Penulis Topik: Cara Yang Paling Tepat Dalam Menghadapi Fallacy dalam Komunikasi  (Dibaca 1405 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9526
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 481
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Kutip dari: Agams
Akal sehat saya juga mengatakan Ulama tidak ma'shum, bisa benar dan bisa juga salah.
Dan akal sehat saya juga mengatakan, kl ada orang yg levelnya ilmunya jauh2 dibawah ulama dan belum ada satu pun dari para ahli ilmu mengakui keilmuannya, lalu mengeritik pendapat ulama tsb, maka siapa pun yg mengatakan bahwa pendapat orang tsb yg lebih bener, maka perlu dipertanyakan kesehatan akalnya, kecuali dia mengeritik dg menggunakan pendapat ulama lain yg berbeda pendapat dg ulama tsb.

Muter seribu kali mengatakan begini. Dia kan sudah mengatakan “ribuan kali”, kalo kita-kita ini gak pantas mengkritik ulama kepercayaan dia, karena kita gak selevel dengan ulama-ulama itu. Di halaman sebelumnya dia sudah mengatakan ini, di halaman sebelmnya dan sebelumnya. Dia akan mengatakan hal ini lagi di halaman berikutnya, berikutnya dan berikutnya. Dia akan mengatakan hal serupa dari awal hingga akhir. Hanya itu saja materi yang dia miliki. Jika hanya ini argumentasinya, tidak perlu ada diskusi. Karena selamanya sepanjang zaman, kita akan selalu salah dari agams. Argumentasi kita selalu dianggap tidak sah dan kalah dari pada argumentasi Agams. Sebab, argumentasi Agams itu dari para ulama yang tabu untuk dikritik.

Karena itu, saya tidak dapat mengikuti anjuran Hamaslover untuk berhenti mempergunakan istilah-istilah logika kepada Agams yang anti Logika dengan harapan agar argumentasi saya dapat diterima oleh Agams. Tidak, ...itu mustahil. Sebelum diskusi saya sudah tau, hasilnya pasti nihil. Yang paling berguna untuk disampaikan kepada dia hanyalah argumentum ad hominem dan argumentun ad ignoratioum. Semua itu untuk mengimbangi Fallacy yang datang dari dia. Sebagaimana istilah “tidak ada jawaban yang benar bagi pertanyaan yang salah”, demikian pula tidak akan ada argumentasi yang benar bagi mereka yang tidak mengerti arti sebuah Konklusi. Tidak ada lawan yang paling tepat dari fallacy, kecuali Ad hominem dan Ad Ignoratium. Saya rasa, Hamaslover telah dapat melihat kebenaran apa yang saya sampaikan ini.

Tetapi Argumentum ad Hominem adalah sesuatu yang menyentuh mental atau perasaan. Jika saya tidak dapat membuat dia mengerti, maka saya dapat membuatnya marah dan benci. Kemarahan dan kebencian itu sendiri merupakan suatu pertanda adanya sesuatu yang telah luka di dalam batinnya. Luka itu tidaklah dibuat oleh saya, tetapi dibuat oleh dirinya sendiri. Jika dia seorng yang sabar, ikhlas dan berada di atas kebenaran, niscaya tidak akan mengalami kelukaan batin seperti itu. Saya biarkan dia terluka agar dia mencari dan menemukan obatnya sendiri. Karena pada hakikatnya, Agama adalah obat dari penyakit hati. Siapa yang tidak dapat mengendalikan diri dalam kemarahannya, di situ terlihat kelemahan kesabarannya. Di mana, orang terdesak argumentasinya kemudian terdorong emosi untuk mengeluarkan kata-kata kasar dan kotor, di situ terlihat lemahnya pengendalian diri dia. Dengan begitu, biarkan orang lain melihat sejauh mana kekohohan agamanya. Karena agama seseorang tidak diukur dari seberapa banyak ayat-ayat yang dia hafal dari kitab suci, tidak pula diukur dari banyak kata yang diucapkan, apalagi diukur dari keterampilannya dari copas pernyataan-pernyataan dari media-media online, tapi dilihat dari sejauh mana kesabaran yang dia miliki, keikhlasan di dalam perbuatan dan bagaimana cara dia memperlakukan orang lain, dilihat dari sejauh mana akhlak dan budi pekertinya.

Adapun Argumentum Ad Ignoratium, akan berguna bagi orang-orang seperti Agams ketika dia sedang dalam kondisi “bersemangat untuk menyangkal”. Dalam kondisi ini, maka sangat tepat bila kita memberikan Argumentun Ad Ignoratium. Karena terdorong oleh kebencian, daya timbang akalnya akan lemah. Satu-satunya hal yang dia inginkan adalah menyangkal dan menyalahkan lawan bicaranya secara terus menerus. Dengan bersemangat dia akan berkata, “tidak”, “tidak” dan “tidak” kepada pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan. Fahamilah, dalam kondisi ini pikirannya sudah terlalu ruwet untuk berpikir jernih. Maka teruslah ajukan pertanyaan-pertanyaan yang akan dia jawab “tidak”. Lalu selipkan pertanyaan-pertanyaan yang bila diajukan dalam keadaan normal, maka dia akan jawab “ya”, tapi dalam kondisi pikiran yang ruwet ini, dia akan menjawabnya dengan tidak. Ini berarti bentuk penyangkalan terhadap dirinya sendiri.

Gambarannya seperti permainan tanya jawab pada anak-anak, di mana pertanyaan diajukan secara cepat, “Kamu suka mencurinya ya?”

Anak jawab, “tidak”.

“kamu suka bohong ya?”

“tidak” jawab si anak dengan tensi emosi yang meningkat. Setelah banyak pertanyaan yang terasa menyudutkan dia, dia bersemangat untuk menyangkal, dan menyangkal.

“kamu suka mandi ya ?”

“tidak!” jawab si anak cepat.

“oh .. jadi kamu tidak suka mandi ?” pertanyaan ini diulang untuk mendorong si anak memikirkan lagi pertanyaannya.

Barulah si anak sadar akan kelengahan pikirannya, “Owh.. maksud saya ya, saya suka mandi.”

Inilah contoh penggunaan ad ignoratium kepada debater yang karena terdorong emosi, sangat bersemangat untuk menyangkal, menyangkal dan terus menyangkal. Silahkan  Anda belajar dan melatih diri dalam menghadapi debater seperti itu dengan ad ignoratium.

Sejak awal saya sudah tahu, dan dapat memprediksi dengan tepat bagaimana akhir dari diskusi saya dengan orang-orang seperti Agams. Karena itu, walaupun berusaha memberikan argumentasi yang terbaik, tapi saya lebih mengutamakan menstimulasi mental mereka. Dan saya selau berhasil menggiring mental mereka, semudah menggiring sekelompok bebek berjalan ke arah kiri maupun kanan. Sampai, ketika ujungnya mereka putus asa dari menanggapi komentar saya, dan mengabaikan saya, memang itu adalah salah satu kondisi yang menjadi tujuan stimulasi mental yang saya berikan. Ketika mereka mengabaikan saya, maka saya memiliki dua opsi. Pertama, saya membiarkan mereka seperti itu, dan itu menjadi akhir dari komunikasi saya dengan mereka. Atau kedua, dengan suatu kekuatan dan cara-cara tertentu, saya akan memaksa mereka menanggapi saya kembali. Ya, saya memiliki cara-cara sistematis yang dapat memaksa mereka menanggapi saya, jika saya menginginkannya. Dan seringkali keingingan saya, seiring dengan kondisi yang muncul. Seperti mengingikan malam, setelah matahari terbenam dan menginginkan siang setelah matahari terbit. Dan kadang seperti waktu tempuh yang bisa dipercepa atau diperlambat, jika saya ingin cepat sampai pada suatu tujuan, maka saya berlari, dan kadang cukup dengan berjalan kaki saja, walaupun harus lebih lama menempuh perjalanan. Semua itu tegantung minat hati saja.  Yang pasti, saya mempunyai cara sistematis untuk membuat mereka mengabaikan atau menanggapi saya.

Perhatikan, Agams dan Mohidin dalam beberapa halaman terakhir ini tidak lagi menanggapi komentar-komentar saya, apapun yang saya katakan tentangnya. Apa Anda kira itu atas kemauan dia sendiri ? Tidak ... saya itulah yang mengkondisikan mereka seperti itu dengan stimulus-stimulus mental yang saya berikan. Jika saya menginginkan, maka saya dapat membuat mereka menanggapi kembali komentar-komentar saya terlepas dari apakah mereka menginginkannya atau tidak. Apalagi di dunia nyatam hal itu lebih mudah dilakukan.  Anda boleh percaya atau tidak percaya. Yang jelas, saya hanya akan membuktikan kebenaran perkataan saya ini ketika saya berminat membuktikannya. Dan kemampuan melakukan stimulus mental seperti ini, hanya akan saya ajarkan kepada mereka yang memang sangat ingin mempelajarinya. Para murid yang telah cukup lama belajar ilmu logika dan mistik di bawah bimbingan saya, tidak akan terlalu sulit memahami kebenaran yang saya katakan, karena mereka telah melihat banyak contoh-contohnya. Semua ini memang harus saya ajarkan kepada para murid untuk menghadapi orang-orang yang selalu berfallacy dalam berkomunikasi.

Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Monox D. I-Fly

Re:Cara Yang Paling Tepat Dalam Menghadapi Fallacy dalam Komunikasi
« Jawab #1 pada: Maret 30, 2015, 10:16:44 AM »
Hmmm... Batman Gambit ya... Hebat juga Abang bisa menggunakannya... Abang memang pantas jadi admin forum logika...  :13:
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
1 Jawaban
1797 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 11, 2017, 02:14:04 PM
oleh retado
2 Jawaban
1465 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 16, 2013, 04:37:07 AM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
3811 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 21, 2013, 03:45:29 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
2239 Dilihat
Tulisan terakhir November 14, 2013, 02:46:22 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
806 Dilihat
Tulisan terakhir November 27, 2013, 09:07:00 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
738 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 04, 2014, 06:17:10 AM
oleh Abu Zahra
2 Jawaban
1082 Dilihat
Tulisan terakhir September 13, 2015, 08:55:10 PM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
780 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 20, 2015, 07:51:50 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
423 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 16, 2015, 11:36:26 AM
oleh joharkantor05
0 Jawaban
468 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 02, 2016, 07:29:55 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan