Penulis Topik: Konsep vs Konsep : Prima Causa vs Non-Causa  (Dibaca 47 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Sultan

  • Sang Pengembara Yang Mencari Kepingan - Kepingan Pecahan Cermin Kebenaran Yang Berserakan Di Segala Penjuru Alam Semesta
  • Sahabat
  • ***
  • Tulisan: 180
  • Thanked: 1 times
  • Total likes: 21
  • Jenis kelamin: Pria
  • Spiritualitas dan Kebatinan
    • Lihat Profil
Konsep vs Konsep : Prima Causa vs Non-Causa
« pada: November 17, 2017, 03:16:26 AM »
Kutip dari: The Legend
Sebab awal tidak mungkin bisa ditemukan. Karena itu berhenti mencari sebab awal.

Sebab awal atau dalam istilah Aristoteles adalah "Prima Causa" yang memiliki kesepadanan dengan istilah tersebut, dapat ditemukan melalui pencarian akal ; rasionalisme, nalar, dan logika.

Siap - siap berdiskusi lagi.

Satu per satu pernyataan Kang Legend akan saya jawab.

Kutip dari: fajri dwiyama
Silahkan !!!

Kutip dari: The Legend
Silahkan Baca Baik2 tentang Ketuhanan dan Alam Semesta dalam Buddhisme

Tidak ada penciptaan dan Sang pencipta dalam buddhisme. Ada penciptaan berarti ada awal. Sedangkan Buddha mengatakan : samsara tanpa awal yang dapat ditemukan.

Alam semesta bisa ada karena  adanya proses..... lahir- berlangsung- mati begitu seterusnya..alam semesta ini sangat luas. 1 galaksi aja isinya triliunan bintang. 1 bintang/matahari ada satu gugusan planet yang mengitarinya.. misal planet2 yg mengitari matahari kita adalah merkurius, venus, mars, bumi dst... itu baru 1 bintang ya.. sedangkan dalam 1 galaksi ada triliunan bintang. Dan alam semesta kita ini ada milyaran galaksi pula.. jadi tidak terbayang luasnya alam semesta. Dan bintang itu ada siklusnya. Bisa lahir dan mati. Ketika satu bintang/matahari mati, dia meledak. Begitu pula gugusan planet yang mengitarinya. Di sebelah sini satu bintang mati, sebelah sana satu bintang baru lahir dan memulai prosesnya.. begitu seterusnya alam semesta kita ini berproses.

Dalam Buddhisme tidak awal artinya tidak ada pencipta. Dalam Buddhisme pandangan adanya pencipta termasuk dalam salah satu pandangan salah dari total 62 pandangan salah. Dalam Buddhisme pandangan adanya pencipta termasuk kebodohan batin atau moha/delusi.

Trus yang mengatur alam semesta? Dalam Buddhisme ada namanya panca niyama yaitu 5 hukum alam/kosmos. ( utu niyama, bija niyama, citta niyama, kamma niyama dan dhamma niyama) dan panca niyama ini tidak ada yang menciptakan.

Dalam buddhisme segala sesuatu bisa ada karena ada kondisi2 pembetuknya. Contoh : bayangan bulan bisa ada karean ada bulan dan air, kolong meja bisa ada karena ada meja. Lumpur bisa ada karena ada air dan tanah, molekul air bisa ada krn ada 2 atom H dan 1 atom O Dst.. jadi bukan karena ada yang menciptakan.

Jika Tuhan dalam pengertian umum adalah sebagai Pencipta dan mempunyai sifat2 seperti manusia (bisa marah, bisa benci, bisa memusnahkan suatu kaum), maka jelas tidak ada tuhan seperti itu di dalam agama Buddha. Bukan tidak dibicarakan tentang tuhan seperti itu, melainkan jelas ditolak dan dianggap tidak tepat konsep tuhan seperti itu karena tidak nyata (Sumber: Brahmajalasutta). Jadi, Jika tuhan diartikan sebagai pencipta, agama Buddha jelas menolak tuhan (artinya tidak ada tuhan seperti itu dalam ajaran Buddha)

dan Jika tuhan diartikan sebagai pengatur kehidupan manusia, agama Buddha menolak tuhan seperti itu (artinya menurut agama Buddha tidak ada pengatur kehidupan manusia/makhluk hidup.)
Byangkan bencana Tsunami apakah kerjaan tuhan?? bayi yang baru lahir pun tewas seketika..

Bencana setiap hari ada dengan berbagai macam bentuknya apakah rencana tuhan yang kejam??

Menurut ajaran Buddha, ada sebab ada akibat.contoh: apabila saya mati, tentu ada sebab dan kondisi2 yang mendukung. misal karma buruk masa lalu didukung dengan kondisi tidak menjaga kesehatan, didukung dengan sikap hidup yang tidak sehat, dll. jadi semua akibat yang terjadi ada sebab, seringkali kita tidak mengetahui sebabnya. Sebagian orang karena tidak tahu kemudian mengatakan dewa/tuhan sebagai penyebab.)

Jika pengertian tuhan sebagai suatu pribadi (ada sosok), maka agama Buddha juga tidak sependat (artinya menurut agama Buddha, tidak ada yang seperti itu)

Jika konsep tuhan diartikan sebagai sesuatu yang tidak terpikir, tidak terjangkau pikiran, maka mungkin bisa ditemukan (dicari dan dicocokan) konsep ketuhanan seperti itu dalam agama Buddha.

"Ajaran Buddha sangat mengutamakan etika dan moralitas. Tanpa perlu diperintah2, umat Buddhis sejati mengembangkan cinta, belas kasih, kepedulian atas nama kemanusiaan. Karena setiap orang tidak mau menderita, maka jangan melakukannya kepada yang lain. Begitulah ajaran Buddha. Sangat Sederhana. "

Buddha sendiri mengatakan :
[Tradisi Theravada]
“Apabila, O para bhikkhu, para makhluk mengalami penderitaan dan kebahagiaan sebagai hasil atau sebab dari ciptaan Tuhan (Issara-nimmanahetu), maka para Nigantha (petapa telanjang) ini tentu juga diciptakan oleh satu Tuhan yang jahat/nakal (Papakena Issara), karena mereka kini mengalami penderitaan yang sangat mengerikan".
Kebenaran itu ibarat cermin yang pecah berkeping - keping. Masing - masing kepingnya adalah kebenaran. Namun kepingan - kepingan pecahan cermin tersebut berserakan di segala tempat. Tugas kitalah untuk memungut kepingannya satu per satu kemudian menyusunnya agar menjadi cermin yang utuh.
 

Offline Sultan

  • Sang Pengembara Yang Mencari Kepingan - Kepingan Pecahan Cermin Kebenaran Yang Berserakan Di Segala Penjuru Alam Semesta
  • Sahabat
  • ***
  • Tulisan: 180
  • Thanked: 1 times
  • Total likes: 21
  • Jenis kelamin: Pria
  • Spiritualitas dan Kebatinan
    • Lihat Profil
Re:Konsep vs Konsep : Prima Causa vs Non-Causa
« Jawab #1 pada: November 17, 2017, 03:18:26 AM »
1. Alam semesta bisa ada karena adanya siklus pembentukan - penghancuran yang terus berputar secara berulang - ulang.

2. Dalam buddhisme segala sesuatu bisa ada karena ada pembentuknya.
Bukan karena diciptakan oleh Tuhan.
 
3. Tidak ada Tuhan yang mengatur kehidupan manusia. Bayangkan bencana tsunami apakah kerjaan Tuhan ? Bayi yang baru lahir pun tewas seketika.

4. Bencana setiap hari ada dengan berbagai macam bentuknya apakah rencana Tuhan yang kejam ?

5. Sabda Buddha dalam tradisi Theravada.

Tanggapan :

1. A. Jika alam semesta bisa ada karena adanya siklus pembentukan - penghancuran yang terus berputar secara berulang - ulang ; tanpa awal, maka harus ada konsekuensi bahwa alam semesta semenjak dahulu telah ada dengan sendirinya.

B. Jika alam semesta telah ada dengan sendirinya, maka harus ada konsekuensi bahwa alam semesta ada tanpa ada sebab dari hal lain.

C. Jika alam semesta ada tanpa sebab dari hal lain, maka harus ada konsekuensi bahwa alam semesta berdiri sendiri dalam artian "menciptakan dirinya sendiri".

Ini adalah hal yang mustahil bagi alam semesta sebagai sesuatu yang terbentuk dari berbagai rangkaian sebab - akibat. Sebab, hal tersebut melanggar prinsip atau sistem kausalitas (sebab - akibat).
Mari uraikan konsepnya :

Jika alam semesta diciptakan oleh dirinya sendiri, maka alam semesta menjadi penyebab sekaligus akibat yang akan membuat prinsip kausalitas alam semesta tersebut menjadi absurd sebab prinsip kausalitas itu harus bersifat regresif atau progresif bukan berputar secara tanpa batas :

Penyebab : Alam Semesta
Akibat : Alam Semesta

Jadi prinsip sebabnya adalah :

Alam semesta adalah sebab dari alam semesta, alam semesta adalah sebab dari alam semesta, alam semesta adalah sebab dari alam semesta, begitu seterusnya...


Dan prinsip akibatnya adalah :

Alam semesta adalah akibat dari alam semesta, alam semesta adalah akibat dari alam semesta, alam semesta adalah akibat dari alam semesta, begitu seterusnya...

Sebab menjadi akibat dari akibat, dan akibat menjadi sebab dari sebab, saling terbalik, saling bertukar ; hal ini adalah mustahil, dan merupakan sebuah fallacy (kekeliruan).
Karena, prinsip kausalitas itu harus bersifat regresif atau pun progresif.
Dan supaya prinsip kausalitas itu bersifat regresif atau pun progresif, maka baik penyebab mau pun akibat tidak boleh menggunakan term yang sama seperti konsep di atas.
Contoh yang serupa dengan hal ini adalah fallacy Definisi Berputar dalam Logika.


Lanjut...

2. Memang benar bahwa segala sesuatu itu ada karena ada pembentuknya. Sebab, segala hal di dunia ini tercipta dari rangkaian sebab akibat.
Tetapi bagi saya yang sebagai kaum Theis (kaum yang meyakini keberadaan Tuhan), Tuhan adalah sebab atau "pembentuk awal" dari segala rangkaian sebab - akibat yang telah ada dan akan ada.
Tuhan tidak menciptakan alam semesta ini secara langsung ; "bim salabim langsung jadi".
Tuhan menciptakan alam semesta ini secara bertahap dan berfase - fase.

Jadi, segala sesuatu terjadi karena ada rangkaian sebab - akibatnya sendiri, bukan berarti tidak ada Tuhan.
Tetapi karena Tuhan menciptakan segala segala sesuatu dengan rangkaian sebab - akibatnya masing - masing.

Alam semesta ini secara langsung diatur oleh berbagai hukum - hukum alam.
Tetapi hal tersebut tidak menegasikan peran Tuhan sebagai pengatur alam semesta, melainkan Tuhan tidak secara langsung mengatur alam semesta kecuali dalam hal - hal tertentu dengan menciptakan alam semesta bersamaan dengan hukum - hukum alamnya.


Lanjut...

Kutip dari: The Legend
Pertanyaan saya ketika alam semesta tidak ada Tuhan berada di mana ?

Bagi keyakinan saya, Tuhan berada di suatu tempat yang tidak diketahui oleh manusia pada saat alam semesta belum tercipta.

Kutip dari: The Legend
Ini yang tidak masuk akal. Anda sendiri tidak tahu bagaimana meyakini ada.

Penilaian anda yang keliru. Sebab saya bukannya tidak tahu meyakini ada, melainkan saya tahu tuhan itu berada (bertempat), namun yang tidak saya ketahui adalah perihal tempat keberadaan Tuhan tersebut.

Saya harap anda bisa membedakan kedua hal tersebut.

Kutip dari: The Legend
Kalau anda meyakini Tuhan sudah bertempat, itu tandanya tempat tersebut sudah ada duluan daripada Tuhan.
Konsep anda sudah gugur dengan sendirinya.

Jelas bukan, sebab tempat tersebut dengan Tuhan, ada secara bersamaan dengan Tuhan.

Kutip dari: The Legend
Logik ini menjadi semakin absrud....

Jelas tidak absurd, sebab ada proposisinya tersendiri.
Anda yang tidak paham Logika jelas menilainya demikian.

Kutip dari: The Legend
Saya kasih contoh.
Gelas itu ada di meja. Meja itu ada duluan daripada gelas. Kan tidak mungkin meja dan gelas ada bersamaan.

Anda menggunakan contoh konvensional (umum) untuk keberadaan Tuhan yang non-konvensional.
Ini jelas tidak relevan.

Kutip dari: The Legend
Kalau logiknya seperti ini bukannya menjawab. Saya sampai tidak bisa berkata kata. Bukan memberikan penjelasan tetapi menjadi semakin melenceng.

Menurut penilaian anda, saya bukannya memberi penjelasan tetapi semakin melenceng. Itu penilaian anda.

Bagi saya pribadi, tanggapan - tanggapan saya dalam diskusi kali ini justru semakin mempertegas kejelasan konsep saya. Dan para logicer yang mengerti dan paham betul dengan Logika pasti bisa mengambil benang merah dari tanggapan - tanggapan saya.

Tidak seperti anda, yang tidak paham dan mengerti betul tentang Logika sehingga hanya bisa sembarangan ; sekenanya dalam menilai.

Kutip dari: The Legend
Kalau pernyataan seperti ini di group atheis, saya yakin anda jadi bulan bulanan di sana...

Silahkan. Saya berani. Sebab kebanyakan dari mereka sebenarnya tidak paham dengan Logika yang sebenarnya. Sama seperti anda.

Omong - omong apa grup atheis tersebut ?
Dimana saya bisa bergabung ?
Saya sudah lama tidak berdebat dengan mereka.
Saya sendiri yang akan membuat mereka menjadi bulan - bulanan.
Kebenaran itu ibarat cermin yang pecah berkeping - keping. Masing - masing kepingnya adalah kebenaran. Namun kepingan - kepingan pecahan cermin tersebut berserakan di segala tempat. Tugas kitalah untuk memungut kepingannya satu per satu kemudian menyusunnya agar menjadi cermin yang utuh.
 

Offline Sultan

  • Sang Pengembara Yang Mencari Kepingan - Kepingan Pecahan Cermin Kebenaran Yang Berserakan Di Segala Penjuru Alam Semesta
  • Sahabat
  • ***
  • Tulisan: 180
  • Thanked: 1 times
  • Total likes: 21
  • Jenis kelamin: Pria
  • Spiritualitas dan Kebatinan
    • Lihat Profil
Re:Konsep vs Konsep : Prima Causa vs Non-Causa
« Jawab #2 pada: November 17, 2017, 03:20:33 AM »
Kutip dari: fajri dwiyama
????
????????????????????????????

Kutip dari: The Legend
Coba saja masuk group FB debat islam versus ateis
The Legend:
Saya tidak masuk di grup ini cuma baca baca saja pembahasan di sana....

Siap ????.

Sekalian saya akan mencoba mempromosikan forum medialogika.org supaya secara perlahan - lahan mereka dapat mengerti logika dengan belajar di forum.

Kutip dari: The Legend
Terserah anda.... ????

He.. he.. he..????

Kutip dari: fajri dwiyama
Ini pembahasannya mana ?
Kutip dari: The Legend
Pembahasannya ngambang sih...

Ya karena anda lebih banyak untuk tidak menanggapi argumen dengan argumen.
Tetapi lebih banyak untuk menilai pribadi saya dalam diskusi ini  ; Ad Hominem ????.

Kutip dari: The Legend
@KangAsep
Hampir lupa referensinya lagi

Dalam Samyutta Nikaya II : 178

"Tidak dapat ditentukan awal dari alam semesta. Titik terjauh dari kehidupan, berpindah dari kelahiran ke kelahiran, terikat oleh ketidaktahuan dan keinginan, tidaklah dapat diketahui"

Kutip dari: Kang Asep
pertanyaan saya, jika buddha tidak dapat menemukan awal dari alam semesta, apakah berarti tidak ada awal alam semesta ?

apakah tidak dapat = tidak ada ?

3. Tuhan lebih banyak mengatur kehidupan manusia secara tidak langsung dan mengatur kehidupan manusia secara langsung dalam beberapa hal tertentu. Untuk kasus bencana tsunami perlu dijawab terlebih dahulu pertanyaan ini : "Apakah Tuhan menginginkan bencana tsunami tersebut terjadi ?" Jika benar, maka bisa dikatakan bahwa bencana tsunami tersebut merupakan "kerjaan Tuhan" dan jika tidak maka tidak bisa dikatakan bahwa bencana tsunami tersebut merupakan "kerjaan Tuhan" tetapi juga bisa dikatakan bahwa bencana tsunami tersebut hanyalah bagian dari proses alam yang bergerak sendiri.

Lanjut...

Kutip dari: fajri dwiyama
Jika tuhan sebab utama, bererti anda meyakini bahwa ada sesuatu yg tercipta tanpa sebab.

Tidak. Saya bukan meyakini sesuatu yang "tercipta" tanpa sebab. Melainkan "sesuatu yang ada tanpa sebab". Tetapi yang pasti bukan alam semesta ini beserta segala isinyalah sesuatu yang ada tanpa sebab tersebut.

Kutip dari: The Legend
Di sini ada kesalahan logik berpikir.

Alam semesta sudah ada terlebih dahulu sudah tentu berjalan dengan hukum hukum alam.
Contoh air menjadi awan kemudian menjadi hujan, kalau dengan logik @Pashter1922 awan diciptakan oleh air.  Apa benar seperti itu?

Maaf sekali logik anda menjadi absrud.

Memangnya anda mengerti logika sehingga anda menilai saya melakukan kekeliruan logika ?
Bisa anda jelaskan apa kekeliruan logika saya ?
Jangan hanya bergaya bahasa agar terlihat pandai.

"Alam semesta sudah ada terlebih dahulu sudah tentu berjalan dengan hukum alam".


↑ Pernyataan ini tidak menjelaskan kekeliruan "logika" berpikir saya sama sekali.

Dan jawaban saya atas pertanyaan anda juga tidak seperti yang anda katakan ????. Sepertinya anda tidak paham dengan prinsip kausalitas yang saya maksud.

Maaf, sebenarnya penilaian anda yang absurd.

Kutip dari: The Legend
Jelas anda tidak paham sebab dan kondisi dari analisa tersebut. Anda melupakan sebab tidak berarti kalau tidak ada kondisi.

Kutip dari: fajri dwiyama
Semua yang ada harus ada yang mengadakan.

Berkontradiksi dengan pernyataan saya :

"Tidak semua yang ada ada yang mengadakan".

Sebab, tidak setiap penyebab adalah akibat dari suatu sebab yang lain.

Kutip dari: fajri dwiyama
Tidak semua yang ada, ada yang mengadakan.
Berarti alam dan manusia kemungkinan tidak ada yg mengadakan.

Bukan alam semesta dan manusia yang dalam konsep saya tidak ada yang mengadakan.
Tetapi Tuhan yang sebagai Prima Causa ; penggerak tak tergerak atau sebab yang tak tersebabkan (sebab pertama).

Kutip dari: The Legend
Konsep Tuhan sebagai causa prima, jelas mengesampingkan namanya kondisi. Hal ini yang membuat tidak masuk akal.

Konsep Tuhan sebagai prima causa sama sekali tidak mengesampingkan kondisi.

Kutip dari: The Legend
Kondisinya dari mana kalau begitu ?

Belum tahu. Sebab definisi dari kondisi dalam konteks ini belum dijelaskan ; untuk mencegah definisi yang bercabang.

Kutip dari: The Legend
Bukannya ini namanya berspekulasi ?

Ini namanya antisipasi. Bukan spekulasi.

Kutip dari: fajri dwiyama
Sebagian yang ada, ada yang mengadakan. Mengapa memakai kata sebagian ?

Sebab tidak setiap yang ada, ada yang mengadakan.

Kutip dari: fajri dwiyama
Sebagian yang ada, ada yang mengadakan
Sebagian yang ada, tidak ada yang mengadakan
Jadi ?

A = Ada
B = Ada yang mengadakan

I : Sebagian A adalah B
O : Sebagian A bukan B

Tidak bisa disimpulkan.
Sebab konklusinya akan melanggar beberapa hukum dasar logika.

Kutip dari: fajri dwiyama
Betul

Tetapi kedua proposisi ini bisa menjadi konklusi dari proposisi lain. Saya harap anda tidak salah mengerti.

Apakah anda telah salah mengerti ?

Kutip dari: fajri dwiyama
Saya salah mengerti, tolong diluruskan
????????????????????
Kutip dari: fajri dwiyama
Apakah karena keinginan kita untuk bertuhan sehingga logika kita hanya sepihak.

Tidak. Sebab saya memiliki argumen dan proposisinya tersendiri yang bisa dites dengan hukum - hukum logika.

Kutip dari: fajri dwiyama
Mengapa manusia dan alam dikesampingkan

Sudah saya jelaskan sebelumnya.

Sebab Tuhanlah sesuatu yang ada tanpa ada yang menyebabkannya tersebut. Bukan manusia dan alam semesta.

Kutip dari: fajri dwiyama
Tuhan ada, apakah ada yang mengadakan ?

Tidak.

Kutip dari: fajri dwiyama
Logika terbalik

Siapa yang terbalik logikanya ?
Apakah kang Fajri sudah mengerti definisi "Logika" yang digunakan di grup ini ?

Kutip dari: fajri dwiyama
baru belajar logika mas.

Kutip dari: The Legend
Mas

Pertanyaan yg di atas koq tidak dijawab?

Sutra nirvana
Sifat Buddha kekal

Master Hui neng mengatakan
Sifat Buddha tidak kekal.

Apakah kedua pernyataan tersebut kontradiksi ?

Akan saya jawab nanti bersamaan dengan pemaparan - pemaparan saya yang lainnya ????.

4. Bencana yang sering terjadi bisa merupakan kehendak Tuhan dan bisa juga bukan kehendak Tuhan.
Jika bencana yang sering terjadi merupakan kehendak Tuhan, harus diperhatikan dahulu apa alasan, motif, atau pun latar belakang Tuhan menghendaki terjadinya bencana tersebut. Bila ternyata diketahui bahwa Tuhan menghendaki terjadinya bencana tersebut dengan alasan, motif, atau pun latar belakang yang negatif, maka dapat dikatakan bahwa Tuhan memang "kejam" dalam hal ini. Tetapi bila ternyata Tuhan menghendaki terjadinya bencana tersebut dengan alasan, motif, atau pun latar belakang yang positif, maka tidak dapat dikatakan bahwa Tuhan itu kejam dalam hal ini.
Dan jika bencana yang sering terjadi itu bukanlah kehendak Tuhan, maka juga tidak dapat dikatakan bahwa Tuhan itu kejam namun bisa juga dikatakan bahwa bencana yang sering terjadi tersebut hanyalah bagian dari proses alam yang bergerak sendiri atau pun sebab dari ulah manusia itu sendiri.

Lanjut...
Kebenaran itu ibarat cermin yang pecah berkeping - keping. Masing - masing kepingnya adalah kebenaran. Namun kepingan - kepingan pecahan cermin tersebut berserakan di segala tempat. Tugas kitalah untuk memungut kepingannya satu per satu kemudian menyusunnya agar menjadi cermin yang utuh.
 

Offline Sultan

  • Sang Pengembara Yang Mencari Kepingan - Kepingan Pecahan Cermin Kebenaran Yang Berserakan Di Segala Penjuru Alam Semesta
  • Sahabat
  • ***
  • Tulisan: 180
  • Thanked: 1 times
  • Total likes: 21
  • Jenis kelamin: Pria
  • Spiritualitas dan Kebatinan
    • Lihat Profil
Re:Konsep vs Konsep : Prima Causa vs Non-Causa
« Jawab #3 pada: November 17, 2017, 03:23:15 AM »
5. Kutipan dari The Legend :

The Legend:
g sangat mengerikan.”
(Devadaha Sutta, Majjhima Nikaya 101, Tipitaka Pali).

“Bila ada Sang Maha Kuasa yang dapat mendatangkan bagi setiap mahluk ciptaanya kebahagiaan atau penderitaan, perbuatan baik maupun jahat, maka yang maha kuasa itu diliputi kesalahan, sedangkan manusia hanya menjalankan perintahnya saja.”
( Mahabodhi Jataka No.528 )

Dengan mata, seseorang dapat melihat pandangan memilukan; Mengapa Brahma itu tidak menciptakan secara baik? Bila kekuatannya demikian tak terbatas, mengapa tangannya begitu jarang memberkati? Mengapa dia tidak memberi kebahagiaan semata? Mengapa kejahatan, kebohongan dan ketidak-tahuan merajalela? Mengapa memenangkan kepalsuan, sedangkan kebenaran dan keadilan gagal? Saya menganggap Brahma adalah ketidakadilan. Yang membuat dunia yang diatur keliru.” [Bhuridatta Jataka, Jataka 543]


[Tradisi Mahayana]

Salah satu dari Mahayana Sutra, yaitu Lankavatara Sutra, berisi dialog antara Sang Buddha dengan Mahamati.

Dalam dialog tersebut, Sang Buddha menyatakan bahwa konsep Tuhan yang berdaulat, atau Atman adalah imajinasi belaka atau perwujudan dari pikiran dan bisa menjadi halangan menuju kesempurnaan karena ini membuat kita menjadi terikat dengan konsep Tuhan Maha Pencipta. Kutipan dari sutra tersebut sebagai berikut:
"Semua konsep seperti penyebab, suksesi, atom, unsur-unsur dasar, yang membuat kepribadian, jiwa pribadi, roh tertinggi, Tuhan Yang Mahakuasa, Sang Pencipta, adalah imajinasi belaka dan perwujudan dari pemikiran manusia.

Tidak, Mahamati, doktrin Tathágata dari rahim ke-Tathágata-an tidaklah sama dengan filosofi Atman."
(Lankavatara sutra, bab VI)

"Asumsi bahwa suatu Tuhan (isvara) adalah penyebab, dan lain sebagainya, bersandar atas kepercayaan salah dalam suatu diri yang kekal;
tetapi kepercayaan itu haruslah ditinggalkan, jikalau seseorang sudah dengan jelas mengerti bahwa segala sesuatu adalah tunduk pada penderitaan.
[Vasubhandu, Abhidharmakosa, 5, 8 (vol. IV, p. 19); Sphutartha, p. 445,26.]

----
Konsep ketuhanan dalam agama Buddha.
1. Tidak perlu berdoa kepada objek ketuhanan tersebut
2. Tidak pernah marah, benci atau dendam dengan agama apapun
3. Tidak eksklusif, artinya ketuhanan dalam agama Buddha itu universal sifatnya. Jadi, mau percaya atau tidak dengan "ketuhanan buddhis" tidak masalah. seorang ateis bisa masuk "surga"
4. bukan pencipta
5. bukan pemberi takdir atau mengontrol kehidupan manusia/makhluk lainnya
6. bukan maha kuasa
7. bukan maha segalanya

Beberapa Konsep dalam ajaran Buddha yang dapat dipilih dan dijadikan konsep Ketuhanan :
1. Nibbana
2. Adi Buddha
3. Dharmakaya
4. Tahtagathagarbha
5. Brahmavihara
6. Niyama

---------  Akhir Kutipan --------

1. “Bila ada Sang Maha Kuasa yang dapat mendatangkan bagi setiap mahluk ciptaanya kebahagiaan atau penderitaan, perbuatan baik maupun jahat, maka yang maha kuasa itu diliputi kesalahan, sedangkan manusia hanya menjalankan perintahnya saja.”
( Mahabodhi Jataka No.528 )

2. Dengan mata, seseorang dapat melihat pandangan memilukan; Mengapa Brahma itu tidak menciptakan secara baik? Bila kekuatannya demikian tak terbatas, mengapa tangannya begitu jarang memberkati? Mengapa dia tidak memberi kebahagiaan semata? Mengapa kejahatan, kebohongan dan ketidak-tahuan merajalela? Mengapa memenangkan kepalsuan, sedangkan kebenaran dan keadilan gagal? Saya menganggap Brahma adalah ketidakadilan. Yang membuat dunia yang diatur keliru.” [Bhuridatta Jataka, Jataka 543]

3. "Semua konsep seperti penyebab, suksesi, atom, unsur-unsur dasar, yang membuat kepribadian, jiwa pribadi, roh tertinggi, Tuhan Yang Mahakuasa, Sang Pencipta, adalah imajinasi belaka dan perwujudan dari pemikiran manusia".

Tanggapan :

1. Tetapi bagi saya, penciptaan dualisme kebahagiaan - penderitaan dan perbuatan baik - perbuatan jahat bukanlah suatu kesalahan pada diri Tuhan.
Sebab, segala dualisme negatif - positif bersifat saling melengkapi satu sama lain, bukan saling meniadakan. Segala dualisme negatif - positif menjadi salah satu komponen pelengkap dari apa yang saya sebut sebagai "Struktur Besar Kehidupan". Tanpa dualisme negatif - positif atau yang di dalam terminologi Tao disebut sebagai "Yin dan Yang", dapat dipastikan bahwa "Mekanisme Besar Kehidupan" tidak akan dapat berjalan. Sebab struktur besar kehidupan beserta mekanismenya, dibentuk dari dualisme negatif - positif disamping juga dibentuk dengan komponen - komponen lain. Dan "kerusakan" dari struktur besar kehidupan beserta mekanismenya, terbentuk dari koordinasi "kerusakan" dari struktur - struktur kecil kehidupan beserta mekanismenya.

2. Jawaban utamanya sudah saya paparkan dalam jawaban nomor 1 di atas. Hanya ada sedikit tambahan.

Bagi saya, Tuhan tidak jarang memberkati. Tetapi Tuhan memberkati banyak makhluk dan juga memberikan berkat tertentu kepada makhluk - makhluk tertentu. Baik dengan berkat yang "kasat mata" atau pun berkat yang tidak "kasat mata".

Kebohongan, kejahatan, dan ketidak-tahuan yang merajalela adalah bagian dari dualisme negatif - positif yang penting bagi terbentuknya struktur besar kehidupan beserta mekanismenya.

Di dunia ini, kebenaran dan keadilan memang tak selalu menang dari kepalsuan. Tetapi diakhirat nanti, kebenaran dan keadilan akan benar - benar menghancurkan kepalsuan.
Konsep balasan surga dan neraka yang diciptakan Tuhan membenarkan hal ini.
Dan oleh karenanya bagi saya Tuhan itu adil.

3. Bagi saya Tuhan itu bukan imajinasi dan perwujudan pemikiran manusia belaka.
Tetapi imajinasi dan pemikiran manusia tentang Tuhan itu adalah salah satu bentuk rasa penasaran, keingintahuan, dan kerinduan manusia terhadap Tuhan.
Tuhan itu nyata, kuasa, dan perbuatan - perbuatannya pun nyata.


Kutip dari: The Legend
Anda melihat jawaban saya absrud. Pernyataan anda yang ini dibawa ke grup buddhis juga dianggap absrud.

Anda melihat pernyataan saya absrud, karena anda berkeyakinan harus berujung kepada Tuhan (maha sebab), sedangkan dalam ajaran Buddha maha sebab itu tidak ada. Jadi kedua hal ini tidak bisa dipertentangkan.

Dalam agama Buddha sendiri juga mempunyai logikanya sendiri, yang disebut logika jalan tengah (middle way).  Logika jalan tengah tidak kaku seperti logika yang diajarkan di sini.

Saya kasih contoh sederhana
Dalam sutra Nirvana tertulis
Sifat Buddha adalah kekal.
Master Huineng pernah menyatakan Sifat Buddha adalah tidak kekal.

Silakan menganalisa dengan logika yang diajarkan di sini, pernyataan itu kontradiksi atau tidak.

Catatan : sifat buddha tidak ada sebagian. 

Hamid @Pashter1922 @KangAsep
Yang lain juga boleh menyatakan pendapatnya.
Kutip dari: The Legend
Mas

Pertanyaan yg di atas koq tidak dijawab?

Sutra nirvana
Sifat Buddha kekal

Master Hui neng mengatakan
Sifat Buddha tidak kekal.

Apakah kedua pernyataan tersebut kontradiksi ?

Catatan :

Sifat Buddha tidak ada sebagian.

A : Sifat Buddha itu kekal
E : Sifat Buddha tidak kekal

Tidak ada kontradiksi dalam kedua proposisi tersebut.

Tetapi kedua proposisi tersebut mengandung kontrari yang bersifat :

(1) Mustahil sama - sama benar

(2) Mungkin sama - sama salah
Kebenaran itu ibarat cermin yang pecah berkeping - keping. Masing - masing kepingnya adalah kebenaran. Namun kepingan - kepingan pecahan cermin tersebut berserakan di segala tempat. Tugas kitalah untuk memungut kepingannya satu per satu kemudian menyusunnya agar menjadi cermin yang utuh.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9259
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 353
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Konsep vs Konsep : Prima Causa vs Non-Causa
« Jawab #4 pada: November 17, 2017, 04:30:32 AM »
Yang namanya Kontrari, apabila salah satu proposisi bernilai benar, maka itu berarti kontradiksi. dengan kata lain, dalam kontrarari itu termuat kontradiksi. jadi, jangan mengatakan "tidak ada kontradiksi" dalam suatu kontrari, bila salah satunya bernilai benar. Kecuali bila baru diketahui salah satunya bernilai salah, tapi belum diketahui lainnya bernilai benar, atau dua-duanya tidak diketahui nilai benar-salahnya, maka tidak dapat dipastikan ada kontradiksi, juga tidak dapat dipastikan tak ada kontradiksi.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sultan

  • Sang Pengembara Yang Mencari Kepingan - Kepingan Pecahan Cermin Kebenaran Yang Berserakan Di Segala Penjuru Alam Semesta
  • Sahabat
  • ***
  • Tulisan: 180
  • Thanked: 1 times
  • Total likes: 21
  • Jenis kelamin: Pria
  • Spiritualitas dan Kebatinan
    • Lihat Profil
Re:Konsep vs Konsep : Prima Causa vs Non-Causa
« Jawab #5 pada: November 17, 2017, 06:31:35 AM »
Yang namanya Kontrari, apabila salah satu proposisi bernilai benar, maka itu berarti kontradiksi. dengan kata lain, dalam kontrarari itu termuat kontradiksi. jadi, jangan mengatakan "tidak ada kontradiksi" dalam suatu kontrari, bila salah satunya bernilai benar. Kecuali bila baru diketahui salah satunya bernilai salah, tapi belum diketahui lainnya bernilai benar, atau dua-duanya tidak diketahui nilai benar-salahnya, maka tidak dapat dipastikan ada kontradiksi, juga tidak dapat dipastikan tak ada kontradiksi.

Baik kang Asep _/\_ :-).
Kebenaran itu ibarat cermin yang pecah berkeping - keping. Masing - masing kepingnya adalah kebenaran. Namun kepingan - kepingan pecahan cermin tersebut berserakan di segala tempat. Tugas kitalah untuk memungut kepingannya satu per satu kemudian menyusunnya agar menjadi cermin yang utuh.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
978 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 01, 2013, 11:12:47 PM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
925 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 28, 2016, 10:45:12 AM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
1782 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 11, 2014, 08:27:28 AM
oleh Kang Asep
13 Jawaban
7339 Dilihat
Tulisan terakhir September 26, 2014, 03:22:24 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
532 Dilihat
Tulisan terakhir April 07, 2015, 10:32:08 AM
oleh Kang Asep
5 Jawaban
1093 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 10, 2015, 06:26:41 PM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
488 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 01, 2015, 07:51:13 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
363 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 11, 2015, 09:11:24 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
472 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 04, 2016, 05:16:31 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
29 Dilihat
Tulisan terakhir November 13, 2017, 08:28:50 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan