Komunitas Para Pemikir

Rubrik Para Ahli => Filsafat => Topik dimulai oleh: Kang Asep pada November 27, 2017, 03:40:34 AM

Judul: Banyak Tanya
Ditulis oleh: Kang Asep pada November 27, 2017, 03:40:34 AM
SK : Kebijaksanaan Sokrates (http://medialogika.org/index.php?topic=6766.0)
====================
1. Mengaku Bijaksana
2. Mengaku Tahu
3. Banyak Tanya
====================

1. Mengaku Bijaksana
Edisi : 12 Oktober 2017, 10:54:24

Guido Gusthi Abadi, [25.09.17 12:17]
Klau boleh tau kenapa orang bijaksana yang mengaku bijaksana bukanlah org bijaksana?

Kang Asep, [25.09.17 12:23]
Karena orang bijaksana mengetahui betapa sedikitnya hal yang dia ketahui, dia tahu banyak hal yang tidak diketahuinya, sehingga akan merasa malu untuk mengakui bahwa dirinya bijaksana.

Perkataan, "orang bijaksana mengaku bijaksana tidaklah bijaksana" itu paradoks.  Yang tidak paradoks adalah, "orang yang mengaku bijaksana, tidaklah bijaksana" atau "orang bijaksana yang mengaku bijaksana, maka pengakuannya itu membatalkan kebijaksanaannya."

2. Mengaku Tahu
 Edisi : 27 Nopember 2017, 02:40:12

Merupakan suatu keberuntungan, apabila kita mengetahui nilai benar - salah sesuatu, sehingga disebut menganut keyakinan yang benar. Tapi celakalah kita bila menganut keyakinan yang kontradiktif. Sebenarnya menjadi "yang tidak tahu" itu lebih baik dari pada "yang menganut keyakinan yang kontradiktif". Jadi bila kita tidak tahu, jangan sungkan, jangan ragu dan jangan malu untuk mengaku tidak tahu, walaupun harus dianggap bodoh. Karena kita akan malu, bila mengaku tahu, tapi ternyata keyakinan kita kontradiktif.

Semakin banyak kita belajar, maka kita akan semakin tahu bahwa betapa banyak hal yang tidak kita ketahui. Dengan tahu bahwa begitu banyaknya hal yang tidak kita ketahui, maka kita menjadi sadar betul, bahwa betapa sedikitnya apa yang kita ketahui. Walaupun demikian,  masih saja kita "sedikit bertanya". Socrates benar-benar tahu bahwa dirinya benar-benar "tidak tahu". Karena itu, sangat banyak pertanyaan yang diajukan oleh Sokrates kepada hampir setiap lawan bicaranya. Lalu bagaimana kita "mengaku tahu", tetapi tidak dapat menjawab banyak pertanyaan atau "mengaku tidak tahu" tapi tidak banyak mengajukan pertanyaan ? Cirinya orang yang tahu bahwa banyak hal yang tidak dia ketahui adalah dari banyaknya pertanyaan yang dia ajukan. Lalu apa cirinya orang yang tidak tahu bahwa dirinya tak banyak tahu ? Cirinya adalah dari sedikitnya pertanyaan yang dia ajukan.

3. Banyak Tanya
 Edisi : 27 Nopember 2017, 03:36:45

Apakah kita ini orang yang tahu bahwa diri kita tidak tahu ataukah yang tidak tahu bahwa diri kita tak tahu ? Entahlah... Tapi marilah kita belajar kepada Sokrates,  untuk tahu bahwa kita tidak tahu, sehingga kita punya gairah untuk bertanya. Apabila sudah bertanya, maka orang akan berpikir dan mencari jawaban. Setalah satu jawaban ditemukan, kita akan ajukan lagi seribu pertanyaan. Dengan demikian, kita akhirnya akan selalu merasa menjadi "orang bodoh yang tak kunjung pandai".

Janganlah kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan dengan maksud untuk membebani orang lain. Kita harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan atas dasar keingin tahuan akan sesuatu, keinginan untuk belajar. Dan belajar ilmu logika, sebenarnya belajar tentang cara mencari tahu, apa yang harus ditanyakan.

Merupakan pengalaman klise dari sejak SD hingga kuliah, saat guru atau dosen memberi kesempatan pada murid untuk bertanya, seringkali semua terdiam dan tidak ada yang mengajukan pertanyaan, bukan diam karena sudah mengerti apa yang diajarkan oleh guru, akan tetapi karena tidak tahu apa yang tidak dimengerti, tidak tahu apa yang belum diketahui, karena itu tidak tahu apa yang harus ditanyakan. Terkadang, tidak bertanya karena memang sudah mengerti. Tapi kebanyakan tidak bertanya karena bodoh, tak tahu apa yang harus ditanyakan. Dan sisanya, tidak bertanya karena memang tidak berminat.

Di suatu majelis taklim, teman-teman menjuluki saya dengan sebutan "Si Penanya". Karena saya adalah murid yang paling banyak mengajukan pertanyaan. Jika mengikuti kemauan, niscaya dari awal sampai akhir saya akan terus mengajukan pertanyaan yang bertubi-tubi, atas dasar keingin tahuan. Tetapi tentu tidak dapat demikian, karena harus memberi kesempatan orang lain untuk juga bertanya, dan juga menjaga agar ulama yang ditanya tidak merasa terbebani oleh pertanyaan-pertanyaan saya. Saya hanya akan mengajukan pertanyaan kepada ulama, hanya jika saya meyakini bahwa dia senang ditanya, dan bukan malah membebani. Saya menganggap guru seperti orang tua, di mana ridho Tuhan terletak pada ridho nya orang tua. Bila orang tua tidak ridho, maka Tuhan pun tidak akan ridho pada saya. Demikian pula pada guru, mendapatkan ilmu dari nya harus dengan memperhatikan ridho nya, agar ilmu yang saya peroleh menjadi berkah. Apabila seorang guru merasa tidak senang dengan pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan, berarti saya telah melakukan kesalahan besar, karena telah menutup jalan keberkahan dari ilmu. Dengan demikian, pertanyaan tidak asal diajukan, tapi harus memperhatikan tata cara dan etika yang baik.

Sebagian orang merasa terbantu karena pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan. Tetapi, seringkali sebagian orang merasa terganggu dan tidak suka dengan pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan. Hal ini juga harus diperhatikan dengan baik-baik. Apabila saya mengetahui bahwa anggota majelis lain tidak menyukai pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan, maka saya segera berhenti bertanya. Dengan demikian, bukan hanya menimbang kerelaan dari guru, melainkan juga menimbang kerelaan dari teman-teman. Karena, apabila kita menjadi pribadi yang tidak menyenangkan, kita akan kehilangan banyak pertemanan dalam suatu majelis.

"Banyak tanya" mempunyai banyak makna. Tidak hanya sebagai wujud rasa keingin tahuan, tetapi "banyak tanya" juga dapat dijadikan sebagai "cara menyerang", "cara menyulitkan orang lain", "menunjukan eksistensi", "cara mendidik", "cara membantu orang lain untuk mengerti", atau sebagai cara untuk menunjukan "kepandaian".  Makna pertanyaan yang buruk, akan menghasilkan sesuatu yang buruk. Karena itu kita harus mengajukan pertanyaan dengan makna yang baik, yaitu atas dasar keingin tahuan, bersifat menyenangkan orang yang ditanya dan atau membantu orang lain untuk mengerti sesuatu.

"Banyak tanya" tidak harus dilakukan terhadap orang lain. Pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan, akan banyak gunanya walaupun itu hanya diajukan kepada diri sendiri. Justru sebenarnya, sebelum kita mengajukan banyak pertanyaan pada orang lain, kita harus banyak-banyak mengajukan pertanyaan pada diri sendiri. Dengan banyaknya pertanyaan yang kita ajukan, maka kita menjadi orang yang banyak tahu bahwa banyak hal yang belum kita ketahui. Dengan begitu, ketika berjumpa dengan ahli ilmu, kita sudah siap dengan segudang pertanyaan yang sejak lama ingin kita tanyakan.

Di majelis seorang ulama, kita jangan sekali-kali menjawab pertanyaan yang tidak diajukan kepada kita. Dan kita harus menjaga agar tidak lebih banyak berbicara dari pada guru. Pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan, adalah untuk mendorong ulama untuk terangsang mengeluarkan ilmunya. Dan ketika murid yang lain mengajukan pertanyaan-pertanyaan, di mana saya mengetahui jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, dan ingin rasanya menjawabnya, tetapi saya menahan diri untuk tidak menjawab. Karena saya tidak perlu menunjukan bahwa diri saya sudah tahu banyak di samping seorang ulama. Jadi, sudah semestinya saya menyerahkan pertanyaan-pertanyaan itu keapda ahlinya, yaitu ulama. Dan ketika saya beranggapan, ulama tersebut memberikan jawaban yang kurang lengkap, kurang dimengerti atau malah saya anggap salah, maka sayapun menahan diri untuk tidak terburu-buru mengoreksi atau membantu melengkapi jawaban. Tetapi apabila ada kesempatan untuk mengajukan pertanyaan, maka saya akan sedikit bertanya sebgai cara  mendorong guru dan teman untuk mengevaluasi kembali pendapatnya.

Saya menjumpai seorang kawan dengan karakter "tak pernah mau bertanya". Selama tujuh tahun saya berama dia di majelis, saya tidak pernah mendengar sekalipun dia mengajukan pertanyaan pada guru. Dan apabila orang lain mengajukan pertanyaan pada guru, dia menunjukan sikap "ah bodoh kau,... Gitu aja tak mengerti." dan  seringkali dia terburu-buru menjawabnya sebelum guru menjawabnya dengan berkata, "Maaf ya ustadz... Biar saya yang memberikan jawabannya." Sebenarnya "membantu guru memberikan jawaban" adalah hal baik, namun apabila cara penempatannya salah, maka menjadi buruk.  Kita harus memperhatikan, apabila guru memang memerlukan bantuan untuk memberikan jawaban pada penanya, maka bantulah untuk memberikan jawaban. Tetapi apabila guru itu sendiri bermaksud menjawabnya sendiri, maka jangan sampai jawaban kita malah menghalangi si guru untuk memberikan jawaban. Apalagi hingga jawaban yang panjang lebar. Ini tidak etis.

Pernah suatu saat saya mengajukan pertanyaan, lalu salah seorang jamaah tiba-tiba menanggapi sebelum guru memberikan jawaban, "ye.... Kamu ini.. Tadi kan guru kita sudah menjelaskan... Ko ditanyakan lagi."

lalu, guru tertawa dan berkata pada kawan saya itu, "kalau begitu, tolong bantu saya, berikan jawaban atas pertanyaan kang Asep !"

Guru mempersilahkan untuk membantunya menjawab pertanyaan saya, maka tepat apabila dia memberikan jawabannya. Saya menunggu jawabannya. Setelah jawabanya diberikan, guru dan jamaah lainnya tertawa, dan guru berkata, "Salah,... Bukan seperti itu.... " nah.. Ternyata dia salah. Merasa mengerti, ternyata belum mengerti apa yang sebenarnya telah dijelaskan oleh guru.

Giliran saya membuka majelis ilmu, saya menyadari bahwa tidak semua jamaah pandai mengajukan pertanyaan dan juga tahu, tidak semua orang datang ke majelis untuk bertanya. Tidak sedikit yang datang malah untuk "menjawab". Tidak semua datang untuk belajar, tidak sedikit malah yang datang untuk mengajar. Tidak semua datang untuk menjadi murid, tidak sedikit malah yang datang untuk menjadi guru. Hal itu tidak masalah. Karena siapapun yang datang, saya telah siap dengan banyak pertanyaan. Apabila yang datang itu menempatkan dirinya sebagai murid, berarti pertanyaan saya berfungsi untuk membantunya mengerti. Apabila yang datang itu menempatkan dirinya sebagai guru, maka jawabannya berguna untuk membuat saya mengerti. "Banyak Tanya" tidak hanya penting diajukan pada guru, tetapi penting juga diajukan pada murid, terutama ketika murid itu tidak tahu cara bertanya dan tidak tahu apa yang harus ditanyakan. Dengan demikian, pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan, merupakan contoh cara bertanya pada murid yang sedang belajar. Sehingga lama-lama dia tahu cara bertanya. Tapi bila tidak belajar, 10 tahun hadir di majelis sayapun, dia tidak tahu bagaimana caranya bertanya. Dan bahkan banyak murid yang berhenti bertanya, setelah dua atau tiga tahun belajar. Seolah-olah dia sudah "penuh" dengan ilmu atau seolah ilmu saya sudah habis dia serap, sehingga tak ada lagi pertanyaan yang perlu diajukan. 

Ilmu adalah hak nya orang yang bertanya. Saya tidak memperdulikan, apakah murid-murid mengajukan pertanyana-pertanyaan pada saya ataukah tidak. Jika mereka bertanya, saya akan menjawabanya, yakni memberikan hak nya. Jika tidak bertanya, berarti saya bebas dari kewajiban untuk menjawab. Seringkali "menjawab" dirasakan sebagai beban berat. Tetapi jawaban harus saya berikan, karena hak orang yang bertanya harus diberikan. Jadi, dengan tiadanya yang bertanya, hati terasa bebas. Tapi seorang guru, bukanlah guru yang baik apabila tidak mengajari murid-muridnya cara bertanya. Karena itu, bukan karena ingin ditanya, tetapi mengajarkan cara bertanya pada murid-murid adalah kewajiban seorang guru.