collapse

* Artikel Pilihan

Penulis Topik: Kejelasan  (Dibaca 141 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Kejelasan
« pada: Desember 28, 2017, 06:17:06 PM »
SK : Seni Debat
====================
1. Seni Debat Dialektika Sokrates
2. Menjadi Pendengar Yang Baik
2.1. Menyimak Dengan Baik
3. Argumentasi
3.1. Bahan Pikiran
3.2. Argumentasi Yang Buruk
4. Retorika
4.1. Pengetahuan Yang Menolong
4.2. Kejelasan

Jumlah Karakter : 15.576
Kira-kira : 8 halaman A5
====================

4.2. Kejelasan
Edisi : 28 Desember 2017, 07:51:30

Kutip :[1]
--------------
Sungguh sebuah kekeliruan jika seseorang berpendapat bahwa semakin rumit sebuah argumen, semakin meyakinkan pula argumen tersebut bagi pendengarnya. Masalah tersulit sekalipun dapat diuraikan menjadi faktor-faktor yang lebih sederhana. Namun, hal itu tidak berrti Anda perlu membuatnya sedemikian rupa hingga akan dipandang sbelah mata oleh lawan bicara. Anda mungkin perlu menyampaikan eberapa hal yang agak rumit, tetapi Anda hampir selalu menjelaskannya dalam beberapa faktor kunci yang lebih sederhana. Jika pendengar tidak memahami argumen tersebut, Anda munkin tidak akan merasih kemajuan.

Kita mungkin pernah mengikuti peliknya persidangan kasus penipuan. Salah satu penyebabnya adalah pengacara terdakwa dapat dengan mudah mengajukan pembelaan. Mereka hanya perlu membingungkan para juri[2]. Gelontorkan saja informasi finansial yang rumit dan sederet istilah asing dalam bidang ilmu tertentu, maka para juri akan kebingungan dengan dengan keterangan tersebut. Mereka sudah pasti tidak yakin apakah terdakwa benar-benar melakukan kejahatan ataukah tidak.

Hal yang sama berlaku dalam perdebatan. Bingungkan lawan bicara Anda, maka Anda mungkin akan berhasil meyakinkan mereka bahwa masalah itu memang rumit, walaupun sebenarnya tidak. Namun, cara semacam itu tetap tidak akan serta-merta membut mereka yakin bahwa pendapat Anda dalam persoalan yang rumit memang benar.

=================

Argumen yang membingungkan, rumit dan berbeli-belit layak untuk tak dipedulikan.

Ketika kita menyampaikan pendapat dalam kelompok, kita perlu memperhatikan tarap pemikiran mayoritas orang yang terdapat dalam kelompok tersebut dan mengupayakan menyampaikan informasi yang cukup mudah untuk dicerna oleh mayoritas. Bila kita menyampaikan informasi-informasi yang "asal dimengerti oleh diri sendiri", maka itu tak ubahnya seperti mastubasi, berbuat asal senang sendiri. Juga kita dapat berbicara dengan salah seorang saja yang dapat memahami perkataan kita dalam bidang ilmu tertentu, dan membiarkan yang lainnya menjadi "kambing conge", maka perbuatan seperti ini juga menunjukan egoisme. Bahkan saya menganggap diri saya berbuat dzalim, apabila membuat orang lain bingung dengan kata-kata yang saya sampaikan. Tetapi kadang itu sulit dihindari, karena adanya pertanyaan-pertanyaan prematur dari pihak lain.

Ketika saya mengajar Filsafat kepada para pemula, beberapa siswa lama memilih untuk meninggalkan kumpulan dan membuat kumpulan tersendiri. Mereka tidak tertarik lagi mendengarkan hal-hal yang saya sampaikan setelah saya mengajarnya selama dua atau tiga tahun. Lalu, suatu ketika saya memanggail mereka dan bertanya, "Ketika saya mengajar filsafat, mengapakah kalian datang lalu memisahkan diri bersama beberapa orang temanmu ? Tidakkah kalian lebih baik duduk di sini mendengarkan saya ?"

Mereka menjawab, "tidak ada hal baru yang dapat kami pelajari. Apa yang disampaikan kang Asep adalah ulasan-ulasan materi lama. Maka kami bosan dan memilih diskusi tentang hal-hal baru."

"Owh.. Jadi kamu berharap mendapatkan pelajaran baru yang menarik ? Kamu ingin saya menyampaikan pengajaran-pengajaran yang sesuai dengan level kamu ? Hei... Jika saya membicarakan hal yang pelik-pelik di hadapan mereka yang awam, kamu pasti dapat memahaminya dan merasa senang. Tapi apa kamu tidak berpikir mereka akan merasa dirobek jiwanya karena mendengar hal-hal yang membingungkan ? Bagaimana saya akan berbuat dzalim seperti itu ? Jika kamu ingin mendapatkan pengajaran baru, mengapa kamu tidak membantu saya untuk mengajar para pemula, sehingga saya memiliki banyak waktu untuk mengajarmu dengan pengetahuan baru. Ataukah kamu pikir, hanya sebatas itulah pengetahuan yang dapat saya ajarkan dan tak ada lagi yang dapat kamu pelajari ?"

Para siswa tua yang sudah bosan dengan pelajaran lama. Para pemula yang bingung dengan pengajaran yang prematur. Itu adalah dilemma kegiatan belajar mengajar, apabila kelompok orang yang belajar tidak dipisahkan dalam kelas-kelas yang berbeda. Tapi menciptakan kelas-kelas belajar juga bukan persoalan mudah, melainkan memiliki masalah-masalahnya terseniri. Lain lagi bila bicara secara berduan saja dengan seseorang, kita akan dapat lebih menyesuaikan dengan taraf pemikirannya tanpa khawatir ada pihak lain yang menjadi bingung.

Menyampaikan informasi dalam kelompok, kita tidak dapat memuaskan semua orang. Akan tetapi yang terpenting didasari oleh rasa kasih sayang, dan kehendak membantu orang lain untuk mengerti dengan pemaparan yang sesederhana mungkin, serta membatasi pembicaraan sesuai taraf pemahaman mayoritas, bukan berdasarkan kepada pemikiran minoritas. Kemajuan satu dua orang dalam kelompok, tidak dapat dikatakan kemajuan bagi kelompok tersebut. Tetapi, kemajuan mayoritas orang dalam kelompok, maka itu adalah kemajuan kelompok. Apabila mayoritas siswa memiliki nilai baik, maka kegiatan pengajaran di dalam kelas termasuk berhasil, walaupun ada satu dua orang yang bernilai rendah. Tetapi apabila mayoritas bernilai rendah, maka pengajaran di dalam kelas tersebut gagal. Dan salah satu faktor kegagalan adalah banyaknya informasi tak jelas yang disampaikan pada siswa. Karena seorang pengajar, kadang hanya fokus pada satu dua orang yang pandai di dalam kelas itu, sedangkan mayoritas siswa tidak mengerti uraian-uraian yang disampaikan pengajar.

Dengan demikian dalam hal berbicara, kita perlu memperhatikan jumlah orang yang merupakan lawan bicara kita, satu, dua atau banyak orang.  Dan apa yang disebut "informasi yang jelas" dapat berubah sesuai dengan perubahan jumlah lawan bicara.
________
1) Jonathan Herring, "Seni Debat", hal. 28
2) Pengadalan kita tidak menggunakan juri, yaitu sekelompok orang yang dihadairkan di pengadilan untuk memberi pendapat tentang erdakwa berdasarkan pemahaman mereka tentang dakwaan danpembelaan yang dikemukakan di sepanjang jalannya persidangan - Peny.

Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan