Penulis Topik: Petitio Descartes  (Dibaca 3289 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Petitio Descartes
« pada: Januari 12, 2014, 07:54:34 AM »

Descartes (1596-1659), Ilmuwan Prancis

Petitio Descartes ini sebenarnya contoh Petito Principii yang pelik. Karena dikemukakan oleh seorang ahli pikir yang tersohor, maka kasusnya saya sebut Petitio Descartes.

Quote (selected)
Descartes (1596-1650) sendiri, ahli pikir Prancis terkenal itu, tidak terhindari dari pengaruh pemukauan serupa itu ketika ia mengungkapkan pendiriannya bahwa “Sama sekali tidak ada kekosongan, sebab jika ada kekosongan antara dua tubuh niscaya keduanya mestilah bersentuhan.”

Descrates merasa bahwa ungkapannya itu benar, dan barangkali tidak banyak orang yang memprotes ungkapannya itu, sebab sepintas lalu hal itu tampak seperti sebuah ungkapan yang benar. Tetapi kalau diteliti dengan cermat, ungkapan Descrates tersebut tampak merupakan sebuah fallacy, Circular Argument, Petitio Principi. Mana sebenarnya bukti, dan mana yang dibuktikan ? Apakah “tiadanya kekosongan” yang hendak dibuktikan ? dengan apa ? dengan “tubuh yang tidak bersentuhan”, tetapi dia berkata, “jika ada kekosongan antara dua tubuh, niscaya keduanya bersentuhan.” Pernyataan ini menunjukan bahwa yang dibuktikan adalah “kedua tubuh yang tidak bersentuhan.” Sedangkan ini merupakan argumen, bukan kesimpulan. Akhirnya berputar dalam lingkaran yang itu-itu juga.

Kenapa kekosongan tidak ada ?
Karena dua tubuh tidak bersentuhan

Kenapa dua tubuh tidak bersentuhan ?
Karena kekosongan tidak ada

Jika A adalah B, maka A adalah C
Ternyata A tidak C
Jadi A tidak B

Jika ada kekosongan antara dua tubuh, maka dua tubuh bersentuhan
Ternyata dua tubuh tidak bersentuhan
Jadi, tidak ada kekosongan

Syllogismenya benar. Dalam susun pikiran menduga tersebut diketahui bahwa yang dibuktikan adalah “tidak ada kekosongan” dan “dua tubuh tidak bersentuhan” merupakan bukti atau premis. Tapi kalau ditanyakan, kenapa dua tubuh tidak bersentuhan, maka jawabannya adalah konklusinya, yaitu “tidak ada kekosongan”. Jadi, ini berputar, seperti menghasta kain kain sarong, kata Joesoef Sou`yb .

Bandingkan dengan contoh berikut :

Jika matahari terbit, maka hari mulai siang
Ternyata matahari belum terbit
Jadi, hari belum mulai siang

Yang dibuktikan adalah “hari belum mulai siang”, dan bukti adalah “matahari belum terbit”. Tidak ada yang salah dalam syllogisme ini. Terjadi kesalahan ketika kemudian si pembuat konklusi menyatakan “Matahari belum mulai terbit, karena hari belum mulai siang.”  Konklusinya berubah menjadi “bukti”. Seharusnya, “Hari belum mulai siang, karena matahari belum terbit.”  Kalau dikembalikan kepada bentuk Petitio Descartes, maka bentuk kalimatnya adalah “Matahari belum mulai terbit, karena jika matahari terbit, maka hari mulai siang.” Pernyataan ini, sama dengan “Matahari belum mulai terbit, karena hari belum mulai siang.”

Setelah terbukti bahwa Petitio Descartes tersebut merupakan circular argumen, di sisi lain terasa oleh kita bahwa tidaklah keliru bila orang berkata, “Matahari belum terbit, karena jika matahari sudah terbit, maka hari siang.” Jadi, benarkah ungkapan Descartes itu merupakan fallacy ?

Dalam kasus Petitio Descartes ini tampak terjadi Paradoks. Pertanyaan saya, apakah Anda bisa memahami duduk persoalannya ? dan apakah Anda mengetahui bagaimana jalan keluar dari permasalahan ini ?
« Edit Terakhir: Januari 26, 2014, 09:51:27 PM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sandy_dkk

Re:Petitio Descartes
« Jawab #1 pada: Januari 12, 2014, 09:40:46 PM »
“Sama sekali tidak ada kekosongan, sebab jika ada kekosongan antara dua tubuh niscaya keduanya mestiah bersentuhan.”

jika kita berusaha mengosongkan udara dalam balon, maka pasti balon akan mengkerut. maka kita tidak akan pernah mampu menciptakan ruang kosong dalam balon, sebab ruang dalam balon akan menyusut seiring menyusutnya materi di dalam balon.

kita hanya bisa mengosongkan balon, jika kita mampu membuat bentuk balon tidak berubah, sementara udara di dalam balon dan materi apapun berkurang, dan kita tak akan pernah mampu.



jika dua tubuh tidak bersentuhan, itu artinya ada sesuatu diantara dua tubuh tsb. jika diantara dua tubuh itu kosong alias tidak ada sesuatu apapun, maka pasti dua tubuh akan segera berhimpitan, tidak mungkin dapat menyisakan ruang kosong barang sedikitpun.

sudah bisa dipahami?

jadi, jika dua tubuh berhimpit, maka tidak ada ruang antara dua tubuh tsb, tidak ada kekosongan.
jika dua tubuh tidak berhimpit, maka ada ruang antara dua tubuh, tapi ruang tsb tidak mungkin kosong, sebab kekosongan tak akan pernah bisa membentuk ruang.
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline Sandy_dkk

Re:Petitio Descartes
« Jawab #2 pada: Januari 12, 2014, 09:55:04 PM »
apa definisi kosong?
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Petitio Descartes
« Jawab #3 pada: Januari 13, 2014, 04:55:30 AM »
kang sandy membahasnya dari sudut kajian ilmiah. yang saya soroti itu adalah soal sintak kalimat. seperti "bila matahari mulai terbit, maka hari mulai siang". jelas sekali pernyataan ini benar dan tidak perlu diuraikan lagi maksudnya. tapi, ketika ornag menyatakan "matahari belum mulai terbit. sebab bila matahari mulai terbit, maka hari mulai siang", maka ini dianggap merupakan petitio, setidaknya menurut pendapat Jousoef Sou`yb dalam bukunya. tapi, beliau menyatakan demikian tentu bukan tanpa alasan. apakah kang sandy dapat menangkap alasan2, mengapa pernyataan Descartes tersebut dianggap Petitio Principii ?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sandy_dkk

Re:Petitio Descartes
« Jawab #4 pada: Januari 13, 2014, 09:45:30 PM »
wah, saya tidak dapat melihat alasan kenapa pernyataan tsb dianggap sebagai petitio principi kang...

pada implikasi jika A maka B, ketiadaan B memang membuktikan bahwa tiada A.

bandingkan dengan kalimat berikut:
A adalah B, karena jika bukan B pastilah bukan A.  <<<  nah, kalo ini termasuk petitio principi.
« Edit Terakhir: Januari 13, 2014, 09:48:13 PM oleh Sandy_dkk »
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Petitio Descartes
« Jawab #5 pada: Januari 14, 2014, 07:17:16 AM »
A bukan B, sebab jika A adalah B, maka A adalah C

pernyataan tersebut sama dengan "A bukan B, sebab A bukan C". benar kan ?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sandy_dkk

Re:Petitio Descartes
« Jawab #6 pada: Januari 25, 2014, 07:50:15 PM »
saya punya pernyataan ilmiah sebagai berikut:

"sebuah gelas kecil tidak menampung seember besar air. sebab jika gelas kecil menampung seember besar air, maka air akan meluber keluar dari gelas kecil tsb."

menurut Kang Asep, apakah pernyataan saya diatas termasuk fallacy?
bentuk kalimat pernyataan ilmiah yang saya buat sama persis dengan bentuk kalimat pernyataan ilmiah milik Descartes lho...

« Edit Terakhir: Januari 25, 2014, 08:09:17 PM oleh Sandy_dkk »
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 
The following users thanked this post: Kang Asep

Offline Sandy_dkk

Re:Petitio Descartes
« Jawab #7 pada: Januari 26, 2014, 09:09:49 AM »
saya tambahkan sebuah kalimat lagi:

"tidak ada makhluk hidup dipermukaan matahari. sebab jika ada makhluk hidup di permukaan matahari, maka matahari akan membakar dan membunuhnya."
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Petitio Descartes
« Jawab #8 pada: Januari 26, 2014, 03:02:31 PM »
Ada dua sudut pandang. dari sudut pandang yang satu, hal tersebut bukan fallacy, dan dari sudut pandang lainnya, hal itu merupakan fallacy. seperti misalnya kalau dinyatakan, "A adalah C, karena A adalah B" ini bisa merupakan falacy bisa pula bukan, bergantung kepada premis mayor yang masih tersembunyi. demikian pula dengan contoh yang diberikan kang sandy. ada persoalan tersembunyi yang menjadi faktor penentu, apakah hal itu akan termasuk fallacy atau tidak. demikian pula pernyataan descartes, "dengan sedikit selera humor", pernyataan descartes disebut "petitio principii". sebenarnya bukan  benar-benar fallacy, tapi menjadi fallacy bila cara pandangnya salah. lihat, bagaimana kritikan saya terhadap cara berpikir seorang wanita yang anti rokok dalam artikel : pintu gerbang narkoba dan logika jungkir balik

kang sandy masih fokus ke makna rupanya. Bagaimana kalau saya katakan begini :

tidak ada makluk hidup di permukaan bumi. sebab jika ada makhluk hidup di permukaan bumi, maka bumi akan membunuhnya.

pernyataan tersebut benar atau salah ?

jika menurut kang sandy pernyataan tersebut salah, berarti kang sandy masih fokus ke semantik, bukan mantik. sintak kalimat tersebut kan sama dengan contoh yang diberikan kang sandy. saya hanya mengganti term-termnya, seperti mengganti variabel ABC. benar tidak ?

jika menurut kang sandy pernyataan tersebut benar, berarti kang sandy sudah melihat ke persoalan sintak kalimat dan saya akan menyelidiki lebih dalam, bagaimana sebenarnya maksud kang sandy atau di mana miss persepsinya antara saya dengan kang sandy.

dalam contoh lain, ketika dua Ki dan Ko sedang melihat lukisan harimau, ki bertanya kepada Ko, "Ko, .. ini harimau ya?"

"Ya" jawab Ko.

"Harimau bisa mencakar ya ?"

"Ya!" jawab Ko lagi.

"jadi, itu (lukisan harimau) bisa mencakarmu ya?" tanya Ki.

Barulah Ko sadar, bahwa Ki telah memperdayanya.

kalau kita kembalikan kepada bentuk kalimat, "itu bisa mencakar, karna itu harimau". apakah ini fallacy atau bukan ?

fallacy atau bukan, tidak bisa hanya dilihat dari makna maupun sintaknya saja, tapi dari situasi kondisi dan sudut pandangnya. karena bagi ko kata "itu" berarti "harimau" sedangkan bagi ki kata "itu" berarti "Lukisan". Jadi, kailmat yang sama, sudut pandang beda. sehingga bagi Ki pernyataan tersebut fallacy, sedangkan bagi Ko, hal itu bukan fallacy. jika Ki tidak menggunakan fallacy, tentu Ki menggunakan pengertian dari si pemiliknya, yaitu Ko, bahwa "itu" mengandung arti "harimau", bukan "lukisan harimau".

silahkan direnungkan dalam kasus lukisan itu, bagaimana bisa sintaknya sama "A adalah B, dan B adalah C", tapi bagi satu pihak ini merupakan fallady dan pihak lain, bukan sebagai fallacy. prinsipnya, dalam kasus di atas Ki menjebak Ko untuk menggunakan empat term. sedangkan Ko, tidak bermaksud menggunakan empat term.

demikian pula pernyataan Desacartes, ia sperti pernyataan syllogisme ABC itu. Tidak ada yang salah pada sintak maupun makna. tapi, ketika pihak ternentu, melihat dari sudut pandang sintak tertentu, maka ia menjadi fallacy. seperti mengubah ABC, menjadi empat term ABCD. 
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sandy_dkk

Re:Petitio Descartes
« Jawab #9 pada: Januari 26, 2014, 09:26:20 PM »
Kutip dari: Kang Asep
tidak ada makluk hidup di permukaan bumi. sebab jika ada makhluk hidup di permukaan bumi, maka bumi akan membunuhnya.

bentuk kalimat Kang Asep diatas, tidak ada bedanya dengan bentuk kalumat saya dan bentuk kalimat Descartes. tapi bentuk kalimat tsb sama sekali berbeda dengan kalimat "matahari belum terbit. sebab jika matahari terbit, maka hari telah siang."

contoh2 kalimat yang termasuk petitio principi:
  • matahari belum terbit. sebab jika matahari terbit, maka hari sudah siang.
  • hujan tidak turun. sebab jika hujan turun, maka rerumputan basah.
  • kambing bukan tumbuhan. sebab jika kambing itu tumbuhan, maka kambing tidak beranak.
argumennya berputar, menimbulkan circular argumen.

sementara kalimat2 ini:
  • tidak ada kekosongan antara dua tubuh. sebab jika ada kekosongan antara dua tubuh, maka kedua tubuh bersentuhan.
  • tidak ada makhluk hidup dimuka bumi. sebab jika ada makhluk hidup di muka bumi, maka bumi akan membunuhnya.
tidak ada circular argumen.


bandingkan:

kenapa matahari belum terbit? karena hari belum siang.
kenapa hari belum siang? karena matahari belum terbit (circular argumen).

kenapa tidak ada makhluk hidup di bumi? karena bumi membunuh setiap makhluk hidup.
kenapa bumi membunuh setiap makhluk hidup? ... (silahkan jawab dan buktikan jika jawabannya merupakan circular argumen, jika bisa.).

begitu pula dengan ini:
kenapa tidak ada kekosongan?
jawabannya bukan karena dua tubuh tidak bersentuhan.
tapi jawabannya karena dua tubuh akan mengisi kekosongan tsb dengan bersentuhan.

sekarang, kenapa dua tubuh bersentuhan?
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Petitio Descartes
« Jawab #10 pada: Januari 26, 2014, 09:33:09 PM »
coba kembalian kepada bentuk variabel :

“Sama sekali tidak ada kekosongan, sebab jika ada kekosongan antara dua tubuh niscaya keduanya mestilah bersentuhan.”

A tidak B. sebab jika A adalah B, maka A adalah c

betul ?

matahari belum terbit. sebab jika matahari terbit, maka hari sudah siang.

A tidak B. sebab jika A adalah B, maka A adalah c.

betul ?

bukankah itu bentuk yang sama ?
« Edit Terakhir: Januari 26, 2014, 09:52:01 PM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sandy_dkk

Re:Petitio Descartes
« Jawab #11 pada: Januari 26, 2014, 10:25:54 PM »
A, B dan C tsb merupakan variabel premis ya?


bagaimana jika bentuk kalimatnya saya rubah kedalam variabel2 proposisi, sehingga berbentuk:

bukan A, sebab jika A maka B.

bagaimana?
akan saya lanjutkan setelah disetujui.
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Petitio Descartes
« Jawab #12 pada: Januari 26, 2014, 10:38:30 PM »
boleh saja, circularnya tetap sama.

bukan A, sebab jika A maka B.

ini sama artinya dengan "Bukan A, sebab tidak B" benar kan?

kalau ditanya, kenapa tidak B ? maka jawabnya adalah karena "Tidak A". jadi tetap circular. benar kan ?

Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sandy_dkk

Re:Petitio Descartes
« Jawab #13 pada: Januari 27, 2014, 01:52:15 AM »
Kutip dari: Kang Asep
boleh saja, circularnya tetap sama.

bukan A, sebab jika A maka B.

nah, begini lebih baik.

"matahari belum terbit. karena jika matahari terbit, maka hari sudah siang."
A = matahari terbit
B = hari sudah siang
bukan A = matahari belum/tidak terbit
tidak B = hari belum/tidak siang

"tidak ada makhluk hidup di bumi. karena jika ada makhluk hidup di bumi, bumi akan membunuhnya."
A = ada makhluk hidup di bumi
B = bumi akan membunuhnya (makhluk hidup)
bukan A = tidak ada makhluk hidup di bumi
tidak B = bumi tidak akan membunuhnya

begitu kan?


Kutip dari: Kang Asep
ini sama artinya dengan "Bukan A, sebab tidak B" benar kan?

kalau ditanya, kenapa tidak B ? maka jawabnya adalah karena "Tidak A". jadi tetap circular. benar kan ?

sama artinya dengan "bukan A, sebab tidak B" ??

pernyataan Kang Asep bukan A, sebab jika A maka B: "tidak ada makhluk hidup di bumi. sebab jika ada makhluk hidup di bumi, maka bumi akan membunuhnya",
apakah sama artinya dengan bukan A, sebab tidak B: "tidak ada makhluk hidup di bumi, sebab bumi tidak akan membunuhnya" ??

justru maksud Kang Asep sebenarnya adalah bukan A, sebab B: "tidak ada makhluk hidup di bumi, sebab bumi akan membunuhnya".

betul tidak?



"tidak ada kekosongan antara dua tubuh. sebab jika ada kekosongan antara dua tubuh, maka dua tubuh akan bersentuhan".

apakah Kang Asep menduga pernyataan diatas sama artinya dengan: "tidak ada kekosongan antara dua tubuh, sebab dua tubuh tidak bersentuhan" ??

bukan begitu kang, justru kalimat tsb berarti: "tidak ada kekosongan antara dua tubuh, sebab kedua tubuh akan bersentuhan".

ajaib bukan?

Kang Asep menduga bahwa ada "premis tersembunyi", yaitu premis bukan B. sehingga bentuk silogismenya terlihat sama dengan pernyataan tentang matahari terbenam.
premis nampak: jika A maka B
premis tersembunyi: tidak B
konklusi: bukan A

padahal tidak demikian.

pernyataan tentang matahari dan tentang kekosongan memang memiliki bentuk "premis nampak" yang sama yaitu "jika A maka B", dan juga memiliki bentuk konklusi yang sama yaitu "bukan A".
tapi, bentuk "premis tersembunyi"nya berbeda.

bisakah Kang Asep menemukan bentuk dari premis tersembunyi tsb?
saya beri petunjuk: premis tersembunyi tsb tidak berbentuk negasi, tapi berbentuk implikasi.

« Edit Terakhir: Januari 27, 2014, 02:07:53 AM oleh Sandy_dkk »
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Petitio Descartes
« Jawab #14 pada: Januari 27, 2014, 06:32:54 AM »
Kutip dari: sandy
nah, begini lebih baik.

"matahari belum terbit. karena jika matahari terbit, maka hari sudah siang."
A = matahari terbit
B = hari sudah siang
bukan A = matahari belum/tidak terbit
tidak B = hari belum/tidak siang

"tidak ada makhluk hidup di bumi. karena jika ada makhluk hidup di bumi, bumi akan membunuhnya."
A = ada makhluk hidup di bumi
B = bumi akan membunuhnya (makhluk hidup)
bukan A = tidak ada makhluk hidup di bumi
tidak B = bumi tidak akan membunuhnya

begitu kan?

betul begitu.

Kutip dari: sandy
bukan begitu kang, justru kalimat tsb berarti: "tidak ada kekosongan antara dua tubuh, sebab kedua tubuh akan bersentuhan".

tidak bisa begitu! kang sandy sudah masuk ke fallacy 4 term. term "bersentuhan" tidak sama dengan term "akan bersentuhan".

Kutip dari: sandy
justru maksud Kang Asep sebenarnya adalah bukan A, sebab B: "tidak ada makhluk hidup di bumi, sebab bumi akan membunuhnya".

betul tidak?

tidak betul. yang saya garis bawahi itu bukan maksud saya.

pernyataan tidak A, sebab jika A, maka B. ini sama artinya dengan Tidak A, sebab tidak B.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
2239 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 12, 2014, 07:59:51 AM
oleh Kang Asep
3 Jawaban
1224 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 03, 2014, 10:07:37 PM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
606 Dilihat
Tulisan terakhir April 09, 2015, 01:37:12 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan