collapse

* Artikel Pilihan

Penulis Topik: TIGA ALAT PENANGKAP ILMU MENURUT AL GHAZALI  (Dibaca 3815 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 17
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
TIGA ALAT PENANGKAP ILMU MENURUT AL GHAZALI
« pada: Mei 10, 2013, 12:45:16 AM »
 TIGA ALAT PENANGKAP ILMU MENURUT AL GHAZALI

Ilmu adalah penerang (cahaya) agar bisa mengantarkan manusia ke tujuan esensialnya. Dan ilmu diperoleh melalui alat atau sarana yang ada di dalam diri manusia itu sendiri. Kuncinya ada pada kata perintah iqro, yaitu perintah untuk membaca. Dan salah satu yang harus dibaca adalah subjek (atau pelaku) yang mengerjakan amal atau tindakan tertentu.
Dalam upaya memperoleh ilmu, manusia menduduki posisi utama tidak hanya sebagai subjek tetapi juga objek ilmu. Manusia sebagai objek ilmu artinya ialah meneliti kerangka kerja ilmiah yang dihasilkan manusia; dalam posisi ini manusia me-mashdar-kan kerja (amal) yang dilakukannya sehingga bisa ditelusuri potensi-potensi dalam diri manusia yang bisa dijadikan sarana untuk mendapatkan ilmu. Upaya ini sekaligus bisa mempertahankan objektivitas ilmu itu sendiri. Dalam berbagai disiplin ilmu, sekalipun dalam sains modern disadari bahwa, mengetahui potensi-potensi dalam diri manusia sebagai sarana memperoleh ilmu adalah penting dalam upaya mempertahankan objektivitas ilmu itu sendiri.
Potensi-potensi dan alat dalam diri manusia yang capable dijadikan sarana mendapatkan ilmu menurut Imam Ghazali dalam berbagai kitabnya ada tiga : 1) Panca Indera, 2) Akal, dan 3) Intuisi.

1. Panca Indera
Panca indera (hawaasul khamsi) yang terdiri dari indera penglihat (mata), indera pendengar (telinga), indera perasa (lidah), indera pencium (hidung), dan indera peraba (kulit), merupakan sarana penangkap ilmu paling awal yang muncul dalam diri manusia. Semua maojud yang ditemukan oleh hissi ini yang disebut mahsuusaat serta temuan-temuan empiris yang disebut mujarrobaat termasuk dua dari lima pengetahuan a priori (daruri).
Namun temuan hissi memiliki batasan ketika hendak mengungkap maojud yang tidak occupying space, seperti monad-monad (units) yang tidak menempati ruang dan tidak tersentuh (misalnya titik geometris dan elemen untuk ruang; temporal instant dan transisi kinetis untuk waktu dan gerak). Ketika misalnya hendak mengungkap interdependensi ruang-waktu, atau ketika menelaah ketersambungan cause dan effect dalam ruang-waktu tersebut, maka monad-monad tersebut mutlak harus ada. Karena itu, hukum-hukum yang kemudian ditetapkan berdasarkan temuan hissi ini yang disebut hukum kausalitas (hukum ‘adat) harus diuji tidak hanya secara empiris (untuk kepentingan praktis saja) tetapi juga secara metafisis dengan melibatkan dalil-dalil akal melalui ilmu logika (mantiq).
Maojud yang bukan objek hissi ialah maojud yang tidak kena oleh sentuhan dan jarak spasial tetapi ketersambungannya dapat diketahui oleh ilmu logika (mantiq). Maka dalam masalah-masalah metafisika, misalnya konsep discrete dan continue, finite dan infinite, monad, form; mengenai hakikat (esensi) semua maojud, bila kesimpulan hissi menyalahi kesimpulan akal, maka akal yang harus didahulukan.
Bahkan dalam masalah-masalah metafisis seperti ini akal perlu sebisa mungkin membebaskan diri dari pengaruh-pengaruh hissi. Jika tidak demikian maka akan terjadi pengaburan akurasi, dan yang ditemukan bukan lagi objek hissi yang a priori (daruri) melainkan seperti fatamorgana di tanah yang datar (ka saroobin bi qii’ah) yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga tetapi setelah didatangi air tersebut ternyata tidak ada. Kekaburan akurasi inilah yang disebut dengan “waswas” (keraguan-absolut destruktif) yang merusak jiwa manusia, dan termasuk sifat yang dikehendaki oleh setan ada di dalam diri manusia. Sedangkan akal adalah petunjuk yang meluruskan dan menajamkan akurasi dari kekaburan hissi ini.
2. Akal
Para ahli bahasa pada umumnya sepakat bahwa akal (‘aql) berasal dari kata ‘iqaal yang berarti tali pengikat yang kuat, dan ma’qool yang berarti sesuatu yang berbenteng kuat di puncak gunung yang tak terjangkau oleh tangan manusia karena kokoh dan kuatnya. Penamaan daya kemampuan ini dengan akal (‘aql) menunjukan urgensi potensialitas dan kapabilitasnya sendiri. Dalam Misykaat al-Anwaar, Imam Ghazali meyakinkan bahwa potensi akal cukup capable untuk menangkap bukan saja objek yang terbatas (finite), tetapi juga yang tak terbatas (infinite). Maojudnya meliputi yang discrete maupun yang continue, finitely divisible maupun yang infinitely divisible. Bahkan dalam Ihya al-‘Ulumuddin Al-Ghazali menyediakan satu bab khusus untuk membicarakan keluhuran dan kemuliaan akal, jenis-jenisnya serta sifat, fungsi dan kapabilitasnya.
Dalam arti metafisis akal identik dengan atau bertempat di hati (qalbu) yaitu sebagai sinar lathiif atau sirr ruhani, sebagai inti hakikat manusia. Dalam arti ini akal gharizi siap menerima ilmu-ilmu a priori (daruri) yang kebenarannya aksiomatis dan jelas (badihi) dan siap menerima ilmu-ilmu inferensial/a posteriori (nadzori), yang keduanya merupakan nafsul ‘uluum (jiwa atau semangat ilmu), dan menduduki posisi yang sangat penting dalam perkembangan kedewasaan manusia, dan merupakan batas utama manusia masuk ke gerbang mukallaf (yang tertaklif hukum).
Ketajaman dan akurasi akal adakalanya terkaburkan oleh pengaruh daya imajinasi (khayal) dan daya estimasi (wahm) yang dinisbatkan dengan pengalaman hissi. Maka akal ini laksana cermin yang apabila ia bersih dan murni maka ia bisa merefleksikan objek sebagaimana realitasnya. Kalaupun pemikiran seseorang salah, kesalahan bukan terletak pada akalnya, tetapi karena ia dikuasai oleh khayal dan wahm, kecuali apabila akalnya cacat (tidak berakal).
Maka untuk menjamin cara berpikir dan proses penalaran yang sah sehingga bisa sampai kepada bentuk akal ini diperlukan sarana yang dapat meluruskan dan menjaga kemurniannya, yaitu melalui logika (mantiq). Di sinilah peran penting ilmu logika sebagai mukadimah ilmu-ilmu seluruhnya, dan sebagai neraca dan timbangan yang lurus (al-Qisthos al-Mustaqiim). Dan orang yang tidak menguasai ilmu logika, menurut Al-Ghazali, ia pada dasarnya belum mempercayai kebenaran ilmu yang dimilkinya. Anna man laa ma’rifata lahuu bi al-mantiqi, laa yuu tsaqu bi ‘ilmihii. (Al-Mustashfa, jld I, hlm. 10)
3. Intuisi
Beberapa kitab yang ditulis Al-Ghazali menyinggung seperlunya mengenai potensi intuisi ini, dan ia tidak membahasnya dalam potensi tersendiri, kecuali misalnya dalam kitab Misykaat al-Anwaar yang menyebut potensi lain di atas akal, yaitu ruh quds nabawi yang dimiliki oleh para nabi dan wali, yang memiliki daya kemampuan menangkap maojud di luar tangkapan akal, atau yang disebut maojud transendental. Ahli tafsir dan ulama kontemporer, M. Quraish Shihab, menisbatkan objek (di dalam bukunya), Yang Tersembunyi, dengan mulai menelaah ulasan Al-Ghazali dalam Misykat di atas, seperti keberadaan makhluk-makhluk ghaib seperti iblis, jin dan malaikat.
Di lain kitab Al-Ghazali, dalam al-Munqidz min adl-Dlolaal, diintroduksikan istilah zauq yang searti dengan wijdaan yang sering diartikan dengan intuisi. Saeful Anwar (2007) dalam bukunya Filsafat Ilmu Al-Ghazali, yang menjadi rujukan penulis dalam membaca karya-karya Al-Ghazali, lebih jauh lagi dan secara panjang lebar mengelaborasi potensi intuisi ini dan memasukkannya ke dalam metodologi pencapaian ilmu yaqini multilevel (multifase), yakni metodologi penyingkapan intuitif (kasyfi) pada tahap kedelapan dan kesembilan dalam “Sistem Sembilan Tahap” yang diturunkan dari epistemologi filsafat ilmu Al-Ghazali. Ia menjelaskan urgensinya dalam epistemologi ilmu setelah panjang lebar membahas peranan panca indera dan akal dalam pencapaian ilmu.
Apa yang ditekankan Al-Ghazali adalah yang ditulis dalam kitabnya, Maqaashid al- Asnaa, bahwa apa yang tersingkap oleh kasyfi intuitif hendaklah tetap dikontrol oleh akal, sehingga semua klaim tentang hal kasyfi yang irasional, hanyalah kepalsuan belaka, dan bahwa syari’at tidak gugur dengan haqiqat melainkan terintegrasi. Dan bahwa kewalian adalah permulan kenabian. Bagi yang wushul, yang telah mencapai tahap kasyfi, hendaklah ia menghindarkan dari dari keinginan untuk fana, dan tetap berada dalam koridor sebagaimana manusia sewajarnya. Tidak ada alasan untuk menggurkan syari’at, karena yang menggugurkan taklif syara sekalipun keluar dari yang mengkalim dirinya telah wushul hanyalah ambisi kemewahan semata, dan dorongan syahwat yang menunjukan karakter rendah. Maka tandingilah keinginan itu dengan upaya untuk berbuat kebaikan yang seluas-luasnya bagi umat manusia dengan berpijak pada prinsip ikhlas.
Apa yang luput dari Al-Ghazali, dan mungkin juga secara substansial tidak muncul dalam telaah terhadap karya-karya Al-Ghazali, ialah mengenai potensi dan kapabilitas intuisi fisis (physical intuition), sehingga intuisi ini terbagi dua yaitu intuisi fisis dan intuisi transendental.
Yang dapat kita pahami dari intuisi fisis ini dapat memberikan perumpamaan untuk bisa memahami intuisi transendental. Intuisi fisis ialah intuisi yang dapat mengidrok objek-objek fisis (maojuud hissi) sekalipun indera tidak menjangkaunya, sehingga laporannya tentang dunia hissi sampai ke akal. Sekalipun orang buta atau tuli secara dzohir tidak mampu menangkap objek fisis karena keterbatasannya, tetapi ia tetap memiliki intuisi tentang dunia fisis, seperti adanya gerak, adanya suara, adanya warna, yang informasi demikian ini sangat vital bagi akal, namun tidak sedetail apa yang dapat ditangkap oleh indera dan akal. Bagi akal tidak ada bedanya, baik bagi orang buta (termasuk buta warna) atau pun yang tidak buta, tetap tidak menggeser akurasi akal. Maka celakalah orang yang membeda-bedakan antara orang yang cacat (terbatas) inderanya dengan yang tidak, karena Alloh sendiri tidak membeda-bedakannya.
Intuisi fisis bisa jadi pula apa yang disebut oleh Al-Ghazali ruh khayaali-aqli dalam Misykaat al-Anwaar. Intuisi fisis ini layaknya intuisi transendental, ia diumpamakan seperti lubang cahaya penglihatan yang tak tembus oleh indera, sekalipun kita tidak mampu menjangkau dan tidak dapat menjelajahi luasnya, tetapi kita bisa mengetahui akan maojudnya. Namun keduanya berbeda wilayahnya, intuisi fisis di wilayah dunia fisis yang tak terjangkau indera, dan intuisi transendental di wilayah metafisis yang tak terjangkau akal.


http://rpcellular.blogspot.com/
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9342
  • Thanked: 57 times
  • Total likes: 382
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re: TIGA ALAT PENANGKAP ILMU MENURUT AL GHAZALI
« Jawab #1 pada: Mei 10, 2013, 05:33:06 AM »
apa yang sampaikan oleh Imam ghazali itu sangat selaras dengan apa yang sering saya kemukakan pada orang-orang. dan dari tiga alat itu muncul tiga bentuk kebenaran, kebenaran ilmiah, kebenaran logika dan kebenaran batiniyah.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 17
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re: TIGA ALAT PENANGKAP ILMU MENURUT AL GHAZALI
« Jawab #2 pada: Mei 10, 2013, 06:07:32 AM »
Dan itu juga yang ingin saya sampaikan bahwa pemikiran Kang Asep itu ternyata selaras dengan pemikiran Al Ghozali.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9342
  • Thanked: 57 times
  • Total likes: 382
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re: TIGA ALAT PENANGKAP ILMU MENURUT AL GHAZALI
« Jawab #3 pada: Mei 10, 2013, 07:17:04 AM »
seingat saya, sebelumnya saya belum pernah mengetahui bahwa al Ghazali memaparkan hal serupa itu. dan ketika saya menyimpulkan tiga jenis ilmu, tiga kebenaran, dan tiga alat ilmu tersebut, tidaklah mengambil referensi dari buku manapun, melainkan karena mengamati saja bagaimana suatu ilmu itu muncul ke dalam diri kita? dan saya melihatnya pengetahuan muncul dengan tiga cara seperti itu.

kalau ingat Imam Ghazali, saya suka teringat kepada pengajian LDII. karena di Majelis itu seringkali nama Imam Ghazali di sebut dengan cara olok-olok. saya mendengar sendiri, kawan saya dan mubaligh LDII menyebut imam Ghazali dengan sebutan Imam Grongelo atau Gronzelo. hal itu karena mereka menganggap imam Ghazali sebagai imam yang sesat. walaupun dulu saya pernah berbaiat kepada Imam LDII, tapi saya tidak pernah setuju dengan sikap orang-orang LDII yang tidak menaruh rasa hormat kepada Imam Ghazali. tapi di satu sisi, saya juga menghormati para mubaligh LDII itu sebagai guru saya. maka dari itu, saya diam saja atas olok-olokan itu. sekrang saya sangat berharap, bahwa kawan-kawan saya yang masih di LDII tidak menutup diri dari informasi dari luar. di Lembaga ini, mereka disibukan dengan mengaji hadits-hadits yang dinukilkan oleh imam mereka, dan diharamkan membaca buku-buku agama dari pihak luar. dengan cara itu mereka menjadi seperti "katak dalam tempurung", menutup mata dan telinga, ketika orang lain mencoba menyampaikan hujjah kepada mereka. mengapa mereka tidak berpikir, bagaimana kalau seandainya hujjah orang lain itu benar? apakah mereka tidak akan menyesali diri kelak karena mereka telah menutup mata dan telinga mereka dari hujjah itu?

wah, maaf nih jadi membahas masalah LDII. soalnya, nama Imam Ghazali ini benar-benar membuat saya terkenang kepada masa-masa saya belajar hadits pada mubaligh2 LDII.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9342
  • Thanked: 57 times
  • Total likes: 382
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re: TIGA ALAT PENANGKAP ILMU MENURUT AL GHAZALI
« Jawab #4 pada: Mei 10, 2013, 07:42:09 AM »
waduh salah post
« Edit Terakhir: Mei 10, 2013, 07:50:26 AM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 17
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re: TIGA ALAT PENANGKAP ILMU MENURUT AL GHAZALI
« Jawab #5 pada: Mei 10, 2013, 02:44:50 PM »
seingat saya, sebelumnya saya belum pernah mengetahui bahwa al Ghazali memaparkan hal serupa itu. dan ketika saya menyimpulkan tiga jenis ilmu, tiga kebenaran, dan tiga alat ilmu tersebut, tidaklah mengambil referensi dari buku manapun, melainkan karena mengamati saja bagaimana suatu ilmu itu muncul ke dalam diri kita? dan saya melihatnya pengetahuan muncul dengan tiga cara seperti itu.

Sesungguhnya itu juga yang ingin saya konfirmasikan, apakah sebelumnya Kang Asep mengetahui pemikiran dari Imam Al Ghozali ini..dan ternyata tidak! Dan khalayak mengetahui lagi mengakui kapasitas keilmuan Beliau, lalu apa artinya......Sungguh luar biasa Akang ini, salut!
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 17
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re: TIGA ALAT PENANGKAP ILMU MENURUT AL GHAZALI
« Jawab #6 pada: Mei 10, 2013, 02:51:07 PM »
Imam Al Ghozali adalah termasuk salah satu yang berpengaruh dalam madzab syafi'i, beliau tak hanya dikagumi oleh umat islam sendiri sehingga digelari dengan Hujjatul isalam, akan tetapi dunia baratpun dibuat kagum akan karya-karyanya terutama al Ihya' Ulumiddin. Sehingga mengilhami mereka untuk membuat kitab-kitab yang serupa.

Kemudian jika orang-orang LDII menganggapnya sesat, dimanakah letak kesesatanya? bisa dijelaskan Kang?
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9342
  • Thanked: 57 times
  • Total likes: 382
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re: TIGA ALAT PENANGKAP ILMU MENURUT AL GHAZALI
« Jawab #7 pada: Mei 10, 2013, 03:34:30 PM »
^ karena pengalaman-pengalaman spiritual imam ghazali yang dianggap tahayul dan mengada-adakan dalam soal agama.

faham LDII ini dalam hal fiqih mirip wahabi. tapi dalam imamah mirip syiah. sedangkan dalam keorganisasian mirip dengan Ahmadiyah.

kalau yang pernah saya bacai di buku bambang Irawan sih, mantan dedengkot LDII yang sekarang menjadi musuh besar LDII, dulu memang pendirinya itu menciptakan konsep imamah dengan mengadopsi dari beberapa kelompok lain, terus meraciknya menjadi satu konsep imamah ala LDII. faktanya memang sebagaimana saya saksikan sendiri, imamahnya mirp syiah. organisasi mirip Ahmadiyah. fiqihnya mirip wahabi. tapi sudah barang tentu hal ini dibantah oleh para pengikut LDII. itu pasti.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
32 Jawaban
9293 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 28, 2017, 01:42:02 AM
oleh Kang Asep
6 Jawaban
8074 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 28, 2015, 01:12:01 AM
oleh Ziels
8 Jawaban
6431 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 16, 2013, 07:19:50 PM
oleh ratna
0 Jawaban
1253 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 23, 2013, 11:43:51 AM
oleh Awal Dj
27 Jawaban
9167 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 23, 2013, 11:39:17 PM
oleh Sandy_dkk
51 Jawaban
19403 Dilihat
Tulisan terakhir September 04, 2013, 08:40:08 AM
oleh Sandy_dkk
13 Jawaban
4536 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 06, 2014, 05:23:24 AM
oleh Abimanyu
0 Jawaban
530 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 01, 2016, 12:47:40 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
121 Dilihat
Tulisan terakhir April 10, 2017, 09:15:20 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
33 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 15, 2017, 02:23:55 PM
oleh aralia

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan