collapse

* Artikel Pilihan

Penulis Topik: Sunat Perempuan dan Tradisi Kanibalisme  (Dibaca 7767 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Awal Dj

  • Logicer
  • *****
  • Tulisan: 503
  • Total likes: 7
  • Jenis kelamin: Pria
  • Keep On smile And Do It
    • Lihat Profil
    • http://bloggawaldjaloly.blogspot.com/2010/05/smk-plus-almaarif-singosari-semakin.html
Sunat Perempuan dan Tradisi Kanibalisme
« pada: Maret 23, 2013, 09:09:37 AM »
Kenangan traumatis itu masih membekas dalam diri Sarah (bukan nama sebenarnya), 36 tahun. Usianya baru menginjak 9 tahun ketika sang ayah mengajaknya ke rumah sakit untuk menemui seorang bidan. Di ruang periksa, ia diminta duduk dan melihat ke langit-langit.

Si bidan lalu menyuntikkan obat bius, sebelum menorehkan peralatan ke celah di pangkal pahanya. Obat bius itu tak bekerja optimal. Sarah pun menjerit dan meronta. "Waduh, sakitnya bukan main," ujar wanita yang tinggal di Sawangan, Depok, itu kepada Tempo, Sabtu lalu. Berhari-hari rasa sakit itu tak kunjung sirna. Buang air kecil pun kerap kali ditahannya karena dia takut.

Begitu menginjak bangku sekolah menengah atas, Sarah mulai mencari-cari literatur tentang dasar hukum sunat. Ternyata tak ada fatwa yang cukup sahih, selain alasan tradisi. "Itu kan sama dengan kanibalisme, lalu manfaatnya apa?" katanya geram. Kini ia memutuskan tidak akan menyunat dan menindik dua anak perempuannya.

Isu soal sunat perempuan mengemuka dalam lokakarya bertajuk "Menggunakan HAM untuk Kesehatan Maternal (Ibu) dan Neonatal (Anak)" di Departemen Kesehatan, 22 September lalu. Pada acara itu, dibeberkan kembali hasil penelitian sejumlah lembaga swadaya perempuan dan internasional yang disponsori Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Penelitian tentang female genital mutilation atau sunat perempuan dilakukan selama tiga tahun, Oktober 2001-Maret 2003, di sejumlah daerah, seperti Padang Pariaman, Serang, Sumenep, Kutai Kartanegara, Gorontalo, Makassar, Bone, dan Maluku.

Hasilnya menunjukkan 28 persen sunat yang dilakukan di Indonesia hanya sebagai kegiatan "simbolis". Artinya, tak ada sayatan dan goresan atau cuma tusukan sedikit saja. Sisanya, 72 persen, dilakukan dengan cara-cara berbahaya, seperti sayatan, goresan, dan pemotongan sebagian ataupun seluruh ujung klitoris. Tindakan berbahaya itu 68 persen dilakukan oleh dukun atau bidan tradisional, dan hanya 32 persen dilakukan tenaga medis.

Direktur Bina Kesehatan Ibu dan Anak pada Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Sri Hermianti, mengaku telah mengeluarkan imbauan kepada tenaga kesehatan untuk tidak melakukan medikalisasi atau tindakan memotong, mengiris, melukai, atau merusak organ genital perempuan/klitoris. Imbauan ini disampaikan melalui organisasi profesi seperti Ikatan Dokter Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia, dan Ikatan Bidan Indonesia. "Medikalisasi itu sudah masuk tindakan medis yang dilarang," ujarnya.

Namun, karena masalah ini masih sangat sensitif dan menyangkut tradisi yang sudah mendarah daging di masyarakat, ia mengakui tak bisa begitu saja melarang masyarakat. Dalam waktu dekat, Departemen Kesehatan akan mengadakan pembahasan serius dengan Departemen Agama, organisasi keagamaan, serta organisasi pemuka adat guna menetapkan standar prosedur sunat perempuan yang diperbolehkan secara medis dan agama.

Ketua Majelis Ulama Indonesia Amidhan mengungkapkan, dalam mazhab Maliki dan Hambali, khitan dianggap sebagai tindakan kemuliaan asalkan tidak berlebihan. Sedangkan mazhab Syafii, yang umumnya dirujuk masyarakat Indonesia, mewajibkan sunat perempuan. "Jadi asalkan tidak berlebihan karena malah menjadi haram dan sama dengan mengebiri," katanya. (→ mana batasan berlebihannya? Potong 1/2 klitoris? 3/4? 5/8? )

Sebaiknya tenaga kesehatan tidak menolak jika ada keluarga yang ingin mengkhitankan bayi perempuannya. Sebab, akan lebih berisiko jika masyarakat lari ke bidan kampung yang belum tahu tata cara kebersihan dan sebagainya. Amidhan menyarankan sunat dilakukan saat anak masih bayi dan secara simbolis. Kalau anak sudah besar atau baru masuk Islam ketika sudah dewasa, kata dia, sunat tidak perlu dilakukan, "Karena bisa menimbulkan ketakutan." Rini Kustiani dan Indra Manenda Rossi

Praktek sunat pada perempuan sebetulnya bukan monopoli umat Islam. Hal itu telah terjadi sejak zaman sebelum Masehi. Penelitian antropologi mendapatkan praktek tersebut pada mumi Mesir yang justru ditemukan pada kalangan kaya dan berkuasa, bukan rakyat jelata.


Ahli antropologi, tulis Tonang Dwi Ardyanto, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Sebelas Maret, dalam situs pribadinya, menduga pada zaman kuno sunat dipraktekkan untuk mencegah masuknya roh jahat melalui vagina.

Perdebatan tentang sunat perempuan mulai mengemuka pada 1960 oleh aktivis dan tenaga medis di Afrika. Di kawasan itu, sunat dilakukan dengan benar-benar memotong bagian genital perempuan, sehingga sering membuat mereka kehabisan darah, mengalami infeksi, infertil, terkena penyakit pembengkakan, sakit saat melahirkan, tidak bisa mengontrol kencingnya, dan tidak bisa menikmati hubungan seksual.

Bahkan, di beberapa negara, tak sedikit yang mempraktekkan infibulasi, yaitu praktek memotong klitoris serta menjahit tepi-tepinya dengan menyisakan sedikit lubang untuk buang air dan haid. Menurut perkiraan Perserikatan Bangsa-Bangsa, sekitar 28 juta perempuan Nigeria, 24 juta perempuan Mesir, 23 juta perempuan Ethiopia, dan 12 juta perempuan Sudan dengan sangat terpaksa telah menjalani sunat ini.

Konferensi Perempuan keempat di Beijing, 1995, akhirnya membahas secara formal isu ini. Menurut Basilica Dyah Putranti dari Center for Population and Policy Studies Universitas Gadjah Mada, konferensi itu menyimpulkan sunat perempuan merupakan bentuk kekerasan terhadap perempuan dan dapat menjadi ancaman bagi kesehatan reproduksi.

Di Indonesia, sunat perempuan baru menjadi isu dalam lima tahun terakhir. Dalam studi Schrieke pada 1921, sunat terjadi di Jawa, Makassar, Gorontalo, Pontianak, Lampung, Banjarmasin, Riau, Padang, Aceh, Pulau Kei Ambon, dan Pulau Alor, juga suku Sasak di Lombok. Sunat umumnya dilakukan secara rahasia pada usia sekitar 13 tahun, bahkan ketika anak baru lahir, atau perempuan muda yang belum menikah dan hamil.

Survei epidemiologi Badan Kesehatan Dunia (WHO) menemukan beberapa alasan melakukan sunat perempuan, seperti identitas kesukuan, tahap menuju wanita dewasa, prasyarat sebelum menikah, serta pemahaman bahwa klitoris merupakan organ kotor, mengeluarkan sekret berbau, mencegah kesuburan, atau menimbulkan impotensi bagi pasangannya. Banyak hal medis terkait dengan alasan female genital mutilation (FGM) ini kemudian terbukti salah.

Awal Januari 2003, PBB meluncurkan kampanye zero tolerance atas praktek sunat perempuan. Inggris justru telah mengeluarkan peraturan "FGM Act" yang melarang orang tua membawa anak perempuannya ke luar negeri untuk menjalani sunat. Pelanggarnya diancam hukuman 14 tahun. Menurut perkiraan para ahli, setidaknya 74 ribu wanita dari generasi pertama imigran Afrika di Inggris telah menjalani sunat.
==============

Catatan:
Perhatikan kalimat yang berwarna merah yang merupakan alasan salah melakukan khitan perempuan. Nah, sekarang periksa kembali apakah alasan Muhammad menyuruh khitan Muslimah. Murtadin Arab Zaki Amin yang berasal dari budaya dan masyarakat Arab yang sama dengan Muhammad menjelaskan tentang tradisi Baduy Arab dalam bukunya (Living by The Point of My Spear) bahwa khitan perempuan Arab dilakukan karena masyarakat Baduy Arab mengira wanita mampu mengeluarkan sperma. Mereka juga mengira bahwa jika dalam bersetubuh, wanita terlebih dahulu ejakulasi, maka wanita itu akan mengandung bayi perempuan atau bayi lelaki yang feminin seperti ibunya. Hal ini tidak disukai masyarakat Baduy Arab yang lebih memilih punya bayi lelaki. Karena itulah mereka memotong alat kelamin wanita (bagian klitorisnya terutama) untuk mencegah hal ini. Kebodohan Muhammad dan masyarakat Baduy Arab telah mengakibatkan jutaan Muslimah menderita tanpa ada gunanya.

Semua orang modern berpendidikan tahu bahwa klitoris itu fungsinya hanya untuk kenikmatan seksual saja, dan tidak menghasilkan cairan apapun, apalagi sperma. Tanpa rangsangan pada klitoris, sangat kecil bagi wanita untuk mengalami mencapai orgasme dalam berhubungan seks. Kita semua tahu bahwa wanita tidak mampu menghasilkan sperma seperti layaknya kaum pria. Muhammad itu ****, buta huruf, dan tak berpendidikan. Tahunya cuman ngeseks dan rampok kafir saja.

Dalam berbagai jenisnya, khitan perempuan telah dipraktekkan di lebih dari 20 negara, khususnya di masyarakat Muslim bermazhab Syafi‘î. Di Afrika, negara yang dimaksud adalah Kamerun, Sierra Leone, Ghana, Mauritania, Chad, Mesir Utara, Kenya, Tanzania, Botswana, Mali, Sudan, Somalia, Ethiopia, dan Nigeria. Di Asia, praktek ini umum dilakukan di Filipina, Malaysia, Pakistan, dan Indonesia.

Di Amerika Latin, praktek ini dilakukan di Brasil, Meksiko bagian Timur, dan Peru. Beberapa negara Barat yang terkena pengaruh dari praktek ini adalah Inggris, Perancis, Belanda, Swedia, Amerika, Australia, dan Kanada.

Khitan perempuan juga dipraktekkan di Uni Emirat Arab, Yaman Selatan, Bahrain dan Oman, namun tidak umum dilakukan di Saudi Arabia, Iran, Irak, Yordania, Syiria, Libanon, Maroko, Aljazair, dan Tunisia. Turki, bermazhab Hanafî, tidak mengenal khitan perempuan, begitu juga Afghanistan dan negara Maghribi yang disebut di atas.

Di Mesir dipaparkan bahwa meski hukum Mesir tahun 1959 melarang khitan perempuan dan, menurut Feillard, al-Ikhwân al-Muslimûn juga menolaknya, praktek ini berlangsung di pedesaan, bahkan infibulasi masih terjadi. Fenomena ini juga ada di Sudan dan negara Timur Tengah tertentu.

Sebenarnya, khitan perempuan tak memiliki dasar shahih di dalam Islam, baik Alquran atau Hadis. Jadi, ia hanyalah tradisi dan—mengutip Husein Muhammad—, Fiqh Perempuan, “karena teks-teks khitan dianggap tidak valid, maka tinggal pertimbangan kemaslahatan yang menjadi dasar hukum.”

Khitan perempuan dilakukan melalui tiga jenisnya yang umum, yaitu:

[1] Sirkumsisi (circumcision), selaput klitoris dengan tidak sampai menghilangkan nafsu seksual perempuan. Di beberapa negara Muslim, khitan jenis ini disebut Sunnah, (Indonesia: sunat);

[2] Eksisi (excision), memotong klitoris dan sebagian atau keseluruhan labia minora

[3] Infibulasi (infibulation), memotong seluruh bagian klitoris, labia minora, dan sebagian labia majora. Di Sudan, khitan ini disebut “khitan ala Fir‘aun”, di Mesir disebut “khitan ala orang Sudan”.

 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9275
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 354
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Sunat Perempuan dan Tradisi Kanibalisme
« Jawab #1 pada: Maret 23, 2013, 10:11:18 AM »
kembali ke al Quran! karena al Quran adalah untuk menjelaskan apa yang diperselisihkan umat manusia? tapi siapa yang mampu menafsirkan al Quran dengan benar dan menjadi hakim yang adil atas perselisihan umat?

ngomong-ngomong, kang awal memposting komik-komik seperti itu, apakah tidak khawatir nanti akan dituduh orang melecehkan nabi muhammad saw?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Awal Dj

  • Logicer
  • *****
  • Tulisan: 503
  • Total likes: 7
  • Jenis kelamin: Pria
  • Keep On smile And Do It
    • Lihat Profil
    • http://bloggawaldjaloly.blogspot.com/2010/05/smk-plus-almaarif-singosari-semakin.html
Re:Sunat Perempuan dan Tradisi Kanibalisme
« Jawab #2 pada: Maret 23, 2013, 10:23:12 AM »
Tu Semua Tergantung Pola Pikir Orang -Orang yang Melikat kang .....kalo dia Menggap Ga gambar tersebut mengina Rosul ya, ya Itu kan Cuman Halusinansi dan Imajinasi dan sang pembuat gambar ajha" agar terlihat ada senni nya,, dan mungkin  maksud dari pembuat gambar tersebut ingin menghadirkan dari sesuatu senni karya nya di gambar tersebut kang"
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9275
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 354
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Sunat Perempuan dan Tradisi Kanibalisme
« Jawab #3 pada: Maret 23, 2013, 12:29:51 PM »
^ ya, kalau bagi saya sendiri sih gak malasah. tapi untuk publik saya tidak tahu. kalau kiranya tidak mengandung pelanggaran hukum, ya gak masalah.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Awal Dj

  • Logicer
  • *****
  • Tulisan: 503
  • Total likes: 7
  • Jenis kelamin: Pria
  • Keep On smile And Do It
    • Lihat Profil
    • http://bloggawaldjaloly.blogspot.com/2010/05/smk-plus-almaarif-singosari-semakin.html
Re:Sunat Perempuan dan Tradisi Kanibalisme
« Jawab #4 pada: Maret 23, 2013, 12:42:41 PM »
heheheh" moga ajha mereka tidak berpikiran negativ kang" Toh semua itu cuman imajinasi dari sang pembuat gambar" tetapi kita perlu tau juga bahwasannya imajinasi sang pembuat gambar tersebut juga perlu kita hargai" dan perlu kita acungin jempol,,,karna dengan demikian mereka akan tetap semgat dan trus semangat dalam berkarya" dan semua itu butuh dukungan dari para konsumen nya gto" hehehhe"
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9275
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 354
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Sunat Perempuan dan Tradisi Kanibalisme
« Jawab #5 pada: Maret 23, 2013, 01:16:36 PM »
apa pantes gitu Nabi saw digambarkan dengan muka jelek seperti itu dengan hidung besar?

coba cari tahu, siapa yang membuatnya. biasanya pembuat komik seperti itu adalah orang-orang FFI, yaitu komunitas anti islam yang didirikan Ali Sina, seorang murtadin. pas forum mereka ditutup oleh pemerintah, para anggotanya membuat blog anti islam di mana-mana.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Awal Dj

  • Logicer
  • *****
  • Tulisan: 503
  • Total likes: 7
  • Jenis kelamin: Pria
  • Keep On smile And Do It
    • Lihat Profil
    • http://bloggawaldjaloly.blogspot.com/2010/05/smk-plus-almaarif-singosari-semakin.html
Re:Sunat Perempuan dan Tradisi Kanibalisme
« Jawab #6 pada: Maret 23, 2013, 01:19:50 PM »
Oke kang " Coba saya lihat lagi untuk Posting awal nya" nanti Q telusuri lebih dalam lagi kang" Thanks" atas masukannya Kang"
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
3 Jawaban
2221 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 15, 2013, 12:48:20 PM
oleh Awal Dj
5 Jawaban
4549 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 06, 2013, 06:50:57 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1097 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 16, 2013, 07:24:48 AM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
1006 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 16, 2013, 08:03:19 AM
oleh Abu Zahra
1 Jawaban
734 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 21, 2014, 06:30:30 PM
oleh kang radi
1 Jawaban
756 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 05, 2015, 08:51:35 PM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
380 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 04, 2015, 02:04:07 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
368 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 29, 2015, 04:20:39 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
311 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 20, 2016, 11:28:09 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
188 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 30, 2016, 09:01:45 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan