Penulis Topik: Tawuran Perguruan Silat  (Dibaca 6511 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9465
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 472
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Tawuran Perguruan Silat
« pada: April 25, 2014, 07:10:02 AM »
Quote (selected)
MERDEKA.COM. Ratusan massa dari perguruan silat SH Teratai mengamuk, akibatnya bus berisi peziarah yang menuju makam Gus Miek di Desa Jabang Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri, Jumat dini hari (25/4) dirusak. Tak hanya bus para pesilat itu juga merusak toko milik warga di sekitar Pasar Jabang.

Fedho, salah satu warga yang dikonfirmasi merdeka.com, menjelaskan kejadian perusakan terjadi ketika Gerakan Aksi Silat Muslimin Indonesia (GASMI) mengadakan perkumpulan di Lapangan Jabang Kecamatan Mojo, kegiatan tersebut diendus oleh massa SH dengan mengerahkan ratusan massa. Namun akhirnya, massa SH dibubarkan oleh warga

"Informasi awal yang saya terima merasa tidak terima dengan pembubaran massa SH, akhirnya berulah dengan merusak bus peziarah yang menuju makam Gus Miek dan juga merusak toko yang ada di Pasar Jabang," kata Fedho, Jumat dini hari (25/4).

Aksi perusakan memicu kemarahan warga, dengan senjata tongkat, pedang dan senjata lainnya warga mengejar massa SH yang telah membuat keonaran di wilayahnya. Kejadian tersebut langsung mendapat tanggapan dari aparat keamanan yang menerima laporan terjadinya kerusuhan tersebut.

Dipimpin langsung Kapolres Kediri Kota, AKBP Budhi Herdi S, ratusan aparat kepolisian dikerahkan untuk menjaga keamanan dan mengejar massa SH yang telah membuat kerusuhan.

Dikonfirmasi melalui Kabag Humas Polres Kediri Kota, AKP Siswandi, menjelaskan saat ini anggotanya sedang siaga di sekitar lokasi kejadian dan sebagian mengejar massa SH yang membuat kerusuhan.

"Kami masih siaga di lapangan dan mengejar massa SH yang telah membuat kerusuhan," katanya pada merdeka.com.

saya heran dengan tradisi PSHT ini, kalau ada masalah main keroyokan, main tawuran. apakah ini sudah menjadi doktrin dan tradisi perguraun ? mengapa tidak berusaha menyelesaikannya dengan cara hukum ?

kalau di perguruan kami, ketika ada anggota yang punya masalah dengan preman atau anggota perguruan lain, maka kami mencoba menyelesaikannya dengan jalan musyawarah. bila belum dapat diselesaikan, tempuh jalur hukum. tapi, kalau cukup berani ditantang duel satu lawan satu, sebatas pada orang yang bersangkutan saja. kalau tidak berani, ya sudah mengaku kalah dan minta maaf. urusan selesai. tidak harus melibatkan guru atau anggota perguruan lain.

ilustrasinya, Japar punya masalah dengan Dudu, anggota perguruan lain. Problemnya rebutan cewek, sampai Dudu meledek Japar dan perguruannya. Japarpun mengadu pada gurunya. Akhirnya pihak perguruan Japar mengirim surat "Tantangan Duel" kepada perguruan Dudu. yang akan duel adalah antara Japar dan Dudu, disaksikan oleh kedua anggota perguruan. kalah menang, kedua anggota perguruan tidak boleh ikut campur. yang kalah harus mengakui dan menerima kekalahannya. yang menang tidak boleh sombong dan tetap menghormati yang kalah.

Dudu dan pihak perguruannya menyanggupi, dengan syarat siapa yang kalah tidak boleh memacari Mimin, cewek yang menjadi rebutan itu. Japar menyanggupinya. jam, hari dan tempat duel pun ditentukan. semua berlaku sportif. setelah itu masalah selesai. Japar pun boleh saja tidak menyetujui persyaratan Dudu, dan hanya mengajukan tantangan duel sekedar untuk mengukur kekuatan lawan atau unjuk kekuatan tanpa konsekuensi apapun. inilah tradisi yang berjalan di perguruan kami sejak dulu hingga sekarang. tidak pernah main tawuran atau keroyokan.

saya dengar PSHT ini, jika ada pihak yang mendirikan perguruan silat lain di wilayahnya, maka mereka tidak akan menyukainya, menganggapnya saingan dan akan berusaha membubarkan secara paksa. banyaklah sudah perguruan lain yang dibubarkan oleh PSHT ini. dan mereka menganggapnya sebagai bentuk kemenangan mereka. kalau memang begitu, mungkin mereka terlihat menang, tapi tidak terlihat bijaksana.

hal serupa pernah akan dilakukan oleh murid-murid saya. ketika mereka berusaha menjegal berdrinya perguruan baru. tapi saya berkata, "mengapa kalian benci dengan berdirinya perguruan lain ? bukankah seharusnya kalian gembira, karena mereka membantu kita membina masyarakat kita untuk sehat dan kuat secara jasmani dan ruhani ? apakah semua orang berminat belajar di perguruan kita ? bila tidak, maka biarkan yang tidak berminat belajar di perguruan kita termotivasi untuk belajar di perguruan lain!" tampaknya doktrin dan tradisi perguruan kami ini bertolak belakang dengan doktrin dan tradisi PSHT.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 20
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Tawuran Perguruan Silat
« Jawab #1 pada: April 28, 2014, 06:29:01 AM »
saya heran dengan tradisi PSHT ini, kalau ada masalah main keroyokan, main tawuran. apakah ini sudah menjadi doktrin dan tradisi perguraun ? mengapa tidak berusaha menyelesaikannya dengan cara hukum ?

Ada yang lebih mengherankan lagi Kang, anak-anak sekolah itu basic pendidikannya bukanlah pencak silat tetapi seringkali terlibat tawuran yang frekwensinya jauh lebih banyak dibandingkan dengan perguruan pencak silat yang nota bene memang diajarkan bagaimana caranya berkelahi tawuran dan semacamnya.

Warga PSHT tidaklah selalu main keroyokan dalam menyelesaikan masalah, ada pula yang mengedepankan musyawarah, duel satu lawan satu atau membawanya keranah hukum, tetapi memang tidak bisa dipungkiri ada pula yang main keroyokan.

Doktrin PSHT adalah membentuk manusia yang berbudi luhur, tahu benar dan salah. Jadi keroyokan bukanlah doktrin PSHT, keroyokan itu kemungkinan adalah manifestasi dari rasa solidaritas yang tinggi dari sesama warga PSHT.



 
 

Offline Asep

Re:Tawuran Perguruan Silat
« Jawab #2 pada: April 28, 2014, 01:03:24 PM »
jika pelajar sebuah sekolah melakukan tawuran, maka kita bisa katakan itu merupakan perbuatna oknum dari pelajar. tidak lantas kita bisa menyalahkan korps pelajar itu sendiri.

jika misalnya pelajar SMKN XXX sering tawuran, sering disoroti media karena tawuran, dan itu terjadi berulang-ulang, maka patut dipertanyakan, apa yang salah pada pelajar SMKN XXX ? patut pula diselidiki bagaimana pola pendidikan di sekolah tersebut, bisa jadi ulah para murid tersebut merupakan akibat dari salah didikan gurunya, tidak menutup kemungkinan.

Bandingkan pula dengan kasus perguruan HI yang anggotanya berkarakter "gemar menantang duel" anggota perguruan lain. jika ini terjadi pada satu zaman, tidak berulang terus menerus, dan tidak sering, maka bisa saya katakan itu merupakan ulah oknum. tapi karena hal itu sering dilakukan oleh ganggota HI, dari zaman ke zaman, dan akhirnya gurunya sendiri yang menantang saya secara langsung, maka tentu patut untuk dipertanyakan, "apakah tradisi menantang orang dari perguruan lain itu merupakan ideologi HI ataukah metoda penyebaran HI?" kami juga mengelola perguruan, di dalam kurun waktu 20 tahun anggotanya kurang lebih 12.000 orang, apakah ada orang mendengar cerita bahwa anggota perguruan kami menantang duel anggota perguruan orang lain untuk membuktikan kesaktian ? tidak ada.

Beberapa perguruan di Bandung pernah terlibat tawuran, ketika saya selidiki ternyata faktor pemicunya  merupakan hal-hal yang bukan ideologi perguruan. salah satunya adalah "akibat kesalah fahaman" atau "penganiayaan". contohnya, seorang preman berkelahi dengan sesama preman. lalu preman yang satu lari ke dalam sekretarian perguruan Y. tiba-tiba si preman yang mengejar membacok anggota perguruan Y karena dianggap melindungi preman yang sedang dikejarnya. lalu menimbulkan aksi balasan dari perguruan Y.  jadi, pemicunya adalah "penganiayaan", bukan ideologi perguruan. dan itu hanya terjadi satu kali dalam kurun 10 tahun, sejak berdirinya perguruan Y.

bagaimana dengan PSHT ? saya berkali-kali menyaksikan berita di TV di mana PSHT tawuran dengan anggota perguruan lain, tapi pemicunya bukan penganiayaan, melainkan karena anggota PSHT itu tidak suka dengan kehadiran perguruan pencak silat lain di dekatnya. dan terkesan itu direstui oleh gurunya. oleh karena itu, timbul tanya, "benarkah atas restu gurunya?"
 
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1062
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 13
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re:Tawuran Perguruan Silat
« Jawab #3 pada: April 28, 2014, 01:52:55 PM »
Quote (selected)


Beberapa sumber menyebutkan bahwa kedua perguruan tersebut awalnya merupakan satu perguruan pencak silat yaitu Setia Hati yang diawali dengan berdirinya Sedulur Tunggal Kecer (STK) oleh Ki Ngabei Soero Diwiryo dari Madiun pada tahun 1903.[/size]Pada tahun tersebut Ki Ngabei belum menamakan perguruannya dengan nama Setia Hati, namun masih bernama "Joyo Gendilo Cipto Mulyo" dengan hanya memiliki delapan orang siswa.Organisasi silat tersebut mendapat hati di kalangan masyarakat sekitar tahun 1917, yang mana Joyo Gendilo Cipto Mulyo melakukan demonstarsi silat secara terbuka di alun–alun Madiun dan menjadikannya sebagai perguruan yang populer di kalangan masyarakat karena gerakan yang unik, penuh seni, dan bertenaga.Pada tahun 1917 juga, Joyo Gendilo Cipto Mulyo berganti nama dengan Setia Hati (SH) hingga akhirnya pendiri perguruan yakni Ki Ngabei Soero meninggal pada tahun 1944 dalam usia 75 tahun. Almarhum meninggalkan wasiat supaya rumah dan pekarangannya diwakafkan kepada Setia Hati.Ki Ngabei Soero dimakamkan di Kelurahan Winongo, Kota Madiun, dengan batu nisan granit. Dan oleh berbagai kalangan, makam Ki Ngabei dijadikan pusat dari perguruan Setia Hati. Namun, pada Tahun 1922 murid terkasih Ki Ngabei Soero, Ki Hadjar Hardjo Oetomo, telah mendirikan Setia Hati Terate sebagai respon untuk mengembangkan pencak silat dengan ideologi SH.Pecahnya SH yang dimotori oleh murid kesayangan Ki Ngabei Soro tersebut, mengakibatkan SH terbagi dalam dua wilayah teritorial yaitu SH Winongo yang tetap berpusat di Kelurahan Winongo dan SH Terate berpusat di Kelurahan Pilangbango, Kota Madiun.Konflik kedua murid merambat sampai tingkat bawah hingga sekarang yang dipenuhi rasa dendam satu sama lain. Perpecahan kedua perguruan tadi juga terletak dalam strategi pengembangan ideologi, dimana Winongo lebih bersifat eksklusif, sedangkan Hardjo Utomo ingin membangun SH yang lebih bisa diterima masyarakat bawah guna melestarikan perguruan.Kedua perguruan tersebut saling mengklaim kebenaran pembawa nilai ideologi SH yang orisinil dan menganggap dirinya yang paling benar. Klaim kebenaran ini terus-menerus direproduksi sehingga membuat para kalangan pengikut level bawah atau murid baru memiliki doktrin perguruan silatnya paling benar dan lainnya dianggap salah dan pengkhianat.Meski praktiknya berbeda di lapangan, namun, kedua petinggi perguruan silat ini menolak jika disebut-sebut saling berseteru. Mereka mengklaim, PSHT dan PSH Winongo adalah saudara yang sama-sama memiliki satu aliran, yakni Setia Hati."Semua perguruan itu saudara. Tidak ada musuh bebuyutan, dan kami tidak pernah mengajari tentang adanya musuh bebuyutan pada anggota baru atau muda," ujar Ketua PSH Winongo, RM Agus Wiyono Santoso.Pihaknya menilai, perseteruan yang kerap terjadi antara dua perguruan silat ini dimotori oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk kepentingan pribadi. Hal ini terbukti, saat tidak berlangsungnya Suran Agung dan halalbihalal, hubungan keduanya cukup baik dan tidak ada bentrokan."Terkait adanya aksi perusakkan yang dilakukan oleh oknum anggota, saya menyerahkan sepenuhnya hal ini kepada pihak kepolisian untuk ditindak sesuai hukum yang berlaku," kata Agus.Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Umum PSHT H. Tarmadji Boedi Harsono. Pihaknya sangat menghormati keberadaan perguruan silat lainnya dan merasa tidak ada masalah."Kami tidak ada dendam dan benci dengan perguruan silat lain. Bentrokan yang terjadi adalah murni karena oknum yang tak bertanggungjawab. Ini karena seluruh perguruan pencak silat pada dasarnya tidak membenarkan adanya kekerasan," ujar Tarmadji.Kedua perguruan mengaku terus melakukan komunikasi, untuk meredam adanya bentrokan di tingkat bawah, serta menjelaskan tidak adanya permusuhan antara perguruan.Komunikasi ini juga diwujudkan dengan penandatanganan nota kesepakatan antara pihak kepolisian dengan kedua perguruan pencak silat SH Winongo dan SH Terate, agar menggelar setiap acara perguruan dalam keadaan tertib dan damai.Dalam nota kesepahaman tersebut tertulis perjanjian masing-masing anggota perguruan pencak silat untuk saling menaati aturan yang telah disepakati guna menjaga keadaan Madiun sekitarnya yang kondusif serta penindakan secara tegas sesuai hukum yang berlaku bagi setiap pihak yang melanggarnya.Terlepas dari apapun penilaian para petinggi perguruan silat tersebut, bentrokan atau tawuran antarpesilat anggota muda itu membuat resah warga


http://www.antarajatim.com/lihat/berita/96623/memutus-rantai-penyebab-tawuran
[/color]
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1062
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 13
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re:Tawuran Perguruan Silat
« Jawab #4 pada: April 28, 2014, 01:53:24 PM »
Quote (selected)

Sejarah SH Terate dan Sh Tunas Muda Winongo

SH Terate adalah perguruan silat legendaris yang berperan menyebarkan pencak silat ke berbagai daerah (bahkan manca negara). Di pusatnya, Madiun, terdapat ribuan pendekar SH terate yang tersebar sampai pelosok-pelosok kampung. Bagi pemuda-pemuda di daerah Madiun, menjadi anggota SH terate adalah tradisi yang mereka laksanakan secara turun temurun. Bahkan banyak keluarga yang dari Kakek buyut sampe cicit, semua adalah anggota PS SH Terate. Hal ini membuat SH Terate sebagai organisasi, cukup disegani di kawasan Madiun karena memiliki massa yang sangat besar.

Sayang, di Madiun sering terjadi perkelahian massal antara anggota SH Terate dan anggota SH Tunas Muda (Winongo). Sebenarnya pendiri kedua perguruan silat tersebut berasal dari perguruan yang sama. Menurut hikayat, asal muasal pencak silat di Madiun adalah dari seorang pendekar bernama Suro (Mbah Suro). Konon, sewaktu masih sangat muda Mbah Suro ini adalah salah satu prajurit tangguh yang dimiliki Pangeran Diponegoro. Setelah Pangeran Diponegoro kalah dari Belanda, mbah Suro melarikan diri ke Madiun, dan mendirikan sebuah perguruan silat sendiri.

Perguruan silat ini kemudian berkembang cukup pesat. Mbah Suro memiliki banyak sekali murid. Namun diantara sekian ratus muridnya, ada dua yang paling menonjol. Yang satu kemudian mendirikan perguruan silat sendiri di daerah Winongo Madiun, dan kemudian di kemudian hari menjelma menjadi SH Tunas Muda. Sementara yang satunya meneruskan perguruan silat mbah Suro dan kemudian menjelma menjadi SH Terate.

Awalnya, kedua perguruan tersebut saling berdampingan dengan damai satu sama lain. SH Winongo memiliki pengaruh di daerah madiun kota, sementara SH Terate mengakar di daerah madiun pinggir/pedesaan. Benih perpecahan dimulai ketika antara tahun 1945-1965 an, banyak pendekar SH Winongo yang berafiliasi dengan PKI. SH Terate yang menganggap ilmu SH (Setia Hati) yang diturunkan oleh mbah Suro merupakan ilmu yang berbasis ajaran Islam, merasa SH Winongo mulai keluar dari jalur tersebut.

Perselisihan semakin menjadi-jadi antara tahun 1963-1967, dimana banyak pendekar dari kedua perguruan yang terlibat bentrok fisik dalam peristiwa-peristiwa politik. Meski banyak anggotanya yang berafiliasi kiri, namun secara organisasi SH Winongo tidak terlibat dalam aktivitas kekirian tersebut. Hal inilah yang kemudian menyelamatkan perguruan silat ini dari pembubaran oleh pemerintah.

Setelah masa pembersihan anggota PKI yang berlangsung antara tahun 1967-1971 di daerah Madiun, SH Winongo sedikit demi sedikit mulai kehilangan pamornya. Puncaknya, pada era 1980-an bisa dikatakan perguruan silat ini dalam keadaan mati suri. Konon, banyak pendekar SH Terate yang berperan sebagai eksekutor para anggota PKI (termasuk beberapa pendekar SH Winongo yang terlibat PKI) di kawasan Madiun. Hal inilah yang kemungkinan memicu dendam pendekar SH Winongo yang non-PKI tapi merasa memiliki solidaritas pada kawan-kawannya yang dieksekusi tersebut.

Entah kebetulan atau tidak, seiring dengan munculnya PDI sebagai kekuatan politik yang cukup kuat pada era 1990-an, pamor SH Winongo sedikit demi sedikit mulai naik kembali. Banyak pemuda dari kawasan perkotaan Madiun yang masuk menjadi anggota SH Winongo. Madiun kota sendiri merupakan basis PDI yang cukup kuat. Sementara Madiun kabupaten merupakan basis NU dan Muhammadiyah. Banyak yang mengatakan bahwa situasi tersebut mirip dengan situasi di zaman ’60-an, dimana PKI berkuasa di Madiun kota dan NU berkuasa di Madiun Kabupaten.

Seiring dengan perkembangan tersebut, mulai sering terjadi perkelahian antar pendekar di berbagai pelosok Madiun. Perkelahian yang juga melibatkan senjata tajam tersebut tak jarang berakhir dengan kematian salah satu pihak. Pada waktu itu, Madiun bagaikan warzone para pendekar silat (termasuk dengan senjata tajam dan senjata lainnya). Di berbagai sudut kota dan kampung terdapat grafiti yang menunjukkan identitas kelompok pendekar yang menguasai kawasan tersebut. Pendekar SH Terate menggunakan istilah SHT (Setia Hati Terate) atau TRD (Terate Raja Duel) untuk menandai basisnya. Sementara SH Winongo menggunakan istilah STK, yang kemudian diplesetkan menjadi “Sisa Tentara Komunis”, untuk menandai kawasan mereka.

Pada kurun waktu 1990-2000, STK mengalami perkembangan jumlah anggota yang sangat pesat. Desa Winongo sebagai markas besar mereka, pada awalnya masih mudah diserang oleh pendekar SHT dari wilayah tetangga. Namun karena kekuatan mereka yang semakin besar membuat Winongo menjadi untouchable area. Hampir seluruh pemuda dan lelaki di desa ini menjadi anggota STK yang militan, sehingga penyerbuan SHT ke wilayah ini menjadi semakin sulit dilakukan.

STK menggunakan taktik populis dalam merekrut anggota baru. Mereka masuk ke SMP dan SMU di kota Madiun dan menawarkan status pendekar secara instan kepada pemuda-pemuda yang mau bergabung. Sementara untuk meraih status pendekar di SHT, persyaratannya cukup berat dan memakan waktu cukup lama. Tawaran menjadi pendekar instan tersebut tentu saja mendapat sambutan yang besar dari para pemuda yang belum mengetahui esensi sebenarnya sebuah panggilan “pendekar”. Di Madiun, menjadi pendekar adalah sebuah kehormatan yang diimpi-impikan para pemuda. Predikat pendekar menjadi sangat elit karena harus dicapai dengan susah payah. Seorang Pendekar dipastikan memiliki kemampuan silat dan fisik yang prima, serta pemahaman agama yang dalam.

Akibat taktik populis yang dilakukan STK, kode etik pertarungan antar pendekar yang selama ini terjaga, sedikit demi sedikit mulai pudar. Anak-anak muda yang naif (pendekar instan) mulai menggunakan cara-cara yang kurang etis dalam berkelahi. Misalnya mereka mengeroyok lawan, menculik lawan di rumah, tawuran (lempar-lemparan batu), menyerang dari belakang, dan cara-cara yang tidak terhormat lainnya. Awalnya pendekar-pendekar SHT yang memegang teguh kode etik pertarungan pencak silat, masih berupaya sabar. Namun, akhirnya mereka kehilangan kesabaran setelah korban di pihak mereka mulai berjatuhan.

Tercatat, terjadi beberapa kali pertarungan yang memakan korban jiwa akibat tindakan yang tidak sportif. Pernah terjadi kasus dimana dua orang pendekar yang sedang berboncengan sepeda ontel, di tebas dari belakang oleh lawan bersepeda motor dengan menggunakan clurit. Kemudian ada juga kasus seorang pendekar yang sedang menggarap sawah, ditebas dari belakang oleh lawannya dengan menggunakan pacul.

Kejadian-kejadian tersebut merupakan gambaran betapa etika pertarungan sportif satu lawan satu yang selama ini dipegang erat oleh para pendekar, mulai pudar.

Cikal bakal dua perguruan silat terbesar di Madiun, SH Terate dan SH Winongo, adalah sebuah perguruan pencak silat puritan bernama SH Putih. SH Putih didirikan oleh seorang pendekar silat bernama Mbah Suro pada tahun 1903. Mbah Suro adalah seorang pengembara, dia telah melanglang buana sampai ke Tiongkok dan India untuk mempelajari berbagai ilmu bela diri.

Setelah merasa cukup ilmu, Mbah Suro pulang ke tanah kelahirannya, dan mendirikan sebuah perguruan pencak silat tanpa nama. Berdasarkan ilmu yang didapatkannya selama mengembara, ia mengembangkan jurus-jurus silat baru yang kemudian membawa pembaharuan dalam ilmu beladiri asli nusantara ini.

Setelah Mbah Suro meninggal pada tahun 1923, terdapat dua orang muridnya yang berebut pengaruh untuk menjadi pimpinan perguruan silat tersebut. Perebutan ini kemudian berakibat pada terpecahnya mereka ke dalam dua kubu. Kubu pertama kemudian mendirikan perguruan silat baru bernama Setia Hati Winongo (Kenanga), dan kubu yang lain mendirikan Setia Hati Terate (Teratai). Perebutan tersebut akhirnya tereskalasi menjadi konflik terbuka, ketika masing-masing perguruan tersebut sudah memiliki banyak pengikut. Konflik masih terus terjadi sampai hari ini, dengan dinamika yang berbeda, sesuai dengan perkembangan jaman.

Sementara, SH Putih kemudian menutup diri karena tidak mau terlibat dalam perseteruan antara keduanya. Sampai saat ini SH Putih masih ada, dan yang diperbolehkan menjadi murid di perguruan silat ini hanyalah anggota keluarga dan keturunan Mbah Suro saja. SH Putih menjadi semacam dewan guru besar, untuk menentukan apakah seorang pendekar dari SH Winongo dan SH Terate yang telah mencapai level tertinggi bisa naik tingkat atau tidak (dalam karate istilahnya DAN I, DAN II, dst, untuk sabuk hitam). Saat ini pendekar dengan tingkat tertinggi (Tingkat III) masih dipegang oleh pendekar dari SH Winongo. Sementara dari SH Terate belum ada (Paling tinggi Tingkat II).

Antara SH Winongo dengan SH Terate menganut prosedur yang berbeda dalam penetapan seorang murid menjadi “WARGA”. Di SH Winongo, seorang murid yang baru masuk, harus segera disahkan sebagai “WARGA” agar ikatan emosional dan fisik yang bersangkutan dengan perguruan tidak terlepas lagi. Sementara di SH Terate, untuk menjadi “WARGA” seorang murid harus menjalani proses yang panjang dan sangat keras. Seorang “WARGA” dalam filosofi SH Terate haruslah pendekar yang benar-benar telah memahami esensi dari ilmu pencak silat itu sendiri, terutama kegunaannya bagi masyarakat. Sehingga, sedikit sekali dalam satu angkatan, seorang murid SH Terate akhirnya dapat mencapai level menjadi “WARGA”.

 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1062
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 13
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re:Tawuran Perguruan Silat
« Jawab #5 pada: April 28, 2014, 01:54:30 PM »
dari artikel diatas belum terjawab kenapa perguruan lain (yang baru atau sudah lama didirikan) juga ikut di berantas oleh PSHT
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 20
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Tawuran Perguruan Silat
« Jawab #6 pada: April 29, 2014, 06:58:48 AM »
Jumlah anggota PSHT yang saya dengar berjumlah minimal 2 juta orang. Jumlah actualnya bisa dua kali lipat karena banyak yang tidak memiliki kta. Mayoritas anggota tinggal di jawa timur. Sehingga PSHT merupakan organisasi pencak silat terbesar di jawa timur.

Dari sekian banyak anggota itu tidaklah menutup kemungkinan terdapat banyak oknum yang menyimpang dari garis-garis kebijakan perguruan. Buktinya sudah banyak terjadi dan diliput wartawan cetak maupun elektronik. Hal ini tidak bisa tidak diakui. Akan tetapi jikalau kita melihat akan besarnya jumlah anggota tersebut, sebagian yang melakukan perbuatan yang menyimpang dari garis-garis kebijakan perguruan itu menjadi terlihat sedikit, celakanya yang sedikit itu mendapat porsi sorotan yang cukup besar. Dan ini menjadi pertanyaan yang harus menjadi perhatian.

Sepengetahuan saya sudah cukup banyak pelatih PSHT tingkat 1 yang berlisensi dipanggil oleh Warga PSHT tingkat 2 untuk meng klarifikasi murid-muridnya yang telah melakukan keonaran, tidak jarang kemudian, jika terbukti maka lisensi kepelatihan tersebut dicabut.....

Dari segi karakter, PSHT adalah sebuah perguruan pencak silat yang berkarakter dinamis ia berkembang mengikuti alam lingkungan yang ada, ketika jaman pergerakan PSHT aktif dalam dalam kancah pergerakan merintis kemerdekaan melalui Pimpinan pusatnya. Begitu pula dalam rangka gerilya mendukung perlawanan para pemuda terhadap pemerintah kolonial Belanda. Akibat kiprahnya itu PSHT melalui pimpinan pusatnya mendapatkan penghargaan oleh pemerintah pusat sebuah gelar Pahlawan Perintis Kemerdekaan.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
2041 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 21, 2013, 11:34:08 PM
oleh Kang Asep
4 Jawaban
1771 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 30, 2015, 11:51:51 PM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
734 Dilihat
Tulisan terakhir April 19, 2014, 01:07:53 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
416 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 05, 2015, 05:58:52 PM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
2665 Dilihat
Tulisan terakhir April 15, 2018, 06:49:39 PM
oleh Monox D. I-Fly

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan