collapse

* Artikel Pilihan

Penulis Topik: Rancangan Kaidah Yang Dzalim  (Dibaca 5817 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 428
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Rancangan Kaidah Yang Dzalim
« pada: Juli 16, 2012, 09:10:02 PM »
Menghukumi palsu pada setiap hadits karena hadits tersebut di riwayatkan oleh seorang syiah rafidhoh, sedangkan perawi mana saja yang banyak meriwayatkan keutamaan ahlul bait akan dianggap sebagai kaum rafidhoh, maka inilah yang disebut dengan Rancangan Kaidah yang Dzalim.

salah satu tanda kuat hadis mawhu (palsu) adalah apabila hadis itu berbicara tentang keutamaan ahlul bait dan periwayatnya adalah orang rafidhi. ( Ali Umar Al-Habsyi, Dua Pusaka Nabi, Hal. 103. Par.1 )

Kaidah ini seperti, “apa saja yang aku katakan, itu pasti benar karena aku adalah seorang sunni. Sedangkan apa saja yang kamu katakan pastilah salah, karena kamu adalah syiah.”  Maka di mana letak keadilan kaidah seperti ini?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Ratno Golan

Re:Rancangan Kaidah Yang Dzalim
« Jawab #1 pada: Juli 17, 2012, 05:30:35 PM »
untuk part1----> bukankah "dianggap" itu tidak sama dengan "dipastikan"? part2-----> berarti ada beberapa tanda ya kang? mungkin begini analoginya, salah satu tanda bahwa hari ini akan turun hujan adalah adanya mendung. jadi masih terindikasi, part3-----> jika sesuatu itu dianggap batil maka produck dari sesuatu itu adalah batil pula, bukankah ini logic kang?
« Edit Terakhir: Juli 17, 2012, 05:37:08 PM oleh Ratno Golan »
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 428
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Rancangan Kaidah Yang Dzalim
« Jawab #2 pada: Juli 17, 2012, 11:38:09 PM »
untuk part1----> bukankah "dianggap" itu tidak sama dengan "dipastikan"? part2-----> berarti ada beberapa tanda ya kang? mungkin begini analoginya, salah satu tanda bahwa hari ini akan turun hujan adalah adanya mendung. jadi masih terindikasi, part3-----> jika sesuatu itu dianggap batil maka produck dari sesuatu itu adalah batil pula, bukankah ini logic kang?

memang demikian hukum analogi. tetapi berbeda dengan logika.

secara analogi, jika hari senin pukul 3 sore turun hujan, demikian pula pada hari selasa, maka pada hari rabupun akan hujan pukul 3 sore.

jika hari mendung, maka turun hujan. << ini disebut hukum kebiasaan dan bukan kemestian. jadi, jika hari mendung, maka biasanya hujan. walaupun begitu, bisa saja hari ini mendung, tapi tidak turun hujan. ini menurut logika.

jika seseorang dianggap termasuk anggota suatu kelompok yang dianggap sesat, maka apakah pasti setiap kalimat yang diucapkannya salah?

orang Indonesia itu ramah.
si udin orang Indonesia.

maka, apakah si udin pasti ramah?

seorang pencuri, apakah akan pasti menciptakan keturunan yang pencuri juga?

seseorang yang dianggap sesat, apakah setiap ucapannya pasti salah?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Ratno Golan

Re:Rancangan Kaidah Yang Dzalim
« Jawab #3 pada: Juli 19, 2012, 03:20:44 PM »
mohon maaf kang asep baru sempet nulis

memang demikian hukum analogi. tetapi berbeda dengan logika.

secara analogi, jika hari senin pukul 3 sore turun hujan, demikian pula pada hari selasa, maka pada hari rabupun akan hujan pukul 3 sore.

jika hari mendung, maka turun hujan. << ini disebut hukum kebiasaan dan bukan kemestian. jadi, jika hari mendung, maka biasanya hujan. walaupun begitu, bisa saja hari ini mendung, tapi tidak turun hujan. ini menurut logika.

^ya benar

Quote (selected)
jika seseorang dianggap termasuk anggota suatu kelompok yang dianggap sesat, maka apakah pasti setiap kalimat yang diucapkannya salah?

^tidak pasti

Quote (selected)
orang Indonesia itu ramah.
si udin orang Indonesia.

maka, apakah si udin pasti ramah?

^jika  kalimat " orang indonesia itu ramah " itu bermakna "setiap", maka jawabanya adalah benar, si udin pasti ramah
 tetapi jika kalimat "orang indonesia itu ramah" itu bermakna "sebagian" karena menurut faktanya tidaklah semua orang indonesia itu ramah, maka jawabanya adalah  tidak pasti.

 tolong bandingkan dengan yang ini kang:
 " orang atheis itu sesat
   si udin orang atheis
   maka si udin adalah orang yang sesat
   mohon penjelasannya kang

Quote (selected)
seorang pencuri, apakah akan pasti menciptakan keturunan yang pencuri juga?

^tidak pasti


  tetapi perumpamaan yang akang berikan itu apakah tepat? karena yang saya maksud disitu bukan personnya tetapi produk aktifitasnya yaitu mencuri,  contoh : mesin potong yang tidak presisi akan menghasilkan dimensi produk yang tidak presisi juga, seorang filsuf yang sesat akan menghasilkan produk pemikiran yang sesat pula

Quote (selected)
seseorang yang dianggap sesat, apakah setiap ucapannya pasti salah?

^tidak pasti, tetapi harus jelas apakah yang dimaksud dengan sesat nya itu

kemudian berkaitan dengan apa yang disampaikan penulis itu apakah bukan merupakan suatu  kehati hatian untuk menerima suatu hadis kang ? karena ada warning terindikasi, dan terindikasi itu hanyalah suatu dugaan, gimana kang?
« Edit Terakhir: Juli 20, 2012, 02:06:55 PM oleh Kang Asep »
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 428
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Rancangan Kaidah Yang Dzalim
« Jawab #4 pada: Juli 20, 2012, 02:19:15 PM »
@Ratno

tanggapan yang bagus

Kutip dari: ratno
orang atheis itu sesat
   si udin orang atheis
   maka si udin adalah orang yang sesat
   mohon penjelasannya kang

itu kesimpulan yang benar

jika jakfar adalah syiah
dan syiah itu sesat
maka jakfar adalah sesat

ini juga kesimpulan yang benar.

sehingga bila kesimpulannya seperti itu, maka dapatlah diterima, sebagai sikap kehati-hatian perawi dalam meriwayatkan hadits, menolak atau mendhaifkan hadits-hadis yang dianggap dari orang syiah.

Kutip dari: ratno
kemudian berkaitan dengan apa yang disampaikan penulis itu apakah bukan merupakan suatu  kehati hatian untuk menerima suatu hadis kang ? karena ada warning terindikasi, dan terindikasi itu hanyalah suatu dugaan, gimana kang?

dalam kaidah ilmu hadits, para perawi itu harus bersih dari terindikasi "pendusta", "lemah ingatan", dan "sesat".

secara logika, kesimpuan-kesimpulan tersebut benar. lalu apa yang salah?

yang salah adalah penyematan status dhaif, shingga menyebabkan penolakan hadits karena ada perawinya yang bermazhab syiah, seolah-olah dhaif = salah.

jika demikian sistemnya, maka tidak akan ada riwayat syiah yang bisa diterima oleh kaum sunni. karena seluruh hadis yang diriwayakan oleh ulama syiah adalah dhaif. dan seluruh hadits yang diriwayatkan olah ulama sunni tidak bisa diterima oleh orang syiah.   akhirnya, sebuah riwayat lebih dilihat dari "siapa yang ngomong" dan bukan "apa yang diomongkan", hal ini bertentangan dengan keyakinan kaum muslimin itu sendiri yang meyakini hadis dari rasulullah "perhatikan apa yang dikatakan orang, jangan lihat siapa orangnya."

Bagaimana?
 
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Ratno Golan

Re:Rancangan Kaidah Yang Dzalim
« Jawab #5 pada: Juli 20, 2012, 07:15:00 PM »
@kang asep,    adalah suatu keniscayaan dibuatnya suatu aturan/ persyaratan yang ketat atas diterimanya suatu hadits untuk menjaganya dari distorsi kontaminasi serta pemalsuan dari pihak pihak yang berkepentingan, sebab hadits adalah salah satu dari dua sumber hukum juga  petunjuk bagi kaum muslimin sebagai pegangan hidup dalam rangka mengemban amanah rahmatan lil alamin, tetapi sudah seharusnya pula dalam membuat aturan / persyaratan itu tidak kemudian bertentangan dengan hadits itu sendiri, seperti hadits yang akang bawakan itu...
 

Offline Ratno Golan

Re:Rancangan Kaidah Yang Dzalim
« Jawab #6 pada: Juli 20, 2012, 09:19:49 PM »
kemudian ini hadits yang kang asep bawakan,"perhatikan apa yang dikatakan orang, jangan lihat siapa orangnya.   tampak kaidah persyaratan/aturan diterimanya suatu hadits seolah tak diperlukan atau malah bertentangan, karena cukuplah "diperhatikan" saja, tetapi kang setiap orang berbeda dalam "memperhatikan" ini, input bolehlah sama tapi output seringkali berbeda kecuali orang oang yang cerdas dan terampil dlm berfikir, sehingga harus ada jalan untuk memadukan hal ini, yakni untuk materi/isi hadits yang membutuhkan sandaran periwayat yg terpercaya maka persyaratan hadits ini tidak boleh dilanggar, kecuali hadits yang materi isinya membutuhkan kajian semacam ilmu logika maka persyaratanya tetap diperlukan hanya kajian ilmiahnya lebih diutamakan, waallohu alam.   selebihnya saya sepakat dengan akang   
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 428
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Rancangan Kaidah Yang Dzalim
« Jawab #7 pada: Juli 21, 2012, 03:26:47 AM »
@kang asep,    adalah suatu keniscayaan dibuatnya suatu aturan/ persyaratan yang ketat atas diterimanya suatu hadits untuk menjaganya dari distorsi kontaminasi serta pemalsuan dari pihak pihak yang berkepentingan, sebab hadits adalah salah satu dari dua sumber hukum juga  petunjuk bagi kaum muslimin sebagai pegangan hidup dalam rangka mengemban amanah rahmatan lil alamin, tetapi sudah seharusnya pula dalam membuat aturan / persyaratan itu tidak kemudian bertentangan dengan hadits itu sendiri, seperti hadits yang akang bawakan itu...

apabila hari kemarin si A berbohong kepada saya, dan hari ini si A berbohong lagi kepada saya, maka wajarlah kalau besok si A menyampaikan suatu kabar, maka saya meragukan kebenaran kabar tersebut. tidaklah berlebihan kalau saya menganggap kabar yang akan diberitakanya besok sebagai kabar yang dhaif (lemah), karena track record sebelumnya. tapi memastikan bahwa kabar dari si A besok pasti bohongnya adalah hal yang salah menurut Logika. sebab benar salahnya suatu proposisi adalah berdasarkan argumentasinya, bukan berdasarkan perilaku orang di hari sebelumnya. jadi, antara "meragukan" dengan "memastikan" adalah  hal berbeda. apakah ini bisa disepakati?

kemudian ini hadits yang kang asep bawakan,"perhatikan apa yang dikatakan orang, jangan lihat siapa orangnya.   tampak kaidah persyaratan/aturan diterimanya suatu hadits seolah tak diperlukan atau malah bertentangan, karena cukuplah "diperhatikan" saja,

syarat/aturan diterimanya hadits adalah diperlukan, termasuk jika salah satu syarat itu adalah melihat “siapa yang bicara”, apakah ia adalah orang yang patut diepercaya atau tidak. Dan apabila ini tidak bertentangan dengan hadits “perhatikan apa yang dikatakan”.

 di sini memang kita perlu melihat "siapa yang patut di percaya" dan "siapa yang patut diragukan". dan saya sepakat, bahwa penyelidikan tentang mana perawi yang dapat dipercaya dan mana yang tidak, sehingga melahirkan hadits shaheh-dhaif, merupakan hal yang penting atau diperlukan oleh umat. Menyematkan status shaheh-dhaif berdasarkan “siapa yang meriwayatkannya” bukanlah yang disebut dengan “Kaidah Yang Dzalim”.

Tetapi mengakategorikan seseorang kepada suatu “kelompok batil”, karena orang itu banyak meriwayatkan keutamaan ahlul bait. Apakah ini adil?

kemudian memberi status suatu hadits sebagai suatu hadits palsu dengan alasan diantara perawinya ada syiah rafidah, apakah benar ini merupakan salah satu kaidah ilmu hadits?


Kutip dari: ratno

tetapi kang setiap orang berbeda dalam "memperhatikan" ini, input bolehlah sama tapi output seringkali berbeda kecuali orang oang yang cerdas dan terampil dlm berfikir, sehingga harus ada jalan untuk memadukan hal ini, yakni untuk materi/isi hadits yang membutuhkan sandaran periwayat yg terpercaya maka persyaratan hadits ini tidak boleh dilanggar, kecuali hadits yang materi isinya membutuhkan kajian semacam ilmu logika maka persyaratanya tetap diperlukan hanya kajian ilmiahnya lebih diutamakan, waallohu alam.   selebihnya saya sepakat dengan akang   


ada kemungkinan, bahwa "sistem melihat siapa yang berkata" dan “sistem tidak melihat siapa yang berkata", bukan merupakan dua teori yang bertentangan. kendatipun bentuk kalimatnya tampak bertentangan.

untuk membuktikan bahwa kedua hal tersebut tidak bertentangan, maka tentu membutuhkan penjelasan dari orang yang memahami kebenaran makna kedua kalimat tersebut. nah, di ini saya bertanya, "Bagaimana penjelasan kebenaran kedua bentuk kalimat yang tampak bertentangan tersebut, sehingga keduanya bisa dinyatakan sebagai "sejalan" ?"

selanjutnya, suatu pernyataan seseorang belum tentu salah, tapi langsung dihukumi salah karena ia anggota kelompok yang sesat, apakah itu adil? padahal secara logika,  nilai benar atau salah sebuah pernyataan tidak bisa difahami dari status kelompok atau organisasi orang tersebut, melainkan bergantung argumtasinya. jadi, jika tidak adil, maka berarti kaidah seperti itu dzalim. jika tidak dzalim, maka letak keadilannya itu perlu difahami dengan jelas, di mana?

“yang salah adalah penyematan status dhaif, shingga menyebabkan penolakan hadits karena ada perawinya yang bermazhab syiah, seolah-olah dhaif = salah.”

Di sini, saya bertanya kepada yang mengetahui, apakah dhaif = salah?

Jika “ya”, maka saya pandangan sistem penyematan dhaif pada suatu hadits tersebut adalah salah. Jika “tidak”, maka “tidak salah”.

Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut telah terjawab, maka barulah berlaku hal berikut :

“jika demikian sistemnya, maka tidak akan ada riwayat syiah yang bisa diterima oleh kaum sunni. karena seluruh hadis yang diriwayakan oleh ulama syiah adalah dhaif. dan seluruh hadits yang diriwayatkan olah ulama sunni tidak bisa diterima oleh orang syiah.   akhirnya, sebuah riwayat lebih dilihat dari "siapa yang ngomong" dan bukan "apa yang diomongkan", hal ini bertentangan dengan keyakinan kaum muslimin itu sendiri yang meyakini hadis dari rasulullah "perhatikan apa yang dikatakan orang, jangan lihat siapa orangnya."
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Ratno Golan

Re:Rancangan Kaidah Yang Dzalim
« Jawab #8 pada: Juli 21, 2012, 03:54:21 PM »
apabila hari kemarin si A berbohong kepada saya, dan hari ini si A berbohong lagi kepada saya, maka wajarlah kalau besok si A menyampaikan suatu kabar, maka saya meragukan kebenaran kabar tersebut. tidaklah berlebihan kalau saya menganggap kabar yang akan diberitakanya besok sebagai kabar yang dhaif (lemah), karena track record sebelumnya. tapi memastikan bahwa kabar dari si A besok pasti bohongnya adalah hal yang salah menurut Logika. sebab benar salahnya suatu proposisi adalah berdasarkan argumentasinya, bukan berdasarkan perilaku orang di hari sebelumnya. jadi, antara "meragukan" dengan "memastikan" adalah  hal berbeda. apakah ini bisa disepakati?

^ ya sepakat

syarat/aturan diterimanya hadits adalah diperlukan, termasuk jika salah satu syarat itu adalah melihat “siapa yang bicara”, apakah ia adalah orang yang patut diepercaya atau tidak. Dan apabila ini tidak bertentangan dengan hadits “perhatikan apa yang dikatakan”.

 di sini memang kita perlu melihat "siapa yang patut di percaya" dan "siapa yang patut diragukan". dan saya sepakat, bahwa penyelidikan tentang mana perawi yang dapat dipercaya dan mana yang tidak, sehingga melahirkan hadits shaheh-dhaif, merupakan hal yang penting atau diperlukan oleh umat. Menyematkan status shaheh-dhaif berdasarkan “siapa yang meriwayatkannya” bukanlah yang disebut dengan “Kaidah Yang Dzalim”.

^ya bukan

Tetapi mengakategorikan seseorang kepada suatu “kelompok batil”, karena orang itu banyak meriwayatkan keutamaan ahlul bait. Apakah ini adil?

^tidak adil

kemudian memberi status suatu hadits sebagai suatu hadits palsu dengan alasan diantara perawinya ada syiah rafidah, apakah benar ini merupakan salah satu kaidah ilmu hadits?

^tidak tahu



ada kemungkinan, bahwa "sistem melihat siapa yang berkata" dan “sistem tidak melihat siapa yang berkata", bukan merupakan dua teori yang bertentangan. kendatipun bentuk kalimatnya tampak bertentangan.

untuk membuktikan bahwa kedua hal tersebut tidak bertentangan, maka tentu membutuhkan penjelasan dari orang yang memahami kebenaran makna kedua kalimat tersebut. nah, di ini saya bertanya, "Bagaimana penjelasan kebenaran kedua bentuk kalimat yang tampak bertentangan tersebut, sehingga keduanya bisa dinyatakan sebagai "sejalan" ?"

^ *sistem melihat siapa yang berkata : 
  jika : alquran yang bicara:

   kitab suci adalah firman tuhan yang pasti kebenaranya
   alquran adalah kitab suci
   maka alquran adalah firman tuhan yang pasti kebenaranya

   jika ; muhammad saw yang bicara:

    utusan allah pasti benar perkataanya
    muhammad adalah utusan allah
    maka muhammad pasti benar perkataanya

  * sistem tidak melihat siapa yang bicara:

     ...............lalu abu hurairahpun membebaskanya , besuknya rosululloh saw bertanya kepada abu huroiroh tentang tawananya semalam. kata abu huroiroh," wahai rosululloh dia menyangka bahwa dia telah mengajariku beberapa kalimat yang bermanfaat bagiku, maka aku membebaskan dia."
"apa itu," kata nabi
"dia berkata padaku agar aku membaca ayat kursyi sebelum tidur. dan apabila aku membacanya, maka aku akan dijaga oleh allah sampai subuh dan tidak akan ada setan yang mendekatiku," jawab abu huroiroh
"ketahuilah, sesungguhnya ia telah berkata jujur padamu padahal sebenarnya ia pendusta. tahukah kau siapa orang yang kau ajak bicara selama tiga malam ini, hai abu huroiroh?"
"tidak."
"dia itu adalah setan." (hr. bukhori )
disini sistem tak melihat siapa yang bicara, tetapi menjadi sumber legal karena ada legitimasi dari rosululloh

selanjutnya menyusul ya kang, soalnya mo berangkat kerja
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 428
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Rancangan Kaidah Yang Dzalim
« Jawab #9 pada: Juli 21, 2012, 04:36:26 PM »
@ Ratno

komentar anda sangat bagus, dan sudah cukup menjwab apa yang dipertanyakan di thread ini.

Quote (selected)
Tetapi mengakategorikan seseorang kepada suatu “kelompok batil”, karena orang itu banyak meriwayatkan keutamaan ahlul bait. Apakah ini adil?

^tidak adil

tapi bolehlah kalau kita hendak menambahkan pembicaraan lain sebagai tambahan.

berikut ini adalah kisah yang sering saya posting di berbagai forum, tentang bagaimana caranya mengetahui siapa orang-orang yang benar dan siapa orang-orang yang bathil.

Mengenali Kebenaran

Pada perang Jamal, seorang bernama Harits bin Hud mengatakan, “aku bingung, disatu barisan berdiri Ummul Mukminin Aisyah, istri Rasul; Zubair bin Awwam, Pedang islam,sahabat dan anak paman Rasul; dan Thalhah bin Ubaidillah, al-Khair,, seorang sahabat rasul yang dikenal sebagai pekerja keras. Sementara di barisan lain berdiri Ali Bin Abi Thalib dan putra-putranya serta Ammar bin Yasir. lalu bagaimana kita dapat mengenali kebenaran?”

Imam Ali as berkata, “wahai Harits! Cara berpikirmu itu terbalik, bila engkau melihat sahabat secara lahiriahnya, maka engkau bingung menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Ketahuilah, bahwa kebenaran dan kebatilan itu tidak dapat dikenali dengan kepribadian orang, kenalilah kebenaran itu sendiri, sehingga engkau dapat mengenali juga orang-orangnya. Dan kenali juga kebatilan sehingga engkau dapat mengenali orang-orangnya.”

(Ali Shofi, Kisah-kisah Imam Ali Hal 31, Jadebeh Wadafe`eh, hal . 136; Imam Ali Ulguye Zindagi hal. 222)
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Ratno Golan

Re:Rancangan Kaidah Yang Dzalim
« Jawab #10 pada: Juli 22, 2012, 03:40:24 PM »
@ Ratno

komentar anda sangat bagus, dan sudah cukup menjwab apa yang dipertanyakan di thread ini.

^terima kasih apresiasinya kang

tapi bolehlah kalau kita hendak menambahkan pembicaraan lain sebagai tambahan.

^tentu saja kang

berikut ini adalah kisah yang sering saya posting di berbagai forum, tentang bagaimana caranya mengetahui siapa orang-orang yang benar dan siapa orang-orang yang bathil.

^ya benar, beberapa kali saya sering baca postingan akang ini

Mengenali Kebenaran

Pada perang Jamal, seorang bernama Harits bin Hud mengatakan, “aku bingung, disatu barisan berdiri Ummul Mukminin Aisyah, istri Rasul; Zubair bin Awwam, Pedang islam,sahabat dan anak paman Rasul; dan Thalhah bin Ubaidillah, al-Khair,, seorang sahabat rasul yang dikenal sebagai pekerja keras. Sementara di barisan lain berdiri Ali Bin Abi Thalib dan putra-putranya serta Ammar bin Yasir. lalu bagaimana kita dapat mengenali kebenaran?”

Imam Ali as berkata, “wahai Harits! Cara berpikirmu itu terbalik, bila engkau melihat sahabat secara lahiriahnya, maka engkau bingung menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Ketahuilah, bahwa kebenaran dan kebatilan itu tidak dapat dikenali dengan kepribadian orang, kenalilah kebenaran itu sendiri, sehingga engkau dapat mengenali juga orang-orangnya. Dan kenali juga kebatilan sehingga engkau dapat mengenali orang-orangnya.”

(Ali Shofi, Kisah-kisah Imam Ali Hal 31, Jadebeh Wadafe`eh, hal . 136; Imam Ali Ulguye Zindagi hal. 222)

^jikalau saya hidup pada masa itu pasti cara berpikir saya seperti harits bin hud, bagaimana saya bisa mengangkat pedang kepada bunda siti aisyah atau sebaliknya kepada sayyidina ali kw sedangkan mereka adalah ahlul bait? orang orang mulia yang mempunyai peranan besar dalam perkembangan islam dan juga kecintaan nabi?
 

Imam Ali as berkata, “wahai Harits! Cara berpikirmu itu terbalik, bila engkau melihat sahabat secara lahiriahnya, maka engkau bingung menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Ketahuilah, bahwa kebenaran dan kebatilan itu tidak dapat dikenali dengan kepribadian orang, kenalilah kebenaran itu sendiri, sehingga engkau dapat mengenali juga orang-orangnya. Dan kenali juga kebatilan sehingga engkau dapat mengenali orang-orangnya.”

^kang saya sering merenungkan hal ini tapi tak mampu memahaminya, lalu yang dimaksud imam ali ra itu penjelasannya bagaimana kang? mohon pencerahannya....



 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 428
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
siapa yang berpegang kepada kebenaran
« Jawab #11 pada: Juli 23, 2012, 03:02:47 AM »
Kutip dari: ratno

^kang saya sering merenungkan hal ini tapi tak mampu memahaminya, lalu yang dimaksud imam ali ra itu penjelasannya bagaimana kang? mohon pencerahannya....

Logika, sama halnya dengan alam semesta, memiliki hukum-. hukum yang pasti.

jika A adalah B. dan Setiap B adalah C, maka siapapun orangnya terhadap premis-premis tersebut harus, disimpulkan bahwa A adalah C. Telah teruji dan telah jelas kebenarannya tanpa keraguan sedikitpun. siapa  yang menyimpulkan demikian, dengan cara demikian, maka ia disebut "berpegang kepada kebenaran".

menyimpulkan bahwa A bukanlah C, dari premis-premis yang ada di atas, merupakan pengingkaran terhadap kebenaran. sudah jelas salahnya dan teruji kebatilannya, tanpa keraguan sedikitpun. siapa yang menyimpulkan demikian, dengan cara demikian, maka ia disebut "pengingkar kebenaran".

jikalau benar dan salah sudah difahami dengan sejelas-jelasnya, maka akan jelas pulalah, siapa yang berpegang kepada kebenaran itu dan siapa yang mengingkari kebenaran itu. jika sesuatu itu sudah begitu jelas kebenarannya, teruji dan tanpa keraguannya, maka jelas, teruji dan tanpa keraguan, siapa yang berpegang dan yang mengingkarinya.

Muhammad al-Amin, ia adalah yang terpercaya, yang pasti benar seluruh ucapannya berdasarkan wahyu. tapi beliau difahami sebagai "orang yang benar", bukan karena sebutannya sebagai "nabi" dan "rasul", tetapi karena telah jelas, teruji dan tanpa keraguan, beliu telah berpegang kepada kebenaran.
« Edit Terakhir: Juli 23, 2012, 03:05:14 AM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Ratno Golan

Re:Rancangan Kaidah Yang Dzalim
« Jawab #12 pada: Juli 29, 2012, 10:04:49 AM »
baik kang   saya sudah memahami apa yang akang sampaikan, karena saya bukan pengingkar kebenaran dan ingin berpegang pada kebenaran maka saya akan berlatih menyimpulkan bahwa A adalah C
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 428
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Rancangan Kaidah Yang Dzalim
« Jawab #13 pada: Juli 29, 2012, 04:21:37 PM »
baik kang   saya sudah memahami apa yang akang sampaikan, karena saya bukan pengingkar kebenaran dan ingin berpegang pada kebenaran maka saya akan berlatih menyimpulkan bahwa A adalah C

silahkan bertanya lagi, bila memang ada yang belum dimengerti. jangan ragu untuk menyampaikan bantahan, apabila memang ada hal yang menurut anda bisa untuk dibantah. karena bantahan seseorang keapda kita, bisa menjadi inspirasi bagi kita untuk memahami bagaimana cara menjelaskan kepada orang lain dengan cara yang terbaik.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Ratno Golan

Re:Rancangan Kaidah Yang Dzalim
« Jawab #14 pada: Agustus 07, 2012, 01:42:05 PM »
terima kasih kang, memang banyak yang belum saya mengerti, tapi kadang menyampaikan pertanyaan atas sesuatu yang belum dimengerti itu bukan hal yang mudah, kemudian jika ada sesuatu pernyataan yang kira kira kurang mengena di hati dan menurut saya musti mengajukan bantahan juga bukan perkara yang mudah bagi saya untuk mengajukannya, tapi akan saya coba karena bagi saya banyak pernyataan pernyatan kang asep memancing untuk dibantah
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
724 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 04, 2012, 08:21:03 PM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
2162 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 17, 2012, 12:10:06 PM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
1366 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 01, 2015, 07:17:58 AM
oleh Kang Asep
6 Jawaban
3071 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 06, 2015, 11:45:37 AM
oleh Ziels
0 Jawaban
1424 Dilihat
Tulisan terakhir April 24, 2012, 03:36:39 PM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
2208 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 11, 2015, 10:53:55 AM
oleh Monox D. I-Fly
6 Jawaban
3924 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 05, 2015, 09:12:08 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1822 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 14, 2012, 11:18:43 PM
oleh Kang Asep
4 Jawaban
1759 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 14, 2018, 07:55:57 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1135 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 03, 2012, 12:15:13 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan