Penulis Topik: Menjadi Murid Dharma Pusaka  (Dibaca 1210 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9465
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 472
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Menjadi Murid Dharma Pusaka
« pada: Desember 01, 2013, 09:42:33 PM »
Ajhar berkata, “Nyai Lasmi, dia itu hitam manis!”

Mendengar perkataan Ajhar, saya jadi naik pitam, “Apa? Kalau kamu naksir sama dia, kamu harus bertarung sama saya dulu. Kalau saya kalah, saya tidak akan menghalangi kamu lagi.”

“Hai … saya tidak naksir sama Nyai Lasmi. Saya Cuma mengatakan dia itu hitam manis. Tapi kalalu kamu menantang saya, maka saya pantang mundur. Ayo … di mana kita akan berkelahi ?” Ajhar balik menantang. Maklumlah, kami sama-sama pemuda umur 18 tahun yang termpremennya cukup tinggi.

“Owh.. berani juga kamu rupanya. Kalau begitu, mari kita ambil seorang saksi yang akan menyaksikan pertarungan kita!”  demikian ujar saya.

Seorang pemuda bernama Yusuf, kami minta untuk menjadi saksi pertarungan kita. sebelum berangkat ke sebuah bukit yang akan menjadi tempat kami bertarung, Ajhar berkata, “Baiklah kita bertarung, tapi aku tidak suka bila kamu menggunakan ilmu mistik. kita adu kekuatan fisik saja!”

Rupanya ada rasa takut juga pada batin Ajhar, karena dia tahu, saya bukan saja seorang pesilat, tapi juga ahli mistik. mulanya saya menolak syarat itu, “Ho..ho… yang namanya berkalahi… ya bagaimana saja caranya, agar bisa menang, yang penting tidak curang.”

“Tapi bagiku, itu adalah curang. Karena saya tidak menggunakan ilmu mistik, hanya gerak fisik.” Kilah Ajhar.

“Baiklah kalau begitu … saya tidak akan menggunakan ilmu mistik.” saya menyepakati.

Kami bertiga tiba di sebuah bukti yang cukup tersembunyi dari padangan publik. Lalu kami berdua mulai memasang kuda-kuda, masing-masing bersiap untuk menerima serangan. Tapi tidak ada yang mau memulai menyerang. Saya sendiri tidak mau mulai menyerang karena menurut ajaran guru, “Mulai menyerang, berarti kalah.” Demikian pula Ajhar, rupanya iapun diajarkan oleh gurunya untuk tidak menyerang duluan.

“Ayo serang!” tantang saya.

“kamu dulu yang menyerang!” pinta Ajhar.

“Kamu dulu!”

“Kamu saja!”

Melihat hal itu, Yusuf yang menjadi wasit pertandingan segera menyela, “kalau begitu, kamu dulu Sep. sesi berikutnya, kamu yang harus memulai Jhar! Gantian!”

“Saya tidak mau. Ajhar yang harus menyerang duluan.” Sanggah saya.

“kamu yang menantang duluan! Kenapa kamu tidak mau menyerang duluan?” ungkap Ajhar.

Akhirnya saya sepakat untuk menyerang duluan. Walaupun ini agak bertetangan dengan keyakinan saya. 

Pukulan pertamapun melesat. Tapi dengan gerakan kilat dan hampir tidak saya sadari, sehingga saya tidak begitu mengerti dengan apa yang terjadi, tiba-tiba saya sudah terjungkal jatuh di tanah, dan pukulan bertubi-tubi mengenai wajah saya. Untunglah Yusuf segera memisahkan kami. Saya kaget bukan kepalang, baru kali ini saya mendapatkan balasan serangan seperti itu.

Saya bangun, dan mulai memasang kuda-kuda, seraya menajamkan pandangan saya. Giliran Ajhar memulai serangan. “ya!” Yusuf, sebagai wasit memberi aba-aba untuk memulai serangan. Ajhar pun melancarkan pukulannya. Saya berusaha menangis. Tapi begitu pegelangan tangan saya baru saya menempel pada tangan Ajhar, bogem mentah sudah mendarat di pipiku. Dan gerakan selanjutnya saya sudah terjatuh kembali ke tanah dengan keras. “buk!” menyusul dengkul Ajhar yang menekan dada saya, disertai pukulan beruntung lima hingga tujuh kali ke wajah saya. Dan Yusuf kembali memisahkan kami.

Kami bedua berhadap-hadapan kembali, untuk ketiga kalinya, keempat kalinya, dan ke sekian belas kalinya, saya selalu dijatuhkan dalam gerakan yang empat, ketiga, bahkan saya pernah dijatuhkan hanya pada gerakan pertama. “Sungguh luar biasa ilmu silat pemuda ini!” demikian puji saya dalam hati.

Setelah belasan kali terjatuh, akhirnya sayapun menyerah saat dia bertubi-tubi memukuli wajah saya. “Sudahlah cukup! Saya mengaku kalah!”

Kami berdiri, saling memberi hormat. Lalu bersalaman. Kami pulang bersama. Di perjalanan, saya bertanya sama Ajhar, “Dimanakah kamu belajar ilmu silat seprti itu?”

“Saya berguru pada Mang Apin, Guru di perguruan Dharma Pusaka.” Jawab Ajhar.

“Bolehkah saya ikut padamu untuk berguru kepadanya?”

“O.. boleh saja. Nanti saya akan minta izin dulu sama guru.” Jawab Ajhar.

Akhirnya suatu hari, sayapun diterima sebagai murid diperguruan Dharma Pusaka. Sungguh saya merasa gembira. Lalu kami datang tiap malam untuk berlatih. Dan Ajhar menjadi kawan partner saya dalam berlatih.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Monox D. I-Fly

Re:Menjadi Murid Dharma Pusaka
« Jawab #1 pada: Juli 20, 2015, 02:15:26 PM »
Berarti si Ajhar dapat Nyai Lasmi dong?
 

Tags: Dharma Pusaka 
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
1230 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 29, 2012, 03:42:37 PM
oleh Kang Asep
3 Jawaban
1270 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 18, 2013, 10:41:43 AM
oleh Awal Dj
8 Jawaban
2857 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 15, 2013, 06:45:54 PM
oleh comicers
0 Jawaban
863 Dilihat
Tulisan terakhir November 03, 2013, 06:48:02 AM
oleh Kang Asep
4 Jawaban
1506 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 21, 2013, 03:16:02 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
741 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 30, 2013, 07:15:57 AM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
1195 Dilihat
Tulisan terakhir April 07, 2014, 11:10:59 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
202 Dilihat
Tulisan terakhir September 18, 2016, 07:49:16 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
172 Dilihat
Tulisan terakhir November 14, 2016, 02:05:20 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
43 Dilihat
Tulisan terakhir November 30, 2017, 10:56:47 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan