collapse

* Artikel Pilihan

Penulis Topik: standar kedhaifan hadits  (Dibaca 1893 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 483
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
standar kedhaifan hadits
« pada: Juli 16, 2012, 03:03:04 PM »


Dulu ketika saya aktif mengaji di LDII, terbiasa mengkaji hadits dengan metoda mangkulan. Seorang mubaligh pernah memangkulkan sebuah hadits dalam kitab Tirmidzi bab keutamaan sahabat yang berbunyi “Hadza Ali, imamukum, walaliyukum mim bakdi.” (inilah Ali, imam kalian dan wali kalian sesudahku)

Setelah membacakan hadits tersebut mubaligh berkata, “Hadis ini dhaif. Kenapa? Karena di dalamnya ada peawi syiah, yaitu Jakfar As-Shadiq.

Hati saya bertanya, apakah adil sebuah hadits dianggap dhaif karena perawinya merupakan anggoa kelompok tertentu? Apakah ucapakan seseorang otomatis dusta, hanya karena orang itu bemazhab syiah? Apalagi tuduhan itu ditujukan kepada Jakfar As-Shadiq, cicit Rasulullah saw. Saya tidak mendengar ada orang yang menuduhnya sebagai perawi yang cacat, kecuali mubaligh LDII tersebut.

Dalam majelis lain, seorang ulama wahabi berkata, “Salah satu syarat shahehnya sebuah hadits adalah perawinya tidak boleh catat. Artinya, bila ada seorang saja yang menganggap perawi tersebut sebagai pendusta, mak cacatlah dirinya sebagai perawi hadits, dan setiap haditsnya dihukumi dhaif.

Lalu saya berkata, kepadanya, “Jika begitu, maka tidak akan ada satupun hadits yang sealmat. Kenapa? karena dengan standar seperti setiap perawi yang dianggap berada di kelompok yang bertentangan faham akan dianggap sebagai pendusta. Bahkan Abu Huraiah yang hadisnya banyak yang dianggap shaheh dan banyak digunakan oleh kaum sunni, dalam pandangan kaum syiah adalah pendusta, seturut dengan sebuah riwayat di mana Umar Ibnu Khatab pernah menampar Abu Huraiah, menuduhnya pendusta serta melarang Abu Hurairah meriwayatkan hadits-hadits, sehingga selama Umar ibnu Khatab hidup, Abu Hurairah tidak berani meriwayatkan hadits. Barulah sesudah Umar wafat, Abu Huraiah kembali aktif meriwayatkan hadits-hadits. Maka hadits manakah yang perawinya selamat dari dituduh sebagai pendusta? Semua riwayat yang dianggap meriwayatkan ajaran yang berpihak pada syiah, akan dituduh syiah dan karenanya didustakan. Tidak ada standar lain yang mendhaifkan hadits tersebut, kecuali karena hadits tersebut mengandung syiahisme atau perawinya diketahui bermazhab syiah.

seperti telah Anda baca, bahwa syiahisme adalah bid`ah yang karenanya perawi dicacat keadilannya dan didhaifkan riwayat-riwyat darinya (Ali Umar Al-Habsyi, Dua Pusaka Nabi, Hal.   103)

Apakah benar seperti itu standar kedhaifan suatu hadits menurut ulama sunni?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
3346 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 08, 2012, 02:03:22 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
2066 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 25, 2012, 06:04:02 AM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
3081 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 27, 2016, 09:49:45 AM
oleh danijaya
0 Jawaban
1368 Dilihat
Tulisan terakhir April 16, 2013, 05:16:36 PM
oleh Abu Zahra
3 Jawaban
1911 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 24, 2013, 12:08:49 PM
oleh comicers
0 Jawaban
1417 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 29, 2013, 04:16:46 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
974 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 29, 2013, 09:52:10 PM
oleh Kang Asep
19 Jawaban
7508 Dilihat
Tulisan terakhir September 01, 2013, 05:09:47 PM
oleh Kang Asep
3 Jawaban
510 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 27, 2016, 09:00:29 PM
oleh Sultan
0 Jawaban
377 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 05, 2016, 08:33:59 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan