Penulis Topik: Bahaya Berpegang pada Argumentum Ad Verecundiam  (Dibaca 19 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9264
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 353
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Bahaya Berpegang pada Argumentum Ad Verecundiam
« pada: Desember 03, 2017, 10:17:31 AM »
SK : Argumentum Ad Verecundiam
====================
1. Contoh Argumentum Ad Verecundiam
1.1. Menurut Ilmuwan
1.2. Produk Ilmiah Yang Digeneralisasi
2. Humor Verecundiam
3. Berpegang Pada Argumentum Ad Verecundiam
3.1. Bahaya Berpegang Pada Argumentum Ad Verecundiam
4. Antara Argumentum Ad Verecundiam Dan Kedudukan Nash
5. Argumentum Ad Verecundiam Dalam Ayat Suci
6. Fanatisme Yang Merugikan
7. Hujjah Internal Dan Eksternal
8. mengenali kebenaran
9. Kesaksian
10. Kebenaran Ajaran Yang Bersanad

Jumlah Karakter : 47,705
Kira-kira : 24 halaman A5
====================

3.1. Bahaya Berpegang Pada Argumentum Ad Verecundiam
Edisi : 03 Desember 2017, 07:30:42

Jika dapat, tentu kita ingin seluruh keyakinan kita berlandas pada argumentum ad judiciam, suatu keyakinan yang kebenarannya dapat dibuktikaan saat ini di sini juga. Tetapi dalam kehidupan ini, kita tidak dapat menghindari dari argumentum ad verecundiam. Kita membutuhkan petunjuk para ahli. Karena itu, kita perlu mendengarkan pada para ahli untuk memperoleh pengetahuan-pengetahuan yang berguna dan dapat menjadi jalan keselamatan bagi kita. Tapi di sisi lain, jika kita salah mempercayai orang, maka kepercayaan kita terhadapnya mengandung bahaya besar.

Misalnya ada orang memberitahu Anda, bahwa Anda harus segera meninggalkan rumah Anda dan mengosongkan isinya. Jika tidak, maka rumah Anda akan roboh dan keluarga Anda akan celaka.

Jika orang itu berkata benar dan Anda tidak mempercayainya, atau orang itu berkata bohong sedangkan Anda mempercayainya, maka rugilah Anda. Jika orang itu berkata bohong, dan Anda tidak mempercayainya, atau orang itu berkata benar dan Anda mempercayainya, maka Beruntunglah Anda. Jika dapat, tentu Anda ingin menguji kebenaran setiap pernyataan. Tapi tidak akan dapat menguji kebenaran setiap perkataan orang. Dan dalam contoh kasus ini,  tidak ada jalan bagi Anda untuk menguji dan membuktikan kebenaran dari pernyataanya. Karena itu lah disebut argumentum ad verecundiam.

Anda dapat mengambil satu keputusan yang anda sangat yakini benar.  "Saya yakin, dia itu bohong, saya tidak percaya dengan perkataannya, maka saya tidak akan meninggalkan rumah saya." Tapi sekuat-kuatnya keyakinan Anda, secara logika itu tidak mustahil keyakinan dan keputusan Anda itu salah. Demikian pula, kita nyaman tidur di dalam rumah setiap malamnya, karena yakin dengan keamanan rumah. Walaupun kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi hari esok. Karena tidak ada dalil yang memustahilkan sesuatu yang buruk terjadi. Akan tetapi, tidak hanya kebenaran-kebenaran logic, melainkan kita perlu menjuga menggunakan rasionalisme. Kita meninggalkan rumah, karena khawatir tertimpa longsor, sedangkan tak ada angin, tak ada hujan, tak ada tanda-tanda akan terjadinya longsor, maka kekhawatiran ini disebut tidak rasional. Walaupun secara logika, bukan sesuatu yang mustahil terjadi. Dengan demikian logika dan rasional adalah hal yang berbeda.

Seperti cerita seekor tikus pembohong, dapat kita petik hikmahnya.

Judul Cerita : Mocky, Tikus Pembohong
---------------------------------
Ketika para tikus sedang asyik bermain, seekor tikus bernama Mocky berteriak, "ada kucing... Lari .. !" semua teman-temannya lari terbirit-birit masuk lubang. Si Mocky tertawa. Dia sendiri masih asyik bermain di luar. Barulah teman-temannya sadar, bahwa si Mocky telah berbohong. Lalu para tikus keluar lagi dengan rasa kesal.

Sedang asyiknya bermain, tiba-tiba si Mocky berlari ke dalam lubang, "Ada kucing... Ayo lari."

"Ah kamu bohong !" ujar teman-temannya.

"Aku tak akan lari, kalau aku bohong."

Mendengar itu, para tikus percaya, lalu lari ke dalam lubang. Setelah semua tikus ada di dalam lubang, dengan jantung berdebar-debar, si Mocky lompat ke luar dan tertawa, "tertipu kalian." teman-temannya kesal, menggerutu dan memukul si Mocky. Tapi si Mocky senang, merasa bisa ngerjain teman-temannya.

Setelah semua tikus keluar kembali, untuk ketiga kalinya si Mocky berteriak, "ada tikus .... Ayo lari.." si Mocky lari terbirit-biri ke dalam lubang.

Kawan-kawannya menggerutu, "Huh... Dasar pembohong... Aku tidak akan percaya lagi dengan ucapanmu." semua tikus setuju, kalau si Mocky pembohong dan tidak perlu dipercayai. Tapi tiba-tiba "tap!" seekor tikus tertangkap kucing. Kali ini si Mocky tidak berbohong, memang ada seekor kucing sedang mengintip. Setelah semua sadar bahwa si Mocky tidak berbohong, barulah semua tikus yang lain lari ke dalam lubang. Tapi seekor tikus lainnya tidak selamat. Kucing telah membawanya pergi dan akan memakannya. Hal itu membuat si Mocky dan para tikus lainnya merasa sedih.
================

Ketidak percayaan para tikus pada si Mocky adalah berdasarkan analogi. Berkali-kali si Mocky berbohong, maka kali ini juga si Mocky diyakini berbohong. Keyakinan ini rasional. Tapi secara logika, walaupun 999 kali si Mocky berbohong, tidak mustahil ucapannya yang ke 1000 itu jujur. Hal sebaliknya dapat terjadi, walaupun 999 kali orang berkata jujur, tidak mustahil perkataannya yang ke 1000 merupakan perkataan yang bohong. Demikian pula, ketika Anda hendak berpegang pada suatu argumentum ad verecundiam, Anda perlu menguji kredibiltas seseorang, terutama kejujurannya. Tapi Anda perlu mengingat masalahnya, bahwa pertama tidak mustahil Anda keliru menilai seseorang. Kedua, walaupun penilaian Anda tidak keliru, seseorang yang disebut pendusta tidak selamanya berdusta. Seseorang yang dikenal jujur, tidak mustahil kali ini melakukan kebohongan. Dengan demikian, saat Anda berpegang pada argumentum ad verecundiam, Anda tetap dihadapkan pada bahaya.

Mempertimbangkan kredibilitas sumber informasi merupakan bagian dari rasionalisme.  "perhatikan apa yang dibicarakan, bukan siapa yang bicara". Ini benar. Tapi dalam kasus lain, melihat siapa yang bicara, itu juga penting.  Jika saya hidup di kaki gunung tertentu, lalu ada orang gila berkata, "gunung ini akan meletus, ayo segera pindah". Maka tentu tidak saya gubris. Walaupun tidak mustahil perkataan orang gila tersebut benar, tapi tidak ada alasan bagi saya untuk mempercayai perkataan orang gila. Tapi kalau yang bicara itu adalah ahli vulkanologi yang sudah jelas ditunjuk oleh pemerintah, maka ini menjadi alasan bagi saya untuk mempercayainya, jika ia katakan gunung akan segera meletus. Karena tentu, orang ini tidak akan sembarangan bicara, melainkan atas dasar-dasar ilmu. Walaupun tidak menutup kemungkinan, yang disebut ahli vulkanologi pun salah prediksi. Sementara saya sebagai orang awam, tidak ada jalan untuk membuktikan sendiri kebenaran ucapannya, tetapi semua fakta yang dapat saya ketahui menunjukan bahwa orang  tadi merupakan seorang ahli, berpengalaman dan jujur, sehingga menimbulkan keyakinan bahwa ucapannya benar. Sedangkan pada orang gila, semua fakta menunjukan bahwa orang gila tersebut suka membual, sehingga menjadi dasar untuk tidak percaya pada perkataannya.

Jadi, dalam kehidupan ini kita tidak dapat menghindarkan diri dari argumentum ad verecundiam. Tetapi, kita dapat meminimalisir bahaya akibat berpegang pada argumentum ad verecundiam, dengan cara mencari fakta-fakta tentang seorang yang menjadi sumber informasi, apakah dia seorang ahli atu bukan, jujur atau pembohong, orang yang konsisten atau tidak, shaleh atau tidak, dan sebagainya.

Selanjutnya, mari kita mencoba menarik hikmah dari berbagai kisah berikut :

Kisah Nabi Nuh as
----------------------------
Seperti halnya bahtera nabi Nuh as, menjadi jalan keselamatan bagi orang-orang yang beriman, yang percaya pada seruan sang Nabi. Tetapi orang kafir, mentertawakan, tidak percaya dan enggan untuk naik ke dalam perahu Nuh as. Bagi mereka tidaklah masuk akal, bagaimana perahu besar dibuat di hutan di sebuah dataran yang tinggi, sehingga datangnya banjir besar dianggapnya tidak rasional. Kaum yang percaya kepada Nuh as dianggap kaum yang bodoh, yang percaya begitu saja pada ucapan sang Nabi. Tapi ternyata "kebodohan" mereka itulah yang menyelamatkan mereka, ketika banjir besar benar-benar terjadi.
=====================

Mengapakah keshalehan dan kejujuran nabi Nuh as tidak membuat mereka menyimpulkan bahwa perkataan Nuh as pasti benar ?

Beruntunglah mereka yang percaya kepada para nabi dan rasul Allah. Tidak perlu terlalu banyak mengasah otak, tidak perlu berpikir terlalu keras untuk menuju keselamatan, cukup menjalankan prinsip "sami`na wa atho`na mas tatho`na", kami mendengar, kami taat semampu kami. Tapi keaatan seperti ini, justru akan membawa celaka kalau ditujukan kepada seorang penipu. Seperti orang yang ditanya tentang suatu hukum, tapi ia tidak mengetahui jawabannya. Hanya saja, merasa malu untuk dianggap tidak tahu, lalu mengarang hukum. Seperti kisah seorang yang menabrak kucing.

Kisah Penabrak Kucing
----------------------------
Fulan menabrak seekor kucing. Lalu Fulan khawatir bahwa hal itu akan mengakibatkan sial baginya. Karena itu, dia bertanya pada Mbah Jaya, tentang apa yang harus dilakukan. Sebenarnya Mbah Jaya tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tapi prestise nya akan turun bila dia katakan tidak tahu. Akhirnya dia mengarang cerita bahwa arwah kucing akan membalas dendam kepada si Fulan, apabila Fulan tidak menenangkan arwahnya dengan sedekah ke 40 orang miskin. Si Fulan ketakutan, lalu bersedia menyembelih sapi untuk menyelamatkan diri dari balas dendam arwah kucing. Semua prosesi upacara dipimpin oleh Mbah Jaya. Si Fulan tidak tahulah, kalau Mbah Jaya hanya membagikan empat potong daging ke pada empat orang tetangganya, dan sisanya dia miliki sendiri untuk dijual. Ini penipuan.
=======================

Si Fulan rugi, karena percaya kepada seorang penipu.

Bunuh diri Masal
---------------------
Kisah lainnya, seorang pemimpin sekte keagamaan mengajak semua pengikutnya untuk melakukan bunuh diri massal, untuk menuju dunia hidup baru. Mereka percaya pemimpin sekte tersebut seorang shaleh dan jujur, tetapi ternyata mereka dibawa melalui jalan sesat menuju jurang neraka. Mereka menderita kerugian besar karena mempercayai orang yang salah.
==============

Malpraktik
-------------------
Saya juga mendengar kisah seorang dokter yang menderita seumur hidupnya, karena kesalahan dalam proses operasi. Dia berprofesi sebagai dokter, namun dia juga mengidap suatu penyakit yang membutuhkan operasi. Lalu dia mempercayakan proses operasi itu kepada teman-temannya semasa kuliah, yang kini sudah sama-sama berprofesi sebagai dokter.  Namun, rupanya terjadi kesalahan di dalam porses operasi itu, sehingga ada bagian organ yang tidak seharusnya dipotong, malah dipotong. Satu penyakit terangkat dan muncul penyakit lain yang lebih parah, karena organ yang terpotong tersebut tidak ada cadangannya. Dia telah mempercayai orang yang salah.
==============

Kebal Air Keras
-----------------------
Juga kisah lain dari para penganut ilmu kanuragan, banyak kasusnya terjadi, mereka percaya telah diajari ilmu kebal air keras, sehingga bersedia untuk dimandikan air keras oleh gurunya. Tidak berapa lama, mereka kejang-kejang dan meninggal dengan kulitnya yang melepuh di sekujur tubuhnya. Mereka celaka karena mempercayai orang yang salah.
================

Untuk menghindari bahaya argumentum ad verecundiam, kita memang perlu mempertimbangkan kredibilitas sumber informasi sebagai bagian dari rasionalisme. Persoalannya, bagaimana kita mengetahui kredibilitas tersebut dengan benar ? Merupakan hal yang rasional, bila kita tidak akan mempercayai ucapan seseorang yang dikenal sebagai pembohong, tapi apa yang menutup kemungkinan bahwa kabar yang sampai pada kita tentang seseorang yang dituduh pendusta itu sebenarnya kabar bohong ? Kita cenderung untuk mempercayai ucapan orang yang dikenal shaleh dan jujur. Tetapi apa yang menutup kemungkinan bahwa kabar tentang kejujuran orang tersebut adalah bohong ? Intinya, tidak mustahil kita keliru menilai kredibilitas suatu sumber informasi. Persoalan ini juga yang mendasari saya mengkritisi soal kaidah sanad ilmu hadis.

Banyak wanita yang selama bertahun-tahun mengalami KDRT, sehingga mengalami penderitaan yang berat. Walaupun demikian, mereka tidak berani untuk mengajukan gugat cerai ke pengadilan. Karena setiap kali bertanya kepada Ustadz, maka para ustadz itu menerangkan bahwa merupakan dosa besar apabila seorang istri meminta cerai dari suaminya. Saya mendengar sendiri diantara mereka ada yang berkata, "langit pun pecah, apabila seorang istri meminta cerai dari suami." yang lainnya berkata, "seorang istri tidak dapat bercerai dari suami, sampai suaminya mau menceraikan. Karena hak talak itu ada pada suami. Selama suami tidak mau mengucapkan talak, maka pengadilan tidak akan pernah mengabulkan cerai." ada juga yang mengatatakan "cerai itu dibenci Allah, walaupun halal." Para wanita ini berpikir, "semua ustadz mengatakan hal yang sama. Ini berarti mutawatir, shaheh. Mereka adalah para ulama yang saya percayai. Karena itu, perkataannya pasti benar." dengan demikian, walaupun wajah mereka hancur babak belur karena sering diajar suaminya, mereka hanya diam dan pasrah.

Ketika diantara mereka mengadukan kesusahannya pada saya, maka saya hanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti biasa, "tanyakan pada para ustadz itu, apabila perceraian itu halal, tetai dibenci Allah, maka apakah Allah membenci sesuatu yang halal ?"

lalu dikatakan, "katanya ada dalam hadis".

Saya katakan lagi, "pertanyaan saya, bukan ada atau tak adanya hadis, tapi apakah Allah membenci sesutu yang halal ? Pertanyaan lainnya, jika perceraian merupakan dosa besar, sampai-sampai langit pun hendak pecah, mengapa lalu Allah menghalalkannya ? Apakah Allah menghalalkan dosa besar ?"

Saya tidak perlu mengajari wanita ini tentang dalil ini dan itu. Saya hanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan, yang dengan pertanyaan itu para wanita tadi mau berpikir secara kritis, dan menemukan kebenaran, sehingga dapat berlaku adil terhadap dirinya sendiri dan orang lain. Karena pengetahuan yang benar itu saudaranya keadilan dan kebijaksanaan. Sedangkan kebodohan itu adalah saudaranya kedzaliman. Dengan cara seperti itu, akhirnya banyak diantara mereka yang akhirnya berani melawan kedzaliman -membebakan diri mereka dari penganiyaan yang dilakukan oleh suaminya selam bertahun-tahun - dengan cara menggugat cerai ke pengadilan. Satu-satunya yang membuat mereka bertahan dalam ketidakadilan itu hanyalah percaya pada kebohongan orang-orang yang dia yakini sebagai orang jujur dan mulia.

Argumentum ad Verecundiam, bukanlah sesuatu yang buruk ataupun baik. Baik buruk tergantung pada bagaimana menempatkannya. Kekeliruan dalam menempatkan argumentum ad vereundiam, itulah yang buruk. Bahkan saya melihatnya seperti "wabah penyakit" yang sudah menjangkiti umat manusia dari zaman ke zaman. Itulah mengapa, bangsa kita saat ini mudah sekali terprovokasi oleh hoax atau kabar bohong.

Kajian tentang hal ini, insya Allah akan saya lanjutkan dalam tuilsan berjudul "Problematika Sanad Hadis".

« Edit Terakhir: Desember 03, 2017, 10:19:06 AM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
1181 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 20, 2013, 07:25:40 PM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
1359 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 10, 2013, 10:21:49 PM
oleh Asterisk
0 Jawaban
1730 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 05, 2014, 11:12:41 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
365 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 14, 2015, 02:06:44 AM
oleh Akang
1 Jawaban
438 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 15, 2015, 09:34:09 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
273 Dilihat
Tulisan terakhir September 20, 2016, 03:25:53 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
202 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 29, 2016, 10:11:35 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
289 Dilihat
Tulisan terakhir April 21, 2017, 11:39:24 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
100 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 30, 2017, 11:24:34 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
5 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 10, 2017, 08:08:38 AM
oleh comicers

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan