collapse

* Artikel Pilihan

Penulis Topik: Agama dan Logika  (Dibaca 8434 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline arya

Re:Agama dan Logika
« Jawab #15 pada: Pebruari 21, 2014, 03:32:50 PM »
Bukankah ibnu taimiyah memisahkan filsafat menjadi 2 macam yaitu mana yang menjadi wewenang agama (hal yang bersifat metafisis) dan mana yang menjadi wewenang intelektual
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9458
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 472
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Agama dan Logika
« Jawab #16 pada: Pebruari 22, 2014, 06:51:23 AM »
^ terus... masalahnya apa ?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline arya

Re:Agama dan Logika
« Jawab #17 pada: Pebruari 22, 2014, 10:41:32 AM »
saya sudah membaca debat kang asep dengan yusufmuslim di sini :

http://www.myquran.org/forum/index.php/topic,75153.0.html

dan debat dengan sahabat dithread yang lainnya.

Yang saya garis bawahi dari debat tersebut :

1. Tidak ada konsep/hakikat yang bisa dibentuk kecuali dengan cara pendefinisian/menggunakan definisi.
2. Definisi menuntun kepada konsepsi hal-hal/benda-benda
3. Tidak ada kesimpulan yang bisa diketahui kecuali melalui silogisme
4. Silogisme atau pembuktian (burhan) menuntun kepada pengetahuan kesimpulan tertentu.


Saya agak kesulitan untuk mendalami lebih jauh, karna saya gak punya info banyak mengenai teori2 logika begitupun bantahannya dari ibnu taimiyah. seperti yang saya sampaikan sebelumnya saya hanya ngutip dikit2 dari dunia maya itupun entah benar atau tidak.
---

sementara saya mau nanya ini dulu kang :

Quote (selected)
Mari kita simak bahasa al Quran, apakah di dalamnya terkandung definisi Nabi, Rasul, Allah, malaikat dan lain sebagainya ? tampaknya kita hanya menemukan proposisi-prosposisi saja. coba jelaskan, apa hakikat rasul Allah menurut al Quran ? apa hakikat Nabi menurut al Quran ? walaupun misalnya, Nabi dan Rasul tidak didefinisikan secara langsung di dalam al Quran, tetapi term-term tersbut bisa terdefinisikan. Proposisi-proposisi yang muncul, setelah dikumpulkan sekian banyak, akhirnya definisi itu muncul di dalam diri seseorang.

Apa yang dimaksud diri seseorang disitu adalah nabi muhammad saw atau manusia secara keseluruhan ?
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9458
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 472
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Agama dan Logika
« Jawab #18 pada: Pebruari 22, 2014, 11:14:13 AM »
maksud "diri seseorang" itu adalah batin manusia.

konsepsi, salah satu ajaran ilmu logika. sebelum kang Arya menjelaskan konsep-konsep kepada saya, maka terlebih dahulu konsepsi itu terdapat di dalam batin kang arya. benar atau tidak ? jika kemudian kang arya ingin menjelaskan konsep-konsep tersebut dengan bahasa, maka tidak ada jalan lain untuk menjelaskannya, kecuali dengan proposisi-proposisi. oleh karena itu dikatakan konsepsi hanya bisa difahami melalui proposisi.

nah, Ibnu Taimiyah salah faham. seandainya ia mengkritisi masalah konsepsi ini, maka ia akan berkata, "kalau konsepsi itu hanya bisa difahami melalui proposisi, maka bagaimana mungkin kang arya bisa memahami konsep tersebut kecuali dari proposisi orang lain ? ini merupakan pekerjaan yang tidak mungkin." padahal, kang artya tidak harus menerima proposisi dari orang lain, karena proposisi-proposisi itu telah hadir di dalam batin kang arya. dan kang arya sendiri tidak mungkin memahami konsep-konsep tersebut, tanpa hadirnya proposisi-proposisi di dalam batin kang arya. oleh karena itu, walaupun mengerti sebuah proposisi tanpa mendengar dari orang lain, tetap dikatakan "konsepsi hanya dapat difahami melalui proposisi". Ibnu Taimiyah menangkapnya seakan "Proposisi tidak akan difahami, kecuali dari propsosi yang dinyatakan orang lain." tentu saja, ini keliru.

demikian pula halnya dalam definisi. hakikat itu hanya dapat difahami melalui definisi. bila Ibnu Taimiyah memahami hakikat sesuatu, apakah karena diajarikan orang lain atau karena ilham dari Allah, sama saja, berarti telah muncul definisi sesuatu itu di dalam batin Ibnu Taimiyah. dengan demikian tetap di katakan hakikat sesuatu itu hanya dapat difahami melalui definisi.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline arya

Re:Agama dan Logika
« Jawab #19 pada: Pebruari 22, 2014, 12:00:20 PM »
Quote (selected)
maksud "diri seseorang" itu adalah batin manusia.

konsepsi, salah satu ajaran ilmu logika. sebelum kang Arya menjelaskan konsep-konsep kepada saya, maka terlebih dahulu konsepsi itu terdapat di dalam batin kang arya. benar atau tidak ? jika kemudian kang arya ingin menjelaskan konsep-konsep tersebut dengan bahasa, maka tidak ada jalan lain untuk menjelaskannya, kecuali dengan proposisi-proposisi. oleh karena itu dikatakan konsepsi hanya bisa difahami melalui proposisi.


Benar kang, konsep itu bisa jadi saya dapat, atas pengamatan sendiri atau bisa jadi atas informasi dari orang lain. lalu konsep td, saya utarakan dalam bentuk proposisi2. maksudnya begitu kan kang.

Jadi proposisi yang berdasarkan konsep adalah definisi. Apakah benar demikian kang?

mudah2an kang asep agak kerasan nih ngajarin saya.
 

Offline arya

Re:Agama dan Logika
« Jawab #20 pada: Pebruari 22, 2014, 12:26:30 PM »


Benar kang, konsep itu bisa jadi saya dapat, atas pengamatan sendiri atau bisa jadi atas informasi dari orang lain. lalu konsep td, saya utarakan dalam bentuk proposisi2. maksudnya begitu kan kang.

Jadi proposisi yang berdasarkan konsep adalah definisi. Apakah benar demikian kang?

mudah2an kang asep agak kerasan nih ngajarin saya.

mungkin saya perjelas lagi kang dari maksud saya tsb, konsep yang ada pada batin saya itu kan ada faktor pembentuknya yaitu dikarenakan adanya pengamatan sendiri (pengamatan empiris) atau dikarenakan informasi dari orang lain.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9458
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 472
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Agama dan Logika
« Jawab #21 pada: Pebruari 22, 2014, 12:54:46 PM »
Kutip dari: arya
adi proposisi yang berdasarkan konsep adalah definisi. Apakah benar demikian kang?

bukan begitu kang arya.

konsepsi bisa difahami melalui dua cara. pertama, melalui pengamatan langsung secara empiris. kedua melalui proposisi yang dikemuakan orang lain. tapi, dalam ruang lingkup bahasa, hanya ada satu cara, yaitu melalui proposisi.

Hakikat bisa difahami melalui dua cara. pertama, melalui pengamatan langsung secara empiris. kedua, melalui definisi yang dikemukakan orang lain. tapi dalam ruang lingkup bahasa hanya ada satu cara untuk memahami hakikat, yaitu melalui definisi itu saja.

misalnya, kang arya melihat sebongkah batu. di sisi lain, kang arya juga melihat air, dan gas. kang arya melihat persamaan jenis diantara mereka, yaitu sama-sama benda. sehingga kang arya mengetahui bahwa "batu adalah benda". hal ini dapat difahami sebelum dikatakan atau sebelum orang lain mengatakannya kepada kang arya. berarti kang arya telah memahami suatu konsep. ketika kang arya ingin menyampaikan konsep tersebut kepada orang lain, tidak ada jalan lain, kecuali menggunakan proposisi "batu adalah benda". kalau tidak menggunakan proposisi ini, bagaimana cara kang arya menjelaskan konsep yang di dalam pikiran kang arya ? tentu tidak bisa. bisa saja dengan cara lain seperti menunjukan batu tersebut kepada orang lain, dengan suatu isyarat-isyarat tertentu agar orang lain mengerti bahwa batu adalah sejenis benda. tapi ini berarti di luar lingkup logika dan bahasa lisan. sedangkan yang kita bicarakan adalah persoalan logika atau bahasa lisan atau tulisan.

kemudian, misalnya kang arya menemukn sifat yang memisahkan antara batu dengan benda lainnya. misalnya sifat pemisah tersebut adalah X, sehingga muncul pemahaman di dalam batin kang arya bahwa batu adalah sejenis benda X. berarti kang arya telah menemukan definisi, walaupun kang arya belum mengunkapkannya melalui kata-kata. jadi, hakikat dan definisi itu sama saja. hanya saja, hakikat itu definisi yang belum diungkapkan ke dalam bentuk kata-kata. dan definisi itu, paradigma dari hakikat tersebut.

ada contoh lain. suatu benda itu tidak akan dapat diketahui kecuali melalui nama. tentu orang bisa membantah. "walaupun kita tidak tahu namanya, faktanya kita bisa mengetahui suatu benda." memang benar. tapi di sini, ada suatu benda yang ingin saya beritahukan kepada kang arya. tapi saya enggan menyebut namanya, apa kang arya bisa mengetahuinya ? jika tidak, maka benarlah yang saya katakan, benda itu hanya bisa diketahui melaliu nama.

ada cara agar kang arya mengetahui benda yang ingin saya beritahukan, yaitu dengan mengundang kang arya datang kemari, serta melihatnya sendiri. atau saya memotret benda ini, dan mengunggahnya di sini. ketika kang arya melihat gambarnya, kang arya akan menyebut namanya. oh ternyata anu. jadi, tetap saja benda itu hanya dikenali melalui namanya. tapi, bagaimana kalau kang arya tidak tahu nama benda yang ingin saya beritahukan ? walaupun kang arya tidak tahu namanya, tetap saja batin kang arya membuat sebuah variabel X yang mewakili nama benda tersebut. atau kang arya di dalam batin menyebutnya "benda yang diperlihatkan kang asep" tetap saja ini merupakan nama. variabel ini adalah hakikat dari nama. atau bahkan kang arya menamai sendiri benda tersebut. seperti itu pula definisi dan proposisi.

atau perhatikan benda-benda yang tampak di sekeliling kang arya. adakah benda yang belum diketahui namanya ? mungkin kang arya menemukan dan berkata dalam hati "ini". sebenarnya "ini" juga merupakan variabel atau nama dari benda tersebut.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline arya

Re:Agama dan Logika
« Jawab #22 pada: Pebruari 23, 2014, 06:54:09 AM »
Makasih kang atas penjelasannya.

Entah hanya pada diri saya aja atau mgkn pada kebanyakan orang, mindset dan pandangan terhadap logika selalu ke arah empiris/induktif. Entah karena faktor cara belajar seperti kurikulum, bidang ilmu yang dipelajari atau mgkn faktor lainnya. ataukah memang perkembangan logika saat ini mengarah kesitu?
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9458
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 472
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Agama dan Logika
« Jawab #23 pada: Pebruari 23, 2014, 08:08:28 AM »
coba deh kang arya baca artikel berikut : empiris tanpa logika
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags: Agama logika 
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
1 Jawaban
2018 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 15, 2016, 01:49:00 PM
oleh Amoy
0 Jawaban
1868 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 01, 2013, 09:33:35 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
2018 Dilihat
Tulisan terakhir November 18, 2013, 04:56:27 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
775 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 02, 2013, 07:01:46 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
424 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 22, 2015, 10:31:18 AM
oleh comicers
4 Jawaban
1456 Dilihat
Tulisan terakhir April 02, 2015, 09:49:21 AM
oleh comicers
1 Jawaban
728 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 12, 2015, 11:20:09 PM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
314 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 31, 2016, 12:04:10 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
392 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 10, 2016, 10:02:42 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
188 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 29, 2017, 11:56:01 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan