collapse

* Artikel Pilihan

Penulis Topik: Keluarga Rasulullah saw VS Keluarga Abu Sufyan  (Dibaca 6774 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9591
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Keluarga Rasulullah saw VS Keluarga Abu Sufyan
« pada: September 14, 2012, 10:07:06 PM »
Keturunan Muhammad saw VS Keturunan Abu Sufyan

Sesungguhnya keluarga Abu Sufyan memusuhi keluarga nabi Muhammad saw sejak zaman Nabi saw hingga hari kiamat.

Abu Sufyan memerangi Rasulullah saw.
Muawiyan bin Abu Sufyan Memerangi Imam Ali as.
Yazin bin Muawiyah bin Abu Sufyan memerangi Husain as.

Kelak pada akhir zaman, akan muncul gerakan As Sufyani, gerakan militer yang dipelopori oleh keturunan keluarga Abu Sufyan, muncul dari negeri Syam dan disokong oleh kekuatan barat dan Yahudi untuk memerangi keluarga Nabi saw. Semua itu sudah diberitakan di dalam teks-teks hadits suci nabi saw.

Imam Ja`far Ash-Shadiq as berkata, “Sesungguhnya kami dan keluarga Abu Sufyan bermusuhan karena Allah. Kami katakan : `Maha Benar Allah!` sedangkan mereka berkata, `Allah berdusta!` Abu Sufyan memerangi Rasulullah, Muawiyah memerangi Ali bin Abi Thalib, Yazid bin Muawiyah memerangi al-Husain bin Ali as dan al-Sufyani akan memerangi al Qaim (al Mahdi) as.” [32]

[32] Al-Bihar, Juz 52, hal. 190.

Sumber : Prof. Al-Kurani, Imam Mahdi, Hal. 152
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 22
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Keluarga Rasulullah saw VS Keluarga Abu Sufyan
« Jawab #1 pada: September 16, 2012, 09:37:44 AM »
 Kanjeng Rosul saw adalah pembawa risalah dari Allah swt,
 penentang risalah dari Allah adalah syetan,
 Abu sufyan adalah penentang Kanjeng Rosul saw,
 berarti abu sufyan adalah syetan

 Benarkah demikian?
 
  Dari sebagian sejarah yang saya ketahui secara garis besar adalah benar pada mulanya abu sufyan adalah pada posisi sebagai penentang Nabi Muhammad saw kemudian berpindah posisi sebagai pendukung Beliau saw, sampai sepeninggal Beliau saw pun abu sufyan masih dalam posisi pendukung Beliau saw, indikasinya adalah  peperangan - peperangan yang pernah diikutinya, kemudian keturunanyapun demikian, ketika anak keturunannya memegang tampuk kepemimpinan sebagian kebijakannya berjasa membawa islam sebagai risalah ini menyebar luas dengan cepat ke berbagai penjuru wilayah artinya berperan pula dalam menyebarkan islam, apakah ini masih dikatakan sebagai penentang Nabi Muhammad saw? tetapi berkaca pada perang shiffin dan tragedi karbala tampaknya artikel diatas tidak sepenuhnya salah atau memang ada sudut pandang lain dari peristiwa itu?

Kanjeng Rosul saw adalah pembawa risalah dari Alloh swt
penentang risalah dari Alloh adalah syetan
Abu sufyan adalah pendukung Kanjeng Rosul saw
berarti abu sufyan bukan syetan

gimana kang? sebenarnya saya ingin referensi dari sudut pandang lain yakni sudut pandang orang orang yang mempunyai ilmu hikmah, bukan dari hadits hadits riwayat suni maupun syiah
« Edit Terakhir: September 16, 2012, 09:41:43 AM oleh ratna »
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9591
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Keluarga Rasulullah saw VS Keluarga Abu Sufyan
« Jawab #2 pada: September 16, 2012, 02:19:13 PM »
Kutip dari: ratno
Kanjeng Rosul saw adalah pembawa risalah dari Allah swt,
 penentang risalah dari Allah adalah syetan,
 Abu sufyan adalah penentang Kanjeng Rosul saw,
 berarti abu sufyan adalah syetan
======

Kanjeng Rosul saw adalah pembawa risalah dari Alloh swt
penentang risalah dari Alloh adalah syetan
Abu sufyan adalah pendukung Kanjeng Rosul saw
berarti abu sufyan bukan syetan

syllogismenya benar, tapi material syllogisme masih perlu diuji lebih jauh.

kalau di pandang dari sudut logika, keduanya juga belumlah merupakan suatu kepastian.

Apakah Abu Sufyan itu pembela rasulullah atau penentang Rasulullah hingga akhirnya hayatnya? keduanya merupakan argumentum ad Verecundiam, yaitu argumentasi yang disandarkan kepada keterangan para ahli. dengan demikian, para ahli hadits, dan para ahli sejarah itulah yang mesti mempertanggung jawabkan pendapat mereka yang kemudian diikuti oleh khalayak. adapun kita, sebagai orang yang bukan ahli hadits ataupun ahli sejarah, hendaknya tidak bersikukuh bahwa ini yang benar dan itu yang salah. adapun kecenderungan kita untuk meyakini satu riwayat sebagai riwayat yang benar dan riwayat lainnya sebagai riwayat yang keliru, maka sebaiknya kita simpan untuk diri kita sendiri.

di sini, saya bermaksud menampilkan satu riwayat yang bertentangan dengan keyakinan sunni pada umumnya, bahwa dalam riwayat-riwayat kaum syiah, Abu Sufyan adalah "musuh Rasulullah" sejak awal hingga akhir. bahkan dilanjutkan terus menerus oleh anak keturunannya. sebagaimana telah saya sebutkan, tentu hal ini bertentangan dengan pengetahuan atau keyakinan sunni.

kita ambil dua proposisi yang bertentangan :

Abu Sufyan adalah musuh rasulullah. <= proposisi 1
Abu Sufyan bukan musuh rasulullah. < = proposisi 2

sejak awal, kita memiliki kecenderungan keyakinan, ke para proposisi yang mana kita lebih yakin. tapi sebagai pemikir logic, kita tidak mempedulikan soal kecenderungan keyakinan pribadi, melainkan akan mencari argumentasi-argumentasi logic dari keduanya.

argumentasi dari kedua proposisi yang bertentangan tersebut adalah dua kelompok riwayat. satu kelompok adalah himpunan riwayat yang dipercayai keabsahannya oleh kaum sunni. dan kelompok kedua adalah himpunan riwayat yang dipercayai kebenarannya oleh kaum syiah. dengan demikian, kita menemukan pula pertentangan yang kedua, yaitu :

- himpunan pertama merupakan himpunan riwayat yang sah <= proposisi 3
- himpunan pertama merupakan himpunan riwayat yang tidak sah < = proposisi 4

dari kedua proposisi ini, kita harus menelusuri kembali semua argumenasi logicnya. himpunan riwayat itu dianggap sah karena tercatat dalam kitab-kitab shaheh. oleh karena itu, maka kemudian kita bisaa membuat hipotesa bahwa argumentasi dari proposisi pertama itu tidaklah mungkin dapat diterima oleh kaum sunni kecuali, apabila argumentasinya berdasarkan himpunan pertama, yaitu kumpulan riwayat yang tercatat dalam kitab-kitab shaheh.

uraian ini, belum tuntas sampai di sini. jalannya masih sangat panjang. sebelum sampai pada ujung "piramida logika", memahami struktur logika itu dengan sebenar-benarnya tanpa perlu berpihak pada suatu bentuk keyakinan.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9591
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Keluarga Rasulullah saw VS Keluarga Abu Sufyan
« Jawab #3 pada: September 16, 2012, 02:37:37 PM »
Kutip dari: ratno
gimana kang? sebenarnya saya ingin referensi dari sudut pandang lain yakni sudut pandang orang orang yang mempunyai ilmu hikmah, bukan dari hadits hadits riwayat suni maupun syiah

kalau dari sudut pandang ilmu hikmah, itu mungkin bisa dibaca dari artikel-artikel :

- http://medialogika.org/diskusi-umum/membaca-diri-dan-alam-semesta
- http://medialogika.org/diskusi-umum/sebab-sebab-keyakinan
- http://medialogika.org/diskusi-umum/berguru-pada-alam-semesta
- http://medialogika.org/mistisisme/apakah-yang-lebih-berharga-dari-pengetahuan-ainal-yaqin

secara ilmu hikmah, berita-berita dari masa tidak difahami melalui berita-berita dari kitab-kitab hadits, melainkan berdasarkan kepada "berita gaib". tetapi, apabila seseorang bertekun mengembangkan batinnya, sehingga ia mampu melihat peristiwa-peristiwa di masa lalu, maka peristiwa-peristiwa yang muncul itu kemungkinan bukan perilah apa yang telah dilakukan oleh Abu Sufyan sejak awal hingga akhir hayatnya, melainkan akan tampak kepadanya peristiwa-peristiwa yang lebih berharga dari itu untuk difahami.

ketika saya menjalani "proyeksi asrtal", maka diperlihatkan kepada saya perang yang terjadi dari zaman ke zaman. tetapi tidak diperlihatkan kepada saya tentang perang siapa melawan siapa, di mana dan kapan tahun terjadinya, melainkan diperlihatkannya hakikat perang yang dalam. itu adalah pengajaran yang luas, yang apabila saya ceritakan kembail, maka uraian tentang hakikat perang itu kemungkinan membutuhkan waktu berhari-hari lamanya.

oleh karena itu, dari sudut ilmu hikmah, tidak seharusnya kita merisaukan adanya segala riwayat yang saling bertentangan dan simpang siur. sebab kita memahami intisarinya dari semua itu, yaitu ilmal yakin wa ainal yakin. ilmu yang lebih berharga adalah ilmu yang memberi kita rasa kepastian. dan sebenarnya itu bergantung kepda kemana kita mengarahkan kehendak.

apabila kita mengarahkan kehendak kepada "keinginan untuk mengetahui yang pasti" dari dua riwayat yang belum dapat dpastikan kebenaranya, manakah yang benar, Abu Sufyan itu musuh rasulullah atau bukan musuh rasulullah, maka tidaklah dapat kita sampai pada ilmul yakin dan ainal yakin, melainkan hanya sampai keapda pengetahuan yang berdasarkan atas dugaan belaka atau bercundus (Verecundiam). tetapi apabila kehendak kita diarahkan kepada fakta-fakta logic yang ada, maka kepastian selalu tertera di dalam setiap susunan kata-kata. dari dua proposisi 1 dan 2, belum ada yang dpat dipastikan kebenarnanya, oleh karna itu tidak patut kita berpegang kepada "yang tak pasti", sedang yang pasti itu adalah proposisi ke 6, yaitu "keyakinan kaum syiah tentang Abu Sufyan itu bertentangan dengan keyakinan kaum sunni terhadap Abu Sufyan". ini adalah fakta yang pasti. inilah yang dimaksud dengan ilmal yakin.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 22
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Keluarga Rasulullah saw VS Keluarga Abu Sufyan
« Jawab #4 pada: September 17, 2012, 09:52:46 AM »

 adapun kita, sebagai orang yang bukan ahli hadits ataupun ahli sejarah, hendaknya tidak bersikukuh bahwa ini yang benar dan itu yang salah. adapun kecenderungan kita untuk meyakini satu riwayat sebagai riwayat yang benar dan riwayat lainnya sebagai riwayat yang keliru, maka sebaiknya kita simpan untuk diri kita sendiri.



  Itulah yang terjadi saat ini kang, saya mengenal Kang Asep, mengenal dalam arti mengetahui bahwa akang adalah pembawa ajaran, orang yang berilmu arifbijak amanah lagi jujur, tak pernah sekalipun diketahui bahwa Akang pernah berdusta, bahkan untuk hal-hal yang kecil sekalipun, lalu suatu saat akang menyampaikan suatu berita, apakah yang harus saya lakukan kecuali mempercayai sepenuhnya apa yang Akang katakan sebagai kebenaran dan menyampaikanya kepada yang lain karena pasti setiap berita yang disampaikan pantas untuk disebarluaskan dalam lingkup terbatas maupun tak terbatas, begitu pula kepercayaan saya terhadap imam ahlu hadits, juga kepada mursyid maka saya mempercayainya sepenuhnya, saya yakin bahwa mereka adalah pembawa cahaya ajaran yang mulia dan Allah swt menjaganya supaya estafet cahaya itu tak berkurang kadarnya, dan khusus kepada mursyid kepercayaan saya menjadi lebih karena saya menyaksikannya dan bisa konfirmasi berita.

sedangkan yang ini :

"sejak awal, kita memiliki kecenderungan keyakinan, ke para proposisi yang mana kita lebih yakin. tapi sebagai pemikir logic, kita tidak mempedulikan soal kecenderungan keyakinan pribadi, melainkan akan mencari argumentasi-argumentasi logic dari keduanya".

^saya tak menafikannya Kang justeru karena itu saya berusaha mendekati Akang, tapi apakah ini sebuah dilema?


« Edit Terakhir: September 17, 2012, 09:56:52 AM oleh ratna »
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 22
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Keluarga Rasulullah saw VS Keluarga Abu Sufyan
« Jawab #5 pada: September 17, 2012, 10:03:53 AM »

ketika saya menjalani "proyeksi asrtal", maka diperlihatkan kepada saya perang yang terjadi dari zaman ke zaman. tetapi tidak diperlihatkan kepada saya tentang perang siapa melawan siapa, di mana dan kapan tahun terjadinya, melainkan diperlihatkannya hakikat perang yang dalam. itu adalah pengajaran yang luas, yang apabila saya ceritakan kembail, maka uraian tentang hakikat perang itu kemungkinan membutuhkan waktu berhari-hari lamanya.



 Apakah "proyeksi astral" itu sama dengan yang dilihat oleh ahli - ahli hikmah yang lain Kang, bukan pada peristiwanya tapi jenisnya 
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9591
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Keluarga Rasulullah saw VS Keluarga Abu Sufyan
« Jawab #6 pada: September 17, 2012, 02:18:53 PM »
Kutip dari: ratno
^saya tak menafikannya Kang justeru karena itu saya berusaha mendekati Akang, tapi apakah ini sebuah dilema?

mungkin ada sedikit pertentangan dalam perasan kang Ratno. akan tetapi, apabila itu adalah sebuah dilemma, maka coba diungkapkan melalui bahasa logika yang lebih terang. seagaiman ungkapan dilemma yang terkena, "buah si malakama - Bila saya memakannya, ibu mati. bila tidak memakannya, maka bapak mati". Tapi saya tidak melihat adanya dilemma semacam ini pada diri kang Ratno.

sesungguhnya Logika ini adalah tali yang dapat menghubungkan dunia mistik yang irasional dengan dunia fisik yang rasional. salah satu alasan saya menyebar luaskan ilmu logika kepada khalayak adalah agar mereka kelak siap, apabila ada seseorang yang mengajak mereka memasuki wilayah mistik.

rasanya tak sabar bagi saya, untuk mengajak kang Ratno "menjelajahi alam-alam gaib" yang dipenuhi dengan keindahan. Tapi, bila saya belum yakin dengan kemapanan logika kang Ratno, saya khawatir kelak akan mengalami "banyak dilemma". sebab, selain banyak hal yang indah-indah, di alam gaib itu banyak pula hal-hal yang membingungkan pikiran kita. mungkin kang Ratno perna mendengar bahwa ada banyak orang yang malah menjadi "gila" karena belajar ilmu kebatinan. demikianlah bila kita belajar kebatinan tidak secara bertahap dan hati-hati.

alhamdulillah, tidak pernah ada murid saya yang sampai terganggu jiwanya, karena melihat hal-hal yang membingungkan di dalam gaib. karena saya mengajarinya secara bertahap, dan sangat bertahap. tidak semua saya ajarkan logika. tapi, apabila saya yakin dengan kemapanan logika seseorang, maka saya saya akan lebih yakin untuk mengajaknya berkelan ke alam-alam gaib.

sengaja saya memposting riwayat-riwayat yang bertentangan dengan keyakinan kaum sunni. karena dengan cara itu Logika teruji dan tergelitik. kemudian saya dapat melihat, bahwa mereka yang telah memiliki kemapanan logika, akan berbicara dengan landasan logika yang benar, dan tidak sedikitpun akalnya terselimuti oleh emosi.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 22
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Keluarga Rasulullah saw VS Keluarga Abu Sufyan
« Jawab #7 pada: September 18, 2012, 03:40:42 PM »

"mungkin ada sedikit pertentangan dalam perasan kang Ratno. akan tetapi, apabila itu adalah sebuah dilemma, maka coba diungkapkan melalui bahasa logika yang lebih terang. seagaiman ungkapan dilemma yang terkena, "buah si malakama - Bila saya memakannya, ibu mati. bila tidak memakannya, maka bapak mati". Tapi saya tidak melihat adanya dilemma semacam ini pada diri kang Ratno".

^Saya masih bisa mengikuti alur logika yang Kang Asep paparkan sampai dengan proposisi 6 meski  gagap. Agak susah saya menyampaikannya dengan bahasa yang sederhana, tapi begini kang, setting pikiran saya yakni bahwa " Al quran adalah pasti kebenaranya, kemudian berita hadits dari shoheh bukhari adalah pasti kebenarannya," kemudian setelah mengikuti kajian logika kang Asep tiba tiba berubah pandangan saya terhadap shoheh bukhari, alurnya menjadi seperti ini " Al quran adalah firman Alloh swt, oleh karena itu sudah pasti logic dan benar, Nabi saw adalah kitab yang hidup, setiap ucapanya pasti logic dan benar, jadi antara keduanya pasti tidak akan ada pertentangan, kecuali semuanya logic dan benar. Sampai disini kemudian saya mendengar bahwa ada yang meragukan sebagian dari hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori sebab tidak memenuhi kaidah - kaidah ilmu logika, artinya kebenaran dari sebagian riwayat hadits Imam Bukhori ini diragukan, karena mustahil hadits shoheh tak memenuhi kaidah ilmu logika. Akan tetapi bukankah shoheh itu berarti tak diragukan kebenarannya?
 

"rasanya tak sabar bagi saya, untuk mengajak kang Ratno "menjelajahi alam-alam gaib" yang dipenuhi dengan keindahan. Tapi, bila saya belum yakin dengan kemapanan logika kang Ratno, saya khawatir kelak akan mengalami "banyak dilemma". sebab, selain banyak hal yang indah-indah, di alam gaib itu banyak pula hal-hal yang membingungkan pikiran kita. mungkin kang Ratno perna mendengar bahwa ada banyak orang yang malah menjadi "gila" karena belajar ilmu kebatinan. demikianlah bila kita belajar kebatinan tidak secara bertahap dan hati-hati."

^ Apalagi saya Kang, lebih tidak sabar lagi, sudah lama saya penasaran seperti apa rupa dari alam gaib itu. Membaca tulisan Kang Asep diatas itu rasanya seperti membaca balasan dari surat cinta yang saya dambakan dari seseorang, sumringah. Tetapi diri saya mengatakan janganlah terburu buru tatalah dulu dirimu sebab orang yang rindu biasanya tergesa gesa gelap mata dan membabi buta sehingga malah merugikan dirimu sendiri, seperti nasehat akang. Mengapa? sebetulnya saya malu kalau harus bertemu dengan akang, malu oleh karena banyaknya cela yang ada pada diri saya sedangkan saya belum bisa menghilangkanya, begitu juga ketika saya mengikuti pengajian di thoreqoh, saya memilih duduk yang agak jauh dari mursyid, sebab rasa malu yang seperti itu, jadi sekarang cukuplah sebagai rejeki yang besar bagi saya bisa menjalin hubungan  dengan akang, sampai saatnya akang melihat saya telah siap.


 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9591
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Keluarga Rasulullah saw VS Keluarga Abu Sufyan
« Jawab #8 pada: September 18, 2012, 07:56:07 PM »
Kutip dari: ratna
^Saya masih bisa mengikuti alur logika yang Kang Asep paparkan sampai dengan proposisi 6 meski  gagap. Agak susah saya menyampaikannya dengan bahasa yang sederhana, tapi begini kang, setting pikiran saya yakni bahwa " Al quran adalah pasti kebenaranya, kemudian berita hadits dari shoheh bukhari adalah pasti kebenarannya," kemudian setelah mengikuti kajian logika kang Asep tiba tiba berubah pandangan saya terhadap shoheh bukhari, alurnya menjadi seperti ini " Al quran adalah firman Alloh swt, oleh karena itu sudah pasti logic dan benar, Nabi saw adalah kitab yang hidup, setiap ucapanya pasti logic dan benar, jadi antara keduanya pasti tidak akan ada pertentangan, kecuali semuanya logic dan benar. Sampai disini kemudian saya mendengar bahwa ada yang meragukan sebagian dari hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori sebab tidak memenuhi kaidah - kaidah ilmu logika, artinya kebenaran dari sebagian riwayat hadits Imam Bukhori ini diragukan, karena mustahil hadits shoheh tak memenuhi kaidah ilmu logika. Akan tetapi bukankah shoheh itu berarti tak diragukan kebenarannya?

Anda menyampaikan dengan bahasa yang sangat baik, sehingga lebih mudah untuk difahami.

al Quran pasti benar dan logic
perkataan nabi pasti benar dan logic
hadits shaheh pasti benar dan logic pula

itu semua saya sepakat.

tafsiran al Quran oleh seseorang belum tentu benar dan logic
perkataan nabi belum tentu difahami benar dan logic
apa yang dianggap shaheh belum tentu shaheh

apakah hal tersebut benar atau tidak menurut kang Ratno?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9591
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Keluarga Rasulullah saw VS Keluarga Abu Sufyan
« Jawab #9 pada: September 18, 2012, 08:17:04 PM »
Kutip dari: ratna
^ Apalagi saya Kang, lebih tidak sabar lagi, sudah lama saya penasaran seperti apa rupa dari alam gaib itu. Membaca tulisan Kang Asep diatas itu rasanya seperti membaca balasan dari surat cinta yang saya dambakan dari seseorang, sumringah. Tetapi diri saya mengatakan janganlah terburu buru tatalah dulu dirimu sebab orang yang rindu biasanya tergesa gesa gelap mata dan membabi buta sehingga malah merugikan dirimu sendiri, seperti nasehat akang. Mengapa? sebetulnya saya malu kalau harus bertemu dengan akang, malu oleh karena banyaknya cela yang ada pada diri saya sedangkan saya belum bisa menghilangkanya, begitu juga ketika saya mengikuti pengajian di thoreqoh, saya memilih duduk yang agak jauh dari mursyid, sebab rasa malu yang seperti itu, jadi sekarang cukuplah sebagai rejeki yang besar bagi saya bisa menjalin hubungan  dengan akang, sampai saatnya akang melihat saya telah siap.

kerinduan terhadap alam gaib adalah kerinduan fitrah semua manusia.

karena orang-orang bijaksana menyebut alam gaib itu adalah "kampung akhirat".

kalaulah kita merantau ke negeri orang, belum tentulah kita dapat pulang kampung halaman.

tapi ke "kampung akhirat" sudahlah pasti kita jalani. dari sanalah kita berasal. sangat masuk akal rasanya, bila kita merindukan untuk melihat barang sejenak, seperti apakah kampung halaman yang telah lama kita tinggalkan itu.

intisari dari periapan menuju kampung halaman adalah "kita datang ke dunia ini dengan tanpa membawa apapun, maka kita jangan pergi ke sana dengan menanggung banyak beban di punggung kita." di kampung halaman sejati, di sanalah segala yang kita butuhkan ada, maka apaka lagi yang hendak kita bawa dari sini ke sana?

beban berat yang membuat seseorang berjalan tergopoh-gopoh, terseok-seok atau terseret-seret adalah "cinta dunia". selama masih ada "cinta dunia", maka bagaimana seseorang mau dengan sukarela pergi dari dunia? maka lepaskanlah dunia itu dari punggung kita, agar kita bisa pergi ke sana dengan melesat secepat kilat.

tapi tunggulah dulu! jangan kita terburu-buru! kalaulah dapat, janganlah kita pergi ke sana seorang diri! lihat kawan, sahabat dan saudara, mari kita ajak mereka untuk bersama pergi ke sana. bila saja kita hendak pulang mudik, kita butuh persiapan. demikian pula, bila kita hendak pulang ke kampung akhirat, butuh persiapan. maka persiapkan diri kita bersama orang-orang yang kita cintai, untuk "mudik sejenak" ke kampung akhirat, sebelum kita benar-benar kembali atau dikembalikan ke sana.

banyak manusia yang merasa paling beragama, tapi tidak mengenal jalan kembali. terbuai oleh konsep-konsep dan teks-teks yang dianggap suci, tapi sesungguhnya hanya membelenggu akal pikiran mereka. mereka itulah yang terbelenggu oleh konsepsi. kita akan melihat bahwa logika akan menghancurkan "keterikatan manusia" dengan belenggu konseptual.

apabila telah dapat melepaskan diri dari belenggu konseptual, maka alam gaib mulailah tersingkap dengan sendirinya. sesungguhnya, bukanlah kematian yang bisa membuat orang mampu menyelami alam gaib, tetapi kearifan. bila seseorang buta di dunia, maka buta pulalah di akhirat.

Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).(Q.S 17:72)

seandainya seseorang tidak berhasil mengenali "rute jalan pulang" ketika hidupnya, kelak ketika matinya, bagaimana tiba-tiba ia bisa mengetahui kemana arah jalan?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 22
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Keluarga Rasulullah saw VS Keluarga Abu Sufyan
« Jawab #10 pada: September 19, 2012, 12:49:12 PM »
Anda menyampaikan dengan bahasa yang sangat baik, sehingga lebih mudah untuk difahami.

al Quran pasti benar dan logic
perkataan nabi pasti benar dan logic
hadits shaheh pasti benar dan logic pula

itu semua saya sepakat.

tafsiran al Quran oleh seseorang belum tentu benar dan logic
perkataan nabi belum tentu difahami benar dan logic
apa yang dianggap shaheh belum tentu shaheh

apakah hal tersebut benar atau tidak menurut kang Ratno?

^Ya benar dan logic
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 22
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Keluarga Rasulullah saw VS Keluarga Abu Sufyan
« Jawab #11 pada: September 19, 2012, 01:28:05 PM »

tapi ke "kampung akhirat" sudahlah pasti kita jalani. dari sanalah kita berasal. sangat masuk akal rasanya, bila kita merindukan untuk melihat barang sejenak, seperti apakah kampung halaman yang telah lama kita tinggalkan itu.


  Jadi apa yang kita saksikan saat berada dialam ghaib ketika kita masih hidup adalah sama dengan apa yang kita saksikan ketika kita berada dialam kematian nanti?


beban berat yang membuat seseorang berjalan tergopoh-gopoh, terseok-seok atau terseret-seret adalah "cinta dunia". selama masih ada "cinta dunia", maka bagaimana seseorang mau dengan sukarela pergi dari dunia? maka lepaskanlah dunia itu dari punggung kita, agar kita bisa pergi ke sana dengan melesat secepat kilat.


  Kemudian yang saya lakukan adalah berserah total kepada Alloh swt mengadukan segala cela dan dosa yang pernah saya lakukan lalu bersandar kepada kehendaknya dan saya kembali melakukan aktivitas kehidupan saya tanpa bayang bayang cela dan dosa yang pernah saya lakukan, begitukah Kang?
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9591
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Keluarga Rasulullah saw VS Keluarga Abu Sufyan
« Jawab #12 pada: September 19, 2012, 02:24:00 PM »
sangat menarik untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kang ratno.

 berhubung saat ini saya sedang ada kesibukan kerja dan agak terburu-buru. mohon maaf,  jawaban-jawabannya saya tangguhkan dahulu.

dalam dua atau tiga hari, mungkin saya hanya OL sebentar-sebentar di forum.

sementara itu, supaya forum tetap dinamis, saya berharap kang ratno atau member lainnya memposting tread2 baru.

semakin banyak thread baru, forum ini akan semakin banyak dikunjungi orang. dengan selalu ada thread2 baru, pengunjung lama tidak akan bosa untuk berkunjung kembali ke forum ini. kalau berhari-hari tidak ada thread-thread baru, pengunjung lamapun jadi bosan dan kecewa.

oleh karena itu, untuk para member semuanya, jangan sungkan untuk membuat topik-topik baru. anggap saja forum ini blog sendiri. ceritakan tentang apa saja yang menarik menurut anda untuk diceritakan. sekecil apapun informasi dari postingan anda, itu mungkin sangat berharga bagi orang lain.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9591
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Keluarga Rasulullah saw VS Keluarga Abu Sufyan
« Jawab #13 pada: September 21, 2012, 05:19:20 PM »
Kutip dari: ratna
Jadi apa yang kita saksikan saat berada dialam ghaib ketika kita masih hidup adalah sama dengan apa yang kita saksikan ketika kita berada dialam kematian nanti?

ya. benar demikian.

secara teori, maka hal tersebut bisa menimbulkan keragu-raguan. sebab, kita akan memikirkan berbagai kemungkinan. misalnya, mungkin itu sekedar halusinasi, mungkin itu sekedar mimpi dan lain sebagainya. tetapi, orang yang mengalaminya secara langsung, akan tumbuh di dalam dirinya keyakinan-keyakinan yang teguh, bahwa itu sama sekali bukan ilusi, bukan pula mimpi, dan itu keyakinan yang kuat bahwa itu adalah alam-alam yang kelak akan dijumpai orang-orang setelah matinya.

Quote (selected)
Kemudian yang saya lakukan adalah berserah total kepada Alloh swt mengadukan segala cela dan dosa yang pernah saya lakukan lalu bersandar kepada kehendaknya dan saya kembali melakukan aktivitas kehidupan saya tanpa bayang bayang cela dan dosa yang pernah saya lakukan, begitukah Kang?


salah satu hal yang membuat kita begitu berat untuk pergi meninggalkan dunia ini adalah krena kita ingat telah melakukan beberapa dosa dalam kehidupan ini. kita tidak tahu, apakah tuhan telah mengampuni diri kita atau belum. tapi bagaimana tuhan akan memaafkan diri kita, sedangkan diri kita juga belum sanggpup untuk memaafkannya diri sendiri?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 22
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Keluarga Rasulullah saw VS Keluarga Abu Sufyan
« Jawab #14 pada: September 23, 2012, 10:37:26 AM »
ya. benar demikian.

secara teori, maka hal tersebut bisa menimbulkan keragu-raguan. sebab, kita akan memikirkan berbagai kemungkinan. misalnya, mungkin itu sekedar halusinasi, mungkin itu sekedar mimpi dan lain sebagainya. tetapi, orang yang mengalaminya secara langsung, akan tumbuh di dalam dirinya keyakinan-keyakinan yang teguh, bahwa itu sama sekali bukan ilusi, bukan pula mimpi, dan itu keyakinan yang kuat bahwa itu adalah alam-alam yang kelak akan dijumpai orang-orang setelah matinya.


  Dalam masyarakat jawa yang saya ketahui adalah banyak praktisi paranormal yang mengaku mampu menelusuri alam ghaib dengan cara 'ngrogo sukmo', mereka (katanya) mampu melihat jin dengan kerajaan-kerajaanya, apakah sama penglihatan mereka dengan penglihatan orang-orang arifbijak yang kasyaf?


ya. benar demikian.

salah satu hal yang membuat kita begitu berat untuk pergi meninggalkan dunia ini adalah krena kita ingat telah melakukan beberapa dosa dalam kehidupan ini. kita tidak tahu, apakah tuhan telah mengampuni diri kita atau belum. tapi bagaimana tuhan akan memaafkan diri kita, sedangkan diri kita juga belum sanggpup untuk memaafkannya diri sendiri?


  lalu bagaimana Kang nasehatnya?
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
1806 Dilihat
Tulisan terakhir November 19, 2012, 10:04:18 AM
oleh Kang Asep
4 Jawaban
3970 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 19, 2013, 12:36:33 PM
oleh ratna
15 Jawaban
4370 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 07, 2013, 10:19:23 PM
oleh ratna
23 Jawaban
8459 Dilihat
Tulisan terakhir September 17, 2014, 07:24:14 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
844 Dilihat
Tulisan terakhir September 02, 2013, 08:48:39 AM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
903 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 10, 2015, 10:22:12 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
705 Dilihat
Tulisan terakhir April 29, 2015, 08:58:21 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
390 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 04, 2015, 02:35:09 PM
oleh bintang74
0 Jawaban
183 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 20, 2017, 07:57:51 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
266 Dilihat
Tulisan terakhir April 19, 2017, 03:38:41 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan