Penulis Topik: contoh irrelevant Conclusion  (Dibaca 4134 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9522
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 480
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
contoh irrelevant Conclusion
« pada: Juli 03, 2012, 04:06:10 PM »
sekarang zamannya pertanyaan dan jawaban susah nyambungnya, tapi lebih susah lagi orang yang menyadarinya.

Kutip dari: zdy

Kang Mushaib Anda telah berlebihan.  Anda memang berilmu, tapi agak berlebihan.  Apakah anda ingin memberitahukan seseorang bahwa "Kamu itu bodoh".

inti pertanyannya adalah tentang "keinginan"

Kutip dari: mushab
Antum ini kenapa?
Lihatlah tulisan saya kang.
Apa saya mengatakan seseorang itu bodoh?
Sama sekali tidak....bahkan walau satu huruf-pun.

jawabannya adalah tentang "perkataan yang ditulis".

ini seperti "Apakah anda ingin minum kopi,  tuan?"

menanyakan tentang "apa yang diinginkan si tuan".

si tuan menjawab, "Dengarkan baik-baik, apakah saya pernah mengatkan bahwa saya minum kopi? bahkan tidak pernah sekalipun".

jawabannya adalah "apa yang pernah dikatakan".

lain tanya, lain jawaban. pas, sama-sama "lain".

---------



betul KAng..klo bgitu itu dalam ilmu logika, namanya apa kang? cacat logika ya? hihihi

itu namanya irrelevant conclution. artinya antara pertanyaan dan jawaban tiada sangkut pautnya.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9522
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 480
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:contoh irrelevant Conclusion
« Jawab #1 pada: Juli 19, 2013, 07:57:33 PM »
Para pembaca yang baik dan berbudi luhur,

Bagaimana bila Anda bertanya kepada seorang teman melalui telepon, “Di mana kamu sekarang berada?” lalu teman Anda menjawab, “Saya sedang makan.” Apakah jawaban teman Anda itu sesuai dengan pertanyaan Anda atau tidak? Yang ditanyakan soal tempat, tapi dijawab tentang apa yang dilakukan, tentu jawaban itu tidak relevan. Tapi kita tahu, dalam komunikasi sehari-hari kesalahan sperti itu sering terjadi. Tapi karena biasa, jangan lantas sesuatu itu dianggap benar. Sesuatu tidak harus dianggap benar, hanya karena sesuatu itu biasa terjadi.

Contoh lainnya dari jawaban yang irrelevant, ketika saya melihat seorang anak memasuk-masukan kelereng warna warni ke dalam botol, lalu saya bertanya, “Apakah kamu memasukan kelereng warna hitam?” si anak menjawab, “Saya memasukan kelereng warna kuning.” Jawaban tidak mengena, karena saya tidak bertanya, “kelereng warna apa yang kamu masukan ke dalam botol nak?” sekilas jawaban si anak tampak sesuai, karena sama-sama membicarakan kelereng. Tapi sebenarnya tidak relevant, karena yang satu berbicara tentang term “kelereng hitam” dan yang lain berbicara tentang “kelereng kuning”. Tapi ya namanya juga anak-anak, ya dibiarkan saja dulu. Pada waktu yang sesuai, seharusnya dia diajari untuk memberi jawaban yang relevant.

Agar lebih jelas, saya berikan satu contoh lagi. Ada orang bertanya tentang seseorang, “Apakah mungkin Hitler membunuh ribuan orang Yahudi?” jawaban yang tepat dari  pertanyaan ini adalah “mungkin” atau “tidak mungkin”. Tapi kalau jawabanya malah menjelaskan, “siapa itu Hitler”,  jadinya tidak relevant, misal “Hitler itu kan bukan perokok, bukan pula pemabuk.” Atau menjawab dengan “Yang membunuh ribuan orang itu sangat biadab.” Atau “Biar sajalah Hitler membunuh ribuan orang, toh yang dibunuh juga orang Yahudi.”

Tampaknya pertanyaan dan jawaban ada hubungannya, karena sama-sama mengandung kata Hitler. Tapi coba cermati dengan benar, jawaban-jawaban itu tidak berhubungan. Dan dalam logika jawaban seperti itu disebut Irrelevant Conclution.

Kesalahan serupa itu juga terjadi di forum-forum online, terutama banyak dilakukan oleh para debator. Tidak nyambungnya antara pertanyaan dan jawaban bisa menandakan lemahnya akal. Dan lemahnya akal, bisa diakibatkan karena orang selalu memanjakan diri dalam perdebatan-perdebatan yang kotor, yang merusak diri sendiri maupun orang lain. Tidak jarang saya menemukan orang ditanya ini menjawab itu, ditanya itu menjawab ini. Lain pertanyaan, beda jawaban. Akal mereka seperti tertutup oleh kabut kekotoran batin, dan selalu menanggapi negatif perkataan dan pertanyaan orang lain. Jangalah Anda mengikuti perilaku mereka!

Perhatikan dialog saya dengan Shafiq di myquran.org. pertama-tama dia menyatakan bahwa Abu Bakar r.a merupakan wali Allah, sehingga ia menganggap bersalah kepada orang yang dianggapnya memusuhi Abu Bakar. Dalam hal ini, saya tidak tahu atas dasar apa Abu Bakar dikategorikan sebagai waliyullah. Yang saya tahu, Abu Bakar adalah sahabar Rasulullah. Tapi saya tidak menyangkal keyakinan dia bahwa Abu Bakar wali Allah. Tapi saya juga tidak tahu, siapa yang dianggap memusuhi Abu Bakar atau Wali Allah.

Saya berasumsi bahwa yang dia maksud kelompok orang yang memusuhi wali Allah adalah kaum syiah. Dalam berdiskusi, asumsi ditempatkan sebagai “hipotesa yang butuh pembuktian”. Oleh karena itu, jika kemudian saya bertanya, “Siapakah yang dimaksud kelompok orang yang memusuhi wali Allah?” bukan artinya tidak punya asumsi, dugaan atau hipotesa, tapi justru untuk mengubah asumsi menjadi kebenaran faktual. Kalau Shafiq menjawab, “kaum syiah adalah yang memusuhi wali Allah”, berarti hipotesa saya telah berubah menjadi kebenaran faktual.

Selanjutnya saya bertanya, “Apakah mungkin wali Allah menyakiti wali Allah lainnya?” dan jawabannya adalah “yang menyakitinya adalah yang mengaku mengikutinya.” Jawaban ini seperti jawaban, “Yang membunuh ribuan orang yang Yahudi sangatlah biadab.” Ketika dia tanya, “Apakah mungkin Hitler membunuh ribuan orang Yahudi?”

Sebenarnya saya menghormati Shafiq, karena keluasan wawasannya di bidang ilmu agama, sebagaimana saya menghormati Mushab bin Umair yang juga luas wawasan keagamannya. Saya mengenal keduanya sejak sepuluh tahun lalu. Tapi keduanya bertentangn faham. Faham Shafiq bercorak tasawuf. Sedangkan faham Mushab bin Umair bercorak wahabi. Dan keduanya sejak lama sudah menjadi lawan debat yang sengit. Tapi yang saya sesalkan, keduanya sering membuat kesalahan-kesalahan logic, seperti yang saya paparkan di atas. Kalau diibaratkan pemrograman, itu programnya tidak akan berfungsi dengan baik. Karena di dalam scriptnya terdapat banyak bugs. Oleh karena itu, saya selalu ingin terus menodorong orang-orang untuk lebih bertekun mempelajari Logika untuk menghindarkan diri dari kesalahan-kesalahan berpikir. Luas wawasan, tapi tidak bisa menggunakan logika dengan baik, itu sangat menyedihkan.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 22
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:contoh irrelevant Conclusion
« Jawab #2 pada: Agustus 29, 2013, 08:56:45 PM »
Suami Istri terlibat dalam suatu percakapan. Melihat suaminya mengambil jaket dan kunci motor istrinya bertanya,

Istri            : Ayah mo kemana?
Suami         : Mo ke Cengkareng!
Istri            : Kok gak pake Helm?
Suami         : Temen ayah kemarin jatuh dari motor kakinya patah, padahal dia pake helm!
Istri            : ?!?!?!

Masuk kategori irrelevant conclusion gak Kang?
 

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9522
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 480
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re: contoh irrelevant Conclusion
« Jawab #3 pada: September 21, 2013, 02:00:30 AM »
ya
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
10 Jawaban
5215 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 21, 2013, 04:43:23 PM
oleh kang radi
0 Jawaban
706 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 10, 2015, 07:37:10 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
811 Dilihat
Tulisan terakhir November 24, 2015, 11:29:01 AM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
6632 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 28, 2015, 11:53:25 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
559 Dilihat
Tulisan terakhir April 03, 2016, 12:29:58 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
370 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 05, 2016, 08:33:59 PM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
438 Dilihat
Tulisan terakhir September 02, 2016, 11:07:41 PM
oleh Kang Erik
0 Jawaban
223 Dilihat
Tulisan terakhir September 19, 2017, 05:43:39 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
105 Dilihat
Tulisan terakhir November 02, 2017, 05:44:43 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
127 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 27, 2018, 08:44:34 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan