collapse

* Artikel Pilihan

Penulis Topik: keniscayaan belajar  (Dibaca 1962 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9585
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
keniscayaan belajar
« pada: Juni 25, 2012, 05:38:11 AM »

Belajar adalah keniscayaan bagi pikiran. Setiap orang yang mempunyai pikiran, pasti berpikir. Dan setiap kali proses berpikir terjadi, maka setiap kali itu pulalah proses belajar terjadi. Karena bepikir berarti proses belajar. Oleh karena itu, tidak ada seorangpun manusia yang tidak belajar.

Jika setiap manusia berpikir, maka kecerdasan manusia berbeda-beda kadarnya. Ada orang yang disebut haqamah (lemah akal), bahlul (bodoh), jahil (bodoh dalam agama), dan ada juga orang yang pintar atau disebut jenius? Hal itu karena perbedaan dalam cara berpikir dan objek yang dipikirkannya.

Ketika seseorang duduk bermalas-malasan di dalam rumahnya, dari pagi hingga petang, maka dia tidak bisa menghindar dari proses berpikir. Sayangnya, orang yang malas senantiasa memikirkan objek-objek kemalasan, yakni memikirkan objek yang dianggapnya menyenangkan dan melekat pada objek itu, sehingga menciptakan pikiran yang berputar pada objek tersebut. Pikirannya terarah kepada objek-objek, dengan tujuan untuk menciptakan rasa menyenangkan dalam dirinya, bukan untuk memunculkan pengetahuan. inilah yang kemudian menimbulkan kebodohan. Dia memang berpikir dan belajar, tapi objek yang dipikirkan dan dipelajarinya adalah hal yang tidak berguna bagi dirinya. Dan dia sendiri tidak atau kurang mencerap pengetahuan itu, karena lebih menikmati sensasi-sensasi yang menyenangkan. Apabila seseorang bijaksana, maka pikirannya tidak akan terikat oleh objek kemalasan, dan ia akan mengarahkan pikirannya kepada objek untuk diketahui, bukan untuk disenangi. Dia memanfaatkan keniscayaan berpikir dari pikirannya.

Para meditator berupaya menghentikan proses berpikir, dengan mengembangkan kesadaran dan konsentrasi. Semakin berkembangnya kesadaran dan konsentrasi ini, pikiran-pikiran mulai mereda. Tentang apakah benar pemikiran-pemikiran akan mereda seiring berkembangnya kekuatan konsentrasi, hal ini dapat dibuktikan lebih mudah melalui eksperimen dan pengamatan lansung dari pada melalui teori. Sedangkan pembuktian melalui teori dapat difahami dari pengertian konsentrasi yang dimaksud. Bahwa konsentrasi yang dimaksud tersebut adalah kemampuan pikiran dalam memusatkan perhatian pada satu objek secara terus menerus tanpa terputus. Hal ini berarti berlawanan dengan sifat “berpikir”,yang berarti perhatian pikiran bergerak kepada ragam objek. Ketika konsentrasi ini tercipta sepenuhnya, berarti sepenuhnya tidak ada pemikiran.

Untuk bisa memikirkan suatu persoalan secara serius, seseorang membutuhkan daya konsentrasi,  yang dibutuhkan untuk bisa berpikir fokus untuk menopang berkembangnya suatu pemikiran, dan tidak bersifat meredakannya. Kekuatan konsentrasi ini tidak sekuat konsentrasi yang dibutuhkan untuk fokus pada satu objek terus menerus. Jika daya konsentrasi yang digunakan dalam proses berpikir itu berkembang semakin tinggi, maka memaksa pikiran untuk berhenti berpikir, dan secara otomatis menjadi fokus pada satu objek perhatian.

Sebagian orang energinya terkuras karena kesulitan mengistirahatkan pikirannya dari berpikir dan terus berpikir. Bahkan ketika tidurpun proses berpikir masih terus dilakukan. Hal ini menciptakan kelelahan bagi fisik dan mental.  Dengan kemampuan konsentrasi yang mendalam, seseorang memiliki kemampuan untuk dapat mengistirahatkan pikirannya dari proses berpkir. Tetapi, upaya menghentikan proses berpikir ini tidaklah mudah. Para meditator sudah merasakan benar, bagaimana sulitnya menaklukan pikiran yang liar, yang senantiasa selalu bekerja.
Untuk menaklukan pikiran yang liar yang selalu ingin berpikir tersebut, dapat dengan cara mengalihkan pikiran tersebut untuk memikirkan persoalan-persoalan yang bermanfaat untuk dipikirkan atau mengulang pengetahuan. Dalam hal ini, bagi meditator, berpikir adalah keniscayaan dari pikiran yang belum mapan. Belajar berarti penyaluran hasrat yang tak terbendung. Karena, dia belum sanggup menentramkan dirinya dalam satu objek, maka ia berpikir. Ketika pikirannya menjadi mapan, berpikir bukanlah lagi kenisycayaan dari pikiran yang lemah, melainkan  keniscayaan dari kasih sayang.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
606 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 12, 2015, 08:05:03 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
1028 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 19, 2016, 12:57:31 AM
oleh Kang Erik
0 Jawaban
684 Dilihat
Tulisan terakhir April 28, 2016, 12:42:09 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
456 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 03, 2016, 06:24:27 PM
oleh Kang Asep
3 Jawaban
704 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 19, 2016, 07:34:32 AM
oleh Sandy_dkk
0 Jawaban
296 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 24, 2016, 05:56:51 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
366 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 15, 2016, 09:40:38 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
446 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 31, 2017, 06:44:59 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
189 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 19, 2017, 08:01:00 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
142 Dilihat
Tulisan terakhir April 08, 2017, 06:56:54 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan