini bahwa "melaksanakan ritual ibadah agama tertentu bukanlah jaminan keselamatan seseorang dari api neraka. apapun agamanya, berkesempatan memperoleh ridha Tuhan dan menikmati kehidpuan bahagia di dunia maupun di akhirat." Ini bertentangn dengan keyakinan "hanya orang Kristen saja yang akan masuk sorga" atau "hanya orang Islam saja yang akan masuk sorga". Tuhan tidak melihat label, julukan dan pengakuan agama seseorang. tapi dia melihat kepada hati hamba-hambaNya. Mereka yang suci jiwanya, itulah yang akan diperkenankan masuk ke dalam sorgaNya. Sedangkan jalan untuk mencpai kesucian ini adalah sebanyak hembusan nafas makhlukNya. Saya tidak beranggapan bahwa jika seseorang tidak shalat, maka Tuhan akan murka kepadanya, atau dia pasti akan dilemparkan ke dalam neraka. Karena ada sebab-sebab yang membuatnya dapat dimaafkan, walaupun tidak shalat. misalnya, karena tidak pernah datangnya dalil yang jelas baginya tentang kewajiban shalat. saya setuju dengan kaidah ushul fiqih, bahwa  "asal ibadah itu haram, hingga ada dalil yang membolehkannya." serta firman Allah, "laa taqfuu ma laisa laka bihi ilm." (jangan mengikuti apa-apa yang tidak ada ilmunya). dan inilah yang menjadi saya menjadi seorang pluralisme. walaupun saya meyakini bahwa hal itu benar, tetapi juga meyakini bahwa tidak mustahil keyakinan saya tersebut salah. hanya saja, saya akan tetap meyakininya sebagai hal benar sampai ada dali-dalil yang menunjukan bahwa hal itu keliru. Karena itu, jika Anda memiliki bukti bahwa keyakinan saya keliru, silahkan Anda koreksi, boleh Anda membantahnya dan tunjukan dalil-dalilnya bahwa argumentasi saya salah. Lihat pula tulisan saya berjdul : Pluralisme.

walaupun saya seorang plural, tetapi saya memilih Islam sebagai agama saya, sehingga saya memenuhi kewajiban saya sebagai muslim seperti shalat, puasa dan membayar zakat.

Berdasarkan nash, saya tidak akan mampu membuktikan bahwa "keyakinan pluralisme" adalah keyakinan yang benar. Nash itu multitfsir. dan secara akal, saya hanya bisa menyampaikan dalil berupa implikasi sebagai berikut :

  • Jika Anda dapat melihat pengaruh perbuatan terhadap kesucian jiwa, maka Anda dapat menilai benar-salahnya suatu perbuatan berdasarkan efek yang dihasilkannya pada jiwa. dan meyakini, perbuatan yang menyucikan jiwa itulah yang disebut dengan amal shaleh atau perbuatan yang benar.
  • Jika Anda dapat melihat secara langsung kehidupan negeri akhirat, maka Anda juga akan tahu mana agama yang benar dan mana yang salah. agama yang menjadi sebab kebahagiaan hidup di negeri akhirat, itulah agama yang benar

Pertanyaannya,

  • apakah Anda dapat melihat pengaruh perbuatan terhadap kesucian jiwa ?
  • Apakah Anda dapat melihat kehidpuan akhira secara live ?

jika jawabannya "dapat", maka Anda saya dapat menunjukan bukti bahwa "pluralisme" adalah keyakinan yang benar.
jika jawabannya "tidak dapat", maka saya tidk dapat menunjukan bukti bahwa "pluralisme" adalah keyakinan yang benar.

Jika dalam kesempatan kali ini saya tidak dapat meyakinkan Anda bahwa pluralisme itu benar, maka setidaknya saya dapat menjelaskan bagaimana gambbarannya pluralisme tersebut. tapi saya coba berikan dalil-dalil yang mungkin bisa anda terima.

Asal Mula Keyakinan Pluralisme Pada Diri Saya

Keyakinan saya tersebut muncul setelah saya pertama kali mengalami "matisuri". Ketika matisuri, sukma saya berkelana ke alam-alam gaib. banyaklah pengetahuan yang di dapat, bahkan hingga melihat "sorga" dan "neraka". dari pengalaman tersebut, munculah pengetahuan bahwa ternyata mereka yang memperoleh kehidupan sorgawi, bukan saja dari kelompok agama tertentu, tapi bisa dari kelompok agama mana saja. bukan saja mereka yang tekun melaksanakan ritual ibadah seperti shalat dan puasa, bahkan mereka yang tidak pernah shalatpun bisa memperoleh kehidupan bahagia di alam lain.

Pengalaman mistik saya, ketika saya mengalami matisuri, tentu bukanlah dalil bagi Anda untuk membenarkan pendapat saya, juga bukan argument yang tepat untuk menyalahkannya. ini bukanlah dalil, hanya menceritakan kronologinya, kenapa keyakinan plural itu ada pada diri saya. dalil-dalilnya adalah pengetahuan yang saya saksikan di alam-alam gaib tadi yang selaras dengan akal anda serta nash-nash yang Anda yakini kebenarannya. Jika dalil-dalil yang akan saya sampaikan tidak sesuai akal sehat, serta tidak sesuai dengan nash-nash suci, Anda tidak harus mempercayainya sebagai kebenran.


Tidak ada Jaminan Sorga Atas Ritual Ibadah Kita

Ada banyak yang tampaknya ahli ibadah, tapi dikupas dari sudut kebatinan, sebenarnya dia ahli neraka. sebaliknya, tidak sedikit yang tampaknya ahli maksiat, tapi sejatinya dia ahli sorga. Karena manusia banyak tidak tahunya tentang seseorang dari pada tahunya. tentu saja, lebih banyak yang tampaknya ahli maksiat dan memang dia ahli neraka. Ketika berhaji, imam Jakfar Shadiq berkata, "banyak orang yang thawaf, tapi sedikit yang berhaji." sahabat imam merasa heran dan menanyakan maksud dari perkataannya. lalu imam mengusap wajah orang itu, dan seketika terlihatlah banyak orang-orang yang thawaf itu berwujud binatang. ada yang berwujud anjing, babi, monyet dan lain sebagainya. wujud binatang tadi sebenarnya menunjukn tabiat orang tersebut, bahwa bila dilihat dari mata batin, banyak yang berthawaf seakan beribadah mukhlis karena Allah, tetapi sejatinya riya, ujub, thoma', dan lain sebagainya. serta tidaklah thawafnya itu menambah kebaikan sedikitpun padanya, melainkan menambah keburukan saja. Demikian pula, tidak mustahil orang dengan shalatnya, tidak menambah kebaikan, tapi hanya menambah keburukan saja. Dalam hal ini, tentu yang salah bukan ritual shalat, tapi niat dan cara orang tersebut yang keliru. Imam Jakfar Shadiq berkata, "Banyak orang shalat, tapi tidak patuh pada shalatnya. sesungguhnya shalat mencegah pada perbuatan keji dan munkar."

Ketika saya menyampaikan dalil-dalil imam di hadapan para orang tua di mesjid, ada seorang kakek berumur 70 tahun, dia berkata, "saya kagum kepada Anda karena dapat menyampaikan dalil-dalil secara gamblang. tapi terpikir oleh saya, jika Anda begitu pandai berdalil, pandai beramar makruf nahi munkar, kenapa Anda tidak mendakwahi bapak Anda sendiri. karena saya tahu, bapak Anda bukan seorang muslim yang tha'at. bahkan dia tidak pernah terlihat pergi jum'atan."

Saya langsung mengajukan pertanyaan, "Tentu, yang pertama-tama kali saya dakwahi sebelum Anda adalah keluarga saya sendiri. apa yang membuat Anda berpikir bahwa saya belum menyampaikan dalil-dalil pada keluarga sendiri? saya kumpulkan keluarga saya setiap hari rabu malam, ayah, ibu, paman, bibi, adik, sepupu dan segala kerabat yang bisa saya undang, lalu saya sampaikan dalil-dalil. saya jelaskan kebenaran, saya ajak pada kebaikan. semoga Allah memberi hidayah pada mereka. tapi, bila ayah saya belum rajin beribadah seperti Anda, mungkin karena ayah saya tidak sepandai Anda. Anda seorang yang terpelajar, berpendidikan tinggi. sedangkan ayah saya, dia sekolah SR pun tidak tamat. orang tuanya tidak memberangkatkan dia ke pesantren, dan tidak pula mampu membiayai sekolahnya. tapi dia ingin anaknya menjadi anak yang baik, pintar dan shaleh. Anda kira, saya bisa hadir di sini, berbicara agama, dengan dalil-dalil yang gamblang sperti Anda bilang, itu karena siapa ? itu karena jasa-jasa ayah saya. beliau, tidak hanya memberi saya makan, tetapi juga menyekolahkan saya sekuat tenaganya, menyuruh saya pergi mengaji dan menitipkan saya di pondok pesantren. jika saya menjadi orang yang mengerti agama, rajin beribadah, mendapatkan ridho Allah hingga diperkenankan masuk sorga, apakah Anda kira saya akan senang masuk sorga sendirian tanpa mengajak bapak saya ? Apakah Tuhan akan melupakan jasa-jasa ayah saya terhadap saya ? maka saya akan berkata pada Tuhan, 'ya Tuhan seandainya saya masuk sorga karna shalat saya, maka ajaklah bapak saya. karena saya tidak akan tahu cara shalat, jika bapak tidak sungguh berharap anaknya menjdi anak yang shaleh dan beribadah padaMu'. " Sekarang, Anda yang rajin beribadah, rajin shalat berjamaah, saya tanya, Apakah Anda dapat menjamin bahwa Anda akan masuk sorga ?"

"ya tidak, tapi ..."

saya memotong, "atau apakah Anda dpat memastikan bahwa ayah saya pasti masuk neraka ?"

orang itu menanggapi, "tidak juga, ... tapi kan kalo orang shalat saja belum tentu masuk sorga, maka apalagi yang gak pernah shalat."

saya jawab, "benar. tapi intinya, Anda tidak yakin bahwa orang yang rajin shalat akan masuk sorga dan orang yang tidak pernah shalat pasti masuk neraka."

Alhamdulillah. di akhr hayat, ayah saya bertaubat, rajin shalat berjamaah di mesjid. sehingga warga menyaksikannya sebagai orang yang khusnul khatimah.

Hidup penuh misteri, kisah wali Barsisho yang tekun beribadah sepanjang hidupnya, tapi akhir hayatnya bersujud kepada iblis. Tidak sedikit pula orang yang hampir sepanjang hidupnya brmaksiat, tapi akhir hayatnya bertaubat dan khusnul khotimah. karena itu, jangan seseorang menyombongkan diri karna merasa diri ahli ibadah, serta merendahkan orang lain karena menganggapnya ahli maksiat. sebab, hidup belum berakhir. kita tidak tahu, bagaimana akhir hidup kita. semoga kita semua khusnul khatimah.

saya rasa, Anda setuju bahwa kita tidak bisa menyombongkan ibadah ritual dan tidak dapat menjamin diri sendiri pasti masuk sorga atas ibadah-ibdah yang kita lakukan. demikian pula tidak sepatutnya kita merendahkan orang lain, karena dia seorang palacur atau pencuri. Karena di hadapan Allah, belum tentulah kita lebih baik dari mereka. apakah ada yang tidak setuju ?

Amal Shaleh Yang Menyucikan

yang menyelamatkan seseorang dari api neraka bukanlah ilmu agamanya, bukan pula ritual ibadahnya, tetapi "kesuciannya". tujuan mengamalkan ilmu agama adalah "kesucian". Tetapi, untuk mencapai kesucian ini tidak satu jalan, tapi bnyak jalan. ritual agama hanyalah "salah satu" jalan saja. di antara banyak jalan tadi, ada kesamaan faktor, misalnya faktor X. maka faktor x inilah yang disebut satu-satunya jalan. contohnya, agama manpun di dunia ini, mengajarkan kejujuran dan keadilan, maka kejujuran dan keadilan adalah satu-satunya jalan. seseorang tidak bisa sampai pada kebahagiaan sorgawi bila tidak melaksanakan kehidupan yang jujur dan adil. kejujuran dan keadilan inilah yang akan menyucikan jiwanya.

Quote (selected)
Allah ta’ala berfirman:
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَعِيمٍ * فَاكِهِينَ بِمَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ وَوَقَاهُمْ رَبُّهُمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ * كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan, mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka; dan Tuhan mereka memelihara mereka dari azab neraka. (Dikatakan kepada mereka): "Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan” [QS. Ath-Thuur : 17-19].
[1]

Quote (selected)
وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan” [QS. Az-Zukhruf : 72].
[2]

dalam ayat tersebut jelas disebut bahwa sorga diwariskan karena amal perbuatan. amal yang bagaimana ? tentunya amal shaleh yang menyucikan.
                       
لَقَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ بَعَثَ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ  ۚ  وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ


Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, dan menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur'an) dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.[3]

Ilmu agama tidak berguna bila tidak diamalkan. dan amal tidak berguna bila tidak menyucikan. Tetapi, ada juga orang yang belajar dalil hanya untuk bahan debat, bukan untuk diamalkan. adan juga orang beramal, tapi tidak pernah tahu, apakah amalannya menyucikan jiwanya atau tidak. Amal shaleh yang tampaknya shaleh, sebnarnya tidak shaleh, bila tidak menyucikan. dia beribadah hanya mengikuti upacara ritual saja, seremonial, tanpa memperhatikan bagaimana hasilnya. Bahkan kadang tidak sadar ketika ritual ibadah itu malah menjauh dari tujuannya untuk menjadi suci, sebaliknya malah mengotori jiwanya. benar salah dilihat dari prosedurnya, bukan hasailnya. semestinya, benar salahnya ibadahnya dilihat dari hasilnya. Jika seseorang tampak melakukan prosedur yang salah dalam ibadah, tapi dengan cara itu jiwanya menjadi suci, maka berarti prosdur tadi sebenarnya benar. dan ibadah yang tampak benar, tapi tidak berdampak pada kesucian jiwanya, berarti prosedur ibadah tadi sebenarnya salah. Lihat tulisan saya berjudul : Cara Ciri, Ciri Cara

Bukti Nash Ibadah Untuk Kesucian


Quote (selected)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ ، يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا ، مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ » . قَالُوا لاَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا . قَالَ « فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا »
“Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667)
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu,
مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهَرٍ جَارٍ غَمْرٍ عَلَى بَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ ». قَالَ قَالَ الْحَسَنُ وَمَا يُبْقِى ذَلِكَ مِنَ الدَّرَنِ
“Permisalan shalat yang lima waktu itu seperti sebuah suangi yang mengalir melimpah di dekat pintu rumah salah seorang di antara kalian. Ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali.” Al Hasan berkata, “Tentu tidak tersisa kotoran sedikit pun (di badannya).” (HR. Muslim no. 668).
[4]

       
 لَقَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ بَعَثَ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ  ۚ  وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, dan menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur'an) dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.[QS. Ali 'Imran: Ayat 164]

saya rasa, pada tahap ini juga Anda setuju bahwa ibadah maupun amal shaleh berfungsi untuk meraih kesucian. ada yang tidak setuju ?

Jelas, dalil menunjukan bahwa fungsi shalat adalah untuk menyucikan jiwa. tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Pertanyaannya, syiah shalat, sunni shalat, wahabi juga shalat dengan cara yang berbeda-beda. manakah yang menyucikan ? apakah sama-sama menyucikan ? apakah kesucian itu dapat diidentifikasi dan dibuktikan ?

jawaban atas pertanyaan tersebut telah saya tulis dalam artikel berjudul : melihat kehidupan akhirat secara live.

 1. http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2014/07/masuk-surga-karena-amal-atau-rahmat.html
 2. http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2014/07/masuk-surga-karena-amal-atau-rahmat.html
 3. [QS. Ali 'Imran: Ayat 164], * Via Al-Qur'an Indonesia: http://goo.gl/abm6jp
 4. https://rumaysho.com/3775-orang-yang-rutin-shalat-5-waktu-ibarat-orang-yang-mandi-di-sungai.html
« Edit Terakhir: Agustus 26, 2016, 05:50:24 PM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 
The following users thanked this post: Ardi lg

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 483
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Dasar Keyakinan Pluralisme
« Jawab #1 pada: Agustus 26, 2016, 05:45:06 PM »
Apakah bukti Non Muslim bisa mencapai Kesucian

Sebenarnya saya tidak punya bukti-bukti yang meyakinkan, kecuali apa yang saya saksikan secara pribadi. tetapi tentu, pengalaman pribdi saya tidak dapat menjadi dalil untuk Anda. karena itu, saya harus menyajikan dalil yang bisa Anda terima. berikut ini saya coba sampaikan, walaupun belum tentu meyakinkan Anda.

Pertama, pernyataan Ust. Hussein Al Kaff

saya pernah bertanya kepada ust. Husein al Kaff, "Ustadz, bisakah non muslim masuk sorga ?"

Ust. Husein menjawab, "bisa saja. muslim dan kristen apakah bisa selamat keduanya ? bisa saja. tapi ajaran kontradiktif, bisakah keduanya benar ? mustahil."

Kedua, tidak semua non muslim kafir

tidak pernah ada pernyataan dari Allah dan RasulNya bahwa "setiap non muslim adalah kafir dan pasti masuk neraka". ini masih jadi bahan panjang perdebatan. tapi, bagi yang sudah memahami kebenaran, tentu ini menjadi dalil bagi kebenaran pluralisme. mungkin, bila ada kesempatan, akan saya kupas khusus persoalan ini.

Ketiga, Kisah Ahsabul Kahfi

kaum muslimin meyakini bahwa anjing dalam kisah ashabul kahfi itu masuk sorga Allah karena kesetiaannya terhdap orang-orang shaleh.  seekor anjing saja bisa masuk sorga karena kebajikannya, masa iya manusia yang baik, Allah lemparkan ke dalam api neraka karena dia dilabeli Kristen. ini juga menyangkal tuduhkan pengkafiran terhadap Abu Thalib r.a

Kebaikannya Non Muslim

Pendeta Penolong Keluarga Rasul Allah

Dalam kisah tragedi Karbala, kita menngis menyimak kisah pembantai keluarga Rasul Allah oleh sekelompok orang yang mengaku umat Islam, mereka mengepung keluarga Rasul Allah sambil meneriakan takbir, dan mereka menjalankan shalat berjamaah. tapi perbuatan mereka sangat biadab. Bagaimana mungkin orang-orang biadab seperti itu akan diundang ke dalam sorga hanya karena tidak ketinggalan melaksanakan ibadah shalat ?

sebaliknya, ketika kepala suci al Husein diarak keliling negeri, seorang pendeta kristen berbelas kasihan, mengundang keluarga Rasul untuk singgah di gereja, memberi mereka makan, menyediakan sarana untuk mandi, serta mmbersihkan jasad kepala suci yang penuh darah dan debu. saya yakin, Allah lebih Ridha kepada pendeta itu walapun dia seorang Nasrani, karena menolong keluarga Rasul Allah. Bgaimana mungkin Allah akan melemparkan dia ke dalam api neraka ?

Dr. Vero

sewaktu ayah saya sakit keras, dia ditolong oleh seorang yang kabarnya dia Kristen, yaitu dokter Veronica. Dia sangat perhatian dan penh kasih sayang dalam merawat ayah saya. dia tidak segan-segan memeluk atau memangku ayah saya. dan dia sering menganjurkan ayah saya untuk membca istigfar dan kadang-kadang menuntunnya membackan alfatihah.

Bunda Teresa

Beliau adalah pelayan kaum miskin di India. beliau mengabdikan hidupnya untuk kemanusiaan. Bagi orang-orang miskin yang menderita, Bunda teresa ibarat perwujudan kasih Tuhan. atas nama belas kasih dan kasing sayang, tidak memdang agama  dan suku, Bunda teresa memberikan cinta kasihnya bagi umat manusia. Bagaimana Anda berpikir, orang sebaik dia akan diseret ke dalam kobaran api neraka ?

bersambung ....
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Goen

Re:Dasar Keyakinan Pluralisme
« Jawab #2 pada: Agustus 27, 2016, 09:36:11 AM »
Siapa yang menyangkal bahwa paman Nabi ﷺ, Abu Thalib, sebagai orang yang sangat baik? Si Paman selalu membantu dakwah Nabi ﷺ, menolongnya, mendukungnya dan melindunginya.

Akan tetapi, diakhir hayat, si Paman tidak mati di atas agama Islam. Sehingga kelak dia akan tetap masuk neraka. Hanya dengan syafa'at Nabi ﷺ saja si Paman diringankan dari adzab. Di dalam hadits disebutkan:

Suatu ketika ada orang yang menyebut tentang paman Nabi ﷺ yaitu Abu Thalib di samping beliau ﷺ. Lalu beliau ﷺ bersabda:

"Semoga dia mendapat syafaatku pada hari kiamat, sehingga beliau diletakkan di permukaan neraka yang membakar mata kakinya, namun otaknya mendidih."
(HR. Bukhari no. 6564, Muslim no. 210)
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 483
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Dasar Keyakinan Pluralisme
« Jawab #3 pada: Agustus 27, 2016, 12:25:08 PM »
kalo saya dipaksa harus percaya dengan kebenaran hadis ini, maka saya percaya bahwa Abu Thalib meninggal dalam keadaan kafir. tapi kalo saya harus menyatakan isi hati secara jujur, maka saya tidak percaya bahwa Abu Thalib meninggal dalam keadaan kafir.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
5 Jawaban
5889 Dilihat
Tulisan terakhir April 09, 2012, 07:04:44 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1312 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 24, 2012, 08:38:11 PM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
1681 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 12, 2012, 09:10:35 PM
oleh kang radi
4 Jawaban
2087 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 11, 2017, 02:22:30 PM
oleh retado
6 Jawaban
3340 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 26, 2014, 05:03:04 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
745 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 27, 2014, 01:36:45 PM
oleh Kang Asep
3 Jawaban
633 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 29, 2016, 07:44:13 AM
oleh ratna
0 Jawaban
135 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 22, 2017, 03:24:57 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
316 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 31, 2017, 03:05:11 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
269 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 31, 2018, 07:53:29 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan